
Benarkah Cinta datang karena terbiasa? Ataukah Cinta datang karena ketergantungan? Di negara asing tak bertuan, tidak mengenal siapapun, layaknya di tempat pengasingan, layaknya di tempat pelarian, di kesunyian, di kesendirian dan di kesepian yang merejam hati yang terluka. Cinta bisa datang seperti pencuri. Keegoisan dan hancurnya sekeping hati terkadang membuat seseorang tidak menyadari kehadiran Cinta yang menyejukkan hati seperti angin yang berhembus di Musim Semi, seperti hangatnya mentari di Musim Panas.
Buket bunga dengan kartu ucapan manis terus berdatangan, hadiah demi hadiah yang memukau terus mengikat sebuah hati, perhatian demi perhatian serta perbincangan yang hangat terus mengalir mengisi relung hati yang sepi. Alfredo tak menyerah, ia terus datang dan tidak pernah melewatkan makan malam satu haripun. Tak perduli bagaimana pandangan dan ucapan ketus dari Leyka, tak menyurutkan semangatnya untuk menyunting wanita Spanyol yang akan diberinya gelar Viscountess suatu hari nanti.
Begitupun Pedro, kebiasaannya menjadi berubah semenjak kedatangan Miuccia dan sang Ibu ke Barcelona dan menempati Distrik Golden. Pallazo selalu saja menyibukan Pedro dengan hal - hal kecil yang seharusnya bisa ia kerjakan sendiri, hal sepele yang justru memperumit dirinya sendiri. Pallazo menggantungkan segala keperluannya pada Pedro di sela sela kesibukannya merancang busana.
Pallazo, salah satu seorang Fashion Designer termuda yang di gandeng pemilik brand kenamaan dari Italy sekaligus perancang busana Valentino Clemente Ludovico Garavani atau yang lebih dikenal dengan nama Valentino Garavani. Ia juga mendirikan perusahaan Valentino SpA. Label busana busana yang dikeluarkan antara lain Valentino, Valentino Garavani, Valentino Roma dan RED Valentino. Brand "V" adalah singkatan dari Valentino yang merekrut beberapa Designer muda dan bertalenta, salah satunya adalah Pallazo.
Pedro, Miu menginginkan ice cream gelato
Pedro, Miu harus makan banyak buah dan stok buah telah habis, bisakah kau membelinya untuk kami? Aku akan mengganti uangnya
Apartemen macam apa ini mengapa saluran wastafel mampet! Kau harus datang secepat mungkin untuk memperbaikinya!
Lampu ruang belajar Miu kurang terang! Apa kau ingin membuat mata Putriku rusak! Negara macam apa ini!
Miu perlu buku gambar dan pensil warna!
Mana pengasuh yang kau janjikan
Hey Pedro! Dimana plastik sampah aku tidak menemukannya dimanapun di Apartemen ini!
Jangan lupa sampah dapur telah penuh! Tanganku terkena alergi! Jika kau tidak bisa datang tidak apa - apa, aku akan menyuruh Miu menyeret plastik besar itu!
Miu butuh Paracetamol, suhu badannya agak panas!
Pedro tersenyum mengingat perintah demi perintah yang Pallazo berikan padanya melalui pesan singkat di ponselnya. Dan segala sesuatu yang menyangkut Miu, Pedro sudah pasti akan meninggalkan pekerjaannya atau bahkan kesenangannya-- berkumpul di Bar dengan meminum bir murahan dan bermain bilyard menggoda wanita - wanita kesepian bersama Simon --Pedro meninggalkan segalanya demi Miu, si Angelita berambut keemasan dan bermata biru keabuan.
Selama satu minggu Pallazo memantau dan menyelidiki kehidupan Valentino di Barcelona. Tanpa Pallazo sadari rasa ketergantungannya pada Pedro menjadi sebuah kebiasaan yang perlahan mengikat keduanya, bahkan mengikat Miu.
