FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Si, Dia Suamiku !


__ADS_3

Leyka menyusuri jalanan menuju stasiun bawah tanah, ia menuruni eskalator dengan mendekap paperbag yang berisi semua tentang rahasia kehidupan pernikahannya. Ia menaiki kereta yang akan mengantarnya ke Golden Park dimana kereta itu akan berhenti di Stasiun Golden Park yang notabene Distrik Miel tidak jauh dari Golden Park, hanya melewati dua blok Distrik dari Stasiun Golden Park.


Leyka berdiri di Railway Platform atau Peron, jalan kecil yang sejajar dengan rel kereta api tempat lalu lalang penumpang di stasiun kereta api, halte kereta api, atau tempat pemberhentian transportasi rel lainnya, namun stasiun kereta di Eropa memiliki Railway Platform yang lebar banyak butik dan gerai pertokoan disana, dan sebagian besar berada di bawah tanah.


Leyka menghadap ke arah rel kereta dengan berjarak, ia berada di sisi kiri tepat di belakang garis rambu rambu berwarna hijau yang tercetak di lantai. Garis hijau untuk antrian penumpang yang akan naik dan sisi kanan adalah garis merah untuk penumpang yang akan turun dan keluar dari kereta. Semua begitu tertib menunggu kereta datang.


Sementara itu, Leyka berdiri di peron gerbong nomor delapan, Valentino yang mengejarnya berdiri di peron gerbong nomor sepuluh. Valentino mengawasinya dari jauh, ia membiarkan Leyka sendiri namun Valentino tidak membiarkannya benar benar sendiri.


Kereta pun datang, semua penumpang yang antri tetap berdiri di rambu rambu jalur hijau, menunggu semua penumpang yang turun dan keluar terlebih dahulu dari kereta dan menuju jalur merah. Setelah semua penumpang turun di jalur merah, penumpang di jalur hijau pun menaiki kereta tak terkecuali Leyka di peron gerbong nomor delapan Valentino di jalur peron gerbong nomor sepuluh.


Biasanya, waktu kereta paling terakhir beroperasi akan sangat padat oleh penumpang hingga Leyka berdiri paling belakang di dekat jendela kaca yang memisahkan gerbong satu dengan gerbong yang lainnya. Valentinopun berdiri disana mengawasi Leyka yang di pisahkan gerbong nomor sembilan.


Dari kejauhan mereka saling menatap, mereka saling mengenali, walaupun samar mereka saling berdebar. Berulang kali Leyka menyeka pipinya dan berulang kali Valentino menundukkan kepalanya menyeka sudut matanya. Semua kembali ke masa itu, delapan tahun yang lalu. Masa manis dan pahitnya di Pretoria. Sebuah perjalanan singkat namun kisah itu begitu panjang dan begitu melukai hingga delapan tahun lamanya.


Bahkan didalam kegelapan aku mengenalimu, bahkan hanya bayanganmu saja aku tahu itu adalah dirimu Leyka. Kata Valentino dalam hatinya ia merasakan sesak di dadanya.


Mengapa kau mengikutiku, Val? Mengapa tidak dari dulu? Delapan tahun yang lalu? Mengapa semua ini terjadi kepada kita? Aku berpikir kau tidak pernah turun dan kau berpikir aku tidak pernah kembali.. Kau tahu, Val? Ini tidak adil untuk Train. Seandainya saja kau mau tinggal bersamaku di Barcelona dan seandainya saja aku mau berkata jujur mengapa aku tidak mau bersamamu ke Italy.. Tidak tidak tidak.. Aku pun bersalah dalam hal ini.. Seandainya saja aku jujur.. Mungkin tidak begini cerita kita, Train akan mengenalmu dari kecil.. Tapi bukankah aku bertindak benar? Aku menyelamatkan satu kehidupan, yaitu Miu.. Elara Miuccia.. Aku mengorbankan diriku bahkan Putra kita demi satu kehidupan.. Apa kau tahu? Aku begitu terluka saat Train selalu mencarimu, menanyakanmu dan selalu menuntut bercerita tentang kita.. Itu sangat menyebalkan, Val.. Train benar, ada banyak cerita yang kita lewatkan.. Kau tahu? Ini pertama kalinya aku menaiki kereta setelah delapan tahun lamanya.


