FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Apa Kau Merindukanku?


__ADS_3

Tiga mobil dari kepolisian Palma Mallorca, mengiring satu buah mobil Limousin berwarna hitam pekat. Mobil itu memasuki sebuah mansion mewah. Mansion bak kastil kediaman para bangsawan keturunan raja raja Spanyol. Mansion itu seperti penjara bagi seorang Leyka.



Bagaimana tidak, rumah itu di lindungi pepohonan yang tinggi ditengah hutan yang menjadi cagar alam. Tembok tinggi mengelilingi mansion itu dengan penjagaan yang sangat ketat. Untuk memasukinya saja membutuhkan waktu 20 menit bila berjalan kaki. Mansion itu adalah kediaman Rosemary Manuello Felipe. Keturunan generasi ke 10 dari Raja Felipe ke IV. Sejak menikah dengan Geralldo Paquito Fernandez, Ayah Leyka. Seharusnya nama belakangnya berubah menjadi, Rosemary Fernandez. Itu dulu, sejak Pacho meninggal, Rosemary kembali menggunakan nama Felipe.



Masa kecil Leyka di habiskan disana, sebagai satu satunya tuan putri yang dimanjakan saat Ayahnya masih ada disisinya. Ayahnya memang rakyat jelata, walaupun Rosemary seorang bangsawan namun Pacho begitulah orang mengenalnya, Pacho masih saja bekerja sebagai masinis di Kota itu. Palma Mallorca.



Leyka memandangi rumah itu ketika keluar dari Limousin yang menjemputnya. Seorang sopir keluarga yang diperintahkan Rosemary untuk menjemput Leyka setelah mendapat kabar, bahwa Leyka di Deportasi.


Leyka menghela nafas panjang dan memasuki rumahnya, setelah penjaga pintu membukakan pintu untuknya. Namun baru beberapa langkah, sebuah tamparan melayang di pipinya.


PLAKK!!


"I-- Ibuu" gumam Leyka dengan memegangi pipinya yang terasa panas.


"Apa kau tidak tahu siapa dirimu? Kenapa kau selalu lari dari kodratmu! Tingkahmu membuat Ibu malu! Apa kata dunia bila putri dari Rosemary Felipe, kabur dari rumahnya sendiri!" Leyka mengepalkan tangannya saat Ibunya melupakan nama belakang Ayahnya, Fernandez


"Ibu! Pachito bertemu Paman Helbert! Dan memberi surat yang Ayah tulis untukku--


"Diamm!!" hardik Rosemary. Leyka mengurai airmatanya dan itu membuat mata Rosemary berkaca kaca. Ia menghela nafas panjang.


"Pachito akan ke Barcelona, Ibu" ujar Leyka dengan menyeka air matanya, ia mencoba menahan dirinya sekuat tenaga berada di Neraka ini. Untuk sesaat Leyka melupakan Valentino.


"Jangan bermimpi meninggalkan rumah ini! Atau kau akan di coret dari Keturunan Felipe!" Suara khas yang menggelegar yang membuat Leyka muak, memasuki ruangan itu. Locki Gusmo. Laki laki yang selalu menjadi parasit dikeluarganya. Laki laki yang dibawa ke tempat tidur oleh Ibunya dan menjadi penguasa di rumahnya.


"Aku Fernandez! Aku bukan Felipe! Dan kau bukan siapa siapa!!" jawab Leyka dengan lantang dan menatap sinis kearah Locki.


"Leyka Paquito Fernandez! Jaga bicaramu!" gertak Locki mere*mas gelas vodka di tangannya.


"Kenyataannya kau memang bukan siapa siapa! Kau yang sebaiknya menjaga bicara dan sikapmu!" balas Leyka dengan lantang. Leyka tidak pernah takut, Leyka selalu melawan Locki dari kecil tapi Ibunya adalah kelemahannya.


"Pachitoo!!" pekik Rosemary dengan menarik tangan Leyka namun Leyka menepiskannya, dan kembali melawan Locki Gusmo.