"Tio, aku beritahu satu rahasia. Tapi ini sungguh rahasia. Hanya kau dan aku" ujar Miu seraya mengulurkan jari kelingkingnya dan Pedro terkekeh seraya mengulurkan jari yang sama lalu menautkannya.
"Hanya kau dan aku" kata Pedro mengulang perkataan Miu dengan senyumnya yang selalu saja mengembang.
"Uhm, Mamma sengaja mematahkan kran agar kau datang dan menggantinya" kata Miu sambil mengecap es cream di tangannya. Pedro mengerutkan alisnya dan menoleh kearah Miu yang duduk disebelahnya, ia pun merentangkan tangannya bersandar pada kursi taman hingga jemarinya bisa membelai puncak kepala gadis berambut keemasan itu.
Hidung anak ini dan warna rambutnya mengingatkanku pada seseorang.. Tapi rambut ikal ini, seperti rambutku.. Ah, lupakan.. Banyak orang mirip di dunia ini..
Pedro dan Miu sedang berada di taman Distrik Golden. Pedro mengantongi izin sebelumnya untuk membawa Miu ke Taman Golden karena Pallazo harus menyerahkan designnya kepada perusahaan Valentino Garavani yang bercokol di Barcelona. Pedro membawa Miu berbelanja, belanja kebutuhan dapur dan lagi - lagi atas perintah Senorita (Nona) Arogan si Singa kelaparan, begitulah Pedro menjuluki Pallazo, tidak ada kata yang tepat untuk wanita Italy yang angkuh dan dingin seperti Pallazo, pikir Pedro.
"Benarkah?" tanya Pedro tergelak. Mereka sedang menikmati senja di taman Golden setelah berbelanja.
"Si, bahkan plastik sampah itu, aku melihat dengan jelas ada di laci dapur tapi Mamma melemparnya ke kitchen set paling atas sehingga Mammapun tidak bisa mengambilnya dan pura pura tidak melihat-- Aahaha, Mamma bertingkah aneh sejak berada di Barcelona, Tio" tutur Miu dengan tawa renyah yang merdu dan menggemaskan. Namun, Pedro justru mengerutkan alisnya seakan tak percaya.
"Benarkah?" tanya Pedro dengan senyum merekah seraya membelai rambut Miu.
"Si, Mamma tidak terkena alergi. Mamma memakan semua ice creamku dan buah buahan lalu Tio disuruh belanja, membeli semuanya dan kau akan datang ke Apartemen kami lagi lagi lagi lagi" tutur Miu membuat Pedro kembali tergelak gemas lalu mencubit pipi Miu yang semburat kemerahan pada puncaknya.
"Hahaha-- itu tidak mungkin" Pedro kembali tergelak.
"Apa Mamma menyulitkanmu, Tio Pedro?" tanya Miu seraya mengecap ice creamnya lagi.
"Tentu saja tidak, aku sangat senang melakukannya-- terutama untukmu" jawab Pedro membuat mata Miu berbinar, senyumnya mengembang manis saat melihat kearah Pedro yang tidak pernah membuatnya bosan.
"Terkadang Mamma memang sangat menyebalkan, tapi dia adalah Mamma terbaik di dunia ini. Dia sangat menyayangiku. Dan Mamma sangat mencintai Pappa. Sebenarnya Mammaku sangat penyayang dan aku rasa Mammaku menyukaimu. Kalau tidak untuk apa Mamma menyuruhmu selalu datang" tutur Miu membuat hati Pedro berdebar lembut kemudian menghangat. Namun, mengingat sikap Pallazo yang ketus pada dirinya, membuat Pedro membeku seketika.
"Mungkin karena Mammamu butuh teman untuk bertengkar" kata Pedro seraya menyeka sudut bibir Miu yang terkena ice cream.
