
Rapat itu selesai begitu saja dan membawa keterkejutan bagi Leyka, layaknya sebuah kotak hadiah yang terbungkus cantik, namun meledaklah hadiah itu saat sebuah pita yang melilitnya terbuka. Keputusan sudah di ambil, Leyka tidak bisa membantah. Sesungguhnya ia sangat tidak setuju, bukan gedungnya. Tapi Valentinonya. Namun ia tidak bisa melawan semua Dewan Guru. Apa alasannya? Kemanapun dan dimanapun, ia tidak memiliki alasan yang kuat untuk menolak. Ia membiarkan Valentino menang.
Jadi kau menjuluki aku, Wanita Siluman? Hmm.. Apa yang membuatnya begitu kesal kepadaku.. Apa yang kau inginkan, Val.. Mengapa kau menciptakan kesan yang buruk, sehingga itu memberikan jarak diantara kita semakin membentang jauh.. Apa karena seseorang di Italy.. Rebecca, apa kabarmu..
Leyka berjalan menyusuri koridor di sekolah, melewati kelas demi kelas. Semua Guru dan para tamu, telah berhamburan meninggalkan sekolah Esperanza. Dari jauh ia melihat Valentino dan Bonita sedang berkelakar di halaman sekolah. Pesona Valentino, Leyka sangat mengakui itu. Hatinya mulai resah, cemas dan nyeri di ulu hatinya melihat pemandangan itu.
Aku sudah punya Damian, untuk apa aku merasa sakit. Entahlah, aku hanya ingin memberi kesan yang baik pada Train, bahwa Daddynya pria yang baik. Aku tidak mau Train kecewa. Karena itu aku akan membuat Valentino berubah dan ya.. Dia harus berubah.. Dia tidak boleh terlihat buruk di mata Train...
Saat Leyka beberapa langkah mendekati mereka, Valentino terdengar menyudahi pembicaraannya. Leyka tetap menegakkan kepalanya dengan wajah datarnya, ia memperlihatkan ketenangannya.
"Bonita, aku masih ada urusan. Besok aku tunggu di Restauran Perancis di seberang Double P saat makan siang" ujar Valentino memberi penegasan saat Leyka melewatinya dengan mengeraskan volume suaranya. Leyka tidak perduli, ia terus berjalan dengan tenang. Valentino melirik ketenangan yang ada diri Leyka dan itu juga yang membuatnya resah.
"Baiklah Gallardiev, sampai bertemu besok" ujar Bonita tersenyum kepada ruang kosong, karena sosok Valentino secepat kilat telah pergi meninggalkannya tanpa sempat memperlihatkan pesonanya. Bonita diacuhkan.
Dan pria tak berperasaan itu berjalan mengekor langkah Leyka yang berjalan kearah kelasnya. Leyka akan menandai apa saja yang akan dibawa atau yang tidak di bawa ke gedung sementara. Dia ingin melakukan secepatnya untuk kelasnya, agar besok ia tidak perlu datang ke sekolah karena besok Train pulang. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Putranya. Selain itu ia bisa membantu Dolores yang sedang pindah Apartemen.
"Jadi, Senorita Felipe-- Bisakah kau besok makan siang bersamaku. Aku sengaja memilih tempat yang berdekatan dengan kedai kopimu. Kita akan membicarakan kronologi pemindahan" ujar Valentino.
Ia kemudian menyamakan langkahnya, sementara Leyka diam dengan mengatupkan mulutnya rapat rapat, entah mengapa ia masih sangat kesal dengan ulah Valentino. Di tambah pria itu kini berjalan mundur menghadap kearah Leyka dan mengikuti gerakan kaki Leyka. Langkah Leyka tersendat karena Valentino berusaha menghentikan langkahnya. Bila Leyka ke kiri Valentino menghadangnya, bila ke kanan Valentino ikut ke kanan, berharap Leyka menabraknya.
"Ck, menyebalkan sekali!" ujar Leyka dengan mendelik kesal.
"Ayolah Senorita Felipe, bisakah kau ikut makan siang besok?" dan Valentino seperti biasa, memperlihatkan senyum menawan yang membuat wanita manapun bergetar hatinya.
"Minggir!-- Leyka mendorong Valentino dan melanjutkan langkahnya juga perkataannya --Aku, tidak ada waktu. Aku mau membantu Bibiku" Valentino terhempas kesamping dan menyusul Leyka lagi.
