
Saat Maria mencapai ambang pintu keluar Rooftop, ia berpapasan dengan Manuella yang matanya masih terlihat sembab. Beberapa saat yang lalu Valentino menemuinya di Apartemen Dolores. Manuella mengatakan segalanya tentang Train, dan ia juga mengetahui sebuah kenyataan bahwa mereka sebenarnya telah menikah. Pedro, Penelope, Manuella, Diego dan Dolores memilih diam, mengikuti rencana Valentino.
Itu semua karena kedekatan Leyka dan Rosemary selama ini. Leyka selalu bercerita apapun pada Rosemary. Mungkin Rosemary bisa menjaga rahasia tapi itu sangat beresiko mengingat di sebelah Rosemary adalah Locki Gusmo yang siap memancingnya kapanpun juga. Dan itu tidak akan memuluskan rencana Valentino yang sewaktu waktu bisa gagal karena kesalahan kecil mereka. Daripada kehilangan Leyka dan memisahkan Train dari Mommynya, mereka memilih diam, dan merahasiakan hal itu dari Leyka.
"Manuella?" Maria menghentikan langkahnya.
"Kalian disini rupanya-- Maria, bawa Train pergi dari sini" bisik Manuella dan Maria menghela nafas berat. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan kembali melangkahkan kakinya mengikuti Manuella, kearah Leyka, Train, Damian dan juga Matthew berada.
Wajah Manuella menyiratkan sesuatu yang sangat serius. Jantung Maria berdebar debar melihat Manuella, berjalan kearah mereka semua berada, karena setan cilik itu hanya akan membuatnya malu dan gugup. Terlebih lagi, ia harus bertatapan dengan Matthew Ford. Tapi Maria Fernandez, harus menahan dirinya karena melihat Manuella yang tidak seperti biasanya.
Wajahnya yang biasanya lembut, penuh keceriaan, dengan penuturannya yang hangat, kini terlihat sangat berbeda. Namun wajah keibuan yang penuh kehangatan tidak menghilang, raut wajahnya hanya di selimuti mendung.
Wajah Manuella tampak dibayangi sesuatu masalah yang tidak biasa, bagaimanapun juga Manuella telah memasuki kehidupan keluarga Fernandez dan Maria sedikit banyak mengenali wajah Manuella yang begitu serius dan datar.
"Ibuu Ibuu Ibuu Ibuuu Ibuu!" pekik Train menuruni meja dan menginjakkan kakinya di kursi dan melompat, ia kemudian berlarian menyongsong Manuella yang berjalan kearahnya. Leyka, Damian juga Matthew menoleh secara bersamaan kearah Manuella.
Manuella merentangkan tangannya menyambut Train kemudian ia menyamakan tinggi Train dan memeluknya dan berkata, "Maafkan Ibu, tadi Ibu tidak membiarkanmu masuk saat mencari Mommymu. Lo siento, lo siento. Ibu langsung menutup pintu"
Leyka bangkit berdiri mendengarkan itu, Leyka seakan tak percaya Manuella bisa melakukan itu semua pada Putra Baptisnya. Perasaan Leyka mulai cemas. "Apa maksudmu kau langsung menutup pintu saat Train datang? Manuella, apa Train melakukan kesalahan? Apa aku membuat kesalahan? Kenapa wajahmu? Kau habis menangis?"
Train memang datang bersama Maria dan juga Matthew ke lantai 8 karena mereka tidak menjumpai Manuella di apartemen Dolores seperti biasanya. Train mencari Leyka di ketiga tempat. Apartemen Dolores, Apartemennya sendiri lalu terakhir ke Apartemen Manuella. Tapi saat itu, Manuella dan Diego sedang membahas pernikahan massal. Manuella menangis dan Train datang. Ia membuka pintu dan mengatakan Leyka tidak ada dan langsung menutup pintu begitu saja.
Beruntungnya Train anak yang pintar, dan bisa mengerti kondisi seseorang lewat wajahnya. Lalu ia menyanggah Leyka "No Mommy! Ibu sepertinya sedang bertengkar dengan Ayah Diego" Manuella hanya tersenyum, dan membelai rambut Train lalu menciuminya.
"Manuella apa kau baik baik saja?" tanya Leyka dan semua ikut bangkit berdiri. Sementara Maria membuang pandangannya saat Matthew kembali melihatnya.