"Bahkan Mamma melepas penyaring di wastafel agar mampet-- Apalagi ya? Oh, lampu belajar, buku gambar, pensil warna, semua ada. Tapi aku bingung mengapa Mamma membeli lagi untukku. Aku pikir itu semua agar Tio datang. Sejak Tio datang kami tidak kesepian lagi" pancaran mata Miu memudar seketika. Hati Pedro menghangat, ada rasa trenyuh saat melihat mata itu tak memiliki sinarnya.
Mengapa Angelita sesekali terlihat sedih.. Mengapa aku juga turut bersedih.. Mengapa aku ingin selalu menemaninya.
"Kesepian? Apa Pappamu jarang pulang?" tanya Pedro sambil membelai pipi Miu yang kembali mengecap ice cream strawberry vanilla di tangannya.
"Pappa tinggal di Roma, aku dan Mamma tinggal di Labaro. Kadang Pappa pulang kadang tidak. Pappaku sangat sibuk. Ah, entahlah sepertinya Pappa hanya menyibukan diri dan kami selalu bersama di setiap akhir pekan" ujar Miu seraya menggedikkan pundaknya.
"Labaro?" Pedro mengerutkan alisnya kemudian kembali tersenyum.
Ahh, Labaro... Lama sekali aku tidak mendengar kota kecil di Italy itu. Pedro.
"Si, Labaro. Tapi, sejak Pappa di Barcelona, Pappa tidak pernah pulang. Seseorang mengambil Pappaku" kata Miu membuat hati Pedro tersentuh dan menatap Miu sangat antusias.
"Seseorang?" tanya Pedro menghadap kearah Miu dengan jutaan tanda tanya.
"Si-- seorang wanita bangsawan. Wanita bangsawan yang membuat Pappa mengingkari banyak janjinya padaku dan Mamma! Aku akan mencari Papa dan menarik telinganya sampai menjadi telinga kelinci!" seru Miu seakan menautkan kedua alisnya.
"Banyak wanita bangsawan di Barcelona. Mengingkari janji seperti apa?" tanya Pedro sangat penasaran.
"Sudahlah, aku tidak boleh banyak bercerita. Aku pun tidak tahu dan aku hanya melihatnya sekilas karena Mamma mematikan televisi" ujar gadis polos itu membuat Pedro terkesima.
Kehidupan seperti apa yang kau jalani, Angelita.. Apakah begitu keras? Hingga sesekali matamu memperlihatkan kesedihanmu..
"Pappamu ada di televisi? Pasti dia seorang superstar" goda Pedro seraya mencubit pipi Miu yang masih menikmati ice cream ditangannya.
"Sudahlah! Dai (ayo; Italy) aku mau pulang saja. Mamma bisa marah bila aku belum mandi" ujar Miu seraya bangkit berdiri dan melangkahkan kaki kecilnya meninggalkan Pedro yang semakin diliputi rasa penasaran namun ada kecemasan juga kesedihan melihat punggung kecil Miu perlahan menjauh. Mau tidak mau Pedro bangkit berdiri lalu mengikuti langkah kecil Miu dengan langkah lebarnya.
__ADS_1
Pallazo, kau sangat misterius.. Kau mencintai suamimu lalu mengapa kau ingin aku selalu datang? Ada apa ini.. Mengapa aku sangat senang dengan ini semua.. Apa aku jatuh cinta padanya? Atau.. Tidak, aku tidak boleh melewati batas.. Ini murni rasa kasihan. Pedro.
-
-
-
"Jared, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi kau jangan shock mendengarnya" kata Torres saat mereka berada di perjalanan seusai dari kantor, Gedung Locomotive Machine.
Jared dan Torres menempati Apartemen di Distrik Paris, dimana Distrik itu sebagian besar di huni oleh orang yang berkewarganegaraan Perancis. Wanita - wanita Perancis adalah incaran Torres karena itulah mereka menyewa satu apartemen disana dan ditempati oleh mereka berdua.
