
Apartemen Raja
"No! Daddy No! Aku tidak mau ikut lagi pentas seni! Mereka hanya akan menjadikanku seperti badut! No me gusta (aku tidak suka)!" pekik Train seperti biasanya, membuang sepatu, tas dan topinya di lantai hingga berserakan. Mereka baru saja tiba di Apartemen Raja.
Sementara itu Leyka berada dibalkon Apartemen Ratu, sedang merawat bunga bunga mawar yang berasal dari Ludwig's Roses. Mereka tidak mau langsung menemui Leyka karena Leyka bisa marah - marah bila mencium bau keringat mereka setelah seharian mereka beraktifitas. Leyka bisa mual dan pusing, karena itu bawaan kehamilannya di trimester pertama.
"Daddy senang menghadapi tingkahmu ini, Blue. Vamos, kita harus mandi lalu kita temui Mommy" Valentino menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya kemudian ia meraih, tas, topi dan sepatu milik Train yang berserakan di lantai, lalu ia meletakannya di kamar Train. Valentino mengingat tabiat Train seperti dirinya saat kecil ketika sedang kesal, karena itu Valentino memakluminya.
"Uhss! Tidak seru!" gumam Train, karena ulahnya serasa percuma. Train tidak mendapatkan perlawanan dari Valentino, tapi berbeda bila ia berulah di depan Mommynya. Leyka akan melawannya dan itu membuat Train semakin melancarkan aksi protesnya.
Train mendengus dan bersungut - sungut, kemudian ia mengekor langkah Valentino ke kamarnya karena ia harus mandi. Sore itu Valentino menjemput Train dari latihan drama musikal untuk acara pentas seni yang di adakan setiap tahunnya di Sekolah Esperanza. Acara itu biasa digelar diakhir musim gugur atau menjelang Natal.
"Daddy ingin kamu ikut, Blue! Tidak ada alasan! Kau memiliki suara yang bagus dan kau sangat berbakat seperti Daddy" kata Valentino dengan menggoyangkan jari telunjuknya.
"No Daddy No! Katakan pada Miss Margareth pita suaraku rusak! Aku tidak mau di dandani seperti matahari!" bantah Train seraya melemparkan bajunya dikeranjang pakaian, lalu ia memasuki kamar mandi. Valentino kembali merapikan keranjang pakaian dengan menggelengkan kepalanya sambil berpikir bagaimana caranya membujuk Train agar mau ikut tampil dalam acara pentas seni.
Walaupun sekolah telah libur panjang hingga pergantian tahun, semua anak anak tanpa terkecuali masuk siang untuk mengasah bakat mereka disekolah dan tampil di pentas seni. Train tergabung dalam klub drama musikal sejak ia playgroup. Train memiliki suara yang merdu, bakat itu menurun dari Valentino dan Rosemary.
Seperti yang sudah - sudah, selama Train libur, seperti biasanya Leyka memasukan putranya di Daycare yang berada di satu gedung dimana Manuella bekerja, untuk mengambil kelas Bahasa Inggris dari pagi.
Siangnya Train akan masuk kelas drama di Sekolah Esperanza yang sementara masih berada di Gedung Locomotive Machine. Kebiasaan bertahun tahun, selama Train libur panjang, Manuella akan berangkat ke kantor bersama Train, namun semenjak ada Valentino, tentu saja kebiasaan itu berubah.
Valentino yang mengantar Train dan Manuella akan ikut bersama mereka. Kehidupan barat menganut efisiensi dan sebuah waktu dianggap sebuah hal yang penting. Hemat pun menjadi pedoman keseharian mereka. Di sisi lain Diego tidak perlu menjemput Train karena ada Valentino yang selalu ada untuk Putranya.
Valentino rela meninggalkan rapatnya dan ia rela kehilangan tender proyeknya demi sebuah keberadaannya yang menghilang selama ini. Valentino harus mengganti keberadaan semua orang yang menangani Train selama delapan tahun dan ia sangat menguasai Train sepenuhnya.
Ia pun menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya, setelah menghubungi seseorang di Italy. Pikirannya masih berkutat bagaimana caranya menakhlukan Train agar mau mengikuti pentas seni. Tidak berapa lama Train selesai mandi dan saat memasuki kamarnya ia tertegun kamarnya telah rapi dan diranjangnya telah ada setelan piyama yang disiapkan Valentino.
