
Hari Valentino menjadi sangat buruk setelah membaca pesan dari Torres, ia terpaksa mengambil cuti dan selalu bersama Leyka dan Train, ia memutuskan bekerja di rumah. Valentino menjadi mudah marah, sensitif, tempramennya kembali kambuh. Kerisauan hatinya tak kunjung mereda, ia banyak berpikir, ia menjadi gelisah dan terkadang melamun. Ia mencari cara bagaimana mengatakan apa yang ia alami dan semua yang telah terjadi.
Ia terus mondar mandir di dalam ruang kerjanya dengan cemas. Wajahnya yang tegas semakin menyeramkan, ia terus mengerutkan dahinya tanda ia berpikir sangat keras. Sekuat tenaga ia mengusir kegelisahannya, Valentino tidak mampu membendungnya. Segelas vodka di tangannya pun tak mampu menolong mengatasi kegelisahan dan ketakutannya. Lebih tepatnya takut kehilangan keluarga kecil yang baru saja mewarnai hari - harinya dengan begitu indah.
"Train jangan lupa jadwalmu menyapu halaman Abuella Lucita hari ini. Kau mendapatkan giliranmu, kerjakan sebelum berangkat ke Daycare karena kau harus ke kelas drama di Sekolah Esperanza hingga sore. Kau akan kelelahan nanti. Setelah mengerjakan giliranmu, kau akan bebas tugas" ujar Leyka sayup terdengar dari ruang tengah. Valentino mendengarkan pembicaraan Leyka dan Train dengan seksama.
"Si Mommy! Bolehkah aku meminum susuku setelah aku menyapu halaman Abuella (nenek) Lucita? Agar aku kembali kuat!" seru Train dengan riang dan Valentino semakin dipenuhi tanda tanya, hingga dahinya semakin berkerut kerut.
"Si, kau boleh meminumnya nanti. Letakkan susumu di lemari pendingin" pinta Leyka dan Train bergegas membawa segelas susunya kearah lemari pendingin di Apartemen Raja.
"Menyapu halaman? Halaman Abuella Lucita? Apa maksudnya ini?" gumam Valentino seraya meletakan gelas vodka ditangannya dan bergegas meninggalkan ruang kerjanya lalu menghampiri Leyka yang masih merapikan ruang tamu dimana banyak kaset dvd berserakan, bekas Valentino dan Train menonton semalam.
"Menyapu halaman Abuella Lucita?" tanya Valentino saat muncul di ruang tengah dan terpaku disana mengamati Leyka yang mondar mandir kesana kemari.
"Si, Train akan menyapu halaman Tia Lucita" jawab Leyka dengan tersenyum dan menyentuh lalu mencium lengan Valentino saat melewatinya. Bahasa tubuh yang hangat, yang membuat Valentino merasa dimiliki juga di cintai oleh wanita yang selama delapan tahun ini menghiasi pikiran dan hidupnya.
"Menyapu halaman? Putraku menyapu halaman milik orang lain?" Valentino mengulang pertanyaannya dengan menaikkan volume suaranya, ia masih terpaku dengan rasa tak percaya tentang apa yang dilakukan Putranya. Leyka tidak melihat alis Valentino yang berkerut dan nyaris menaut.
"Si, karena daun dan kelopak bunga mawarku selalu memenuhi halaman Tia Lucita di lantai paling bawah" ujar Leyka masih tersenyum seraya menutup pintu almari pajangan yang terbuat dari kaca, dimana ia menyimpan kembali kaset dvd disana.
"Dan Train menyapu? Apa kau sudah gila, Leyka?" tanya Valentino lagi dan nada bicaranya terlihat sangat dingin. Ada nada protes di dalamnya yang belum Leyka pahami.
"Hahaha-- Si, Train menyapu karena ini gilirannya. Kami semua bergiliran menyapu halaman Tia Lucita, Ibu Maria Fernandez. Keluarga Fernandez sangat membantuku, untung saja ada mereka. Kalau tidak aku akan kerepotan menyapu halaman Tia Lucita setiap hari" ujar Leyka beralih menggulung kabel penyedot debu yang telah ia gunakan sebelumnya.
"Menyapu halaman orang Leyka? Ini tidak mungkin! Kehidupan macam apa ini?" ujar Valentino mulai berjalan melangkah mendekati Leyka dengan merentangkan kedua tangannya, gestur tubuh yang protes dan meminta penjelasan.
"Kau tau, di Apartemen ini dilarang menanam bunga hingga melebihi batas balkon. Setiap sudutnya ruang hijau dan etestikanya diatur oleh Negara. Bukankah di Italy juga seperti itu?" dalih Leyka seraya menyimpan penyedot debu ke dalam almari dengan lacinya yang cukup besar.
