FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
My Sweet Barcelona


__ADS_3


Pie buah itu membuat mata Train bersinar, ia seperti Valentino, yang menyukai olahan buah buahan segar. Manuella menepis tangan Train ketika Train ingin mencolek pie itu.


"No kau harus mandi dulu, setelah itu kau boleh memakannya" kata Manuella sambil menarik tangan Train menuju kamar mandi.


"Mucho (yang banyak)?" Train menanyakan apakah iya boleh memakan banyak, karena Leyka suka melarangnya memakan makanan yang manis. Makanan yang mengandung banyak gula butuh pembakaran extra dan itu memicu adrenalin anak hiper-aktif menjadi bertingkah secara berlebihan. Orang dewasa hanya akan mengartikan Nakal pada anak tersebut.


"Si.. Mucho (iya, yang banyak)" jawab Manuella sambil menyiapkan air hangat, menutup saluran bathup dan mengisinya.


"Aku semalam tidur di Apartemen Raja dan aku tidak tahan. Mereka semua memelukku! Uhs! No me gusta (aku tidak suka)" cerita Train membuat Manuella tertarik menanggapinya.


"Benarkah? Kalian tidur bertiga?" tanya Manuella sambil mengambil peralatan mandi Train dan menyiapkan handuk.


"Si, tapi aku pindah dikamarku sendiri. Daddy menyiapkan kamar untukku-- mereka selalu bertengkar! Uhs! Bagaimana membuat mereka akrab Ibu? Seperti di film film yang Ibu lihat" Train mulai memasuki bathup dan bermain main dengan busa sabun.


"Pagi pagi sudah bertengkar?" tanya Manuella sambil memasukkan baju kotor Train di keranjang baju kotor.


"Si! 'Lepaskan aku Val.. Lepaskan aku Val'.. Mommy berbisik bisik, aku tahu mereka menjaga agar tidak bertengkar di depanku" ujar Train menggosok kepalanya yang dipenuhi busa.


"Lalu?" Manuella tersenyum memunggungi Train, ia menurunkan peralatan setelah mandi, dari lemari kaca dan meletakkannya di wastafel agar Train mudah mengambilnya.


"Sepertinya mereka itu sedang bercerita tentang Pretoria, entahlah. Aku hanya mendengar bisikan, jagung bakar Afrika Selatan dan aroma cinta.. Entahlah.. Mungkin mereka dulu berebut jagung bakar! Uhss! Ada cerita yang terlewatkan! Mereka nakal!" Manuella membulatkan matanya, lalu menahan tawanya, rasanya ia ingin meledakkan tawanya.


Sudah pasti Leyka banyak bercerita tentang kisahnya pada Manuella, ia mengetahui secara pasti istilah jagung bakar Afrika Selatan, mereka saling bertukar cerita.


"Kau yang nakal, seharusnya kau tidak boleh menguping"


"Aku hanya memastikan Mommy tidak kaget saat bangun dan marah marah karena aku tidak ada. Aku tahu Mommy pasti canggung bersama Daddy, Bagaimanapun mereka suami istri-- Ooo.. Ooo" Train membungkam mulutnya seketika karena ia kelepasan berbicara. Manuella membulatkan matanya karena Train mengetahui kebenaran Mommy dan Daddynya.


"Hey apa yang kau katakan? Kau mengetahuinya? Apa Daddymu menceritakannya?"


"Ibu juga mengetahuinya?" pertanyaan Manuella yang bertubi tubi dibalas dengan pertanyaan oleh Train. Anak genius itu tidak mau terpancing, oleh pertanyaan yang bisa menjebaknya.


"Isshh!" Manuella hanya mendengus, ia pun tidak mau menjawab.


"Uhhss!" dan Train mendengus dengan caranya.


Dan mereka tertawa bersama, Manuella dengan gemas menggelitiki Putra Baptisnya, hingga Train menjerit jerit. Train memperlihatkan kebahagiaannya, keceriaannya yang tak biasa.


-


-


-


Sementara di Apartemen Raja, di kamar yang sejuk, Valentino masih menindih Leyka, ia mengayunkan perlahan pinggulnya dan menggesekkan dagu dan mulutnya dileher jenjang itu, Leyka memejamkan matanya, sambil merem*mas rambut Valentino dengan kedua jemari tangannya. Rambut hitam legam milik Valentino, memenuhi buku buku jemarinya.


