
Welcome Final Season FORGOTTEN LOVE ON THE TRAIN.. Train shooting lagi, setelah Directornya cuti panjang karena kesehatannya tidak memungkinkan untuk berpikir. Berkat doa pembaca dari seluruh negeri ini, cerita ini akan kembali mengudara.
...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
-
-
-
...BEGINNING...
Pedro membersihkan dua dari ketiga Apartemen milik Sanchez, dan melewatkan satu Apartemen yang seharusnya disewakan malam itu juga. Sanchez lupa mengatakan dilantai berapa dan nomor berapa si penyewa akan menempatinya. Hingga ponselnya berdering dan Pedro menerima panggilan ponsel itu.
"Hola?" Pedro menyapa ramah.
"Aku sudah berada dilantai sepuluh di depan pintu nomor lima" kata seorang wanita diseberang ponselnya. Pedro membulatkan matanya, ia buru buru keluar dari sebuah ruang apartemen di lantai sembilan, ia berlarian menuju lift setelah mengunci pintu apartemen.
Pedro membersihkan ketiga apartemen milik Sanchez yang berada di lantai enam, sembilan dan sepuluh. Pedro terbiasa melakukannnya dari lantai yang paling bawah dan lantai paling atas menjadi lantai terakhir yang ia bersihkan. Pedro kalang kabut dengan penuh kepanikan, hingga ia lupa melepas celemek baristanya.
Shitt! Tio Sanchez tidak mengatakan penyewa itu akan menempati nomor berapa
"Apa Tio Sanchez mengatakan di nomor berapa seharusnya anda menyewa, Senora?" Tanya Pedro sambil menekan angka pada tombol lift yang dituju, yaitu lantai sepuluh dimana wanita itu menunggunya.
"Senora (Nyonya)? Kau memanggilku Senora?" kata wanita diseberang ponselnya.
"Tio Sanchez mengatakan bahwa seorang ibu dan putrinya akan menempati Apartemennya, bukankah seharusnya aku memanggil anda, Senora?" kata Pedro membalikan perkataan wanita itu.
"Sudahlah lupakan. Aku menyewa di lantai sepuluh. Apa ruangan Apartemen ini sudah siap? Mengapa orang Spanyol lambat sekali dalam bekerja!" ujar wanita itu dengan sinis dan mendengus, Pedro mengerjapkan matanya mendengar sindiran sarkas dari wanita itu dan Pedro menyimpulkan bahwa wanita itu bukan dari Spanyol.
"Jadi anda bukan dari Spanyol, Senora?" tanya Pedro
"Aku dari Italy dan berhenti memanggilku Senora dan cepatlah datang! Berapa lama lagi aku harus menunggu! Aku sangat lelah!" ujar Wanita itu mulai tidak sabaran.
"Ohh dari Italy? Jadi aku harus memanggilmu apa? Apakah wanita Italy tidak mau mengakui dirinya tua? Apalagi anda telah memiliki seorang anak" kata Pedro tiba di lantai sepuluh lalu ia keluar dari lift dan melangkah kearah apartemen nomor lima.
Wanita aneh.
"Karena aku belum pantas di panggil Senora! Kau yang pantas di panggil Senor (Tuan) karena suaramu terlihat sangat tua. Apa kau seumuran dengan Senor Sanchez?" tanya wanita membuat Pedro tergelak.
Pedro terus melangkahkan kakinya dan ia melihat dari kejauhan seorang wanita-- dengan mantel tebal, rambut digulung dan diikat --sedang menggendong putrinya dengan beberapa koper besar mengelilinginya. Pedro melihat wanita itu dari belakang, di depan pintu nomer lima, kaki panjangnya melangkah dengan buru - buru dan semakin mendekat.
"Hahaha-- dari postur tubuhmu dan dandananmu kau pantas dipanggil Senora, mari kita lihat seberapa--- Wanita itu menoleh kearah sumber suara yang tergelak mendekatinya, Pedro mengeratkan pegangan ponselnya, ia terkejut dengan apa yang dilihatnya --seberapa tuanya anda.. Senora (Nyonya).. Ehmm Senorita (Nona)" desis Pedro terlepas begitu saja lalu meralatnya dengan binaran bola matanya, menatap wanita itu tanpa berkedip.
