FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
FINAL SEASON : Akseslah Hidupku


__ADS_3

Karena permintaan Miuccia, Pedro akhirnya menemani mereka makan malam, walaupun sang Mama dengan berat hati mengabulkan permintaan putrinya. Dinaungi cahaya rembulan, yang mengintip melalui celah tirai yang berderak ditiup sang angin, ditemaramnya lampu ruangan makan yang menghadap ke arah jalan, sehingga mereka bisa melihat pemandangan kerlipan lampu di Ibukota yang berpendar satu sama lain, layaknya bintang yang bertebaran di bumi Barcelona. Kota yang sarat dengan kisah cinta yang indah. Menurut survey, selain Italy, Perancis dan New Zealand, Spanyol adalah negara yang memiliki banyak kisah romantis ketiga di dunia.


Entah mengapa Miu tidak mau melepaskan pandangannya dari wajah Pedro yang selalu terlihat ceria dan bersemangat serta selalu melebarkan senyumannya. Senyuman yang menarik hatinya dan tidak pernah membuat Miu bosan. Bahkan Miu selalu mencari senyuman itu lewat tatapan matanya, biru keabuan seperti milik Train.



Ada kehangatan terpancar disana, ada sikap kelembutan dibalik tatapan mata coklat yang terkadang tertutup keriapan anak rambutnya. Cara Pedro melayani Miu membuat hati gadis kecil itu serasa mengalihkan keinginannya untuk mencari Pappanya malam itu juga. Valentino Gallardiev, seorang Pappa yang membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang.


Berjuta kenangan, berjuta janji, berjuta cinta yang selalu ia dapatkan kini menghilang sejak kepergian Valentino ke Barcelona. Semenjak Jared dan Torres datang ke Barcelona, Valentino berkomunikasi dengan putrinya, Elara Miuccia. Melalui kedua rekannya tanpa sepengetahuan Leyka, Valentino melupakan kewajibannya, melupakan kerinduannya, melupakan keberadaan Miu bahkan kasih sayang yang telah ia curahkan selama delapan tahun ini.


Valentino menyembunyikan jati diri Miu dari Leyka karena sebuah alasan, ia ingin mengambil apa saja yang menjadi miliknya, merampas semua kenangan yang menghilang selama delapan tahun dan mengembalikan semua pada tempatnya yaitu cinta sejatinya dan buah hatinya, berada dalam genggamannya. Salahkah Valentino melakukannya? Tentu saja tidak jika di lihat dari di sisi laki - laki yang ingin mendapatkan haknya, namun wanita mana yang mau dibohongi dengan diam diam? Sengajakah Valentino melakukannya?


Si (iya), Pria selalu berpikir dengan logikanya, semua nalarnya digunakan secara cepat dan akurat. Arogan dan idealisme seorang Valentino Gallardiev, digunakan untuk membentuk keegoisannya agar menyingkirkan Miu dari kesehariannya. Bahkan Valentino melupakan hak dan kewajibannya sebagai Ayah Baptis dimana di Italy, menyandang Ayah atau Ibu Baptis adalah hal yang sangat penting. Bukan hanya sekedar embel embel belaka.


Disisi lain, Miu terdaftar sebagai putrinya secara hukum, Miu memegang sepertiga kekayaan Valentino di Bank Swiss, dimana pada saat itu, di Pretoria, delapan tahun yang lalu Valentino menutup aksesnya dari Rebecca di hadapan Leyka. Hingga pontang panting Rebecca harus kembali mengejarnya, berjuang demi rasa cinta yang terabaikan karena pengkhianatannya sendiri serta mengejar sebuah kenyamanan hidup yang selalu Valentino tawarkan. Valentino berpikir bahwa latar belakang Miu akan membuat usahanya gagal. Mengingat Miu adalah Putri dari mantan kekasihnya yaitu Rebecca Pallazo yang selalu mengusik liburannya kala itu di Pretoria.



"Tio Pedro, Grazie (terima kasih; Italy) Semua makanan ini sangat enak, bahkan lebih enak dari buatan Pappa dan Mammaku. Guarda (lihat)! Aku menghabiskan semuanya. Ohh, aku sangat kenyang" suara mungil itu begitu merdu terdengar dan membuat Pedro terkekeh seraya membelai puncak kepala Miuccia.


