FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Dia Putraku, Jared !


__ADS_3

"Apa kau masih menginginkan aku, menikahimu?" tanya Damian, membuat lutut Valentino lemas mendengarnya.


Pertanyaan Damian juga menghentikan gerakan tangan Leyka yang melempar biji biji Ginkgo ke dalam kolam buatan. Leyka membalikkan tubuhnya seiring biji biji Ginkgo berhamburan dari tangannya. Ia sengaja membuangnya lalu menyandarkan tubuhnya di pagar dan membelakangi kolam.



Valentino melihatnya dan terduduk memegangi dadanya, ia menundukkan kepalanya dengan airmata yang terus saja berjatuhan membasahi kemeja dan jas-nya. Keringat mengucur di sela sela pelipisnya. Di bawah pohon itu, angin berhembus sedang di akhir musim gugur. Sesekali menjatuhkan biji bijian dan dedaunan dari pohon Ginkgo yang telah menguning kemudian menerbangkannya, hingga menutupi rerumputan.



Jeritan anak anak dari kejauhan-- di seberang kolam-- yang berkejaran di area bermain di Golden Park membuat perasaan Valentino kian berkecamuk. Jeritan itu membuatnya resah, ia mengingat wajah Train dengan mata abu abu kebiruan yang tidak hilang dari benaknya. Warna mata juga rambutnya sama seperti miliknya dan Valentino mulai membandingkannya. Ada rasa bahagia yang sulit dilukiskan ke dalam kanvas, bila di ibaratkan.



"Jika kau tidak keberatan, menikahlah denganku. Atau kita bisa bertunangan. Aku akan mengatakan pada Train pernikahan kita hanya untuk menyelamatkanku dari pemilihan Viscountess!" ujar Leyka sambil mengancing mantelnya, menahan angin yang menggugurkan dedaunan kemudian bersedekap, karena telapak tangannya mulai dingin.


Valentino mengusap wajahnya, menyingkirkan keringat dan airmata yang tak berhenti mengalir. Sementara Damian menatap Leyka lekat lekat.


"Leyka, kau ingin membohongi Train dengan pernikahan kita?"


"Lalu aku harus bagaimana, Damian?" tanya Leyka dengan mendengus.


"Leyka--


Damian ingin mengutarakan isi hatinya namun Leyka buru buru memotong perkataannya, "Bukankah kau ingin menikahiku juga? Walaupun tidak sekarang. Atau-- Leyka menundukkan kepalanya melihat ujung sepatu flat shoesnya, yang Valentino beli untuknya --kau memang mengurungkan niatmu"


Menikahlah karena itu akan sia sia. Batin Valentino semakin teriris mendengarnya.


"Apa kau masih mencintainya?" Valentino pun menajamkan pendengarannya saat Damian bertanya, rasa keingintahuannya benar benar menyiksanya.


Jawablah Ley.. Apa kau masih mencintaiku? Bahkan aku tidak pernah berpikir, kau benar benar bisa mencintaiku.. Dulu, kita berdua terlalu naif untuk mengakui.. Kita tidak pernah jujur Leyka.. Mungkinkah dulu kita saling jatuh cinta lalu saling mencintai.. Apakah hanya perasaanku saja ataukah memang begitu adanya..


"Damian ayolah.. Jangan keluar dari pembicaraan dan kau tau aku tidak sanggup menjawabnya" Leyka menghentakkan kakinya lalu membalikkan tubuhnya menghadap kolam dan memunggungi Damian, ia kemudian memasukkan kedua tangannya di saku mantelnya.



Tidak sanggup menjawabnya? Valentino resah.


Damianpun bangkit berdiri dan menarik lengan Leyka kearahnya dan menegaskan penyataannya, "Si, kau masih mencintai laki laki bodoh itu! Kau mencintainya! Karena itulah kau menerimanya dengan tangan terbuka. Aku yakin kau menikmati setiap sentuhannya"


Langkah kaki Damian membuat Valentino kembali melihat mereka dari tempat persembunyiannya. Telinganya memanas mendengar Damian mengatakan 'laki laki bodoh' dan itu ditujukan untuk dirinya. Ia mengingat kepingan kejadian, Damian berkata pada Train beberapa saat yang lalu