"Bahkan bunga yang akan kau tanam harus mendapatkan izin di suatu Distrik. Bukan seperti di Spanyol, bunga apa saja boleh ditanam. Disana tidak sembarangan" ujar Valentino mulai membandingkan, Leyka masih tersenyum lalu ia berjalan kearah sofa lalu duduk seraya mengusap perutnya. Ia melepaskan kelelahan dengan menyandarkan seluruh tubuhnya.
"Hmm, lebih ketat disana ternyata. Saat aku membawa bunga itu dari pelarianku, aku tidak mendapatkan peringatan apapun, tapi setelah bunga mawar Ludwig Roses berkembang dan memenuhi balkon, aku mulai mendapatkan surat peringatan karena daunnya mengotori halaman Tia Lucita. Pengurus Distrik memberlakukan denda setiap bulannya. Apa kau tahu denda setiap Distrik di Spanyol senilai dengan seperempat gajiku? Lalu aku dan keluarga Fernandez mengadakan negosiasi dengan pihak pengurus dan akhirnya aku harus membersihkan halaman setiap hari" kata Leyka memberikan penjelasan panjang kali lebar.
"Lalu kau melakukannya? Jadi kehidupan seperti ini yang kau inginkan, Ley?" untuk kesekian kalinya Valentino menanyakan hal yang sama dan Leyka mulai mengernyitkan alisnya.
"Aku hamil saat itu, Val. Dan akhirnya keluarga Fernandez membantu dan kami membentuk sebuah jadwal hingga saat ini. Kami bergantian melakukannya. Tolong menolong masih berlaku disini. Penghuni disini sangat hangat dan saling perduli satu sama lain. Dan kau tahu betul kehidupan seperti yang aku inginkan. Mengapa kau menanyakannya berulang kali?" ujar Leyka mulai berkata tegas.
Valentino masih berdiri kini ia berkacak pinggang, ia tidak menghiraukan Leyka memberi kode untuk duduk di sebelahnya dengan menepuk sofa disampingnya dan Leyka merasa aneh dengan hal itu. Biasanya Valentino akan menghampirinya tapi kali ini tidak.
"Aku hanya tidak terima Putraku melakukan hal yang aku anggap tidak biasa Leyka!" ujar Valentino dengan bersungut.
"Apa Lucita masih sehat?" Valentino dan Leyka menoleh secara bersamaan kearah Rosemary yang datang bersama Guaddalupe dan menghentikan perdebatan yang baru saja akan dimulai. Rosemary dan Guaddalupe datang dari arah dapur, mereka semua baru saja menikmati sarapan bersama di Apartemen Raja.
"Si Madre (iya ibu), kadang kadang ia dibawa berjemur ke taman. Sejak Matthew Ford menjadi kekasih Maria, Tia Lucita sering dibawa ke fsioterapi. Diabetesnya menggerogoti semangat hidupnya. Tia Lucita sangat mencintai Train ia sangat senang bila Train datang berkunjung" jawab Leyka seraya menegakkan duduknya.
"Aku tidak tahu orang sekaya Matthew mau menjadi kekasih Maria yang hanya perempuan biasa saja" komentar Adda menyentil dan Leyka tergugah meladeninya.
"Keluarga Fernandez memiliki kemampuan menjerat laki laki karena kami memiliki cinta yang begitu luar biasa, Adda" kata Leyka dengan tersenyum kearah Valentino yang masih membeku.
Mata Valentino membulat saat mendengar tapak kaki Train yang berlarian dari arah dapur dengan memegang sapu yang digunakan untuk menyapu halaman. Sapu itu menyerupai sapu lidi namun terbuat dari mika berbahan keras.
"Daddy! Aku akan ke apartemen Abuella Lucita sebentar, lalu Daddy antar aku ke Daycare. Adios (sampai nanti)!" seru Train saat melihat Valentino dari koridor ruang tengah yang bersimpangan dengan pintu keluar.
__ADS_1
"Blue! Tunggu!" seru Valentino dengan mendengus kesal dan bergegas menghampiri Train.
"Letakkan sapu itu!" serunya kemudian setelah tiba di hadapan Train.
"Daddy?" desis Train terlihat bingung dengan menggosok hidungnya.
"Val?" Leykapun bangkit berdiri secepatnya saat melihat sikap Valentino yang tiba - tiba berubah kasar.
"Letakkan sapu itu Blue! Daddy katakan letakkan sapu itu, karena kau tidak pantas melakukan pekerjaan yang tidak seharusnya!" seru Valentino.