Wanita yang memperkenalkan dirinya dengan nama Pall yang diambil dari nama belakangnya, yaitu Pallazo hanya tersenyum sinis melihat adegan itu. Rasa risih dan aneh ia rasakan saat duduk di meja makan bersama laki laki asing yang baru saja ia kenal. Jika bukan karena Miu, wanita itu tentu saja tidak akan pernah mau ditemani makan malam mengingat betapa jauhnya rentang kasta dan jenjang sosial yang cukup berseberangan diantara mereka.


"Aku akan membuatkanmu setiap waktu bila kau menginginkannya, Miu" ujar Pedro sambil mencolek hidung Miu kemudian.


"Apa kau membubuhkan obat tidur pada makananku, Tio (paman)? Aku sangat mengantuk sekali" ujar gadis kecil sambil menguap dan mengelus - elus perutnya yang terasa bengkak karena kekenyangan.


"Apa?! Miu? Kau baik baik saja?!-- Pall tersentak mendengar penuturan Miu, ia buru buru meletakan kedua tangannya di wajah Miu untuk memastikan suhu tubuh Miu ---- Apa yang kau lakukan pada Putriku?!" serunya lagi kepada Pedro dengan memperlihatkan wajah paniknya.


Sementara Pedro hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. Pedro mengenali secepat kilat sikap Miu bahwa Miu sejatinya hanya bergurau dengan mengganti kosa katanya, bahwa sehabis makan semua orang akan merasa mengantuk. Karena pengaruh hormon selama proses pencernaan yaitu pemecah zat gizi dari makanan dalam sistem pencernaan untuk dijadikan glukosa yang kemudian diubah menjadi energi.


Biasanya setelah makan, tubuh melepaskan hormon, seperti hormon amilin, glukagon, dan kolesistokinin. Pada saat yang sama, otak juga melepaskan hormon serotonin yang menyebabkan rasa kantuk. Selain itu, makanan juga mempengaruhi produksi melatonin di otak. Kedua hormon inilah yang menyebabkan rasa kantuk setelah makan.


"Iihhss, Mamma! Miu hanya bercanda!" kata Miu menepiskan tangan Pall yang mendarat di wajahnya bertubi tubi.


"Mia angela, jangan membuat Mamma khawatir" kata wanita yang menyebut dirinya Pall dengan penuh kelegaan.


"Sehabis makan pasti Miu mengantuk Mamma-- Bukankah seperti di beri obat tidur? Iihhs Mamma! Begitu saja tidak mengerti" Pedro terkekeh mendengar penuturan Miu yang mengerucutkan bibirnya. Sementara wanita itu memberi tatapan tajam kearah Pedro dengan menunjukan ketidak-sukaannya melihat sikap Pedro yang seakan mengejeknya.


Melihat anak ini mengapa hatiku berbunga rasanya.. Tapi begitu melihat Ibunya, seperti berada di pemakaman.. Cihh, wanita Italy.. Dimanapun selalu terlihat arogan.. Dan menyebalkan..


"Itu artinya kau terlalu banyak makan karbohidrat yang akan dipecah menjadi glukosa.. Ehm, glukosa itu gula dan hormon mengantukmu juga datang menghampirimu--


"Hormon mengantuk?" potong gadis kecil itu yang bermata seperti Train.


"Si, namanya hormon sorotonin dan itu menyebabkan kantuk saat kau selesai makan-- Ini sudah malam, sebaiknya kau tidur, Miu" kata Pedro seraya bangkit berdiri sambil membereskan meja. Pedro masih mengunakan celemek baristanya dan Miu menatapnya lekat lekat.


"Apa kau akan bekerja, Tio Pedro?" tanya Miu masih sibuk melihat celemek yang memiliki beberapa saku dan terdapat kain pembersih didalamnya terlihat menjuntai disisi kiri dan kananya.


"Si, aku harus bekerja. Karena aku akan membeli kapal yang banyak" kata Pedro mengerlingkan matanya kearah Miu dan membuat wanita itu tersenyum sinis.


"Wuaah-- bukankah itu sangat mahal?" tanya Miu membulatkan matanya.


"Si, sangat mahal. Dulu kapal Ayahku sangat banyak, setelah Ayahku meninggal kami menjualnya satu persatu. Sekarang, aku mempertahankan dua kapal Ayahku dan pelan - pelan aku ingin mengembalikannya" kata Pedro dengan tersenyum. Miu membalasnya dengan senyuman yang sama dan matanya terlihat berbinar tak berkedip memandangi Pedro.


