FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Hari Yang Melelahkan


__ADS_3

"Ini tiketku! Tiketku tidak hilang?! Astaga! Tiketku!" sang sopir itu terkejut. Namun Leyka lebih terkejut. Ternyata karena kecerobohannya sendiri, Leyka tidak menghilangkan tiketnya. Selama ini ia menuduh Valentino, yang menabraknya dan menghilangkan tiketnya.


"Val-- Apakah pertemuan kita adalah TAKDIR?" gumam Leyka memandangi tiketnya. Airmatanya berlinang linang, ia kembali mengingat perkataan Valentino.


Bila kau menyadari ini bagian dari Takdir maka berlarilah padaku, Ley..


"Sir! Please, Turn around and back to Jo'burg Station! (Pak! Aku mohon, putar balik dan kembali ke Stasiun Jo'burg)" Saat melihat rambu putar balik Leyka memerintahkan sopir taksi itu kembali ke stasiun Johannesburg. Masih ada 10 menit tersisa dan Leyka harus kembali menemui Valentino. Ia akan meyakinkan Valentino untuk membuatnya turun.


Sementara Valentino tengah memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam, kepalanya bersandar di sandaran sofa. Ingatannya kembali pada pertemuan pertama di kereta ini. Hati Valentino mulai resah. Kebahagiaan juga pertengkarannya bersama Leyka menghiasai benaknya, bahkan nafsu dan gairah saat bercinta terlintas begitu saja.


Sebuah lagu selesai berkumandang dan diganti dengan lagu lain. Sebuah intro yang sangat ia kenal berkumandang. Valentino mengenali lagu itu, hatinya kian tersayat. Di Kesendirian yang menerkamnya saat ini, lagu itu mewakili dirinya.


"Soledad (kesendirian; Spanyol)-- Itu diriku" Valentino tersenyum dengan menyeringai, ia mendengus dengan menitikkan airmata saat mendengar lagu Soledad dari boyband mendunia di putar. Westlife. Shitt!! batin Valentino.



Soledad di ambil dari bahasa Spanyol yang berarti Kesendirian, sesungguhnya melukiskan kesendirian yang menyedihkan. Kesendirian cenderung sunyi dan mengiris kalbu. Kesendirian karena kehilangan. Kesendirian yang melahirkan kehampaan. Kesendirian yang membuat Valentino semakin merindukan. Lagu terus berputar semakin menikam hati Valentino.



"Ley, kembalilah aku mohon.. Datanglah padaku Leyka. Tetaplah berada disisiku" Valentino membenamkan wajahnya di meja yang berada dihadapannya, ia memukul mukul meja dengan kesal. Kesedihan yang tak sanggup ia tutupi, Valentino menangis penuh amarah. Pria arogan dan idealis itu menangisi seorang gadis bar bar yang sama sekali bukan tipenya. Tidak perduli harga dirinya, Cinta sangat tahu airmata itu mengalir untuk siapa, tanpa rasa malu. Toh, di kamar itu ia benar En Soledad, di Kesendirian.



Jarak yang terbentang luas, Valentino mengingat kisah sesaat yang ia lewati bersama Leyka. Hari harinya sangat panjang, indah dan melelahkan. Hatinya sangat bahagia saat itu. Sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari siapapun, dan itu justru sangat melukainya bahkan lebih sakit daripada di khianati.


"Aku akan memberikan segalanya, mengapa kau tidak mau, Leyka" ratapnya.


"Aku membencimu! Tapi mengapa jiwaku dan hatiku sakit sekali? Leyka, mengapa aku sangat mencintaimu! Ohh Shit!!! Keluarlah dari kepalaku, Leyka!! Keluarlaahh!!" Lagu itu semakin menyakitinya, lagu itu seakan berbicara padanya memakinya dan menenggelamkannya dalam pusaran kesedihan.


*Apa kau mau berkorban untukku Val? Kau pecun*dang! Kau tidak mau berkorban! Kau egois*!


Dalam benaknya sendiri, Leyka seakan akan memakinya, menghakiminya, menyudutkannya. Valentino seakan dihantui perkataan Leyka yang tidak pernah terucap dan tidak pernah terdengar keluar dari mulut Leyka selama ini. Namun itu muncul begitu saja dibenak Valentino dan ia semakin tersiksa.



