
Kedai Double P
"Apa kalian tau Leyka dan Valentino berada?" tanya Manuella pada siapa saja yang berada di Kedai Double P dengan wajah yang diliputi kecemasan.
"Aku tidak tahu" jawab Penelope dengan menggedikkan bahunya disertai Simon yang menggelengkan kepalanya.
"Pedro? Apa kau tahu? Ada hal penting yang ingin aku sampaikan.. Ckk.. Huh.. Leyka tidak membawa ponselnya.. Aku menyusul ke butik tapi Leyka sudah pergi" kata Manuella dengan berjalan mondar mandir di depan meja bartender dimana Pedro tengah menyiapkan satu kotak bekal makan siang untuk Miu.
"Bukankah kau sahabatnya? Sepertinya aku tahu apa yang akan kau sampaikan" kata Pedro dengan nada yang tidak biasanya. Begitu dingin dan terdengar tegas.
Setelah apa yang ia alami pagi itu di Distrik Golden, setelah ia tak sengaja mendengar pertikaian antara Valentino dan Pallazo, Pedro menduga - duga apa yang membuat Manuella gusar. Tentu saja Pedro tidak tuli saat mendengar pertengkaran yang terjadi antara Valentino dan Pallazo serta kehadiran Elara Miuccia. Pedro merangkai kepingan puzzle demi puzzle dan mengolahnya menjadi sebuah opini tersendiri yang memenuhi isi kepalanya.
"Pedro? Apa maksudmu?" tanya Manuella menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di hadapan Pedro namun terhalang oleh meja bartender.
"Dari sikapmu dan wajahmu kau pasti sudah bertemu Angelita, sangat kebetulan dia bersahabat dengan Train di Daycare. Elara Miuccia" ujar Pedro membuat Manuella membulatkan matanya.
"Angelita? Jadi kau.. Jadi Angelita yang selama ini kau temui adalah--
"Benar! Elara Miuccia dan jika aku tidak salah menduga dia adalah Putri Valentino Gallardiev!" sahut Pedro memotong perkataan Manuella dengan secepat kilat. Perkataan Pedro membuat mata Manuella semakin terbeliak di sertai tatapan dari Penelope dan Simon yang turut terkejut mendengar perkataan Pedro.
"Apa maksudmu Pedro?!" tanya Penelope seraya melemparkan kain lap pembersih lalu berjalan mendekati Pedro.
"Tanyakan saja pada Manuella! Sang Ibu Baptis yang nyaris membunuh Putranya sendiri yaitu Train delapan tahun yang lalu!" ujar Pedro dengan ketus disertai mengurai tali celemek bartendernya setelah ia menutup rapat kotak bekal untuk Angelita. Begitulah Pedro menyebut Elara Miuccia.
Siang itu, disela kesibukannya Pedro berjanji mengantarkan kotak bekal makan siang untuk Miu. Pedro harus kembali ke Daycare karena Miu akan bercerita hal yang belum ia ceritakan dan Pedro sudah menduga bahwa itu tentang Ayahnya yaitu Valentino Gallaediev.
"Pedro jaga bicaramu! Manuella sedang hamil! Kau menyakiti perasaannya!" tegur Penelope seketika seraya menepuk tengkuk leher Pedro. Sikap tomboi Penelope membuat Pedro terdiam sementara Manuella telah meleleh airmatanya.
"Tidak apa apa Penelope. Aku baik baik saja. Aku memang bersalah. Dan aku terbiasa mendengar perkataan pedas dari Keluarga Fernandez sejak aku menginjakkan kakiku di Barcelona. Aku tahu awalnya kalian tidak suka melihat kedekatanku dengan Leyka. Bila tidak ada Tia Dolores kalian tidak akan menerimaku. Tapi untuk saat ini abaikan perasaanku, pikirkan perasaan Leyka jika mengetahui Angelita yang selama ini kau bicarakan ternyata Putri Valentino. Dan parahnya adalah anak itu ada di Barcelona bersama Ibunya yang selalu merepotkan dirimu. Firasatku mulai tidak enak. Ada yang ingin mengganggu kebahagiaan sahabatku karena itu aku harus tau Valentino membawa Leyka kemana agar aku bisa mengatakan apa yang aku lihat pagi ini" ujar Manuella seraya menyeka airmata yang menuruni pipinya.
