FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
PAMPLONA : Mengejar Dan Menangkapmu


__ADS_3

PUKUL 08 : 00. Dan alun alun itu menjadi lautan manusia, mereka bersiap mengikuti acara Encierro berlari dengan banteng, ada 1000 lebih banteng yang akan di lepas, laki laki dan perempuan dari berbagai macam usia hadir disana, kecuai anak kecil. Para peserta dan penonton festival bersorak - sorai saat kembang api bernama "chupinazo" dinyalakan, yang merupakan tanda dimulainya festival.


Mengenakan pakaian putih, kerumunan massa menari dan mengibarkan kain tradisional berwarna merah dengan logo khas Pamplona, selama festival. San Fermin akan dimulai setiap pagi pukul 08.00 waktu setempat mulai dari Sabtu hingga delapan hari ke depan.




Bantengpun di giring memasuki kerumunan, oleh para matador, memasuki rute yang telah di tetapkan. Rumah penduduk itu telah di lindungi besi pembatas atau memasang kayu pengaman pada pintu atau jendela. Melewati rumah susun di gang sempit, semua penghuni menyaksikan dari atas balkon hingga memenuhi jalan, mereka melihat arak arakan banteng itu di kendalikan oleh Matador. Mereka bersorak dan wajib berteriak Viva, San Vermin! (Hidup, San Fermin!)



Setelah peluit panjang, setelah mereka berteriak bersama bersahutan mengatakan Viva, San Vermin! (Hidup, San Fermin!). Semua berlari tunggang langgang di depan banteng banteng itu. Sekawanan banteng akan mengejar para peserta di jalanan sempit sepanjang 850 meter.



Jenis banteng atau sapi jantan yang sering digunakan untuk acara ini adalah Toro Bravo (banteng khas Spanyol) dan sapi Camargue dari Prancis Selatan, banteng dan sapi masih satu spesies.


Festival lain banyak di selenggarakan di Spanyol dan salah satunya Toro Embolado 'banteng dengan bola', di mana seekor banteng yang memiliki bola dari bahan yang mudah terbakar yang melekat pada tanduknya, yang dibakar, banteng itu dilepaskan di jalan - jalan pada malam hari, ini dapat dianggap sebagai varian dari encierro.



Dan keseruanpun terjadi setelah sarapan dengan hamburger dan sebotol bir khas Pamplona yang memabukkan, itu digunakan sebagai pemacu adrenalin para pelari peserta Festival. Leyka, Manuella, Diego, Damian dan Henry, semua berlarian dengan penuh tawa. Namun Leyka tertarik dengan satu banteng hitam pekat, tanduknyapun hitam kelam namun matanya memerah. Koneksi seakan terjadi, antara Leyka dan banteng itu.


"Vamos toro serás mía! (ayo banteng, kamu akan menjadi milikku)! Persigueme (kejar aku)! Atrápame (tangkap aku)!" Leyka memekik sekeras kerasnya dengan mengacungkan kain merah yang di pegangnya tinggi tinggi, dan banteng itu mengejarnya membabi buta.


Melihat itu, Damian kalang kabut ia berusaha mengalihkan banteng itu namun banteng itu terus mengejar Leyka.


"Leykaa!! Berhenti memancingnya! Kau akan celaka!!" Pekik Henry sambil berlari.


"Fu*ck you, Toro!! Persigueme (kejar aku)! Atrápame (tangkap aku)!!" Pekik Leyka semakin menantang banteng itu. Leyka terus berlari secara zig zag dan banteng itu menabrak apapun yang ada di depannya, tujuannya adalah kain yang Leyka angkat tinggi.


"Leyka!! Kembali kearah alun alun!! Berputar lah!! Disana banyak barikade dari pagar besi!! Kau akan celaka!! Ingat Trainnn!!" Pekik Damian dari belakang sambil berlari melindungi Leyka, namun Leyka yang setengah mabuk terus berlari hingga tangan Diego menyambarnya dan mereka memutari sebuah gang berkelok yang akan menuju alun alun tempat start dan finishnya para pelari itu. Banteng itu berlari lurus, namun ketika mangsanya menghilang ia kembali berputar putar menabrak apa saja.