"Aaarrgghh, Shiit!! Lihatlah aku Leyka! Kau menyakitiku!!" ia kesal sendiri dan menggebrak meja. Ia memporak porandakan apa saja yang ada dimeja hingga ia menjatuhkan buku panduan di THE BLUE TRAIN. Valentino terengah engah dan menatap buku itu. Dan ia mengingat pertama kali Leyka memasuki kamarnya, awal pertemuannya.


Kau hampir menghilangkan kesempatanku untuk menaiki kereta ini! Apa kau tahu aku menabung 4 tahun untuk ini! Kau seenaknya menabrakku dan berlari begitu saja!.


Jangan - jangan kau memang tidak punya tiket!


"Bodoh! Kalau aku tidak punya tiket mana bisa aku sampai ruang boarding! Pikirrr!"


"Mereka petugas dan mencariku karena aku kehilangan tiketku! Kalau kau tidak mau menolongku-- Aku akan membuat keributan sehingga kita di lempar keluar dari The Blue Train, itu ada di buku panduan nomer 7, apa kau tidak membacanya? Aku akan kehilangan impian dan kenanganku dan kau akan kehilangan solo honeymoonmu"


"Leyka Paquito" desis Valentino memandangi buku panduan itu.


"Bagaimana kau bisa menghafalnya? Kau berfikir dengan sangat berbeda. Disaat orang melihat map kau menghafal peraturan. Aku sangat Merindukanmu Ley" Ia meraih buku panduan itu seraya menyeka mata dan hidungnya. Ia tersenyum dan membuka buku yang terdapat peraturan tata tertib berada di dalam kereta, yang ada Map juga tempat destinasi wisata yang di lewati The Blur Train juga destinasi populer di Afrika Selatan.


Valentino membacanya perlahan dan ia membelalakkan matanya.


"Peraturan nomer 7?! Peraturan nomer 7 adalah-- Buanglah sampah pada tempatnya! Shit!! Leyka!! Kau berkata saat itu yang membuat keributan akan dilempar keluar dari kereta! Kau menipuku? Shit!! Fu*ck!! Dasar pembual!! Dasar rubahh!! Dasar Siluman betina!! Shit! Kau penipu!! Kau pasti tertawa puas sekarang!!" Valentinopun menyambar jaketnya lalu mengenakannya dan dua kopernya ia bergegas keluar dari kamar itu. Rasa kesal, rasa dongkol, juga amarahnya menjadi satu, ia merasa di permainkan oleh Leyka.


Sekilas ia melirik beberapa figura yang tertempel di dinding kamarnya itu. Kemudian Valentino menghentikan langkahnya, Valentino tersenyum kemudian.



CINTA KITA SEPERTI KERETA TANPA REM, TAK TERHENTIKAN



SEKALIPUN KAMU BERADA DI JALUR YANG BENAR, KAMU AKAN KELUAR JALUR TERGILAS, JIKA KAMU HANYA DUDUK DISANA - WILL ROGERS.


__ADS_1


JIKA KERETA PEMIKIRANMU TIDAK PERGI KEMANAPUN, UBAH JALURMU!


Tiga figura dengan gambar kereta dan tulisan tulisan atau "quotes" mengundang perhatian Valentino. Ia menyambar salah satu figura, lalu ia masukan ke dalam kopernya. Valentino meninggalkan uang 5000 Rand Afrika atau sekitar 5.000.000 IDR. Itu lebih dari cukup dari harga sebuah quotes figura yang dijual di toko souvenir. Valentino berlarian menyusuri koridor demi koridor gerbong kereta api The Blue Train. Sebelum menuruni kereta itu, Valentino menepuk nepuk simbol Blue Train lalu menepukkan ke dadanya dengan tersenyum. Seorang petugas tersenyum dengan mengacungkan ibu jarinya.


"Jaag haar (kejar dia; Afrika) !!" seru seorang petugas berkulit hitam yang menyaksikan perpisahan mereka sedari tadi. Lagu itu masih berkumandang, masih mengiris hati. Valentino menghela nafas panjang kemudian tersenyum tawar.


"I Love You Pretoria!" Valentinopun berlari dan petugas itu tersenyum penuh keharuan dengan menepuk dadanya sendiri. Menepuk Dada, bisa diartikan rasa hormat rasa menghargai atau rasa takjub disana. Valentino terus berlarian secepat yang ia bisa.


"Rubah betinaku! Awas saja! Tunggu aku! Jangan pergi! Aku tahu kau belum jauh!" gumamnya sambil berlarian.