"Apa enak naik kapal?" tanya Miu terdengar lesu.


"Kau belum pernah naik kapal?" Pedro memiringkan kepalanya menatap wajah Miu. Sesekali ia melirik kearah meja, dengan kedua tangannya yang cekatan menyingkirkan piring dan gelas kotor lalu menumpuknya. Pedro masih berdiri menunggu jawaban Miu.


"No, Mamma tidak pernah mengajakku dan Pappaku sangat sibuk" Pedro melirik kearah Pallazo yang meneguk segelas wine. Pedro memperhatikan cara Pallazo meminum wine, gerakannya sangat elegan dan berkelas. Sikap Pallazo mengingatkannya pada sepupunya Leyka Paquito yang kini menyandang nama Gallardiev di belakangnya.


"Aku bisa mengajakmu ke yacht milikku bila Mammamu mengijinkannya" ujar Pedro berjalan kearah dapur, ia meletakan piring dan gelas kotor di wastafel.


"Tentu saja tidak! Aku tidak biasa pergi dengan laki laki asing, penampilanmu lusuh dan urakan-- tidak berkelas dan terlihat berandalan" Pedro mendengus dan tersenyum hambar tanpa menoleh, ia fokus mencuci piring dan gelas kotor itu kemudian. Sikapnya yang santai, namun lebih banyak diam membuat Pallazo semakin kesal karena Pedro lebih sering menampakan senyum khasnya.


"No Mamma! Jangan bicara seperti itu! Tio Pedro sangat tampan! Dia seperti Rock Star!-- Uhm.. Tio, perdonami (paman maafkan aku) Mammaku selalu berkata tidak enak! Itu bahkan ke semua orang! Mamma membuat malu saja!" seru Miu dengan menajamkan alisnya yang nyaris bertemu kearah sang Mamma. Pedro menoleh dan melihat kilatan mata biru itu menunjukan kekesalannya.


"Rock star?" Pedro terbahak mendengarnya dan mata Miu kembali berbinar melihat tawa Pedro yang sangat menyenangkan hatinya. Raut wajah Miu, berubah drastis dan Pallazo melihat itu semua dengan mengerutkan alisnya.


"Mia Cara (sayangku; Italy)-- kata Pallazo dengan meletakan gelas wine lalu membelai rambut Miu namun Miu memotong perkataan sang Mamma.


"No Mamma!" Miu menepiskan tangan Pallazo dengan merengut dan itu membuat hatinya gusar.


"Sepertinya Putri anda terdidik dengan baik oleh Pappanya dan bukan Mammanya" sindir Pedro seraya mengeringkan tangannya pada kain yang menjuntai di saku celemek baristanya lalu Pedro kembali menghampiri mereka.


"Kau--


"Miu, lalu bagaimana dengan dirimu? Kau datang ke Barcelona untuk menemui Pappamu?" Pertanyaan Pedro secepat kilat memotong perkataan Pallazo yang ingin berargumen dengannya. Pedro memilih mengakhiri perdebatan itu di depan Miu, karena Pedro sangat mengerti bagaimana ia harus bersikap.

__ADS_1


"Sebenarnya Pappaku hilang-- Sontak Pallazo membulatkan matanya dan bangkit berdiri lalu duduk bertungging dengan menumpukan kedua lututnya pada lantai, disamping Miu yang masih duduk di kursi makan.


"Miu, Mia Angela (bidadariku; Italy)-- Pallazo pun menangkupkan kedua tangannya di pipi mungil itu dengan lembut lalu menatap mata Miu dengan pancaran kasih sayang, hati Pedro tergetar melihatnya --Sebaiknya kau tidur, Mia Cara (sayangku). Ini tidak bagus untuk kesehatanmu, jika Pappa tau hal ini, Pappa akan sangat marah pada kita. Apa kau mengerti?" ujar Pallazo dengan suara merdunya dan lagi - lagi mendebarkan hati Pedro.


