
Double P
Suasana kedai kopi itu mendadak menjadi rumah hantu, menyeramkan. Semua bekerja seperti robot dengan memasang wajah perang, diam, dingin dan angker tanpa senyuman, saat melihat Leyka pulang bersama Train dan Valentino.
Pedro, Simon, Penelope memperlihatkan wajah tidak suka karena kehadiran Valentino. Karena semua keluarga Fernandez tahu bagaimana Leyka bercucuran airmata membesarkan Putranya. Blue Train. Sepertinya Valentino harus berjuang keras mengambil hati keluarga Fernandez.
Leyka mengganti sepatunya dengan sandal jepit yang nyaman karena luka di ibu jari kakinya yang belum sembuh sepenuhnya. Train masih dengan baju yang ia kenakan dan pada akhirnya penuh noda ice cream gelato. Leykapun mengambil baju Train yang selalu ia siapkan di loker Double P. Semua Ibu pasti berjaga jaga membawa perlengkapan anaknya kemanapun, seperti itu jugalah Leyka.
"Lo siento, (maafkan aku) Mommy" suara mungil itu meluruhkan hati Leyka, ia meminta maaf karena ia telah mengotori bajunya. Valentino melihatnya dengan senyum khasnya yang membuat Leyka dulu tergila gila. Valentino mengikuti Train ke toilet karena ia juga membasahi rambutnya dengan sedikit air, karena berulang kali ice cream Train menetes mengenai rambutnya, saat Valentino menggendong Train di pundaknya.
"Lain kali tidak boleh makan ice cream dengan cone, sebaiknya memakai cup saja" Leyka menyeka tubuh Train yang lengket dan Valentino kembali membasahi tisu dengan air dan menyekanya di rambutnya yang terkena coklat.
"Lo siento, Uncle" Train mendongakkan kepalanya, tubuhnya terguncang guncang karena Leyka menyekanya.
"No, kamu tidak bersalah. Itu karena Uncle membawamu berlarian" jawab Valentino, masih berdiri di depan wastafel.
"Apa masih terasa lengket? Apa sudah nyaman?" tanya Leyka pada Train. Valentino melirik kagum. Wanita yang dulu di kenalnya, yang mencintai kebebasan dan bar bar kini menjadi sosok keibuan, serta penuh kasih sayang. Valentino jatuh cinta lagi dan lagi melihat pemandangan itu.
"No, sudah tidak lengket" jawab Train sambil menggosok hidungnya, ia berdiri tegap sesekali melihat kearah Valentino yang menjulang tinggi.
"Setelah kamu makan kamu akan ke apartemen Abuela menunggu Ayahmu. Mommy akan di kedai sampai malam-- Mommy akan memberimu bedak agar kulitmu tidak iritasi"
"Si Mommy!-- Ehm, Mommy. Apa Damian tidak ada kabarnya? Mengapa dia tidak menghubungimu?" Valentino melihat Train dari kaca, ia melihat Train memainkan anak rambut Leyka seperti hobinya dulu.
"Mungkin dia sangat sibuk" jawab Leyka singkat, ia menaburkan bedak anti alergi ke seluruh tubuh Train yang setengah telanjang, diam diam Valentino mengamati kedekatan Leyka dan Train.
"Tapi aku tadi seperti melihat Damian-- Bukankah seharusnya dia sudah pulang?"
"Hmm tidak mungkin. Kalau pulang pasti dia akan menemui Mommy-- Pakai bajumu dan minta Pedro membuat makan siangmu, kau berjanji akan makan setelah makan ice cream" kata Leyka sambil menutup bedaknya lalu meletakkannya di tas khusus perlengkapan Train yang selalu dibawanya kemana mana. Lalu Leyka menyerahkan kaos tanpa kerah dan Train menyambarnya, ia kemudian memakainya.
"Si si si-- Aku mau omelete daging dan kentang panggang-- Uncle aku menunggumu diluar!" seru Train dengan lantang dan berlarian keluar toilet.
"Si, Boy" Leykapun membereskan baju- baju Train dan perlengkapannya ia melihat kearah Valentino yang masih membersihkan rambutnya.
"Ley, ayolah bantu aku. Ini susah Ley" ujar Valentino seperti anak manja yang merajuk.