"Hanya satu jam Senorita Felipe" kedua tangan Valentino menangkup memohon dan Leyka hanya mendengus kesal. Ia tahu, itu hanya alasan yang dibuat buat oleh Valentino.
"Bisakah kau memanggil nama depanku saja?" Leyka menghentikan langkahnya, tidak terasa ia telah tiba di depan kelasnya.
"Bisakah kau juga memanggilku Valentino, Ley?-- Seperti ini-- Vall.. Valll.. Vaall.. Vallll" dengan tertawa Valentino menirukan gaya Leyka saat manggil dirinya, ia menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan saat menggoda Leyka.
"Shit!" Valentino terkekeh mendengar Leyka mengumpat.
"Hei kau ini Guru, mana boleh seorang Guru mengumpat begini-- Hmm, ini kelasmu?" Valentino ingin memasuki kelasnya namun Leyka menghadang Valentino dengan merentangkan tangannya di pintu.
"Sah sah saja aku mengumpat saat tidak ada muridku! Dan sah sah saja aku mengumpat di depan wajahmu!" ujar Leyka kesal. Ia masih terbayang bagaimana Valentino menebarkan pesona di hadapan Bonita dan beberapa rekan Guru wanita memuji ketampanan Valentino terlalu berlebihan.
"Hahaha-- Apakah aku boleh mendaftarkan diriku menjadi muridmu?" Valentinopun menghentikan tawanya dan memandangi seraut wajah Leyka semakin dekat. Valentino tidak bisa dilarang, perlahan Valentino maju selangkah demi selangkah dan membuat Leyka cemas.
"Senor Valentino!-- Batasmu hanya sampai disini!" karena semakin mendekat, Leyka mendorong tubuh Valentino namun dengan sigap, tangan Leyka yang mendarat di dada Valentino, justru tangan Valentino menyambar tangan Leyka erat erat hingga ia nyaris terpelanting. Valentino menangkapnya hingga tubuh mereka kian rapat.
"Berhentilah berbasa basi seperti seorang bangsawan! Berhenti memanggilku Senor!" Valentinopun mendorong tubuhnya masuk ke dalam kelas Leyka lalu menghimpitnya ke dinding. Leyka terus mendorong agar tubuh mereka berjarak.
"Kau yang memulai! Apa kau lupa-- Senor Valentino?" tanya Leyka penuh penekanan dengan memiringkan wajahnya.
"Shit!!" umpat Valentino. Bukan kesal, tapi ia tidak sanggup menahan dirinya dengan pesona Leyka yang membuatnya bertekuk lutut. Valentino kesal pada dirinya sendiri.
"Kau mengumpat seorang Guru? Lepaskan aku!" Valentinopun melepaskan cengkeramannya
"Jadi Leyka Paquito, kau melakukan ini semua demi Putramu?" pertanyaan itu membuat Leyka berdebar. Ia masih meraba raba apa yang ada dibenak Valentino.
"Putraku dan semua anak didikku!" dan jawaban itu membuat hati Valentino tersayat. Ia sangat kecewa, wanita asing yang ternyata menjadi Istrinya telah memiliki seorang Putra dan itu membuat sebuah keputusan Valentino semakin kuat, rasanya Valentino ingin bercerai detik itu juga.
Tapi mengingat luka yang ditoreh oleh Leyka 8 tahun yang lalu membuatnya semakin kuat untuk membuat Leyka kembali jatuh cinta padanya, lalu ia akan meninggalkannya tanpa kata. Valentino menahan alasannya mengapa ia kembali, dan Valentino harus bersabar serta menahan dirinya. Namun rasa keingintahuannya begitu besar melebihi amarahnya, ia ingin tahu kehidupan Leyka selama 8 tahun ini.
Leyka ingin menghindari Valentino, ia melangkah menjauh namun baru beberapa langkah Valentino kembali menarik lengan Leyka dan menghimpitnya kembali di dinding hingga tasnya terjatuh dan isinya terburai.
"Jadi benar kau memiliki Anak?" bisik Valentino dengan menatap tajam kearah mata Leyka.
"Apa masalahmu jika aku punya anak?" Valentino mendengus kesal. Tatapan mata liar itu, Leyka pernah menatapnya di Pretoria. Sangat mengerikan bila melihat kemarahan Valentino.