Sementara Leyka memasuki Stasiun, setelah membayar jasa uang taksi yang mengantarnya, ia pun berlarian dengan kopernya. Ia melewati mesin demi mesin penghalang pintu masuk. Namun ia lupa ketika memasuki ruang boarding keberangkatan kereta Blue Train, bukankah ia harus punya tiket keberangkatan yang harganya seharga tiket wisata? Mengingat Blue Train bukanlah kereta umum.


"Tiket" kata seorang petugas di ambang pintu boarding.


"Apakah kau bisa membantuku? Aku hanya ingin menemui seseorang sebentar saja" ujar Leyka dengan tersengal saat satu petugas berkulit hitam menghadangnya menuju ruang boarding, kereta api The Blue Train. Satu petugas untuk wisatawan lokal dan satu untuk wisatawan mancanegara, ditempatkan di pintu masuk ruang boarding di kereta Blue Train. Namun petugas untuk mancanegara, terlihat tidak ada di tempat.


"Tiket" kata petugas yang mengurus wisatawan lokal itu lagi.


"Aku tidak punya tiket ke Capetown, tapi aku hanya ingin menghentikan seseorang! Aku tidak ingin naik. Aku baru dari sana! Aku harus kembali dengan cepat karena kalau tidak, kereta itu akan pergi!!" kata Leyka dengan panik.


"Tiket!"


"Ooh Shit! Apa dia tidak tahu apa yang aku katakan? Apa dia tidak bisa bahasa Inggris? Apa petugas ini hanya bisa menggunakan bahasa Afrika? Dia pasti tidak mengerti bahasaku" Leyka kebingungan matanya menoleh ke segala arah untuk meminta pertolongan.


"Nona, apa ada yang bisa aku bantu?" Leyka terlihat lega melihat satu petugas yang mengerti bahasanya.


"Ini tiketku-- Leyka menyodorkan dua tiket --ini tiket lama ku dan ini tiket baruku, aku dari Pretoria beberapa menit yang lalu! Tapi aku mau masuk lagi, karena aku mau menemui seseorang. Aku mohon bantulah aku! Aku hanya akan menyuruhnya turun! Aku mohon bantulah aku" Leyka memohon dengan merapatkan kedua telapak tangannya lalu memohon dengan baik.


"Nona, tiket lama anda tidak berlaku. Kau telah mengubah jadwalmu sampai disini, Jo'burg. Kau harus membeli tiket kembali" kata petugas itu menunjukkan loket pembelian di sebuah agen travel yang bekerjasama dengan The Blue Train.


"Tapi aku tidak mau naik, aku hanya akan menemui seseorang! Aku mohon! Tolonglah aku! Hanya sebentar saja!" mata Leyka kembali berkaca kaca, ia menggenggam tangan petugas itu dengan memohon.


"Maaf Nona, semua yang masuk hanya pemilik tiket. Sayang sekali, aku benar benar tidak bisa membantumu" Buntu, Leyka kembali merasa buntu. Apalagi saat dia mendengarkan Blue Train akan segera berangkat, Leyka kehilangan kendalinya. Ia tidak bisa berpikir panjang dan sikap bar barnya, kembali muncul. Saat kedua penjaga lengah, Leyka mendorong salah satu petugas hingga terjatuh dan ia berlarian memasuki ruang boarding.


"Excuse me!!! I'm sorry!!" kata permisi dan maaf ia teriakan dengan berlarian. Pangkal pahanya semakin merejam rasanya sangat perih. Namun Leyka terus berlari dari sayap barat pintu keberangkatan. Kursi, guci pajangan jatuh berserakan, bahkan Leyka menabrak orang orang hingga terjungkal. Tidak perduli banyak yang memakinya, Leyka terus berlari. Dari 6 orang petugas kini 10 orang berpencar mengepung Leyka.


"Ohh Shit!!" Leyka mencapai ambang pintu dan Blue Train melaju perlahan, meninggalkan Jo'burg. Airmatanya kembali menetes, derap langkah kaki yang menghampirinya ia tidak perduli. Kakinya gemetar dan ia luruh ke lantai yang dialasi karpet merah bermotif khas Afrika.


"Vaaaaaallllll!!" pekik Leyka dengan menangis memenuhi ruangan itu, semua mata melihatnya dan ia hanya pasrah saat petugas membawanya.


"Nona, dengan sangat menyesal. Kami akan membawamu ke kantor imigrasi, berikan keteranganmu disana! Maaf kau di DEPORTASI. Selama 5 tahun ke depan kau dilarang memasuki Negara kami!' kata petugas yang menggelandang Leyka. Namun Leyka hanya tersenyum dengan airmata berurai.