"Aku tidak baik baik saja, karena itu aku harus bicara denganmu-- Carino, apa kau bisa ikut bersama Maria dan ajak Damian serta tamumu menunggu di Apartemenmu? Nanti Ibu akan menyusul dan membuat makan malam" ujar Manuella membujuk Train dengan mengusap pipi Train, setelah ia mengurai pelukannya.
"Nooo! Aku mau mendengarkan pembicaraan kalian! Apa Ayah Diego nakal? Apa Ayah Diego jahat? Apa dia menyakitimu, Ibu? Mengapa tadi kau menangis?" Manuela diberondong pertanyaan oleh Train, ia hanya tersenyum namun belum sempat menjawabnya, Diego menghampiri mereka dan menjawab kicauan Train.
"Hei Ayah tidak seperti itu!" jawab Diego, namun matanya seakan berbicara pada Leyka, Manuella bangkit berdiri dan menghela nafas panjang. Leyka bertanya tanya dalam hatinya, karena pada sahabatnya terlihat aneh sore itu.
"Ayaahh ayahh ayaah ayaahh.. Uhhsss Kau nakal kau nakal kau nakal.. Uhhs Kau membuat Ibu menangis! Aku melihattmuuuu!" ujar Train berhamburan ke arah Diego dan memukuli pahanya secara acak. Diego tergelak dan menangkap tangan Train dan menggendong Train di pundaknya, hingga tubuh Train tertelungkup hingga punggungnya.
"Noo Ayaah No Ayahh! Aaaaa! Turunkan aku Turunkan aku!!"
"No! Ayah menangkapmu!"
"Aaaaaa!" kericuhan terjadi diantara mereka berdua, karena Diego mencengkeram pinggang Train hingga Train menjerit jerit kegelian.
Lalu Diego membawanya keatas meja agar Train berdiri disana, lalu Diego mendekapnya seraya berkata, "Ehmm, apa kau tahu tangis bahagia itu seperti apa?"
"Tangis bahagia?" tanya Train tidak mengerti.
"Ketika kau bahagia sampai ingin menangis. Ibumu menangis bahagia karena ada pernikahan" ujar Diego penuh kata ambigu. Dan tentu saja Leyka bereaksi karena Leyka tau bahwa sahabatnya akan menikah, karena perkataan Manuella sendiri.
Saat itu seluruh Distrik Miel sedang mengadakan acara Thanksgiving satu tahun yang lalu, dan mereka sedang berpesta barbeque dengan memanggang beberapa ekor kalkun di taman. Ketika semua berdansa bergembira, Dolores menanyakan kapan Manuella dan Diego akan menikah, Manuella menjawab bahwa mereka akan menikah saat Apartemen Dolores terjual dan pindah ke lantai 1. Bertahun lamanya Dolores menawarkan Apartemennya namun tidak kunjung laku terjual. Manuella pikir itu tidak mungkin terjadi. Siapa yang akan membeli Apartemen di lantai 7 seharga apartemen di lantai 1? Kata Train dulu, itu butuh keajaiban.
Dan Keajaiban pun terjadi. Valentino membeli apartemen itu, tidak perduli harganya, ia hanya ingin bertetangga dengan wanita siluman yaitu Istrinya sendiri. Saat itu Diego dengan kelakarnya, menyetujui perkataan Manuella hingga semua orang mengingatnya. Mereka berpelukan penuh kebahagiaan saat itu.
"Kalian akan menikah?" tanya Leyka membulatkan matanya.
Belum juga menjawabnya, Train bersorak sorai dengan melompat lompat diatas meja dengan berpegangan tangan Diego, "Yeaaayyy! Yeaayyy! Yeaaay!! Ayah Ibu akan menikah!"
Damianpun mengucapkan selamat dengan menjabat tangan Diego dan berangkulan sambil menepuk nepuk punggung Diego, "Aku akan menjadi fotografernya, aku berikan free (gratis) untuk kalian!"
Karena melihat laki laki asing, Diego memperkenalkan diri dan Matthew dengan ramah menyambutnya karena sebelumnya mereka telah bertatap muka di depan pintu Apartemennya, lantai 8.
Leykapun memeluk Manuella, dengan penuh bahagia ia tertawa penuh keharuan namun tawanya terhenti seketika oleh perkataan Manuella yang terdengar berbisik, "Tadi Gallardiev menemuiku di apartemen Tia" Leyka kembali membulatkan matanya, ia menegang seketika, Manuella mengeratkan pelukannya agar Leyka tidak terlihat limbung, karena lutut Leyka lemas seketika.
