
...ITALY...
Gadis cilik itu, berambut panjang dan bermata abu abu, berlarian dari ruang tengah menuju sebuah kamar yang terlihat berantakan. Satu koper terlihat terbalik di sisi almari dan satu koper terlihat terburai isinya berceceran dimana mana.
Seorang wanita tergolek dengan piyama melekat di tubuhnya dengan mata terpejam, ia tertidur pulas. Namun tubuhnya terguncang guncang oleh tangan mungil yang membangunkannya. Perlahan wanita itu memicingkan matanya dan pelan pelan ia membuka matanya lebar lebar saat gadis kecil itu menyalakan televisi.
"Mamma.. Mamma.. Mamma.. Bangunlah! Dai Mamma dai (ayo mama ayo; Italy),! Guarda Guarda (Lihatlah lihatlah; Italy) televisi! Mamma Mamma! Mereka semua berbohong! Uncle Jared, Papa Torres, Papaku berbohong! Mereka tidak ada di Madrid! Mereka di Barcelona!-- Sebentar Mamma sedang iklan!" gadis kecil itu menyambar remote televisi dan menekan salah satu tombol untuk menyalakan televisi.
"Ngg-hh, Elara Miuccia.. Pelankan suara televisinya!" kata wanita itu sambil menggeliat saat televisi menyala dan kebetulan saluran yang dimaksud gadis kecil itu masih menayangkan iklan. Ya gadis kecil itu adalah Elara Miuccia, Putri Baptis Valentino Gallardiev.
Miu terkejut saat ia mewarnai buku gambarnya di ruang tengah sambil menonton televisi, tiba tiba pengasuhnya memindahkan saluran televisi yang menayangkan berita yang sedang hangat dibicarakan di Negara Italy. Mengingat warga yang sedang ramai dibicarakan tersebut adalah warga berkebangsaan Italy. Miu yang tengah bersama seorang pengasuh akhirnya berlarian ke kamar untuk membangunkan Mamanya.
Dan berita itu kembali diputar setelah penayangan iklan. Wanita itu memunggungi televisi dan Miu berdiri disamping ranjangnya dengan menyeka airmatanya.
"Guarda Mamma (lihat Mama)!" wanita masih tidak bergeming, ia masih memunggungi Miu dan memilih memeluk guling untuk menyembunyikan matanya yang sembab dan bengkak karena ia menangis semalaman. Sesungguhnya wanita itu telah mengetahui kabar tersebut.
Repoter televisi pun membacakan isi berita, dan Miu melihatnya sambil menyeka pipinya, Miu menangis tersengguk sengguk, membuat wanita itu pun meneteskan airmata.
Sepasang suami istri terpisah selama delapan tahun lamanya dan kini bersatu kembali. Pemilik Locomotive Machine, Alfonso Gallardiev dengan bangga dan bahagia telah membenarkan kabar berita tersebut bahwa delapan tahun yang lalu Putranya Valentino Gallardiev dan Putri Mahkota dari Kerajaan Spanyol yang bergelar Felipe, tidak sengaja menikah di Afrika Selatan melalui sebuah pesta Pernikahan Massal. Kisah mereka menjadi sorotan dan menjadi perhatian dari berbagai kalangan. Banyak yang ingin tahu bagaimana peristiwa itu bisa terjadi dan banyak kalangan yang mempertanyakan kelalaian dari berbagai pihak. Namun yang menarik adalah video yang beredar dalam durasi tiga menit yaitu Valentino Gallardiev yang melamar ulang dan menyebarkan kertas fotocopyan dari Kedubes Afrika Selatan di Mansion Kerajaan Spanyol yang berada di Barcelona, video itu mendapat komentar positif dari jutaan warga Italy yang sangat mengapresiasi keberanian Valentino Gallardiev melakukan hal gila di Kerajaan Spanyol.
Kita akan menayangkan kembali cuplikan video itu, yang menggemparkan Italy saat ini.
"Kau adalah Istriku! Istri yang berpetualang ke Barcelona dan meninggalkanku di Johannesburg! Kau adalah LEYKA PAQUITO GALLARDIEV! Kau boleh menggunakan nama Fernandez dan Felipe setelah nama belakangku! GALLARDIEV! KAU MILIKKU SELAMANYA!"
Sangat mengesankan dan menakjubkan--
Wanita itu menyambar remote dari tangan Miu dan mematikan televisi lalu melempar remote itu kearah samping ranjang, menjauhkan remote itu dari Miu.
