
Train duduk di pangkuan Leyka, menghadap kearah sungai yang membentang luas hingga seakan tak bertepi, ia menyandarkan kepalanya di dada Leyka dengan nyaman, sesekali ia menguap dan memandangi bulan purnama yang begitu bulat sempurna. Leyka menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang terbuat dari semen, dan ia mendekap tubuh Train untuk memberinya kehangatan.
"Mommy, apa itu bulan yang sama yang ada di Pretoria? Di sebuah Barn di tengah kebun anggur?" Train menunjuk bulan purnama yang menggantung di angkasa lalu, ia menggosok hidungnya yang terasa gatal.
"Kau tahu cerita itu, Blue?" tanya Valentino mendekatkan tubuh dan wajahnya kearah Train lalu mencium pelipisnya. Leyka melengos kearah samping karena wajah Valentino begitu dekat dengan wajahnya.
"Si, Daddy! Mommy selalu memulai cerita itu dengan mengatakan seperti ini, 'saat itu bulan purnama, bulan yang begitu besar dan bulat sempurna, bulan itu seperti berada satu jengkal di atas kepala Mommy dan Daddy'-- Apakah bulan itu sama seperti disana?" Train menirukan gaya Leyka dan mengingat semua cara Leyka bercerita. Valentino terkekeh mendengarnya, ia kemudian merentangkan tangannya ke belakang tubuh Leyka hingga mencapai lengannya.
"Si, sama seperti itu Blue. Sangat terang hingga kecantikan Mommy begitu terlihat jelas, sama seperti sekarang" ujar Valentino memandangi Leyka yang seketika memalingkan wajahnya, Valentino tersenyum dan mengusap lengan Leyka.
"Uhs, beruntung tidak ada manusia serigala disana! Saat bulan purnama, manusia serigala akan berubah menjadi serigala!" Valentino tertawa dan Leyka tersenyum mendengarnya.
"Oo, tentu saja ada manusia serigala yang merusak kebun anggur, dia menjatuhkan lampu lampu disana!" sindir Leyka melirik kearah Valentino yang terbahak kemudian.
"Hahaha, yang ada hanya wanita serigala, Blue.. Dan itu adalah Momnymu dia mencabik cabik hati Daddy-- lanjut Valentino dalam hatinya --ehm dan dia pemangsa Jagung Bakar Afrika Selatan" Valentino berbalas menyindir dengan terbahak, Leyka mendengus kalah.
Sementara Train yang kebingungan hanya terbahak tapi ia tahu kedua orangtuanya saling menyindir dan ia dengan mudah menyimpulkan serigala itu adalah kedua orangtuanya, "Berarti aku anak serigala! Aku sebentar lagi berubah! Aku sebentar lagi berubah! Roaaaarrggg Wuuuuu!" Train menirukan lolongan serigala dengan menunjukkan seringaian giginya dan kedua tangannya yang siap mencakar.
"Si si si! Kita akan berubah! Wuuuuu!" dan Valentinopun menirukan Train, kedua tangannya menunjukkan cakaran kearah Train lalu menggunakannya untuk menggelitiki Train yang kemudian menjerit jerit di pangkuan Leyka.
Semua sangat bahagia melihat pemandangan itu, tak terkecuali Leyka. Hatinya menghangat walapun ia hanya tersenyum tipis melihat Valentino dan Train bercanda ria dipangkuannya. Ia menghindari, membentengi dirinya dari wajah Valentino yang dengan sengaja ingin mencuri ciuman darinya.
"Kalian berdua hentikan, kalian terlalu banyak menonton film" komentar Leyka dengan mencium pipi Train.
"Tapi, bulan itu menghilang dibalik awan dan hujan turun! Mommy dan Daddy merusak kebun anggur lalu di kejar kepala suku. Jika Mommy dan Daddy tertangkap kalian akan di nikahkan dan kalian akan mengetahui bahwa kalian ternyata telah menikah-- Ahahaha!" Train tertawa, namun Valentino dan Leyka hanya saling berpandangan.
Dan kita tidak akan terpisah, Blue
Kita akan selalu bersama, Train.. Tapi, apa takdir semudah itu?
Leyka dan Valentino saling menyesali masa lalu yang terlewatkan. Train benar, seandainya saat itu mereka tertangkap, mereka akan mengetahui bila mereka telah menikah. Mereka menelan getir salivanya, menyesali masa delapan tahun yang begitu menyesakkan.
