
Eforia kebahagiaan Valentino setelah mendapatkan kabar dari Jared pagi itu, Valentino memutuskan mengajak Leyka berkeliling Pretoria mengunjungi banyak tempat, seperti :
Ou Raadsaal, bangunan bersejarah di Pretoria yang terletak di sebelah selatan Church Square, yang berlokasi di pusat kota.
Erasmus Castle, salah satu bangunan bersejarah di Pretoria sebelah tenggara, tepatnya ada di daerah bernama Erasmuskloof. Rumah mansion ini menjadi bangunan terkenal di Pretoria dan menjadi landmark karena bentuknya yang sangat unik. Selain itu rumah ini dijadikan sebagai wisata horror karena banyak ditemui berbagai penampakan dan terdapat suara-suara aneh ketika malam hari di sekitar area dalam maupun luar rumah.
Voortrekker Monument yang terletak di Pretoria bagian selatan dan keseluruhan bangunannya terbuat dari granit yang cantik. Monumen ini didirikan untuk memperingati para Vortrekker atau masyarakat pengguna bahasa Belanda yang pergi dari Cape Colony pada tahun 1835 hingga 1854.
Palace of Justice yang terletak di pusat kota, di mana tepat berada di depan Church Square, Pretoria. Bangunan ini sudah dibangun sejak tahun 1897 oleh Presiden Paul Kruger pada saat itu, yang mana dirancang pula oleh Sytze Wierda. Dulunya gedung ini juga sempat digunakan sebagai rumah sakit darurat oleh tentara Inggris saat Perang Boer Kedua, sedangkan sekarang dipergunakan sebagai pengadilan tinggi di Afrika Selatan.
Mereka menghabiskan waktu mereka seharian, tanpa lelah mereka terus tertawa bersama, Valentino mengumbar keromantisannya dengan segala kelembutannya yang membuat Leyka semakin melihat sisi kelembutan dari Valentino. Sisi yang Leyka kagumi seperti ia mengagumi sosok Ayahnya. Sikap Valentino perlahan menghantam dalam sisi rapuh hatinya. Sementara Valentino merasa Leyka pun menunjukan sikap penurut dan menyenangkan. Tawanya, tingkahnya semakin membuat Valentino terpikat. Namun didalam hati mereka, semua memendam satu harapan yang tidak mungkin mereka ungkapkan.
Pernikahan Leyka dan Kehamilan Rebecca, yang pada akhirnya memisahkan mereka berdua. Mereka menarik garis mundur dan hanya menganggap hubungan mereka saat ini hanyalah sekedar cinta musim liburan yang tidak akan pernah berlanjut. Di negara besar, mereka terbiasa dengan kondisi seperti ini. Seribu banding satu, bila ada pasangan yang berjodoh di kala mereka berlibur saat musim panas.
"Val, aku lelah sekali dan udara siang ini sangat panas" Leyka mengibas ngibaskan topinya, ia berkeringat saat menuju parkir di Palace of Justice. Valentino memberikan ice creamnya dan merebut topi Leyka lalu ia mengibaskan topi itu kearah Leyka. Ice cream milik Leyka telah lenyap terlebih dahulu, cuacanya masih panas senja itu.
Ah semakin perhatian.. Shit, kenapa pria ini tidak menyerah.. batin Leyka.
"Mau aku gendong?"
"No! Kejar aku saja!" Dan Leyka berlarian, menuju parkir dengan tawanya.
"Nonaku, aku akan menangkapmu! Lihat saja!" Dan langkah lebar Valentino sudah pasti bisa mengimbangi langkah kecil Leyka, ditambah pangkal pahanya yang masih terasa nyeri, sangat mengganggunya saat berlarian.
"Aaaaaw! Val! Baiklah aku menyerah!" dengan tawanya, Leyka memperlambat langkahnya karena saat menoleh Valentino berlarian tepat di belakangnya.
"Ohh Shit Leyka ice creamnya!" Valentinopun berhasil menangkap tubuh Leyka namun ice cream itu tumpah sebagian mengenai wajah Valentino.