Anak pintar. Semoga Daddymu yang bodoh, bisa melihat anak sepintar dirimu


Jadi yang dimaksud adalah diriku.. Shittt.. Bila memang Train putraku... Itu memang benar adanya.. Aku laki laki bodoh.. Aku sangat bodoh.. Aku tidak bisa melihat apa yang orang lain lihat.. Semua tertutup oleh rasa sakit hatiku karena kau meninggalkanku begitu saja di Johannesburg, kau tidak mau ikut denganku ke Italy, dendamku, niatku menghancurkanmu, rasa cemburuku, kerinduanku bahkan rasa cintaku menutupi kepekaanku.. Aku jatuh Leyka, aku jatuh ke dalam pesonamu, sama seperti saat pertama aku melihatmu menuju Pretoria.. Shittt.. Dan mulut besarku ini tidak ada artinya. Valentino mengusap sudut matanya dengan telapak tangannya, airmatanya begitu banyak mengalir dan membuat matanya semakin me-merah.


Leyka membiarkan tangan Damian mencengkeram lengannya, ia telah mengatakan segalanya yang terjadi selama Damian menghindarinya, dan itu sangat melukai Damian, tapi Leyka mencoba meredamnya dengan bertutur kata penuh kelembutan, "Damian, maafkan aku. Kau tahu hatiku. Kau tau betapa terlukanya aku dulu. Baiklah aku mengakui, aku terpesona olehnya. Tapi untuk menyerahkan cintaku, aku tidak bisa! Seandainya dia bukan Daddy Toro yang selalu di tunggu Train, mungkin aku tidak akan menerimanya dengan baik"


Daddy Toroo?? Ohh Shitt.. Leyka.. Train.. Ini tidak mungkin.. Jadi kau memperkenalkan namaku pada Train dengan Daddy Toro.. Dan itu aku? Leyka.. Apa ini.. Ley.. Kau.. Kau sungguh mengandung Putraku dulu? Ini tidak bisa di percaya..


"Putraku mencarinya bahkan menunggunya dan aku harus menerima dan mendekatkan mereka. Aku ingin membuat Valentino menerima putranya dan tidak menolaknya! Apa kau bisa bayangkan hati putraku bila tahu Valentino menolaknya? Tidak.. Tidak.. Lebih baik aku mati. Aku tidak bisa membayangkannya" dan airmata mulai menuruni pipinya, Damian buru buru menyekanya.


Valentino tersentak dengan perkataan Leyka, Ia kembali meremmass dadanya dengan mengeratkan pejaman matanya, ia ingin menjerit dan berteriak namun airmatanya telah membendung inginnya. Hati Valentino benar benar hancur saat Damian memeluk Leyka yang telah berurai airmata.


"Leyka" Damian mengusap punggung Leyka dan mendekapnya semakin erat, Leyka menangis dan membalas pelukan itu, Damian pun semakin menekan kepala Leyka dalam dadanya agar bersandar sepenuhnya.


Leyka menghela nafasnya kemudian meneruskan perkataannya, "Aku tidak bisa Damian. Dia meghinaku, dia merendahkanku, itu bisa menyakiti Train. Dan Train akan sangat kecewa sangat dalam. Train bisa sedih dan pergi begitu saja seperti kejadian dua tahun yang lalu, ia menghilang dan ditemukan pingsan di Chapel Gereja, hanya karena aku melarangnya terus menabung mati matian dan mengorbankan uang jajannya untuk ke Pretoria saat ia berumur 18 tahun nanti"


Tidak.. Tidak.. Tidak.. Ini tidak mungkin.. Apa yang kalian alami.. Rasanya Valentino ingin meraung, tapi ia sangat menahannya agar mereka tidak menyadari keberadaannya.


Leyka menyeka pipinya lalu melanjutkan lagi perkataannya, "Dia ingin membuat Daddynya turun dari kereta. Aku hampir gila saat itu! Aku tidak bisa kehilangan Putraku lagi, Damian. Aku tidak bisa, membiarkan Dinas Sosial mengambil Train karena aku dianggap Ibu yang tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk Train" ujar Leyka tanpa jeda kemudian ia memejamkan matanya, agar airmatanya tidak keluar terlalu berlebihan. Damian memeluknya semakin erat, dan Leyka menangis tersedu sedu tanpa bersuara.


Valentino membulatkan matanya seketika, ia menjambak rambutnya sendiri dengan membenamkan wajahnya di salah satu lututnya yang menekuk keatas menutupi sebagian dadanya, ia pun menangis tanpa bersuara, hanya terlihat punggungnya yang begitu kekar tampak terguncang guncang seiring dadanya naik turun, sangat menyesakkan. Hanya rasa sesal, hanya kata maaf yang ia ucapkan di dalam hatinya dalam bahasa Italy.