"Aaaa! Mama! Mengapa di matikan! Miu mau lihat Papa!" jerit Miu semakin menjadi jadi tangisannya. Lalu wanita itu bangun dan meraih tubuh Miu agar naik keranjang. Miu menurut. Kemudian wanita itu memeluk Miu dengan menangis tersedu. Ia tidak tega melihat Miu menangis dan memanggil Papanya, yaitu Valentino.
"Miu.. Berhentilah menangis, Mia Cara (sayangku ->wanita; Italy)" kata sang Mama sambil mengusap punggung Miu dan mendekapnya erat.
"Papa.. Papa.. Miu mau Papa! Mengapa Papa Torres dan Uncle Jared membohongi Miu? Papa telah menikah! Bagaimana dengan janjinya? Katanya, Papa akan menikahi Mamma! Dan kita akan bersama selamanya!" Miu membenamkan wajahnya di dada sang Mama yang tak terkira sedihnya melihat Putrinya menangis juga kekecewaannya karena sebuah kenyataan yang tidak pernah ia duga.
"Papa tidak pernah berjanji Miu! Papa hanya mengiyakan permintaan Miu karena Miu sakit saat itu" Miu yang berada di pelukan sang Mama, akhirnya dibawa berbaring lalu memeluknya erat.
"Itu sama saja! Itu sama saja! Papa! Miu mau Papa! Miu rindu Papa!" jerit Miu begitu kerasnya, sang Mama tidak tega melihat Putrinya sangat terluka seperti dirinya.
"Miu benar 'Mengiyakan' sama saja dengan 'Janji'! Maka Papa harus menepatinya!" kata sang Mama tidak pilihan selain membuat Miu tenang.
"Papa harus menepatinya!" Miu mendongakkan kepalanya kearah wajah sang Mama dan jemari lembut membelai menyingkirkan airmata Putrinya dengan airmata yang berderai.
"Miu bisakah Miu diam dan tidak menangis? Kita akan menagih janji itu ke Barcelona Miu" dengan kelembutannya Miu terdiam menghentikan tangisnya, dengan tersenyum sang Mama membelai rambut Miu lalu menciumnya.
"Benarkah Mama?" tanya Miu masik terisak lirih.
"Iya Miu kita akan membuat Papa menepati janjinya-- Dan Miu yang akan memintanya. Apa Miu mengerti? Apa Miu tahu apa yang akan Miu katakan?"
"Sì (iya; Italy & Spanyol) Mama-- Miu akan mengatakan bahwa Papa harus menepati janjinya" Melihat senyum dan kehangat mata sang Mama disertai belaian lembut jemarinya Miu merasa tenang. Ia pun menyeka pipi sang Mama dan itu meruntuhkan hati sang Mama.
"Anak pintar-- Apa kau mau sarapan dan ikut Mama ke kantor?" Miu mengangguk dengan tersenyum saat sang Mama bertanya kepadanya.
"Sì Mamma! Kapan kita berangkat ke Barcelona Mamma?" tanya Miu sambil menyeka mata dan hidungnya. Mata Miu bersinar terang saat itu, dan itu membuat sang Mama sangat terharu. Rasanya apa saja akan diberikan pada Putrinya, bahkan jika Miu meminta seluruh isi dunia ini.
"Setelah Mamma mengajukan beberapa desain Mama ke sebuah butik di Barcelona, Le Rosemary. Kantor Mama telah menyetujui Mamma ke Barcelona"
"Mamma sudah merencanakannya? Mamma sudah tahu kabar Papa?" sang Mama mengangguk, Miu menatap wajah Mamanya lekat lekat lalu memeluknya dengan erat.
"Sì, Mia Cara"
"Karena itulah mata Mama bengkak? Si Mamma (Iya kan Mama)?" sang Mama terkekeh sambil menciumi kening Miu lalu mengurai pelukannya.
"Hmmm-- Peluk Mama lebih erat lagi. Ti amo, Miuccia" kata sang Mama dan Miu kembali memeluk seeratnya.
"Ti Amo Mamma" balas Miu dengan lirih. Wanita itu mengajak Miu bangun dan di gendongnya keluar kamar menuju dapur. Sesaat ia menatap foto pernikahan yang dipajang di dinding, foto yang sama yang selalu Valentino pandangi ketika Valentino berkunjung ke Apartemen yang ditempati Miu dan sang Mama.