Pedro buru - buru mengendalikan perasaannya, sebuah perasaan aneh yang diam - diam menyelinap di dalam hatinya dan itu perasaan yang tidak mungkin, perasaan yang terlarang, mengingat tingginya dinding yang tak mungkin Pedro panjat. Sementara bagi Miu, kata 'Pappa' adalah sebuah kata kunci. Miuccia sangat mencintai Valentino Gallardiev, bagi Miu Valentino adalah Pappa terbaik untuknya, kasih sayang Valentino adalah hal berharga baginya.


"Si (iya ; Italy, Spanyol) Mamma-- Tio, aku tidur dulu. Sampai jumpa besok" kata Miu membiarkan Pallazo menciumi pipinya kemudian.


"Besok?" Pedro memasukan kedua tangannya di saku celemek baristanya dengan memiringkan kepalanya, menatap kearah Miu.


"Si, besok aku mau sarapan buatanmu, Tio-- Lalu Miu menoleh kearah sang Mama lalu ia kembali bertanya --Bolehkah Mamma? Kalau tidak boleh aku tidak mau makan" ujar kemudian disusul sikapnya yang bersedekap.


"Kalau hanya sekedar sarapan boleh - boleh saja, tapi bila bepergian tentu saja tidak boleh. Pappa melarang kau bepergian bersama orang asing" ujar Pallazo tersenyum lebar seraya kembali mencium pelipis putrinya.


"Tapi Pappa tidak pernah mengatakannya. Kata Pappa bila kita diberikan kebaikan oleh orang lain maka kita harus membalasnya dua kali lipat" kata Miu dengan merentangkan dua jemarinya dan Pedro melengkungkan senyum manisnya melihat lucunya gadis kecil itu.


"Miu jangan membantah Mamma-- Dai (ayo; Italy)" ujar Pallazo seraya bangkit berdiri dan menggandeng tangan Miu saat Miu beranjak dari kursinya.


"Ada amplop berisi uang sewa dan aku letakan di meja ruang tamu-- dan berapa aku harus membayar makanan malam ini?" tanya Pallazo menghentikan beberapa langkahnya dan menoleh sinis kearah Pedro.


"Ihss! Mamma tidak sopan!" Miu mengurai genggam sang Mama di pergelangan tangannya dengan kasar lalu Miuccia berlari secepat kilat kearah ruang tamu.


"Miu-- panggil Pallazo dengan tertahan lalu ia menghela nafas dalam dan mendengus kearah Pedro yang lagi dan lagi melengkungkan satu sudut bibirnya.


"Aku akan mengambil amplop itu!" seru Miu saat menghilang dari ruang makan yang menyatu dengan dapur.


"Putrimu sangat berpendidikan, sebagai tamu dari negara lain, anda wajib memberikannya langsung ke tanganku" ujar Pedro sambil menyelipkan sulur rambutnya yang menjuntai ke belakang telinganya lalu ia bersedekap.


"Aku tidak sudi dan jangan mengguruiku! Cepat katakan berapa aku harus membayar makan malam ini!" kata Pallazo dengan ketusnya.


"Aku memberimu gratis! Untuk malam ini, anggap saja itu welcome dinner dariku atas nama Barcelona" ujar Pedro menajamkan tatapan matanya, tatapan yang memikat dan senyum manis yang mempesona, entah mengapa Pedro melakukannya. Namun Pallazo terlihat semakin emosional melihat itu semua.


"Aku tidak sudi menerimanya! Katakan berapa!" kata Pallazo dengan tegas menantang tatapan Pedro dengan menegakan kepalanya. Namun Pedro justru berjalan perlahan menghampiri Pallazo dengan melebarkan senyumnya.


Welcome drink (minuman selamat datang), welcome dinner (jamuan selamat datang), welcome cake (kue selamat datang), welcome flowers (bunga selamat datang) atau apapun itu, tidak boleh ditolak karena sebagian di negara Eropa dianggap sebuah Anugerah sebagai bentuk kearifan lokal di wilayah tertentu disana. Kita wajib menerimanya dan tidak boleh menolaknya.


"Apa anda tau Senorita (Nona)? Menolak ucapan selamat datang dalam bentuk apapun di kota ini bisa mendapatkan kesialan. Keberuntungan anda akan berubah menjadi abu, semua yang anda usahakan, tidak akan membuahkan hasil" ujar Pedro penuh penekanan. Melihat itu Pallazo tercekat, matanya terlihat terbeliak melihat Pedro berjalan kearahnya perlahan lahan.