Perdonami.. Perdonami.. Perdonami.. Perdonami.. Perdonami Leyka.. Perdonami.. Train.. Jadi celenganmu untuk rencana besarmu adalah membawaku turun? Ohh Boy.. Kau manis sekali.. Perdonami..


"Leyka" desis Damian sambil menghirup wanginya aroma rambut Leyka yang tergerai mengeriap hingga punggungnya.


"Karena itulah aku menerima Valentino begitu saja, aku.. Aku bersandiwara seolah olah aku menerimanya karena kenangan kita di Pretoria, itu agar Train tetap disisiku" Leyka mengurai pelukannya.


Perdonami.. Perdonami.. Perdonami.. Perdonami.. Perdonami (maafkan aku). Valentino semakin pilu.


Train benar, Leyka tidak bisa bertahan lama berpelukan dengan Damian, Train pernah menghitungnya. Dan itu membuat hati Damian kembali bergejolak. "Tapi kau tidak bersandiwara Leyka. Aku melihatmu! Walaupun dari kejauhan! Aku melihatmu menikmatinya!"


Leyka tak kuasa lagi memberi pengertian, ia pun mengiyakan yang dituduhkan dan itu adalah sifatnya, "Sii!! Aku menikmatinya. Itu karena kau menghilang dan selalu menghindariku. Damian, seandainya saja kau ada di sisiku seperti biasanya, aku bisa menerimanya tanpa harus bersandiwara dan kau akan menjadi bentengku dari pesonanya! Aku mengakuinya Damian! Aku bersalah! Maafkan aku.. Maafkan aku Damian! Tapi kau tahu perasaanku!"

__ADS_1


Aku tidak perduli lagi kau bersandiwara atau tidak, aku sangat bahagia dan aku menerima segala perlakuanmu padaku. Entah itu tulus atau tidak, toh aku juga berniat buruk padamu awalnya. Kita sama sama Leyka, kita sama sama memiliki niat.. Tapi niatmu sangat mulia.. Kau tidak ingin menyakiti Train.. Leyka.. Perdonami.. Ooh Shittt, mengapa jantungku ingin meledak.. Tidakk Tidak.. Tuhan, jika memang aku harus mati hari ini, izinkan aku bertemu Train.. Aku bersalah, aku pantas mendapatkannya.. Biarkan aku menebus kesalahanku.. Walaupun itu hanya satu menit..


"Hatiku sakit Leyka, kau sangat bahagia dan Train-- Aku bahkan tidak pernah melihat Train begitu ceria belakangan ini" ujar Damian perlahan melepas cengkeramannya lalu ia duduk kembali di kursi taman, Leyka memandangi Damian dengan sedih. Ia bisa merasakan kecemburuan Damian dan Leyka merasa sangat bersalah.


"Kau mengawasiku?-- Damian terdiam dan Leyka menghela nafas panjang-- Mundurlah kalau begitu. Aku melepaskanmu, Damian. Aku hanya butuh waktu melupakan kenangan kita! Itu saja!" Leyka membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh namun baru dua langkah, Damian bangkit berdiri dan menarik pergelangan tangan Leyka dan menahannya.


"Itu karena aku berjanji pada Train Leyka!"


"Janji?!" Leyka mengerutkan alisnya begitupun Valentino walaupun dari kejauhan.


"Aku berjanji pada Train, bila Daddynya datang dia memintaku untuk menjauh darimu-- Aku berjanji dalam hatiku! Dia menanyakan apakah aku bisa meninggalkan Mommynya saat Daddynya datang. Saat aku melihat Gallardiev, aku langsung ingat janjiku Leyka"


Ohh Shitt.. Trainnn.. Putraku.. Dan kau Damian.. Terima kasih telah menyayangi Putraku.. Tapi Perdonami.. Perdonami.. Perdonami (maafkan aku).. Mereka berdua adalah milikku..


"Dan kau memutuskan sendiri?!" Leyka menghempaskan bokongnya ke kursi dengan perasaan bersalah. Tapi apa yang bisa ia lakukan karena Train memiliki pemikirannya sendiri, bagaimanapun juga seorang anak seperti Train pasti akan bertanya siapa orangtuanya.


"Leyka maafkan aku! Aku tidak bisa menikahimu!" Leyka terkejut, ia sangat kecewa mendengarnya, airmatanya meleleh seketika. Dua tahun mengukir kisah dan Leyka mengalah juga menyerah.