"Persigueme (kejar aku)! Atrápame (tangkap aku)!! Fu*cckk you Toro!! Pecu*ndaang!" kaki kecil itu terus berlari dengan tawa dengan rasa kesal, bukan banteng yang sesungguhnya karena bagi Leyka, Toro yang sesungguhnya adalah Valentino Gallardiev.


Banteng itu terus di makinya karena Toro itu adalah Pria Italy yang baru saja menghampirinya lewat mimpi. Di tambah sebotol kecil bir Pamplona, pikirannya terkunci oleh sosok Valentino. Banteng itu kembali menemukan Leyka. Ia berputar dan kembali mengejar.


Leyka terus tertawa dan memaki sambil berlarian dengan menggoyangkan kain merah tinggi - tinggi, banteng itu semakin mendengus dengan kemarahannya, banteng dengan mata merah itu kembali mengejar Leyka sekencang - kencangnya, hingga semua yang ada di hadapannya berlarian menepi.


"Shitt!! Leykaaa!! Dia kembali!!" pekik Manuella memperingatkan. Leyka membulatkan matanya dan mempercepat larinya. Hingga dia melihat barikade pagar besi setinggi pinggangnya, Leyka menoleh kearah belakang dan banteng itu hanya tinggal beberapa langkah.


"Leykaaa!! Melompatlahh!!" pekik Damian dengan lantang.


"Fuu*cckk you Toro! Persigueme (kejar aku)! Atrápame (tangkap aku)!!" umpat Leyka semakin terpacu adrenalin, ia mempercepat laju kecepatannya.


"Leyka buang kain merahmu!! Berhenti memancingnya!! Leykaa kauu akan kenaaa tanduknya!!" pekik Henry sambil berlari.


Leyka berlari tanpa menoleh lagi, ia merasa banteng itu sangat dekat dengan dirinya. Ia bisa merasakan derap kaki banteng itu seakan mengeluarkan aura panas di tubuh bagian belakangnya, ia mendengar banteng itu mendengus dengus dengan mengamuk.


"Leykaaaa!!! Pekik Damian. Semua berdebar, semua membulatkan matanya, semua panik dan menegang melihat keberanian Leyka.


"Leykaaa!!" Pekik Manuella menghentikan larinya, ia terengah engah melihat Leyka berlari menuju barikade di alun alun utama kota Pamplona.


Saat banteng itu mendorong tanduknya kearah Leyka, dan kaki Leyka dua langkah mendekati barikade pagar besi, Leyka melompat tinggi dan melewati barikade itu, semua menegang. Banteng itu tersangkut tanduknya dan Leyka bersorak.


"Vivaaaa Leykaaaa (hidup Leyka)!! Toro (banteng) aku mengalahkanmu! Woooooooo!!" Leyka meloncat loncat dihadapan banteng yang meronta ronta, sebagian orang yang menyaksikan Leyka berlari bertepuk tangan, dan penduduk lokal yang menonton menyodorkan sebotol bir Pamplona dan Leyka dengan semangat menyambarnya lalu melakukan tos, kemudian meneguknya.


"Vivaaa Leykaaaa!!!" pekiknya lagi.


"Viva Leyka!" semua menyerukan nama Leyka, pelari perempuan yang berani mengalahkan toro.


"Kau kalah Toro! Aku mengalahkanmu di Pamplona!" desis Leyka dengan duduk berjongkok dan menepuk nepuk kepala banteng itu. Semua sahabatnya terengah engah melihat Leyka berhasil membuat mereka tegang.


Mereka menunduk memegangi lututnya dan Manuella terengah engah memegangi perutnya lalu menyandarkan tubuhnya di pilar yang ada di sebuah bangunan.


"Senorita, kau hebat" kata seorang Matador yang mengikat banteng itu kemudian.


Henry, Damian, Diego dan Manuella menghampiri mereka dan dengan peluh keringat, mereka memeluk Leyka.


"Nyaris" desis Manuella.


"Hampir saja" bisik Diego.


"Fu*ccck you Ley!' Umpat Henry.


"Jangan pernah mengulangi kegilaanmu ini!" ujar Damian.


"Viva Leyka, aku mengalahkan Toro. Aku sangat bahagia" ujar Leyka diantara pelukan sahabatnya. Mereka masih mengatur nafasnya, setelah mengalami ketegangan dan keseruan festival itu.