Aku bahkan tidak mengizinkan Miu menyentuh apapun semua jenis pekerjaan rumah.. Bagaimana aku bisa membiarkan Putraku melakukannya.. Apalagi ini dirumah orang.. Shittt.. kata Valentino dalam hatinya.
"Val?" Leyka tiba dan menyentuh lengan Valentino namun Valentino justru menepisnya.
"Daddy?" Train tergumam semakin tak mengerti. Anak cerdik itu mulai menilainya, saat Valentino menepis tangan Mommynya, Train mengerutkan alisnya.
"Letakkan Blue!" secara spontan Valentino merampas sapu itu dan membuangnya ke lantai. Semua terkejut melihat sikap Valentino yang mendadak berubah, bahkan Train sampai terguncang mendengar suara Valentino yang begitu keras. Melihat itu Leyka berdiri dihadapan Train yang wajahnya memucat seketika.
"Val! Apa yang kau lakukan! Ada apa denganmu! Kau membuat Train takut!" Leykapun mendorong tubuh Valentino agar menjauh. Rosemary dan Adda tak kalah panik dan turut menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya Rosemary seraya menghampiri mereka.
"Apa yang aku lakukan? Aku justru bertanya padamu! Apa yang kau lakukan pada Putraku Leyka! Mengapa dia harus menyapu halaman milik oranglain!" seru Valentino dengan kesal.
"Apa masalahmu! Ini hal yang wajar! Mengapa kau mempermasalahkan hal sepele seperti ini!" bantah Leyka menjadi berapi api sejak melihat Valentino berlaku kasar pada Train.
"Dia Red Velvet, dia Putraku! Dia tidak boleh melakukannya! Didikan macam apa yang kau lakukan pada Putraku! Ini tidak boleh! Kau sudah gila Leyka!" seru Valentino dengan wajah merah padam. Kekesalannya, kerisauannya terpicu sudah dan meluap tidak pada tempatnya.
Valentino lupa bahwa kemarahannya bisa menimbulkan dampak psikologis bagi Leyka yang tengah mengandung. Sementara Train justru merasa senang melihat pembelaan Valentino pada dirinya saat menyebut dirinya Red Velvet. Namun ia pun merasa kuatir akan sikap Valentino yang aneh belakangan ini.
"Dia Red Velvet! Kau bisa membayar berapapun kepada pengurus Distrik dengan uangku! Jangan melakukan ini pada Putraku! Jangan merendahkan Putraku! Kau tidak boleh mendidiknya dengan melakukan hal rendahan seperti itu!" seru Valentino dengan lantang. Rosemary membulatkan matanya dengan menggelengkan kepalanya.
"Hal rendahan?! Siapa kau dan beraninya kau mengkritik caraku mendidik Putraku! Beraninya kau membentakku! Beraninya kau mengatakan itu semua! Kau pikir semua bisa diselesaikan dengan uang?!" seru Leyka dengan menunjuk kearah Valentino.
"Valentino, apa kau baik baik saja?" tanya Rosemary dengan kelembutannya.
"Aku baik baik saja Madre! Tapi Putrimu sepertinya tidak baik baik saja! Ada yang salah dengan cara berpikirnya!" jawab Valentino dengan ketus dan menatap tajam kearah Leyka yang wajahnya mulai berkeringat.
"Jika punya anak, aku tidak akan mengijinkan anakku mengerjakan pekerjaan di rumah orang. Ada yang salah dengan cara berpikir istrimu. Kau benar Val!" perkataan Adda yang memprovokasi, semakin memancing emosi Leyka. Dengan sikap bar barnya, Leyka menarik lengan Adda dan menyeretnya kearah pintu keluar kemudian menghempaskannya hingga membentur pintu.
"Aawww! Leyka!" pekik Adda dengan meringis kesakitan seraya memegangi lengannya. Rasanya Leyka meremukan tulangnya.
"Diam! Dan pergilah dari rumahku dan jangan ikut campur!" seru Leyka kemudian menghardik Adda agar pergi. Train diam terpaku melihat itu semua.
"Pergilah Adda! Sebaiknya kau mulai memikirkan dimana tempat tinggalmu dari sekarang" kata Rosemary dengan tegas.
"Tia--
"Pergilah, aku memintamu secara baik - baik" potong Rosemary secepatnya namun masih bersikap lembut ala Bangsawan yang menjaga emosinya. Guaddalupe pun memilih pergi sebelum Leyka benar - benar mematahkan tangannya.
"Train-- Mi carino, apa kau baik baik saja?" tanya Leyka kembali menghampiri Train seraya membelai wajah mungil itu yang kian pias. Train mengangguk dengan mulut terbungkam melihat kemarahan Valentino.