Shittt!! Dia masih sangat muda.. Dan.. Cantik..
Mata mereka beradu, saling menggenggam ponsel yang menempel ditelinga mereka. Keriapan rambut Pedro yang sebagian diikat dibelakang menghalangi mata coklat yang begitu bening menatap wanita muda dengan postur tinggi semampai, tingginya bahkan melebihi Pedro bila wanita itu memakai sepatu higheels, karena wanita itu memakai sepatu olahraga, tingginya menyamai Pedro, postur tubuh yang tidak pada umumnya. Wanita itu salah tingkah melihat tatapan Pedro, ia buru - buru memalingkan wajahnya dan menaikan tubuh Putrinya yang melorot dalam gendongannya.
Mio-Dio (astaga; Italy) pria ini.. Aku pikir dia pria berumur tapi.. Cihh.. Pendek sekali pria ini..
"Jadi kau bernama Pedro? Atau kau anak dari Senor Pedro? Karena Senor Sanchez mengatakan kau temannya. Tidak mungkin kau berteman dengan laki laki tua" kata wanita itu sambil mematikan ponselnya dan menyimpan di saku mantelnya.
Pedro mengikutinya, memasukan ponsel ke dalam saku celemek baristanya lalu mengambil kunci di saku celananya kemudian membuka pintu lalu masuk begitu saja seraya menyalakan lampu.
"Aku Pedro Fernandez dan aku masih muda walaupun suaraku terdengar tua, dan lagi aku belum memiliki anak seperti anda. Tio Sanchez adalah sahabat mendiang Ayahku. Aku adalah temannya dan itu benar. Aku yang bertanggung jawab pada semua apartemen yang dia miliki" ujar Pedro menyalakan semua lampu namun wanita itu masih berdiri di ambang pintu.
"Apa semua pria Spanyol tidak punya kepekaan? Masukan semua koperku!" pinta wanita itu membuat Pedro tersenyum lebar dan kembali berjalan kearah pintu.
"Anda wanita yang tidak sabaran. Bagaimana aku memasukan koper koper anda di dalam ruangan yang gelap. Anda pun bisa tersandung karena itu aku menyalakan lampu terlebih dahulu, Senora!" ujar Pedro menggelengkan kepalanya.
"Berhenti memanggilku Senora" ujar wanita itu lagi dan Pedro tak perduli.
Pedro pun kembali kearah pintu memasukan koper wanita itu satu persatu. Wanita itu melangkahkan kakinya masuk dan mengedarkan pandangannya ia berdecak siap berkicau karena Apartemen itu belum siap digunakan. Banyak debu dan tirainya begitu lusuh belum diganti dengan tirai yang bersih.
"Apartemen macam ini? Semua masih kotor! Ckk, debu dimana mana! Barcelona-- Apa indahnya kota ini? Sama sekali tidak mengesankan" Keluh wanita itu membuat telinga Pedro tersengat namun ia menahannya, matanya tertuju pada gadis kecil yang digedong wanita itu.
"Aku akan membereskannya dalam waktu 30 menit. Ah pak tua itu-- Tio Sanchez tidak mengatakan anda mau menyewa di lantai berapa jadi aku membersihkan Apartemen di lantai enam dan sembilan terlebih dahulu" kata Pedro menutup pintu setelah memasukan semua koper.
__ADS_1
"Itu bukan urusanku! Tunjukan kamarnya dan bereskan segera ruangan ini!" pinta wanita itu dengan nada ketus. Pedro mengamati setiap jengkal tubuh wanita itu dan gerak geriknya, sesekali wanita itu menciumi putrinya yang tengah tertidur di gendongannya.
Mirip sekali.. Putrinya sangat cantik.. Tapi mengapa dia tidak mengenakan cincin pernikahannya.. Batin Pedro dalam hatinya.
"Vamos, ikuti aku-- Ada dua kamar besar di Apartemen ini. Lantai 10 adalah lantai dengan pemandangan yang indah" ujar Pedro membuka pintu kamar yang telah terisi perabotan lengkap, lalu Pedro kembali menyalakan lampu kamar itu.