"Train-- Apa kau sekarang bahagia?" tanya Leyka sambil mengeratkan dekapannya lalu Leyka mencium lembutnya pipi Train.
"Si Mommy! Aku lebih bahagia-- Mucho, mucho, mucho (banyak, banyak, banyak)" jawab Train dengan menggerakkan kedua tangannya membentuk lingkaran berulang ulang, Valentino tersenyum sambil mencium pipi Train berulang kali.
"Saat Daddy belum datang-- Apakah kau juga merasa bahagia-- ehm, maksud Mommy, saat kita hanya tinggal berdua dulu?" tanya Leyka lagi.
Apa yang membuat hatinya gundah. Batin Valentino.
"Aku bahagia Mommy! Saat Daddy datang aku lebih bahagia!" Train berseru dengan lantang sambil membalikkan tubuhnya dan duduk menghadap kearah Leyka dan masih duduk di pangkuannya.
"Bukankah tidak adil bila kau mengalami saat seperti ini? Dewa Faunus mengutuk Mommy dan Daddy. Dan Train terpisah dari Daddy" tutur Leyka dengan menangkupkan kedua tangannya di pipi Train yang tersenyum, jemari Train mulai liar menggulung gulung rambut Leyka yang menjuntai dari belakang telinganya.
"Itu takdir yang harus kita terima dan kita jalani Leyka. Kita harus melupakan masa delapan tahun itu sebagai pelajaran berharga. Kita akan menyimpannya sebagai bingkai kisah kita ke depan-- Ehm, bila kau setuju menghapus perjanjian putra kita selama tiga bulan" Leyka terdiam dan tidak menoleh sedikitpun kearah Valentino, rasa canggung yang luar biasa membuat sikapnya masih saja beku.
"Apa salahku? Apa salah Train hingga kita harus mengalami hal yang begitu pahit" kata Leyka dengan mata berkaca kaca saat menatap beningnya bola mata putranya.
"Mommy mungkin yang terjadi bukan karena kutukan. Kata Pastor Gilberto, Tuhan menghukum manusia agar tahu siapa Tuhannya dan kepada siapa manusia memohon Keajaiban. Aku tidak mengerti maksudnya tapi aku hanya tahu Tuhan akan memberi Keajaiban. Itu saja" ujar Train membuat Leyka dan Valentino saling berpandangan lalu Leyka memalingkan lagi, wajahnya kearah wajah Train yang begitu dekat dengannya lalu Leyka mencium kening Train.
Lalu Train kembali bertutur kata dengan suara mungilnya, "Tapi Mommy tidak percaya Tuhan kan? Mommy Atheis! Mungkin saja Tuhan ingin menunjukkan bahwa Dia ada. Dia menunjukkan diriNya lewat Keajaiban dan Keajaiban itu bisa jadi aku, Daddy atau Mommy sendiri" Train menguap sesaat lalu ia meneruskan perkataannya.
"Aku Keajaiban Mommy dan Daddy tapi Mommy juga Keajaibanku. Daddy juga Keajaibanku. Kalian adalah Keajaibanku! Seandainya kalian bersama selamanya, tidak hanya tiga bulan, itu tandanya Tuhan itu ada dan mengabulkan doaku dengan memberi Keajaiban. Tapi bila tidak, aku juga tidak akan kecewa karena dekat kalian saja itu sudah cukup. Kalian berpisah tidak apa apa asalkan kalian tidak bertengkar, aku tidak mau seperti Nyonya Nancy dan Papa Paolo, mereka bertengkar memperebutkan Paolo. Kalian tidak boleh bertengkar karena aku. Karena aku milik kalian dan bukankah aku adalah Keajaiban? Benar kan Mommy? Daddy?"
Dan sumpah demi apapun Leyka terkesima begitupun Valentino. Leyka menurunkan airmatanya, dan Valentino berkaca kaca melihat Leyka memeluk Train, Valentinopun memeluk keduanya dan memberi ciumannya bertubi tubi, hingga Train terhimpit dan merasa sesak.
Tidak! Sekalipun kau ingin, Aku tidak akan menceraikanmu, Ley dan aku tidak akan melepaskanmu.. Aku akan memaksamu sampai kapanpun, aku akan memaksamu untuk selalu berada di sisiku bersama putra kita, sampai kau mengerti bahwa kita jiwa jiwa yang terikat oleh takdir dan dipertemukan lewat Keajaiban. Valentino menyusutkan airmatanya.