Leyka diam terpaku memandangi Valentino yang berada di gerbong sepuluh, suara kereta yang melesat menuju stasiun demi stasiun seakan mengingatkannya pada The Blue Train yang berjalan di atas bantalan rel kereta api dengan kecepatan lamban. Leyka mendekap erat paperbag itu, seakan ia takut paperbag itu menghilang dari genggamannya.


Kau tahu Ley, ini pertama kalinya aku naik kereta setelah delapan tahun lamanya, dan ini di Barcelona.. Tapi aku merasa kau begitu jauh Ley.. Ayolah Istriku, terimalah kenyataan bahwa aku adalah Suamimu. Bagimu aku adalah Luka, baiklah aku mengakui itu.. Tapi aku akan menjadi bahagiamu Leyka, aku akan merubah diriku menjadi apapun yang kau inginkan.


Seakan mereka berbincang manis lewat sebuah telepati, saling bertanya saling menjawab mereka terus berpikir dengan pikiran masing masing namun pikiran itu terpaut indah dan sejalan dengan harnonis. Leyka menyeka pipinya, tak perduli dandanannya hancur ia terus menyekanya seiring Valentino menunduk dan menyeka sudut matanya. Rasanya ia ingin menembus gerbong sembilan dan memeluk Leyka seperti dulu saat di kereta api The Blue Train dan menghabiskan waktu 27 jam dengan bercinta.


Suamiku? Aku telah bersuami? Bagaimana aku menerima dan menjalani kodrat yang begitu tiba tiba ini.. Bagaimana caranya menemukan jati diri yang sesungguhnya aku telah menjadi milikmu selama delapan tahun? Apakah ini sulit? Hahaha.. Aku adalah Istrimu, Val? Mengapa ini terjadi ? Siapa yang membuat takdir sekejam ini? Tuhan? Dewa? Ataukah alam semesta? Mengapa ini terjadi padaku? Memang apa salahku? Apa salah Train? Putraku yang seperti Malaikat itu, menerima takdir yang tidak adil baginya.. Ini sangat keterlaluan..


Dan pengeras suara yang mengatakan bahwa kereta telah sampai di Stasiun Golden Park menggema di seluruh gerbong kereta bawah tanah itu, Leyka menghilang dari pandangan Valentino yang menuruni kereta itu.



Ramainya para penumpang di jam akhir kereta beroperasi membuat Valentino kehilangan jejak Leyka yang telah keluar terlebih dahulu. Seketika Valentino dilanda kepanikan. Ia berlarian menaiki tangga namun setelah mencapai atas tidak ada jejak Leyka disana, lalu ia kembali menuruni tangga dan mencari ke semua sisi pintu keluar, dimana stasiun bawah tanah itu memiliki beberapa pintu keluar.


"Pedro! Dimana biasanya orang orang Barcelona terutama di Distrik kita menghabiskan waktu untuk sendiri!" seru Valentino di ponsel yang di genggamnya, sambil berlarian ia menghubungi ponsel Pedro.


Biasanya kita di Golden Park atau di--- Leyka itu Leyka! Dia di White Bridge arah Golden Park! Katakan kau dimana!


Tanpa diduga, rombongan Pedro yang akan pulang menuju Distrik Miel dan sudah pasti akan melewati White Bridge (jembatan putih). Jembatan yang membelah Barcelona dengan aliran sungai yang bermuara ke Laut Mediterania dimana Barcelona terletak di tepian laut tersebut.