"Aaahh.. Vall.. Uhhhmm" semakin gencar Valentino menikam leher Leyka, tangannya mulai merayapi buah dada yang menggunung dan selalu saja membuat Valentino penasaran. Karena ia mengingat dulu, bagaimana bentuknya. Walaupun tidak sepadat dulu, tapi Valentino merasakan ukurannya lebih besar dan ia melihat bulatan kecil yang menonjol. Valentino mengingat lingkar pu*tting Leyka dengan warna merah muda yang menggiurkannya, dan belum membentuk pu*ttingnya.


Namun Leyka menepis tangan Valentino, dan itu membuat Valentino mendorong tubuhnya ke belakang menjauh dari Leyka. Dengan setengah mencondongkan tubuhnya Valentino menatap lembutnya wajah Leyka dengan tatapan hangat.


"Kenapa? Aku tidak boleh menyentuhnya?" tanya Valentino sambil menghentakkan pinggulnya, mendorong senjata miliknya melesak, ke dalam rongga sempit yang memanas dan selalu menjepitnya.


"Aahh Tidak.. Aahh Val" dan Valentino semakin menyukai wajah Leyka yang terus menghiba, lenguhannya membuat Valentino semakin menekan kian dalam irisan buah Peach yang membawanya terbang kian meninggi.


"Ooohh Leyka.. Kau malu?.. Shhh... Apa kau menyusui putraku?"


"Aahh Val, bukan urusanmu! Arrgh!" Valentino semakin menyiksa Leyka dengan memacu perlahan lahan, ia tersenyum menawan dengan menatap raut wajah yang semakin memerah, berulangkali Leyka menggigit bibirnya.


"Ayolah, il mio amore.. Aku ingin melihatnya.. Sshh.. Aahh.. Leyka" sesekali mata Valentino melirik kearah milik Leyka yang begitu membiusnya, tangannya perlahan membelai buah mungil yang terhimpit oleh senjata miliknya, Valentino memainkannya seraya terus memacu dengan gerakan pinggulnya yang semakin cepat.


"Vaa..aa..aall.. Aahh.. Mi.. Amor" dan tubuh Leyka semakin liar meliuk liuk hingga pinggulnya berulang kali terangkat perlahan. Panggilan 'Mi amor' membuat jantung Valentino semakin berdegub kencang, telinganya serasa tersengat jutaan lebah, Valentino seakan tak percaya.


Leyka yang membencinya, Leyka menginginkannya dan kini Leyka kembali ke Pretoria dengan kata manisnya, "Ley.. Katakan sekali lagi.. Aaarrgh.. Katakan Ley" pinta Valentino dengan suara kian berbisik lembut namun terdengar berat.


Leyka semakin mengangkat pinggulnya, kedua tangannya terangkat keatas dan mencengkeram, bantal, Valentino semakin tak kuasa menahannya lebih lama. Valentino yang mempermainkan kini Valentino yang kelabakan menghadapi Leyka yang turut mengayunkan pinggulnya meliuk liuk menggeliat hingga kedua paha Leyka menegang.


Leyka mengerang, ia membebaskan dirinya, ia menyingkiran ketakutan dan rasa bersalahnya pada orang orang yang menurutnya harus dijaga perasaannya. "Aaa...aa..aahh Vaall!" Leyka memekik lembut, dan Valentino tak sanggup menahannya, ia menikam ketiak Leyka dan memberi gigitan manis disana.


"Aaahhh! Mi amorr" bibir Leyka kembali memanggil Valentino, suara mengalun bak simfoni klasik seakan mengajaknya terbang setinggi tingginya. Gigitan Valentino di ketiaknya meleburkan semua ha*srat Leyka.


"Sshhh.. Aargh.. Il mio amor (cintaku; Italy).. Aargh Ley.. Ley.. Ouughh.. Leykaaa!" dan kata kata yang mendamba, kata kata yang menghiba, diiringi lenguhan panjang, membuat Valentino meluapkan kerinduannya pada Pretoria yang sangat memberi kesan yang mendalam.


Dan mereka tenggelam dalam lautan api gairah yang memanas, meledakkan hasrat bersama, melayang terbang meniti getaran hebat yang menghilangkan kesadaran mereka untuk se-saat. Leyka mencengkeram kuat punggung Valentino, kakinya menaut dengan pinggul yang menghentak seiring pacuan Valentino yang melambat karena ia pun telah meledakkan kembali benih benihnya dan menyemai dilahan yang subur.


