FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Maukah Kau Menjadi Sahabatku?


__ADS_3

Distrik Miel sangat berbahagia di akhir pekan, mereka turun ke halaman samping untuk merayakan pernikahan Manuella dan Diego. Tadinya mereka hanya akan menikah di gereja saja dan mereka tidak akan merayakan apapun. Lewat sentuhan tangan Valentino dan juga dua rekannya bersama keluarga Fernandez, mereka menggelar acara di Distrik Miel.


Miel yang berarti Madu yang manis, semanis kisah mereka di Barcelona. Mereka menyulap taman di Distrik Miel itu menjadi tempat berakhirnya sesi acara pernikahan setelah mereka melakukan prosesi acara pengukuhan pernikahan di Gereja.


Berawal dari pembuatan fake chat, untuk membohongi Valentino saat di Pretoria, agar Valentino menjauhi Leyka dan tidak terus memaksa Leyka ke Italy, dimana saat itu Rebecca mengandung anak dari Valentino dan berencana aborsi. Setidaknya itu yang Leyka pahami sampai detik ini.


Leyka hanya ingin menjauhi pria asing yang dianggapnya sebagai Luka karena Leyka telah memikirkannya matang matang, ia tidak mau menjalin hubungan dengan pria yang memiliki anak. Selain akan menciptakan neraka, Leyka juga trauma dengan kehidupan masa kecilnya yang hidup dengan Locki dan juga Ella yang menyisakan banyak luka baginya.


Di samping itu, Leyka ingin menyelamatkan satu jiwa, karena kebaikannya ia mengorbankan rasa cintanya hanya demi satu jiwa yaitu anak dari Rebecca yang menurut Rebecca sendiri itu adalah anak dari Valentino. Takdir mengubah segalanya. Ketika Leyka, Manuella dan juga Diego, justru menyelamatkan satu jiwa yang tumbuh di rahim Leyka tanpa ia sadari dan itu adalah Blue Train Valentino. Sesuatu yang tidak pernah ia duga, takdir memutar balikkan semuanya.


Berawal dari alkohol Manuella dan Diego menjalin hubungan yang berakhir manis, dalam sebuah pelarian bersama sahabatnya Leyka di kota asing, mereka menjalani kehidupannya dan masuk ke dalam keluarga Fernandez. Sebuah keluarga bar bar, keluarga asli pribumi Catalan yang menempati Distrik Miel.



Dan di sore hari yang teduh, di sebuah gereja yang begitu megah, mereka mengucap janji pernikahan. Rasa khidmat, rasa syukur, dalam sebait doa mereka panjatkan bagi kedua pengantin. Suasana penuh keharuan dan juga airmata bahagia memenuhi ruang Gereja. Di hadiri keluarga Manuella dan Diego ditambah keluarga Fernandez yang tidak luput dari perhelatan pengukuhan pernikahan itu.


Dollores pernah meminta mereka melakukan pernikahan secepatnya dan mereka berkelakaran akan menikah bila Apartemen Dollores laku terjual, delapan tahun berlalu Apartemen itu akhirnya terjual dan yang tidak pernah diduga Valentinolah pembelinya yang dibantu oleh Pamannya, Sergio.


"Kalian telah resmi menjadi sepasang suami isteri. Silahkan mencium pengantin wanita" kata Pastor Gilberto, di sesi akhir pengukuhan pernikahan itu setelah melewati serangkaian acara sakral. Diego membuka cadar Manuella, ia merapatkan tubuhnya dan tersenyum kearah Manuella yang masih berlinang airmata, senyum Manuella mengembang manis.


"Kau sangat cantik, Manuella" kata Diego sangat pelan, ia membelai pipi Manuella untuk menyingkirkan airmata yang mengalir disela sela senyum dan tawa Manuella.


"Si! Pengantinku pasti cantik! Uhhss!" sahut Train dengan menyatukan alisnya, wajahnya cemberut namun mengundang tawa. Train berdiri di samping Manuella bersama beberapa saudara sebayanya yang umurnya tidak jauh berbeda dengan umur Train.


Beberapa anak memegangi ekor di gaun pengantin Manuella dan ada yang membawa keranjang bunga sementara Train bertugas membawa cincin yang ia letakkan di saku jas-nya, layaknya laki laki dewasa. Sebenarnya cincin itu di letakkan di hiasan replika angsa tapi Train lebih senang melenggang tanpa membawa apapun. Kata Train laki laki sejati tidak membawa hiasan angsa dan tentu saja Train meniru kata kata Valentino.