"Kau jangan macam - macam atau aku akan melaporkanmu pada Polizia (polisi; Italy)!" ujar Pallazo mengangkat jari telunjuknya kearah Pedro, dengan wajahnya yang memerah. Senyuman Pedro dan tatapan mata tampak menggoda, hati Pallazo berdebar - debar dan mengakui dalam hatinya bahwa Pedro memang laki - laki yang tidak pernah membosankan bila dilihat semakin lama.


Satu langkah, dua langkah, tiga langkah mendekat, Pallazo justru melangkah mundur dan tidak pernah diduga Pedro ternyata hanya melewatinya dengan semakin melebarkan senyumnya. Pedro terkekeh dalam hatinya, namun ia hanya tersenyum dengan mendengus melihat wanita Italy yang arogan namun tidak punya nyali.


Tapak kaki kecil terdengar berlari kearah Pedro dengan berseru, "Tioo! Ini untukmu!-- Miu berhenti tepat dihadapan Pedro dengan mengulurkan sebuah amplop coklat yang berisi uang sewa dengan tangan kanannya --Uhm, dan ini untukmu!" ujar Miu lagi sambil mengulurkan satu tangan kirinya yang ia sembunyikan dibalik pinggangnya. Miu menggenggam sebuah permen lolipop berbentuk hati dan membuat hati Pedro menghangat. Pedro menerima amplop coklat dari tangan Miu, lalu meraih permen lolipop itu dengan mengulas senyum hangatnya yang membuat hati Miu serasa memperoleh rasa aman.



"Kata Pappa permen lolipop adalah simbol persahabatan, Tio. Katanya, Jika kau bertemu orang baik di suatu tempat yang baru saja kau kunjungi maka berikan permen lolipop sebagai tanda kasih. Tio boleh memakannya atau menyimpannya-- Ohh, satu lagi kau dilarang membuangnya" kata Miu membuat Pedro terkekeh, ia kemudian menyimpan amplop dan lolipop itu ke dalam saku celananya.


"Tentu saja aku tidak boleh menolak pemberian seorang Angelita (malaikat kecil; perempuan; Spanyol karena pemberianmu adalah Anugerah" ujar Pedro seraya membungkukkan badannya dan membelai puncak kepala Miu, ada rasa yang sulit dijelaskan saat getaran kasih sayang itu mengalir lewat sentuhan tangan Pedro. Hati Miu bergejolak melihat sikap Pedro.


"Angelita, itu sebutan disini?" tanya Miu dengan menengadahkan kepalanya dan Pedro melihat binaran mata Miu berkelip seakan banyak lampu dimatanya seperti istilah keponakannya. Pedro tersenyum hangat melihatnya.


"Si, Angelita-- aku akan memanggilmu Angelita sebagai rasa terima kasihku karena permen lolipop ini. Pappamu pasti Pappa yang baik. Aku tidak tahu apa yang kau alami, tapi semoga kau beruntung dan selalu dilindungi Tuhan" ujar Pedro menurunkan tangannya ke pipi Miu yang sangat lembut.


"Sudah cukup Miuccia, kau harus tidur" Pallazo kembali berjalan kearah mereka dan menyambar tangan mungil. Pedro menegakkan tubuhnya dan menghela nafas dalam diiringi senyuman manisnya. Kemudian ia berpamitan.


"Buona notte, Angelita (selamat malam; Italy)" kata Pedro sambil menyambar plastik besar berisi sprei, tirai dan pernak perniknya yang dianggap lusuh oleh Pallazo.


"Buenas noches (selamat malam; Spanyol), Tio Rock Star" balas Miu dengan terkekeh karena ia mencoba menggunakan bahasa Spanyol.


"Mamma benarkah bahasaku? " tanya Miu berjalan menjauh dan Pedro masih berdiri mematung melihat keduanya menghilang di tikungan lorong ruangan yang memisahkan ruang tengah dan kamar tidur.


"Si (iya), kau sangat pintar" suara itu terdengar, lambat laun menghilang dan tak lama terdengar pintu di buka dan menutup. Pedro menghela nafas panjang, entah mengapa ia ingin berlama - lama disana. Namun karena tanggung jawabnya ia bergegas meninggalkan Apartemen itu.