Hamillah Ley.. Kau akan hamil lagi.. Jadilah baby Leyka.. Berikan aku anak yang banyak Ley. Batin Valentino seraya mengatur nafasnya.


Habislah aku, bila aku hamil. Batin Leyka dengan mata terpejam. Kesadarannya kembali ia pun sama seperti halnya Valentino, ia mengatur nafasnya. Valentino mendorong tubuhnya menjauh, dan memandangi wajah Leyka. Sesekali ia menyeka keringatnya dan sesekali ia menyeka keringat di dahi Leyka.


"Buenos dias my sweet Barcelona (selamat pagi, Barcelonaku yang manis)" bisik Valentino dengan mencium tangan Leyka. Belum menjawabnya dan Leyka masih terpesona, Train mengacaukannya.


"Mommy Mommy Mommy! Daddy Daddy Daddy! Cepat buka buka buka pintunya.. Cepat cepat cepat!" Dan Train membuyarkan segalanya. Namun Valentino tak lupa mencium kening Leyka dengan sangat dalam, ia membelai pipi Leyka dan bangkit berdiri.


"Cepat berikan aku handuk!" perintah Leyka dengan berbisik. Valentino dengan cepat memakai celananya dan berlarian kearah lemari mengambil handuk dan memberikannya pada Leyka.

__ADS_1


"Buka buka buka!" Trainpun berteriak teriak sambil menendang pintu, Leyka dengan cepat membersihkan pangkal pahanya lalu mengenakan celana tidurnya.


"Train! Jangan menendang pintu!" ujar Leyka menghardik dari dalam kamar, Leyka menyerahkan handuk dan Valentino melemparnya ke dalam keranjang dari luar pintu kamar.


"Sebentar Blue!" secepat kilat Valentino berlarian, kearah pintu. Dan terdengar gerutuan Train yang membuat Valentino tersenyum, "Uhhss! Aku membawa pie buah Mommy! Cepat buka pintu! Uhss!" Valentino membuka pintu dan menyambut pie buah dari tangan Train.


"Kita akan memakannya dikamar? Boleh kan Mommy?" Train naik ke ranjang dengan meloncat dan Valentino meletakkan pie itu di ranjang.


"Daddy akan mengambil sendok dan air minum" ujar Valentino sambil berlalu.


"Kata Ibu aku boleh makan yang banyak! Aku mau yang ini.. yang ini.. dan yang ini!" ujar Train dengan menunjuk buah strawberry, jeruk, dan kiwi.


"Ehmm.. Mommy mau makan yang ini.. yang ini.. dan yaaaang ini!" Train menjerit dan tertawa karena kata 'yang ini' yang terakhir adalah pipi Train. Leyka menciuminya dengan berbunyi. Valentino datang dengan tersenyum melihat Istri dan Anaknya bercanda penuh tawa, hati berdebar penuh kebahagiaan.


Valentino memberikan dua sendok dan meletakkan tiga botol minum di nakas, ia kemudian duduk diranjang. "Daddy mau yang ini-- Valentino mencium pipi Train --yang ini-- lalu ia mencium pipi Leyka --dan yang ini!" ia menyendok pie buah lalu melahapnya. Train dan Leyka mengikutinya, melahap bagian demi bagian pie buah itu dengan tawa kebahagiaan.


Saat mata Leyka bertemu dengan mata Valentino, mereka sangat canggung. Valentino menatap penuh arti begitupun Leyka. Train melihat itu dan terpikir olehnya untuk mencoba mengurai kecanggungan itu.


"Apa Mommy dan Daddy, melewatkan cerita tentang jagung bakar? Tadi aku mendengarnya, apa kalian saling berebut memakannya? Atau bagaimana? Vamos (ayo) ceritakan-- Apa aroma cinta itu?" Seketika Valentino membulatkan matanya dan Leyka tersedak karena. Valentino buru buru mengambil air minum lalu diberikan pada Leyka.


"Mommy.. Lo siento (maafkan aku). Apa aku salah bertanya?"


"No, kau benar Blue, itu tentang jagung bakar Afrika Selatan yang digilai Mommymu. Mommy merebut milik Daddy dan memakannya" ujar Valentino membuat Leyka masih terbatuk batuk.