"Uhs! No no no! Kalian membuatku sesak! No Mommy! No Daddy! Aaaaaw!" Train meronta dan mereka terkekeh melihatnya, dan Leyka buru buru menghapus airmatanya.
"Kau menggemaskan! Suruh siapa kau menggemaskan!" kata Leyka memeluk Train dengan menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
"Blue, apa kau sering ke Gereja?" tanya Valentino kemudian.
"Si Daddy, Ibu dan Ayah Baptisku yang membawaku kesana" jawab Train lagi lagi sambil menguap.
"Ley, kau tidak pernah mengantarnya?" tanya Valentino sambil membelai kepala Leyka.
"No! Mommy Atheis!" jawab Train seiring Leyka menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, mulai sekarang Mommy dan Daddy yang akan mengantarmu! Dan ajaklah Grandma pulang-- Kau sudah lelah, Blue" kata Valentino meraih pinggang Train agar turun dari pangkuan Leyka.
"Yeayy! Benarkah Mommy?" Leyka hanya mengangguk dan mengatupkan bibirnya saat Train bertanya, mata Train berbinar dan ia mencium pipi Leyka dan juga Valentino, "Ohh Mommy Te quiero-- Daddy, Te quiero ( aku mencintaimu)"
"Ti amo, Blue" jawab Valentino dengan bahasa Italy.
"Te Quiero, Mi Carino. Bawalah paperbag ini pulang dan simpanlah dengan baik karena Mommy masih ingin sendiri. Mintalah masakan burrito pada Grandma untuk sarapan besok, karena masakan Grandma sangat enak" ujar Leyka sambil menyerahkan paperbag yang berisi dokumen pernikahannya dan Train bersorak dengan membawa paperbag itu berlari kearah mobil limousin yang menunggunya.
__ADS_1
Setelah Limousin membawa Train pergi, Leyka bangkit berdiri dan berjalan menjauh dari Valentino yang masih duduk di kursi, ia ingin merenungi perkataan Train.
"Leyka!" dan Leyka menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Valentino.
"Pergilah! Aku masih ingin menikmati waktuku sendiri, aku tidak bisa bahasa selain bahasa manusia bila kau manusia kau pasti mengerti saat aku menyuruhmu pergi! Ada kawan kawanmu disana, kau bisa pergi dengan mereka!-- Oo iya, Bukankah kau ingin mencekikku dengan pahamu? Dan bukankah kau ingin menceraikanku saat itu? Setelah kau mengetahui Train, mengapa kau urungkan niatmu?"
Rasa gundah itu terkadang menjadi sebuah rasa ketidakpuasan, hingga Leyka seperti menuntut dan mengungkit penjelasan, kekalutannya dengan kenyataan bahwa ia telah menikah dengan Valentino mengundang banyak tanya kepada Sang Pencipta bahkan kepada Valentino yang kini tengah mengacak rambutnya lalu bangkit berdiri di hadapan Leyka.
"Ley, ayolah-- Kita bisa bicarakan ini di ranjang yang hangat dengan segelas wine dan kita bisa tidur sama lalu bercinta sampai kita lelah" Valentino sendiripun membulatkan matanya, ia pun tidak menyadari bahwa perkataannya yang meluncur begitu saja, justru berakibat buruk pada perasaan Leyka.
"Si, laki laki sepertimu, hanya memikirkan naf*su semata tanpa melihat perasaan terlebih dahulu-- Pergilah!" Leyka berlalu beberapa langkah dan ia duduk di tepi jembatan dengan kaki terjuntai kebawah, ia bersedekap dan menyandarkan kepalanya di tiang pagar pembatas dengan menatap indahnya bulan purnama.
Angin malam meniupkan kesejukan, menerbangkan rambutnya yang sebagian terurai. Leyka memejamkan matanya dan mengingat rentetan kejadian demi kejadian selama delapan tahun hingga detik ini.
Bodohh.. Apa yang aku katakan.. Shiittt.. Aku memang bernaf*su padamu.. Shitt.. Seharusnya aku menunjukkan rasa cintaku, bukan naf*suku..
Terkadang rasa letih membuat seseorang tidak bisa mengontrol perkataannya, dan itu yang terjadi pada Valentino. Ia berjalan kearah rekannya dan keluarga Fernandez dengan menepuk nepuk kepalanya.