"Jangan bermain tebak - tebakan denganku. Kepalaku sudah penat hari ini. Kita kehabisan bahan material dan semua pegawai konstruksi terpaksa libur satu hari. Kau lihat Gallardiev sekarang banyak berubah. Dia bisa memaklumi kesalahan kecil dan sikap pemarahnya menghilang seketika. Kau ingat dulu? Pekerjaan salah sedikit saja, kursi bisa melayang dengan makiannya" ujar Jared seraya menghentikan laju mobil yang ia kemudikan, karena mereka tiba di lampu merah.
"Hahaha-- sepertinya, Wanita Siluman itu bisa mengendalikan Raja Setan dengan baik. Kecantikan Leyka sangat menyihirnya. Aku akui Leyka sangat sexy, apalagi sekarang dia hamil, aura kecantikannya benar benar mempesona, tubuhnya semakin berisi saja. Leyka--
"Jika Gallaediev tahu ini, kau akan dibunuhnya, Torres!" sanggah Jared secepat kilat, memotong komentar Torres dengan mendengus kesal sementara Torres hanya terkekeh melihat kekesalan Jared.
"Baiklah.. Hahaha.. Aku hanya mengaguminya! Tapi jika Gallardiev bosan, aku bisa--
"Jangan kau teruskan kata katamu atau aku akan melemparmu ke jalanan, Torres!" ancam Jared seraya memukul setir dan Torres justru semakin terbahak.
"Hei-- aku hanya bergarau agar kita rileks!" kilah Torres seraya melepas jasnya lalu melemparnya ke jok belakang.
"Aku tidak suka gurauanmu! Itu tidak lucu!" sentak Jared seraya menginjak pedal gas saat lampu hijau menyala, Jared menunjukkan kekesalannya yang tidak biasa kali ini.
"Sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik. Hei-- Gallardiev tidak masalah semua karyawan diliburkan satu hari" kata Torres berusaha kembali serius saat melihat kearah Jared dan Torres menangkap kerisauan Jared.
"Bukan itu masalahnya, beberapa hari ini perasaanku tidak enak. Entahlah, setiap aku menghubungi Pallazo tidak ada jawaban. Aku menghubungi pengurus rumahnya di Labaro tapi dia mengatakan jika Pallazo membawa Miu bepergian dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Hatiku tiba - tiba cemas, masalahnya pengurus rumah itu tidak mengatakan mereka pergi kemana. Perasaanku--
"Itu yang ingin aku katakan dari tadi. Hmmmpht-- sanggah Torres memotong penuturan Jared, lalu Torres menghela nafas panjang seraya memijat pelipisnya lalu menggigit kuku pada ibu jarinya --Kartu kredit yang aku berikan pada Pallazo, telah digunakan untuk pembelian dua buah tiket, Jared" sambung Torres kemudian.
"Apa maksudmu?" tanya Jared sambil mengacak rambutnya dan melemparkan pandangannya sekilas ke arah Torres lalu melirik kearah spion yang memperlihatkan lengangnya jalanan sore itu.
"Dua tiket ke Barcelona" tutur Torres dengan lesu.
Ciiiiiittttt
Seketika Jared menghentikan mobilnya secara mendadak hingga terdengar suara rem berdecit hingga tubuh keduanya terhentak kedepan seketika.
"Aku belum menikah! Apa kau ingin membunuhku, Jared?!" seru Torres. Jared membulatkan matanya sementara Torres merebahkan kepalanya puncak jok mobil dengan sikunya berada di bibir jendela, jemarinya mengepal menahan kecemasan yang Torres sembunyikan. Masalah akan kembali datang, dan seseorang akan mengusik kebahagiaan rekan kerja yang menjadi sahabatnya, pikir mereka berdua.
Klakson mobil terdengar nyaring secara berulang ulang, dengan sigapnya Jared kembali melajukan mobil yang ia kemudikan lalu Jared menepikan mobilnya di pinggir trotoar tepat di Taman Golden. Jared memukul setir mobil lalu mengacak rambutnya, sementara Torres menggigit ibu jarinya dengan menatap nanar kearah jalan.