Apartemen itu terbilang cukup luas dan memiliki banyak fasilitas yang diperuntukan untuk kalangan menengah keatas. Selera wanita itu cukup tinggi dan pastinya bukan wanita sembarangan bila dilihat dari beberapa brand yang melekat pada tubuhnya, pikir Pedro.
"Silahkan!" ujar Pedro mempersilahkan.
"Silahkan? Kau pikir aku mau mengenakan sprei ini? Ambil koperku yang berwarna biru. Dan ambil satu set sprei disana. Aku membawanya sendiri. Aku tidak terbiasa menggunakan sprei kumal seperti ini!" Pedro menyeringai, sambil berlalu dan mengambil koper yang di maksud.
"Bawa saja semua koperku ke kamar!" imbuh wanita itu hingga membuat putrinya menggeliat.
"Sshhh.. Tidurlah Mia Angela (bidadariku: Italy)" bisik wanita itu sambil menepuk punggung gadis kecil itu dan menggoyangkannya. Ia tersenyum menatap wajah putrinya lalu ia menciumi keningnya. Pedro terkesima melihat senyum itu, namun ia buru - buru menepis kekagumannya saat kembali memasuki kamar itu dengan dua koper dikedua tangannya.
Sebenarnya wanita batu ini cantik bila tersenyum.. Dia sangat keibuan.. Beruntung sekali pria yang menikahinya.. Ah, apa yang aku pikirkan.. Fokuslah bekerja Pedro, atau wanita ini akan memyulitkanmu. Batin Pedro mengagumi kemudian menyemangati dirinya sendiri.
"Yang ini?" tanya Pedro menarik satu koper yang dimaksud wanita itu.
"Iya benar-- Apa tanganmu bersih? Cucilah tanganmu sebelum menyentuh isi koperku. Aku tidak mau ada kuman kuman dari Barcelona yang bisa membuat aku dan putriku terkena penyakit kulit" ujar wanita itu dengan sinis.
Sepertinya dia sangat membenci Barcelona. Tapi mengapa ia datang ke Barcelona ? Ckk, lupakan.. Bukan urusanku. Batin Pedro lagi.
Pedro menahan dirinya cukup baik mengingat ada anak kecil bak malaikat tertidur pulas. Ia pun menggelengkan kepalanya lalu menuju wastafel di kamar mandi kemudian mencuci tangannya. Setelah selesai ia kembali menghampiri wanita angkuh itu yang berdiri di dekat koper.
Penurut sekali pria ini.. Tidak, itu memang tugasnya.. Dia bisa menjadi pesuruhku. Batin wanita itu dengan tersenyum tipis. Ia pun mengamati gerak gerik Pedro secara diam - diam.
Pedro berjongkok dan membuka koper itu, matanya membulat saat melihat isi koper itu, beberapa tumpukan underwear dan br*a memenuhi sebagian koper itu beserta handuk dan beberapa sprei yang berada di tumpukan paling bawah.
"Apa kau yakin?" tanya Pedro kembali menggelengkan kepalanya dan menatap tajam kearah wanita itu seraya menyelipkan sulur rambutnya ke belakang telinganya karena menutupi dahinya. Wajah wanita itu memerah, ia pun merasa malu Pedro telah melihat isi kopernya. Lalu wanita itu menyepak penutup koper dengan kakinya hingga menutup dan sontak Pedro bangkit berdiri dengan kesal.
"Ckkk! Kemarilah! Gendong Putriku!-- Jangan mengatakan kau baru pertama kali melihatnya!" suara wanita pelan namun penuh penekanan, ia takut membangunkan putri kecilnya. Di antara kekesalannya Pedro dengan tidak siap menerima gadis kecil yang dioper kepadanya tanpa aba - aba.
"Tentu saja tidak! Aku bahkan telah memandangi dan menjelajahi isinya!" ujar Pedro balas berbisik dan wanita mendelik seraya berdengus.
Pedro menerima tubuh kecil itu kemudian ia menggendongnya. Tubuh kecil nan hangat itu melekat padanya dengan kepalanya bersandar di dadanya. Tentu saja caranya menggendong sudah tidak canggung lagi, karena Pedro terbiasa menggendong Train serta beberapa keponakannya.