"Biar ku tebak. Kau pasti tidak bisa menakhlukkannya" kata Jared dengan sebotol bir ditangannya, semua menggenggam sebotol bir di tangan mereka.
"Aargh! Wanita memang sulit ditebak! Dia itu pendendam! Dia mengingat perkataan Torres di kantor! Shittt!!" mereka kebingungan dan mata Valentino beredar kearah satu kardus di bagasi Ford double-cabin milik Manuella yang isinya adalah bir lokal. Valentino menyambarnya dan membuka penutup botol itu dengan opener, lalu meneguknya. *Opener, pembuka tutup botol.
"Perkataan yang mana?" tanya Torres mengerutkan alisnya dan semua saling pandang.
"Perkataanku bahwa aku akan mencekiknya dengan pahaku! Dan aku salah menjawab barusan!" kata Valentino kesal dengan dirinya sendiri sambil meneguk bir ditangannya.
"Salah menjawab?" tanya Penelope masih tidak mengerti.
"Aku-- aku justu mengajaknya tidur dan bercinta sampai lelah!" jawab Valentino dengan bersungut dan semua meledakan tawanya.
"Kau bodoh-- Hahaha!" Torres terbahak di ikuti yang lain.
"Si-- Aku akui, aku bodoh bila berhadapan dengan Wanita Siluman itu!" semua menggelengkan kepalanya dengan penuh tawa.
Torres meneguk sisa bir lalu membuang botolnya di tempat sampah terdekat lalu ia mengambil dua botol bir dan membuka keduanya, ia menunjuk kearah Jared dengan menggunakan satu botol, "Tahan dia! Aku mau bicara pada wanita siluman itu!" Torres pun berlalu menghampiri Leyka dengan dua botol bir di tangannya.
"Hei, Torres apa yang akan kau lakukan!" seketika Jared menahan dada Valentino yang berteriak dengan keras, wajahnya memerah karena ia marah melihat Torres menghampiri Leyka.
"Percayalah padaku!" seru Torres dari kejauhan. dan ia terus melangkah menjauh.
"Torres! Dia Istriku! Kau jangan macam macam atau aku akan melemparmu ke sungai!" pekik Valentino dengan keras hingga membuat Leyka pun menoleh dari kejauhan.
"Dia tidak bisa dipercaya! Dia bisa macam macam pada Istriku!"
"Kita lihat apa dia macam macam atau tidak!" kata Jared semakin menahan kuat dada Valentino hingga Diego harus turut memegangi lengan Valentino yang kekar itu.
Torres terlihat duduk di sebelah Leyka di bibir jembatan dengan kaki menjuntai ke bawah, lalu mengulurkan sebotol bir dan Leyka menerimanya.
Satu menit. Lima menit kemudian Leyka tersenyum tipis dan lima menit lagi berselang, Leyka tersenyum. Total lima belas menit kemudian, Leyka tertawa bersama Torres dari kejauhan. Leyka terus menerus terbahak dan itu membuat Valentino mendidih.
"Shiittt!! Apa yang mereka bicarakan! Mengapa Istriku bisa tertawa seperti itu! Apa Torres lebih menarik dariku! Shiitt!!" umpat Valentino dengan kesal.
"Aku juga penasaran" Matthew menyambar tangan Maria dan dibawanya berjalan kearah Leyka dan Torres yang tertawa terbahak sambil menikmati sebotol bir, dengan menikmati memilirnya angin malam.
-
-
-
"Hahaha-- Jadi wanita itu mengguyurnya dengan kopi?" Leyka terbahak bahak melihat kearah Torres yang berkicau dengan tertawa.
"Aku dan Jared selalu menemaninya saat dia berkencan buta-- dan semua wanita selalu mundur! Bayangkan saja, dia selalu bercerita tentang Pretoria! Dia selalu bercerita bagaimana kalian bercinta dimanapun dengan penuh semangat! Hahaha-- Ada yang langsung pergi tanpa kata, ada yang melempar serbet ke wajahnya, ada yang menyiram kopi, ada yang mengatakan Gallardiev gila dan psikopat yang masih memuja mantan kekasihnya! Hahaha!"
Leyka dan Torres tertawa terbahak. Ternyata Torres menceritakan beberapa kencan buta Valentino yang tidak pernah ada hasilnya. Torres menuangkan cerita demi cerita dan mengemasnya dengan jenaka. Tak heran bila Leyka sangat bersemangat mendengarnya dengan penuh debaran. Adrenalinnya terpacu mendengar cerita Torres.