"Aku sibuk"
"Ley-- Valentino menarik lembut tangan Leyka hingga ia berdiri memunggungi cermin dan wastafel lalu Valentino menghimpitnya --kau masih marah padaku?" Leyka terdiam dan memiringkan wajahnya ke arah samping. Valentino menghela nafas panjang ia kemudian meraih dagu Leyka dengan lembut.
"Ley, lo siento" Valentino menggunakan bahasa Spanyol sebagai permintaan maafnya, ia ingin meluluhkan Leyka seperti Train. Leyka berdebar melihat mata abu abu kebiruan itu begitu menusuk relung hatinya, memberi udara di sela sela belati yang masih bersarang disana. Tatapan itu membuatnya resah.
"Berbaliklah aku akan membersihkan rambutmu" ucapan Leyka terdengar gugup, Valentino tersenyum dengan menggigit bibirnya, tatap itu rasanya ingin menelannya.
"Val" Leyka mendorong wajahnya menjauh namun Valentino lagi lagi meraih dagu Leyka agar menatapnya.
"Hmm?"
"Aku-- aku harus bekerja"
"Kau mau membantuku?"
"Si (iya)" Valentino tersenyum menawan lagi, ia kemudian meletakkan, kedua sikunya di pinggir wastafel agar kedudukannya sama dan Leyka bisa menjangkau kepalanya. Valentino menghadap cermin, Leyka mengambil handuk kecil bekas Train lalu membasahi dan membersihkan rambut Valentino yang terkena ice cream gelato. Mata Valentino masih menatap Leyka dari cermin. Ia tidak melepaskan pandangannya.
Dengan penuh kelembutan Leyka melakukannya, ia mengingat saat mandi bersama di Pretoria saat mencuci rambut Valentino, ia mengingat gelak tawa mereka disana, tanpa sadar Leyka tersenyum, matanya menatap rambut Valentino namun kosong, ingatannya terbang ke Pretoria. Setelah selesai, Leyka mencium rambut Valentino, tanpa ia sadari. Lalu ia memberikan hair tonic milik Train.
"Kau tersenyum?" Valentino kembali mengungkungnya.
"Ehm--
"Kau ingat Pretoria?"
"Aku--
"Kau mencium rambutku, mi amor (cintaku; Spanyol)?"
"Itu-- Val, Aku--
"Shhhh-- Kau menggemaskan, Nyonya Gallardiev" bisik Valentino membuat mata Leyka membulat saat Valentino tiba tiba mema*guut bibirnya yang terkatup. Hanya sebentar namun penuh kekuatan dan membuat Leyka seakan amblas ke dasar bumi. Valentino mengusap lembut bibir Leyka dengan jari telunjuknya dan tatapannya yang sangat memikat, membuat hati Leyka dipenuhi debaran.
Nyonya Gallardiev? Mimpi. Kau pikir, kau bisa mendapatkanku? Kau hanya bisa memberi Luka.. batin Leyka yang tak sanggup ia katakan.
"Te quiero mucho, mi amor (aku sangat mencintaimu, sayangku)-- Aku akan menunggumu, hingga kau melepaskan Damian, bahkan selamanya aku akan menunggumu" bisik Valentino sambil mencium kening Leyka lalu keluar dari toilet dan menyisakan belaian di pipinya.
Leyka membalikkan tubuhnya menghadap cermin, lalu membasuh wajahnya. Ia mengatur nafasnya.
Mengapa aku selalu luluh, mengapa aku selalu memaafkannya. Damian, kau dimana.. Mengapa kau membiarkanku menghadapi ini sendiri.. Damian maafkan aku.. Maafkan aku..
Leyka kembali membasuh wajahnya, ia menangis sejadi jadinya. Mengkhianati itu bukan dirinya, itu bukan sifatnya. Namun Valentino begitu kuat menyiksa batinnya, ia berhasil mengacaukan hatinya.
"Mommy! Ada yang mencarimu!" Pekik Train sambil menerobos masuk begitu saja ke dalam toilet dan Leyka kembali membasuh wajahnya. Lalu menyekanya dengan tisu.
"Siapa?"