"Ohh Shittt! Aku di Stasiun Golden Park! Aku akan kesana!" dan secepat kilat Valentino mematikan ponselnya dan memasukkannya di saku celananya. Dengan panik ia bertanya pada orang disekitarnya lalu mereka menunjukkan jalannya, setelah itu Valentino berlarian menuju pintu keluar sisi timur.



Sementara itu Leyka terus menyusuri jembatan yang memiliki empat jalur. Dua jalur tengah untuk mobil dan motor dari dua arah berlawanan dan dua jalur yang terpisah di sisi kiri dan kanannya untuk para pejalan kaki atau bersepeda. Biasanya di pagi atau siang hari bahkan sore hari, tempat itu akan di penuhi warga sekitar yang berolahraga, berjalan santai, memancing atau pun hanya sekedar duduk menikmati matahari terbit dan terbenam di pinggiran jembatan yang terbentang di atas sungai yang begitu tenang.


Leyka berdiri dipinggir jembatan dan bertepatan rombongan Pedro melewatinya, mereka menepi tidak berani mendekat, mereka hanya berdiri di kejauhan dengan perasaan was was. Leyka kembali mengambil koin yang ia simpan di dompet sebelumnya.


Koin emas sebagai maharnya, ia tersenyum kemudian. Ia kemudian merogoh album foto pernikahannya yang di cetak panitia penyelenggara, album foto yang sederhana namun didalamnya memuat kisah yang mengharu biru penuh makna.

__ADS_1


Airmatanya kembali berlinang, ia melihat bagian demi bagian prosesi pernikahan massalnya. Di foto demi foto itu, mereka penuh canda tawa sementara orang orang di sekelilingnya penuh rasa khidmat dan sangat khusuk mengikuti prosesi pernikahan massal itu. Dengan bercucuran airmata, Leyka tersenyum dan pada akhirnya ia tertawa.


"Hahaha-- Ini sangat gila!" Leyka meraba foto itu satu demi satu, bahkan foto Valentino berlutut dan Leyka berakting menangis saat itu. Leyka tertawa dengan menangis, ia menertawakan dirinya sendiri.


"Hahaha-- Bodohh! Ini sangat bodoh! Ini bukan pernikahan impianku! Hahaha-- Shittt!" Leyka memasukkan album foto itu lalu membuka surat pernikahannya, Leyka kembali menangis. Ia meraba namanya dan juga nama Valentino yang tertulis disana.


"Menikah secara Agama? Hahaha-- Aku bahkan tidak percaya ada Tuhan di dunia ini! Shitt!" umpatnya dan seketika suaranya menghilang di telan angin yang berhembus seiring kelebat gaunnya berkibar seakan menerbangkannya.


Leyka meletakkan paperbangnya, kursi yang terbuat dari semen dan berada di pinggir jembatan, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam jas Valentino, ia merasa kedinginan. Leyka mendekap tubuhnya dan menatap indah bulan dan gemerlapnya bintang.


"Hei Dewa Faunus!! Apa Kau mengutukku? Memang siapa Dirimu beraninya melakukan ini padaku! Apa salahku padaMu, Hahh?! Apa salahkuuu!!! Kau tidak berhak atas hidupku!" Leyka memekik dengan keras, hingga rombongan Pedro mendengar teriakan Leyka yang begitu menyayat. Hati mereka serasa di iris melihatnya.


Namun mereka menegang saat Leyka menaiki pagar besi jembatan dan terus memaki Dewa Faunus, dewa pertanian dan kesuburan yang dipercaya oleh bangsa Yunani kuno. Saat mereka akan berlari mendekat, Valentino menangkap tubuh Leyka.


"Leykaa! Apa yang kau lakukan! Apa kau ingin mati konyol!" pekik Valentino membuat semua yang melihatnya lega.


Valentino mendekapnya dengan erat dan Leyka terus meronta namun Valentino terlalu kuat untuk dilawan, "Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku! Kau pikir aku mau bunuh diri?! Lepaskan aku!"