"Aku ingin Train menjadi pengiringku! Dan Train akan menemaniku sepanjang jalan menuju altar" ujar Manuella lagi dengan mengeraskan suaranya, agar semua mendengar perkataannya.
Train pun memeluk Diego dan meminta turun ia berlarian kearah Ibu dan Mommynya yang berpelukan, ia kembali melompat lompat, "Si si si! Aku akan memegangi ekor gaunmuu Ibuu! Yeaay! Setelah itu aku akan menikahimu, Ibu!"
__ADS_1
"No! Kau hanya membawa cincin Ayah!" ujar Diego menghampiri Train yang melompat lompat dengan cerianya.
"No aku akan menikahi Ibu!" pekiknya dengan wajah sinisnya. Wajah yang egois dan itu milik Valentino.
"Nikahi saja semuanya, dasar anak nakal!" Diego kembali menyambar tubuh Train dan memanggulnya, Train tertawa menjerit karena Diego kembali menggelitikinya.
Manuella mengurai pelukannya dan Leyka duduk karena lututnya masih saja lemas. Damian yang mengenal Leyka, tentu saja mengetahui Leyka sedang tidak baik baik saja. Lalu ia mendekatinya dan menggenggam tangan Leyka.
"Baiklah kau akan menjadi pengantin Prianya, karena itu kalian pergilah ke Apartemenmu, tunggu Ibu dan Mommymu. Kami akan membicarakan sesuatu rahasia wanita untuk pernikahan Ibu" ujar Manuella dan Diego menurunkan Train.
"Uhhhss! Apa aku tidak boleh tahu?!" Train langsung bersedekap dengan alis yang mengkerut dan bibirnya yang mengerucut. Train tidak menyukai rahasia, Train tidak menyukai kebohongan. Mungkin karena itu didikan Leyka sendiri bahwa tidak boleh ada kebohongan diantara mereka.
"Hanya wanita, Carino" ujar Leyka dengan memberi pengertian. Train menatap Leyka yang tangannya di genggam Damian, ia menghampiri Leyka dan menyambar tangan Damian.
"Si, karena aku laki laki sejati. Ayo, Damian. Kita tinggalkan dua wanita ini" Damian hanya terkekeh melihatnya, ia tahu Train tidak suka dan merasa cemburu karena tangan Damian begitu erat menggenggam tangan Leyka.
"Damian, pergilah bawa Matthew ke Apartemen-- Maria, sajikan sesuatu" Leyka mengatakan ke dua arah, Damian dan Maria.
"Si" Mariapun menangkap kunci yang di lempar Leyka kearahnya dan ia berjalan terlebih dahulu, meninggalkan area Rooftop di iringi Diego, Damian, Train serta Matthew.
"Aku hanya sebentar, aku akan memasak makan malam untuk kaliann!" Manuella menambahkan dengan setengah berteriak.
"Pille! Berikan dua botol bir!" Manuella melambaikan tangannya kearah kedai kecil di sudut Rooftop kearah seorang pria yang menjaga kedai kecil itu. Manuella lalu duduk di kursi di samping Leyka yang menghadap kearah jalan. Mereka bisa melihat Kedai Double P dari atas ketinggian Rooftop Casa De Miel.
"Shitt! Jadi dia sudah mengetahui segalanya?" Leyka menatap nanar lurus kedepan entah apa yang dilihatnya tapi pandangannya begitu kosong. Matanya berkaca kaca, nyeri di dadanya seakan menikam hatinya yang telah lama membeku.
"Hmm" jawab Manuella sambil menghela nafas dalam dalam.
"Dia ke gereja menyusul Train. Tapi dari sikap Train sepertinya tidak terjadi apa apa. Sepertinya Train tidak bertemu. Dia terlalu bersemangat bertemu temanmu. Karena itulah aku reflek menutup pintu karena aku sedang membicarakannya" ujar Manuella membuat mata Leyka membulat dan menoleh kearah Manuella.
"Bila bertemu Valentino mungkin dia akan bercerita, dia justru bertemu Matthew dan membawanya kesini" Leyka menimpali.
