
Pagi yang begitu cerah, diawali dengan kicau burung dan tentu saja dengan kicauan Train yang menggoyangkan daun pintu Apartemen Raja dan memanggil Mommy dan Daddynya dengan bernada lembut, melantun mendayu dayu. Tidak seperti biasanya dengan berteriak.
"Mo..oo..omy.. Mo..oo..omy.. Da..aa addy.. Daa..aa..addy"
Mendengarnya Valentino yang tidur di sofa dan Leyka yang tidur di kamar, membuka matanya lebar lebar.
"Mo..oo..omy.. Mo..oo..omy.. Da..aa addy.. Daa..aa..addy"
Valentino sontak bangun dan mengambil semua pakaiannya yang terbececeran di lantai yang dialasi karpet dan berlarian menuju kamar.
"Ley! Buka pintunya! Ada Train! Leyka buka pintunya. Jangan sampai Train tau, aku tidur di sofa, Ley" kata Valentino dengan mengecilkan volume suaranya sambil menggoyangkan daun pintu. Tangannya penuh pakaian dan segala pernak perniknya, yang dikenakan semalam, karena Valentino tidur hanya mengenakan underwear.
"Mo..oo..omy.. Mo..oo..omy.. Da..aa addy.. Daa..aa..addy"
Leykapun membuka daun pintu dan alangkah terkejutnya Leyka saat melihat Valentino nyaris telanjang bulat. Leyka menggelengkan kepalanya dan langsung memasuki kamar mandi. Valentino sendiri juga terkejut Leyka masih menggunakan gaun semalam. Train masih memanggil kedua orangtuanya.
"Mo..oo..omy.. Mo..oo..omy.. Da..aa addy.. Daa..aa..addy"
Valentinopun mengikuti Leyka ke kamar mandi, dan ia melihat Leyka yang kesusahan membuka gaunnya. Ia melempar semua pakaian kotornya dan menghampiri Leyka dengan berdiri dibelakangnya sambil membuka resleting gaunnya.
"Biarkan aku membantumu" ujar Valentino dan Leyka terdiam, karena memang Leyka kesulitan membuka gaun itu. Dan Leyka membulatkan matanya dengan wajahnya yang memerah hingga mencapai telinganya. Valentino sengaja menempelkan senjata miliknya yang setengah menegang-- karena kondisi laki laki normal yang terjadi di pagi hari --Valentino menempelkannya tepat di bokong Leyka. Train masih terdengar memanggilnya.
"Mo..oo..omy.. Mo..oo..omy.. Da..aa addy.. Daa..aa..addy"
Shiittt.. Dia sengaja melakukannya. Pagi hari diawali dengan umpatan Leyka walaupun hanya dalam hatinya. Leyka mendengus dengan mendelikkan matanya lalu memukul paha Valentino agar menyingkir dari belakang badannya dan Valentino hanya meringis karena ulahnya ketahuan oleh Leyka.
Namun bukan Leyka yang membiarkan Valentino lolos begitu saja, Leyka membalasnya dengan melepas semua pakaiannya tanpa balutan apapun, ia menutupi buah dadanya dengan rambutnya dan berjalan santai kearah, ruangan dengan tabung kaca yang di dalamnya terdapat shower dan peralatan mandi. Tanpa melihat kearah Valentino yang terkesima, Leyka menutup pintu ruangan kamar mamdi yang berbentuk tabung kaca itu, dan ia membasuh tubuhnya dengan air hangat.
Pembalasannya lebih mengerikan.. Shitt.. Bisa bisanya dia telanjang dengan santainya.. Dasar bar bar.. Shiiitt.. Dia membuat Pene-ku (pe*nisku) bangun! Shitt..
Dan pagi yang indah itu juga di awali dengan umpatan Valentino. Kemudian ia mendekati kamar mandi berbentuk tabung kaca yang telah berembun dan menyamarkan, lekuk tubuh Leyka. Valentino berdebar melihatnya.
"Apa bisa aku masuk dan kita mandi bersama untuk menghemat air, Ley?" tanya Valentino dengan alasan konyolnya, nada suaranya terdengar bergetar dan Leyka terkekeh dalam hatinya.