"Kira - kira saat Keluarga Fernandez berada di Palma dua minggu yang lalu" jawab Torres sambil mengusap wajahnya kemudian ia menghela nafas panjang.
"Lalu mengapa kau baru menyadarinya! Mio-dio (ya ampun) Torres! Apa saja yang kau lakukan hingga kau tidak menyadari kartu kreditmu telah dipakai!" ujar Jared lagi - lagi memukul setir mobilnya.
"Aku menon-aktifkan notifikasi ponselku, saat aku akan membayar tagihanku bulan lalu aku sangat terkejut dengan nominal tagihan yang harus aku bayar! Lalu aku memeriksanya dan aku melihat-- Mata Torres membulat seketika, perkataannya terhenti saat ia melihat langkah kaki kecil berjalan dengan lincah, sesekali kaki kecil itu menendang kerikil dengan ice cream cone ditangan kirinya, keriapan rambut ikal panjang nan keemasan tergerai dengan senyum khas diwajah imut itu dan tawanya yang terdengar renyah ---Miuuu!" seru Torres kemudian dari dalam mobil.
Mata Jaredpun membulat mengikuti tajamnya mata Torres yang terbelalak melihat kearah trotoar di sepanjang Taman Golden. Wajah mungil itu sesekali menengadah keatas kearah seorang laki laki dengan melemparkan tawa cerianya. Satu tangan kecilnya, digandeng manis oleh laki laki itu yang mendekap kantong belanjaan terbuat dari kertas coklat.
"Pedro?" kata Jared dan Torres secara bersamaan saat melihat Pedro menoleh kearah Miu dengan mengembangkan senyumnya. Jared dan Torres saling berpandangan melihat pemandangan itu.
"Jadi-- selama ini Pedro mengurus apartemen wanita singa dan putrinya itu.. itu.. adalah Pallazo? Angelita itu adalah Miu?" ujar Jared mengingat beberapa hari yang lalu, keseharian Pedro menjadi perbincangan di Kedai Double P. Maria, Penelope dan juga Simon bergosip tentang kebiasaan baru Pedro yang disibukan oleh penghuni baru di Apartemen Golden.
"Tidak salah lagi! Aku tidak pernah menduganya! Apa yang harus kita lakukan Jared?" tanya Torres masih melihat kearah Miu dan Pedro yang perlahan menghilang dari pandangan matanya.
"Kita harus secepatnya menghubungi Gallardiev! Kedatangan Pall bisa merusak suasana. Ini akan menjadi sangat rumit" kata Jared seraya memukul setir disertai dengusannya dengan nada menahan kemarahan juga kerisauannya.
"Kita ikuti mereka Jared!" ajak Torres.
"Tidak! Tidak sekarang Torres! Kita harus mengetahui apa yang di inginkan Pallazo sampai ia jauh jauh datang ke Barcelona! Jangan bertengkar di depan Miu dan bersiaplah-- Putri kita itu akan marah karena aku membohonginya!" tutur Jared lagi lagi dengan mendengus.
"Hmmm-- Shitt! Mengapa kau mengatakan kalau Gallardiev terkena serangan jantung dan dibawa ke Madrid!" seru Torres seraya menggulung kemejanya dan melonggarkan dasinya, rasanya apa yang ia kenakan saat ini serasa menyesakan dan menyiksa tubuhnya.
"Tidak ada pilihan lain Torres! Miu terus bertanya dimana Papanya! Dan memang saat itu Gallardiev terkena serangan jantung saat mengetahui bahwa Train adalah putranya! Aku tidak menyangka dia akan berbuat sejauh ini!" sanggah Jared.
"Dia harus dijelaskan posisi Gallardiev sekarang! Jangan terlalu banyak berharap karena keinginan Miu itu tidak mungkin! Miu pun harus diberi penjelasan tentang pernikahan Gallardiev delapan tahun yang lalu! Kita pun baru mengetahuinya setelah delapan tahun berlalu! Takdir itu gila Jared!" seru Torres dengan kesal.
