
Kedai Double P
Sore itu Pedro Fernandez memulai shift sorenya menggantikan Maria Fernandez. Membersihkan setiap sudut ruangan kedai dan menata ulang meja kursi agar berjajar rapi karena pelanggan akan banyak yang berdatangan, menyambut senja hingga makan malam tiba.
Setelah selama sepekan Kedai itu tutup karena sebagian keluarga Fernandez ke kota Palma, kesempatan itu digunakan Valentino lagi untuk merenovasi kedai Double P menjadi dua lantai yang sebelumnya ia telah membeli dua slot tempat bisnis yang bersebelahan dengan Kedai Double P di Distrik Golden.
Pedro melayani warga yang mengambil hasil penjualan kue, lalu mereka akan menghitung berapa kue yang terjual dan sisa kue yang tidak terjual dan akan dibawa kembali oleh pemiliknya. Kemudian Pedro akan memberikan uang hasil penjualan mereka hari itu.
Leyka biasanya yang melakukan tugas itu, namun karena kehamilannya Valentino melarang sepenuhnya, ia tidak mengizinkan Leyka bekerja. Pedro dan semua keluarga Fernandez bekerja dua kali lipat. Dan Pedro yang diberikan tanggung jawab untuk mengurus segalanya, agar Kedai itu tetap berjalan seperti biasanya.
Pedro Fernandez
Pedro Fernandez, dia biasa dijuluki chico playero (anak pantai) dan chico malo (anak berandalan / nakal). Sekolahnya hanya sampai tingkat Senior High School (Sekolah Menengah Atas), ia tidak meneruskan ke bangku Universitas karena kepergian Ayahnya membuat Predo kehilangan arah.
Selain biayanya mahal, Pedro Fernandez kehilangan bea siswanya karena ia terlalu terlarut dalam kesedihan dan ia memilih memberikan kesempatan kepada kedua adik perempuannya yang masih bersekolah, untuk menggapai cita citanya di bangku Universitas.
Memiliki Ibu berdarah Mexico yang telah menetap secara turun menurun di Bilbao dan Ayahnya seorang Fernandez, kakak tertua dari Dollores Fernandez. Sejak Ayahnya tiada, Ibu dan kedua adik perempuanya memilih kembali ke Bilbao, kota kelahiran Ayah dan Ibunya dan disanalah Keluarga Fernandez berasal. Kota petarung dan menjadikan Keluarga Fernandez petarung yang handal di jamannya.
Pedro memilih tinggal di Barcelona, Ia tidak bisa meninggalkan kenangannya bersama sang Ayah yang memiliki usaha penyewaan kapal. Dahulu sang Ayah memiliki puluhan kapal ikan, namun perlahan satu demi satu kapal itu habis ditelan kebutuhan hidup, setelah kepergian Ayahnya. Pedro terlalu muda, untuk mengurus usaha dan menjadi penerus Ayahnya.
Kehidupannya dulu bebas, urakan, dan menyukai perkelahian. Hidupnya lebih banyak di pantai, berselancar, memancing, menyelam dan menggoda turis - turis yang sedang berlibur, jika beruntung ia bisa mengencaninya. Ia tinggal memiliki dua kapal nelayan, peninggalan Ayahnya yang ia sewakan pada Keluarga Simon Fernandez yang berprofesi sebagai Nelayan. Keluarga yang biasa dan keluarga petarung, itulah Keluarga Fernandez.
Namun, kehadiran Leyka dalam kehidupan Keluarga Fernandez merubah segalanya. Leyka yang terkadang lemah lembut dan terkadang bar bar membuat Pedro selalu ingin melindunginya. Leyka si bangsawan rela meninggalkan sangkar emasnya dan berjuang dengan kemandiriannya.
Kehangatan Leyka, kebaikannya dan juga keperduliannya membuat Pedro meninggalkan pesisir pantai dan kembali ke Apartemennya yang sebelumnya ia sewakan. Ia bekerja keras membantu Leyka membangun Kedai bersama Manuella dan Diego. Seiring waktu berjalan, Manuella dan Diego mendapatkan pekerjaan lalu ada Simon, Penelope dan Maria yang membantunya.
Ketika Leyka masuk ke dalam kehidupan Keluarga Fernandez, awalnya sudah pasti mendapatkan cibiran dari orang - orang di sekitarnya, karena kehamilannya tanpa suami disisinya. Namun, Pedro satu satunya orang setelah Dollores yang berdiri di garda terdepan untuk selalu membelanya dan membuat Leyka diterima dengan baik.
