
Hanya jeda 5 menit, untuk beristirahat, meregangkan ototnya dan mengatur napasnya, Valentino terus mencumbu Leyka dan memuaskan hasratnya. Namun rasanya tidak pernah puas, itu yang dirasakan Valentino. Hampir 30 menit waktu berlalu, sudah tiga kali mereka menyatu dan meledakkan hasrat mereka dalam percintaan panas di ranjang hotel berjalan, THE BLUE TRAIN.
Valentino menggigit gigit pundak Leyka dari belakang, setelah ia tumbang disisi Leyka. Tangannya masih mencengkeram buah dada Leyka dengan mendekap erat tubuh itu. Mereka saling mengatur nafas. Tidak ada kata yang terucap dari mulut mereka. Dan tidak seperti biasanya, Valentino banyak diam. Namun wajahnya memperlihatkan guratan kemarahan yang tertahan. Tatapannya penuh amarah.
Walaupun 11 hari bersama, Leyka telah mengenalnya dengan baik. Rasa kecewa Valentino itu karena Leyka mengubah jadwal keberangkatannya. Valentino berpikir masih ada 27 jam sampai ke Capetown bersama Leyka tapi ternyata hanya satu jam saja karena Leyka akan turun di Stasiun Johannesburg atau bahasa millenialnya Jo'burg.
Valentino sangat kecewa karena keputusan Leyka yang sangat mendadak. Sebuah keputusan yang tidak bisa diubah dan Valentino hanya menelan pahit getirnya sikap Leyka yang dianggapnya kejam.
"Leyka-- Apa tidak bisa kau--
"Val, jangan memintaku lagi-- Kita bisa bertukar nomor ponsel, Val. Kita bisa masih saling berhubungan" bahkan Leyka memotong perkataan Valentino, karena Leyka tahu arah pembicaraan Valentino.
"Aku tidak butuh! Aku hanya butuh dirimu, Ley. Ada masa dimana aku akan menjadikanmu sebagai tujuanku, aku akan membahagiakanmu, aku akan mencintaimu, kau akan mengusir hari hari dinginku di Swiss saat musim dingin nanti, aku akan mengajakmu kesana, kau akan selalu bersamaku dan selalu berada disisiku. Setiap saat aku bisa memelukmu, menceriakan hari harimu. Kita bisa menghabiskan waktu kita di Hawai saat musim panas. Saat aku ingin menjadikanmu tujuanku, kau justru begini. Mengubah jadwalmu-- Leyka ikutlah denganku ke Italy" di tengkuk Leyka, Valentino menyembunyikan wajahnya sambil menciuminya. Memohon dan terus memohon.
"Ikut denganmu? Kenapa kau tidak melihat salju pertama turun di Barcelona atau berlarian di stadion Camp Nou saat musim panas, atau duduk di taman Park Guell saat sore hari di musim gugur. Kita bisa membuka kedai kopi dan--
"Apa kau tidak mau keliling dunia?" tanya Valentino memotong perkataan Leyka.
"Apa keliling dunia bisa membuatmu bahagia? Apa kau tidak tau setiap musim panas keluarga bangsawan berkeliaran ke beberapa penjuru dunia, aku harus ikut dan aku sangat bosan. Aku hanya ingin kehidupan bebasku" Valentino mengurai pelukannya dan mengambil posisi telentang, ia memijat pangkal hidungnya. Rasanya sia sia sudah harapannya.
"Kau benar, aku menganggapmu seperti Rebecca. Aku pikir wanita sama saja. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku. Tanggung jawabku sangat besar. Ya sudah, apa yang aku lakukan padamu, anggap saja impas hari ini"
"Apa maksudmu?" Leyka membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Valentino. Saat Leyka meletakkan tanggannya didada kekar itu, Valentino menepisnya dan ia justru bangkit berdiri.
"Anggap saja aku menang lotre dan aku hamburkan uangnya tanpa sisa. Kau jangan meminta bonus dengan sebuah nomor ponsel! Kita hanya orang asing! Semuanya akan terkubur disini!" Leyka tersentak hingga ia duduk, Valentino berjalan dengan mengepalkan tangannya menuju kamar mandi. Ia menutup pintu dengan kasar. Leyka menangis kemudian.