Kita akan ke Barcelona, menjemput Papamu.. Kita akan selalu bersama Miu. Mamma akan memberikan segalanya demi kebahagiaanmu.. Karena itu adalah janji Mamma.
-
-
-
...BARCELONA...
Malam itu, Apartemen Raja di penuhi beberapa keluarga Fernandez dan para sahabat juga orang terdekat pilihan Train. Selain orang tua Baptisnya Manuella dan juga Diego, ada Jared, Torres, Matthew, Alfredo serta tidak ketinggalan Henry juga Damian. Train tanpa seizin Leyka namun atas persetujuan Valentino dan Rosemary, Train mengundang mereka semua.
Valentino dan Rosemary bahkan tidak tahu maksud dan tujuan Train karena saat itu Train hanya berkata, "Mereka tidak tahu seperti apa Apartemen Raja, Daddy! Apartemen Raja tidak pernah kedatangan tamu selain Uncle Jared dan Torres! Kita hanya akan bersantai dan menonton video!" kata Train kala itu dan Valentino menyetujuinya di dukung Rosemary. Karena itulah Train mengundang satu persatu orang orang pilihannya.
"Kita bersantai saja di Apartemen Raja! Aku punya tontonan yang menarik! Kau akan rugi bila tidak datang" katanya Train saat mengundang melalui telepon. Leyka pun penasaran dan menutup Kedainya lebih awal karena tidak ada yang membantunya.
"Vamos Vamos (ayo)! Masuklah vamos rapido (ayo cepat)!" kata Train menarik tangan Pedro dan Simon, mereka adalah tamu terakhir. Semua saling menatap penuh tanda tanya dan sebagian bertanya lewat pandangan mata mereka, ada apa gerangan dengan Train hari ini dan sebagian besar menjawab dengan menggedikkan bahu dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Train berlarian kearah lemari pendingin didapur, ia mengambil keranjang dan mengeluarkan semua minuman kaleng yang sebagian ia ambil dari Apartemen Ratu. Rosemary yang tengah memotong buah dibantu Dolores hanya menggelengkan kepalanya. Train mendorong keranjang itu keruang tengah.
"Uhss! Kalian tidak mau membantuku!" gerutu Train ketika semua hanya melihat tingkahnya.
"Kami kan tamu" sahut Penelope dengan terkekeh. Manuella datang dari Apartemen Ratu dan membawa camilan. Train kembali berlarian ke dapur dan membawa beberapa bungkus keripik di dalam pelukannya. Keringat Train bercucuran dan Pedro membantunya.
"Pedro buka keripiknya seperti ini!" Dan letupan bungkus plastik dari keripik yang dipukul Train terdengar nyaring dan suara itu bersahutan seperti petasan saat Pedro, Penelope serta Simon mengikuti cara Train. Valentino yang keluar dari kamar hanya menggarukkan kepalanya, ia selesai mandi lalu menyapa semuanya.
Seharusnya malam ini, adalah malam pembakaran jagung bakar Afrika Selatanku karena seharian ini kita menghabiskan waktu bersama di taman hiburan bersama Train. Sedikit demi sedikit Istriku sudah mulai berani menciumku. Hahhhmm-- Putraku kelebihan energi, ia terlalu bahagia pergi ke taman hiburan bersamaku. Batin Valentino menghela nafas panjang.
"Semua sudah siap! Semua sudah bersantai! Aku akan menyetel video dan kita akan menontonnya! Aku sebenarnya sudah menonton! Ini sangat menarik dan sangat lucu! Melalui video ini kita akan mengetahui apa yang akan terjadi delapan tahun yang lalu! Ini sangat keren!" kata Train membuat semua bertanya tanya, namun Valentino membulatkan matanya.
Dengan cepat Train menyalakan televisi yang memiliki layar yang sangat besar dan televisi itu terhubung dengan video player. Kemudian Train memasukkan compact disk ke dalamnya, benda bulat tipis itu terdorong masuk ke dalam perangkat pemutarnya.
Dan sebuah tayangan Pernikahan Massal Valentino dan Leyka menjadi tontonan mereka. Video itu diambil oleh panita penyelenggara saat itu dan diberikan kepada semua peserta pasangan yang mengikuti Pernikahan Massal.