"Dan Mommy akan memanggangnya disini!" Valentino terkekeh mendengarnya, melihat Leyka mendelik kearahnya.


"Kau batuk Mommy, Lo siento" ujar Train dengan suara mungilnya yang membuat orang yang mendengarnya, sudah pasti luluh seketika.


"No Blue, mungkin pie ini terlalu manis, benar kan mi amor?" dengan canggung Leyka meneguk perlahan air minum itu, Valentino mengusap punggung Leyka perlahan dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Leyka berulang kali dibuat gugup.


"Dan Mommy memang belum minum dari tadi, Mommy baru menyadari bahwa Mommy tidak di kamar Mommy sendiri, biasanya ada air minum di sebelah meja Mommy" ujar Leyka berusaha untuk bersikap tenang.


"Kamar ini kamarmu, Mi amor (cintaku). Kau berhak mengaturnya atau membuang apa saja yang tidak kau sukai" Valentino mengusap kepala Leyka namun gerakan Leyka yang menaruh botol minum, seakan menghindari Valentino sangat terlihat jelas dimata Train yang dengan jeli mengawasinya.


"Apa aku boleh meminta juga Daddy?" tanya Train dengan tersenyum, penuh teka teki. Ia melahap sesuap demi sesuap pie buah buatan Dolores.


"Tanyakan pada Mommy" Valentino melemparkan pertanyaan Train pada Leyka, ia mengundang perhatian Leyka yang menghindari tatapannya.


"Apa aku boleh membuang apa yang tidak aku sukai di kamar ini Mommy?"


"Boleh, katakan apa yang tidak kau sukai" kata Leyka sambil menyuap pie kedalam mulutnya.


"Aku mau sofa itu tidak ada dikamar ini!" ujar Train sambil menunjuk sofa yang ada dikamar itu, terjawab sudah teka teki dibalik senyuman Train, Valentino pun menahan senyumnya dan Leyka membelalakkan matanya kemudian ia merengut.



Shittt.. Aku baru berencana menyuruh Valentino tidur disofa itu setiap malamnya, agar kejadian hari ini tidak terulang tapi Train sudah merusak segalanya.. Huhh! Setan Cilik ini benar benar tidak mengerti juga..


"Tidak baik ada sofa di dalam kamar. Kata Ibu, bila Ayah marah Ayah akan tidur di sofa. Akhirnya mereka berhari hari tidak bicara. Kata Abuela itu tidak baik. Boleh marah tapi sebentar saja. Dan kata Penelope, semua pertengkaran akan berakhir di ranjang, karena Ayah dan Ibu akhirnya berbaikan. Menurutku masuk akal" ujar Train membuat Valentino tergelak sementara Leyka mendengus.


"Nakal sekali, Penelope itu. Hissh!" ujar Leyka memainkan sendok di mulutnya, ia membersihkan sisa pie dengan lidahnya.


Huhh.. Rasanya aku mau menjadi sendok itu. Batin Valentino di dalam benaknya.


"Daddy akan memanggil orang dari proyek, untuk membantu mengangkat sofa itu, sekalian Daddy meminta untuk membawa cat tembok. Kau tahu kan tembok Apartemen Ratu sangat kotor karena ada yang muntah semalam" Leyka mengu*llum sendok dengan mendelikkan matanya, ia sama sekali tidak mengingat saat ia mabuk. Mata Valentino masih melirik sendok itu, disela sela ia menyuapkan pie ke dalam mulutnya.


"Uhmm.. Si!-- Uhss! Mommy tidak boleh mabuk lagi!" seru Train dengan pie memenuhi mulutnya.


"Lo siento. Mommy tidak akan mabuk lagi!" ujar Leyka sambil mengacak rambut Train. Leyka kembali menyendok pie dan kembali membersihkan sendok dengan lidahnya.


"Daddy, mengapa Daddy melihat sendok Mommy teruss, Uhhs" Train gemas melihat Valentino hanya melihat sendok.


"Karena Daddy ingin menjadi sendok itu--- Ehh. Ehmm-- Leyka reflek memukul lengan Valentino dan Train tertawa seru melihatnya.


"Hati hati bicara mu, Val!" Leyka memperingatkan.


"Maksud Daddy-- Ehm, Daddy ingin membersihkan sisa pie di bibir Mommy tapi Mommy sepertinya lebih memilih sendok itu menjadi lolipop" Train semakin tertawa, Leyka kemudian meletakkan sendoknya.


