FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Kau Yang Memulainya, Ley


__ADS_3

Rencananya Valentino membawa Leyka yang berada di dalam gendongannya, ke Apartemennya, karena permintaan Train. Dia berkicau panjang kali lebar setelah pulang dari gereja, dia memilih untuk tinggal di Apartemen Daddynya yang terkesan luas dan lega. Valentino memang tidak terlalu banyak menempatkan barang barang, karena dia pria Red Velvet, semua bisa diperintah dengan menggunakan ponsel (telepon selular) pintarnya.


Apartemen Daddy adalah Apartemen Raja dan Apartemen Mommy adalah Apartemen Ratu. Jadi kalian tidak usah bingung aku bisa dimana saja. Aku bisa tidur di Apartemen Raja atau Ratu, itu terserah aku! Yang penting dimana aku berada kalian harus ada bersamaku, tidak boleh terpisah. Valentino tersenyum mengingat perkataan Train sore itu.


Leyka masih tergolek di ruang tengah di Apartemen Ratu, karena semua baju belum di pindahkan ke Apartemen Raja. Setelah berjibaku mengurus Train dan kekacauan yang dibuat Leyka, kini giliran Valentino mengurus Leyka yang terkapar disofa karena Leyka muntah disepanjang ruangan tamu, Apartemen Ratu.


Valentino membawa Leyka ke kamar dan membuka pakaian yang membalut tubuh Leyka. Ia hanya menggelengkan kepalanya, melihat Leyka dengan mata terpejam dengan bau minuman beralkohol yang menyengat.


Dan hadiah terindahnya adalah ia melihat pemandangan yang menakjubkan. Tubuh putih mulus tergolek dengan menggunakan underwear yang tersisa. Dengan penuh perasaan Valentino menyeka tubuh Leyka dengan bantuan Train yang di minta mengambilkan ini itu sambil berulang kali menguap.


"Sekarang ambilkan baju tidur Mommy" ujar Valentino sambil menyingkirkan peralatan mandi dan handuk kecil yang telah basah, dibawanya ke kamar mandi yang berada didalam satu ruangan itu.


"Mommy sudah wangi Daddy" dan Train lapor, sambil mencium pipi Leyka, lalu menyingkirkan peralatan wanita yang biasanya selalu Mommynya pakai setelah mandi. Wangi wangian tubuh yang lembut dan begitu menyeruak kuat memenuhi rongga pernafasan mereka.


"Si, Mommy sudah wangi. Nanti Daddy akan menciumnya" ujar Valentino dari kamar mandi, dan Train membuka almari Leyka lalu memilihkan baju tidur yang Leyka selalu pakai. Setelan baju tidur dengan atasan dan bawahan pendek namun longgar. Berbahan sutra berwarna biru donker.


Valentino kembali dan Train menyerahkannya, "Vamos (ayo), Daddy aku mau tidur" ujar Train sambil menguap. Valentino tersenyum dan mengacak rambut Train, lalu Valentino mengenakan baju tidur pada Leyka. Hati Valentino berdebar debar melihatnya, tubuh yang menantang itu membuatnya berulang kali membuat jakunnya naik turun, Valentino kemudian menggendong Leyka dan dibawanya ke Apartemennya. Apartemen Raja, Train menamainya.


"Damian jangan.. Aku.. Milik, Valentino" Leyka kembali menceracau saat didalam pelukan Valentino sama seperti sebelumnya. Setelah mengunci Apartemen Ratu, Train membuka Apartemen Raja dan mereka memasukinya.


"Shh.. Ihhs.. Ngh.. Daddy.. Uufh.. Train ngantuk" suara mungil itu terdengar merengek, Valentino buru buru memasuki kamar dan meletakkan tubuh Leyka di ranjang lalu menyelimutinya.


"Naiklah, Daddy akan membersihkan badan Daddy dulu. Tidurlah, Blue" Valentinopun menyelimuti Train yang berada di tengah lalu menciumnya. Setelah itu Valentino memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Setelah beberapa saat, Valentino keluar kamar mandi dengan celana panjang dan bertelanjang dada, itu adalah kebiasaannya yang menurun pada Train. Valentino terkejut, Train masih membuka matanya, seolah menantinya.


"Blue?"


"Daddy, Train ngantuk" Train berguling kesana kemari, Valentino mengerti Train terlalu letih, ia bisa merasakan tubuh Putranya pegal dan nyeri.