"Dia sangat kacau. Dia mendengarkan pertengkaranmu dan Damian di Golden Park"
"Apaa?!" Leyka tersentak, ia menegang dan mengingat apa saja yang ia bicarakan bersama Damian ia semakin memiringkan tubuhnya menghadap Manuella. Jantungnya berdebar, hawa dingin menyergapnya, hatinya mendadak tak karuan rasanya.
"Si, karena itulah ia langsung mencari Train di apartemen Tia Dolores dan kebetulan aku sudah pulang. Train dan Maria sudah berangkat ke gereja. Aku bahkan baru saja bertemu Train yang membawa temanmu itu" ujar Manuella pun turut memiringkan tubuhnya dan menatap mata Leyka yang telah menurunkan buliran bening, Leyka membiarkannya.
"Dan dia tau kau ada disini bersama Damian karena Torres dan Jared melihatmu. Tapi dia memilih ke gereja menyusul Train. Dia sangat kacau. Dia sangat terpukul Leyka. Dia-- Astaga, dia sangat buruk. Dia benar benar kacau. Aku sangat kasian padanya. Aku tidak tega memakinya! Dia memeluk Tia dan memohon ampun. Aku.. Aku sangat tersentuh. Dia memang bersalah, tapi bisakah kau memaafkannya?" tanya Manuella dengan menyeka airmatanya.
"Memaafkan? Tentu aku bisa" kata Leyka dengan datar ia kembali menyambar botol bir dan meneguknya.
"Apa kau bisa mencintainya lagi?"
Pertanyaan Manuella membuat Leyka bangkit berdiri sambil menyanggah pertanyaan yang membuatnya mendadak kesal, "Itu tidak akan pernah terjadi sekalipun aku ingin. Dia juga belum tentu mencintaiku. Terakhir aku tahu niatnya tidaklah baik. Dia ingin membuatku jatuh lalu meninggalkanku. Dia punya istri dan anak. Kau mau aku bagaimana? Memohon padanya untuk meninggalkan istrinya dan mencintaiku? Aku tidak bisa. Misiku sudah selesai. Membuat Valentino menerima keberadaan putranya, lalu aku bisa menjalani hidupku bersama Damian. Aku akan pergi membawa Train dan melepaskan gelar Putri Mahkotaku. Aku akan diincar menjadi Viscountess, dan aku akan menjadi pelarian bersama Train"
Leyka terlihat meneguk lagi air yang rasa asam pahit di botol itu, lalu Manuella meraih botol birnya dan menghampiri Leyka yang berdiri di bibir pagar pembatas yang setinggi pinggangnya.
"Tunggulah Valentino, mungkin dia bisa menolongmu" ujar Manuella. Ia sangat berhati hati berbicara karena ia memegang sebuah perjanjian kepada Valentino bahwa ia akan merahasiakan status Leyka.
"Menunggu dia? Laki laki itu? Aku tidak akan pernah jatuh lagi Manuella! Apalagi setelah aku tahu niatnya padaku datang ke Barcelona, aku semakin memperkuat dan membentengi diriku. Aku akan menikah dengan Damian. Di acara makan malam nanti, aku akan mengumumkan pertunanganku dengannya. Bila Penasehat Kerajaan tidak perduli. Maka setelah itu aku akan pergi. Train pasti akan mengerti" Leyka mengulang penjelasan itu, dan Manuella tidak tahan mendengarnya hingga Manuella memuncak kekesalannya.
"Ohh Shitt! Jangan melakukan hal bodoh dengan memisahkan aku dan Train! Tidak akan aku biarkan!" pekik Manuella pecah, ia tidak bisa membayangkan bila ia berpisah dengan Putra baptis yang sangat ia sayangi.
"Lalu aku harus bagaimana?!" dan Leykapun tak kalah lantang.
"Leykaa! Valentino jatuh Leyka! Dia yang jatuh berkali kali! Dia mengatakannya kepadaku dan Tia Dolores, dia mengakuinya, dia dendam padamu karena kau tidak mau di ajak ke Italy karena kau turun di Johannesburg! Si! Dia mengakuinya! Tapi dia mengaku kalah Leyka! Dia justru yang jatuh! Dia menangis merengek seperti anak kecil!" suara Manuella seakan meruntuhkan langit senja sore itu, Leyka terhenyak dengan penuturan Manuella. Seorang Valentino menangis dan merengek, itu hal yang sulit diterjemahkan dengan akal pikirannya.