__ADS_1
"Dari kerajaan!" seru Train dengan lantang dia kembali berlarian keluar dari toilet. Leyka merapikan barang barangnya dan merapikan dirinya. Ia menggerai rambutnya dan memberi sentuhan bedak pada wajahnya dan lipstik pada bibirnya. Leyka menghela nafas panjang lalu melangkahkan kakinya keluar dari toilet. Ia terlihat cantik, Valentino berdebar melihatnya.
-
-
-
Sebuah sedan terparkir di samping Double P, mobil sport Audi RS6 berkelir hitam dengan sentuhan modifikasi, logo empat cincin khas Audi juga dilebur warna hitam. Begitu pula pelek 5-spoke yang juga berkelir hitam graphite. Identitas plat nomer kerajaan terlihat, bendera kerajaan pun terpasang pada bagian depan Audi.
Mesin bertenaga besar ini dikawinkan dengan transmisi Triptonic enam kecepatan. Karenanya tak heran bila sewaktu-waktu mobil ini melakukan akselerasi 0-100 km/jam dalam 4,5 detik saja. Dan bila ingin memacu lebih tinggi, Audi ini sanggup tembus hingga kecepatan 280 km/jam. Mobil ini biasa digunakan oleh para utusan Penasehat Kerajaan.
"Pedro, mobilnya sangat keren! Kira kira ada apa lagi Pedro" ujar Train melihat dari balik kaca, ia berdiri tegak mengamati mobil dengan bendera Kerajaan Spanyol di badan bagian depan Audi itu dan ia menghafal nomor plat itu.
"Mommymu mungkin di undang di acara pesta Kerajaan. Disana banyak pria baik, semoga saja Mommymu berkenalan dengan pria bangsawan bukan pria ba*jiingann" sindir Pedro melirik kearah Valentino yang duduk tidak jauh dimana Train berdiri, dan itu membuat telinga Valentino memanas. Namun, Valentino hanya tersenyum menahan kesabarannya.
"Nooo!! Tidak boleh Pedro! Mommy hanya milikku!" ujar Train merengut kearah Pedro dan Valentino menahan senyumnya. Pedro tersenyum kecut.
Leyka memasuki mobil itu dengan tenang, menegakkan tubuh dan kepalanya layaknya seorang putri. Seorang pria setengah baya menyapanya dengan memegang dadanya dan menundukkan kepala. Cara hormat di kerajaan Spanyol.
"Princesa (tuan putri; Spanyol)" kata laki laki itu.
"Penasehat, apakah ada hal penting? Bukankah satu bulan yang lalu aku sudah ke Gedung Konsulat Kerajaan?" tanya Leyka setelah melakukan cara hormat yang sama.
"Dua minggu lagi, seorang Viscount dari Inggris mengundang semua Putri Mahkota dan semua keluarga para bangsawan, juga ada beberapa pebisnis yang bekerjasama dengan Kerajaan, untuk makan malam dan dia akan memilih satu calon istri untuk menjadi Viscountess" Leyka mengepalkan tangannya ia terkejut dengan perkataan Penasehat itu.
"Berkebangsaan Inggris?" tanya Leyka mengerutkan alisnya hingga dahinya ikut berkerut. Ia berdebar, perasaannya mulai tidak tenang. Ia menyelipkan sulur rambutnya ke belakang telinganya untuk menutupi kegelisahannya.
[ Gelar bangsawan Inggris setelah King (Raja) dan Queen (Ratu), Prince (putra mahkota) dan Princess (putri mahkota) adalah :
Duke / Duchess adalah gelar tertinggi dalam kebangsawanan tepat setelah keluarga kerajaan.
Gelar ini melekat pada sebuah wilayah (duchy) atau diberikan pada seorang pangeran dan pasanganya ketika ia menikah.
Marquess / Marchioness adalah gelar tertinggi kedua yang memimpin wilayah yang terletak di perbatasan negara. Karenanya marquess diberi kepercayaan untuk menjaga pertahanan kerajaan dari musuh.
Count / Countess, adalah gelar tertinggi ketiga. Count biasa disebut Earl sejajar dengan gelar Count yang umum digunakan di dataran Eropa. Mereka biasanya menduduki perkantoran di Kerajaan.
Viscount / Viscountess menempati peringkat keempat dalan status kebangsawanan Inggris. Gelar ini juga biasanya digunakan untuk sheriff sebuah wilayah.