"Apa ini Takdir!" pekiknya dengan tertawa namun penuh luka dan airmata. Dadanya kian sesak namun sulit untuk meledakkannya.


Sementara di sisi Timur pintu kedatangan, sama hal Leyka, Valentino juga membuat kekacauan! Saat berlarian di eskalator ia menabrak orang orang yang berlalu lalang, hingga ia baku hantam dengan seorang wisatawan yang ditabrak oleh Valentino. Di tambah salah satu kopernya, isinya terburai karena terjatuh. Ia juga menabrak seorang petugas hingga petugas itu membentur tiang dan terluka. Valentinopun di gelandang oleh petugas dan di serahkan ke bagian Imigrasi.


"Tuan Valentino Gallaediev! Anda di DEPORTASI! Selama 5 tahun anda tidak boleh kembali ke Afrika! Dan anda akan menjalani hukuman di negaramu, Italy! Kau butuh pengacara hebat untuk mengeluarkanmu!" kata seorang petugas menyerahkan Parport dan Visanya. Valentinopun digelandang ke tempat yang sama. Kantor Imigrasi di Tambo Airport.


"Leyka! Ini semua gara gara kau!" gerutu Valentino menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Semua gara gara pecun*dang itu! Shit! Valentino, semoga hidupmu tidak tenang! Fu*ck!" gumam Leyka.


Mereka menjalani pemeriksaan selama 6 jam. Berbagai macam prosedur dan tanya jawab mereka jalani. Diruang yang berbeda mereka menghabiskan waktunya di hari yang melelahkan.


Semua rencana mereka gagal. Leyka yang seharusnya ke Barcelona tapi justru di Deportasi ke negara asalnya. Palma Mallorca. Sementara Valentino yang di tunggu Invenstornya di Capetown Afrika Selatan, harus kembali ke Italy. Karena Cinta seseorang bisa kehilangan rencana besarnya. Mereka banyak melamun di ruangan itu, perlakuan apapun ia terima. Hujatan dan makian dari petugas karena membuat keributan mereka terima dengan diam.


"Bagaimana kalau kau, aku jodohkan dengan seorang pria berandalan yang membuat kerusuhan yang sama denganmu hari ini, Nona! Dia berada di ruangan isolasi karena membuat petugas kami pingsan" ejekan penuh tawa itu membuat Leyka semakin mengetatkan rahangnya.


"Benar! Dia cocok denganmu! Pembuat onar dan kerusuhan. Dan semua itu atas nama Cinta! Itu bodoh!" petugas satunya itu juga mengolok oloknya dengan tawa, Leyka menahan dirinya. Airmatanya mengering, tangannya mengepal dengan pandangan nanar. Di benaknya hanya Valentino yang telah pergi menuju Capetown. Hatinya tersayat, lidahnya semakin kelu. Sama halnya dengan Valentino, benaknya dipenuhi Leyka yang telah melangkah pergi ke Barcelona.


Kau menang, Leyka..


Kau menang, Val..


Hingga waktu bergulir. Sore itu. Di jam yang sama, di lantai yang sama. Leyka berada di ruang boarding Gate A sementara membentang jauh disana Valentino berada di ruang boarding Gate O. Seperti Alfa dan Omega. Sebuah awal dan akhir. Cinta itu terpisahkan.

__ADS_1


Dua pesawat itu, satu ke Italia dan satunya ke Spanyol, dilintasan yang sama mereka perpapasan. Mereka dipersimpangan jalan, seperti orang asing yang tak mengenal, namun belati menusuk begitu dalam hingga tubir hati mereka. Bisingnya pesawat melesat hingga di ketinggian 35.000 kaki, pesawat itu berpisah ke tempat tujuannya masing masing. Spanyol dan Italy.


Selamat tinggal Val.. Aku akan lebih bahagia darimu.. Aku tidak akan kalah dari mu..


Selamat tinggal Leyka.. Aku mengaku kalah.. Tapi aku tidak akan pernah melupakan hari ini.. Kau tidak akan pernah lebih bahagia dariku..


Mereka menatap kearah jendela pesawat, matahari bersembunyi dibalik awan. Cuaca sangat cerah, berkilau menguning. Senja akan segera tiba. Mereka memejamkan matanya. Hari ini hari yang melelahkan.


Leykaaa...


Vaallll...


...*...


"Vaaallll!!" pekik Leyka dengan mata terpejam.