"Ibu!! Ibu boleh menamparku dan memakiku! Aku akam diam dan menerima! Tapi jangan pernah si Loco ini ikut campur! Ini hanya diantara kita berdua! Tidak ada hubungannya dengan dia! Selamanya, Loco itu bukan siapa siapa! Sekalipun dia kekasihmu! Tapi bagiku, Loco hanya pengemis!" Rosemary mengangkat tangannya namun Leyka justru menyodorkan wajahnya dengan menatap tajam. Mata milik Pacho itu berkilat seakan menikam matanya, Rosemary menurunkan tangannya, ia mengurungkan niatnya untuk menampar Leyka.


"Leykaa!! Jaga kesopananmu!" Lockipun membanting gelas yang ada di genggamannya. Seketika Leyka menoleh dengan geram.


"Kau beraninya!! Membanting gelas di hadapan Ibuku! Kau seharusnya berlutut dan mencium kakinya!!" Leyka menunjuk wajah Locki kemudian menyambar vas bunga dan membantingnya ke arah kaki Locki. Leyka menyambar apa saja seperti banteng mengamuk di festival, Leyka membuat semuanya panik.


"Anak tidak tau diri!! Penjaaagaaaa!!" Locki semakin mundur dan semakin panik dengan amukan Leyka.


"Hentikan Pachitoo!!" bahkan hardikan Ibunya tidak di hiraukannya. Rosemary kebingungan bila Leyka mengamuk, ia sudah hafal karakter Leyka susah di kendalikan bila berhadapan dengan Locki. Ia memijat pelipisnya dengan mata berkaca kaca.


"Kau siapa, Hah! Kau parasit di rumahku!" Leyka terengah engah dan menatap bengis kearah Locki dengan wajah merah padam, sebuah toples kaca dari kristal di banting ke arah Locki.


"Sekali kau melempar maka aku akan melempar ribuan kali! Aku bukan Pachito kecil yang bisa kau tindas!! Pergilah ke Neraka, Loco!"


"Pachitoooo Fernandez!! Hentikan!" Fernandez adalah kata yang bisa menghentikan Leyka bila Ibunya menyebutkan nama belakang Ayahnya. Leyka selalu merasa menang bila Ibunya menyebut nama Ayahnya di hadapan Locki. Leyka meletakkan guci yang sudah terangkat dengan menyeringai ke arah Locki. Sekali lagi Leyka merasa menang.


"Wah wah wah.. Adikku tersayang. Akhirnya kau pulang! Mana pria Italymu? Bagaimana kesucianmu? Apa sudah kau berikan padanya? Aku melihat story chat mu dan display picture yang kau gunakan. Pria itu boleh juga. Kau pasti akan menyimpannya. Kau pasti takut dia jatuh cinta padaku" tawa seorang gadis seumuran dengan Leyka terdengar memenuhi ruangan itu, ia menuruni anak tangga yang melingkar dan menjulang tinggi di hadapannya, dia adalah Ella Gusmo. Anak yang di bawa Locki memasuki rumah itu saat Leyka masih kecil.


"Ja*lang! Aku bukan adikmu! Kita satu umuran! Kau pantas menjadi pelayanku!" kata Leyka dengan kekesalan yang memuncak.


"Ibu, entah sampai kapan adikku akan menerima aku dan Papaku. Ini sangat menyedihkan" Leyka menyeringai saat Ella menghampiri Rosemary dengan mulut manisnya.


"Dasar, penjilat!" dengus Leyka dengan geram.


Para penjaga memasuki ruangan itu dan berdiri dibelakang Locki, Leyka tidak pernah gentar. Karena para penjaga itu, tidak akan melukainya. Mereka penjaga yang setia kepada Ayahnya.


"Iya, kau memang menyedihkan! Sama halnya dengan Loco! Kalian pengemis! Kalian parasit!" ujar Leyka dan Ella hanya terkekeh tidak perduli. Ia telah terbiasa dengan makian Leyka.


"Penjaga! Kurung Tuan Putri di kamarnya!" perintah Rosemary. Leyka menatap mata Ibunya dan Rosemary menghindarinya. Tatapan mata itu mengingatkannya pada Pacho.