Kelahiran Train membawa keajaiban tersendiri, semua Distrik Miel menyambutnya dengan penuh cinta. Mereka semua berpesta saat itu. Bayi mungil seputih salju, si rambut hitam bermata biru itu mencuri semua hati penduduk Distrik Miel yang di huni warga asli Spanyol dan sebagian besar keluarga besar Fernandez.
"Hola Chico Malo (anak nakal)!" seorang laki laki tua bertopi koboi menghampirinya di beranda samping Kedai Double P.
"Hola Tio (paman) Sanchez!" sapa Pedro seraya meletakan lap dipundaknya lalu menghampiri laki - laki tua yang dipanggil Sanchez.
"Dengar, aku akan berada di Paris selama enam bulan menyusul putriku. Aku akan menitipkan tiga Apartemenku yang berada di Distrik Golden kepadamu-- Aku akan menyerahkan kuncinya" ujar Sanchez sambil menarik kursi dan duduk.
Pedro melambaikan tangannya memberi kode pada Simon agar membuatkan kopi kesukaan Sanchez. Tanpa memesan Pedro pasti memberi secangkir kopi robusta padanya karena Sanchez adalah sahabat Ayahnya dan tinggal di Distrik Miel namun ia memiliki beberapa Apartemen yang di sewakan dan Pedro selalu dimintai tolong untuk mengurusnya dengan komisi sebagai jasanya.
"Wah enam bulan? Berapa persen yang aku dapat Tio? Aku harap kau menaikan upahku" kata Pedro sambil menarik kursi dan duduk berhadapan di seberang Sanchez.
"Dasar Chico Malo (anak nakal)! Kau masih saja memerasku" ujar Sanchez dengan mendengus.
"Huuhh! Tacaño (pelit)!" Pedro berbalas mendengus dan ia bangkit berdiri karena Simon datang dengan nampan, yang berisi dua cangkir kopi. Pedro meraih dua cangkir kopi bergantian dan meletakannya diatas meja dihadapan Sanchez lalu satu cangkir diletakan di mejanya kemudian ia kembali duduk. Simon pun berlalu membawa nampan sambil menggelengkan kepalanya kearah Sanchez yang terkenal pelit.
"30%!" kata Sanchez sambil mengaduk aduk kopi setelah memberikan brown sugar ke dalam cangkirnya. [ Brown sugar adalah jenis gula yang dihasilkan dari kristalisasi sari tebu. Sumbernya sama dengan gula pasir berwarna putih, namun dalam proses pembuatannya ada beberapa tahap yang berbeda. Perbedaan tahapan pembuatan brown sugar dengan gula pasir berwarna putih ada pada proses penambahan molases ]
"Dios-mío (Astaga; Spanyol)-- satu tahun lalu 29% dan sekarang hanya naik 1%? Bagaimana kalau 35%? Kalau Tio menitipkan ke agen property, Tio hanya akan menerima 50% dari hasil sewa-- Coba saja! Aku merawat Apartemenmu, Tio Sanhez. Aku membersihkan setiap saat dan siap 24 jam bila ada keluhan dan kerusakan dari penyewa" Pedro mengeluarkan rokok dan pematik dari saku celemek barista lalu menyulutnya dan meneruskan perkataannya karena Sanchez terdiam mencerna perkataan Pedro sambil menyesap kopinya.
"Agen Property mana yang mau membersihkan dan memperbaiki kerusakan gratis? Mereka akan meminta uang tambahan untuk jasa perbaikan. Terserah bila kau mau 35%, bila tidak berikan saja ke Agen Property" ujar Pedro sambil menggedikan bahunya, ia menghembuskan asap yang keluar melalui lubang hidung dan mulutnya, lalu ia menyesap kopinya.
"Dasar Chico Malo-- Baiklah! Bersihkan sekarang karena malam ini tepatnya jam tujuh malam ada penyewa, kau harus berada disana sebelum penyewa datang. Seorang Ibu dan Putrinya, aku memberi nomor teleponmu kepadanya. Aku akan terbang ke Perancis malam ini juga, jadi aku tidak sempat membersihkannya, apalagi menyambutnya. Satu lagi, minta uangnya langsung-- potong komisimu dan besok kirimkan sisanya ke rekeningku, seperti biasanya!" ujar Sanchez mengalah dengan mendengus.