"Blue, kau menunggu Daddy?" tanya Valentino saat menaiki ranjang dan meraih kaki Train lalu memijatnya, Train mengangguk sambil mengucek matanya. Kemudian Valentino bersenandung, lagu pengantar tidur.


"Aku mau membuka bajuku"


"Bukalah, sini Daddy bantu" Valentino pun dan membuka baju Train, kini Train sama seperti sang Daddy, yang terbiasa tidak mengenakan baju saat tidur.


"No.. No.. No.. Kau tidak boleh membukanya.. Mengapa kau terus mengingatkan Mommy pada Val..lak" Leyka menggeliat dengan mata terpejam, efek alkohol masih menguasainya. Di ambang kesadarannya ia masih mendengar dengan jelas walaupun pikirannya terbang entah kemana.


"Mommy Mommy Mommy" bisik Train merubah posisinya memunggungi Valentino dan memeluk Leyka yang memiringkan tubuhnya kearah Train, tangannya mulai mencari rambut Leyka, dan memainkannya.


Valentino menggeser tubuhnya lebih mendekat, ia memandangi wajah Leyka dan mencuri curi ciuman selamat malam di keningnya. Valentino pun memeluk keduanya hingga menghimpit Train yang berada di tengah tengah, antara dirinya dan Leyka.


Aku ingin ini selamanya, Leyka.. Selamanya.. Bisa memandangmu diantara anak anak kita, bisa tertawa bahagia diantara kelucuan mereka.. Leyka, kita adalah takdir.. Aku mencintaimu, Leyka..


Valentino kembali mencium kening Leyka, barisan bulu bulu di sekitar mulutnya membuat Leyka mengerjap dan membuka matanya, Valentino berdebar saat Leyka tersenyum kearahnya, namun Leyka memejamkan matanya lagi.


Valentino kembali memeluk kedua, ia menempellkan dahinya ke dahi Leyka dan berbisik, "Selamat tidur Istriku, selamat tidur Putraku" Valentinopun kembali bersenandung lagu tidur dan sesekali ia mencium Train, hingga sang malam membawanya berlarian ke alam mimpi, merajut malam dan meniti pagi.


-


-


-


Apartemen Raja,


Pukul 05.00 Waktu Barcelona


Leyka kembali menghempaskan tubuhnya ke ranjang setelah ia dari kamar mandi. Hawa dingin menyeruak, membuatnya mencari kehangatan di balik selimut dan memeluk Train, ia tidak menyadari bahwa Train tengah di peluk Valentino. Ia kembali terlelap.


Train menggeliat, ruang geraknya serasa sesak. Kedua orangtuanya menghimpitnya sehingga ia merasa tidak nyaman.


"Uhs!" Train pun bangun dan duduk. Ia sangat kesal tidur berdesakan, ia menggerutu dan itu membangunkan Valentino.


"No me gusta (aku tidak suka)! Aku mau tidur sendiri! Kalian menyebalkan! Kalian terus mendesakku" gerutu Train membuat Valentino tersenyum dengan mata terpejam.


"Di sebelah adalah kamarmu, Daddy akan menemanimu tidur disana"


"No! Aku selalu tidur sendiri! Train mau tidur sendiri, Train sudah besar!" gerutu Train sambil memukuli ranjang.

__ADS_1


"Daddy akan mengantarmu, sekalian Daddy ingin buang air kecil, ada inhaler di dibawah bantal. Jangan mengunci pintu, Blue" Valentino telah menyiapkan saat Train ingin bersamanya, diam diam ia ingin merenovasi kamar Train nantinya.


"Si !" Jawab Train dengan merengut, mau tidak mau Valentino bangun dari tidurnya lalu bangkit berdiri dan mengantar Train ke kamar yang memiliki ruangan lebih kecil. Kamar itu di sebelah kamar Valentino dan rencananya untuk kamar Train.


Setelah mengantar Train dan mencium keningnya, Valentino kembali ke kamarnya namun ia menuju kamar mandi untuk buang ar kecil. Matanya membesar melihat underwear Leyka tergeletak begitu saja dilantai dan telah basah, br*a terlihat menjuntai di wastafel, Leyka sepertinya sengaja melepasnya karena ia tidur terbiasa tanpa br*a, Valentino menggelengkan kepalanya. Setelah selesai buang air kecil, Valentino meraih underwear dan br*a itu lalu memasukan ke dalam keranjang pakaian kotor.