"Uhs Daddy, aku sudah besar! Mengapa memperlakukanku seperti anak kecil" gumamnya dan ia mengenakan pakaian yang sudah siapkan Valentino. Ia mendengar dari kamarnya Valentino bernyanyi lagu anak - anak dikamar mandi dan Train buru buru mengenakan pakaiannya lalu menuju kamar orangtuanya.
Train duduk di meja rias dan menyisir rambutnya sambil mendengarkan Daddynya bernyanyi. Mulutnya komat kamit mengikuti Valentino menyanyi tanpa suara sambil mengenakan minyak rambut milik Daddynya dan tak lupa menyemprotkan parfum ditubuhnya.
"Hmmm-- sepertinya ada yang menggunakan parfum Daddy" Valentino keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Si-- Mommy pasti suka" jawab Train duduk ditepian ranjang mengamati Valentino yang sedang menyemprotkan deodoran di ketiaknya lalu menyemprotkan parfum ditubuhnya kemudian berganti pakaian. Matanya tertuju pada ponsel Valentino yang berbunyi, sebuah pesan masuk dan Valentino meraih ponselnya lalu membukanya.
"Abuella mengirim foto Daddy" kata Valentino sambil menyisir rambutnya.
"Mirarr (lihat)!" seru Train berdiri diranjang sesekali ia melompat.
"No! Deja de saltar (berhenti melompat), Blue! Vamos (ayo), duduklah" kata Valentino menangkap tubuh Train lalu menciuminya kemudian mengajak Train duduk di ranjang.
"Itu foto Daddy?" tanya Train mengamati foto yang berada di ponsel Valentino, Train terkekeh melihatnya.
"Si, ini foto Daddy saat menjadi bulan--
--lalu ini foto Daddy menjadi komet, Daddy paling depan, Daddy diayun terbang ke angkasa. Daddy menyukai pentas seni. Daddy terlihat seperti badut tapi saat dipanggung Daddy diberi tepuk tangan yang sangat meriah. Suara Daddy bagus. Abuella dan Abuello selalu datang melihat Daddy. Mereka sangat bangga, mereka tersenyum dan tertawa, Daddy berpikir hanya itu yang bisa Daddy lakukan untuk membuat Abuella dan Abuello bahagia" ujar Valentino dan Train menyimak dengan baik.
"Tunggu disini!" Trainpun berlari ke kamarnya dan Valentino tersenyum. Tidak lama kemudian Train datang membawa kotak harta karunnya.
"Apa itu, Blue?" tanya Valentino pura pura tidak mengerti maksud Train, padahal ia tahu Train mengambil sebuah foto polaroid yang telah dicetak.
"Mirar (lihat) Daddy! Ini fotoku saat aku masih Playgroup, aku menjadi planet saturnus! Uhss aku jelek sekali! Mirarr! Aku seperti badut!" seru Train bersemangat dan mata Valentino berbinar saat melihat foto Train mengenakan kostum planet Saturnus, ia menggosok hidung menutupi keharuannya.
"Ohh.. Mio dolcezza, amore mio (Manisku, cintaku; laki laki; Italy).. Ini lucu sekali, Blue. Kau sangat tampan! Seandainya Daddy ada disana saat itu, mungkin Daddy akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini" Valentinopun meraih tubuh Train dipangkuannya lalu mendekapnya dengan erat.
"Benarkah?-- Mirarr! Aku menjadi pohon! Ada daun daun dikepalaku! Aku seperti badut! Uhss, sangat memalukan!" serunya lagi saat meraih satu foto dari kotak harta karunnya. Mata Valentino berkaca - kaca, ia kemudian menciumi pipi Train dari belakang.
"Ohh No Blue, ini tidak memalukan. Ini sangat keren! Kau bernyanyi di lihat orang banyak, semua pasti bertepuk tangan! Nanti kau akan menjadi Matahari! Apa kau tahu, matahari adalah tokoh terpenting di drama musikalmu? Seperti dunia ini, bila tidak ada matahari maka seisi dunia akan musnah. Seharusnya kau bangga menjadi Matahari! Seandainya Daddy masih kecil, Daddy mau menjadi matahari. Daddy menjadi cahaya yang terang, itu sangat keren!" ujar Valentino membuat Train berpikir.