"Biarkan aku saja!" Valentino menurun tubuh Leyka di teduhnya pohon Jacaranda. Leykapun berjinjit dan menji*lati ice cream di hidung, di pipi juga kening Valentino, keduanya terengah engah mengatur nafasnya dan Valentino terdiam.
Mata mereka beradu, Leyka terus membersihkan ice cream diwajah Valentino, menyapu dengan bibir dan lidahnya. Valentino terus menatap Leyka dengan hati penuh debaran. Manik mata abu abu kebiruan itu menusuk hati Leyka. Sesuatu dibawahnya yang terkurung dibalut celana jeans biru muda terlihat menggeliat, Leyka dapat merasakan itu.
"Ehm, sudah bersih Val" Leyka menghindari tatapan itu dengan wajah memucat, ia segera memalingkan wajah dan tubuhnya beranjak dari hadapan Valentino. Namun baru satu langkah, Valentino menarik pinggang Leyka.
"Ley" Valentino menekan tubuh Leyka hingga terkurung dan tersandar di bawah pohon dengan bunga Jacaranda yang bermekaran.
"Val-- Leyka tidak sanggup meneruskan perkataannya, ia terpaku pada tatapan Valentino yang mematikan. Aroma maskulin Valentino berpadu aroma lembut Burrberry Lady milik Leyka, menyeruak. Debaran jantung mereka bersahutan tidak teratur. Dan disebuah sudut, seorang fotografer yang kebetulan menjadi turis membidik mereka berdua tanpa mereka tahu.
Valentino mencondongkan wajahnya ke depan dan Leyka memiringkan wajahnya, sikap yang sama sama saling tahu, bahwa Leyka menerima dan juga menyambut bibir Valentino. Saat mata mereka terpejam, bibir mereka saling menaut, saling mema*gut, saling melu*mat. Kedua tangan Valentino menahan pinggang Leyka dan kedua tangan Leyka melingkar di leher Valentino.
Ciuman itu terasa beda dari biasanya, ciuman tanpa nafsu, ciuman tanpa menuntut lebih, ciuman penuh perasaan dan ciuman tanpa jeda yang menyimpan luka juga rasa rindu yang akan mereka rasakan saat mereka berpisah nanti. Mereka menikmati ciuman itu, mengecap, menyesap manisnya rasa ice crem coklat dipadu vanila yang tertinggal disana. Mereka tidak menyadari aksinya itu kembali di bidik kamera oleh seorang fotografer.
Seolah waktu tidak ingin cepat berlalu, mereka ingin membeku dibawah pohon bunga Jacaranda yang memayungi mereka, keteduhannya mengusir udara panas di sekitar mereka. Sepuluh menit, ciuman itu berakhir saat satu kuntum bunga Jacaranda jatuh menerpa kepala Leyka dan singgah di dada Valentino.
"Ley, bunga ini" Valentino mengambilnya dan Leyka mengambilnya dari tangan Valentino lalu mencium aromanya. Mata mereka kembali beradu, mereka tersenyum manis. Tanpa mereka sadari mata mereka kemerahan, titik titik keringat dipermukaan kulit mereka terlihat disekitar wajah mereka berdua. Merekapun saling membelai, saling menyekanya.
"Val, semoga keberuntungan menimpa kita berdua seperti bunga ini menimpa kita, aku akan menyimpan bunga ini sebagai jimat" Valentino tersenyum lebar dan kembali mengecup bibir Leyka.
__ADS_1
"Ayo kita melihat sunset, Ley" Valentinopun menggandeng tangan Leyka, jagung bakar Afrika Selatannya terlihat terlelap dan terkendali. Nafsu yang biasanya meluap tiba tiba lenyap, tersihir oleh keindahan ciuman yang sarat akan kerinduan. Mereka belum pulang, mereka belum terpisah, tapi mereka sudah saling merindukan.
Ini mustahil. Valentino.