"Sebenarnya dia keturunan bangsawan Spanyol juga dari Berenguer III. Bersiaplah. Jika beruntung kau bisa menjadi Viscountess di Inggris" Penasehat itu menjelaskan. Leyka semakin tidak tenang. Ia menahan dirinya karena bagaimanapun ia tidak bisa lari dari kodratnya.
"Tapi--
"Princesa-- Penasehat Kerajaan itu menunduk dan memegang dadanya, dengan tanda berakhirnya percakapan singkat itu --datanglah" penasehat itu masih menunduk tanpa memberi kesempatan untuk berbicara, Leyka tahu pembicaraan itu tidak boleh dibantah. Tapi bangsawan bar bar ini tidak tinggal diam.
"Penasehat, jika aku terpilih, aku tidak ingin menikah. Aku memiliki kekasih dan aku akan menikah dengan kekasihku" ujar Leyka, berbuat hal yang sama, menyentuh dadanya dan menundukkan kepalanya.
"2 minggu lagi" kata Penasehat itu lagi.
"Aku akan datang dan aku tidak mau keberuntungan Viscountess" kata Leyka menegakkan kepalanya, ia membangkang.
"Semoga kau beruntung" Penasehat itu tidak kunjung menegakkan kepalanya, ia masih menunduk dan memegangi dadanya, menunggu Leyka keluar dari mobil Audi itu.
"Semoga aku tidak terpilih" Leyka dengan anggun keluar dari mobil itu dengan mendengus. Leyka berdiri tegak hingga mobil itu pergi, ia sangat kesal, perasaannya mulai tidak tenang. Ketakutan mulai menjalari hatinya.
-
-
-
Habislah aku, bila aku terpilih! Aku tidak mau hidup di Neraka! Shiittt!! Damian kau dimana, kau harus menikahiku secepatnya.. Leyka menggerutu dalam hatinya lalu tanpa sadar ia menendang tempat sampah, ia lupa bahwa ibu jari kakinya masih dalam tahap pemulih, ia pun memekik keras.
"Aaaaawww!!"
Dan sudah pasti Valentino yang melihat dari dalam berlarian keluar dan menggendong Leyka lalu membawanya masuk.
"Apa kau ingin kakimu cacat!" Valentino mendengus dan menurunkan Leyka di kursi yang dilindungi meja kasir dan meja barista, ia tidak mau mengganggu para pelanggan yang sedang menikmati kopi dan beberapa camilan di Kedai Double P.
"Mommy!!" Dan Train mengikuti Valentino dan berdiri disamping Leyka. Valentino duduk berjongkok dengan menumpu satu lututnya di lantai lalu melepas sandal Leyka,Train ikut duduk berjongkok, ia merasa seru dan penasaran apa yang membuat Leyka se-kesal itu. Sesekali ia menggosok hidungnya.
"Aaaawwww! Aku sangat kesal! Aku lupaaaa kakiku masih sakit!! Aaaa Shhh-- Valentino membungkam mulut Leyka dengan tangannya. Valentino tau Leyka akan mengumpat.
"Ada Train, dan kau tidak boleh mengumpat!" Pedro dan Simon saling memandang, Penelope segera berlarian mengambil kotak medis. Valentino membuka plester yang telah membalut ibu jari kaki Leyka sebelumnya, karena ibu jari kaki Leyka kembali mengeluarkan darah. Leyka kembali meringis menahan sakit, ia mencengkeram tangan Valentino agar berhati hati mengobati lukanya.
"Simon sering mengumpat-- Kau dengar Simon! Kau tidak boleh mengumpat didepanku!" seru Train mengadu.
"Huh!! Pequeño diablo (setan cilik)!!" Simon meninju ninju udara diatas kepala Train sambil mencebikkan bibirnya.
"Mommy Simon nakal! Uhhs!" dan Train yang melihat itu lalu meninju ninju kaki Simon dengan kesal. Simon hanya terkekeh dan kembali ke dapur. Penelope, tiba dengan kotak obat dan Valentino menyambut kotak medis itu.
__ADS_1
"Lain kali, siapapun yang mengumpat di depanmu. Jepit saja bibirnya dengan jepitan kue, Boy" ujar Valentino dengan tersenyum, ia kemudian membersihkan luka Leyka.