"Jadi kau menganggapku sebuah mata uang yang kau hamburkan? Hanya itukah nilaimu padaku?" gumam Leyka dengan bibir yang bergetar menahan sesak di dadanya, ia terisak lirih. Punggungnya berguncang guncang dengan membenamkan wajahnya di lutut yang menekuk menutupi dadanya. Seeratnya ia memeluk lututnya sendiri.
Tangisannya terhenti saat ia mendengar kegaduhan terjadi dikamar mandi, Valentino membanting apa saja dengan kemarahannya. Ia meluapkannya disana. Leyka pun menuruni ranjang dan berlarian menuju kamar mandi dan membuka pintu tanpa kunci untuk pasangan honeymoon.
"Menjauhlah Leyka!!"
"Val--
"Menjauhlah atau kau akan menerima imbasnya! Aku tidak ingin melukaimu!" Leyka justru memunguti peralatan mandi yang berantakan.
"Aaaarrgh! Shit!!" Valentino berdiri dibawah kucuran air shower dan memukul tembok kayu yang melapisi kamar mandi itu.
"Val--
"Berhenti! Jangan mendekatiku, Ley! Bukankah ini neraka bagimu, hah?! Karena itulah kau tidak bisa menahannya dan ingin cepat menjauh dariku! Benar, kan?!" tidak perduli kemarahan Valentino, tapi Leyka berdiri tepat di hadapan Valentino dibawah kucuran air shower.
"Val, ini memang Neraka! Karena ini menyakitkan bahkan jauh lebih menyakitkan daripada di rumahku di Palma!"
"Jadi aku seperti Iblis bagimu?!" Leyka menghela nafas panjang, kemudian memeluk Valentino. Leyka tidak perduli seberapa kuat tangan Valentino mencengkeram lengannya untuk menepiskannya, Leyka dengan kuat menautkan tangannya di pinggang Valentino.
"Val, aku sering menangis sejak kepergian Ayahku, saat aku di kunci di lemari oleh Ella Gusmo, aku masih bisa menangis. Henry menjulukiku gadis cengeng karena aku mudah sekali menangis bila ingat Ayahku, ditambah penyiksaan Locki dan penindasan Ella Gusmo. Tapi sejak Locki membenamkan wajahku ke dalam sepanci bubur, saat itulah aku takut menangis. Aku tidak bisa bernafas. Aku takut tersedak, bubur itu masih hangat Val" Valentino bisa merasakan Leyka menahan amarahnya dengan mengetatkan pelukannya.
Sekalipun Leyka memiringkan kepala dan menyandarkan kepala di dadanya, Valentino bisa merasakan lembutnya airmata Leyka yang membasahi pori pori kulitnya.
"Leyka. Itu-- itu mengerikan. Itu kejam sekali. itu Bia*dab sekali!" Valentino menangkupkan tangannya di kedua pipi Leyka agar wajah Leyka mengarah kepadanya.
__ADS_1
"Kau tidak tahu siapa aku. Belasan tahun aku tidak pernah menangis, tapi di sini, pria ini-- kau berhasil membuatku menangis. Aku selalu mencari orang yang membuatku menangis. Dan itu dirimu. Karena menangis, aku merasakan menjadi manusia. Mari kita keluar dari neraka ini dan membuka lembaran baru. Kita akan menyelamatkan satu kehidupan. Siapa tahu, kita akan menemukan kehidupan bahkan cinta yang lebih baik. Bahkan jika kau percaya takdir itu ada, siapa tau kita berjodoh di masa mendatang. Percayalah, kau akan bahagia melebihi pencapaian kesuksesanmu" melihat mata Valentino memerah, Leyka semakin menurunkan airmatanya hingga menyentuh jemari Valentino yang masih menangkup di pipinya.
"Kehidupan siapa yang kau maksud?! Katakan padaku Leyka?! Diego sekarat? Atau-- Atau Rebecca mengancammu? Katakan Leyka! Apa Rebecca mengancammu akan membunuh dirinya?! Percayalah itu sudah sering ia lakukan!" tangan Valentino beralih ke lengan Leyka, ia mencengkeram kuat dengan geram.
"Val, kau akan tahu saat kau tiba di Italy. Seandainya, tidak ada kehidupan yang harus di selamatkan, kita tidak bisa bersama. Kau tidak bisa menemaniku makan roti dengan butter saja" Valentino menyeringai dan menghempaskan lengan Leyka hingga gadis Spanyol itu mundur satu langkah. Sikap itu membuat Leyka semakin sakit. Ia menyeka kasar airnatanya.