"Ahahaha-- Mommy Daddy tidak serius! Mirar (lihat; Spanyol)!" kata Train disela tawa semua orang. Valentino merasakan kebahagiaan Train bersama semua saudara dan para sahabatnya. Gelak tawa mereka memenuhi Apartemen Raja.
Leyka yang telah sampai di lantai tujuh dan memasuki ruang tamu hanya kebingungan saat melihat itu semua. Melihat Train yang tertawa dan terkadang melompat lincah membuat Leyka tersenyum.
"Mommy! Mommy! Vamos (ayo)! Kita semua menonton pernikahan Mommy dan Daddy!" Train yang menyadari kehadiran Leyka menarik tangan Leyka menuju ruang tengah dengan wajah memerah. Valentino terkesiap dan bangkit berdiri menyambut Leyka.
"Aku bersumpah ini bukan ide ku" kata Valentino sambil merangkul pundak Leyka lalu mencium pipinya wajah Leyka semakin memerah saat semua orang melihatnya dengan penuh tawa.
Mereka melihat bagian demi bagian kelucuan pasangan itu diantara semua pasangan lain terlihat serius. Train memegang kendali remote control pada DVD player itu, hingga tiba bagian Leyka berakting menangis Train mempercepat perkataan Leyka di Video itu.
Huuuaaaa Vaal... Akuu laparr.. Huaaa.. Aku mau makaann.. Aku bisa kurus Val----
"Hei, Mi Nieto, kenapa dipercepat? Mommy mengatakan apa?" tanya Alfredo.
"No No No!"
"Si! Mengapa dipercepat?" tanya Torres.
"No No No! Ada perkataan yang tidak boleh di dengar oleh orang dewasa! Ahahaha!" Jawab Train sambil tertawa riang.
"Hahh?? Bukannya terbalik? Kau setan cilik yang justru tidak boleh!" ujar Penelope dengan sengit berusaha merebut remote dari tangan Train dan Train berlarian menghindarinya.
"Tapi itu bisa berbahaya bagi orang dewasa! Bagiku tidak! Pokoknya tidak boleh mendengar perkataan Mommyku!" kata Train kembali menekan tombol di remote control, melanjutkan menonton pernikahan massal.
"Apa kau masih ingat?" bisik Valentino di telinga Leyka. Valentino membawa Leyka duduk di pangkuannya dengan mendekap perutnya, mengingat Apartemen Raja kekurangan kursi. Sebagian bahkan duduk di karpet, malam itu benar benar malam bersantai seperti keinginan Train.
"Si aku ingat" jawab Leyka berbalas berbisik.
"Tentang bokongmu yang indah" bisik Valentino disela sela riuhnya tawa mereka semua dan Leyka memalingkan wajahnya dengan pipi hingga telinganya memerah. Valetino tersenyum dan mencium pundak Leyka.
"Train tidak mengatakan apapun, dia hanya mengatakan kepada semua orang untuk menikmati malam bersantai di Apartemen Raja" jawab Valentino sambil mencium Leyka yang mulai gelisah.
"Yeaayy! Ini semua ide Train! Ahahaha-- Mirar(lihat)! Wanita wanita dari suku itu menangis karena akting Mommy! Ahahaha!" semua tertawa terbahak dan Leyka hanya terdiam menikmati kumis dan jambang Valentino yang merayapi pundaknya, menusuk nusuk dibalik kaos yang membalut tubuhnya.
"Mirar! Ini Adegan terakhir yang aku suka, Daddy berlutut dan Mommy pura pura menangis lagi! Train tidak akan mempercepat videonya!" Semua kembali terbahak melihat Leyka menangis. Train tertawa rianh dan melompat lompat dengan lincah.
"Huaaaa Mommy.. Aku lapaar! Ahahaha!" Train terbahak kemudian diikuti yang lainnya. Leyka mendelik kearah Train yang melompat kearahnya untuk menggodanya.
"Huaaaaa Mariaaa.. Akuuu lapaaar.. Aku milikmuu.. Huaaaa!" Matthew berakting menangis, kemudian terbahak sambil mencubiti pipi Maria dan semua mengikuti Train.
"Huaaaa Damiaann.. Aku lapar.. Huaaa!" Henry yang tak memiliki pasangan turut ikut andil dalam akting Leyka.
"Hei aku bukan pasanganmu Henry! Menjijikkan!" Damian mendengus ketika melihat Henry berakting menangis kearahnya.
"Huaaa Peneeelovee loveee.. Akuu lapar.. Huaa!" Torres tidak mau ketinggalan.