"Senang berbisnis denganmu, Tacaño Tío Sanchez (Paman Sanchez yang pelit)!" Pedro terkekeh sambil menghi*sap rokoknya dan menghembuskannya keatas.
"Cihh!" dengus Sanchez sambil mengeluarkan tiga kunci Apartemen lalu kembali menyesap kopinya. Sebuah taksi datang menjemputnya lalu ia berpamitan seraya meletakan selembar uang euro di meja.
"Ambil kembaliannya!" ujar Sanchez dan berlalu, meninggalkan Pedro yang tergelak. Karena tidak biasanya Sanchez mau membayar kopi yang Pedro berikan gratis kepadanya.
"Sepertinya Messi akan kalah musim ini Tio! Karena kau membayar kopi gratis dariku! Ten un viaje seguro, Tío (semoga selamat sampai tujuan, Paman)!" seru Pedro terus terbahak karena Sanchez mengacungkan jari tengahnya dari kejauhan sambil mengeringai.
__ADS_1
"Kau akan ke Distrik Golden?" tanya Penelope menyambar rokok dari tangan Pedro lalu menghi*sapnya perlahan kemudian mengembalikannya kepada Pedro.
"Si Penelope! Huaaahh! Akhirnya dia mau menaikan upahku! Sedikit lagi Penelope! Aku bisa membeli satu kapal ikan lagi! Huaahh Ayah-- Aku akan mengembalikan kapalmu satu persatu!" serunya sambil mengacak rambutnya dan berseru dengan menengadahkan kepalanya, seakan Ayahnya berada di langit langit atap plafon kedai itu. Penelope tersenyum getir melihat saudaranya itu.
"Kau sangat bekerja keras! Sana pergilah bereskan apartemen El Tacaño (si pelit) itu dan cepatlah kembali!" kata Penelope menutupi keharuannya dengan menggelengkan kepalanya sambil membereskan meja.
"Gracias Penelope! Aku akan mentraktirmu!" kata Pedro sambil berlari menuju Distrik Golden.
-
-
-
Apartemen Ratu
(Balkon)
"Vall" bisik Leyka lembut
Angin senja berhembus sepoi - sepoi membawa kesejukan di temaramnya cakrawala. Anak rambut Leyka berkeriap menutupi sebagian dahinya. Valentino menyibakannya dengan ujung jemarinya begitu lembut, satu tangannya kemudian menekan tengkuk Leyka lalu ia memiringkan kepalanya. Senyumnya terlihat samar - samar sebelum mencondongkan hidung pinokio-nya mengendus bibir sensual yang menyisakan aroma susu strawberry.
"Fragrante (harum; Italy)" desis Valentino sayup sayup dan melambungkan hasrat Leyka. Valentinopun melu*mat perlahan bibir Leyka dengan mata terpejam.
"Nghh.. Fragrante (harum)... Uhmm.. Mia dolcezza (manisku)" lenguhnya seraya menghirup mulut Leyka lalu melu*matnya lagi. Lidahnya mulai liar membelit lidah Leyka lalu menghi*sapnya perlahan lahan. Leyka terbuai ketika satu tangan Valentino yang mendarat di pinggangnya kini liar menjalari bo*kong Leyka dan mere*mas - remasnya.
Kaki Leyka melangkah mundur perlahan karena Valentino mendorongnya kearah dinding yang berdekatan dengan meja. Valentino menyandarkan tubuh Leyka disana lalu menghimpitnya.
"Sei così bella Signora Gallardiev (kau cantik sekali Nyonya Gallardiev; Italy)" bisik Valentino masih menempelkan hidungnya di hidung Leyka, ia mengurai pagu*tannya dan membelai pipi Leyka. Ia memandangi wajah Leyka dengan seksama, bola mata coklat milik Leyka seakan menyala berkilau bak madu saat diterpa cahaya senja dan terlihat basah.
"Val, tidak disini, Mi Carino (sayangku)" bisik Leyka saat jemari Valentino membelai kedua lengannya dengan memainkan tali dress motif bunga yang melekat dipundaknya. Valentino tersenyum lalu melu*mat kembali bibir Leyka dengan nafas yang kian menderu.
"Aahhh... Shhh.. Sweet.. Aku rindu kau memanggilku Mi Carino. Itu membuatku ingin selalu bermanja denganmu-- Aahh.. rasanya aku seperti berada di Pretoria" bisik Valentino sambil menurunkan tali kecil yang melekat pada pundak Leyka, tali itu menjuntai kesamping lengannya sehingga dress pada bagian dada itu tak mampu menutupi buah dadanya. Valentino menariknya hingga kebawah dan dengan mudah Valentino menyusupkan tangannya untuk mengeluar buah dada Leyka yang terlihat padat dan sekal.