Aku tidak akan menangis lagi! Ini sudah cukup!. Leyka.
"Karena itulah makanlah cake red velvet bersamaku" Leyka tersenyum dengan memiringkan satu sudut bibirnya. Sifat bar barnya kembali lagi. Airmatanya tiba tiba mengering dan hatinya semakin membeku.
"Val, yang kita rasakan bukan cinta" ujarnya dengan nada datar. Leyka berusaha sabar.
"Tapi aku mencintaimu dan kau tidak! Cintaku tidak berbalas!" Valentino menudingnya lalu menghantam kembali tembok kayu dengan marah.
"Val, apa kau mau berkorban untukku?" tanya Leyka kembali datar. Valentino seketika membalikkan tubuhnya dan menatap Leyka dengan bengis. Seperti tersulut, Valentino kembali mencengkeram satu lengan Leyka hingga tubuh telanjang mereka tidak ada jarak lagi.
"Berkorban? Apa kau pikir yang aku lakukan selama ini bukan berkorban? Aku sudah berkorban banyak Leyka! Kalau kau memintaku untuk meninggalkan negaraku dan duniaku demi dirimu, itu mustahil! Kau pikir kau siapa, hah?! Aku telah menghabiskan banyak uang untuk kita! Aku telah berkorban dan apa itu tidak berarti untukmu?!" Rasanya sangat sakit, hati Leyka seakan terbakar, telinganya sangat panas, Leyka mengepalkan tangannya menahan Valentino kian merobek dan merendahkan harga dirinya.
Leyka membiarkannya, karena baginya ini hari terakhir mereka bertemu, ini adalah perpisahan yang harus mereka hadapi. Leyka hanya ingin menghabiskan waktu terakhirnya dengan baik bersama Valentino. Dia membiarkan pria itu menyakitinya, agar ia bisa cepat melupakannya.
"Berarti aku berhutang, aku akan membayarnya Val" dan Valentino melepas cengkeramannya.
"Tidak, kau sudah membayarnya dengan tubuhmu!" Leyka menatap Valentino dengan tersenyum, ia kembali menatap mata abu abu kebiruan itu dengan kebesaran hatinya. Leyka berusaha menahan penghinaan itu dan mencoba bersabar menghadapi kemarahan Valentino.
Terima kasih telah menyakitiku, Val..
"Kau pernah bilang kau meragukan perasaanmu pada Diego tapi mengapa kau menyebutnya cinta pertamamu dan kau memberikan kemurnianmu padaku?! Bahkan kau ingin menikah dengannya!" Dengan kasar Valentino menekan kasar tuas shower yang mengucur deras diantara mereka dan air shower itu berhenti mengalir. Leyka tersenyum dan hanya itu yang bisa ia lakukan, walaupun belati itu begitu kuat menikam hatinya.
"Karena kau pria yang sangat menarik dan itu hanya organ tubuh wanita yang bisa saja hilang bahkan hanya saat naik sepeda. Aku pernah mengatakan aku membuang sial disini. Tapi aku mendapatkan neraka terindah!" perkataan pedas Leyka membuat Valentino justru barada di kebuntuan. Mengartikan istilah gadis bar bar ini, membuat emosinya naik turun seperti naik rollercoaster.
"Apa kau jatuh cinta padaku? Apa kau mencintaiku?" tanya Valentino dengan melunak.
"Laki laki berpikir dengan kepalanya. Wanita berpikir dengan hatinya. Bisakah kau, untuk sekali saja berpikir dengan hatimu? Berhentilah berambisi dan melihat uang juga kesuksesan adalah segalanya. Val-- Kebahagiaan bagiku yang utama, sekalipun aku makan roti tidak beragi bahkan ketika aku tidak bisa makan apapun, aku akan tetap bahagia" dan Leyka justru membalas pertanyaan dengan pertanyaan.
"Jawab Leyka! Jangan berargumen denganku!" Emosi Valentino kembali naik dan ia menyambar kembali lengan Leyka hingga wajahnya bisa merasakan aroma mulut Leyka dan nafasnya yang begitu hangat.
"Aku tidak tahu! Terlalu dini untuk menyimpul apakah ini cinta atau bukan! Ini baru 11 hari" dan mata Leyka seakan menantang mata Valentino yang menatapnya dengan penuh kemarahan.
"Kalau begitu! Berikan bonusmu pada suamimu! Pada pria yang menikahimu! Anggap saja itu hadiah dariku!" Valentinopun menghempaskan lengan Leyka dan membalikkan tubuhnya memukul tembok kayu dengan berteriak, melampiaskan kekesalannya.