Ini tidak mungkin. Leyka.
...*...
Springbok Park Pretoria
Senja itu, Valentino membawa Leyka ke sebuah taman yang tidak jauh dari Palace of Justice, tujuan akhir dari serangkaian acaranya hari ini. Jarak tempuh hanya sekitar 15 menit. Taman itu adalah Situs Warisan Provinsi, dan berisi tanaman asli. Springbok Park Pretoria sangat populer untuk foto pernikahan.
Sebelumnya taman ini dikenal sebagai Taman Grosvenor, menjadi Taman Springbok pada 1960-an. Nama aslinya untuk memperingati Hugh Richard Arthur Grosvenor, Duke of Westminster, yang terkait erat dengan Afrika Selatan.
Kebetulan, "Grosvenor" berarti "pemburu utama yang hebat". Taman ini dibangun pada tahun 1905 dengan perencanaan kota praja Hatfield, tetapi pengembangan taman tidak dimulai sampai tahun 1930an. Taman Springbok seluas 30 621 m² dan sebuah restoran populer terletak di sudut timur lautnya.
"Ley, kau tunggu disini. Aku akan membeli beberapa makanan dan minuman untuk disana" ujar Valentino ketika tiba di Springbok Park.
"Sepertinya taman ini biasa saja" Leyka mengedarkan pandangannya.
"Kau lihat saja nanti ya?-- Kita akan melewatkan senja disini, setelah disana aku kuatir aku harus menyeretmu pulang" Valentino mengedipkan matanya dengan tersenyum penuh tanda tanya. Setelah menyambar pipi Leyka, ia keluar dari mobil dan menuju ke sebuah cafe yang menyajikan kuliner khas Eropa, Dros Hatfield Restaurant.
Tidak berapa lama Valentino kembali dengan dua kantong belanja yang berisi makanan dan minuman. Leyka membantunya meletakkan di jok belakang dan Valentino kembali melanjutkan perjalanannya memasuki Springbok Park. Taman ini hanya akan ditemui Springbok yang iconic di Pretoria.
Springbok (Antidorcas marsupialis) adalah antilop berukuran menengah yang ditemukan di kawasan sabana di selatan dan barat daya Afrika. Bovid ini pertama kali diperkenalkan oleh ahli biologi Jerman Eberhard August Wilhelm von Zimmermann pada tahun 1780. Springbok memiliki tinggi 71–86 cm (28–34 in) pada bahu dan memiliki tanduk hitam sepanjang 35–50 cm (14–20 in). Berat hewan ini adalah 27 sampai 42 kg. Hewan yang termasuk family Bovidae ini merupakan satu-satunya spesies dalam genus Antidorcas. Hewan ini aktif di pagi hari dan sore hari.
Leyka tidak terlalu bersemangat saat berada disana, sekelilingnya hanya tumbuhan hijau dengan rumput luas, banyak pohon palem berbaris yang membosankan.
"Kita akan berhenti disana! Di ketinggian! Bila kau melihat Springbok disini, maka kau akan menemukan cinta sejatimu, Ley. Atau bila pasangan kekasih melihatnya disini maka itu akan abadi, begitupun persahabatan. Springbok hampir punah, dan jarang sekali orang melihatnya. Karena itu banyak yang melakukan sesi prewedding disini. Tapi itu hanya mitos, kita akan kesana, Ley" tangan Valentino menunjuk kesebuah ketinggian yang membuat mata Leyka semakin membulat.
Hamparan bunga daisy atau aster seperti permadani yang begitu menyilaukan, membuat mata siapapun yang melihatnya akan berdecak kagum. Leyka tak kunjung mengatupkan mulutnya, melihat keindahan itu. Disepanjang jalan yang dilewati mobil, bahkan bunga daisy tumbuh disana.
"Val! Turunkan aku! Ambil foto untukku cepaat!!" Valentino terbahak melihat Leyka menepuk lengannya agar menghentikan mobilnya, bahkan ia telah membuka pintu dan Valentino terpaksa harus menghentikan laju mobilnya, ia pun mengambil foto Leyka yang berdiri di tengah jalan yang di kelilingi bunga daisy.