"Si! Karena Daddy tidak mungkin jadi sendok-- Aku tau Daddy ingin mencium Mommy-- Train mendekati Leyka dan berdiri dengan lututnya, ia mendekatkan wajahnya --Tapi aku duluuuu!" Train mencium bibir Mommy dan tertawa.


"Nakall.. Kau mendahului Daddy!" Dan Valentino menyerbu Train bertubi tubi, Valentino menciuminya dan menggelitiki Train, hingga Leyka ikut tertawa saat Train menjerit jerit.


Seandainya ini bisa selamanya.. Bisakah kita selamanya, Leyka? kata Valentino dalam hatinya.


-


-


-


Valentino benar benar memindahkan sofa yang ada di kamarnya ke ruangan lain. Hari itu, Valentino berencana mengecat ruang tamu di Apartemen Ratu yang kotor karena kekacauan yang Leyka timbulkan karena efek samping dari mabuk. Valentino ingin mengerjakan sendiri sambil menjaga Train, yang sedang bermain video game, sementara Leyka pergi ke Kedai dengan alasan ingin berbelanja, kebutuhan Kedai.


Train sudah melarangnya, tapi Leyka bersikeras pergi, karena sesungguhnya Leyka ingin bertemu dengan Damian. Valentino mengetahui sekilas pesan Damian diponsel Leyka, namun Leyka tidak berusaha berterus terang karena toh Valentino membebaskan dirinya untuk tetap menjalin hubungan dengan Damian.


Valentino mencoba untuk tidak mengusik kehidupan pribadi Leyka, karena syarat Train hanya tiga bulan. Valentino hanya mencoba mengubah sikapnya, karena hanya itu yang akan membuat Leyka kembali kepadanya. Valentino, mencoba memperbaiki kesalahan demi kesalahan yang ia buat.

__ADS_1


Sesungguhnya, Valentino mengikuti Leyka dan menitipkan Train pada Dolores sebelum makan siang, dengan alasan ia akan membeli peralatan mengecat dinding rumah. Valentino masih ingat kata kata Leyka kepada Damian yang mengusiknya. Di Golden Park, Valentino kembali menguping pembicaraan Leyka.


Aku-- Aku hanya tidur dan aku tidak tahu apa yang terjadi, Damian


Apa terjadi sesuatu Ley? Apa dia-- Dia menyentuhmu?


Damian itu.. Itu hanya kontak fisik.. Kami tidak berciuman.. Itu.. Itu.. Hanya kesalahan


Leykaa.. Hanya tiga bulan dan baru semalam kau sudah tidur dengannya?! Ley, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi setelah itu.. Mungkin semalam kau tidak berciuman.. Tapi tiga bulan Leyka, apa yang akan terjadi setelah itu?


Damian, aku tidak memintamu untuk menunggu perjanjian itu, aku tidak ingin kau menungguku. Tinggalkan aku, dan carilah wanita yang lebih baik dariku.


Aku mencintaimu Leyka..


Lalu aku harus bagaimana?! Aku tidak mungkin melawan Putraku sendiri.. Dan mengapa kau menyembunyikan surat itu.. Apa kau membacanya? Katakan Damian jangan diam..


Ley.. Aku.. Aku.. Hanya tidak ingin menambah kerumitan--


Jadi kau membacanya? Kau menyembunyikannya.. Damian, aku tidak percaya kau melakukannya..


Leyka.. Maafkan aku.. Itu karena ada kartu nama dan.. Kau bisa saja menghubunginya.. Bahkan Train.. Tapi ternyata dia kembali.. Dan sayangnya bukan untukmu, Leyka.. Pencundaang itu datang untuk Istrinya yang lari dengan kekasihnya..


Pecunndangg itu adalah Daddy Train, Damian..


Kau.. Kau masih mencintainya.. Ya.. Kau masih mencintainya..


Aku tidak tahu.. Dia adalah Luka.. Dan aku tidak ingin mendekatinya.. Banyak hal yang akan terjadi bila aku menyentuh Luka.. Kita semua hanya akan berada di Neraka, Val.. Ehh.. Ehmm Maksudku Damian..