"Aku akan membayar tagihan air bila kau tak mampu membayarnya. Kau bisa mandi di kamar mandi yang berada di kamar Train" ucap Leyka seakan menampar Valentino. Ia sendiri juga ragu apakah Leyka mau diajak mandi bersama atau tidak. Ia juga telah menduga, bahwa Leyka pasti tidak akan mau mandi bersama. Jika terjadi itu sebuah Keajaiban dan Keajaiban itu tidak ada sepagi itu, pikir Valentino.
Fu*ckk. Umpat Valentino dalam hatinya dam berlalu dengan memegang senjata miliknya menuju kamar Train. Valentino mandi disana.
"Mo..oo..omy.. Mo..oo..omy.. Da..aa addy.. Daa..aa..addy"
Valentino mandi secepat mungkin, agar ia bisa membukakan pintu untuk Train namun Leyka juga berpikir hal sama. Beberapa menit kemudian Leyka keluar dari kamar mandi dengan bathrope milik Valentino yang terlalu besar untuknya. Leyka terkejut melihat Valentino yang terlebih dahulu menyelesaikan mandinya. Ia berdiri di depan pintu almari dengan celana training berwarna merah tua, tanpa mengenakan baju.
"Mo..oo..omy.. Mo..oo..omy.. Da..aa addy.. Daa..aa..addy"
"Iya Train, tunggu!" seru Valentino menjawab panggilan Train kemudian. Saat Valentino berjalan kearah Leyka dengan merentangkan tangannya-- memberi pelukan dan salam pagi --Leyka justru berjalan keluar pintu kamar. Ia menghindari Valentino yang terus menatap tajam kearahnya dan membuatnya terpesona. Auranya pagi itu, Valentino terlihat bercahaya dan sangat tampan, Leyka memuji Valentino dalam hatinya.
Jadi ada sisi pemalu dalam diri Leyka yang tidak pernah aku tahu, dia pasti sangat canggung.. Bar bar bukan sifat aslimu, itu sifat untuk menutupi kelembutanmu yang sesungguhnya.. Aah kau semakin menggemaskan.. Tapi aku ingin Leyka yang dulu pernah ada di Pretoria..
Valentino berulang kali menghela nafas panjang, ia kembali membuka pintu almari dan memilih pakaian. Walaupun ada kecanggungan luar biasa terjadi di antara mereka, terutama dari sisi Leyka, Valentino berusaha mengerti karena ia pun pernah berjanji untuk tidak menjadi pribadi yang pemaksa.
"Buenos dias, Mommy!" Train berseru saat Leyka membukakan pintu dengan menyodorkan beberapa tangkai bungai mawar yang diikat menjadi satu menjadi buket bunga.
"Train?!" Leyka duduk bertinggung-- meletakan diri dengan cara menekuk kedua lutut dan menjadikan telapak kaki sebagai tumpuan, sehingga posisi bokong hampir menyentuh tanah --lalu ia menegakkan tubuhnya dengan menumpukan kedua lututnya dilantai untuk menyamakan tinggi Train sejajar dengannya.
"Buenos dias, Blue Train.. Blue Train.. Blue Train.. My sweet Pretoria" bisik Leyka sambil memeluk dan menciumi Train bertubi tubi.
"Daaaddyy! Buenos dias! Aku membawa bunga untuk Mommy sebagai ganti bunga yang aku berikan pada Grandma semalam!" Train menguraikan pelukannya saat melihat Valentino berjalan kearahnya dan Train berlarian menyongsong Valentino dengan merentangkan tangannya.
"Ooh, Il mio figlio intelligente (putraku yang pintar), Buenos dias (selamat pagi)" kata Valentino langsung duduk bertungging dan memeluk Train serta menciuminya bertubi tubi.
"Apa itu artinya?" tanya Train sambil memiringkan kepalanya.
"IL mio figlio intelligente adalah Putraku yang pintar" jawab Valentino sambil mencolek hidung Train dan Train menggosok hidungnya yang terasa risih.
"Si, Putraku yang pintar, mi hijo inteligente dalam bahasa Spanyol" sahut Leyka dengan tersenyum dan berjalan kearah dapur diruangan Apartemen Raja. Valentino dan Train tertegun menatap langkah kaki Leyka menjauh, mereka pun mengikutinya.