Ada perasaan aneh mengalir di hati Pedro, ia menatap wajah mungil itu bak bidadari yang menyingkirkan kekesalan pada wanita bertubuh tinggi yang begitu angkuh kepadanya. Rambut panjang berwarna coklat terang itu berkeriap menutupi wajah gadis mungil itu lalu Pedro menyingkirkannya dengan lembut.
"Kau bukan pedofilia kan?" tanya wanita itu sambil melepas mantel dan sepatunya, lalu wanita itu mengambil satu set sprei yang berada di dalam kopernya.
"Hati hati bicaramu dengan Pria Spanyol, Senora" jawab Pedro tanpa menoleh.
"Jangan memanggilku--
"Lalu aku harus memanggilmu apa" potong Pedro secepat kilat, pelan namun penekanan. Wanita itu tidak menjawab dan hanya terdengar mendengus. Lalu Pedro memandangi wajah gadis kecil itu, memastikan suaranya tidak membangunkannya.
Pedro terdiam dan kembali terkesima melihat mantel itu menyembunyikan tubuh langsing bak model internasional, berpinggang kecil, berkaki panjang dan berdada besar. Pedro memalingkan pandangannya seketika dan mengatur debaran kelelakiannya yang tergugah menyaksikan pemandangan itu.
"Papa... Papa" desis anak itu membuat Pedro terkejut, jiwa kebapakannya secara natural mengeratkan dekapan gendongannya dan menggoyangkannya. Wanita itu tersenyum sinis sambil membongkar sprei di ranjang lalu menggantikan dengan sprei miliknya.
Melihat kecantikan dan lucunya wajah anak itu, Pedro mengayun perlahan gendongannya sambil bersenandung lirih, sebuah lagu nina bobo yang selalu ia nyanyikan pada keponakannya bahkan sebagian Ayah di Spanyol selalu menyanyikan lagu itu kepada putrinya.
🎶ohh hermosas flores florecen para siempre.. papi no te hará marchitar.. papi te hará brillar.. tus pétalos son fragantes y permanecerán asà para siempre🎶 (ohh bunga - bunga indah mekar selamanya.. ayah tidak akan membuatmu layu.. ayah akan membuatmu bersinar.. kelopakmu harum dan akan tetap seperti itu selamanya)
Pria ini boleh juga.. Naluri seorang Ayah melekat pada dirinya, padahal penampilannya urakan dan seperti bocah.. Cihh, suaranya tidak buruk. Batin wanita itu dalam hatinya yang diam - diam mengagumi Pedro.
"Bawa putriku kemari dan cepat bereskan sprei kotor ini lalu bersihkan seluruh apartemen ini jangan sampai ada yang terlewatkan" ujar wanita itu kembali ketus.
"Si" ujar Pedro sambil berjalan kearah ranjang lalu meletakan gadis kecil itu diatasnya perlahan - lahan. Namun saat Pedro ingin menarik tangannya yang ditindih kepala gadis kecil itu, Pedro kembali terkejut karena gadis kecil itu justru melingkarkan kedua tangannya di leher Pedro.
"Pappa.. Huuu.. Pappa.. Miu mau Pappa" rengek anak itu membuat Pedro tidak tega. Wanita itu menaiki ranjang dan mengurai kedua tangan putrinya itu agar Pedro terbebas dari jeratannya. Pedro pun bangkit berdiri dan meraih sprei yang bertebaran di lantai yang akan dibawanya pulang untuk dicuci.
"Sshh.. Tidurlah Mia Angela (bidadariku; Italy) Kita telah sampai dan besok kita cari Pappa" bisik wanita itu sambil memeluk putrinya dan membelai wajah mungil itu. Namun gadis kecil itu, justru membuka matanya dan mengedarkan pandangannya. Ia duduk sambil menguap dan mengucek matanya. Pandangannya tertuju pada Pedro yang sedang melipat sprei dengan tersenyum penuh kehangatan kearahnya.
Mencari Pappa? Dari bahasanya seperti suaminya menghilang saja.. Cihh, wanita seperti itu mana mungkin di tinggalkan begitu saja.. Ckk, apa yang kupikirkan.
"Kau siapa?" suara mungil nan merdu itu membuat Pedro semakin tersenyum lebar.