Train menghela nafas panjang, ia terdiam sesaat dan membiarkan Valentino menciuminya, ia mengerti Valentino merasa sedih, ia pun mengingat bagaimana setiap pentas seni, tidak ada seorang Ayah yang mendampinginya, melihatnya bernyanyi, bertepuk tangan untuknya, dan tertawa dengan bangga.
__ADS_1
"Apa Daddy akan menonton aku? Dulu hanya Mommy dan terakhir Damian yang menungguku, semua membawa orangtua dan keluarganya" ujar Train meremukan hatinya. Valentino kemudian membalikan tubuh Train kehadapannya lalu membelai rambut kehitaman yang tertata rapi. Lalu Valentino memeluk tubuh mungil itu hingga Train merebahkan kepalanya di dada Valentino.
"Blue, kau malas ikut bukan karena terlihat seperti badut kan? Tapi kau sedih melihat Mommy duduk sendiri dan kau iri tidak seperti teman teman yang lain yang ditonton oleh kedua orangtuanya kan?" Valentino tersenyum getir, ia menatap wajah Train yang memiringkan kepalanya didadanya, Train tidak mau Valentino melihat matanya yang telah memerah.
"Uhhm-- Bahkan mengangguk pun Train tidak bisa, Valentino hanya melihat barisan bulu mata Train dan itu milik Leyka, mengerjap - ngerjap. Sesekali Train menggosokan hidungnya di dada Valentino.
Train mengakui dalam hatinya bahwa apa yang dikatakan Valentino benar, ia malas karena ia takut Daddynya tidak menontonnya saat pentas seni tiba. Valentino kemudian menegakan tubuh Train dan menangkupkan kedua tangannya ke pipi Train lalu Valentino mencium keningnya kemudian Valentino memberinya sebuah pengertian untuk menyingkirkan kekuatirannya. Kedua pemilik sepasang mata biru keabu - abuan itu beradu pandang.
"Kata Mommy, Daddy bisa saja pergi kembali ke Italy. Ijin tinggal Daddy hanya sampai tiga bulan" ujar Train dengan menurunkan pandangannya lalu Valentino menahan punggung Train dalam rengkuhannya kemudian mencium kening Train lagi dan lagi.
"Blue, kau dan Mommy adalah 'Rumah' Daddy, kemanapun Daddy pergi, pasti Daddy akan kembali pulang ke 'rumah'. Jika Daddy pulang ke Italy, pasti Daddy akan kembali lagi. Karena Spanyol adalah 'rumah' Daddy, bahkan Daddy akan membawa kalian ke Italy untuk menemani Daddy mengurus ijin tinggal agar Daddy selalu bersama kalian setiap saat" Train mengerjapkan matanya, ia menangkap dengan cepat jalan pemikiran Valentino namun ia memilih diam menahan adrenalinnya yang siap bergejolak.
"Apa yang kau pikirkan, Blue? Daddy akan melihatmu diatas panggung setiap tahunnya. Daddy tidak akan kemanapun dan Daddy akan berada di barisan paling depan dan bersorak bahkan Daddy akan berteriak menyebut namamu! Suara Daddy paling keras dan Mommy akan memukul Daddy untuk menyuruh Daddy diam dan kau tahu?-- Daddy tidak akan diam sampai kau dan Mommy malu karena Daddy terlalu bahagia melihatmu tampil dengan baik! Senora (Nyonya/ Ibu) Kepala Sekolah akan menutup telinganya" kata Valentino dengan penuh keharuan.
Train yang tadinya sedih menjadi terkekeh membayangkan apa yang nantinya akan terjadi bila Valentino melihatnya bernyanyi dipanggung pentas seni. Pandangan mata Valentino yang hangat dan perkataannya penuh penekanan menyejukan hati Train seketika. Train memeluk Valentino seeratnya dan Valentino mendekap se-eratnya.
"Daddy, jangan katakan pada Miss Margareth kalau pita suaraku rusak. Blue, mau menjadi Matahari. Blue, mau membuat Daddy bangga! Berteriaklah untukku-- Aku tidak akan malu, Daddy" Valentino buru - buru menyeka sudut matanya dan mengurai pelukannya lalu tersenyum penuh keharuan.