"Hahaha-- Wanita mana yang mau jika sikapnya seperti itu! Bodoh!" Leyka tertawa dengan menggenggam sebotol bir di tangannya, lalu ia meneguknya.
"Dia bermulut besar! Dengan segudang rencana yang dia susun, untuk membuatmu jatuh dan lihat tidak ada satupun rencananya berhasil, Hahaha! Dia tidak mau datang awalnya ke Barcelona tapi aku memanasinya, aku memintanya untuk menceraikanmu agar aku bisa mengejarmu,.. Hahaha. Dia berkali kali menghajarku karena aku senang membuat dia terpancing dan menunjukkan isi hatinya yang sesungguhnya! Hahaha.. Shitt!-- Torres menghabiskan tawanya dengan menyeka sudut matanya karena ia tertawa hingga mengeluarkan airmata lalu ia menghela nafas dalam --Dia sangat mencintaimu, dan dia terlalu gengsi mengakuinya" ujar Torres meneguk habis, sisa birnya dan bangkit berdiri untuk membuang botol kosong ke tempat sampah.
"Dan sangat arogan" imbuh Leyka, dan ia pun bangkit berdiri mengikuti Torres membuang botol bir yang telah kosong.
"Yaaa, itu tidak ada bedanya denganmu, Leyka!" sahut Maria yang telah sampai terlebih dahulu bersama Matthew dan mereka mendengar percakapan terakhir antara Torres dan Leyka.
"Cihh!" Leyka mencebikkan bibirnya kearah Maria dan membuang muka.
"Ayolah akui saja! Kau juga gengsi mengakui kalau kau juga mencintainya! Aku sampai hafal semua cerita tentang Toro yang membuatnya kli*maks berkali kali! Hahaha!" Maria dan Torres tertawa di ikuti Matthew yang menyodorkan botol bir kearah Maria, mereka melakukan toast dan meneguk bir itu kemudian.
__ADS_1
"Cihh! Dasar pengkhianat! Kau bersekongkol dengannya!" Leyka bersungut dengan mengibaskan rambutnya dan berjalan ke tepian pagar pembatas jembatan.
"Jadi kau ingin kami semua mendukungmu dan Damian?" tanya Maria membuat Leyka diam dan memunggungi Maria.
"Ayo jawablah! Kau benar benar mau kembali bersamanya? Aku bisa menelepon Damian agar menjemputmu sekarang" pancing Maria.
"Cih!" Leyka menoleh sesaat lalu kembali memunggungi Maria menghadap kearah sungai yang begitu tenang.
"Kau tidak mau menjawab? Baiklah aku akan menghubungi Damian" Maria mengambil ponselnya, sontak Leyka membalikkan tubuhnya dan akan merampas ponsel Maria namun Maria buru buru memasukkan ke dalam saku mantelnya.
"Mariaa, iisshhh!" dengus Leyka dengan kesal.
"Hahaha!" semua tertawa dan sudah pasti Leyka bertambah kesal.
"Ley, mencintai adalah kebebasan! Seperti ini-- Matthew berdiri di kursi menghadap sungai hingga ia menjulang tinggi lalu ia mengangkat botol birnya, seperti di Freedom Park --Mariaaa Fernandez! Aku mencintaimuuu! I Love You, Barcelona!" pekik Matthew. Saat Leyka menoleh kearah Matthew, Valentino telah tiba bersama Manuella dan Diego. Sementara Jared, Pedro, Simon dan Penelope memilih duduk duduk di bagasi mobil Manuella dengan berbincang hangat.
"I Love You Leyka Paquito! I Love You Barcelona!" pekik Valentino dengan mengacungkan botol birnya tinggi tinggi.
"Cihh!" Leyka mencebikkan bibirnya dan semua tertawa kemudian.
"Ayo katakan Ley! Katakan kau mencintaiku!" kata Valentino dengan berteriak bahagia.
"Cihh! Siapa yang mencintaimu!" jawab Leyka dengan sinis dan Valentino terkekeh melihatnya.
"Ayo Leyka! Seperti ini-- Aku mencintaimu Matthew Ford! I Love You Barcelona!" Maria turut berseru lantang.
"Cihh! Tidak mau! Kalian gila!" kata Leyka sambil melangkahkan kakinya kearah mobil yang terparkir dengan kesal, dan mereka mengikutinya.