"Terima kasih atas pengorbananmu--
"Leyka hentikann!" hardik Valentino memotong perkataan Leyka. Namun Leyka tidak gentar.
"Terima kasih kau telah berkorban! Tapi aku telah mengorbankan sesuatu yang berharga! Bahkan semua uang yang pernah kau keluarkan! Bahkan semua harta di dunia ini tidak mampu membelinya! Semua tidak sebanding!" Tak kalah lantang, dengan segenap rasa sakit hatinya Leyka terus berargumen dengan caranya sendiri.
"Apa itu?! Kesucian mu?!" Valentino mengerutkan kedua alisnya dan membalikkan tubuhnya, ia memandangi punggung Leyka yang membelakanginya dan hanya menoleh tanpa melihatnya. Walaupun dari siluet samping, Valentino bisa melihat gurat kemarahan Leyka yang tertahan.
"Huhft-- Berpikirlah dengan hatimu sekali saja! Kereta akan berhenti 30 menit lagi, dan aku akan bersiap siap!" baru dua langkah berlalu mencapai pintu kamar mandi, Valentino dengan cepat menarik lengan Leyka dan menghempaskan tubuhnya di tembok dan menghimpitnya.
"Nona Asing! Aku akan mengambil bonusmu! Sekarang! Aku tidak perlu berbaik hati memberi hadiah pernikahan pada wanita asing seperti dirimu! Aku akan mengambilnya sekarang juga! Detik ini juga! Di si ni!" bisik Valentino dengan penuh penekanan dan diwarnai amarah.
__ADS_1
Valentinopun mencumbu Leyka dengan buas dan Leyka menerima perlakuan itu. Bahkan membalasnya lebih panas. Valentino menekan tengkuk Leyka dan mengangkat satu kaki Leyka hingga mencapai pinggangnya. Leyka yang terpejam kemudian membelalakan matanya ketika, senjata milik Valentino menerobos miliknya begitu saja. Walaupun masih terasa basah tapi itu sangat menyakitkan.
Namun Leyka membutuhkannya, Leyka rela dilukai fisiknya agar menekan rasa sakit diulu hatinya, yang kian menyesakkan dadanya. Leyka tidak ingin menangis, Leyka ingin segera keluar dari Neraka yang membelenggunya. Ketika cinta sia sia dijalani terkadang wanita memberi kesempatan untuk di lukai agar ia bisa bergegas pergi, agar ia bisa cepat melupakan kenangan kenangan indah itu.
Seperti bola yang dihantam ke tanah ia akan memantul hingga tinggi. Di rendahkan, tidak di hargai, di hina, Leyka membiarkannya agar ia bisa melompat lebih tinggi. Itu pemikiran Leyka. Saat ia tidak mengetahui bahwa sesungguhnya ia telah menyandang NYONYA GALLARDIEV secara sah di mata Tuhan dan sesungguhnya dimata Hukum. Mereka menikah dengan adat Afrika dan sesungguhnya juga adat keagamaan di Benua Eropa, hanya saja mereka berpakaian kepala adat. Saat passport dan visa di copy, sesungguhnya mereka melengkapi syarat pernikahan secara Legal untuk kepentingan kedua negara. Italy dan Spanyol.
Valentino terus memacunya, ia menggendong Leyka dengan menyandarkan tubuh gadis itu di tembok yang di lapisi kayu. Kereta terus berjalan menuju Capetown, waktu kian dekat menuju Johannesburg. Leyka membiarkan Valentino melu*mat buah dadanya yang telah terasa perih. Tiga kali bukankah sudah bagi wanita dan tidak pernah ada kata cukup bagi seorang laki laki? Leyka mencengkeram tengkuk Valentino, mere*mas rambut hitam dan ikal, ciri khas pria Italy yang menyalurkan amarah kepadanya.
Dengan mencengkeram kedua paha Leyka, Valentino terus mengoyangkan pinggulnya, sesekali memutar dan sesekali maju mundur, ia tidak pernah lelah. Keringat membasahi tubuhnya, adrenalinya terpacu dampak dari perbuatan Leyka yang mengubah jadwalnya, waktu semakin bergulir cepat.