Train ingin memasangkan cincin itu pada Manuella tapi tentu saja Ayah Diego tidak mengizinkannya dan itu membuat Train kesal. Bagi anak anak seusia Train pernikahan itu seperti mainan yang bisa dimainkan oleh anak kecil.


"Si.. Ibumu sangat cantik karena itulah Ayah menikahinya" ujar Diego sambil meletakkan tangannya di pinggang Manuella dan tangan yang lain menangkup di pipi Manuella. Diego mencondongkan wajahnya mendekati wajah Manuella yang telah memiringkan kepalanya dan bersiap mencium bibir manis itu tapi Train memukuli kaki Diego.


"Nooo! Noo! Ayah tidak boleh mencium bibir Ibu! Nanti kalian akan terhanyut dan memiliki anak! Noo! Tidak boleh mencium pengantinku! No me gusta! No me gusta (aku tidak suka)!" dan semua tertawa melihat Train yang berhasil membuat wajah Manuella dan Diego memerah.


"Mereka sudah menikah dan tentu saja mereka boleh berciuman, Train" kata Pastor Gilberto dengan tersenyum hangat.


"Train jangan nakal" kata Leyka yang berada tidak jauh darinya, dengan berbisik namun penuh penekanan.


"Noo!" pekik Train justru semakin keras.


"Kendalikan Putramu!" kata Leyka sambil menepuk lengan Valentino yang berdiri di sebelahnya.


"Biarkan saja, dia masih anak anak yang belum mengerti arti ciuman dalam pernikahan" kata Valentino dengan berbisik di telinga Leyka dan membuat Leyka salah tingkah karena bulu bulu disekitar mulut dan dagu Valentino benar benar mengganggunya.


"Mommy dan Daddy telah menikah dan tinggal bersama tapi aku tidak melihat Mommy dan Daddy berciuman di bibir! Aku bertanya dan kata Mommy itu tidak boleh!" Leyka membulatkan matanya, dan Valentino menatapnya dengan tajam sambil menggelengkan kepalanya, bahkan beberapa tamu undangan memandangnya dengan berbisik bisik.


Wajah Leyka memerah ia menunduk dengan menggaruk keningnya, "Setan cilik itu benar benar membuatku malu" desis Leyka dan Valentino mendengarnya.


"Sepertinya kau salah memberi pemahaman pada putraku" Leyka memiringkan tubuhnya menjauh saat Valentino berkata dengan mendekatkan wajahnya di telinga Leyka. Hati Leyka berdebar debar dibuatnya.


"Dia bertanya hal hal yang tidak seharusnya, aku menjawab sekenanya" sanggah Leyka semakin menjauhkan tubuhnya namun Valentino merentangkan tangannya hingga mencapai bahu Leyka lalu menariknya ke dalam pelukannya.


"Blue, kemarilah-- dan Train mendekat beberapa langkah kearah Valentino dan Leyka yang berada di barisan paling depan masih dengan bersungut sungut --Daddy tidak mencium Mommy di depanmu karena Mommy masih malu dan tentu saja kami setiap hari berciuman di bibir karena itu bukti semua pasangan saling mencintai" kata Valentino dengan suara pelan, sambil merapikan rambut Train dengan membungkukan badannya.


"Vamos buktikan, kalau kalian saling mencintai!" seru Train kembali mengundang perhatian dengan suara lantangnya.


Shiittt!! Leyka.


Yessss! Valentino.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama Valentino menyambar tengkuk Leyka dan mencium lembut bibir sensual itu. Tanpa persiapan, tanpa pertahanan, tanpa perlawanan, Leyka pasrah dengan wajah memerah hingga ke daun telinganya. Lalu sesaat kemudian Valentino melepasnya.


"Saat mereka mengucap janji aku pun mengucap janji dalam hatiku, Ley. Sehidup semati denganmu, dalam situasi apapun. Bila dulu kita berciuman di pernikahan masal, maka kita berciuman di depan altar Tuhan. Aku akan menunggumu dan memberikan waktu untuk hatimu agar bisa menerima kenyataan tentang pernikahan kita" tutur Valentino dengan penuh kelembutan dan Leyka dipenuhi debaran hingga tubuhnya terasa dingin.


"Ckk, lepaskan aku! Semua orang melihat kita!" bisik Leyka sambil menepiskan cengkeraman tangan Valentino dengan rasa malu yang luar biasa. Leyka masih menahan hati dan sikapnya sejak mengetahui tentang pernikahan massalnya, ia masih canggung dan mati matian Leyka berusaha menerima namun Leyka belum sanggup menghadapi kenyataan itu.