"Dan kau Pachito! Selama dua minggu kau tidak akan kemana mana! Ada pemilihan penobatan Putri Mahkota Raja Felipe. Bila kau bisa menjaga sikapmu, maka kau bisa terpilih. Ibu akan memaafkanmu atas pemberontakanmu!" Rosemary berjalan kearah Locki meninggalkan Leyka, namun Locki menghentikannya.


"Rose, bagaimana bila tidak terpilih?" tanya Locki dengan meraih tangan Rosemary, Leyka membuang muka, ia tidak ingin melihatnya.


"Aku tetap akan memaafkan Putriku, tapi aku akan memasukannya di Asrama Bangsawan di Madrid-- Kau ingin aku bagaimana? Membuangnya? Bagaimanapun juga, dia adalah Putriku, Mo" jawab Rosemary dengan ketus kearah Locki Gusmo. Rosemary terbiasa memanggilnya dengan nama belakangnya.


"Maksudku bukan begitu, kita bisa menikahkannya seperti rencana semula" Leyka tertawa mendengarnya. Rasanya ia sangat menang dan bangga bahwa ia telah kehilangan kesuciannya.

__ADS_1


"Kesuciannya di pertanyakan, mungkin Alfredo tidak mau menerimanya!" ujar Rosemary dengan mendelikkan matanya ke arah Leyka yang tertawa mengejek.


"Suruh dokter memeriksanya!" Lockipun dengan kesal menatap Leyka, rencananya telah gagal menikahkan Leyka dengan rekan bisnisnya dengan bertaruh kesucian Leyka. Di keluarga bangsawan, bahkan di jaman modern, kesucian masih sangat penting. Mereka tidak bebas bergerak ataupun memilih. Kehidupan bangsawan berada di sangkar emas, memang benar adanya.


"Tidak perlu!-- Karena aku telah membuang kesialan itu di Afrika Selatan! Bahkan bila di periksa kau hanya akan melihat sper*ma masih melekat disana--- Aah aku sangat lelah. Dia sangat memuaskanku!" Leykapun tersenyum merekah dan menaiki anak tangga dengan kemenangannya. Ia mengikat rambutnya tinggi tinggi agar terlihat bekas gigitan Valentino yang bertebaran di lehernya. Semua kesal melihatnya.



"Pachitoo!!" Rosemary terlihat geram, dan Locki menahan tubuh Rosemary yang ingin mengejar Leyka.


"Ayo penjaga, bawa aku ke kamarku" Leyka dengan sendirinya menaiki anak tangga, dengan tas ransel di punggungnya, salah satu pelayan terlihat membawakan kopernya.


"Sudahlah Rose, nanti aku bicara pada Alfredo" ujar Locki membuat Leyka menghentikan langkahnya.


"Ella Gusmo, bila kau masih suci. Itu artinya kau yang harus menikahi Alfredo!-- Mengapa tidak Ella Gusmo yang dipertanyakan kesuciannya?! Entah berapa laki laki yang telah mengicipinya dan dia selalu mengatakan dia masih suci. Aku akan memesan gaun terbaik dari Versace saat kau bersanding dengan Pak Tua itu" Leyka berlalu dengan menyisakan tawanya.


"Karena aku bukan Putri Bangsawan sepertimu!" Pekik Ella dengan menengadahkan wajahnya ke arah tangga dimana Leyka berada.


"Akhirnya kau mengakui kau bukan bangsawan! Apa kau tahu?! Bahkan pelayan juga tinggal di Mansion ini! Sama halnya denganmu! Pelayan disini tidak mengemis tapi kau mengemis! Derajatmu lebih rendah dari pelayan disini!" Leyka meneruskan langkahnya dan menghilang di ujung tangga di lantai dua.


"Leyka!" gumam Ella dengan kesal.


Setelah tiba di kamarnya, Leyka mengunci pintu. Pelayan yang membawa kopernya hanya mencapai ambang pintu dan dua orang Pengawal berada di luar pintu untuk berjaga. Leyka meletakkan bunga mawar di balkonnya. Ia menyiramnya dengan segelas air minum yang ada di kamarnya. Kemudian, ia menghempaskan tubuhnya di ranjang. Matanya mulai berkabut, dan menghangat. Leykapun memejam matanya, seiring airmata kerinduan kembali menuruni pelipisnya.