"Jadi kau menolakku?" Damian duduk di hadapan Leyka dengan berlutut, kemudian Damian menggenggam tangan Leyka yang ada dipangkuannya lalu menghapus airmatanya.


"Leyka-- Aku ingin, Leyka.. Sangat ingin. Tapi Train menunggu Daddynya" Leyka terdiam, ia tidak mampu berkata apapun. Dua tahun berlalu bukanlah waktu yang sebentar, bukan hanya sebelas hari. Dan itu menikam perasaan Leyka. Mungkin memang bukan Cinta yang Leyka rasakan, tapi rasa sayangnya karena perhatian serta segala kebaikan Damian kepada Train, mengurung relung hatinya dan sangat sulit menolak Damian.


Tawa, canda, tangis, bahagia mengiringi perjalanan cinta yang selalu saja bertepuk sebelah tangan. Damian tempatnya bersandar dan kini Leyka harus kehilangannya. Viscountess begitu menakutkan baginya tapi Leyka juga tidak mungkin memberikan neraka bagi Damian. Karena ia pun telah berusaha mati matian untuk mencintai Damian, tapi itu sangatlah sulit. Rasa kasih, rasa sayang hanya itu yang bisa Leyka berikan sebagai sahabat sejatinya. Leyka berpikir menjalani hidup bersama sahabat sejatinya, itu lebih dari cukup.


"Baiklah Damian, aku mengerti. Aku sangat mengerti. Maafkan aku.. Aku tidak akan mengganggumu. Tapi bisakah kita hanya bersahabat saja?"


"Hanya itu yang bisa aku tawarkan" Damian justru semakin menegaskan dan mereka sama sama terluka karena itu.


"Si" hanya satu kata jawaban Leyka seraya bangkit berdiri, dengan langkah gontai ia meninggalkan Damian dan Leyka tidak menoleh sedikitpun. Damian masih terpaku dihadapan kursi yang telah kosong.


"Aarrghh!! Leykaaa!! Lo sientooo (maafkan aku)! Apa kau tidak bisa memohonn!!" Pekik Damian memukul kursi taman. Damian yang terlihat tenang, lembut, tegar-- akhirnya meledakkan rasa kecewanya dengan airmata yang sulit untuk dibendung.


Leyka.. Kau pasti sangat sedih.. Tenanglah.. Kau tidak akan menjadi Viscountess.. Dan kau Damian, kau juga laki laki bodoh, bahkan terbodoh.. 11 hari aku bersamanya.. dan kau dua tahun bersamanya.. Apa kau tidak tahu? Dia-- Leyka Paquito, wanita keras kepala yang tidak akan pernah memohon, demi Cinta karena Leyka tahu pasti, Cinta sangat bersahabat dengan Luka.. Itu karena Leyka dari kecil selalu saja terluka.. Leyka, tidak akan pernah memohon.. 11 hari aku bersamanya tapi aku banyak melihat sifat Leyka yang tidak semua orang tau..


Damian masih disana, kemudian duduk dikursi dengan menguras airmatanya, ia pun sangat sedih. Dua tahun mencintai, tapi dua tahun itu menjadi tahun yang begitu manis untuknya. Henry pernah mengatakan padanya


"Jangan mencintainya, jangan kembangkan perasaan persahabatan menjadi perasaan Cinta. Karena suatu hari, kau bisa saja kehilangan keduanya, kehilangan sahabat dan juga Cintanya. Mendekati Leyka sebagai seorang kekasih, kau seperti menggenggam bara api, itu akan membakarmu, karena Leyka sangat mencintai laki laki itu. Kau akan terbakar dan terluka. Aku sudah memperingatkanmu, sebagai sahabatmu. Jangan langkahkan kakimu kesana. Hati dan jiwanya dilingkari api yang sulit kau padamkan. Saat kau masuk, kau akan terbakar"


Namun Damian justru mendekati lingkaran api bahkan menerobos masuk dan kini ia tahu rasanya terbakar. Damian mengingat perkataan Henry dan merenungkannya. Ia masih disana dengan menangis dan enggan kemana mana.


Mengapa kau tidak bertanya pada Manuela? Karena bila aku menjawab, kau hanya akan marah dan melontarkan perkataan yang sangat menyakitkan, kebencianku padamu seperti ombak saat air pasang, ketika belum juga surut, kau justru menambahkan kebencian yang baru"


Jadi benar kau tidur dengan laki laki asing lagi? Dan hamil?"