"Aku? Aku hanya pengurus apartemen ini" jawab Pedro sambil memiringkan kepalanya menatap teduhnya bola mata biru keabu abuan dan mata itu mengingatkannya kepada keponakan kesayangannya, yaitu Blue Train. Pedro masih meraih satu demi satu sarung bantal dan guling yang bertebaran dilantai karena ulah wanita itu.
"Mia Angela tidurlah" kata wanita itu mengikuti Miu duduk lalu meraih tubuh putrinya namun anak itu menepis tangannya.
__ADS_1
"No Mamma, Miu mau Pappa. Kita sudah di Barcelona. Kita cari Pappa" ujar gadis kecil yang menyebut dirinya Miu.
"Malam masih panjang, Mia Cara (sayangku; Italy). Kita cari Pappa besok-- wanita itu membelai rambut putrinya lalu mengecup pelipisnya kemudian melemparkan pandangan sinisnya kearah Pedro --Apa kau akan diam mematung? Cepat bereskan apartemen ini dan pergilah!" kata wanita itu lagi - lagi dengan ketusnya.
"Baiklah, aku akan membereskan ruangan yang lain-- Ehm, Buona notte (selamat malam; Italy), Miu.. Namamu Miu kan ?" tanya Pedro sambil tersenyum.
"Si (iya; Italy), namaku Ellara Miuccia-- Pappaku yang memberi nama-- Lalu siapa namamu, Zio (paman; Italy)?" tanya Miu sambil menguap dan menggaruk garuk kepalanya.
"Zio (paman) di Italy, Tio (paman) di Spanyol-- Ehm, kau bisa memanggilku Tio Pedro, namaku Pedro Fernandez" ujar Pedro berlalu keluar kamar itu, ia masih menebarkan senyumnya kepada gadis kecil itu, ia sama sekali tidak melirik Ibunya yang terus menatap tajam kearahnya dengan pandangan sinis.
Ellara Miuccia.. Sepertinya nama itu tidak asing di telingaku.. Ckk, lupakan. Batin Pedro bergegas menuju ruang dapur dan mulai membersihkan bagian demi bagian ruang itu.
Delapan tahun berlalu, tentu saja nama yang berada di benak Pedro, terkikis oleh waktu. Nama yang pernah tertulis di sebuah foto bayi mungil, yang tidak sengaja Pedro temukan delapan tahun yang lalu di Apartemen Leyka saat Train masih bayi.
"Mamma, Miu lapar.. Bolehkah Miu makan lagi? Perut Miu, terus berbunyi-- Dia tidak mau diam Mamma" suara mungil itu kembali terdengar sayup - sayup diantara bisingnya penyedot debu yang membantu meringankan pekerjaannya. Ia pun mematikan mesin penyedot debu itu, saat terdengar langkah kaki mendekatinya.
"Apa ada restauran di dekat sini?" tanya wanita itu sambil menutup pintu kamar putrinya.
"Aku akan kembali, aku akan membuatkan makananan untuk Putrimu" ujar Pedro seraya menggulung kabel pada penyedot debu.
"Apa kau bisa membuat makanan anak anak sesuai kalorinya?" Pedro tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. Pedro mengingat Leyka bila menyangkut makanan untuk Train, Menimbang dan mengukur berapa kalori dari asupan makanan serta berapa banyak takaran gizi di dalam makanan tersebut.
"Percayalah, aku memiliki sepupu bangsawan yang sangat ketat memberi asupan makanan kepada Putranya. Aku terbiasa membuatnya" ujar Pedro sambil memasukan kembali penyedot debu kedalam almari perkakas yang letaknya tidak jauh dari dapur.
"Hahaha-- sepupu bangsawan? Lalu bagaimana kau berakhir memakai celemek barista dan memelihara Apartemen Senor Sanchez?" ejek wanita itu dengan bersedekap
"Apa masalah? Sepupuku pemilik kedai Double P. Terkadang dia menjaga kedai, membersihkan meja, mencuci piring kotor. Tidak ada yang salah dengan itu, padahal dia seorang Putri Mahkota" ujar Pedro dengan menggelengkan kepalanya. Wanita itu mengernyitkan alisnya, hatinya tiba - tiba berdebar mendengar sebuah kata kunci, Putri Mahkota.