Val....


...*...


Sementara Valentino melemparkan kopernya kemudian menendangnya. Berbeda dengan Leyka, Valentino disambut dinginnya lantai penjara, walaupun hanya dua jam disana menjalani pemeriksaan, hingga keluarganya harus mengeluarkan Valentino. Bersama Jared dan pengacaranya, ia memasuki Apartemennya.


Valentino memutuskan untuk keluar dari rumah keluarganya saat ia memasuki Universitas. Sebagian besar seorang anak meninggalkan orangtuanya ketika ia telah dewasa. Itu sudah biasa bagi negara maju.


"Keluargamu menunggumu di Rumah. Apa kau ingin aku mengantarmu? Oh Tuhan-- Lihat wajahmu!" Jared terkekeh melihat sudut bibir Valentino dengan darah yang mengering. Ia menepis tangan Jared dengan kesal, saat Jared akan menyentuh dagunya.


"Aku akan pulang membawa mobilku sendiri"


"Baiklah aku dan Jacko akan pulang. Ingat minggu depan kau harus ke kantor polisi lagi untuk lapor. Kau tidak bisa keluar negeri untuk sementara waktu, jalani hidupmu menjadi tahanan kota"


"Hubungi Investor untuk proyek Capetown Town Square, suruh dia ke Italy. Kita jamu dia dengan mewah di sini. Itu kalau dia masih ingin memakai rancanganku. Kalau tidak, aku akan melepaskan proyek di Capetown. Rasanya apa yang aku lakukan menjadi tidak berguna untuk saat ini" ujar Valentino dengan mengusap wajahnya, ia duduk di sofa dengan mencondongkan tubuhnya dan kedua sikunya menumpu pada lututnya.


Leyka..


-


-


-



Sesampainya di rumah kedua orangtuanya, Valentino langsung menuju ke ruang keluarga. Namun ia terkejut dengan kehadiran seseorang yang sangat di kenalnya. Rumah megah bergaya mediterania modern, rumah pemilik Locomotive Machine memperlihatkan kemewahannya. Walaupun mewah, sebagian rumah itu berdinding batu, ciri khas gaya rumah di Italy pada umumnya, sangat khas dan begitu kental dengan sentuhan masa Victoria di dalamnya.



"Kau? Mengapa kau ada disini?" Tanya Valentino masih berdiri dengan memandang wajah sinis kearah seorang yang dimaksud. Rebecca Pallazo dan Ibunya Lucidad Pallazo.


"Hei, Diev-- Seorang wanita yang anggun berjalan menghampiri Valentino dan mengajaknya duduk --Apakah wajahmu baik baik saja. Apakah dagumu retak, mio figlio (putraku; italy)?" tanya wanita itu dan tidak lain adalah Rhosana Gallardiev, Ibunda Valentino.


"Màmma, aku baik baik saja" jawab Valentino dengan menghindari sentuhan tangan Rhosana.


"Sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian, aku akan ke kamarku. Besok ada rapat pemegang saham. Untuk masalah sepele ini aku serahkan kepadamu, Diev. Aku percaya kau bisa mengatasinya" Seorang laki laki mendorong piringnya menjauh, laki laki penuh wibawa dan bijaksana. Alfonso Gallardiev, Ayah dari Valentino.


"Padre (Ayah; Italy) aku sudah selesai sebelum aku ke Afrika!" sanggah Valentino tanpa melihat kearah Rebecca yang selalu memandangi Valentino dengan mata berkaca kaca.


"Diev, aku tidak akan mengulang perkataanku. Kita bicara besok setelah kau mengambil keputusan" Alfonso bangkit berdiri dan berjalan menaiki tangga.


"Pad.. Aku tidak mengerti" Valentino mengerutkan alisnya dan mengalihkan pandangannya kearah Rebecca dan Lucidad. Alfonso hanya mengibaskan tangannya tanpa menjawab apapun juga. Sikap itu membuat Valentino berdebar, ada kekecewaan yang Valentino tangkap dari raut wajah Ayahnya.


"Dia hamil anakmu, Diev" kata Rhosana membuat Valentino tercengang. Ia mengepalkan tangannya dan menggebrak meja, hingga mereka terkejut termasuk dua pelayan yang ada disitu.