"Yeaaayy! Vamos, vamos, vamooss (ayo) Ayah.. Cium pengantinku-- tapi dengan syarat!" seru Train dengan berlari lalu melompat lompat kearah Diego dan Manuella. Ia bersorak bahagia setelah Valentino memberi pengertian. Diam diam Leyka terpesona lagi dan lagi pada Suami yang masih membuatnya bersikap canggung.


"Syarat?" tanya Diego melemparkan pandangan kearah Manuella dengan mengerutkan alisnya.


"Si si si! Yo primero! Yo primero! Yo primero (aku dulu)!!-- Ibu cium aku duluu! Uhhhss!" Train pun melompat lompat sambil menarik narik tangan Manuella yang tertawa melihat tingkah Putra Baptisnya, semua tertawa bahagia melihat mereka.


"Hahaha baiklah-- kau dulu! Karena kau pria paling tampan di dunia ini" Manuella menunduk dan mengecup bibir Train dan memeluknya dengan gemas.


"Ibu? Kau tetap Ibuku kan? Setelah menikah, kau tetap Ibuku kan?" tanya Train membuat Manuella akhirnya duduk sambil mengurai pelukannya.


Manuella membelai pipi Train dengan mata berkaca kaca dan senyum yang mengembang, kini ia tahu keresahan hati Train karena itulah Train selalu mencari perhatiannya karena ketakutannya. Train menyalurkannya lewat kenakalannya dan ia selalu saja membuat ulah.


"Ohh my sweet Carino (sayangku yang manis)-- kau tetap paling berharga di hidup Ibu, melebihi berlian" Manuella tersenyum dan Train memeluk Manuella dengan menyandarkan kepalanya di dada Manuella.


"Berlian Grandma?" tanya Train sambil melihat kearah Rosemary yang memakai perhiasan berlian sangat mencolok. Rosemary menggaruk lehernya dengan salah tingkah, karena beberapa mata melihatnya. Ia memalingkan wajahnya kearah Alfredo yang berdiri disisinya sebagai tamu undangan, Alfredo yang mencuri curi pandangannya terkejut dan justru Alfredo membuang mukanya kearah samping.


"Si, seperti berlian Grandma tapi kau lebih dari itu" kata Manuella dengan tersenyum.


Leyka terharu melihatnya bahkan ia telah bercucuran airmata. Valentino memberi sapu tangannya dan merangkul pinggangnya, sesekali Valentino mengusap punggung Leyka.


"Jadi itu yang kau kuatirkan?" Diego turut duduk dan Train mengurai pelukannya, ia menggosok hidungnya dan ia mere*mas re*mas ujung jas-nya. Diego menarik perlahan tangan Train dan menggenggamnya.


"Ayah mengambil Ibuku-- kalian akan melupakanku. Kata Torres bila seorang menikah mereka akan melupakan segalanya! Apa kalian akan melupakanku?" tanya Train dan seketika itu juga Diego memeluknya seraya menciumi Train bertubi tubi.


"Astaga! Maksudku tidak seperti itu! Itu obrolanku bersama Matthew dan Maria. Aku menyuruhnya menikah agar mereka melupakan segala masalah mereka! Hah! Putramu itu benar benar menggunakan semua perkataan orang dewasa dan menerapkan untuk dirinya! Dia terlalu kuatir!" kata Torres dengan mendengus. Sementara Jared menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan jemari tangan yang mengepal. Mereka berada di barisan paling depan, menghadap altar.


"Tidak ada yang berbeda, semua akan tetap sama seperti biasanya. Ayah tetap Ayahmu dan kau tetap Putra Ayah selamanya. Tidak ada yang berubah Mi Carino. Kami tetap mencintaimu dan kami akan selalu berada disisimu. Kami akan berada di Casa De Miel tidak kemanapun. Hanya status kami yang berubah! Kasih sayang dan cinta kami berdua tidak akan berubah kepadamu Mi Carino! Semua tidak ada yang berubah, semua masih sama! Kau putraku selamanya. Dan Ibu Manuella adalah Ibumu selamanya" kata Diego berulang ulang penuh penekanan memberi pemahaman pada Train dan seketika itu juga Train memeluk Diego yang terharu melihatnya.


"Ayahku Diego! Selamanya Ayahku! Ibuku Manuella! Selamanya Ibuku!" seru Train sambil mencium pipi Diego yang masih berada dalam pelukan Diego. Beberapa kamera blitz mengabadikan momen demi momen tanpa mereka sadari.


"Si si si!" Manuella dan Diego menjawab secara bersamaan dan mereka tertawa namun airmata terlihat mengembang disudut mata mereka, lalu mereka kembali memeluk dan mencium Train secara bersamaan. Saat beberapa kamera berhenti memotret mereka, sebuah blitz kamera masih mengabadikan setiap moment mereka.