"Miu masih terlalu kecil, Torres! Hatinya sangat rentan. Aku tidak tahu bagaimana Gallardiev memberitahukan posisinya sekarang sementara dia pernah berjanji suatu saat akan menikahi Ibunya! Ohh Shiit! Leyka ? Train? Bagaimana bisa menerima situasi ini?" Jared mengusap wajahnya dengan kasar lalu membenamkan wajahnya di setir mobil dengan kekacauan pikirannya yang mendadak buntu.
"Shiitt! Aku tidak bisa berpikir, Jared!" seru Torres seraya menghantam lengan sikunya di pintu mobil dengan mendengus kesal. Mereka terdiam untuk sesaat di lengangnya jalan di seputaran Golden Park. Taman yang dipenuhi pohon berwarna kuning, Pohon Ginkobiloba.
-
-
-
Double P
Sebuah pesan singkat.
Pedro, antarkan Miu ke Daycare besok pagi sebelum kau memperoleh pengasuh untuk Miu. Tentu saja jika kau tidak sibuk. Tapi bila kau sibuk aku akan menyuruhnya pergi sendiri naik taksi. Tenang saja, Miu tidak akan hilang di kota sekecil ini..
Jantung Pedro berdebar membaca pesan singkat malam itu. Bagaimana mungkin Pedro membiarkan Miu pergi sendiri naik taksi, sementara ia harus bekerja? Padahal itu adalah cara Pallazo mengintimidasi Pedro secara psikologis. Dalam hatinya Pedro merutuki Wanita Singa yang membiarkan Putrinya pergi sendiri ke Daycare di negara asing yang baru dikunjungi.
__ADS_1
"Leyka, besok pagi aku tidak bisa datang pagi pagi. Aku ada perlu, Simon akan menggantikan aku beberapa jam saja" kata Pedro setelah memasukan ponsel di saku celemek baristanya.
"Penghuni baru itu merepotkanmu lagi?" tanya Leyka yang sibuk dengan buku keuangan dan beberapa kertas ditangannya. Leyka duduk di kursi di meja kasir dengan pensil ditangannya.
Train terlihat duduk di bangku kecil dan dihadapannya ada meja kecil, tidak jauh dari Leyka duduk. Ia sedang mewarnai buku gambar di area kasir, tempat dimana Train menemani Leyka bekerja selama ini. Semenjak Train masih bayi Leyka menempatkan kereta bayi disana, agar sang putra menemaninya bekerja, menjalani keseharian tanpa pengasuh seperti kehidupan barat pada umumnya. Waktu terus berjalan dan area itu menjadi wilayah kekuasaan Train dengan bangku dan meja kecil sebagai spot terbaik Train dipinggir kaca yang menghadap ke jalan.
Sementara itu, Valentino terlihat berdiri di sebelah Pedro di meja barista, Valentino tengah melepas celemek barista yang melekat pada tubuhnya. Valentino selalu menemani Leyka dan membantu pekerjaan Pedro di balik area barista, ia membantu ala kadarnya.
Terkadang, Valentino merindukan kegiatan kecil dimana beberapa bulan yang lalu kegiatan itu ia gunakan untuk mengejar istrinya yang tidak sengaja ia nikahi delapan tahun yang lalu Leyka pun terkadang bosan terkurung di sangkar emasnya, yaitu Apartemen Raja.
Seorang Valentino Gallardiev, sang pewaris Locomotive Machine, sang arsitek gedung pencakar langit, rela melakukan apapun demi Leyka, ia rela menjadi barista hanya untuk mendapatkan perhatian istrinya saat pertama mengejarnya di Barcelona. Dan itu menjadi kebiasaannya setelah melepas jas kebangsaannya yang selalu ia kenakan di kantor.
"Dia membutuhkan pengasuh tapi belum ada yang cocok" ujar Pedro seraya membersihkan meja barista yang terbuat dari kayu oak.