Manuella membuat Pedro tak enak hatinya. Ada rasa penyesalan dibalik sorot matanya setelah menuding Manuella hampir menjadi pembunuh Train, ia lupa bahwa Manuella tengah berbadan dua. Selain hormon wanita hamil yang bergejolak, Manuella sudah pasti akan merasa bersalah bila di singgung kejadian delapan tahun yang lalu.
"Aku dengar mereka akan makan malam, Valentino membawa Leyka dan Train menginap di Hotel di pesisir pantai Barcelona. Valentino akan memberi kejutan. Setidaknya itulah yang dikatakan Train si mulut bocor itu.. Hahaha, ia mengatakan pada semua orang di Distrik Miel! Cari saja hotel yang paling mewah disana, Hotel W adalah selera Valentino si sombong itu" ujar Penelope seraya menghampiri Manuella dengan tergelak sumbang untuk mencairkan suasana siang itu.
"Aku akan kesana, aku akan menyusulnya. Penelope, terima kasih atas infonya.. Aku terlalu sibuk belakangan ini sampai tidak tau Putraku bergosip apa saja di Distrik Miel" kata Manuella bergegas menyambar tas yang sebelumnya ia letakkan di meja. Namun sesaat ia teringat sesuatu lalu Manuella menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Pedro.
"Pedro memang benar aku yang menyebabkan Leyka kecelakaan delapan tahun yang lalu, tapi semua didasari karena rasa sayangku dan satu hal-- Manuella menghela nafas panjang lalu melanjutkan perkataannya --Penyebabnya adalah Ibunya Elara Miuccia. Dia mengirim sebuah foto bayi dari Italy dan mengatakan sebuah kebenaran bahwa Valentino sudah memiliki seorang putri. Dia menyakiti Leyka dan menghancurkan perasaannya. Aku ingin memberimu saran, sebaiknya kau berhati hati padanya karena aku yakin dia hanya memanfaatkanmu. Adios (selamat tinggal)" ujar Manuella melanjutkan langkahnya dan bergegas pergi meninggalkan Kedai Double P. Manuella masih berusaha keras menelepon Valentino agar terhubung dengan Leyka.
"Ceritakan apa yang terjadi! Atau aku akan meremukkan rahangmu! Karena bila wanitamu menyakiti Leyka kau tau apa yang sanggup aku lakukan! Aku bisa membuatnya punah dari Barcelona selamanya!" seru Penelope melempar kain pembersih ke wajah Pedro seraya duduk meja barista.
"Dan sudah pasti aku di belakangmu Penelope!" sahut Simon melepas celemeknya dan mendekati keduanya.
"Shitttt! Dia bukan wanitaku!" kilah Pedro dengan cepat.
"Lalu mengapa dia selalu mengganggumu dan kau selalu tidak bisa menolaknya?!" tanya Penelope dengan nada ketus.
"Karena anak itu, Penelope! Karena mata dan rambut anak itu mirip dengan seseorang yang sangat aku cintai! Selain itu, aku yang diberi tanggung jawab untuk mengurus Apartemen Senor (Tuan) Sachez! Bukan karena Ibunya tapi karena anak itu selalu hangat dan lembut kepadaku" kata Pedro melembut pada akhirnya. Ia mengusap wajahnya dengan gusar lalu ia memasukkan kotak bekal untuk Miu ke dalam papperbag.
"Ckk.. Alasan di terima. Lalu ceritakan semua yang terjadi dan yang kau tau" ujar Simon seraya menarik kursi kayu lalu duduk.
Pedro menghela nafas panjang, ia merentangkan kedua tangannya di meja bartender dan mencondongkan tubuhnya ke depan. Kemudian Pedro mulai bercerita tentang segalanya, tentang kepingan puzzle dari delapan tahun yang lalu dan menghubungkannya hingga pertemuannya dengan Elara Miuccia dan Ibunya. Rasanya ia enggan untuk duduk bersantai, perkataan Manuella sangat mengganggunya.