"Oye, esta cerveza es para ti (hei, bir ini untuk kalian)! Vamos (Ayo)!" seorang penduduk lokal memberikan sebotol bir untuk mereka. Hal itu sangat umum di acara Festival. Bir gratis, air mineral gratis, cocktail gratis, semua serba gratis.


"Graciaaaasss! Woooo! I Love You, Pamplona!" pekik Leyka dan semua penduduk lokal bersorak untuk itu. Merekapun membersihkan diri mereka, di toilet umum yang tersedia di area itu karena mereka akan kembali menghadiri acara makan malam bersama.


Mereka tidak menginap di hotel, mereka memasang tenda seperti turis lokal lainnya, untuk beristirahat menunggu sapi sapi itu akan disembelih dan diberikan kepada chef yang di pilih oleh pemerintah kota untuk mengolahnya. Malam ini mereka akan kembali ke Barcelona setelah makan malam. Mereka tidur karena kelelahan hingga malam menjelang.


-


-

__ADS_1


-


Night in Plampona.





Tarian musik mengguncang kota itu setiap Festival San Fermin, riuh sorak sorai di sepanjang alun alun hingga memenuhi kota itu. Menjelang makan malam, mereka kembali memenuhi jalanan. Menanti para chef menyajikan sapi jantan yang di olah. Mereka memenuhi jalan di sepanjang Pamplona Street.



Leyka menggenggam botol birnya, sesekali ia menyantap daging sapi yang di panggang. Mereka duduk di trotoar dengan beralas karpet piknik yang selalu Manuella bawa kemanapun.


"Setelah kau mengalahkan Toro, apa perasaanmu?" tanya Henry mengacak rambut Leyka, ia masih membayangkan bagaimana bila banteng itu menyeruduk Leyka. Banyak orang yang terluka bahkan meninggal diacara itu. Tidak bisa dibayangkan kicauan Manuella yang marah karena ulah Leyka yang membahayakan nyawanya.


"Tidak ada. Tidak ada apa apa. Karena Toro yang sesungguhnya tidak bisa aku kalahkan. Aku tetap saja kalah" Leyka meneguk birnya dengan mata yang berkaca kaca. Henry merangkulnya dan mengusap lengannya. Leyka menyeka hidungnya yang tidak terasa telah berair. Damian teriris melihatnya. Leyka menenggak habis birnya dan ia kembali meminta satu botol bir kepada pelayan.


"Ley, kau sudah banyak minum, hentikan!" ujar Manuella melarang.


"Aku belum mabuk, tenang saja" Leyka menghela nafas panjang ia menguraikan pelukan Henry dan menghabiskan makanannya.


Kembang api mulai menyala entah dari mana asalnya, tapi langit seakan mengerjapkan cahayanya, musik kembali menggaung. Leyka bangkit berdiri dengan sebotol bir dan menatap indahnya kembang api yang berwarna warni menghiasi malam di Pamplona.


6 tahun berlalu.. Apa kabarmu disana.. Apa kau bahagia? Aku bersumpah aku tidak bahagia bila jauh dari Train.. Anakmu sekarang berusia 5 tahun, Val.. Aku justru mengingatmu dalam kesendirianku.. Kau pasti bahagia dengan keluargamu.. Seandainya aku tidak punya Train, mungkin aku bisa dengan mudah melupakanmu.. Tapi anak itu kian tumbuh dengan sehat dan semakin hari semakin mirip denganmu.. Val, mengapa foto Miu datang lagi, kali ini kau bersama putrimu.. Kau tampak bahagia.. Rebecca, apa tujuanmu.. Mengapa kau ingin sekali menyakitiku..


Leyka mengambil dari saku celananya, sebuah foto yang kembali hadir di kotak posnya, Elara Miuccia yang tengah dipeluk Valentino. Gadis kecil itu berusia hampir 6 tahun. Miu memang terlahir lebih dahulu di banding Train. Manuella mendekatinya dan merampasnya dengan kesal ia membakar foto itu dengan lilin yang berada di meja pengunjung.