"Aaarghhh.. Leyka.. Indah sekali tubuhmu.. Aaahh.. Kau tidak akan pernah merasa puas dengan lelaki lain. Kau hanya puas denganku saja. Aku bersumpah demi, Kenangan kita di Pretoria.. Aahh.. Sshhh.. Leykaa.. Aku menyukai segalanya yang ada padamu.. Aku mencintai tubuhmuu.. Sshhh.. Aarghh.. Leykaa" dan rintihan Valentino yang menceracau membuat Leyka menegang, ia tidak berharap mencapai titik puncak, ia berniat melakukan Fake Orga*sme namun Valentino sangat tahu titik kelemahannya dan caranya untuk menerbangkan hasratnya.
Hanya mencintai tubuhku? Aku semakin ingin cepat melupakanmu, Valentino Gallardiev.
Disaat akhir, Valentino memperlambat gerakannya dan mengu*lum puncak buah dadanya dengan lembut, lidahnya yang panas membuat pangkal paha Leyka semakin menginginkan sesuatu yang tidak bisa dilukiskan.
"Aaaaarrghh Vaaalll!" Leyka mengetatkan cengkeraman kaki dan tangannya, pahanya menegang dan Leyka menekan pinggulnya. Leyka menekan kepalanya ke tembok hingga kepalanya menengadah keatas. Valentino memandang keindahan dihadapannya, melihat seraut wajah Leyka dengan keringat yang mengucur, mencapai puncaknya. Valentino menyeringai melihatnya. Ia tergugah untuk segera menyelesaikan sesuatu yang dianggapnya bonus dan melukai perasaan Leyka.
"Aarrrghhh.. Nona Asing! Aaarrghh.. Leykaa! Sshh.. Aarrrgghhh!" dan favorit Valentino adalah membenamkan wajahnya di buah dada Leyka. Menghisapnya lembut puncaknya dan mengerang dengan mata terpejam. Dan nafas yang memburu itu perlahan mulai teratur. Seiring Valentino menurunkan Leyka. Mereka tidak bicara, hanya bahasa tubuh yang berbicara. Leyka memeluk Valentino dan Valentino mengusap punggung Leyka perlahan. Dan kereta bergerak melambat, hati mereka berdebar.
"Injak kedua kaki, aku akan membawamu ke bawah shower" kata Valentino dengan lembut, Leykapun menurut. Valentino berjalan ke arah shower dengan membawa Leyka yang menginjak kakinya.
Keretapun berhenti! Jantung mereka berdegup kencang! Apakah sampai Johannesburg? Pertanyaan itu berada di benak mereka berdua, yang enggan terucap dari mulut mereka.
Mereka berpandangan dengan penuh debaran, Valentino menarik tuas kran shower dan air hangat turun mengguyur tubuh mereka berdua. Mereka kembali berciuman dengan mata terpejam. Hingga pemberitahuan bahwa sekumpulan hewan di Sabana luas itu menyeberangi rel kereta. Mereka terlihat lega mendengarnya. MASIH ADA WAKTU, pikir mereka.
-
-
-
GIFTAWAY TELAH BERAKHIR YA GENGS! DAN INI PEMENANGNYA! SELAMAT YA BUAT PARA PEMENANG! YANG BELUM BERUNTUNG, BISA COBA NANTI DI NOVEL INI! TERUS PANTENGIN NOVEL INI UNTUK MENDAPATKAN INFONYA. KALIAN BISA NABUNG SEKARANG VOTE DAN HADIAH, GIFT AWAY RANKING UMUM AKAN DIADAKAN KALAU MAU TAMAT.
AKU AKAN NGADAIIN LAGI NANTI PER MINGGU. BILA SUDAH KONTRAK.
UNTUK PARA PEMENANG, BISA HUBUNGI KE NOMER WHATSAPP KU
+62 877-8531-8331
SYARATNYA : CUKUP KIRIM FOTO KALIAN DAN ALAMAT KE WHATSAPP KU, AKU AKAN TELEPON KALIAN UNTUK MEMASTIKAN PEMENANGNYA ADALAH KALIAN. UNTUK MENGHINDARI PENIPUAN.
Kan bisa dong siapa aja kirim foto ke aku dan ngaku pemenang 😆
TETEP KIRIM HADIAH DAN VOTE KE OOH DIANA GADIS HUJANKU YA GENGS, KARENA NOVEL INI BELUM KONTRAK!
THANK YOU MET BERAKTIFITAS 😘😘😘
SALAM SEHAT 🙏🙏🙏
__ADS_1