"Anakmu itu, apakah anak yang kemarin melawanmu di gerbang sekolah itu dan kau peluk di hadapan Diego tadi pagi-- Apakah dia adalah Putramu? Karena setelah melihatmu memeluknya dan menciuminya aku sangat yakin dia adalahmu Putramu"
Bahkan aroma tubuh ini, masih sama.. Kau yang pernah menghancurkan hatiku, Nona Asing. Kau membuatku tidak bisa kemana mana.. Kau benar benar menyihirku.. batin Valentino penuh kekecewaan.
"Iya-- Dia Putraku" jawab Leyka dengan tersendat. Ia menelan salivanya yang tercekat. Dadanya bergemuruh melihat Valentino yang mengintimidasinya. Valentino mencoba mengatur nafasnya. Dan Ya! Ini karena asma yang dia derita saat kecil namun belakangan ini sering kambuh.
"Jadi itu benar dirimu? Aku tidak salah lihat. Itu Kau dan kau mengawasiku? Kau berada di Hotel Marriot kan? Shit! Aku tahu itu kau pagi itu! Tapi aku selalu menyangkal pada diriku bahwa itu bukan dirimu, Val" ujar Leyka lagi dengan matanya yang mulai semburat kemerahan. Lidahnya kelu, hatinya semakin sedih.
"Apakah itu anak Diego? Dan Diego berkhianat lebih mencintai sahabatmu dibanding dirimu? Tentu saja, tidak ada yang tahan denganmu. Katakan itu anak siapa, karena bila anak itu anak Damian itu tidak mungkin. Damian baru pindah ke Barcelona 2 tahun ini. Selama ini dia di Paris! Kecuali kau memiliki Putra berumur 1 tahun, tapi kata bibimu, Dia menulis surat untuk Tuhan. Tidak mungkin anak berumur 1 tahun bisa menulis!" Valentino memukul tembok dengan marah. Ia melepaskan cengkeramannya dan duduk di meja guru. Meja yang biasa Leyka gunakan mengajar. Leyka sangat bingung, mengapa Valentino ingin tahu, ia menduga duga apakah Valentino tau tentang Train dari orang sekitarnya.
"Kau sangat ingin tahu kehidupanku? Bagaimana kau tahu tentang Damian? Kau menyelidiki aku?" tanya Leyka duduk berjongkok dan memunguti isi tasnya yang berserakan dan posisi itulah yang membuat Valentino mengetahui liontin kalung Leyka.
__ADS_1
Cincin itu, Cincin itu.. Itu dia.. Kau menyembunyikannya.. Tunggu, jarimu memberi bekas bahwa kau selama ini memakainya.. Warna kulitmu di jarimu, bekas cincin itu tidak bisa membohongiku. Aku yakin kau baru melepasnya. Shit, tebakanku saat kau di meja kasirmu! Aku ingat saat aku menabrakmu, kau memakai cincin.. Ya ya ya.. Aku memang menabrakmu.. Ohh Shit! Mengapa aku tidak memperhatikannya.. Wah, Istri Silumanku, kau ingin membodohiku kan.. Hahaha.. Kau tidak bisa membodohi Raja Setan seperti diriku..
"Aku menyelidikimu? Kau pikir kau siapa, Leyka Paquito? Kau kabur dari Palma saja, seluruh daratan Eropa tahu itu" Valentino justru tertawa senang karena melihat cincin itu. Kemarahannya mendadak menghilang. Ia bahagia melihat Leyka masih menyimpannya.
"Shitt! Fu*ck you, Val!" kata Leyka dengan mendelik ke arah Valentino, dengan kasar ia segera memasukkan semua barangnya ke dalam tasnya dan bangkit berdiri.
Leyka kemudian meletakkan tas di mejanya, tidak perduli Valentino duduk disana, kemudian ia mengambil spidol, kertas putih dan selotip kertas, lalu ia mulai bekerja sambil mendengarkan Valentino berkicau.
Ia menempelkan kertas putih dengan selotip kertas yang mudah di robek lalu memberi tanda ceklis dengan spidol pada benda yang ada di kelasnya. Meja, kursi, papan tulis, alat peraga dan poster poster yang berkaitan dengan kelas mengajarnya, ia menandai satu per satu dan itu harus dibawa ke Gedung sementara, Locomotive Machine.