"Trik kotor apa lagi yang kau gunakan, Hah?! Kau meminta pertanggung jawabanku?!" Valentinopun meradang.


"Diev! Aku juga tidak tahu ini anakmu atau bukan! Tapi kita telah melakukannya saat kau mabuk di Apartemenku. Ehm-- Apartemen yang kau jual! Kau mabuk, kau marah dan kau lampiaskan padaku! Apa kau tidak mengingatnya?" Valentino tersentak, ia mengingat kejadian itu, namun buntu.


"Tidak mungkin! Aku bersama Jared! Itu pasti anak Ricardo! Kau pikir aku bodoh?!" Valentino menggebrak meja lagi.

__ADS_1


"Apakah Jared tidur diranjang kita?! Jared tidur di luar dan kau tau itu! Ricardo alkoholic, kalau aku hamil seharusnya dari dulu! Kenapa justru setelah kejadian kemarahanmu di Apartemen saat kau memutuskan pertunangan kita!" sanggah Rebecca membuat Valentino semakin naik pitam.


"Katakan apa maumu! Dan jangan pernah bermimpi aku akan menikahimu!" Jari telunjuk itu menuding ke arah Rebecca dengan hatinya yang semakin kacau.


"Diev, kemarahan tidak akan membuat seseorang berpikir jernih" kata Rhosana menyela dengan membelai lembut rambut putranya.


"Aku tidak tahu, aku justru ingin bertanya padamu. Apakah kau mau anak ini atau tidak! Karena aku akan menggugurkan anak ini-- Dan aku juga tidak berharap kau akan menikahiku!" Valentino terkesima karena perkataan Rebecca, perkataan itu yang mengingatkannya pada Leyka.


Menyelamatkan satu kehidupan.. Leyka, apakah ini yang kau maksud? Tidak.. Ini pasti kesalahan, aku tidak pernah menyentuhnya.. Bagaimana bila ternyata benar, bagaimana bila saat itu-- Aku meniduri Rebecca..


"Kita akan test DNA, setelah anak itu lahir. Aku akan menanggung biaya hidupmu. Aku juga akan memeriksa CCTV kamar itu. Tapi entahlah, Apartemen itu sudah aku jual" ujar Valentino dengan mengepalkan tangannya.


"CCTV? Kau meragukanku?!" Rebeccapun bangkit berdiri dan sang Ibu, Lucidad memilih terdiam, setelah sebelumnya lelah berdebat dengan Rhosana, ibu dari Valentino.


"Apa kau takut? Dan apa kau bisa dipercaya? Hanya laki laki bodoh yang percaya padamu! Dan aku yakin Leyka mengetahui akan hal ini. Hanya saja, dengan kebaikan hatinya, dia tidak mau menyinggungmu!"


"Bukankah seharusnya dia tau? Aku sudah mandi di kubangan, sudah terlanjur kotor, bila memang ternyata ini bukan anakmu, aku akan merawatnya sendiri!" Rebecca menunjukkan kekesalannya, dengan mendengus dan menyeka airmata di pipinya dengan kasar.


"Pergilah, Jared akan mengurus keuanganmu selama kau hamil, jangan pernah menunjukkan wajahmu dihadapanku dimanapun! Bila itu anakku, aku akan mengambilnya darimu!" Rebecca menggandeng tangan Lucidad dan berlalu tanpa kata. Valentino merasa tidak mampu berpikir lagi. Hatinya semakin berantakan dengan masalah baru, yang dibawa Rebecca ke hadapannya. Entah dia seharusnya bahagia atau seharusnya melompat dengan sukacita, namun Valentino semakin sedih.


Bila itu anakku, mengapa aku justru kecewa.. Kenapa bukan kau saja Ley.. Ohh Shit! Apa yang aku pikirkan..


"Gallardiev, jika memang itu anakmu, maka Mámma akan merawatnya" belaian lembut Rhosana membuyarkan lamunannya.


"Tapi aku tidak merasa melakukannya saat itu Mma" jawabnya dengan wajah muram.