Pallazo.. Apakah dia sejahat itu? Shitttt. Pikir Pedro bertanya tanya dalam benaknya.
-
-
-
__ADS_1
Hotel W Barcelona
Leyka mendorong wajahnya kearah aroma nafas maskulin yang menyeruak lalu ia memiringkan wajahnya, kemudian Leyka memejamkan kedua matanya dan melu*mat bibir Valentino yang dikelilingi bulu - bulu kasar. Tangannya yang lembut mulai merayapi bulu kasar di rahang Valentino seiring liarnya bibir manisnya mema*gut lembut menerobos mulut Valentino yang masih kelu lidahnya. Kemudian Valentino membalasnya, membalas lebih dari yang Leyka lakukan.
Angin dingin di musim gugur berhembus perlahan walaupun matahari terlihat sangat terik. Angin itu dengan lembut menerbangkan anak rambut Leyka nan berkeriap memenuhi wajah Valentino yang tenggelam kian dalam pada wajah Leyka yang merona siang itu. Tangan kekarnya tak mampu meraup keriapan rambut Leyka yang mengeluarkan wangi yang khas. Aroma wangi yang mengingatkannya pada kelembutan Leyka di Pretoria. Dengan kedua tangan kekarnya, Valentino membopong Leyka menuju kamar yang menghadap ke laut. Ciuman itu tak juga terurai, karena Leykapun enggan melepaskan sedikitpun.
Valentino menurunkan tubuh Leyka di tepian ranjang, kemudian ia mengurai ciumannya lalu melepaskan mantel Leyka dan melemparnya begitu saja. Valentinopun menahan pinggang Leyka dan mendorongnya perlahan agar Leyka duduk di tepian ranjang kemudian ia berlutut. Senyum dan tatapannya terlihat hangat sekaligus menggetarkan hati Leyka ketika Valentino melepaskan alas kaki Leyka dengan penuh kelembutan.
"Kaki ini sangat lincah ketika berlari di rimbunnya kebun anggur di Pretoria. Saat kita berlarian disana, aku hanya melihat kaki ini dan aku berkata dalam hatiku, bahwa aku akan mengikuti kaki ini berlarian kemanapun" ujar Valentino seraya menciumi lutut Leyka ketika melepas alas kaki Leyka secara bergantian.
"Tapi mengapa kakimu berhenti di Johhanesburg dan kita berpisah disana?" tanya Leyka mengulum senyum dibibirnya.
"Tapi kau adalah takdirku Leyka, kemanapun kau pergi, sejauh apapun kau berlari, takdir akan selalu mempertemukan kita sekalipun kau hempaskan aku sejauh mungkin" ujar Valentino seraya melucuti dress yang melekat di tubuh Leyka. Valentino menatap takjub pemandangan yang menampakkan perut Leyka yang tak rata lagi. Dengan segenap perasaannya Valentino membelainya kemudian membenamkan wajahnya disana. Menciuminya dengan mata terpejam dan menggesekkan hidung pinokionya perlahan lahan.
"Sepertinya kau telah membelenggu kakiku dan aku tidak akan pernah bisa berlari menjauh darimu lagi-- Val, te quiero (aku mencintaimu)" bisik Leyka sesekali menahan nafasnya saat hidung dan barisan bulu - bulu kasar di dagu Valentino bermain di perutnya.
"Katakan sekali lagi dan sebut namaku" bisik Valentino seraya mengangkat wajahnya dan menatap dalam mata Leyka.
"Te quiero, Valentino Gallardiev. Te quiero" ujar Leyka nyaris berbisik seraya membelai wajah Valentino dengan penuh kelembutan. Valentino mendorong wajahnya untuk mengecup lembut bibir Leyka sesaat.
"Te quiero, Leyka Paquito" bisik Valentino dengan tersenyum hangat, wajahnya memerah namun mata biru itu terlihat menatap Leyka dengan lembut dan berbinar diterpa cahaya matahari yang menerobos masuk melalui dinding kaca yang membentang di kamar yang menghadap kearah lautan lepas.