Laki laki yang selalu berkata kasar, yang selalu menunjukkan ke'aku'annya, yang bersikap arogan, ambisius dan bermulut pedas, tidak mungkin bisa mudah merengek apalagi menangis seperti anak kecil, pikir Leyka.
"Itu.. Itu tidak mungkin!" ujarnya tak percaya.
"Aku melihatnya sendiri!-- seru Manuella dengan menunjuk kearah matanya sendiri --Diego bahkan Tia Dolores melihatnya sendiri, Leyka! Dia sangat Gila! Ingatlah, Train adalah putranya! Dia sudah tahu Train adalah Putranya! Dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Train apalagi Ibunya! Dan itu kau!" dan sekali lagi Manuela menunjuk Leyka dengan tegas dan sangat lugas. Bukan sekali dua kali mereka seperti ini, mereka terbiasa dengan perdebatan.
Perdebatan itu cukup menarik urat leher mereka, mereka sama sama menitikkan airmata, dan secara bersamaan mereka meneguk bir dan menghabiskannya. Mereka terdiam mengatur nafas mereka. Leyka semakin tidak bisa berpikir, tapi Manuella mempercayakan segalanya pada Valentino yang notabene adalah suami Leyka.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Leyka melunak.
"Jalani saja semua dengan tenang. Kau harus menghadapi Valentino setelah ini. Dia mungkin saja akan berlutut padamu dengan segenap rasa bersalahnya" kata Manuella membuat Leyka kembali menitikkan airmata.
__ADS_1
Disela sela tangisnya ia justru tertawa dengan suaranya yang terdengar parau, "Hahaha-- Itu tidak akan pernah terjadi. Dia tidak akan pernah melakukan kebodohan! Laki laki arogan itu, akan bertegar tengkuk demi harga dirinya yang besarnya melebihi otaknya"
"Hanya dia yang bisa menolongmu! Hanya dia!" seru Manuella masing menarik urat lehernya.
"Memangnya siapa dia sampai dia bisa menolongku?! Dia hanya Ayah biologis Train! Bukan berarti dia bisa menolongku! Dia beristri Manuella! Apa kata dunia? Dan bagaimana dia akan menolongku? Mengatakan aku adalah istrinya? Atau dia akan mengatakan akan menikahiku, karena dia Ayah biologis Train?! Dia tidak akan pernah bisa berbuat apapun! Apa bedanya aku mengatakan kalau aku akan menikah dengan Damian! Tidak ada bedanya!" Dan Leyka kembali menegang.
"Karenaa dia-- Shitt!! aku hampir kelepasan berbicara !" lanjutnya dalam hati, Manuella nyaris kelepasan berbicara.
"Apa!!"
Manuella mengalah dengan melembut, ia tidak lagi bisa bersitegang dengan Leyka, salah sedikit saja, ia bisa kehilangan sahabatnya dan juga Putranya. Ia mengambil nafas dalam dalam, dan dihembuskannya perlahan lalu ia menyandarkan kepalanya di pundak Leyka, tangannya merangkul pundak Leyka dan berkata dengan penuh kelembutan, "Aku bertaruh, dia akan berlutut padamu, dia akan melakukannya. Aku percaya padanya, dia bisa menolongmu, tanpa kau harus memohon! Karena dia sendiri mengatakan, bahwa dia tidak akan pernah membiarkan siapa saja menyentuh miliknya!"
Leyka mengernyitkan alisnya dan menoleh, Manuella buru buru meralatnya, "Itu-- ehm... Maksudnya Train dan Train adalah dirimu. Kalian satu paket. Aku yakin pada kemampuanya. Jadi tenanglah, kau jangan melakukan hal bodoh. Kau tidak tahu kenyataan ini membuatnya terkena serangan jantung! Dia memukuli dada kirinya! Berdoalah semua akan baik baik saja" Leyka terkesima tanpa bisa berkata apapun. Manuella menegakkan tubuhnya lalu ia membalikkan tubuhnya bersiap pergi dari hadapan Leyka.
Kemudian Manuella melanjutkan perkataannya, "Aku akan membuat makan malam. Dan kau bayar birnya, aku tidak membawa uang"
"Shiittt!! Kebiasaan kalau tidak membawa uang kenapa harus pesan bir! Shiit!!" umpat Leyka dengan mendengus sangat kesal. Dan itu adalah kebiasaan Manuella. Main pesan tapi tidak terpikir cara membayarnya.