Entah mengapa, melihat Angelita hatiku sangat sedih.. Siapa Pappanya yang menghilang itu.. Mengapa dia tega melakukannya.. Dia masih sangat kecil.. Ah, sudahlah.. Bukan urusanku..


-


-


-


Apartemen Raja


Valentino berada diruang kerjanya, tepatnya duduk dihadapan meja arsitek miliknya dan matanya bak elang menatap angka demi angka dalam satuan inchi hingga senti meter. Train terlihat memegangi buku sang Daddy yang di cetak dalam bahasa Inggris dengan sampul depan tertulis Financial Management (Managemen Keuangan), sesekali Train membukanya. Valentino tersenyum saat sesekali melirik kearah putranya, yang berdiri disampingnya. Entah apa yang ada dipikiran Train sampai ia tertarik pada buku tebal itu.


__ADS_1


"Itu bukan buku bacaanmu, Blue. Apa kau mau membacanya?" Tanya Valentino seraya mencium pelipis Train.


"Ahahaha-- tentu saja aku tidak ingin membacanya, Daddy. Aku baru menguasai bahasa Inggris--- Uhm, 25 persen!" seru Train dengan bersemangat.


"Lalu mengapa kau mengambil buku itu dari rak buku?" tanya Valentino menegakkan tubuhnya dan meletakan pencil ditangannya.


"Biasanya Train hanya mencari perhatian, kau mungkin terlalu lama mengabaikannya" ujar Leyka memasuki ruangan itu dengan nampan kecil berisi kopi dan susu Train diatasnya.


"Si, dari tadi Daddy diam dan terus menggambar rumah! Uhss, no me gusta (aku tidak suka)!" kata Train membuat Valentino tergelak dan meraih tubuh Train lalu memangkunya di paha kirinya kemudian mengambil buku dari tangan Train dan meletakkannya di atas meja.



"Daddy mendapat proyek kecil - kecilan di Barcelona untuk membangun townhouse yang berisi belasan rumah megah --ehm, semegah Mansion, dan kalian adalah keberuntunganku" kata Valentino seraya tersenyum manis saat menerima secangkir kopi yang terulur kearahnya, begitupun Train karena Leyka memberikan segelas susu.


"Apa uangnya sangat banyak Daddy?-- Train menoleh ke arah Valentino setelah meneguk susunya --Dulu Mommy ingin membeli mobil, tapi setelah selesai mencicil uang sekolahku. Berikan Mommy uang untuk membeli mobil, Daddy! Bukankah itu bisa menjadi aset? Seperti kata buku tebal milik Daddy?" ujar Train membuat Valentino terkekeh, ia teringat bagaimana Train membuka buku Financial Management secara acak.


"Aset?" Leyka tergelak mendengarnya.


"Si si si! Aset itu sama seperti-- Train berpikir sejenak --Uhm, semua benda yang ada di kotak harta karunku, Mommy. Uhs! Itu adalah asetku!" Leyka tertawa disusul Valentino yang membenarkan pemikiran putranya.


Setelah meneguk kopinya Valentino mencium pipi Train dan meletakan kopinya diatas meja. Valentino meraih pinggang Leyka agar duduk di paha kanannya, Leykapun duduk dan melingkarkan tangannya di pundak Valentino.


"Biarkan Daddy yang mengurus sekolahmu-- Dan kau Mi Esposa, akseslah aku, akseslah hidupku. Aku akan memberikanmu akses di Bank Swiss. Beli apapun yang kau inginkan dan itu adalah milikmu" kata Valentino sambil menyeka bekas susu di sudut bibir Train setelah itu Train meletakan gelas susunya diatas meja.


"Bank Swiss? Bukankah itu kekayaanmu yang bisa diakses oleh-- Hmm, aku tidak mau mengingatnya" kata Leyka menunjukan sikap kecewanya mengingat delapan tahun yang lalu, bahwa Rebecca satu satunya wanita yang bisa mengakses kekayaan Valentino. Leyka menarik tangannya yang menaut dileher Valentino lalu menegakan tubuhnya.


"Ley, delapan tahun yang lalu, aku mengganti enam digit semua akses dan kata sandiku dengan ulang tahunmu" Leyka kembali menoleh kearah Valentino yang mendekap pinggangnya sangat erat dan menatapnya seakan tak percaya dengan pengakuan Valentino.