"Seorang Putri Mahkota? Siapa namanya?" tanya wanita itu dengan rasa penasaran.
Jangan katakan.. Bahwa dia adalah Leyka--
"Leyka Paquito Gallardiev-- Sepupuku itu, menjadi berita utama belum lama ini" ujar Pedro berlalu sambil menyambar kantong plastik yang berisi sprei kotor dan tirai yang dianggap lusuh oleh wanita itu.
Shittt!! Dia sepupunya.. Tidak.. Pria ini tidak boleh tahu siapa aku.. Belum saatnya.. Dan ini sangat kebetulan.. Gallardiev, kau adalah takdirku bersama Miu.. Kau harus memenuhi janjimu pada Putri kita.. Ellara Miuccia..
"Tunggu-- wanita itu berjalan kearah Pedro dan menghentikan langkahnya yang telah mencapai ambang pintu keluar --Jadi Putri Mahkota yang dimaksud adalah yang disiarkan di televisi?" tanya wanita itu mengepalkan tangannya.
"Benar" jawab Pedro singkat.
"Menakar kalori makanan itu artinya sepupumu telah memiliki--
"Si-- Seorang putra yang dilahirkan delapan tahun yang lalu dan itu Putra dari seorang pria dari Italy yang ada di televisi. Anda bukan paparazi kan?" potong Pedro sambil menatap wanita itu lekat lekat. Wanita itu tersengat mendengarnya.
"Tentu saja bukan! Cih, kau sangat bau cepatlah menyingkir! Dan bawakan makanan untukku dan Putriku!" perintah wanita itu menahan gemuruh di dadanya.
"Sangat bau? Hum-- Aku masih wangi walaupun berkeringat. Tapi bukankah wanita Italy menyukai bau keringat yang bercampur parfum?" Pedro mengendus dengan menarik kerah kaosnya lalu tersenyum mempesona kearah wanita yang selalu ketus kepadanya.
"Aku bukan wanita Italy yang kau maksud!" ujarnya masih ketus.
"Baiklah aku akan kembali-- Aku lupa menanyakan siapa nama anda Senorita (Nona)" kata Pedro sambil tersenyum.
Shitt.. Pedro tidak boleh tau namaku.. Leyka tidak boleh menyadari keberadaan Miu, sebelum aku menemui Gallardiev
"Pall-- Panggil aku Pall...Hanya Pall" kata wanita itu buru buru menutup pintunya. Wanita itupun berlari kearah dapur dan meledakan tangisnya. Ia tidak ingin Putrinya mengetahui ia menangis dan bersedih. Kecewa dan rasa sakit di hatinya begitu tajam merejamnya, saat ia menerima kenyataan bahwa laki - laki yang kejarnya hingga ke Barcelona ternyata telah memiliki seorang anak.
Ini membingungkan.. Kau mempunyai anak? Mengapa kau tidak pernah menceritakannya, Diev? Apa jangan - jangan kau juga baru saja mengetahunya? Mengapa kau tidak mempublikasikan putramu dan hanya pernikahan konyol itu? Tidak.. Ini tidak adil untuk Miu.. Putri kita akan sangat kecewa bila mengetahuinya.. Miu.. Tidak.. Kau harus memenuhi janjimu, Diev.. Kau berhutang satu kehidupan dan itu nyawamu sendiri.. Pantas saja kau mengganti nomor ponselmu dan kau selalu menggunakan ponsel Jared atau Torres untuk menghubungi Miu.. Kau jahat Diev.. Ohh Shitt.. Apakah ada cerita yang terlewatkan.. Mengapa hatiku sangat sakit.. Rebecca Pallazo, apa kau mengingat nama itu, Leyka Paquito? Si-- kau akan mengingatnya sebentar lagi, Leyka.. Lihat saja..
-
-
-
IM BACK YA BOSQYU.. Kangen gilaakk.. kalau ada typo maklumin.. bab ini akan aku perbaiki karena aku masih memulihkan diri..
Siapkan amunisinya.. kopi dan vote untuk Train yang menuju akhir season. Thank youu bosqyu.. 😘😘
-
-
__ADS_1
-