"Ughhmm.. Ahhh.. Il mio amore.. Mia Cara (cintaku.. sayangku; Italy)" desis Valentino dengan mata terpejam. Jemari tangannya liar menyingkap dress itu lalu menjalari perut Leyka dan menelusupkan jemarinya ke dalam underwear yang terlihat transparan hingga jemarinya menemukan buah mungil diantara irisan buah peach yang telah memanas.
"Nghhhh.. Ahhh.. Vall" de*sah Leyka lirih sambil mere*mas rambut Valentino yang memenuhi dadanya, Valentino mere*mas - re*mas dan menghisap puncak payu*daranya secara bergantian karena ia telah mengeluarkan keduanya dari balutan dressnya bagian dada.
Rin*tihan demi rin*tihan Leyka membuat Valentino membuka matanya dan memandangi wajah sayu yang menghiba dengan rona semerah saga yang semakin berkilau diterpa cahaya matahari yang kian tenggelam di ujung buritan samudera. Melihat pemandangan indah itu, Valentino tersenyum penuh kekaguman. Ia kemudian menyambar tengkuk Leyka dan melu*mat bibir sensual yang telah kebas dan serasa bengkak.
Jemari tangan Valentino terus menari lincah pada buah mungil yang selalu membuatnya penasaran dan semakin membangkitkan gairah Leyka. Setelah memastikan licin dan sangat basah Valentino menyudahi aksinya dan meraih pinggang Leyka, ia memeluknya dan menikam leher Leyka dengan cumbuannya yang makin memanaskan suasana senja yang hampir menghilang dari pandangan mata mereka. Ia kembali menaikan kedua tali dress pada kedua pundak Leyka lalu mendorongnya ke tepian pagar.
"Ahhh.. Vall... Aaahhh!" Leyka menahan des*ahannya dengan menggigit bibirnya dan mencengkeram punggung Valentino yang terus mendesaknya hingga berada di sudut balkon.
"Shhh.. Haaahhh.. Hmmm.. Ley.. Apa kau tahu, gaya yang dianjurkan untuk wanita hamil?" tanya Valentino dalam bisikannya. Ia meraih kedua tangan Leyka yang menaut dipundaknya dengan sentuhan lembut lalu membalikan tubuh Leyka agar membelakangi tubuhnya.
"Uhhhmm.. Aahhh Vall-- Si...Uhmm.. Dog*gie Style" bisik Leyka lirih dengan rin*tihan yang memohon. Bibir Valentino menjalari leher hingga belakang telinga membuat Leyka semakin memanas. Gelenyar indah terus berkejaran, memacu hasrat dan menginginkan lebih dari sebuah sentuhan yang kian mendaki di puncak gairah.
"Ahhh.. Aku percaya kau mengetahuinya. Karena ini bukan yang pertama kau hamil.. Aahh Leykaa" nafas Valentino kian hangat menerpa leher Leyka, seiring ia menaikan dress pendek itu keatas, lalu melingkarkan satu tangannya di perut Leyka kemudian membelainya, sementara tangan yang lain mere*mas buah dadanya.
Dengan hidungnya Valentino menyibakan rambut Leyka lalu kembali melu*mat lembut daun telinga dan menggesekan dagunya ke pundak Leyka yang kulitnya berubah kecoklatan seraya memberi gigitan lembut seakan pundak itu coklat yang manis.
"Aahh.. Vall" pekik Leyka lirih. Ia tidak bisa menguasai pijakannya hingga Leyka menahan tubuhnya dengan berpegangan pada pagar besi yang memutari balkon yang dipenuhi bunga bunga mawar dari Ludwig's Roses dan tengah bermekaran.
"Shhhhh... Ughhh.." Valentinopun menarik pinggang Leyka ke belakang, hingga badannya membungkuk ke depan. Leyka bisa melihat orang orang berlalu lalang di bawah, namun bila ada orang orang yang melihat keatas, hanya tampak kepala Leyka karena bunga bunga mawar itu melingkupi balkon. Rumah dengan penuh bunga bunga, itu adalah impian Leyka dan ia pernah mengatakannya di hari terakhir mereka saat berada di Pretoria.