Valentinopun mendorong tubuh Leyka yang masih duduk di tepian ranjang secara perlahan agar merebah, kemudian Valentino bangkit berdiri dan berjalan mengitari ranjang seraya melucuti satu demi satu pakaian yang melekat pada tubuh tegapnya. Pandangan Leyka tak lepas dari aksi Valentino yang berdiri menjauh diseberang ranjang justru berlawanan arah dari tubuhnya yang tergolek diranjang berbentuk bulat nan eksotis.
Leyka mendongakkan kepalanya keatas, menatap kearah dimana Valentino berdiri. Leyka menatapnya lekat lekat tanpa berkedip tubuh tegap Valentino tanpa balutan apapun. Tubuh tegap nan atletis tak banyak berubah sekalipun waktu menggerus usianya, pikir Leyka.
Wajah mereka bertemu, sejurus pandangan Valentino adalah bibir sensual Leyka yang terbalik dan setengah terbuka, pun sejurus pandangan Leyka adalah rahang Valentino yang dipenuhi bulu bulu kasar.
Perlahan Leyka membelainya, merayapi wajah Valentino yang terbalik diatas wajahnya. Kemudian Valentino melu*mat perlahan bibir sensual Leyka yang terbalik dari pandangannya. Bila digambarkan mereka melakukan ciuman ala spiderman, hanya bedanya tubuh Valentino tidak tergantung di dinding melainkan merayapi tubuh Leyka yang merebah pasrah di ranjang dalam buaiannya.
Tangan Valentino mulai melucuti penutup dada lalu melemparnya menjauh, penutup dada yang membungkus buah dada Leyka yang terlihat padat dan kian membesar dari hari ke harinya. Putih, mulus dan berkilau bak pualam yang menggunung. Valentino membelainya dengan lembut dan sesekali mengusap puncak buah dadanya dengan lingkar merah jambu yang menggairahkan.
"Ngghhh.. Val" lenguh Leyka disela - sela pagu*tan demi hisa*pan Valentino yang semakin liar.
Valentino terus mendorong tubuhnya maju, mendaki dan meniti buah dada Leyka dengan nafasnya yang kian memburu. Diraupnya lalu ia melahapnya bagian demi bagian hingga tanda kemerahan tertinggal disana. Satu tangannya kian liar menjalari perut Leyka yang kian menyembul kemudian mere*mass bok*ong Leyka lalu mendorong underwear berenda yang berwarna senada dengan penutup dadanya. Leyka pun melepasnya dan melemparnya begitu saja. Valentino terus meniti naik diatas tubuh Leyka yang terbalik menuju keindahan yang ditawarkan dunia untuk direguknya.
Valentino memben*tangkan kedua paha Leyka lalu melu*mat dengan lembut irisan buah peach yang menawan hatinya. Begitulah Valentino menjulukinya milik Leyka yang begitu ranum bak buah peach di musim semi.
Leykapun tak kalah aksinya, ketika milik Valentino yang menjulang melewati wajahnya, bak jagung bakar Afrika Selatan. Leyka menangkapnya, mengusapnya perlahan lalu mengu*lumnya dengan lembut. Mata biru itu terbeliak ketika tengah menikmati milik Leyka, hingga des*ahan dan er*angan terdengar bersahutan begitu menggetarkan kalbu siapapun yang mendengarnya.
"Arrghh.. Leyka.. Shhh.. Ahhhh" Valentino mengerang disela melu*mat milik Leyka saat Valentino merasakan lidah Leyka yang memainkan dan mengu*lum miliknya dengan lembut diiringi nafas Leyka yang kian menghangat.
Mereka saling melu*mat, saling menghi*sap, saling memainkan lidahnya, saling merin*tih menahan kenikmatan yang meluap seiring deburan ombak yang terdengar sayup sayup di kejauhan. Suasana itu membuat Valentino ingin melakukan lebih, ia pun mengurai pergumulan itu dan ia memutar tubuhnya menghadap kearah Leyka kemudian menindihnya.
"Kau cantik sekali, Leyka.. Bahkan lebih cantik dari sebelumnya.. Kau sangat sexy" bisik Valentino seraya mendorong tubuhnya maju kedepan untuk mengecup kening Leyka. Valentinopun menghentikan gerakan wajahnya tepat dihadapan wajah Leyka yang menatap sayu kepadanya namun menguntai senyuman manis nan ayu. Valentino tergetar hatinya melihat keindahan itu.