"I Love You Diego!" Manuella pun berteriak.
"I Love you, Manuella!" dan Diego pun membalasnya.
Leyka menghentikan langkahnya dan berteriak kearah sungai dengan lantang, "I Hate You Raja Setan! I Hate You, Valentino!" lalu Leyka kembali berjalan dengan mendelikkan matanya kearah Valentino.
"Ley, ayolah!" kata Torres.
"Itu kebebasanku! Dia begitu karena Train! Jika tidak ada Train dia sudah pasti menceraikanku!" kata Leyka tanpa menoleh dan Valentino menyambar lengan Leyka
"Si-- Aku melakukannya untuk Train! Karena Train adalah Dirimu! Karena itu aku akan merampas dan menghancurkan siapa saja yang berani mengusik milikku! Apa kau mengerti bahasa Manusia? Kau milikku! Train milikku! Tidak ada yang boleh mengambilnya dariku! Dan iya! Aku akan mencekikmu dengan pahaku! Aku akan menidurimu semauku! Aku akan mencumbumu dimanapun dan kapanpun aku mau! Karena kau adalah milikku! Karena kau Istriku! Kewajibanmu melayaniku, Wanita Siluman! Aku akan mengatakannya dengan bahasa tubuh! Ayo kita pulang!"
Leyka menciut awalnya, melihat Valentino berkata dengan keras, namun melihat saudara dan sahabatnya menahan tawanya, Leyka mendorong tubuh Valentino menjauh, Ia melepas sepatunya dan melempar satu persatu kearah Valentino.
"Aw Leyka!"
"Kurang ajar! Pergilah! Pergilah! Aku membencimu! Aku akan membunuhmu! Aku akan mencekikmu! Jangan harap kau akan tidur denganku! Jangan harap kau bisa menyentuhku! Fuc*k you! Fu*ck you Raja Setan! Dasar Gila! Psikopat!" Pekik Leyka tanpa menyadari ia tanpa alas kaki.
Valentino mengambil sepatu sepatu itu dan menyambar tubuh Leyka dengan menggendong di pundaknya. Sama persis seperti, saat mereka di halaman Hotel Maslaw Time Square di Pretoria. Valentino tersenyum dengan sesekali menepuk bokong Leyka dengan penuh kemenangan. Semua tertawa melihat tingkah laku Raja Setan dan Wanita Siluman itu.
"Aaaa Lepaskan aku!! Lepaskan aku! Kalian! Mengapa kalian diam saja! Kalian sahabatku! Kalian keluargaku! Kalian pengkhianat! Ini kriminal! Lepaassskan aku! Diego! Manuella! Mariaa! Matthew! Pedro! Simon, hajar dia! Penelope! Aku benci kalian! Heii kalian budaknya! Torres! Jared! Aaa Lepassskan aku!"
Semua hanya menggedikkan bahunya dan pura pura tidak mendengar Leyka yang menjerit jerit, meminta tolong, karena menghadapi Valentino yang kehilangan kesabarannya akan berakibat lebih buruk. Valentino menghempaskan tubuh Leyka di bagasi mobil Manuella kemudian mengungkungnya hingga Pedro membawa mobil itu kembali pulang ke Distrik Miel. Distrik yang memiliki banyak kisah manis disana.
-
-
-
Leyka terdiam tanpa kata saat sampai di Apartemen, ia mengunci mulutnya rapat rapat bahkan saat Valentino mengenakan sepatunya. Di sepanjang jalan menuju lantai tujuh, Leyka menghindari tatapan Valentino. Namun yang membuat Valentino berbunga adalah, Leyka berdiri di depan pintu Apartemen Raja dan menunggunya membuka pintu.
Saat memasuki Apartemen itu, Leyka langsung masuk kamar dan mengunci pintunya. Valentino tersenyum menatap sofa putih yang sebelumnya ada di dalam kamarnya. Valentino pun menghempaskan tubuhnya. Hari ini sangat melelahkan untuknya namun juga hari yang membahagiakan.
Ahh tidak masalah aku tidur disofa, yang penting kau tahu kemana kau harus pulang Leyka.. Ahh aku lelah..
Valentino melucuti pakaiannya dan memejamkan matanya. Dini hari, waktu Barcelona, semua senyap, sunyi dan tenang. Semua lelah. Semua terlelap.
-
-
-
Aunty Vote yg Mucho! #kata Train 😘💛
-
__ADS_1
-
-