"Val.. Disini?" tanya Leyka dengan penuh debaran dan terpacu adrenalinnya.
"Si, lihatlah langit itu-- Bisakah kita menikmati senja dengan bercinta?" bisik Valentino seraya menyibak dress Leyka lalu menyingkap underwear Leyka ke arah samping kemudian Valentino melucuti kaosnya dan mengeluarkan miliknya tanpa melepas celana pendeknya, Valentino mencengkeram miliknya yang telah menegang menjulang sepenuhnya.
Valentino merentangkan kedua kakinya lalu mengarahkan miliknya, Leykapun merentangkan kedua pahanya, kedua tangannya menumpu pada pagar balkon, menahan bobot tubuhnya dengan setengah menunduk. Lekuk tubuh Leyka bak gitar Spanyol dengan bokong yang padat berisi menggugah hasrat Valentino dan tak sabar ingin menusukkan miliknya yang memiliki julukan jagung bakar Afrika Selatan.
Leyka menoleh ke samping dengan nafasnya yang memburu cepat saat Valentino menarik kaki kursi dengan kakinya hingga berada di samping Leyka. Valentino pun membelai paha Leyka lalu meraihnya satu kaki Leyka agar menekuk dan menumpu diatas kursi. Posisi itu sangat leluasa untuk Valentino melesakan miliknya perlahan ke area licin dan membuat miliknya tergelincir hingga tenggelam seluruhnya.
__ADS_1
"Aarghhh Leykaa!" desah Valentino tertahan dengan membenamkan mulutnya di punggung Leyka dan memberi gigitan kecil.
"Aaaarrghh Vallll!" Valentino membungkan mulut Leyka dengan jemarinya karena jeritan Leyka begitu keras saat milik Valentino melesak memenuhi irisan buah Peach, seakan menikam pinggulnya. Leyka mencari posisi ternyamannya karena milik Valentino sedikit menyakitinya. Dan jeritan spontan Leyka mengundang perhatian lantai diatas mereka dimana itu adalah apartemen milik Diego. Suara mungil dari atas balkon sangat mengejutkannya.
"Mommyyy! Apa Mommy baik baik saja?!" pekik Train dengan semangkok sereal di tangannya. Leyka terdiam dengan menggigit bibirnya saat Valentino dengan berdiri tegak mulai memacu miliknya perlahan - lahan.
"Sii-- Bluueeee!! Mommy hanya terkena duri mawar! Mommy baik baik saja! Daddy bisa mengatasinya!" seru Valentino dengan lantang dan terus memacu milik Leyka.
"Mommymu tidak apa apa-- Vamos makan di meja tidak disini" kata Diego terdengar menjauhkan Train dari balkon karena Diego tau apa yang Leyka dan Valentino lakukan.
"Si Daddy! Setelah makan sereal kami akan turun!" Leyka membulatkan matanya mendengar jawaban Train. Valentino bisa melihat keterkejutan Leyka dari samping namun Valentino semakin terpacu dan bisa mengatasi suasana hati Leyka yang dipenuhi kecemasan.
"Shhh.. Aahhh... Pelankan suaramu.. Apa sakit?" bisik Valentino mencari titik rang*sangan yang mampu menyingkiran kecemasan Leyka. Sambil memacu irisan buah Peach, jemari Valentino liar memainkan dan menggesekan jemarinya pada buah mungil dengan jutaan syaraf sen*sitif yang menghadirkan gairah Leyka.
"No...Aahh.. Sshh.. Vaalll.. Ngghh.. Uhmmm!" rintih Leyka dengan mulut terbungkam oleh jemari tangan Valentino yang lainnya.
"Yeaahh.. Aaahh.. Sei bellissima (kau sangat cantik), Signora (Nyonya; Italy) Gallardiev.." bisik Valentino memandangi wajah Leyka yang kian memerah se-merah cakrawala senja itu.
"Aaarghh.. Vall!.. Aahh.. Pelann.. Nghhh.. Ahhh!" Valentinopun memperlambat goyangan pinggulnya. Lalu Leyka menyingkirkan tangan Valentino yang memainkan miliknya.
"Ahh.. Panas sekali.. Aku tidak bisa menahannya lebih lama.. Aarrgh.. Ley.." bisik Valentino lirih seraya mere*mas buah dada Leyka dan menggigit leher belakangnya. Semakin lambat gerakan pinggul Valentino membuat Leyka semakin tak kuasa menahan gejolak hasratnya yang kian memuncak.