Valentino menghentikan mobilnya setelah sampai tujuan yang dimaksud. Satu selimut tebal yang belum diturunkan saat Valentino membawa Leyka ke klinik, dibentangkan di bebatuan dan ia membawa kantong belanjaan untuk dinikmati senja di Springbok Park. Leyka telah menghilang di rimbunnya bunga daisy, ia berlarian diantara angin yang meniup bunga bunga yang terhampar luas.
"Val!! Aku melihat Springbok! Aku akan menemukan cinta sejatiku! Ayo turunlah! Kita foto Val" Leyka berteriak dengan melambaikan tangannya, Valentino tersenyum melihat gadis Spanyol itu sangat senang setelah meremehkan taman itu sejak awal. Hatinya teriris mendengar Leyka mengatakan akan menemukan cinta sejatinya.
__ADS_1
Perintah Leyka adalah sebuah peraturan yang tidak boleh dilanggar, Valentinopun menghampiri Leyka dan mengabadikan moment demi moment yang memenuhi galeri foto kedua ponsel mereka. Setelah puas mereka kembali ke atas bebatuan yang dialasi selimut tebal. Matahari seakan lambat tenggelam di ufuk barat. Hari kian petang namun cakrawala masih terlihat terang benderang.
Nama daisy diambil dari bahasa kuno “Daes Eag” yang artinya “mata sebuah hari” karena dia mekar hanya mulai dari matahari terbit hingga matahari terbenam. Sebagai tanaman, bunga daisy atau aster melambangkan kemurnian, kesetiaan, kesabaran, juga kesederhanaan. Bunga daisy putih klasik dikaitkan dengan kerendahan hati.
Leyka merangkai berbagai macam warna bunga daisy dengan melingkar dan disematkan dikepalanya, Valentino duduk dengan membentangkan pahanya dan Leyka duduk ditengahnya, Leyka bersandar didada Valentino membelakanginya dengan botol bir yang terus ia teguk. Entah berapa botol bir yang ia habiskan, ia serasa terbang dengan kepala yang berputar putar. Leyka mabuk!
"Val, bunga daisy melambangkan.. Ehm.. Itu.. Ehm.. Kerendahan hati dan setia.. Ehm itu adalah diriku" dengan mabuk Leyka memiringkan kepalanya kearah wajah Valentino yang tersenyum kearahnya.
"Aku sudah bilang jangan di minum semua. Kamu sudah habis tiga botol Leyka. Alkohol bir ini tinggi tidak seperti bir pada umumnya" Valentinopun merampas botol bir Leyka dan menyembunyikannya.
"Hei, pria asing.. Aku.. Aku tidak mabuk.. Ahh, ini indah sekali Val!" setengah terbuka mata Leyka, melihat keindahan itu, jari telunjuknya menusuk nusuk dada Valentino yang kekar dan itu membuat Valentino seperti dirangsang nafsunya, Valentino mencoba menahannya, ia kembali meneguk birnya.
"Ley, ayo kita pulang. Bunga daisy telah kuncup"
"Tidak mau.. Tidak tidak tidak.. Aku tidak.. Mau pulang.. Aku mau tidur disini" Valentino terkekeh melihat Leyka semakin nyaman di dadanya. Ia pun menyingkirkan anak rambut Leyka dan mengecup kening Leyka perlahan.
"Aku sudah mengatakannya dari tadi. Kau pasti tidak akan mau pulang"
"Yaa.. Yaaa.. Kau akan menyeretku pulang-- masih dengan mabuknya Leyka membuka matanya perlahan ---Pinokio, pulanglah ke kakekmu sana.. Kakek Geppeto!" Valentino memandangi wajah Leyka yang memerah karena mabuk. Leyka menarik hidung Valentino dengan mabuk dan kembali menusuk nusuk dada Valentino dengan jari telunjuknya.