"Ley, apa yang kau lakukan!" mata Valentino begitu memerah, keringat bercucuran memenuhi wajahnya, nafasnya tersengal karena Valentino benar benar lari marathon menyusul Leyka.


"Aku tidak melakukan apapun! Aku hanya ingin berdiri menantang Dewa Kesuburan! Biar Dia mendengarkan makianku!" Valentino semakin mengeratkan pelukannya, dan menghela nafas lega. Ia membenamkan wajahnya di pundak Leyka hingga keringatnya terseka disana.


"Leyka, aku sangat lelah. Jangan begini aku mohon, kau bisa terjatuh Mi Amor" setengah merengek Valentino menyandarkan dagunya di pundak Leyka


"Aku hanya ingin bertanya mengapa Dia melakukan ini padaku? Pada Train-- bahkan padamu. Mengapa dia menyiksa batin anak kecil! Delapan tahun apa kau tahu rasanya? Sangat menyakitkan bila Train menanyakanmu"


Disaat yang bersamaan, Jared dan Torres tiba dan menepikan mobilnya begitupun Matthew dan Maria. Raungan mobil Mattew mengundang perhatian Leyka dan ia menoleh kearah ujung jembatan yang ternyata saudara dan para sahabatnya berada disana, saat Valentino turut menoleh kearah yang sama, Leyka mendorong tubuh Valentino berlahan agar menjauh.


"Dan kau! Bagaimana kau memberikan aku pada Damian bila kau tahu aku Istrimu! Mengapa kau membiarkan aku bersamanya? Mengapa kau membiarkan aku menyakiti Damian? Mengapa kau mengizinkan aku bersama Damian? Cinta apa yang kau miliki sampai kau sanggup memberikan Istrimu pada orang lain! Mengapa kau menyembunyikan hal sebesar ini kepadaku!"


Terkadang memang jalan pikiran seorang wanita sulit ditebak, sementara Valentino berpikir bahwa Leyka akan marah besar karena melibatkan Train dan keluarga Fernandez, tapi Leyka justru berpikir hal lain. Yaitu bentuk rasa memilikinya sebagai Suami. Sesuatu yang tidak Valentino duga sebelumnya, tapi disitulah ia merasa bahwa Leyka menerimanya. Kebuntuan Leyka terpecahkan dan Valentino sekarang di ambang kebuntuannya, bagaimana caranya menakhlukkan Leyka dengan jawaban yang meyakinkan.


"Leyka, Lo siento. Aku sudah menjelaskannya! Bagaimana bila Locki tau pernikahan kita! Mereka bisa saja menggunakan cara tanpa sepengetahuan kita! Mereka bisa menggunakan Ibumu, Leyka! Karena Ibumu tidak bisa berkata tidak hanya karena Ibumu berpikir Locki telah menyelamatkan hidupmu! Mengertilah, Il mio amor! Aku telah mendatangi Penasehat setelah Ibumu memberitahumu bahwa Viscountess itu untuk dirimu!"


Valentino mengacak rambutnya, ia beharap ada keajaiban malam ini dan menyudahi badai demi badai yang berputar diantara dirinya dan Leyka. Ia berjalan kearah pagar pembatas, dan menghirup udara malam dengan memejamkan matanya, Valentino mencoba menenangkan dirinya agar ia bisa mengendalikan diri, ia harus bertahan pada pernikahan yang tanpa sengaja terjadi.


"Tapi bukan berarti kau mengizinkan aku bersama Damian! Dia menungguku selama tiga bulan! Dia tetap menungguku sampai perjanjian kita bersama Train berakhir! Tapi tidak masalah Val, cinta yang kau katakan tadi hanya sandiwara di hadapan Train. Karena itulah kau mengizinkan aku tetap bersama Damian. Kau tidak cemburu ataupun marah saat aku bersamanya. Aku tidak memungkirinya, apa yang kau lakukan padaku semua demi Train"


Leyka melembut, ada nada kekecewaan dalam setiap perkataannya, saat ingin berjalan menjauh, Valentino menyambar lengannya dan mencengkeram kedua lengan Leyka, usahanya mengendalikan dirinya gagal seketika.