"Nnggghhhhh.. Ehhhmmmpphht.. Mi Carino.. Aahh!" Valentino kembali membungkam mulut Leyka hingga Leyka menggigit tangan Valentino saat ia mencapai puncak kli*maksnya lalu meledakan hasratnya dengan mencengkeram pagar besi.
Getaran milik Leyka membuat Valentino tersengat ia pun memacu miliknya dengan cepat lalu kembali memperlambat gerakannya saat ia meledakkan benihnya. Tangan kirinya mencengkeram tengkuk Leyka menahan siluet wajah Leyka dari samping agar tidak menghilang dari pandangannya. Tangan kanannya mencengkeram pinggang Leyka menahan jagung bakar Afrika Selatan agar tak lepas dari goyangan pinggul Leyka yang terus berputar perlahan.
"Ohhh Sei bellissima (kau sangat cantik) Aaarrghhh.. Il mio amore.. Aarghhh Shh.. Haahhhmm.." bisik Valentino terdengar lirih. Denyutan milik Valentino, Leyka bisa merasakannya. Valentino menyibakan rambut Leyka lalu menciumi leher hingga pundak kecoklatan yang eksotis dan mengakhir percintaan panas di senja yang semakin menjauh pergi.
"Hhhmmm.. Uuffhh" Leyka mengatur nafasnya dengan meringis menahan perihnya are*a miliknya setelah itu Valentino membebaskan diri dari cengkeraman irisan buah Peach yang membuat jagung bakar Afrika Selatan tak berdaya.
Valentino membalikan tubuh Leyka agar menghadap kearahnya lalu merengkuhnya dan menyeka keringat yang bermunculan. Wajah Leyka kian bersinar, aura kehamilannya terpancar saat senyuman manisnya mengulas indah. Bertubi - tubi Valentino menciumi di semua sudutnya dengan berbisik, "Bellissima.. Bellissima.. Bellissimaa"
"Hei, Paquito! Apa sudah kau tertusuk durinya? Cihh! Bagaimana bisa tertusuk duri berulang - ulang? Aku mendengarmuu, Paquito!"
(BLLAAAARR)
Pintu balkon tetangga dari lantai enam tertutup seketika. Mata Valentino dan Leyka membulat dan menoleh kebawah secara bersamaan, lalu mereka saling berpandangan dan tertawa cekikikan.
"Dia bisa mendengar sejauh ini?" tanya Valentino.
"Hanya satu lantai, Carino. Itu Tia (Bibi) Takeshi, istri Mister Takeshi. Dia menggunakan alat bantu pada pendengarannya mungkin setelan alatnya menangkap volume maksimal. Karena itulah dinding Casa de Miel bisa berbicara" ujar Leyka dengan terkekeh.
"Heyy! Italiano (Pria Italy), kau pikir aku tuli?!" Pintu kembali terbuka.
"Sarkas sekali dia" ujar Valentino mengerutkan alisnya.
"Sst, dia memang begitu" bisik Leyka seraya menyambar gelas susu dan meneguknya.
"Sii!! Hati hati dengan apa yang kau dengar Senora! Kau bisa sakit kepala!" seru Valentino dengan arogannya. Hidup bertetangga itulah pengalaman pertama pria Red Velvet di hunian Distrik Miel. Sarkas, kehilangan sedikit privacy dan gosip bertebaran dimana - mana.
(BLAAARR)
Pintu kembali terdengar menutup sangat keras, seiring tawa pasangan muda, liar dan loco (gila). Mereka pernah menggila di Pretoria dan kini di Barcelona. Leyka menarik lengan Valentino yang masih kesal dengan kata sarkasme yang diucapkan Istri Takeshi. Di negara barat menyebutkan orang dengan membawa nama negaranya adalah bentuk sarkasme yang bisa menyinggung perasaan, karena itu disana sangat dilarang. Rusia dan Italy, sebagian besar orang - orangnya terkenal tempramen hingga patut waspada menjaga lidah dari Sarkasme.
Leyka melingkarkan tangannya di leher Valentino dan menciumi wajah tampan itu, kekesalannya memudar seiring cahaya senja yang tenggelam digulitanya malam. Valentino menggendong Leyka dan membawanya masuk untuk bersiap makan malam bersama 'setan cilik' mereka.
-
-
-
🗣🗣☕☕☕☕☕🤭🤭🤣
Ngerti kan ? 🤣
__ADS_1