"Oh my sweet Pretoria... Percayalah, Daddy sangat menyesal melewatkan kau tumbuh, apalagi kau bernyanyi di panggung pentas seni setiap tahunnya-- Bolehkah Daddy meminjam foto Blue Train si Planet Saturnus ini? Daddy akan menyulapnya menjadi besar dan Daddy akan memasangnya di kantor Daddy" ujar Valentino sambil merentangkan tangannya saat mengatakan 'besar', Train melebarkan senyumnya membayangkan fotonya menjadi besar.
"Fotonya menjadi besar, Daddy? Daddy.. Daddy.. menyukainya?" tanya Train terkekeh kemudian, dan Valentino merasakan kemenangan menakhlukan putranya.
"Si si si! Daddy sangat menyukainya. Daddy akan mencetak ulang di kanvas! Mungkin akan difoto ulang atau di lukis ulang! Serahkan kepada ahlinya!" seru Valentino membuat tawa Train dan mata birunya memancarkan kebahagiaan.
"Si si si-- serahkan pada ahlinya! Daddy Gracias. Ti amo, (aku mencintaimu) Daddy!" Valentinopun memeluk Train dan menciuminya saat mendengarkan ungkapan cinta dari putranya. Hatinya serasa meledak karena bahagia saat Train menciumi pipinya.
"Ti amo, Blue" bisik Valentino dengan menghirup aroma tubuh putranya yang hari ini aromanya seperti dirinya.
"Baiklah, aku akan membereskan harta karunku lalu aku mau ke Apartemen Ibu Manuella-- Biasanya aku akan kesana setelah mandi dan makan sereal!" ujarnya dengan cekatan dan turun dari pangkuan Valentino lalu merapikan kotak harta karunnya.
"No tidak boleh. Sekarang tidak boleh sering - sering ke Apartemen Ibumu. Kau delapan tahun bersamanya, dan kau belum lama tinggal bersama Daddy" ujar Valentino dengan nada cemburu dan itu membuat Train merengut. Valentinopun bangkit berdiri seraya mencium puncak kepala Train lalu meraih foto Train "si Planet Saturnus' dan menyimpannya di buku agendanya.
"Uhss Daddy! Aku hanya akan bertanya apakah Ibu sudah minum susu atau belum. Aku harus mengawasi Ibuku juga" bantah Train sambil mendekap kotak harta karunnya dan berjalan ke kamarnya.
"Uhhss Daddy!" gerutu Train sambil menggelengkan kepalanya. Namun dalam hatinya Train senang, Valentino begitu pessesif menjaganya dan Train memilih menurut.
Perlahan ikatan itu menjadi sebuah jalinan yang tidak memerlukan adaptasi. Train merindukan sosok Daddynya dan Valentino yang tidak menyangka bahwa ia memiliki seorang putra, namun sikapnya tidak memberi jarak, Valentino sangat bahagia. Hubungan itu kian dekat, mungkinkah bisa dipisahkan? Sekalipun oleh takdir?
-
-
-
Apartemen Ratu
"Ckk, hishh! Dia ini mengapa menjadi coklat begini?-- gumam Leyka memandangi ponselnya, ia memandanginya dengan penuh kekaguman pada foto Valentino, saat berada di Pantai Playa de Palma. Leyka berada di balkon sore itu --Seperti coklat.. Ckk, rasanya aku ingin selalu menggigitmu. Sexy sekali, manusia menyebalkan ini. Tapi.. Dia sangat manis dan romantis! Huhh dasar Pinokio! Kau melarangku kemana- mana" Leyka mengusap layar ponselnya dengan terkekeh.
Bunga mawar masih berserakan, ia duduk beristirahat karena Leyka cepat sekali lelah. Bunga mawar itu sangat rimbun, hingga Leyka memotongnya agar tidak menghalangi sirkulasi udara.
"Ckk, kau sangat tampan.. Si, kau suamiku.. Hmm, My Chocolate! Namm namm namm namm-- Kau coklat panasku. Hahaha, sepertinya aku sudah gila! Loco (gila) --Hahaha" Leyka terkekeh lagi dan lagi melihat foto Valentino. Sejak datang dari Palma, kulit semua keluarga Fernandez menghitam eksotikk. Dan itu menjadi keunikan tersendiri bagi sebagian orang di Negara Barat.