"Manuella--


"Berhentilah memikirkannya Leyka!! Aku bersumpah rasanya aku ingin membunuh jall*aaang itu!! Setelah foto bayinya 4 tahun lalu, dia mengirim foto itu lagi! Apa yang ingin dia sampaikan? Dia hanya ingin kau tahu bahwa mereka bahagia bersama putrinya! Leyka, hentikan! Kita pulang! Kau membutuhkan Train!" Airmata Leyka semakin berjatuhan, ia masih menatap nanar kembang api yang masih berpijar diatas langit. Ia kembali meneguk birnya sampai habis.


"Leyka" Henry terlihat telah berada di dekat Leyka bersama Damian dan Diego.


"Aku tidak butuh khotbah kalian, aku hanya ingin pulang" Leyka berjalan di kerumunan menuju parkir mobil dan semua mengikutinya.


"Ley, malam belum larut! Kita berpesta Ley! Sampai kita lupa siapa diri kita!! Woooooo!! Pamplona!!" Damian menyambar tangan Leyka dan diajaknya berlarian menuju panggung di alun alun kota. Mereka kembali berlarian.


"Heii Kitaa akan pulang!" kata Manuella dengan mendengus.


"Tidakkk.. Kitaa akan mabuk dan kita habiskan malam disini!" pekik Damian menoleh kearah Manuella.


"Teriaklah Leyka!" pekik Damian membuat Leyka akhirnya tersenyum. Ia tahu Damian akan menghiburnya.


Leyka dan Damian bernyanyi dengan penuh tawa, bahkan semua orang yang hafal lirik lagu yang identik dengan dunia malam itu. Mereka berjingkrak jingkrak mengikuti irama, seperti yang lainnya, semua di Hall alun alun kota Pamplona itupun memanas.


"Hold me tight, read my lips, don't need a word to say (Peluk erat diriku, baca bahasa bibirku, tak ada yang perlu dikatakan)" dengan mabuk Leyka menautkan tangannya di leher Damian dan Damian menautkan tangannya di pinggang Leyka, masih berjarak karena irama yang menghentak hentak, membuat mereka meloncat loncat.


"Lay me down, blow my mind, Let's take it all the way (Baringkan aku, hembuskan pikiranku, Ayo kita lakukan sepanjang hari)" mereka bernyanyi dengan lantang dan tertawa karena mabuk.


"Tell me will you love me tomorrow-- Like you love me tonight (Katakan, maukah kau mencintaiku esok hari, seperti kau mencintaiku malam ini)" Dan dilirik ini Leyka meneguk birnya lalu Damian mengikutinya, mereka kembali bernyanyi.


"So we can worry about it tomorrow, Just give me tonight (Jadi kita mengkhawatirkan tentang besok, berikan saja aku malam ini)" Damian kembali menyanyi dengan suara parau, Leyka tersenyum dan menatap Damian.


[CHORUS]


"Love me till it hurts (Cintai aku sampai aku merasakan sakit)" Dengan mata mabuknya Leyka kembali berkaca kaca.


"Cintai aku.. Sampai.. Aku.. Merasakan.. Sakit, Val" Leyka berceloteh dengan mabuknya, sambil menusuk nusuk hidung Damian seakan itu hidung pinokio milik Valentino, Damian tersenyum dengan hati teriris, ia meneguk birnya dan tertawa sumbang.


"Make my body burn (Buatlah tubuhku terbakar)" dan Damian berteriak agar Leyka teralihkan.


"Sayang sekali.. Kau.. Tidak.. Mau.. Berkorban.. Kau.. Tidak.. Pernah mencintaiku.. Jaall*aang.. itu.. Menang.. Toro.. Aku.. Kalaah.. Fu*cck you, Toro!" Leyka terus menceracau seiring lagu yang gembira, namun justru menyakitkan.


"Love me till it hurts!! (Cintai aku sampai aku merasakan sakit)" akhirnya Leyka berteriak di iringi airmatanya yang berjatuhan, ia tertawa tapi menangis.


"I need my mind to burst (Aku inginku otakku meledak)-- Ayoo Leyka! Jump (melompat)!!" dan mereka menggila, mereka melompat seiring irama musik yang menyuguhkan seorang DJ. Mereka berangkulan dan berputar putar dengan tawanya, alkohol perlahan melambungkan rasa sakit itu membumbung tinggi.


(Instrument DJ)


Suara disekitar mereka seakan menghilang, hanya musik yang menghentakkan tubuh semua orang, jeritan orang disekitarnya tidak terdengar tatkala beberapa barisan belakang kerumunan itu terburai oleh banteng yang kabur dari rumah penjagalan, dan banteng itu berlari kearah mereka berdua.