"Damian Vreygano-- Siapa yang tidak tahu fotografer itu. Dua tahun yang lalu ia ikut Pameran di Italy, aku merancang dekorasi interior diacara itu dan aku membeli sebuah foto! Foto itu tidak penting tapi aku membelinya! Aku hanya bersedekah" kicau Valentino dengan mata penuh kekaguman, ia mengagumi Leyka secara diam diam.
Leyka menggigit spidolnya saat selesai menandai lalu tangannya akan di sibukkan dengan selotip dan kertasnya, mencari objek demi objek. Valentino, berdebar melihatnya, membayangkan spidol yang di gigit itu adalah miliknya, membuat pikirannya semakin kacau.
Shit! Mengapa wanita siluman ini sangat menggemaskan.. Imajinasiku di rusak olehnya hanya dengan menggigit spidol saja.. Shitt.. Gerakannya, cara berjalannya, setiap beberapa detik ia mengedipkan matanya, aku sangat hafal, aku masih mengingatnya.. Aku mencari sosok ini di beberapa gadis Spanyol, di situs kencan, aku tidak bisa mendapatkannya. Dia benar benar mengurung hatiku, jiwaku.. Dan sekarang dia ingin menghabisi, pernafasanku.. Shitt... Saat dia menghilang dan saat itu ia ke freedom park, apakah dia menemui kepala suku dan membuat mantra voodoo untukku? Aku rasa iya..
"Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku" tanya Leyka datar, ia terus menempelkan kertas demi kertas dan menandainya.
"Aku tidak ingin mengatakannya, aku hanya ingin tahu bagaimana bisa kau punya anak? Dulu kau tidak mau punya anak denganku! Anak siapa itu katakan! Damian atau Diego?! Atau--"
"Atau apa?!" Leyka menyambar kalimat Valentino lalu ia kembali menyumpal mulutnya dengan Spidol dan ia merasakan hawa dingin menghampirinya dan benar, Valentino menghampiri Leyka karena tidak bisa menahan dirinya.
Valentino kembali menarik lengan Leyka dan menghimpitnya di papan tulis. Ia menekan kedua lengan Leyka yang masih menggenggam selotip dan kertas di tangannya.
"Hmmmppbbtthh-- Vaaaa!" pekik Leyka meronta dengan spidol di mulutnya, dan dadanya seakan meledak saat Valentino terdiam dengan senyuman dan mata biru keabu abuan itu menelanjangi wajahnya. Valentino mencondongkan wajahnya dan mengambil spidol itu dari mulut Leyka dengan mulutnya. Valentino membuangnya ke arah samping.
Oohh Shit, aku pikir dia akan menciumku.. Kau membuat jantungku berhenti berdetak, Val..
"Jawablah pertanyaanku, karena kau tidak mau punya anak dariku dulu. Sekarang kau punya anak dari laki laki lain" kata Valentino dengan nada melembut.
"Kau pikir aku siapa? Apa hak mu? Aku punya anak dengan siapapun, itu bukan urusanmu! Kita hanya orang asing! Kau bahkan melupakanku tadi pagi saat menabrakku dan mengapa kau sekarang mengingatku, ini baru beberapa jam dan kau mengingat segalanya?" Leyka terus menekan kepalanya, rasanya ia ingin menembus dinding itu dan melarikan diri dari Valentino yang kian menghimpitnya.
"Apa kau ingin masuk klinik untuk kedua kalinya seperti di Pretoria?" bisik Valentino dengan menempelkan bulu kasar disekitar mulutnya di telinga Leyka.
Leyka membulatkan matanya, ia meremang seketika, bahkan Damian tidak pernah membuat bulu kuduknya meremang sampai saat ini. Hati Leyka bergejolak, antara rasa inginnya dan juga rasa ngeri mengingat di kastil vampir, Castelo Di Monte, sehingga ia berakhir di klinik.
"Lepaskan aku! Baiklah! Baiklah! Dia bukan anak mereka!" Setengah mendorong tubuh Valentino, Leyka berhasil membuat jarak diantara mereka. Namun Valentino justru bengis menatapnya.
"Jadi siapa?" tanya Valentino dengan penuh penekanan.