"Aahahahaha" tawa mungil itu mengejutkan Leyka. Train telah berdiri di belakangnya dengan menutup mulutnya. Ia tidak bermaksud mengejutkan Leyka namun kicauan dan tawa Leyka pada sebuah ponsel mengundang perhatiannya untuk mengintip dan menguping.
"Traiinn?? Sejak kapan kau disitu! Kau membuat Mommy sorprendido (terkejut)! Uhss! No me gusta!" ujar Leyka meniru gaya Train. Leyka meletakan ponselnya dan meraih tubuh Train lalu memangkunya. Leyka menciumi wajah Train bertubi tubi. Leyka sering memanjakan Train akhir - akhir ini, Train seperti memiliki ikatan pada adiknya.
"Sejak Mommy mengatakan, Aku akan menggigitmu.. Sexy sekali manusia menyebalkan.. Ohh My Chocolate--
"Siapa yang menyebalkan?" potong Valentino memasuki balkon dengan nampan kecil ditangannya, ada kopi untuknya bersama dua gelas susu milik Train dan Leyka. Ada cookies gandum dalam toples kaca disebelahnya lalu Valentino meletakannya diatas meja dan menatanya.
"Hisshh-- Jangan katakan apapun kepada Daddy atau Mommy akan menggigitmu, Marrón (coklat; Spanyol)" bisik Leyka kearah telinga Train lalu mendekap tubuh mungil itu untuk bersembunyi, karena wajah Leyka berubah kemerahan.
__ADS_1
Valentinopun mendekatkan kursinya, lalu ia mengecup bibir sensual itu sesaat lalu menciumi wajah Leyka dan membelai rambutnya penuh kerinduan. Padahal ia selalu melakukan panggilan video call saat mereka terpisah karena aktifitas. Selama tidak ada kegiatan mengajar, Leyka biasanya bekerja di Kedai, namun semenjak mengetahui Leyka hamil, Valentino melarangnya kemanapun. Valentino pun bergantian menciumi Train bertubi tubi, hingga Train terkekeh kegelian.
"Ohh My Chocolate.. Kau coklat panasku-- Ahahaha!" sindir Train dengan penuh tawa kegelian. Train mencubit - cubit hidung Valentino agar menyingkir, karena wajah Valentino memenuhi dadanya.
"Apa itu?" tanya Valentino mendongakan kepalanya dan menatap Leyka yang masih memerah wajahnya.
"Hish, Train nakal-- Awas, Mommy mau minum susu" ujar Leyka mendorong tubuh Train agar menyingkir dari pangkuannya dan Valentino mengambil alih Train dan memangkunya.
"Sepertinya ada yang membicarakan Daddy" kata Valentino sambil memiringkan wajahnya menatap Leyka lekat lekat.
"Si-- Mommy dan ponselnya" Valentino seketika menyambar ponsel Leyka dan membukanya, menu terakhir masih terbuka galeri foto yang menampilkan tubuhnya yang bertelanjang dada berwarna kecoklatan. Valentino mengerti dan tersenyum, ia menggigit jemarinya dan melirik kearah Leyka dengan tersenyum menawan.
"Daddy, hitam sekali" ujar Valentino dan Leyka mengatur debaran jantungnya dengan meneguk susu rasa strawberry buatan Valentino perlahan lahan.
"Kita semua hitam Daddy! Kita semua seperti chocolate, dan Mommy akan menggigit kita! Ahahaha!" seru Train membuat Valentino berdehem pikirannya mengingat bagaimana bibir sensual itu menji*lati miliknya di yacht, di kapal pesiar dan di Mansion. Pasangan liar itu tentu saja bercintaa dimanapun, masih sama saat mereka berada di Pretoria.
Valentino menelan salivanya, saat menatap wajah gugup Leyka. Dadanya bergemuruh, memandangi kulit Leyka yang berwarna coklat keemasan, berkilau indah diterpa cahaya senja yang menerobos masuk melalui celah rimbunnya bunga mawar. Belahan buah dada Leyka yang menyembul padat, membuat Valentino tergugah gairahnya.
"Hisshh-- Train itu tidak benar!" ujar Leyka dan Valentino terkekeh melihat Leyka mencubit hidung Train dengan gemas dan menggelitikinya hingga Train menjerit penuh tawa. Valentino pun menggesekkan kakinya yang dipenuhi bulu - bulu ke kaki Leyka yang mulus. Jantung Leyka pun berdetak tak karuan, ditambah lirikan Valentino seraya meneguk kopi, membuat Leyka berdesir lembut.