"Sementara kau semakin tampan.. Kau sering tersenyum dibandingkan dulu.. Aku justru tidak percaya diri dengan tubuhku yang-- Valentino buru buru meletakkan jemari telunjuknya di bibir Leyka untuk menghentikan perkataannya.
"Ssttt-- kau sangat sexy dan menggemaskan. Aku mencintaimu selamanya.. Kau adalah nafasku.. Aku mencintaimu apapun bentuk tubuhmu.. Aku mencintai hatimu dan setiap inci lekuk tubuhmu" bisik Valentino ditelinga Leyka lalu merayapi leher jenjang itu dengan hidung pinokionya dan membuat Leyka terkekeh lembut.
Leykapun merayapi wajah Valentino lalu meraih wajah Valentino dengan kedua tangannya lalu mengarahkan kembali ke posisi semula yaitu tepat sejengkal dari pandangannya. Perlahan Leyka membelai rahang Valentino yang dipenuhi bulu bulu kasar dengan senyum manisnya dan binaran bola matanya yang menyejukkan hati Valentino, meluruhkan gunung es yang menjulang berlaksa - laksa.
"Hati hati dengan senyumanmu.. El toro guapo (banteng yang tampan)-- tutur Leyka lirih seraya merayapi bibir Valentino dengan sentuhan lembut jemari tangannya --y (dan).... Poderoso (perkasa)" lanjut Leyka dengan bisikan dan semakin membuat hati Valentino berdebar - debar.
__ADS_1
Leyka kembali mencondongkan wajahnya kearah bibir Valentino kemudian melu*mat habis bibir Valentino yang terlihat tersenyum samar samar seiring Leyka menautkan satu kakinya ke pinggang Valentino.
Tanpa ampun Valentino membalasnya dengan tak kalah panas. Ia menekan kepala Leyka dan membalas ciuman itu seraya memasukkan miliknya perlahan lahan hanya dengan menggerakan pinggulnya mencari irisan buah peach yang telah memanas dan terasa basah. Tanpa mengarahkan dengan tangan kokohnya, Valentino terus menerjang milik Leyka.
"Ahhhh Vall!" Leyka menjerit lirih ketika milik Valentino memasuki miliknya perlahan lahan dan memenuhinya hingga rasanya sangat sesak.
"Aarghh.. Leyka!-- dan desa*han Valentino terdengar lirih namun tertahan. Milik Leyka seakan memanas dan menghimpit miliknya. Valentino semakin terbakar tubuhnya, hingga terlihat memerah.
"Aaaaaaa.... Vaall!" Leyka mengurai cepat ciuman panas itu dan menggigit bibirnya saat milik Valentino si jagung bakar Afrika Selatan seutuhnya melesak ke dalam miliknya pun seiring Valentino mendorong tubuhnya menjauh dan menahan bobot tubuhnya agar tak menyakiti munequita, si janin kecil yang kini menempati rahim Leyka. Lalu Valentino memacu milik Leyka perlahan, yaitu membuat gerakan maju mundur pada pinggulnya dengan melambat.
Lenguhan, des*ahan dan rintihan terdengar lembut seiring camar laut berkicau menderu di desiran ombak. Sesekali mata mereka terpejam dan sesekali mereka saling pandang dengan rasa cinta terpancar membias disayunya mata mereka saat beradu.
"Aahhh Vall... Aahhhh Aaaa... Shhh.. Val" rin*tih Leyka di titik puncaknya.
"Oughhh.. Arrghh Leyka.. Aaahhh.. Aaahhh!" di susul er*angan Valentino.
Sentuhan lembut, goresan dipunggung Valentino diiringi lenguhan panjang Leyka disusul erangan Valentino terdengar hampir bersamaan menuju titik puncak hasrat mereka. Keringat mengalir, diiringi senyuman, disertai nafas yang terengah - engah setelah Leyka melepas gigitan manisnya di pundak Valentino pun seiring Valentino melepas cengkeraman tangannya dari lembutnya rambut Leyka.