"Hehh! Namaku Penelope bukan Penelove love!" Torres terbahak kemudian saat Penelope melempar bantal kearahnya.
"Huaaaaa--- suara Simon yang paling keras tiba tiba terhenti karena Pedro membungkamnya menggunakan bantal.
"Diaamm! Tidak usah ikut ikut!" seru Pedro membuat semua tertawa.
"Huaaaa Rosemary... Akuuu..
"Apaa" potong Rosemary menjawab dengan lembut, namun Alfredo kembali gugup dan salah tingkah.
"Akk..Akuu ke toilet dulu, Rosemary" Alfredo bangkit berdiri sembari tersenyum dengan wajah memerah dan tergesa gesa menuju toilet yang berada di dapur. Semua tertawa melihatnya.
Apartemen Raja terlihat riuh di malam santai itu. Malam yang membuat Leyka kembali merasa malu. Obrolan demi obrolan bergulir, Leyka yang nyaman tiduran dipangkuan Valentino seperti mendapatkan cerita dongeng dan tertidur pulas.
"Mengapa Leyka belakangan ini selalu tidur lebih awal? Apa dia menghindarimu?" tanya Manuella.
"Menghindariku?" Valentino mengernyitkan alisnya dan menatap Leyka yang tidur di pangkuannya.
"Menghindarimu untuk tidur bersama. Aku dengar kau belum menyentuhnya" kata Manuella dengan mengerlingkan matanya sembari terkekeh.
__ADS_1
"Ak-Aku hanya tidak mau memaksanya. Aku ingin Leyka mengatasi kecanggungannya dan memberi waktu menerima kenyataan. Aku tidak bisa memaksanya. Dia tidak ehm-- Menyuruhku tidur didalam kamar" kata Valentino sambil menurunkan nada suaranya.
"Apa? Jadi selama ini kau tidur diluar?" tanya Manuella menghentikan tawanya dan mulai mendengarkan pengakuan serius dari Valentino.
"Di sofa ini aku selalu tidur bersama kecuali semalam sehabis pesta pernikahanmu-- kita tidur bersama Train dikamar" tutur Valentino membuat Manuella manggut manggut.
Hmm.. Jadi Mommy dan Daddy terpisah bila malam? Aku harus membuat mereka semakin akrab.. Lihat saja. Batin Train tak sengaja mendengar percakapan mereka.
-
-
-
...LOCOMOTIVE MACHINE...
Leyka memasuki ruangan Valentino setelah Torres membuka pintu untuknya. Wajahnya yang terlihat canggung membuat Valentino duduk tegap setelah melihat Istrinya datang.
"Selamat siang Istriku?" sapa Valentino dengan senyum menawan. Valentino semakin suka menggoda Leyka yang masih malu kepadanya.
"Hishh-- Tidak usah menggodaku" kata Leyka dengan melembut, ia melirik kearah Jared dan Torres yang tengah berbicara serius dengan Bonita, tamu dari Pemerintah Kota.
"Katakan apa yang kau inginkan-- kemarilah" kata Valentino dengan senyum khasnya sambil merentangkan tangannya lalu menepuk pahanya, sebuah tanda agar Leyka duduk di pangkuannya.
"Isshh, tidak mau. Disini saja. Aku buru buru" ujar Leyka berdiri di seberang meja Valentino. Wajah Leyka memerah karena Torres menahan senyum saat melihat kearahnya.
"Baiklah, apa kau merindukan?" goda Valentino.
"Hisshh-- Tidak akan pernah! Sekolah Esperanza mengajukan satu gudang lagi dan beberapa meja, saat itu aku mengajukan kepada Jared dan Jared mengatakan kau sedang berada di Madrid. Tapi ternyata kau di rumah sakit terkena serangan jantung-- Cihh, kedua budak setanmu itu membohongiku" kata Leyka dan kedua budak setan itu menoleh kearahnya tak terkecuali Bonita.
"Ahh iya aku telah menyetujuinya" sahut Jared dari kejauhan.
"Biarkan aku mengantarmu ke Basement" kata Torres bangkit berdiri dan disaat yang sama Valentino bangkit berdiri, menendang kursi yang memiliki roda di kakinya kearah Torres dan Torres menangkap dengan kakinya.