Bahkan kau menyebut namanya dan memanggil namanya.. Leyka--


Maafkan aku Damian.. Maafkan aku.. Aku tidak tahu mengapa aku memanggilmu, Val.. Ini karena aku terlalu banyak minum semalam.. Karena itulah aku tidak ingat.. Maafkan aku.. Kau boleh meninggalkanku..


Hanya itu hanya ada dipikiranmu? Aku meninggalkanmu..


Karena kesalahanku tak termaafkan Damian.. Aku merasa bersalah.. Aku tidak ingin mengkhianatimu.. Aku tidak ingin kau semakin terluka karena perjanjian Putraku..


Leyka.. Aku memaafkanmu.. Aku menunggumu dan setelah tiga bulan.. Kau akan menjadi milikku..


Damiann...


Aku memaafkanmu Baby..


Dan pelukan Damian membuat Valentino pergi. Valentino tidak ingin melihatnya, ia memilih pulang dan meredam emosinya. Valentino memilih menjemput Train dan dibawanya ke Apartemen Ratu dan menyiapkan makan siang. Karena memasak hanya bisa dilakukan di Apartemen Ratu, Apartemen Raja tidak memiliki peralatan dapur yang lengkap, karena Valentino memang belum melengkapinya.


Setelah makan siang, Valentino memulai aktifitasnya, mengecat ruang tamu di Apartemen Ratu. Leyka kembali dengan membawa beberapa kantong belanja. Valentino meletakkan peralatannya dan menyongsong membantu Leyka membawa kantong belanjaan. Valentino diam, ia memperlihatkan wajahnya yang begitu dingin, Leyka berdebar melihatnya.



"Gracias, biar aku yang menatanya" kata Leyka sesampainya di dapur.


"Aku akan menyelesaikan tugasku. Dan lain kali, katakan yang sebenarnya kalau kau ingin menemui Damian, tidak perlu membohongiku dan Putraku" ujar Valentino seraya melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


Cihh.. Putraku Putraku Putraku! Tidak perlu kau menegaskan.. Dasar Raja Setan, sepertinya kau ingin menguasai Train. Leyka.


"Kau mengikuti?" Valentino menghentikan langkahnya dan menoleh pada Leyka lalu menjawab pertanyaan singkat itu.


"Tidak, aku hanya melihatmu. Kebetulan aku melewati Golden Park saat membeli kuas. Apa kau punya kuas cat dinding?" Leyka diam, ia merasa tidak punya kuas cat dinding. Leyka masih berdiri memandangi punggung Valentino menjauh. Hatinya mulai resah.


Cihh, dia marah.. Tidak biasanya dia setenang itu.. Biasanya dia akan kasar.. Apakah dia benar benar mengizinkanku bila aku mengatakan yang sesungguhnya? Aahh tentu saja.. Memang aku siapa.. Dia pria beristri, tentu saja dia menjaga itu.. Huhh.. Menyebalkan..


"Mommy.. Mommy.. Mommy.. Aku lelah" Train menghampiri Leyka di dapur dan menuju lemari pendingin.


Setan cilik ini, bisa aku manfaatkan. Batin Leyka.


"Mommy akan membuatkanmu dan Daddy segelas mocktail yang segar-- Kenapa kau tidak melepas bajumu dan membantu Daddy mengecat dinding ? Hidung Daddy akan sexy bila di beri cat" bahkan Train belum melihat senyuman khas wanita siluman, tapi Train telah berlarian dari hadapan lemari pendingin tanpa menutupnya.


"Yeaaayyy!" Train bersorak dan siap bermain cat dengan Daddynya. Sementara Leyka membuat mocktail dengan potongan buah, untuk membasuh kemarahan Valentino yang tidak seperti biasanya. Leyka diam diam, mulai memperhatikan sikap diam Valentino.


Cihh.. Menggemaskan..


-


-


-


My sweet Barcelona.. lucu ya.. knp ga gombalin pake gaya Val.. My sweet trenggalek.. My sweet tasik.. my sweet jogja.. dijamin ga jadi nganu.. karena pasti ngangkangg ehh ngakak 🤣🤣


Perlu di catat ya gaes, kalau ga UP itu berarti Aku libur di sabtu dan minggu.. kalau libur di hari lain, itu karena proses review yg lama.. Nah bulan baru, mejaku kosong.. Kalian boleh kok memenuhinya dengan Kopi dan Vote.. Mamacih Bosqyu *lagi Kalem" 🤣🤣


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2