"Bagaimana jika kau bersembunyi di Apartemen Ibumu? Makanlah semangkok sereal dan saat makan malam, mintalah pada Ayah Diego untuk mengantarmu dan kita akan makan malam bersama" ujar Valentino dengan tatapan tajam dan tersenyum menggoda. Leyka mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Train.. Ehh.. Ehmm.. temani Mommy saja" ujar Leyka gugup namun bercampur kesal karena Train mengabaikannya, pura - pura tidak mendengarkan perkataan Leyka.
"Yeaaayyyy!" Train bersorak dan turun dari pangkuan Valentino. Ia bahagia karena akhirnya ia diperbolehkan menemui Manuella, Ibu Baptisnya.
"Heii-- Tapi habiskan dulu susumu!" kata Valentino menahan lengan Train.
"Si si si!" seru Train sambil meraih gelas susunya dan meneguk perlahan - lahan sampai habis. Leyka terus menghindari tatapan Valentino yang menggigit bibir dengan tersenyum menawan.
"Jangan lupa tidak boleh memakan terlalu manis di Apartemen Ibumu" ujar Valentino mencium puncak kepala Train sambil terus menajamkan tatapannya kearah Leyka.
"Mommy juga seperti chocolate-- Gigitlah Mommy sebelum Mommy menggigitmu, Daddy Marrón (Daddy coklat)-- Ahahahaha" bisik Train kemudian tertawa dengan kerasnya.
"Adios (selamat tinggal) Mommy Daddy!" ia mencium pipi Leyka dan Valentino, kemudian meletakan gelasnya dan berlarian menuju pintu keluar hingga terdengar Train membanting pintu dengan keras. Terkadang berulah manis, terkadang berulah nakal, begitulah Train kesehariannya.
"Apa yang ia katakan?" Leyka menggelengkan kepalanya saat ekor matanya mengikuti tubuh Train yang lenyap dari pandangannya. Saat menoleh kearah Valentino Leyka tersentak karena Valentino masih memandanginya dan kini jemari tangan Valentino menyusupi pahanya, menyibak perlahan dress pendek diatas lutut yang bermotif bunga dengan tali kecil melilit dipundaknya, hingga memperlihatkan dada dan punggungnya yang berwarna kecoklatan eksotik karena mereka semua berjemur saat berada di Palma.
"Aku.. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku" ujar Leyka sontak bangkit berdiri seraya meletakan gelas dan meraih sarung tangan yang terbuat dari karet, yang biasa ia gunakan untuk berkebun. Valentino bangkit berdiri dan menyambar pinggang Leyka hingga sarung tangan terlepas dari genggaman Leyka.
"Kata putraku-- Valentino menggesekan hidungnya di telinga Leyka --Aku harus menggigitmu-- lalu ia menghi*sap ujung daun telinga Leyka yang memerah --sebelum kau menggigitku" bisik Valentino kemudian membuat Leyka meremang.
"Ohh Vall.. Tidak.. Boleh disini" ujar Leyka menggeliat.
"Bunga mawar Ludwig's Roses, kita berada diantaranya.. Ingatkah kau saat di Pretoria?" tanya Valentino dengan lembut dan membuat dadanya berdebar. Leyka terbawa suasana, lalu ia melingkarkan tangannya di leher Valentino. Sesaat mereka saling menatap penuh kerinduan akan indahnya Pretoria, kota dengan kenangan manis, namun berakhir pahit.
-
-
-
Welcome back Final Season. Dan aku kangen kalian banget 😘💛 Disela karantina ini aku coba revisi dan kembali nulis diantara radang tenggorokan yg menyiksa. Tapi aku sangat bersemangat membaraaa Bosqyuuu !
Keluarga Setan mulai divote dan dikopiin ya.. Aku tuh cocok ama kopi, ama jahe malah oleng asam lambung naik.. astegang.. mau nyobain Ling2gerie dari Victoria Secret gatot lahhh.. 🤣🤣
Kacau yang pada komen di IG @authorgendeng semuanya kok mikir lingerie itu baju dines 🤣🤣 ngakak loh sumpah 🤣
-
-
-
__ADS_1
"