Ia kemudian mencuci tangannya dan kembali ke ranjangnya, ia melihat sekilas kearah Leyka yang meringkuk di dalam selimut dengan begitu lelapnya, ia mendekatkan dirinya lalu mencium dan memeluk Leyka, Valentino kembali terlelap. Karena iapun sangat lelah karena ulah Leyka yang muntah sembarangan.


Dan waktu terus bergulir, dua insan semakin mengeratkan pelukannya dan semakin nyaman, semakin mencari kehangatan. Leyka memiringkan tubuhnya dan kepalanya merebah di dada Valentino yang berada di hadapannya. Kaki Valentino merangkul, menindih pinggang Leyka selayaknya guling namun bernyawa.


Di alam mimpinya, di antara memuainya alkohol yang mendera dan menyadarkannya perlahan, Leyka dibuai oleh hasrat dalam mimpinya. Hidung Valentino merayapi lehernya, ia seakan terbang ke Castello De Monte, Pretoria. Dimana disebuah pagi yang begitu dingin, Valentino menghangatkannya. Menerjang hawa dingin hingga memanaskan suhu tubuhnya.


Dan sesungguhnya yang terjadi adalah Valentino terlelap, namun sesuatu yang menempel diperut Leyka, menggeliat dan mengganggunya. Sehingga tanpa Leyka sadari, tangannya liar merayapi tubuh Valentino.


"Nghhh.. Val.. Shh" Valentino mengerjapkan matanya mendengar lembutnya suara yang selalu dirindukannya, yang selalu terngiang di sepanjang 8 tahun perjalanan hidupnya. Yang mengikis sisi kelelakiannya dan menemani malam malam yang begitu sepi.


Dengan mata terpejam, dibawah naungan sang mimpi yang menuntunnya, tangan Leyka membelai lembut pinggang Valentino dan tangan lembut itu terus bergerak ke arah perut Valentino, mencari sesuatu yang membuatnya gelisah, sesuatu yang mengeras dan mengusik pusarnya dan mengalirkan gairah yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Valentino membuka matanya, bahkan mata Valentino membulat seketika, tatkala tangan Leyka menelusup ke dalam celananya dan menangkap jagung bakar Afrika Selatan yang telah menghangat.


"Aaah.. Ley" bisik Valentino, terdengar parau dan nyaris menghilang suaranya.


"Ng..hh.. Ng..hh.. Aaahh" dan suara lembut Leyka terdengar seperti simfoni yang mengalun merdu layaknya orchestra klasik di telinganya.


"Kau menginginkanku, Il mio amore?" Valentino mencengkeram punggung Leyka, menahan rasa indah yang mengalir cepat hingga wajahnya memerah.


"Nghh.. Val" Dan didalam mimpinya, Valentino, menyusuri setiap jengkal tubuhnya dengan bibirnya. Tangan lembut bak sutra itu merasa terganggu dengan celana Valentino kemudian Leyka menurunkannya hingga mencapai setengah paha Valentino lalu Valentino meneruskan menurunkan semuanya, hingga ia tidak memakai apapun lagi.


Dengan cepat, tanpa Leyka sadari, ia menurunkan celana tidurnya yang tidak lagi menggunakan underwear karena Leyka telah menjatuhkannya di kamar mandi. Valentino diam terkesima melihat paha mulus Leyka, naik turun melepas underwearnya, matanya membulat dan tubuhnya memanas seketika melihat sesuatu yang dirindukannya, irisan buah peach.


Nafas Valentino mulai terpacu cepat dan memburu hangat. Paha Valentino yang dipenuhi bulu bulu bergesekan dengan paha mulus yang terjaga kelembutannya, menambah aliran darah Leyka semakin berkejaran seakan saling menyerang yang bermuara pada pangkal pahanya.


Keduanya saling berhadapan dengan posisi miring, Leyka membentang dan menumpangkan satu kakinya di pinggang Valentino. Leyka menelusupkan jemari tangannya dengan kuku yang panjang namun rapi, kembali membelai perut Valentino. Leyka membelai sesuatu yang mengeras yang menutupi pusar Valentino, tangannya menggenggam dan mengarahkannya begitu saja pada miliknya.


"Le..ee..eey.. Sshh.. Ohh Shitt.. Sa..darlah Ley.. Ohhh.. Kau menginginkanku?" dada Valentino bergemuruh, ia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal, berulang kali ia menghela nafas dalam, seakan bersiap berlari marathon. Valentino memejamkan matanya dan menggigit bibirnya saat Leyka justru mengangkat pinggulnya lalu menuntun senjata milik Valentino memasukinya perlahan.