"Jangan macam macam! Besok besok kursi itu bisa terbang ke wajahmu!" Torres hanya tergelak melihatnya, mendengar Valentino mengancamnya. Kemudian Valentino menyambar tangan Leyka dan dibawanya pergi menuju Basement.
Valentino terus menggandeng tangan Leyka, menyusuri lorong di lantai sepuluh. Lalu mereka memasuki lift dan Valentino tiba tiba mencium pelipis Leyka.
"Val, ini-- Ini di sekolah" Leyka melepaskan genggaman tangan Valentino dan menahan tubuhnya.
"Ini di gedung Locomotive Machine milik Suamimu, Il mio amore (cintaku)" bisik Valentino sambil mencium telinga Leyka.
"Shh.. Val, tidak boleh! Hissh! Aku guru Val!" Leyka mendorong dada Valentino, namun Valentino merengkuh pundak Leyka hingga dorongan itu terasa percuma karena Leyka justru masuk kedalam pelukannya.
"Dan aku suamimu" bisik Valentino lagi sambil tersenyum hangat dan menatap mata Leyka dengan segala pesonanya.
"Kau berdebar, Il mio amore?" bisik Valentino seraya menggesekkan hidungnya di puncak hidung Leyka.
"Ti-Tidak" Valentino tersenyum mendengarnya lalu melepaskan cengkeramannya.
"Sampai kapan kau mengatakan iya dan sampai kapan kau menahannya? Sampai kapan kau tidak mau ku sentuh? Sampai kapan kau tidak mau melayaniku diranjang?" Valentino pun merapikan letak dasinya dengan menghela nafas berat.
"Aku tidak berdebar dan aku tidak menahan apapun-- Cihh, mengapa hanya itu yang kau pikirkan" kata Leyka membuat Valentino tak menoleh sedikitpun, mata Valentino tertuju pada angka di dinding lift yang terus bergerak ke angka yang menghitung mundur. Lift itu terus turun.
"Aku belum tuli untuk mendengar detak jantungmu, tapi tenanglah, aku tidak akan memaksamu, ehemm.. Ehm, sebentar lagi kita sampai" kata Valentino menjauh satu langkah dengan bersedekap wajahnya berubah dingin, dan hati Leyka semakin tak menentu.
Mereka keluar lift dengan berjarak, menuju basement melalui anak tangga darurat yang berada dilantai satu. Train yang selesai mengerjakan tugas terlebih dahulu, keluar dari kelasnya. Ia melihat langkah kaki kedua orangtuanya yang memperlihatkan wajah dingin, lalu Train mengikutinya.
Saat mereka mencapai basement, Valentino menuju ruang keamanan yang kosong tanpa petugas yang menjaga basement. Seharusnya ada satu orang petugas keamanan yang bertugas digudang basement. Valentino mengabaikannya lalu mengambil kunci gudang yang berada di ruang keamanan. Valentino membuka pintunya.
"Masuklah, pilihlah meja kursi atau apapun yang kau butuhkan. Disebelah gudang ini ada gudang dan banyak loker disana, sekolah Esperanza bisa memakainya" kata Valentino dengan sikap dinginnya. Ia menjauhi Leyka dan memilih memeriksa barang barang yang layak pakai.
"Bagaimana jika aku memilih gudang ini saja? Ini aksesnya lebih mudah" tanya Leyka mengikuti langkah Valentino yang semakin menjauh dan berputar putar di gudang itu.
"Kau tidak perlu meminta izin dariku. Karena kau Istriku, kau pemilik apapun yang aku miliki" kata Valentino menoleh dan menatap Leyka yang berdiri terpaku dibelakangnya, dengan mata membulat.
Pasalnya, seseorang menutup pintu dan terdengar kunci berputar dari luar. Leyka berjalan kearah pintu dan berusaha menarik daun pintu tapi nihil! Pintu itu terkunci!
Ahahaha..
"Tawa khas itu! Train mengunci kita!" kata Leyka saat mendengar langkah kaki kecil menjauh dengan tawa lirih yang ditahan Setan Cilik itu.
"Ssssttt" Valentino justru meletakan jari telunjuk dibibirnya dan meminta Leyka mendekat dengan mengendap endap saat Valentino mendengar suara yang sangat aneh dari dalam gudang sebelah.
Aaahhhhh... Uuhhhmmmm..
Shhhh.. Aaahhh.. Fasterrr.. Carinhooo... Yeaaahh..
Mata mereka membulat secara bersamaan.
-
-
__ADS_1
-