Tanpa bertanya, Leyka bersikap seperti berada di rumahnya sendiri, semua yang ada di sekitarnya adalah miliknya, tanpa canggung. Valentino berseri seri ketika melihat Leyka membuka satu demi satu almari kitchen set mencari vas bunga.
"Aku memetiknya dari balkon, aku mengikatnya dengan tali rambut Mommy-- Mommy tidak marah kan? Aku memetik bunga mawar Ludwig?" tanya Train dan membuat Leyka melirik sekilas ke arah Valentino.
__ADS_1
"Tidak apa apa, Carino (sayang)" ujar Leyka sambil mengisi vas bunga dengan air dan di tambah soda, yang telah diambilnya dari lemari pendingin di area dapur, agar tahan lama.
"Mi amor-- Buenos dias (cintaku, selamat pagi)" Leyka terkejut saat Valentino mencium pipinya dari belakang. Train berbinar melihatnya namun ia menyelidik dengan kejelian matanya.
"Hmm-- ehh.. Ehmm.. Buenos dias" jawab Leyka gugup dan ia bergegas memasukkan bunga mawar ke dalam vas bunga lalu dibawanya keluar dari area dapur. Leyka meletakkannya di meja ruang tamu. Apartemen Raja terlihat ada kehidupan dan bernyawa yang mana ruangan itu kurang sentuhan tangan wanita.
"Vamos (ayo), kita sarapan" ujar Leyka menuju Apartemen Ratu dengan sikapnya yang masih kaku. Valentino tersenyum saat Train melihat kearahnya. Ia tahu Putranya mengamati sikapnya dan sikap Leyka.
Sikap Daddy bagus.. Tapi sikap Mommy tidak.. Aku harus berbuat sesuatu. Pikir Train.
-
-
-
Leyka keluar dari kamar dan menuju dapur, ia telah mengganti pakaiannya. Wanginya aroma masakan Rosemary seakan memenuhi Distrik Miel. ¹Ia melihat Rosemary, Valentino, Train dan juga Dolores berada di meja makan dengan bersendau gurau, sebuah kehangatan yang Leyka rindukan dan ini pemandangan yang sangat langka.
Sang Ibu bangsawan itu, membuat sarapan dengan tangannya sendiri. Rosemary terlihat cantik dengan gaun sederhana, milik Putrinya. Gaun terusan, berlengan pendek, berkerah bulat, dengan karet di pinggangnya hingga gaun itu berkerut dan membuat tubuh Rosemary terlihat masih terjaga kerampingannya, gaun berwarna biru tua bercorak bunga itu menutup sampai betisnya. Rosemary terlihat anggun dan sederhana, semua pakaian miliknya masih berada di Hotel, dan sudah pasti Demetri akan mengantarnya ke lantai tujuh setelah Rosemary memerintahkannya.
"Buenos dias Ibu, Buenos dias Tia (bibi) Dolores" sapa Leyka sambil mencium pipi Rosemary bergantian dengan Dolores. Dan mereka menjawab bergantian memberi salam kehangatan yang menjadi rutinitas dan menjadi budaya disana.
"Kau tau, Pachito? Cucuku mengecoh Alfredo semalam. Saat Alfredo mengantar sampai lobby, cucuku mengajakku mampir ke Apartemen Tia-mu Dolores. Jadi Alfredo pikir itu adalah Apartemenmu dimana Ibu akan tinggal" kata Rosemary terkekeh, sambil menuangkan susu hangat di gelas Train.
"Si dan akhirnya banyak bunga bunga berdatangan sampai memenuhi Apartemenku hingga lobby, pengurus Apartemen sampai menegurku dan tidak boleh ada kiriman bunga lagi" cerita Dolores dengan tertawa.
"Pria itu sangat gila dan sangat gugup. Sebentar bentar ia ingin ke toilet" kata Rosemary tertawa bersama Dolores, dan Leyka tersenyum tipis.
"Biasanya orang yang gugup, memendam gejolak dalam dirinya dan bila meluap, Madre harus berhati hati" kata Valentino dan Leyka merasa tersindir. Leyka beranjak pergi menuju lemari pendingin, ia rasanya ingin berlari dari obrolan pagi itu dengan mengambil satu loyang puding yang tersimpan disana.