Leyka sendiri yang mempertemukan jagung bakar Afrika Selatan dan irisan buah peach yang pernah mendapatkan julukan 8 tahun lalu di kereta api The Blue Train, karena semua berawal dari sana. Tubuh Leyka tanpa sadar menuntut sesuatu yang dirindukannya.


"Le..ee..eeyyy.. Ohh Shiitt.. Aargh!" Sementara Valentino menahan dirinya, karena ia bergejolak hebat, perlahan Leyka mendorong pinggulnya, dan Valentino menekan irisan buah peach perlahan lahan dengan senjata miliknya yang kian menonjolkan urat uratnya.


"Lee..eeyy.. Sshh!" perlahan lahan, milik Valentino melesak ke dalam keindahan rasa yang begitu ia rindukan. Valentino mencengkeram punggung Leyka, tangan yang digunakan Leyka sebagai bantal pun merengkuh pundak Leyka hingga Leyka serasa kesulitan bernafas. Karena itulah Kesadaran dengan cepat menguasai Leyka.


Leyka membuka matanya dan langsung membulat seketika, tangannya yang mencengkeram senjata milik Valentino, ia lepaskan. Secara reflek Leyka meletakannya di dada Valentino dan mendorongnya. Ia melihat wajah Valentino yang ia gilai saat di Pretoria, hatinya berdebar melihatnya.



"Vaa..aa..aall.. Shhit.. Apa yang kau.. ahhh.. Lakukan?" Leyka mendorong dada Valentino, menjauh satu hasta dengan kedua tangannya.


"Ley.. Lee..ee..eey.. Kau.. Apa yang kau.. Ohh lakukan padaku, Leyka" Valentino menurunkan tangannya dan mendarat di bo*kong Leyka, Semakin Leyka mendorong satu hasta dada Valentino menjauh darinya, semakin kuat jugalah Valentino menekan pinggulnya, agar tidak lepas senjata miliknya, yang telah melesak sebagian dan Valentino berniat membenamkan seluruhnya serta menyelesaikan apa yang telah dimulai oleh Leyka.


"Val, ini tidaklah benar.. Lepaskan Val.. Aahh.. Ini tidak boleh" bisik Leyka meri*ntih rin*tih.


"Kau yang.. Memintanya.. Kau yang memulainya.." bisik Valentino penuh penekanan, mereka bergelut saling mendorong menjauh dan menekan kedalam, melesakkan ha*srat yang kian haus akan dahaga kerinduan.


"Aku.. Ahhh.. Aku hanya bermimpi.. Jadi lepaskan.. Vall" Leyka ingin memukul dada Valentino, namun Leyka mengingat Valentino baru saja terkena serangan jantung, jadi Leyka memberi dorongan menjauh, hingga berjarak satu hasta tangannya dan lurus menahan tubuh Valentino mendekat.


"Oohh.. Il mio amore.. Ahh.. Ini.. Ini sudah masuk setengah, Leyka. Aaargh.. Shhitt.. Aaahh.. Ketat sekali Ley" Valentino mencengkeram kuat bo*kong Leyka, ia menekan perlahan, inci demi inci jagung bakar Afrika selatannya memenuhi milik Leyka yang tak tersentuh.


"Fu*uck you! Aahh Val.. Lepaskan"


"Mengapa mengering begini.. Ini yang kau bilang dulu.. Kau sering bercinta dengan kekasihmu? Apa dia tidak tau cara membasahinya?" Valentino tersenyum dengan mempesona, Leyka berdebar debar melihatnya namun fisik Leyka terus melawan, di dalam tubuh Leyka seakan berdebat dan tidak ada yang mau mengalah.


Tubuh intinya menginginkannya, hatinya berdebar mengaguminya, tapi pikiran Leyka gundah. Ia mengkhianati Damian, dan Leyka menjadikan Valentino berkhianat kepada Istrinya. Di sisi lain, ketakutannya adalah hamil.


"Fu*uuckk you Val.. Aaahh.. Shitt"


"Penipu.. Aahh.. Dia tidak pernah.. Menyentuhmu.. Karena ini hanya milikku.. Aargh.. 8 tahun Leyka.. Apa kau yakin, kita akan melepaskan?" Valentino berbisik dengan mengembangkan senyumannya. Karena mulut Leyka hanya memakinya, Leyka pun tidak bisa mengatakan tidak.