"Sepertinya wanita itu menyukaimu Pedro, dia terlalu banyak mencari alasan-- Valentino berjalan kearah Leyka kemudian --Vamos (ayolah) pekalah sedikit. Karena akupun akan berbuat hal yang sama untuk mendapatkan perhatiannya-- benarkan Mi amor?" ujar Valentino melempar perkataannya pada Leyka. Valentino membungkukkan tubuhnya, seraya melingkarkan kedua tangannya diperut Leyka lalu menyerang Leyka dengan ciuman bertubi - tubi.
"Hish Val, berhenti menggodaku. Apa kau tidak tahu aku sedang sibuk. Aku menghitung neraca keuangan sampai berkali kali kalau kau ada di dekatku" ujar Leyka menggeliat menghindari kungkungan Valentino.
"Hmmm aku senang mengganggumu. Kau sangat menggemaskan bila marah" bisik Valentino membuat wajah Leyka memerah. Melihat itu Train merapikan buku dan pensil warna lalu menyimpannya dilaci meja, kemudian menghampiri kedua orangtuanya yang masih bercengkerama.
"Uhhss Daddy no! Daddy no! Vamos a casa (ayo kita pulang)! Blue bosan disini! Aku mau main pesawat remote control yang Abuello kirim dari Italy!" seru Train dengan lantang seraya memukuli paha Valentino. Semua terkekeh melihat ulahnya.
"Padre (Ayah) Alfonso sangat memanjakannya dan itu tidak baik untuknya, Val" ujar Leyka meronta dari dekapan tangan kekar itu lalu Valentino melepasnya.
"Tidak apa apa, Mi amor! Itu cara seorang Abuello (Kakek) memanjakan Nieto (cucu laki - laki)" kata Valentino seraya mencium puncak kepala Leyka lalu memberi pijatan pada kedua pundak Leyka.
"Daddy Vamoss Uhhs! Tidak boleh bermesra mesra sama Mommy terus! Uhs!" Train kembali beraksi memukul paha Valentino, Leyka terkekeh melihatnya.
"No Blue! Malam hari tidak boleh bermain pesawat remote control! Vamos, a casa (ayo pulang ke rumah)!" dengan sigap Valentino mengangkat tubuh Train tinggi - tinggi lalu memanggulnya di pundaknya. Jemari tangan Valentino mencengkeram pinggang Train dan sesekali ia menggerakkannya.
"Aaaa! Daddy No! Ahahahha! No No No! Aaaaa!" Jeritan Train terdengar hingga memenuhi Kedai Double P yang kian hari penuh warna serta penuh kehangatan. Valentinopun membawa Train keluar dari Kedai itu lalu menurunkannya sesampainya di luar pintu.
"Mi amor, nanti aku akan menjemputmu!" kata Valentino seraya melambaikan tangannya dengan mengerlingkan matanya dan berlalu dari pandangan Leyka. Valentino pun menggandeng tangan Train, Leyka tersenyum melihat pemandangan itu, rasa yang terlalu sulit di lukiskan di kertas canvas. Bahagia yang sulit diterjemahkan.
"Aku bisa pulang sendiri!" seru Leyka dan Valentino hanya menggoyangkan jari telunjuknya seraya berjalan menjauh tanda bahwa Leyka tidak boleh membantah.
"Dia sudah gila dan terlalu protektif. Hanya dari Double P ke Casa De Miel dia mau menjemputmu, Leyka? Dia benar benar gila!" Penelope dengan ejekannya, ia terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.
"Jangankan dari Double P ke Apartemen, aku rasa dari kamar ke toilet, suaminya mengantarnya" sahut Simon melengos saat berjalan kearah dapur.
"Hishh, terus saja menggodaku" ujar Leyka melanjutkan aktifitasnya dengan struk belanjaan yang bertebaran di mejanya.
"Apa dia memuaskan di ranjang Ley?" tanya Penelope dengan mengerlingkan matanya, saat ia tiba di meja kasir setelah ia memakai celemek barista untuk menggantikan shift Pedro.