Manuella berlalu tanpa menoleh, Leyka mengumpat dan sebenarnya umpatannya untuk kecemasannya kepada Valentino. Perasaannya porak poranda, ketakutan menyelinap memasuki ruang hatinya, takut bila saja sesuatu terjadi pada Valentino.
Val.. Aku harap kau baik baik saja.. Aku harap kau sehat dan tidak kenapa kenapa..
-
-
-
...ITALY...
Kediaman Valentino
Sebuah pesawat telepon wireless atau bisa disebut pesawat telepon tanpa kabel, meluncur dari tangan Rhosana, Ibunda Gallardiev. Suaranya mengundang Alfonso yang baru tiba di kediamannya, untuk menghampiri Istrinya. Namun ia tersentak melihat pesawat telepon terbelah berserakan menjadi beberapa bagian, dan yang lebih mengejutkan adalah Rhosana luruh terduduk dilantai, bukan di kursi telepon.
Hati Alfonso berdebar debar, hawa dingin merayapi kakinya dan menjalar ke seluruh tubuhnya, ia menopang tubuh Rhosana yang menangis terisak isak dan membawanya duduk di kursi kayu dengan busa tebal untuk tempat duduknya dan dibalut kain beludru berwarna biru tua.
"Rhos-- Apa yang terjadi? Apa semua baik baik saja?"
"Aku.. Aku.. Aku harus ke Spanyol! Aku.. Aku harus ke Barcelona menemui Putraku!" Pekiknya dengan suara terbenam dan mendayu dayu di pelukan Alfonso, Ayah Valentino.
"Apa?! Apa yang terjadi?" tanya Alfonso dengan mengeratkan pelukannya.
"Putra kita.. Terkena.. Serangan Jantung! Tapi dia sudah sadar setelah melewati masa kritisnya.. Aku.. Ingin menemuinya!" Alfonso membulatkan matanya, tangisan Rhosana begitu pecah dan membuatnya diliputi ketakutan karena anak yang selalu dipanggilnya 'berandalan'.
"Tenanglah, aku akan menyuruh Sergio menemaninya, kau tidak perlu kuatir. Anak itu kuat, dia tidak apa apa. Padre (ayah) membutuhkan kita dan kondisinya masih belum stabil" Rhosana sontak mendorong Alfonso dan bangkit berdiri.
"Besok pagi Alfonso Gallardiev! Aku akan terbang ke Barcelona dengan penerbangan pertama! Aku tidak perduli kesehatan Padre!" pekik Rhosana dengan suara lantang dan itu mengejutkan Alfonso.
"Rhoss--
"Anakku membutuhkanku! Dia terkena serangan jantung! Aku akan kesana! Suka atau tidak suka! Aku akan kesana dan uruslah Padre-mu sendiri! Aku ingin melihat CUCUKU! CUCUKUU ALFONSO!!" Seperti boom meledak, seperti itulah keterkejutan Alfonso, lalu ia bangkit berdiri.
"Cucu?"
"Si!! Gallardiev mempunyai seorang Putra dari Putri Mahkota itu! Dia punya anak dari menantu bangsawan kita!"
"Rhoss?! Apaa??! Gallardiev memiliki anak? Rhoss? Apa yang terjadi? Ya Tuhaan!" Alfonso hendak membelai rambut Rhosana namun Rhosana buru buru menepisnya.
"Apa yang terjadi? Maka lihatlah sendiri! Aku akan berkemas! Cucu dan Menantuku, lebih penting saat ini!!" Rhosana pun berlalu dari hadapan Alfonso dan menghilang dibalik tangga yang berputar menuju lantai atas. Alfonso menatap nanar pecahan ponsel di bawah kakinya, ia mengusap wajahnya perlahan.
"Cucu? Hah! Berandalan itu punya anak dari wanita bangsawan itu? Ini sangat bagus. Ini kabar yang sangat bagus-- gumam Alfonso dengan tersenyum. Kemudian ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang --pesankan dua tiket pesawat untuk besok pagi! Penerbangan pertama, menuju BARCELONA!"
Cucuku.. Seperti apa anak Berandalan itu.. Ini sangat menarik.. Apakah dia bar bar?. Alfonso.
-
-
__ADS_1
-
Im back, Bosqyu.. kopi boleh dong 🤣