"Setelah kau bersamaku kau menjalin hubungan dengan orang asing? Jadi kau tidak menikah dengan Diego atau tinggal satu rumah? Ya ya ya aku lupa-- Bukankah menjalin dengan orang asing itu adalah kebiasaanmu? Biarkan aku menebak, apa pria itu mencampakkanmu sehingga kau menjalin hubungan dengan Damian?" Valentino tersulut akhirnya, Ia emosi dengan sendirinya. Membayangkan Leyka memiliki anak dengan laki laki lain membuatnya buta.
"Val--
"Wanita Spanyol bukankah senang bermain dengan laki laki asing! Aku ingat dengan jelas! Kau ingin bebas! Kau menyukai kebebasan! Tapi lihat! Kau munafik! Kau menerima gelar bangsawan dan diangkat menjadi Putri Mahkota! Kau benar benar licik! Aku berkorban banyak untukmu, beruntungnya kau membayarnya dengan tubuhmu! Jadi aku tidak merasa rugi! Lalu kau berhubungan dengan pria asing hingga punya anak? Leyka, dengan pria Asing?" Dan Leyka sangat sakit mendengar perkataan demi perkataan yang tertuju padanya, Leyka bisa membaca bila ia memberitahukan yang sesungguhnya, Valentino tidak akan bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya.
"Iya! Dengan Pria Asing! Bagaimana jika aku mengatakan itu adalah Putramu?" Leykapun berusaha memancing. Ia berspekulasi.
"Hahahaha-- Itu tidak mungkin Leyka! Jangan menipuku atau membodohiku seperti pria lain. Aku tahu pasti bagaimana kita mencegahnya dengan ramuan terkuat Suku Xhosa!" kata Valentino menjauh satu langkah dengan kesal. Dadanya kian sesak, ia meledakkan emosinya dan kebencian yang tertanam selama 8 tahun, sulit rasanya untuk mengendalikan dirinya saat ini. Sementara Leyka seakan limbung mendengar jawaban Valentino, semua yang dipegangnya kini terburai dari tangannya dan berserakan di lantai.
"Val--
"Apakah kau sangat putus asa, Leyka? Sampai kau secara tidak langsung mengemis dan kau memakai tipuan licikmu! Kau ingin mencari Ayah untuk Putramu itu? Hanya pria bodoh seperti Damian yang mau!" Leyka semakin terluka mendengar penghinaan itu, kebenciannya semakin mengakar. Perkataan Valentino sangat menamparnya. Dadanya seakan penuh airmata yang merampas pernafasannya, berulang kali ia membuang nafasnya dengan kasar.
"Val--
"Aku bahkan tidak bisa mempercayaimu seujung kuku saja! Hanya karena Pria itu mencampakkanmu, kau bisa membodohiku? Kau penipu dan licik sejak pertama kali kita bertemu! Kau hanya menipuku! Apa kau ingat peraturan nomor 7 di kereta api The Blue Train? Buanglah sampah pada tempatnya Leyka Paquito! Dan kau ingat apa yang kau katakan padaku saat itu? 'Barang siapa bertengkar dan membuat keributan maka keduanya sudah mengganggu kenyamanan seluruh wisatawan di kereta ini, maka petugas akan menurunkan keduanya'-- Jadi jangan bercanda dan membuat omong kosong padaku!"
"Peraturan nomor 7? Kau bisa mengingatnya se detail itu?" Leyka kemudian mengingat perkataannya 8 tahun lalu. Ia mengarang sebuah peraturan agar ia terselamatkan dari kejaran petugas yang tak lain adalah sahabat Ayahnya. Helbert.
"Barang siapa bertengkar dan membuat keributan maka keduanya sudah mengganggu kenyamanan seluruh wisatawan di kereta ini, maka petugas akan menurunkan keduanya, sebentar lagi kita akan memasuki padang sabana dan mereka akan menurunkan kita disana lalu kita akan mati kehausan atau dimakan singa"
"Saat Pria itu mencampakkanmu, apa kau membuat sayembara dan si bodoh Damian mendaftar menjadi Ayah dari Putramu? Dan sekarang kau memberikan pengumuman sayembara itu kepadaku?"
Plaakk!!
Sangat keras! Leyka menampar Valentino sangat keras hingga ia mengetatkan rahangnya menahan panasnya tamparan itu. Airmata Leyka turun begitu saja, tanpa Valentino sadari kearogannya itu melukai harga diri seorang Leyka Paquito. Bangsawan Bar bar yang terluka oleh sebuah kesombongan pria asing yang berdiri di hadapannya. Dan dia adalah Ayah dari Train. Sosok yang selalu Train cari belakangan ini.