__ADS_1
"Dia bukan Daddy yang kita kenal kemarin. Entahlah dia siapa pagi ini" ujar Leyka mengecup kening Train agar tenang.
"Aku siapa? Tentu saja aku Red Velvet dari Italy! Putraku Red Velvet! Dia tidak boleh di didik dengan cara orang Spanyol! Dia harus di didik dengan cara orang Italy! Kau boleh mendidiknya hanya dengan cara Bangsawan!" Leyka kembali terpancing emosinya. Ia memutar tubuhnya dan berbalik menghadapi Valentino yang masih menunjukkan kemarahannya, Leyka pun menyembunyikan Train di belakang tubuhnya untuk melindunginya.
"Aku pikir kau telah berubah, Val! Kau sama saja seperti Valentino yang aku kenal delapan tahun yang lalu! Kau bukan Red Velvet! Kau hanya Pria Italy yang tidak bermartabat! Kau egois! Arogan! Dan apa kau ingat apa yang memisahkan kita?-- Valentino terdiam seketika --Dan apa kau ingat apa yang menyatukan kita saat ini? Karena sikapmu yang sederhana, sikapmu yang menerima kehidupan roti tanpa butter yang aku tawarkan sejak kita berada di Pretoria!" ujar Leyka.
Valentino terdiam dan mengusap wajahnya dengan kasar. Matanya tertuju pada wajah polos Train yang bersembunyi dibelakang pinggang Leyka. Sesekali Train mengintip Valentino dan mengamati dengan kejeliannya. Mata biru keabuan itu beradu dan Train memberanikan diri untuk membalas tatapan mata sang Daddy yang tajam menatap kearahnya. Train sedih melihatnya.
Apa ada pekerjaan yang membebanimu, Daddy.. Ataukah ada hal lain. Train
Shittt! Apa yang aku lakukan.. Shittt.. Putraku ketakutan.. Ohh Shitt.. Valentino.
"Leyka aku--
"Aku tidak suka Pria arogan yang berdiri dihadapanku, karena itu sama halnya Pria arogan yang memintaku bersamanya delapan tahun yang lalu! Apa kau akan menikahiku saat itu? Kau hanya ingin aku mendiami sangkar emasmu. Apa kau mengingatnya?" Valentino mengumpat dalam hatinya.
Shiittt.. Aku tidak ingin kehilangan apa yang telah aku perjuangkan..
"Aku menyukai Pria sederhana yang berada di kedaiku dengan celemek barista, yang membersihkan meja, yang mengangkat nampan dan menyingkirkan gelas kotor. Pria yang mencuci piring, membuat kopi dan melayani para pelanggan! Aku menyukai Pria itu! Sederhana, tidak banyak diam karena dia selalu ramah dan selalu tersenyum. Pria yang mampu menempatkan kelasnya dan membaur dengan masyarakat, aku menyukai Pria itu, bukan Pria Red Velvet yang berdiri dihadapanku! Pintu itu terbuka lebar dan aku tau kemana aku harus menunggu Pria sederhana yang aku cintai" ujar Leyka mengetatkan rahangnya dengan matanya yang berkaca kaca.
Leykapun berlalu menuju pintu keluar seraya menggandeng tangan Train. Tentu saja tujuannya adalah Apartemen Ratu. Rosemary memilih mengikuti Putrinya yang menyeka airmata dalam diam. Namun baru beberapa langkah Train mengurai gandengan tangan Leyka dan membalikan tubuhnya kearah Valentino kemudian menatap mata biru keabuan milik Daddynya yang semburat kemerahan. Leyka dan Rosemary menghentikan langkahnya dengan menoleh kearah Train secara bersamaan.
"Mi nieto (cucuku)?" Rosemary mendekat.
"Train?" Leykapun bertanya - tanya dalam benaknya mengapa Train dengan berani mengurai genggaman tangannya.
"Terkadang aku membantu Mister Takeshi memberi makan ikan saat Mister Takeshi ke supermarket, aku juga membantu Abuella Dollores menimbang tepung bahkan membeli telur bersama saudaraku yang lainnya. Burung parkit milik Ramos aku yang memberi minum di hari minggu karena Ramos tidak pulang dihari sabtu, biasanya Ramos akan tidur di bar. Hari sabtu bar Ramos sangat ramai. Aku tidak bisa membiarkan burung parkit itu mati kehausan. Banyak hal yang aku lakukan membantu para tetanggaku, Daddy. Apa itu salah? Bagaimana bila ikan Mister Takeshi mati? Bagaimana bila burung parkit itu mati? Bagaimana bila Abuella kelelahan dan jatuh sakit? Aku tetap bangsawan! Aku tetap Red Velvet apapun yang aku lakukan!"