"Hei, lalu gadis itu. Dimana dia? Kau tidak mau membawanya pulang?" Rhosana menarik kursi dan mendekatkan diri pada Valentino yang bermuram durja, sesungguhnya ia penasaran mengapa sang putra bisa di Deportasi dan mengapa ia baku hantam, yang mana itu bukanlah tipe Valentino yang mencari keributan.


"Dia menolakku, Mámma"


"Apaa? Menolakmu? Menolakmu bagaimana?"


"Dia menolak Cintaku" Rhosana membulatkan matanya dan ia pun meledakkan tawanya.


"Hahahaha.. Valentino Gallardiev.. Hahaha.. Dia menolakmu? Ini sangat seru. Anakku di tolak Hahaha.. Aku penasaran seperti apa gadis itu" tawa Rhosana pecah, hingga membuat Alfonso kembali menghampiri mereka setelah mengetahui Lucidad dan Rebecca pergi dari rumahnya.


"Apa yang kau tertawakan Rhosana" kata Alfonso masih berdiri dengan memasukkan tangannya di saku celananya. Rhosana masih terbahak sementara Valentino hanya melirik sekilas kearah Ayahnya.


"Gadis Spanyol itu, menolak putramu, Amor!" Rhosana masih terbahak.


"Apa kau menceritakan siapa dirimu?" Valentino menganggukkan kepalanya saat Alfonso bertanya.


"Hei, apa kau mengatakan kau kaya raya? Apa kau mengatakan pabrik kita sekarang ada 4 di benua Eropa? Apa kau menceritakan Locomotive Machine terbesar itu milik keluargamu?" Valentino hanya mengangguk lelah dengan pertanyaan Rhosana yang bertubi tubi.


"Lalu?" Alfonso mengerutkan alisnya.


"Dia seorang bangsawan, keturunan dari Raja Felipe ke IV. Dia gadis bar bar yang menyangkal kodratnya. Dia tidak mau uangku. Dia tidak mau ikut denganku. Dia memilih roti tanpa butter bahkan roti tidak beragi daripada Red Velvet-- Dia.. Huhhh.. Dia--- Valentino tidak sanggup berkata apapun lagi, dadanya kembali sesak.


"Val? Kau menangis?" Rhosana terpaku kebingungan melihat Valentino yang tidak sanggup meneruskan kata katanya, karena seakan airmata begitu deras menghalangi tenggorokannya.


"Mma-- Dia tidak ingin ikut denganku. Dia pikir aku tidak berkorban apapun, aku mengorbankan uangku, dia tidak menilainya! Dia tidak menyukaiku! Dia ingin aku ke Barcelona dan aku memilih karirku-- Mma, dia gadis yang kejam!" seperti anak kecil Valentino membenamkan wajahnya di pundak Rhosana. Namun Alfonso justru tertawa.


"Kau bodoh! Dan dia benar!" katanya sambil berlalu.


"Amor! Dia menangis untuk gadis itu, apa kau tidak melihatnya? Dia mencintai gadis itu!" langkah Alfonso terhenti.


"Valentino! Aku ingin gadis itu menjadi menantuku! Jangan menikah dengan siapapun selain gadis itu!"


"Tapi Leyka tidak menginginkanku, Padre!"


"Maka jangan menikah!" Alfonsopun kembali berlalu meninggalkan Rhosana dan Valentino.


"Mio Figlio (putraku; Italy), terkadang kamu harus melepaskan, karena bila Cinta itu menjadi milikmu, itu akan kembali padamu, dengan sendirinya. Terkadang apa yang kau ikat dihatimu justru akan terlepas dari tanganmu dan yang kau ikat di tanganmu akan terlepas dari hatimu. Seperti itulah Cinta yang bertepuk sebelah tangan. Tapi bila itu Cinta Sejati, tangan dan hatimu tidak akan pernah bisa melepaskan" bayangan Leyka memenuhi pikirannya. Perkataan sang Mamma, seakan menyeretnya kian menjauh dari harapan. Valentino mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya.


"Mamma, aku lelah"


Leyka.. Apa kau merindukanku..


-


-


-


Dan Leyka kembali cerita nih, ya kan.. syabaar yaa.. 🤣

__ADS_1


__ADS_2