"Aku rasa dia sangat ganas dan membuat wajah sepupu kita memerah" sahut Pedro tergelak.
"Ckk, issh.. Bicara apa kalian ini? Aku pulang saja-- kau teruskan Pedro sebagai gantinya kau datang telat besok pagi" Leyka merengut dan bangkit berdiri. Moodnya untuk menghitung neraca keuangan menghilang dan tiba tiba ia merindukan Valentino.
"Hahaha--- Mama miaaa.. Mama miaa.. Sepupu kita memerah wajahnya" sahut Maria dengan bertepuk tangan dan terbahak melihat Leyka menjadi salah tingkah.
"Ooh atau kau menginginkan "kejanta*nannya"-- Ughh Leyka kau sangat nakal" goda Penelope lagi seraya merangkul pundak Leyka.
"Cih, kalian sudah gila!" ujar Leyka menepis tangan Penelope dan menyambar tasnya.
"Hahaha" semua tertawa disela kesibukan mereka, tanpa sadar seseorang menguping pembicaraan mereka di balik keremangan cahaya dan semua menoleh kearah wanita yang memasuki Kedai itu.
"Adda?" mereka bergumam nyaris secara bersamaan.
"Pedro? Siapa yang membutuhkan pengasuh? Aku sangat berpengalaman dalam hal ini, aku pengasuh seorang Senat di Kedutaan Besar Italy, aku menguasai bahasa Italy dan aku membutuhkan pekerjaan untuk bertahan di Barcelona" ujar Guaddalupe dengan senyum manisnya.
"Jadi kau ingin tinggal di Barcelona, Adda?" tanya Maria dengan pandangan menyelidik.
"Apa Barcelona ini milikmu?" tanya Guaddalupe berbalik melontarkan pertanyaan.
"Tentu saja Barcelona milik warga Spanyol. Tapi Keluarga Fernandez adalah milikku! Hati hati dengan langkahmu dan ini peringatan terakhirmu!" sahut Penelope kembali merangkul pundak Leyka dengan satu tangannya berkacak pinggang dan menajamkan matanya kearah Guaddalupe.
"Cih, aku tidak tertarik memasuki Keluarga Fernandez" kilah Guaddalupe bersedekap. Gadis berbaju merah menyala itu terlihat anggun dengan sorot matanya di keremangan cahaya Kedai yang menerpanya.
"Si, kau tidak tertarik karena kau berniat merusaknya. Ingat, Gallardiev menjadi bagian dari Fernandez! Dia seorang Fernandez" sahut Maria dengan mengerutkan alisnya.
"Pedro, bisakah kau mempertemukanku dengan wanita penghuni Apartemen Golden?" tanya Adda untuk mengalihkan tatapan Maria dan Penelope yang mengancamnya.
"Ikuti aku setelah aku menyelesaikan shift ku" jawab Pedro dari meja kasir, ia meneruskan pekerjaan Leyka yang terbengkalai.
"Kau harus waspada, Leyka" kata Penelope mendekatkan bibirnya kearah telinga Leyka namun sorot matanya masih mengintimidasi Guaddalupe yang tercekat lidahnya.
"Hmm, tenang saja bukankah aku lebih bar bar darimu?" kata Leyka menoleh kearah Penelope dengan tersenyum tipis, lalu ia kembali menatap mata Adda dengan tajam.
"Hahaha-- Kau pernah menjambak rambutku saat pertama kita bertemu! Kau sepupuku paling gila! Pantas Valentino menjulukimu Wanita Siluman!" ujar Penelope terbahak di ikuti keluarga Fernandez yang lain dan seketika membuat Guaddalupe bergidik.
Sepertinya aku tidak boleh meremehkan Leyka, semua keluarganya mendukungnya. Apa kekuatannya sampai semua keluarga Fernandez mendukung Leyka. Guaddalupe.
-
-
__ADS_1
-