"Ley, sebaiknya kita kembali ke Hotel"
"Noo Val! Noooo!-- Aku tidak mau pulang.. Aku mau tinggal disini.. Bangunkan.. Bangunkan rumah untuk.. Untuk kita disini, Val. Bukan rumah dipinggir pantai.. Seperti cita citamu dengan kekasihmu.. Rumah ditengah taman bunga.. Val.. Valll.. Vaall!!" Leyka berteriak seolah Valentino berada dikejauhan, Leyka menceracau dengan memejamkan matanya, sesekali ia membuka matanya.
Valentino terkesima dengan apa yang Leyka ucapkan, ia menelan getir salivanya. Seolah ada yang menghalangi tenggorokannya dan itu membuat Valentino tercekat.
"Iya Leyka, iya il mio amore (cintaku;Italy)" Valentinopun menciumi wajah Leyka dan mendekapnya erat, ia memandangi wajah Leyka dengan perasaan yang tidak menentu.
Jadi itu yang kau pikirkan, itu yang melukaimu? Leyka, apa aku menyakitimu?
"Rumah dipinggir pantai.. Hahaha.. Tsunami akan menenggelamkannya Val. Kau.. dan.. Rebecca.. Akan mati digulung ombak.. Val! Val!--
"Iya Ley"
---Berjanjilah untuk tidak membangun rumah di pinggir pantai! Vaal! Vaalll!! Aku tidak ingin kau mati! Vaaall.. Valll!!" Leyka memukul dada Valentino tanpa kekuatan, hanya suaranya yang lantang saat memanggil nama Valentino yang semakin menghujam jantung pria Italy itu.
"Iya Leyka. Ya Tuhan Leyka. Aku akan membangun rumah di taman bunga untukmu.. Leyka, maafkan aku! Kau masih mengingatnya? Kau masih memikirkannya?" Tak terasa sudut mata Valentino basah, ia mengerjapkan matanya dan cairan bening namun hangat menuruni pipinya.
"Val, rumah dengan banyak bunga.. Val.. Val.. Aku membencimu, Val.. Aku tidak mencintaimu.. Aku.. sangat membencimu.. Hingga aku.. ingin menangis.. Aku.. benci.. aku.. benci perasaan ini.. Val.. Val.. aku tidak suka.. aku benci.. Pretoria.. Kau tidak.. akan.. pernah.. mau ber-- Udara mulai dingin menusuk tulang, Valentino mendekap erat tubuh Leyka yang terus menceracau dan akhirnya Leyka tertidur tanpa meneruskan perkataannya.
"Ley, kau ingin mengatakan apa" suara Valentino terdengar parau. Ia memeluk Leyka dan menciumi wajah gadis Spanyol itu lagi lagi dan lagi.
Dada Valentino kian sesak. Percayalah rasanya sangat sakit. Ia menangis hanya untuk seorang wanita dan itu bukan dirinya, Valentino bimbang mengartikan perkataan Leyka. Ia merasa bersalah, telah menyakiti Leyka.
Bintang mulai bermunculan, Valentinopun membopong Leyka dan membawanya masuk ke mobil. Setelah membawa membereskan barang barangnya, Valentinopun melajukan mobilnya kembali ke hotel Castilo De Monte. Dengan perasaan berkecamuk, Valentino menggenggam erat tangan Leyka dan menciuminya sesekali.
-
-
-
__ADS_1
VOTE HADIAH POIN, kirim ke OOH DIANA "GADIS HUJANKU" sampai tgl 04 JULI selama GIFTAWAY berlangsung. SETELAH EVENT.. Terserah.. SELAMANYA boleh dikasih hadiah, enggak ya boleh, FIGHTING!!!
Kalau nanya kapan dan kapan Train akan bertemu Valentino, aku sarankan kalian bertanya pada Koesplus. Mungkin lusa atau dilain hari. Beliau saja masih bertanya sampai detik ini, apalagi aku, kamu, kita 🤣🤣🤭