"Kau pikir aku akan menawarkannya padamu? Kau sangat berlebihan! Aku sangat mencintai pria bodoh bernama Damian tempatku bersandar! Dia Pria Asing yang sangat menghormatiku juga menghargaiku. Dan seandainya aku boleh memilih-- Aku juga tidak mau punya anak darimu Valentino Gallardiev!" dengan menangis Leykapun menyambar tasnya dan berlalu meninggalkan Valentino yang masih berdiri memegangi rahangnya.
Saat mencapai di ambang pintu, Leyka menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
"Yang kau lihat tadi namanya TRAIN, aku menamainya untuk mengenang mendiang Ayahku! Dan itu adalah anak dari Manuella dan Diego! Aku adalah Ibu Baptisnya! Yang di maksud Tia Dolores tadi adalah Putra Baptisku! Dari awal aku telah membohongimu! Dan KAU BENAR! Aku memang penipu! Karena itu, jangan pernah mempercayaiku sedikitpun bahkan sebutir debu yang tak terlihat! Dan satu lagi, kita tidak saling mengenal, begitulah seharusnya, Senor Gallardiev. Peganglah selalu kesan pertama yang kau berikan padaku, karena aku akan menggenggamnya sampai akhir! KITA HANYALAH ORANG ASING YANG PERNAH BERTEMU DAN TIDAK SALING MENGENAL!" suara Leyka sangat parau disela isakan tangisnya yang tertahan, ia pun melanjutkan langkahnya seiring airmatanya yang semakin deras berjatuhan.
__ADS_1
Biarlah seperti ini.. Berpikirlah dengan caramu.. Kau selalu menganggap rendah diriku.. Kau selalu mengedepankan emosimu.. Kau Valentino Gallardiev, kau tidak perlu tau siapa Train.. Karena kau hanya akan melukai perasaan Train, dan aku tidak akan pernah membiarkannya.. Kau menganggapku pembohong maka jadilah seperti yang kau katakan.. Kau harus ingat satu hal, yang kau tuduhkan, akan aku jadikan kebenaran.. Yang kau tuduhkan, aku akan sengaja lakukan.. Seharusnya kau mengingat karakterku yang satu ini, ketika aku menghadapi penindasan.. Kau tidak akan pernah tau siapa Train..
"Shit!!! Leyka menangis? Dia menangis?! Sepertinya aku salah bicara! Fu*ck! Aku menyinggung perasaannya! Shit! Apa yang aku lakukan! Ini obrolan yang tidak penting! Mengapa aku marah? Aku bodoh bodoh bodoh bodoh!" Valentino mengumpat kesal kemudian, ia pun berlari mengejar Leyka namun Leyka telah menghilang dari sekolah itu.
Aaaahh setidaknya aku lega.. Ternyata Leyka hanya memiliki Putra Baptis.. Huhh aku sangat lega..
-
-
-
Double P
"Maria, kau telah menutup kedainya?" Leyka mengerutkan alisnya saat melihat Maria duduk didepan kedai dengan menghisap rokok ditangannya. Gadis tomboy itu, menikmati waktunya dengan santai, menunggu Leyka, melihat lalu lalang jalanan siang itu, sambil mengibaskan topinya karena ia merasa panas dan berkeringat.
"Kau bilang kita menutupnya kalau roti habis terjual, lalu kita bisa membantu Tia Dolores" ujar Maria Fernandez mematikan rokoknya dan memperhatikan wajah Leyka yang matanya terlihat sembab.
"Apa rotinya habis terjual?" tanya Leyka lirih. Maria menghela nafas panjang. Ia tidak berani menduga tapi ia sedikit paham dan menaruh curiga dengan apa yang Leyka hadapi.
"Hmmpht-- Maria menghampiri Leyka dan merangkul pundaknya --Pria tadi membeli semua roti roti itu dan 50 cup kopi, pegawai proyek mengambilnya setelah itu ia pergi entah kemana. Aku rasa dia salah satu karyawan di proyek yang kalian lawan itu" ujar Maria masih merangkul pundak Leyka sambil menyeberang jalan menuju Distrik Miel.
Shit! Valentino! Apa maksudmu..
"Apa rapatmu berjalan lancar?" tanya Maria saat Leyka hanya tertegun tanpa mengomentari pria yang di maksud Maria dan itu adalah Valentino.