"Apa kau bilang? Katakan apa yang kau bilang barusan Leyka! Aku tidak cemburu?!-- Leyka! Bahkan bulan dan bintang yang kau tatap barusan, setiap udara yang kau hirup-- AKU SANGAT CEMBURU! Aku ingin menjadi bulan, bintang, udara atau apapun itu untuk dirimu! Aku menahannya Leyka! Aku menahannya sekuat tenaga! Agar aku bisa meredam sisi tempramenku dan juga perkataanku yang selalu menyakitimu! Aku ingin berubah di matamu, Leyka. Aku mencoba untuk memenuhi keinginanmu sekalipun itu menyakitiku-- Rasanya sakit Leyka! Sangat sakit!"


Valentino melepaskan cengkeraman tangannya karena Leyka ketakutan dan meringis menahan kuatnya tangan kekar itu menyakiti lengannya dan seketika itu juga Valentino berteriak dengan lantangnya sambil menendang tempat sampah yang berada disamping kursi.


"Aaaaaarrghh!" Leyka terhenyak melihat Valentino mengamuk, dan itu justru menghangatkan hatinya, walaupun lidahnya beku seketika Leyka tak berani berkata apapun.


Cihh, laki laki ini suamiku? Hahaha-- Suamiku? Menjijikkan sekali aku menyebutnya. Leyka.

__ADS_1


Valentino kembali berada di hadapan Leyka, bedanya kedua tangannya kini mencengkeram kedua pundak Leyka yang terpaku melihatnya. Mata Valentino memerah semerah wajahnya yang meluapkan isi hatinya.


"Kau tidak tahu rasanya menahan emosiku yang begitu liar! Rasanya aku ingin mencuci otakmu agar kau lupa siapa Damian! Aku ingin membekukan lidahmu agar nama Damian tidak keluar dari mulutmu! Aku ingin membutakan matamu agar kau tidak bisa menatapnya dengan lembut seakan kau menginginkannya! Rasanya aku ingin mencongkel matamu! Aku menahannya Leyka, karena itulah aku selalu berkata kasar padamu dan menyakitimu! Aku sangat sakit menahannya Leyka!"


Dan Leyka hanya pasrah dengan tatapan nanar ketika Valentino memeluknya, menekan pundaknya dan juga menahan tengkuknya agar bersandar di dadanya.


Si.. Dia Suamiku.. Dia benar benar Suamiku.. Dulu kita berakting sepasang kekasih dan sepasang Suami Istri.. Dan kita dulu benar benar tidak berakting.. Valentino yang dulu sering mengamuk, sering marah marah dia masih sama seperti yang dulu.. Dan dia adalah Suamiku.. Ckk, Ishh.. Malas sekali mengakuinya.. Cihh, menyebalkan.


"Ley, kau ingat? Kau pernah memintaku menangis saat aku berlutut dihadapanmu di Pernikahan Massal Itu? Lihat, aku menangis tanpa kau minta! Ley.. Aku mencintaimu! Sangat mencintaimu, Leyka Paquito!" di puncak kepala Leyka, Valentino menitikkan airmatanya. Rasa cinta yang mendalam berpadu dengan rasa takut kehilangan, membuat Valentino tidak kuasa menahan dirinya yang begitu sedih mengingat pernikahan massal yang dianggapnya hanya sebuah permainan. Valentino memejamkan matanya, menghalangi airmata agar tidak mengalir lagi, namun itu juga sia sia.


Apa? Dia menangis.. Suamiku menangis.. Raja Setan ini Suamiku.. Dan dia menangis? Ohh Suamiku.. Si-- Dia Suamiku..