"Pelan pelan!!-- Leyka menahan tangan Valentino yang akan menuang alkohol medis --Pelan pelan, Senor!" Dan Valentino yang tidak sabaran menuang begitu saja langsung ke luka dan Leyka menjerit kesakitan.
"Kauuu!! Kenapa kau kasar sekali, Gallardiev!! Kau tidak bisa lembut seperti Damian!!Sshh, Aarrgh perihhh!" perkataan Leyka yang kesakitan justru membuat Valentino terbakar.
"Uncle, Mommy kesakitan"
"Apa!! Kauu bilang Damian lembut!! Dia hanya mesum!! Dia mengobati lukamu dengan membuatmu geli!! Shitt!! Dia pria mesum yang pernah ada di muka bumi ini!! Membuat geli menggelitik kaki! Lalu apa lagi!! Dia tidak mengobati kakimu! Itu hanya kode kemesuman! Apa kau bodoh!! Shiit!! Mau maunya kau diobati dengan cara seperti itu!! Itu pengobatan mesum! Rasa perihmu ini tidak sebanding dengan rasa sakit di hatiku!! Apa kau dengar!!" Valentino kembali tidak menyadari kedai itu mendadak sunyi senyap. Semua orang, semua pelanggan mendengar kemarahannya.
Semua mendengar Valentino meluapkan emosinya, mengingat Damian mengobati luka yang berakhir ia merusak pintu. Train menghilang, Leyka membulatkan matanya, sementara Pedro, Simon dan Penelope terkesima dengan emosi Valentino. Leyka sampai lupa rasa sakitnya dan ia baru menyadari bahwa Valentino telah selesai membalut ibu jari kakinya.
Ternyata Valentino marah marah dengan mengobatinya, Leyka gugup dengan sikap Valentino yang kembali membuatnya malu. Antara kesal dan senang melihat Valentino meluapkan ekspresi kecemburannya yang meledak ledak, diam diam ia kembali mengagumi Valentino.
Dan suara tawa Train memecah kesunyian dengan membawa Food Tongs (penjepit makanan), Train memainkan Food Tongs itu dan menimbulkan suara khas alat itu, rupanya Train menghilang hanya untuk mengambil food tongs itu di rak kue.
(Taks.. Taks.. Takkkss.. Takkss.. Taksss )
"Aaa..Haaa..Haa Haa-- Aku akan menjepit bibirmu, Uncle!" kata Train sambil tertawa dan memainkan food tongs itu dengan melompat lompat kegirangan. Leyka menahan tawanya bahkan Pedro juga Penelope. Tapi, Simon terbahak di dapur.
"Eh, bibirku?-- Shittt!! Mengapa aku lupa dengan apa yang aku katakan!! Shitt!! Setan cilik ini!! Valentinopun tahu letak salahnya. Ia kemudian mengangkat kaki Leyka hingga mencapai wajahnya, Leyka kembali kebingungan.
"Si si (iya iya)-- Kau mengumpat di depanku-- Aaa Haa haa! Aku akan menjepit bibirmu! Yeeay!!" Train sangat senang. Adrenalinnya benar benar meluap, menemukan kesalahan orang dewasa adalah kesenangannya dan Valentino kurang berhati hati. Tentu saja, itu karena Valentino belum mengenal Train dengan baik.
"Ohh-- Lo siento (maafkan aku), Boy. Tapi Mommymu masih membutuhkan bibir Uncle untuk meniup luka ini. Ohh, kasian sekali Mommymu, Boy-- Ini pasti sangat sakit percayalah" Valentinopun meniup niup ibu jari kaki Leyka, ia mencengkeram betis Leyka dengan memberi sinyal permintaan tolong. Valentino tak kalah akal. Leyka rasanya ingin meledakkan tawanya, ia melihat sisi Valentino yang tidak pernah ia temukan di Pretoria.
Terkadang kau seperti badut. Tapi badut yang tampan dan menggemaskan.. Dan kau sangat menyenangkan.. Kau tidak membosankan.. Apakah ini dirimu yang sesungguhnya Val? Aku hanya mengenalmu 10 hari saat itu.. Dan entah mengapa, perasaanku mengatakan bahwa aku akan mengenalmu disetiap harinya.. Ohh shiiittt! Apa yang sedang aku pikirkan? Damian, mengapa kau sulit dihubungi.. batin Leyka berkecamuk.