"Daddy, apa itu gejolak?" tanya Train sambil mengetuk ngetukkan jemarinya di meja makan.
"Ah, kemarilah-- Train turun dari kursi dan menghampiri Valentino lalu Valentino memangku Train --Ini ciuman gugup." Valentino pun mengecup sekilas kening Train.
"Dan ini ciuman yang sebenarnya penuh gejolak! Namun tersembunyi di dalam hati" Valentino pun menciumi gemas semua wajah Train hingga pundaknya hingga berbunyi. Train menjerit jerit karena kegelian, Rosemary dan Dolores ikut tertawa namun Leyka hanya tersenyum seolah tidak mendengar bahkan melihat mereka.
"Aaaa! Daddy stop stop stop! Lalu ciumlah Mommy seperti itu!" ujar Train menutupi pipinya dengan kedua tangannya, Train menunduk hingga dagu lancip itu menyentuh dadanya untuk menyembunyikan lehernya agar Valentino tidak menciumi lagi dan membuat Train kegelian. Semua terdiam dan wajah Leyka memerah saat mata mereka tertuju kearahnya.
Dolores dan Rosemary mengerti kegelisahan Leyka yang belum bisa menerima kenyataan pernikahan mereka, Leyka masih bingung dan sangat canggung atas status barunya.
"Mengertilah itu tidak mudah" bisik Dolores dan Valentino tersenyum dengan menautkan jemarinya diatas meja. Rosemary mengerti perasaan menantunya, ia tersenyum sambil meletakkan piring satu per satu di meja makan.
"Leyka sangat memahami sebuah didikanku saat Leyka masih kecil, bila kukunya panjang dan kotor tidak boleh memasuki meja makan. Aku akan memotongnya terlebih dahulu" kata Rosemary menggedikkan kepalanya kearah jemari Valentino dan Valentino mengerti maksudnya.
"Wah kuku Daddy juga panjang, Blue. Sepertinya Grandma menyindir Daddy, untuk tidak boleh sarapan!" kata Valentino bangkit berdiri dan menghampiri Train yang tengah dipotong kukunya oleh Leyka. Valentino kemudian duduk mengantri giliran.
"Maafkan Ibuku" ujar Leyka justru menganggap Rosemary serius menyindir Valentino padahal Rosemary justru menyuruh Valentino mendekati Leyka dengan alasan 'potong kuku'. Rosemary melakukannya agar kedua pasangan itu menjadi akrab dan menghilangkan kecanggungan Leyka.
"Tidak masalah, Madre benar-- Maukah kau memotong kuku-ku setelah Train?" Leyka hanya mengangguk dan Train tersenyum. Ia ingin bersorak rasanya tapi Train menahannya.
Setelah selesai Valentino menyodorkan jemarinya ia menatap Leyka lekat lekat dengan matanya yang menghunus relung hati Leyka. Train pun tertawa dan berlari menjauhi mereka, Leyka merasa ngeri. Ia seperti sendirian di ruang asing bersama Valentino. Leyka meremang dengan hatinya yang penuh debaran, tubuhnya memanas dan lehernya berkeringat.
"Train! Cuci tanganmu dulu!" Leyka berseru dan menoleh kearah langkah kaki Train yang berlarian.
"Si Mommy!" Trainpun menuju wastafel dan mencuci tangannya dan ia kembali berlari ke ruang tengah. Entah apa yang akan ia lakukan.
Satu, dua, tiga, empat, lima hingga sepuluh jemari Valentino dipotong Leyka dengan penuh perjuangan. Ya! Perjuangan Leyka mengatasi debarannya karena Valentino meruntuhkan hatinya lewat tatapan mata dan juga senyuman yang menawan hatinya.
"Kau orang ketiga yang memotong kuku-ku" suara lembut Valentino membuat jantung Leyka berdetak dengan cepat.
"Orang ketiga?" tanya Leyka dengan perasaan nyeri. Sudah pasti ia ingin menjadi orang kedua setelah Ibunya.
"Ibuku dan seorang wanita asing yang aku temui di Pretoria. Dia memotong kuku-ku di Castelo De Munte" Leyka menahan nafasnya dan menghembuskannya perlahan, nyeri itu lenyap dan kembali digantikan dengan debaran yang indah.