"Leyka!!!" Pekik Diego berlari kearahnya, namun Leyka terus melompat dan tertawa.


"Damian!!" Pekik Henry. Saat berputar Damian melihat banteng itu berlari kearahnya, diantara ruangan kesadaran dan mabuknya, sekuat tenaga Damian memeluk Leyka dan menghempaskannya, mereka berguling guling di tanah yang landai sehingga banteng itu terus berlari membuat kekacauan.


"Ohh Shitttt! Akhirnya Toro menabrakku" kata Leyka dengan tertawa dan meringis kesakitan, Damian menindih tubuh Leyka dengan tangan melindungi kepala Leyka, menghalangi dari benturan. Tidak perduli kerikil tajam menggores tangannya Damian mendekap Leyka dalam pelukannya.


"Leyka, apa kau tidak apa apa?" tanya Damian dan Leyka hanya tergelak. Ia menenggak bir yang masih tercengkeram kuat di tangannya dan melemparkan botolnya begitu saja. Lagu itu terus berkumandang.


Manuella dengan gemetar menghampiri mereka dan memilih duduk, jantungnya berdebar cepat dengan nafas memburu. Sementara Diego menyeka keringat di wajahnya karena ia berlarian ingin mendorong Damian, namun ternyata Damian masih bisa melindungi Leyka. Saat Henry ingin menolong Damian dengan mengulurkan tanganya, Leyka justru memeluk Damian.


"Leyka" Damian nyaris berbisik, dan semua tertegun sambil mengatur nafasnya.


"Seandainya dia ada disini, aku akan mengatakan aku mencintainya, tapi itu tidak mungkin" Leyka menepuk nepuk pipi Damian lalu melingkarkan tangannya di leher Damian. Damian serba salah, ia melirik ke semua sahabatnya yang ikut merasakan kesedihan Leyka. Foto kedua itu datang setelah 6 tahun kemudian dan itu mengorek lukanya kembali.


"Leyka, aku mencintaimu. Bisakah kau melupakannya?" Leyka terdiam, matanya menatap indahnya kembang api yang berdentuman diatas sana, seiring lagu yang membawa lirik demi lirik menuju penghujung malam.

__ADS_1


Slow it down till my heart is ready to explode


Bring it back, go down low


As far as you can go


Tell me will you love me tomorrow


Like you love me tonight


So we can worry about it tomorrow


Just give me tonight


[ Perlahan-lahan sampai jantungku ingin meledak. Kembali, dan datanglah perlahan


Sejauh yang kamu mampu.


Katakan, mau kah kau mencintaiku besok


Seperti kau mencintaiku malam ini


Jadi kita bisa mengkhawatirkannya besok


Hanya berikan aku malam ini ]


"Damian-- Katakan, mau kah kau mencintaiku esok hari, seperti kau mencintaiku malam ini?" Manuella justru bangkit berdiri saat mendengarnya, ia berjalan menuju tenda bir gratis yang tidak jauh dari situ, Diego mengikutinya, ia meminum bir itu sampai habis, Manuella menangis. Henry menendang kerikil dengan kesal dan mengikuti Diego. Mereka sedih dengan apa yang dialami Leyka.


"Jangankan esok hari, bahkan selamanya aku akan mencintaimu dan selalu berada disisimu" Leyka tersenyum dengan airmata terurai, kembang api masih berdentuman seiring lagu 'Till It Hurts'. Damian menyeka aimata Leyka, ada rasa ketenangan disana, rasa menyejukkan tapi tidak menghilangkan luka, belati itu masih terbenam begitu dalam di hati Leyka.


Damian mencondongkan wajahnya, dan memiringkan kepalanya, ia menurunkan pandangannya kearah bibir Leyka lalu Leyka memejamkan matanya dan tanpa disadari, ia mengatupkan bibirnya rapat rapat kemudian ia menggigit kedua bibirnya secara bersamaan agar bibir itu bersembunyi kedalam rongga mulutnya, Damian tersenyum melihatnya. Ia tahu Leyka belum siap untuk berciuman. Ia pun mencium kening Leyka.