"Val" suara Leyka yang begitu lembut, membuat Valentino mengurai pelukannya, Leyka berdebar melihat Valentino berurai airmata. Ia pun menyeka sudut mata Valentino, jemarinya tidak bisa ia kendalikan apalagi airmatanya yang kini turut menetes.


"Aku mencintaimu, Leyka" lidah Leyka begitu kelu, ia hanya bisa tersenyum dengan berurai airmata. Mata itu saling bertemu, seakan itu delapan tahun yang lalu, dimana mereka saling mengikat janji suci tanpa mereka sadari.


Mengapa airmataku keluar begitu saja.. Ohh Shitt.. Mengapa aku menangis? Val.. Val.. Benarkah kau Suamiku.. Si-- Kau Suamiku..


"Mommy! Itu Mommy! Aku mau turunnn! Aku mau turunnn! Aku mau turun!" Dan suara mungil itu terdengar dari kejauhan melintas melewati jembatan jalur pulang ke Distrik Miel. Mobil Limousin itu bergabung dengan yang lainnya dan Train menuruni mobil itu dan berlarian kearah Valentino dan Leyka dengan penuh tawa.


"Mommy Mommy Mommy! Daddy Daddy Daddy! Mommy tangkap aku!" pekik Train mengerti suasana hati kedua orangtuanya, ia bisa melihat siapa yang membutuhkan pelukannya dan ia memilih Leyka.


"Lihatlah putra kita Leyka, dia Petroria kita!" kata Valentino menyusutkan airmata dari mata dan hidungnya. Leykapun merentangkan tangannya.


"Blue Train.. Blue Train.. Blue Train! My Sweet Pretoria!" Leyka berseru dengan lantang lalu ia berlutut menangkap tubuh Train kemudian Leyka menciuminya.


"Mommy, bulannya sangat indah, bintangnya sangat banyak, Mommy! Jadi Mommy ingin sendiri disini, Mommy?" tanya Train dengan memeluk Leyka namun kepalanya sibuk menoleh kesana kemari mengedarkan pandangannya. Valentino terharu melihatnya.


"Tapi ternyata banyak sekali yang mengganggu Mommy, dan ternyata sulit bagi Mommy untuk merenung sendiri-- Vamos, kita duduk" jawab Leyka mengurai pelukannya dan bangkit berdiri menggandeng tangan Train untuk dibawanya duduk, Valentino mengikutinya. Dan semua membiarkan keluarga setan itu yaitu Raja Setan, Wanita Siluman dan Setan Cilik itu, menikmati waktunya.


"Setelah mereka bahagia, kita bisa mengabarkan pernikahan kita, aku percaya Leyka mampu menerima keadaannya" kata Diego dari kejauhan menatap keluarga kecil itu.


"Kau salah-- Aku mengenal Leyka bukan satu atau dua hari. Sampai detik ini, hampir 12 tahun, aku tahu bagaimana perjalanan hidupnya yang tidak mudah. Leyka butuh waktu untuk menerima kenyataan, hatinya penuh keraguan dan Valentino tidak boleh lelah untuk meyakinkannya. Suatu hari nanti, aku akan bercerita kepadanya, bagaimana ia melahirkan Train, disaat salju pertama turun di Barcelona" ujar Manuella membuat Jared dan Torres saling melemparkan pandangannya.


Dan bila saat itu tiba, aku harap kau bisa lebih menghargai Leyka, Val. Lanjut Manuella dalam hatinya.


-


-


-


Hei, Bosqyue.. Lo siento.. aku ingkar janji.. sampai minggu depan mungkin Up ku bolong bolong.. Fisikku drop di tambah banyak acara.. duo racunku duo princessku, besde.. dengan jarak yg berdekatan.. Ahh biasa, gegayaan sok2 minta di bikinin acara karena sejak pandemi ga ada acara.. Lo siento ya, Bosqyue.. Jangan marah isshh 👉🏻👈🏻 #sambil noel2 nganunya pembaca 🤣🤣🤣🤭🤭


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2