"Wow keren! Daddy sangat mencintaimu, Mommy!" seru Train dengan tertawa senang.


"Kau masih mengingat ulang tahunku?" tanya Leyka dengan tertegun.


"Di Barn kebun anggur itu, delapan tahun yang lalu, itu adalah ulangtahunmu, Ley. Aku mengganti semua akses bahkan, apapun kata sandiku dengan ulang tahunmu, aku melakukannya tepat dihadapanmu di Castello de Munte. Aku merasa kau sangat spesial saat itu dan aku terlanjur nyaman dengan enam digit itu, hingga detik ini aku malas menggantinya" Valentino tersenyum hangat dengan binar matanya yang tajam menusuk relung hati Leyka.


"Ahh Val, I Love you" ujar Leyka seraya kembali berhamburan memeluk Valentino.


"I love you too, Mi Esposa" jawab Valentino sambil mengecup dahi Leyka yang bersembunyi diceruk lehernya lalu Valentinopun mengeratkan rengkuhannya. Trainpun merasa bahagia saat Valentino merengkuh tubuhnya dan ia pun merebahkan kepalanya didada sang Daddy yang sekian lama ia nantikan kedatangannya. Tangannya dengan lincah menggulung rambut sang Mommy yang berkeriapan di hadapannya, Leykapun tersenyum dan memeluk tubuh Train.


Hembusan nafas Leyka menerpa permukaan kulitnya dan bisikan cinta serta curian kecil sebuah ciuman dileher Valentino membuat hati Valentino berdesir lembut, ia menatap mata Leyka seperti tatapannya saat berada di Pretoria, begitu liar penuh kerinduan.


"Blue, kau harus tidur-- Mi Esposa, bawa kopiku ke kamar" kata Valentino mengurai kehangatan itu setelah mencium kening Leyka.


"No! Aku belum mengantuk!" seru Train dengan merengut.


"No, Blue. Kau harus tidur karena besok kau harus ke Daycare. Kau harus menguasai bahasa Inggris 100%" kata Valentino sambil mengangkat tubuh Train yang meronta dan membawanya berjalan kearah kamar.


"No Daddy No! Aku belum mengantuk!"


"Kau harus tidur, Blue!"


"No! Daddy hanya mau berdua - dua sama Mommy!"


"Mommy butuh pijatan Daddy!"


"Aku juga akan memijat Mommy! Turunkan aku Daddy! No! Aku tidak mau tidur!"


"Daddy! Turunkan aku! Aaaaa! Hahahaha! Noo Daddy! " Leyka hanya tersenyum mereka menghilang dari ruangan itu.


Sesaat ia menatap foto berbingkai dimeja Valentino, sebuah foto yang Valentino ambil secara diam - diam, saat ia mengenakan gaun pink salem di pernikahan masal. Foto Train terlihat berada disebelahnya saat mereka makan ice cream bersama, dimana saat itu Valentino belum mengetahui bahwa Train adalah Putra kandungnya.



"Lengkap sudah kita sekarang" gumam Leyka dengan tersenyum.


Leyka mengeluarkan sebuah bingkai foto dari saku celananya yang telah ia siapkan sejak lama, sebuah kebersamaan dirinya bersama Train saat Train masih bayi. Lalu ia meletakannya di meja kerja Valentino. Leyka menghela nafas dalam dan tersenyum hangat sebelum akhirnya ia beranjak dari sana dan menutup pintu ruang kerja Valentino kemudian langkahnya mencari jantung hatinya yang masih terdengar riuh penuh tawa dan canda.


"No Daddy! Aaaa! Hahaha! Aaaa! Daddy! Stop menggelitikiku! Aaa! Nooo! Aku mau bermain! Aaa! Aku tidak mau tidur! Hahaha"


"No Blue! Kau harus tidur! Tidak boleh membantah! Atau Daddy tidak akan melepaskanmu!


"No Daddy! Nooo! Aaaaa hahahaha!"


-


-


-

__ADS_1


Apa kabar kalian yang lama ga dipalak? 🤣 Mari kita menggendeng lagi. Malak ahh... Siram adek dong bosqyu 🤣🤣


Dan Alhamdullillah, Puji Syukur aku masih hidup 🤣 *sambil ngac...uungin jari tanda absen.. jari ya bukan jagung bakar gosong 🤣🤣🤣🤭


__ADS_2