Leyka membuka matanya ia kembali berkaca kaca. Damianpun mendorong tubuhnya menjauh dan bangkit berdiri kemudian mengulurkan tangannya kearah Leyka.


"Kekasihku-- Ayo, kita pulang. Train menunggu kita" Leyka menangkap tangan Damian dan bangkit berdiri dengan berjalan sempoyongan, Damianpun menggendong Leyka dipunggungnya Leyka kembali menceracau.


"Fuu*cck you, Toro!" desisnya sambil mengingat Valentino pernah menggendongnya. Leyka memejamkan matanya dan menyandarkan dagunya dipundak Damian. Ia menyandarkan seluruh hidupnya sejak malam itu.


-


-


-


"Alkohol membuat Mommy menjadi Loco (gila)! No me gusta (aku tidak suka). Seandainya Damian langsung mengajak pulang, Mommy tidak mabuk, tidak terkena banteng dan tidak menjadi kekasihnya! Semua karena alkohol!" Train tiba tiba muncul dengan sisir di tangannya dan sisir itu diberikan pada Diego. Ia selesai mandi dan ia selalu manja pada Manuella dan Diego, sudah menjadi kebiasaan Train meminta disisir rambutnya. Train mendengar sekilas obrolan mereka dan menyambar obrolan itu begitu saja.


Valentino terdiam, dadanya bergemuruh, matanya memerah. Ia tidak menduga Leyka begitu membencinya.


Kau melihat Toro sebagai aku.. Dan Damian.. Ohh Shittt.. Leyka, sepertinya aku melakukan kesalahan yang begitu besar kepadamu.. Batin Valentino perih.


"Aku permisi dulu, aku akan mengecek pegawai yang memperbaiki pintu, sepertinya sudah selesai" Valentino bangkit berdiri dan Train menghentikannya.


"Uncle, apa kau baik baik saja?"


"Boy, tetaplah disini. Karena disana banyak debu" ujar Valentino meneruskan langkahnya. Ia pun berpapasan dengan Leyka yang berjalan pincang kearah ruang tengah. Leyka begitu segar setelah mandi. Valentino berdebar melihatnya.


"Leyka"


"Hmm"


"Vamos, toro serás mía, (ayo banteng, kamu akan menjadi milikku), Persigueme (kejar aku)! Atrápame (tangkap aku)" Leyka membulatkan matanya, ia langsung menduga pasti Manuella dan Diego sudah banyak bercerita tentang kisahnya di Pamplona bersama Damian. Valentino mendorong tubuh Leyka agar bersembunyi dari pandangan Train.


"Val, apa yang kau inginkan!" Tanya Leyka dengan berbisik. Valentino langsung memeluk Leyka seeratnya, dan Leyka kembali terkejut. Tubuhnya menjadi membeku dan sulit bergerak. Belaian Valentino dirambutnya, mulai menggerakkan belati yang terbenam dan berkarat dihatinya. Leyka, sedikit mencair.


"Maafkan aku, Perdonami" bisiknya sambil mengurai pelukannya dan menatap mata bening berkilau juga terlihat basah. Belum sempat mengatasi debarannya Valentino melu*maat bibir Leyka dengan lembut lalu melepasnya. Sontak Leyka mendorong dan memberi tamparan namun dengan cepat Valentino menangkapnya.


"Val!"


"Ingatlah ciuman ini baik baik. Kau akan menjadi milikku, aku akan mengejarmu dan menangkapmu! Karena yang telah menjadi milikku, AKU AKAN MENGAMBILNYA!" bisik Valentino penuh penekanan, Leyka tertegun dan mulutnya terbungkam ketika Valentino justru mencium tangannya dan melepasnya kemudian, dengan tersenyum dan berlalu pergi.


-


-


-


ga spt dugaan kalian yg berlebihan nebaknya antara Damian dan Leyka tuh.. 🤭🤦‍♀️🤣


yg mikir aneh2 coba ngac*eeng deh eh ngacung ☝️, denda 20 cangkir kopi loh kl mkr aneh2 (malak mania) 🤣


Cek IGku utk lagu Leyka n Damian @authorgendeng


diperkirakan update Senin.. ga bs ditawar dan ga usah ditengokin, aku ga akan khilaf dan sgt konsisten 🤣 hepi wik2 ehh weekend para bosqueee 😘😘


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2