"Si (iya)-- Aku bisa menunggu, sambil makan!" kata Train dengan mengangkat alisnya dengan membunyikan food tong itu.
(Taks.. Taks.. Takkkss.. Takkss.. Taksss )
SHIITT!!! umpat Valentino dalam hatinya.
Pria ini boleh juga.. Sepertinya dia tidaklah buruk, Train sampai se-bahagia itu.. Pedro.
Kau belum tahu, Putramu terkadang sangat sangat nakal, Val.. Leyka kembali tersenyum bahagia dalam hatinya.
-
-
-
Casa De Miel, Lantai 7
Selama satu minggu libur karena pemindahan sekolah Esperanza, Leyka terbiasa memasukkan Train di Daycare, penitipan anak yang memiliki banyak edukasi dan Leyka mengambil kelas bahasa inggris untuk Train. Biasanya Train akan tidur di lantai 8 milik Diego dan Manuella. Karena Train akan berangkat pagi pagi bersama Manuella, mengingat daycare itu berada di satu gedung, dimana Manuella bekerja di sebuah perusahaan property.
Mereka. Manuella dan Diego, akan mengurus Train di pagi hari dan siangnya Leyka akan menjemputnya lalu bergantian mengurus Train hingga sore menunggu Diego pulang. Mereka sangat mencintai Train, bahkan sebelum Train dilahirkan.
Train di prediksi lahir 9 bulan lewat 15 hari menurut Dokter, namun sebuah kesalahan Manuella, membuat Train lahir lebih cepat tapi tepat 9 bulan. Dan kelahiran Train membuat Manuella melebur tangisannya bersama pecahnya tangaisan Train saat itu.
Tak terkira betapa cintanya Manuella dan Diego kepada Train, perjuangan pelarian mereka dari Palma membuat Leyka juga berhutang budi. Karena Manuella-lah, Leyka lolos dari aborsi yang telah di siapkan oleh Locki Gusmo. Karena itu, terkadang Leyka berebut Train dan akhirnya ia merelakan putranya untuk tidur bersama Manuella dan Diego di lantai 8.
Dan entah keberapa kali Leyka menghubungi Damian, namun tidak ada jawaban. Beberapa pesan Leyka kirim dan tidak satu pun dibaca, pesan itu masih menunggu sang penerima pesan mengaktifkan ponselnya. Di kesunyian malam, akhirnya Leyka meminum obat tidur dengan resep dokter, agar ia tidur dengan nyenyak. Leyka mengkonsumsi disaat ia banyak pikiran atau melupakan keresahannya. Tidur adalah obat mujarab yang menghalau kenangan dan sekelumit masalah dunia.
Dan obat itu sangat membuatnya terlelap. Hingga ia tidak menyadari, seseorang menatapnya saat tidur dengan tersenyum hangat. Ia membelai rambut Leyka, sesekali mencium keningnya. Ia memberikan ketenangan dan rasa aman, hingga disaat tidur sendiri dalam kesepian, Leyka tidak lagi bermimpi buruk.
Tidurlah Ley.. Tidurlah yang nyenyak.. Jangan berteriak karena mimpi burukmu.. Aku akan menemanimu seperti malam malam sebelumnya.. Aku akan menunggumu hingga kau bangun nanti dipagi hari.. Aku akan mengusir mimpi burukmu, Leyka.. Aku tidak akan membiarkannya datang menghampirimu..
Ia mengusap usap punggung Leyka, namun karena letih, ia justru tertidur disamping Leyka, merajut mimpi bersama dengan wanita yang di cintainya, memberi kehangatan dan menjaga agar mimpi buruk itu tidak akan datang malam ini.
Good Night.. Leyka..
-
-
-
Nah, sapa tuh.. Damian apa Valentino 🤭
Spoiler : Baiklah, Valentino akan mengungkap pernikahannya di pesta itu, Bosqyuuu...
boleh minta jempol buat like ama komen ama favoritin novel ini gak.. kl gaa yaa udah deh denda kopi 🤣🤣🤣 (malak bae thor) 🤣
makasih yg udah promoin novel ini di platform manapun.. uhhh cipo*ok basah yaa dari aku 😘😘
-
-
-
__ADS_1