Valentino pun menghempaskan tubuhnya ke samping dengan posisi tengkurap, seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh Leyka. Mereka saling menatap begitu teduhnya lalu mereka saling melemparkan senyuman. Leyka masih meringkuk menghadap kearah Valentino, jemarinya membelai pipi Valentino, menyeka buliran keringat diwajah tampan itu.
"Ley.. Aku akan memberimu sebuah kejutan yang tidak pernah akan kau lupakan, kejutan yang akan kau ingat selamanya" ujar Valentino seraya menyelipkan sulur rambut Leyka ke belakang telinganya dengan rasa kagum. Lalu ia mengecup kening Leyka seraya merapatkan jaraknya, mendekap tubuh Leyka yang masih saja ramping walaupun tengah berbadan dua.
"Apa itu.. Ckk, jangan membuatku penasaran" kata seraya mencubit cubit pipi Valentino dengan gemas.
"Kau harus sabar menunggu.. Karena aku ingin kau dan Train mengingatnya seumur hidup" bisik Valentino seraya menjauhkan jemari Leyka dari wajahnya lalu menggesekkan hidungnya di pipi hingga ke telinga Leyka.
"Bagaimana jika aku memaksa?" tanya Leyka seraya menggeliat kesana kemari karena bulu bulu di Valentino serasa menyerbu wajahnya.
"Kau harus bersabar karena bila tidak.. Aku akan mengulang apa yang baru saja kita lakukan" jawab Valentino seraya berbisik.
Seeratnya Valentino memeluk dan mengungkung Leyka kembali lalu menciumi wajah cantik yang masih terlihat letih. Valentino kembali menenggelamkan wajahnya dileher jenjang hingga membuat Leyka terasa sesak dan lagi - lagi Valentino membuat Leyka berdesir - desir.
"Loco (gila)! Ahhh.. Valll.. Noo.. Hentikaannn.. Aku tidak mauuu.. Aku lelahhh.. Aku lapar.. Hahaha.. Noo.. Valll.. Nooo" Leyka pun meronta menghindari serangan yang tak kenal kata ampun. Leyka masih memgingat dengan jelas bagaimana Valentino selalu saja menghabisinya berkali kali di Pretoria.
"Sekali lagi" bisik Valentino terus menyerang, menjelajah dan mencengkeram Leyka bak pemburu yang tidak akan melepaskan mangsanya.
"Noooooo Vallll! Aaaaahhh! Torooooo (banteng)!" pekik Leyka dengan nafas tertahan saat Valentino mencapai buah dadanya dan kembali melu*mat bagian demi bagian.
Leyka tak sanggup mengelak lagi selain menikmati dengan pasrah karena Valentino selalu bisa menerbangkan hasratnya lagi dan lagi. Tidak perduli ponsel Valentino bergetar, tidak perduli di seberang sana Manuella sedang panik mencari Leyka. Valentino terus membawa Leyka meniti ke puncak awan biru di lembutnya angin musim gugur yang berhembus begitu menyayat tulang.
"Pon... sel..mu... Aaaahhh Valll...." de*sah Leyka.
"Tidak ada yang lebih penting selain dirimu.. Catat itu baik baik, Mi amor (cintaku)" bisik Valentino seraya ******* daun telinga Leyka.
"Ahhhhh... Vall.."
Hanya jeritan lirih yang terdengar dan Valentino terus membawa Leyka terbang setinggi angin musim gugur yang mendayu dayu di siang itu. Matahari kian tenggelam, awan kelabu mulai menggantung di cakrawala. Laksana kehidupan kelam yang akan menghampiri mereka, mengusik tawa dan menyingkirkan kebahagiaan.
-
-
-
Please ya.. Maenkan jempolnya buat like, komentar, ngopiin dan vote aku tentunya.. Acc ya Min ! Jangan lama2.. Bikin patah semangat tauk kalo Acc lama2 tuh.. Tau sendiri kan.. ngetik dua jempol itu susah loh.. nanti aku share jemari ke blender ku pasca operasi.. ihh jelek beud bentukannya 🤣 Tapi tetep ada harganya yaa yaitu bercangkir kopi kopi kopi.. 🤣
#KangenMalak
__ADS_1
#OtHorPreman