"Hahahaha-- Dan pertanyaanmu itu membuatku selalu ingin bertanya 'Bagaimana bila laki laki asing itu adalah dirimu' dan kau pasti akan marah, mulutmu akan berkata kasar dan membuat kebencianku itu muncul lalu kau akan meminta maaf beberapa hari kemudian dan aku--


"Kau pasti akan memaafkan aku"


Dengan berlarian, Valentino meninggalkan Golden Park. Kekuatannya seakan pulih setelah melihat mobil Manuella, walaupun ia masih harus memegangi dadanya, "Aku harus bertanya pada Manuella! Shitt!! Kalian semua bersandiwara!" gumamnya sambil terus berlari.


Valentino tiba di samping Kedai Double P yang berada di Distrik Golden, sesampainya disana, seseorang memanggilnya dan ia mengenalnya. Jared dan Torres dengan cemas hendak menyusulnya, tapi mereka justru melihat Valentino dengan wajah yang mengerikan. Dan otomatis membuat jutaan tanya dalam benak mereka.


"Dievvvv!" panggil Jared saat ia tiba di samping Double P.


"Jareddds!" Valentino menghempaskan tubuhnya dan memeluk Jared, ia membutuhkan peganganan hingga Torres harus menopang lengan Valentino karena lututnya lemas, Valentino menangis.


"Diaaa Putraku, Jareddd! Diaa Putraaakuuu! Aku mendengar pembicaraan Leyka dan Damian! Dia Putrakuuu Jared!" Hati Torres dan Jared bergetar melihat Valentino yang begitu hancur. Ia memekik dan meledakkan tangisnya!


"DIA PUTRAAKUUU, JARED!"


Jared yang selalu serius, Mister Nice Smile yang sulit diajak bercanda, yang menanggapi apapun dengan baku, baginya semua hal adalah bilangan matematika, ia kehilangan senyumnya melihat Valentino meraung memeluknya.



Dan Torres, pria mata keranjang, dan juga playboy, selalu tidak pernah serius pada apapun, dan selalu penasaran dengan apa saja yang dianggapnya unik, Ia juga kehilangan rasa humornya melihat Valentino.



"Ohhh Shitt! Jadi karena itulah Judith pergi begitu saja! Itu karena nama Ayah Train sama dengan namamu Diev! Karena itulah saat kau memperkenalkan diri, Train bilang sama. Dan Train memilihmu karena kebetulan namamu sama dengannya! Siapa sebenarnya nama Anak itu! Shiitt!" Jared berpikir keras sambil menepuk nepuk punggung Valentino ala laki laki dengan keras.


"Sudah pasti namanya ada unsur Valentino atau Gallardiev. Tapi aku rasa, si cantik Leyka itu-- Tidak menggunakan nama belakang Gallardiev" ujar Torres membuat Valentino mengurai pelukannya, pasalnya Torres berkata dengan mengagumi Leyka. Jared menendang kaki Torres saat itu juga memberi peringatan.


"Dia putrakuu! Aku tidak mau mati sebelum bertemu dengannya! Dadaku mau.. Meledak Jared! Rasanya aku mau mati!!" Valentino masih mencengkeram kedua lengan Jared dan mengguncangkannya, ia masih saja menangis namun ia juga membuat Jared cemas.


"Tidak tidak! Jangan katakan itu Diev! Dia putramu! Kau harus menebus kesalahanmu dan membahagiakannya! Jangan mati hanya karena kau menyerah!" ujar Jared.

__ADS_1


"Apa dia mau menerimaku? Apa putraku mau menerima Daddy sepertiku!"


"Heii-- Kalau kau mati, aku akan menikahi Leyka! Karena itu hiduplah dengan baik!" perkataan Torres membuat Valentino terpicu. Biasanya ia akan memaki Torres tapi kali ini Valentino menepuk pipi Torres dengan keras, "Kauu benar Torres! Kali ini kau benarr!" Valentinopun bergegas berlarian menyeberang jalan ke arah Distrik Miel, karena Train ada disana, di Apartemen Dolores.


Jared dan Torres memandanginya dengan trenyuh, ia merasa sangat kasian melihat Valentino. Mereka berteriak secara bersamaan ketika sebuah mobil taxi menabrak Valentino Jared dan Torres pun berlarian menyusulnya.


Beruntung mobil itu tidak melaju dengan kecepatan tinggi, sehingga Valentino hanya terguling dan kembali bangkit berdiri lalu berlari kearah Distrik Miel. Klakson mobil terdengar riuh, Valentino tidak perduli.