"Hmm" jawab Leyka tanpa mengangguk.
"Apa kau perlu bir hari ini? Kita bisa minum di bar milik Ramos setelah membantu Tia Dolores. Kita ajak Penelope, Pedro dan semua saudara sebaya kita" Maria tau Leyka sedang sedih. Dan ia sangat tau bagaimana alkohol menjadikan pelarian, Maria adalah sosok yang sebut "Setan" dalam keluarga Fernandez. Ia akan mengajak siapapun yang bersedih lari ke Bar milik Ramos. Ramos adalah tetangga Distrik Miel yang sudah seperti keluarga.
"Train akan marah" ujar Leyka lesu.
"Kita bisa merahasiakannya dari Train-- Ley, apa kau mau menghabiskan airmatamu?" Mereka pun menghentikan langkahnya di taman Distrik Miel, di rindangnya pepohonan yang menyejukkan, Leyka akhirnya memeluk Maria dan melanjutkan tangisnya.
"Dasar cengeng! Kau memerlukan 5 shot tequila" ejek Maria sambil mendekap Leyka dan menggoyangkan tubuhnya.
"Bodoh" ujar Leyka dengan memiring wajahnya dipundak Maria.
"Pria itu sangat mirip dengan Train-- untuk pertama kalinya dalam hidupku dan selama aku mengenalmu, aku melihat bola matamu berbinar-- Aku bahkan tidak pernah melihatnya saat kau bersama si Nazi itu" Leyka menghentikan tangisnya dan mengurai pelukan itu lalu memukul lengan Maria.
"Kenapa kau rasis sekali kepada Damian" ujar Leyka dengan mendengus dan ia berjalan mendahului Maria, sambil menyeka airmatanya.
"Karena Nazi membunuh Kakek dari Ibuku saat perang" kata Maria mengekor langkah Leyka dari belakang hingga mereka mencapai kolam air mancur di tengah tengah taman.
"Tidak semua orang Jerman itu Nazi, Hisshh!" ujar Leyka dengan sengit, hanya Maria yang menjuluki Nazi kepada Damian.
"Si si si, (iya) maafkan aku" ujar Maria Fernandez dengan terkekeh.
"Maria-- Pria itu. Aku sangat membencinya" kata Leyka menghentikan langkahnya di antara gemericiknya air kolam yang menyejukkan siang itu.
"Leyka, pikirkan Train. Jika kau membencinya, itu sama saja kau membenci Train-- Kau perlu di bersihkan pikiranmu dengan-- INIIIII!!" dan Maria memercikkan air kolam ke wajah Leyka, air kolam itu sangat kotor dan belum di bersihkan oleh pengelola gedung.
"Aaaaww Shit!!! Mariaaaa!!! Awas Kauuu!! Ini kotor, Shitt!" Leykapun menggulung kemejanya dan melempar tasnya di kursi yang dekat dengan kolam itu dan membalas perbuatan Maria, mereka saling berbalas dan membuat taman itu ricuh sehingga penghuni Distrik Miel melihat keseruan mereka.
"Wooo Leyka ini baju barukuu!"
"Kau yang mulai, bast*arda (baji*ngan-> wanita)!" Leykapun tertawa, mereka berlarian memutari kolam dengan air yang telah berwarna hijau, Maria berhasil mengubah kesedihan Leyka menjadi tawa. Maria salah satu keluarga Fernandez, berhasil mengalihkan! Sesaat.
Keluargamu itu, sangat hangat Leyka.. Pantas saja kau sangat bahagia.. Apa kau menangis karena ucapanku? Aku.. Aku harus minta maaf..
Valentinopun beranjak pergi dari kejauhan. Ia berlarian mencari Leyka dan berhasil mengikutinya hingga Distrik Miel. Maria melihat sosok pria yang memborong kopi dan semua roti roti itu, berlalu pergi. Maria tersenyum tipis.
Pria itu sangat mencintai Leyka, tapi mengapa membuat Leyka menangis sampai matanya bengkak.. Sebenarnya dia Pria baik.. Maria.
-
-
-
Pak Jokowi : Di kesempatan yang baik ini, ingin saya sampaikan : SABAR
(cek IG : @authorgendeng 👆👆👆)
__ADS_1
🤣🤣🤣🤣🤣🤣