"Jadi aku bukan wanita asing itu?" tanya Leyka dengan fokus memotong kuku di jari kelingking Valentino.
"Kau berubah menjadi wanita yang tidak aku kenal. Aku ingin kau kembali menjadi wanita itu. Wanita yang melayaniku seperti Suami dan aku ini dianggap seperti miliknya, seutuhnya.. Walaupun saat itu hanya selama 10 hari di Pretoria." tutur Valentino menggetarkan hati Leyka.
"Ckk, sebaiknya kau mati saja!" ujar Leyka dengan wajah memerah dan Valentino tertawa melihat ekspresi Leyka yang terus menampakan kecanggungan.
Dan sebuah kilatan lampu yang menyilaukan membuat mereka terkejut. Train ternyata mengambil sebuah kamera polaroid, dengan tawanya Train mengabadikan acara potong kuku itu.
"Yeeaayy! Aku akan mengabadikan honeymoon kalian! Ayo kalian harus saling mentidur tiduri dan aku akan mengabadikannya juga!" ujar Train bersorak dengan mengibaskan hasil foto itu dengan melompat lompat.
__ADS_1
Rosemary dan Valentino tertawa saat Train mengatakan saling mentidur tiduri, lalu Rosemary membisikan sesuatu kearah Dolores yang belum mengerti bahasa Train, lalu Dolores tertawa setelah tahu artinya.
"Dasar Penelope" kata Dolores dengan tertawa. Train mengartikan mentidur tiduri dengan arti yang sesungguhnya, namun sudah pasti Penelope yang memberikan istilah itu pada Train, adalah arti tidur yang berbeda yaitu bercintaa. Leyka mendengus kearah Train tanpa sengaja Leyka memotong kuku Valentino hingga mencapai kulitnya.
"Aww Leyka!" pekik Valentino membuat Leyka membulatkan matanya.
"Astaga! Lo siento. Perdonami.. Apa sakit Val?-- Trainn kau nakal sekali! Kau mengejutkan Mommy dan lihat jari Daddy berdarah!" Train membuka mulutnya saat Leyka mengomel lalu dengan spontan Leyka menghi*ssap jari kelingking Valentino untuk menghentikan pendarahan.
"Mommy. Daddy. Lo siento! Ini di luar pre dik si ku-- Benar kan Daddy bahasaku?" tanya Train membuat Valentino tersenyum lebar.
"Tidak apa apa, Blue-- Valentino menoleh kearah Train lalu kembali menatap bibir Leyka yang mengul*um jari kelingkingnya --Ekhh.. Hekhmm.. Tidak apa apa.. Uhm, jangan memarahinya, kau tidak sengaja melakukannya" ujar Valentino menjadi gugup bukan kepalang.
Lidah lembut Leyka yang begitu hangat, berhasil membuat Valentino justru merasakan sesuatu yang lain. Mata Valentino melirik Rosemary dan Dolores yang menertawakannya, sontak Valentino membungkukkan tubuhnya dengan merapatkan pahanya, ia tidak ingin sang mertua melihat sesuatu yang mendadak mengeras dan membuat celananya kian sesak.
Ohh Shittt.. 'Jagung bakar' ini mengapa tidak mengenal kompromi.. Apa kau tidak malu pada mertuamu.. Shitt.. Pene (pen*iss) sialan. Umpat Valentino dengan berkeringat.
Dan kilat lampu kamera kembali menyilaukan. Train dengan tertawa dan Train kembali mengabadikan Leyka yang menghi*sap jari kelingking Valentino. Leyka terkejut dan menghempaskan jemari Valentino dengan merengut sinis. Leyka bersungut sambil bangkit berdiri mengambil kotak obat yang berada di laci meja, Leyka melirik cara duduk Valentino dengan menggelengkan kepalanya.
Dasar tidak tahu malu.. Di depan Ibuku.. Kau di depan Ibuku.. Beraninya dia bernaf*su sembarangan..
"Cuci tanganmu dan obati sendiri!" kata Leyka menuju wastafel dengan kesal pada sikapnya sendiri. Sementara Train masih terkekeh dengan sikap usilnya sambil mengibas ngibaskan hasil foto polaroid-nya.