"Mommm.. Moomm" Tangan kecil dan hangat itu mengguncang guncang tubuh Leyka.


"Vaalll!! Haaahhhh!!" keringat membanjiri wajah Leyka, hingga ia terbangun dan duduk. Ia kembali bermimpi tentang Valentino, pria Italy yang tengah menghiasi di dalam mimpinya.


"Train--


"Mommy, minumlah" Train mengambilkan satu gelas air minum dari atas nakas, ke hadapan Leyka. Anak itu masih mengucek mata dan hidungnya bergantian sesekali ia menguap. Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari waktu Barcelona.


"Gracias (terima kasih), Train-- Naiklah. Tidurlah dengan Mommy" ujar Leyka setelah meneguk air putih dan meletakkan gelas di nakas. Leyka menepuk ranjangnya kode agar Train naik ke ranjangnya, kemudian ia merentangkan tangannya dan Train masuk ke dalam pelukan Leyka.


"Si Mommy, de nada (Iya Mommy sama sama; Spanyol)"


"Apa Mommy mengganggu tidurmu?" Leyka tersenyum dan memeluk Train. Ia menciumi Train dengan gemas.


"Mommy, lupa menutup pintu koneksi kita" jawab Train dengan menguap lagi.


"Lo siento, Baby (Maafkan aku, Sayang)"


"Si Mommy (iya Mommy)-- Umm, apa Mommy bermimpi hantu lagi? Mommy selalu memanggil Val, siempre cada vez (selalu setiap saat)" Leyka tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


"Val-- Valak. Itu hantu yang Mommy benci. Dia sangat menyeramkan. Bukankah kau pernah melihat filmnya dengan Ibu baptismu?" Leyka menatap betapa tampan putranya itu.


"Si Mommy, Ibu baptisku ketakutan-- Umm, Mommy. Apa Mommy tidak pernah bermimpi Daddy Toro?" Train mulai memainkan rambut Leyka, matanya yang bulat kebiruan, seakan bersinar ditemaramnya lampu balkon yang cahayanya melewati celah jendela kamarnya.


"Mommy bahkan tidak ingat wajahnya-- Ayolah tidur lagi. Mommy, akan mengusap punggungmu" ujar Leyka menghindar.


"Mom-- Besok ceritakan lagi, bagaimana Rosemary dan Loco menyiksamu"


"Panggil dia Grandma-- dia Grandma mu" Leyka tersenyum dan mencubit hidung Train.


"No Mommy, Grandma ku hanya Nenek Dolores, aku bahkan belum pernah bertemu dengan Rosemary" Leyka menangkap tangan Train agar berhenti memainkan rambutnya lalu ia memeluknya.


"Terserah kau saja. Kau Putra mahkotaku-- Tidurlah Baby" kecupan demi kecupan mendarat lagi dan lagi di kening dan puncak kepala Train. Ada rasa nyeri dalam hatinya, namun belaian Train di pipinya membuat hatinya tenang.


"Te quiero (aku mencintaimu), Mommy" Trainpun mencium pipi Leyka dan menguap kemudian.


"Te quiero, Blue Train.. Blue Train.. Blue Train" dengan terpejam Leyka menciumi anak semata wayangnya itu dengan menghirup aroma rambut Train, kebiasaannya adalah mencium Train dengan menyebutkan nama Train tiga kali, dengan mata terpejam. Ia seolah mencium Valentino dalam diri sang Putra. Ia menatap lekat wajah Train yang telah memejamkan matanya. Leyka tersenyum dengan hati menghangat, matanya seakan pedih. Ia pun memejamkan matanya seraya mengusap usap punggung Train.



Val, Aku bahagia.. Lihatlah, aku lebih bahagia darimu.. Aku pemenang Val.. Anakmu, adalah kebahagiaanku.. Anakmu adalah sesuatu yang lebih besar yang tidak pernah aku duga kehadirannya..


-


-


-


Kalian paham kan, kalau dibuat film itu, Leyka kaya nyeritain ke Train. Kaya film Titanic, rose cerita dan begitulah gambarannya yang di sajikan ke penonton. Seperti inilah aku menyajikannya ke kalian. Hanya secuplik, Train minta di ceritain kejadian setelah berpisah dan di deportasi, begitulah kalian membacanya. Aku pkr ini cerita ringan, karena bagiku cerita ringan itu cerita yg ketebak. Tapi pas baca komen kalian kemarin, aku berkue cucur cucuran air manihh, kue cucur bewok eehhh 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2