"Fu*uck Youu.. Uhh.. Vall"

__ADS_1


"Bahkan saat kau menyebut namaku.. Kau mengajakku meneruskan ini semua.. Ahhh.. Leyka.." bisik Valentino lagi.


Ohh Shittt.. Tubuhku.. Shitt.. Menginginkannya. Batin Leyka dalam hatinya.


Keduanya membelalakkan matanya, mereka saling pandang, dengan mata yang saling ber*cinta, karena Valentino mendorong sekuat tenaga, hingga miliknya terbenam seutuhnya memenuhi milik Leyka yang begitu sesak. Sesuatu mengalir hangat dari dalam sana, mengalir begitu lembut, membasahi senjata milik Valentino, menuruni sekat demi sekat, melingkupi seluruhnya dan memanaskan has*rat mereka.


"8 tahun Ley.. Aku sangat merindukanmu" bisik Valentino semakin menekan bo*kong Leyka. Nafasnya memburu dengan tatapan tajam, Leyka semakin tak kuasa.


"Aahh.. Valll.. Aahh.. Ohh tidak" Leyka justru menghempaskan wajahnya ke dada Valentino dan mencengkeram punggung Valentino. Leyka tak kuasa lagi menahannya, ha*srat kian memuncak padahal Valentino belum juga memulai menggoyangkan pinggulnya.


Leyka meledak ledak hasratnya, ia mencakar punggung Valentino dan menggigit dada bidang itu. Sekuat tenaga Leyka menahannya namun bisikan Valentino yang begitu menghiba di tambah tangan kokohnya mencengkeram bo*kongnya membuat Leyka tak kuasa menahannya.


"Le..paskann.. Il..mio..amore" suara lirih Valentino sama seperti saat di Pretoria tapi ini penuh kerinduan yang teramat dalam.


"Aaahh.. Vaalll" Leyka menahan suaranya yang kian berat dan Leyka mengetatkan paha yang menaut di pinggang Valentino, di dada Valentino ia mengeratkan pejamannya dan membiarkan hasratnya meledak di puncak ketinggian. Gigitannya dengan nafas memburu membuat Valentino pun tak kuasa.


"Oohh... Leykaa.. Aaargh.. Aahh.. Il mio amore" Valentino menghentakan perlahan pinggulnya, kakinya mengejang, tangannya mencengkeram kuat bo*kong Leyka, ia terus mendesak irisan buah peach, memacunya seiring ledakan benihnya yang menambah kehangatan didalamnya.


Mereka terkulai dengan mengatur nafas mereka dengan posisi miring, mereka masih berpelukan, dengan erat, menikmati setiap getaran dari dalam tubuh mereka, yang menyatu dan menaut dikedalaman rasa yang tak kunjung mereda. Tak perduli keringat mengucur di dada Valentino, Leyka enggan mengangkat wajahnya. Sementara Valentino terus menciumi puncak kepala Leyka dengan mata terpejam, tangannya naik turun membelai lembut punggung Leyka. Kerinduan melebur menjadi satu.


Mereka saling tersenyum walaupun tidak saling melihat, mereka mengingat sebuah kata di Pretoria, Sebentar tapi berkualitas. Mereka saling mengulas senyumnya. Kamar itu menjadi hening, hanya rasa indah yang berkejaran, dengan debaran yang menakjubkan. Hening, dan mereka terhanyut dalam pikiran masing masing, diiringi nafas yang menderu kian teratur.


"Mommy Daddy! Jangan bertengkar. Aku mau ke Apartemen Ratu, karena Ibu Manuella membawakan pie susu buah, katanya itu dari Abuella. Dia menekan bell Apartemen Ratu mungkin Ibu kira kita ada disana" Mereka terdiam. Karena mereka seakan tak mendengar apapun. Hanya Train yang mendengar panggilan Manuella berulang kali.



"Mommy Daddy!" Train mengulang panggilannya, dan menunggu jawaban dari luar kamar. Valentino meregangkan jaraknya dan menoleh kearah pintu yang tertutup lalu menjawab Train. "Iya Blue, Daddy sebentar lagi keluar kamar! Daddy di kamar mandi" Valentino kembali memeluk Leyka yang masih menyembunyikan wajahnya.