"Shittt! Syukurlah ia tidak apa apa" ujar Jared dengan nafas terengah engah, setelah ia menghentikan langkahnya.


"Dia benar benar Gila! Toro, dia memang pantas di sebut itu" Torres menimpali dengan nafas tersengal. Mereka pun mengikuti Valentino. Menjaga segala sesuatu agar Valentino tidak melakukan hal hal di luar nalarnya.


-


-


-


...Apartemen Casa De Miel...


...Lantai 1...


Apartemen Dolores


"Tiaaaa-- Dimana putraku?" tanya Manuella, kepada Dolores setelah ia membukakan pintu untuknya. Pintu dibiarkan terbuka karena ia akan keluar lagi. Biasanya Manuella hanya menjemput Train dan dibawa ke Apartemennya. Menjelang makan malam Train akan di jemput Leyka atau sebaliknya dan mereka akan makan malam bersama, hanya di acara tertentu mereka akan berpisah, misalnya saat Manuella dan Diego ingin berkencan.


Dolores kemudian duduk diruang tengah dan melanjutkan memilih strawberry yang matang, yang baru saja di belinya. Dolores menjawab pertanyaan Manuella, "Baru saja Train mengambil sepedanya dan mungkin sudah bersepeda bersama Maria ke Gereja-- Para pemuda pemudi sedang membersihkan Gereja karena besok ada Misa"


"Apa Train sudah mandi, Tia Dolores?" tanya Manuella sambil menuju dapur dan mengambil segelas air minum lalu dibawanya ke ruang tengah, kemudian ia duduk seraya meletakkan barang barang ditangannya.


"Sudah tadi Maria memakai baju baru yang Leyka beli. Padahal belum dicuci. Tapi Train sangat memaksa. Katanya Daddy palsunya yang membelikan untuknya. Aku sedih sekali mendengarnya Manuella. Akhirnya aku mengizinkan memakai baju barunya tanpa dicuci terlebih dahulu. Katakan nanti pada Leyka" ujar Dolores.


"Daddy palsunya?" Manuella mengerutkan alisnya. Ia memang mengetahui Leyka habis berbelanja menggunakan kartu Valentino.


"Aah tadi Judith datang dan Valentino berpura pura menjadi Daddynya. Tentu saja itu bukan pura pura" ada nada kesedihan pada perkataan Dolores dan itu sangat mengganggu Manuella.


"Baiklah aku akan ke apartemenku sebentar dan ceritakan segalanya, setelah aku kembali, Tia"


Belum juga keluar dari Apartemen Dolores, Manuella menegang tatkala Valentino sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan mengerikan.


"Katakan Manuella! Siapa kau sebenarnya! Dan Train-- Dimana dia!" pekik Valentino membuat Dolores bangkit berdiri.


"Dia memang putraku!" sanggah Manuella dengan mendengus.


"Tidak mungkinn!"


"Dia Putra Baptisku!" ujar Manuella dengan lantang, dan membuat Valentino limbung. Ia menyandarkan tubuhnya dipintu dengan memegangi dadanya. Dolores mendekatinya dan Valentino seketika memeluknya dan meledakkan tangisnya.


-


-


-


Kicauan Halu :


Jadi kalau dibuat Film itu,


[Scene pertama] sirine mobil polisi dtg ke gereja, trs seorang anak kecil pake selimut dituntun Pastur Gilberto, karena dia kan ditemuin pingsan diChapel, terus Leyka banting pintu mobil polisi krn dia nebeng mobil polisi nyari nyari anaknya terus dia lari berhamburan meluk dan nyiumin Train kaya kesetanan jerit manggil nama Train.


[Scene kedua] Settingnya suara Train.


"Namaku Blue Train aku di buat di kereta api. Kereta termewah dengan route terpanjang 27 jam, perjalanan dari Capetown menuju Pretoria"


[Scene ketiga] bunyi peluit kereta api, Leyka yg lari dari pintu gate satu ke yg lainnya, dan Valentino yang berlarian krn kebelet nising(pupp) trs tabrakanlahh 🤣 wkwkwk jiwa sutradaraku berkeliaran 🤣


[Scene keempat] dimulailah kisah mereka. CAMERA, ROLLING, ACTION !! 🤣


"Aahhh Vall.. Ooohh Ley.. " 🤣


terus CUT!! Kopii doongg 🤣


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2