Masih disaat yang sama, selang beberapa waktu kemudian, Manuella datang bersama Diego, mereka bergabung sarapan seperti biasanya. Manuella akan mengawasi Train mandi dan menyiapkan bekalnya ke sekolah, karena ia tahu pasti Valentino dan Leyka lelah karena acara semalam dan di sisi lain Manuella sudah lama tidak melakukan tugasnya semenjak ada Valentino.
Manuella berhamburan memeluk Leyka yang masih kesal dengannya tapi ia tidak perduli. Begitulah persahabatan Manuella dan Leyka, kesal marah hanya di bibir saja bukan di hati mereka.
"Apa kau lelah? Berapa kali semalam suamimu menghajarmu?" bisik Manuella dengan merangkul pundak Leyka yang menata beberapa garlic bread dari oven (pemanggang roti) di ruang dapur.
"Isshh! Tidak ada seperti itu!" dengus Leyka dengan mengerutkan alisnya.
"Aku tidak percaya. Wajahmu cerah sekali" goda Manuella masih berbisik.
"Aku mengunci pintu kamarku! Dia tidur di sofa ruang tengah!" ujar Leyka membuat Manuella terkekeh.
"Kalian bicara apa! Mengapa berbisik bisik! No No No! Blue Train tidak suka!" Leyka melengos dan Manuella menghampiri Train yang datang dengan bersedekap menunjukkan kemarahannya karena Train tidak menyukai orang berbisik bisik.
"Uhss menggemaskan! Ibu hanya akan membicarakan ehm-- Apa ya?" kata Manuella sambil menciumi pipi Train.
"Hari pernikahan kita!" sahut Diego dari arah meja makan, membuat semua mata yang melihat kearahnya terbelalak.
"Apa? Kau sudah menyelesaikan persyaratan untuk dokumen pernikahanmu?" tanya Dolores dengan menyentuh lengan Diego.
"Mengapa kau tidak mengatakannya padaku? Kalian berencana menikah? Kau tidak mengizinkan aku membantumu?" tanya Leyka seakan tak percaya, ia membawa hasil panggangannya ke meja dan Manuella juga Train mengikutinya.
"Aku tidak ingin memberikan beban pikiranmu, tapi semua sudah beres dan ada hal yang ingin aku beritahukan. Tapi aku harap kau tidak marah, Val" kata Manuella sambil duduk setelah tiba di meja makan.
"Aku? Mengapa aku harus marah?-- Valentino menggedikan bahunya dan Leyka memberi potongan garlic bread ke piringnya --Terima kasih, Mi amor" ujar Valentìno dengan tersenyum namun Leyka hanya diam dan duduk disampingnya.
"Ehm, Fotografer yang akan meliput pernikahan kami adalah Damian-- Apa kau keberatan, Val?" tanya Diego.
"Ohh No" gumam Train yang menggoyangkan kakinya kemudian, itu artinya Train sangatlah cemas.
Valentino menggenggam erat garpu ditangannya sementara Leyka meremas serbet dipahanya, lalu Valentino meraih tangan Leyka lalu menautkan jemarinya kemudian Valentino mencium tangan Leyka dengan penuh perasaan.
Sesaat Valentino menatap mata Leyka dengan tersenyum hangat lalu kembali menoleh kearah Diego dan berkata, "Tidak masalah! Itu sangat bagus! Karena aku telah mengambil milikku dari tangannya! Tidak ada siapapun yang bisa merebutnya lagi dari tanganku!"
Kaki Train kembali tenang dan ia kembali menikmati sarapannya, Valentino kembali mencium tangan Leyka lalu meletakkannya, kemudian ia meneruskan sarapan yang begitu penuh kehangatan. Leyka berdebar melihatnya.
Aku menyukainya... Aku menyukai Suamiku.. Aku rasa aku jatuh cinta padamu lagi, Val. Leyka.
-
-
-
"Gracias, like, sukrreb, komentar, vote dan hadiah kopinya yang mucho mucho mucho yaaaa... Aunty" suara Train yang mungil terdengar merdu di telinga para Bosqyu Pembaca yang baik.(malak merdu)
#mana ada sih malak merdu 🤣🤣
-
-
__ADS_1
-