"Yeaaayy! Aku akan membawa pie buahnya kesini!" ujar Train dengan bersorak, tapak kakinya terdengar berlarian menjauh, menuju pintu.


"Kau masih menginginkanku?" tanya Valentino membuat Leyka memukul punggung Valentino lalu Ventino terkekeh lembut.


"Aku milik Damian, teganya kau melakukan ini padaku" kata Leyka dengan wajah terbenam, masih disana, didada bidang Valentino yang hangat. Leyka merasa berbuat kesalahan, ia merasa malu, dan kesal pada dirinya sendiri.


"Kau milikku. Dan kau yang memulainya, Ley" kata Valentino tersenyum sambil menciumi puncak kepala Leyka.


"Seharusnya kau memperingatkanku! Kau memanfaatkan keadaan, seharusnya kau menjadi laki laki sejati, yang bisa menjaga wanita agar tidak melakukan sesuatu yang menyimpang, kau justru melakukan ini padaku" gerutu Leyka sambil memukuli punggung Valentino dengan tak bertenaga.


"Ck, itu hanya ada di dalam novel. Tidak ada laki laki seperti itu di dunia. Setengah sudah masuk, tapi dilepaskan. Kalau aku lepaskan, nanti justru kau mengira aku gay dan kau menganggap dirimu tidak diinginkan. Tidak sopan menolak wanita yang sedang menginginkan ber*cinta-- serba salah menjadi laki laki!"


"Huhh! Aku tidak menginginkanya!" Leyka kesal dan mencubit punggung Valentino lalu menggigit dada bidang itu, tempatnya bersembunyi.


"Aaw Leyka-- Hahaha.. Kau menikmatinya.. Ayo akuilah" Valentino meringis dengan memberi jarak, membongkar tempat persembunyiannya, Valentino meraih dagu Leyka, lalu mencengkeram lengan Leyka agar melihat wajahnya.


"Lepaskan aku!" wajah kemerahan hingga ke daun telinga, mata yang sayu namun berusaha Leyka tegaskan, membuat Valentino berdebar. Wajah itu adalah wajah pagi Pretoria dan penuh kerinduan di Barcelona.



Gelombang asmara dengan ombak yang berdeburan, membuat keduanya kembali bernafas memburu, saat pandangan itu bertemu, dan seulas senyuman di bibir Valentino kembali mengacaukan perasaan Leyka.


"Le..Lepaskan aku, Val" bisiknya dengan merona, ia bisa merasakan senjata milik Valentino mengeras dan memenuhi miliknya, rasanya sangat menyesakkan dada Leyka.


"Tidak! Karena jagung bakar Afrika Selatanku, kembali bangkit, di dalam dirimu, il mio amore!" Valentinopun memeluk tubuh Leyka berguling, hingga ia menin*dih tubuh Leyka.


"Aaaahh Vaa..aa..alll" namun secara reflek Leyka menautkan kakinya di pinggang Valentino.


Dan Valentino tersenyum, dengan mengayunkan perlahan pinggulnya, mendorong kemudian menekan kian dalam. Hingga Leyka mencengkeram kuat, lengan Valentino.


"Kau ingat aroma keperkasaan dan aroma cinta, Ley?" senyum Valentino membuat rasa gengsi Leyka muncul, namun senjata milik Valentino begitu menikam dan menerbangkan hasrat juga kerinduannya.


"Fu*uckkk youu, Val.. Aaaahh.. Vaall.. Uuhhmm.. Aku lupa!" dengan mata terpejam dan menggigit bibirnya, Leyka berusaha menyembunyikan wajahnya, ia mendongakkan wajahnya, hingga memperlihatkan dagu dan lehernya yang menantang.


"Maka aku akan mengingatkannya!" bisik Valentino seakan diberi kesempatan untuk menikam leher Leyka dengan barisan bulu bulu kasar yang memenuhi sekitar mulutnya. Valentino menerjangnya tanpa ampun, mencumbuinya dengan memacu tanpa jeda, irisan buah peach yang kuat mencengkeram dan menjepit senjata miliknya.


"Ohh Shiit!" Dan Leyka membuka matanya, ia merasa salah berbicara, ia mengumpat namun ia juga menikmati setiap sentuhan bahkan ia membalasnya dengan mere*mmas rambut Valentino.


Suara merdu bak simfoni yang menghanyutkan membuat kamar Raja di Apartemen Casa de Miel, terasa sangat manis, seperti arti Miel itu sendiri yaitu Madu.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2