"Tapi-- Valentino luruh seketika dihadapan Train yang mengepalkan kedua tangannya. Antara takut dan berani menjadi satu, itulah yang dirasakan Train. Valentino berdiri dengan lututnya, ia ingin merengkuh Putranya dan mengurai ketakutan Train terhadap dirinya. Namun tak disangka Train justru mundur dua langkah hingga tubuhnya membentur kaki Leyka yang berdiri nyaris mencapai ambang pintu, Train melanjutkan perkataannya.
"Bahkan Ratu Inggris sering berkebun dan memberi makan anjing kesayangannya dengan tangannya sendiri. Raja Felipe pun terkadang membersihkan kandang anjing kesayangannya! Bahkan Presiden Putin mengupas kentang dan memasak. Mereka tetap bangsawan! Mereka tetap orang penting! Saat Daddy bekerja di Kedai sebagai pelayan, bukankah Daddy tetap Red Velvet? Daddy tetap orang penting" ujar Train memberi tamparan yang begitu halus namun sangat dalam menohok hatinya.
"Bluee! Bluee! Lo siento! Perdonami!" Dengan lututnya Valentino berjalan satu langkah seraya menyambar tubuh Train lalu memeluk seeratnya. Rasa takut kehilangan dan penyesalannya itu menyelimuti sekeping hatinya yang hancur. Valentino meminta maaf dengan dua bahasapun seketika menyejukan hati Train.
"No Daddy! Tidak perlu memelukku karena Mommy yang lebih membutuhkannya. Untuk sebuah maaf Daddy harus memintanya pada Mommy bukan padaku-- walaupun berkata tidak, Train membiarkan Valentino memeluk dan menciuminya untuk sesaat lalu ia melepaskan diri dari jeratan Daddynya dan meraih sapu yang tergeletak di lantai. Valentino diam seribu bahasa.
"Aku harus menyapu. Kasian Abuella Lucita. Karena mawar yang Daddy beli untuk Mommy mengotori halamannya. Mommy bukannya tidak mampu membayar denda, tapi saat itu Mommy harus menghemat uang karena Mommy mencari uang sendiri. Aku pernah berjanji, saat aku memiliki uang yang banyak, aku tidak akan membiarkan Mommy bekerja dari pagi hingga malam" ujar Train menggenggam gagang sapu dengan kedua tangannya dengan erat.
"Blue" Valentinopun duduk dengan menundukan kepala, ia merentangkan ibu jari dan jari tengahnya secara bersamaan di kedua sudut matanya untuk membendung airmata agar tak menghujani wajah tegasnya. Hidungnya memerah dan ia menyekanya lalu ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Valentino menatap Train lekat lekat dengan pandangan pasrah serta menghiba penuh penyesalan. Train iba melihatnya. Begitupun Leyka dan Rosemary, sejumput tanya bergelayut dibenak mereka, ada apa gerangan yang terjadi pada diri Valentino sehingga sosok pria Italy itu terlihat naik turun tempramennya.
"Jika Mommy sudah memaafkanmu. Daddy bisa membantuku menyapu halaman Abuella Lucita, Adios--- Ah, satu lagi. Kata Pastor Gilberto apapun yang kita lakukan dengan niat yang baik pasti aku akan mendapatkan hal yang lebih baik juga. Lebih.. Lebih dan lebih sampai tidak terpikirkan oleh kita. Aku dicintai seluruh Distrik Miel dan itu lebih dari cukup, Daddy. Mommy pernah mengatakan, tidak perlu menjadi Red Velvet untuk dipandang tinggi" lagi - lagi Valentino merasa tertampar. Didikan Leyka membuat Valentino merasa kagum pada pemikiran Putranya yang sederhana. Trainpun berlalu pergi, saat melewati Rosemary Train tersenyum karena sang nenek membelai rambutnya dengan mata berkaca kaca.
"Kau sangat hebat dan pemberani" puji Rosemary dengan rasa kagumnya.
-
-
-
__ADS_1
This day, hari ini 28 Maret adalah ulang tahunku. Jadi boleh tak nih aku minta vote n hadiah kopinya.. Thank you ya semua doanya untukku. yang pasti panjang umur dan sehat selalu untukku dan untuk kalian..
buat yg tglnya sama ulang tahunnya dengan ku.. Aku ucapkan Happy Birthday yaa.. Doa terbaik untuk kalian.. Salam penuh cinta dari Mandalika 😘😘😘💛💛💛