Si pemilik kamera itu mendekat dan berkata, "Tidak ada yang berubah, aku pun tetap menyayangimu apapun yang terjadi-- Apa kau juga tidak akan pernah berubah padaku, Train?" Semua mata memandang kearah suara khas itu dan Train membulatkan matanya lalu mengurai pelukan kedua orangtua baptisnya dengan cepat kemudian ia berlari kearah sosok yang menggenggam kamera di tangannya. Sosok yang Train kenali hanya lewat suaranya saja bahkan tanpa melihatnya.


"Damian" gumam Leyka dan Valentino mengernyitkan alisnya, ia semakin kuat mencengkeram pinggang Leyka seakan memberi peringatan bahwa Leyka adalah miliknya.


"Damiann! Damiann! Damiann!" Train merentangkan tangannya dan Damian siap menyambutnya, Train menghempaskan tubuhnya dan memeluk Damian seeratnya.


"Blue Train! Blue Train! Blue Train! My sweet Barcelona!" tangan kokoh Damian memeluk tubuh kecil itu hingga ia mengangkatnya ke dalam gendongannya. Leyka tersenyum penuh haru sementara mata Valentino semakin tajam menatap Damian dan Train.


"Kau kembali Damian! Aku merindukanmu! Kau kemana saja! Aku mencarimu ke Distrik Golden! Aku lelah mengetuk pintu Apartemenmu! Apa kau ingin tanganku bengkak?" Damian terkekeh bahkan orang orang di sekitarnya yang mendengar perkataan Train.


Leyka tersenyum sambil menyeka matanya namun Valentino menutupi dengan lengannya yang melingkar di leher Leyka. Valentino mengungkung dan menekan pundak Leyka hingga kepala Leyka berada di dadanya, Leyka mendongakkan kepalanya dan mendelik kearah Valentino.


"Ckk!" Leyka mendengus.


"Apaa!" dan Valentino justru menatap Leyka dengan mata tajamnya, wajahnya sangat dekat hingga nafas Valentino yang mendengus menerpa wajah Leyka.


"Ckk, isshh!" Leyka menyerah dan ia lebih memilih menggerutu lalu memalingkan wajahnya kearah Manuella dan Diego yang mengakhiri sesi terakhir yaitu berciuman, ia tahu Valentino cemburu dan tidak mengizinkannya melihat Damian apalagi dengan senyuman.


"Lo siento. Tapi aku selalu memikirkanmu, Train. Apa kau baik baik saja? Aku merindukanmu-- aku ternyata melakukan kesalahan, aku jatuh cinta padamu, aku menyukaimu, seharusnya aku tidak merusaknya dengan mencintai Mommymu dan ingin menjadi Daddymu-- Aku sangat serakah, seharusnya cintamu saja cukup Train" ujar Damian sambil mencium kening Train lalu memeluknya erat.

__ADS_1


Mereka berada di antara barisan kursi yang dihiasi bunga bunga, tepatnya di belakang Leyka. Saat Leyka ingin menoleh, lagi lagi Valentino mengeratkan pelukannya dan Leyka memilih menajamkan pendengarannya karena semua bertepuk tangan saat Manuella dan Diego selesai berciuman.


"No kau tidak bersalah, Damian! Kau tidak merusak apapun! Siapapun bisa suka pada Mommyku seperti para pelanggan atau temannya! Aku baik baik saja Damian. Kau justru yang tidak baik baik saja! Aku sangat merindukanmu! Damian, maukah kau menjadi sahabatku dan tidak pergi pergi?" Damian terkekeh menutupi perasaan terharunya, namun matanya terlihat berkaca kaca. Valentino menoleh dengan menatap tajam, Damian hanya tersenyum tipis kearahnya sambil memeluk Train dengan erat.


"Kau melebihi sahabat bagiku! Kau adalah Putraku! Bila aku pergi pergi kau tetap sahabatku dan juga Putraku!" jawaban Damian membuat Valentino kembali menoleh dengan mendengus kesal. Ia menahan dirinya karena ia berada di Gereja, ia melonggarkan dasinya dengan satu tangannya namun Leyka mengetatkan lagi dengan tersenyum. Mata Leyka yang menatapnya lembut membuat Valentino luluh, ia pun tersenyum dan mengecup kening Leyka.



"Te quiero (aku mencintaimu) Damian! Uncle Damian!-- Bolehkah?" tanya Train dan Damian mengerti Train bertanya tentang panggilan akrab padanya.


"Si Si si Train!" untuk pertama kalinya Train memanggilnya Uncle Damian. Tak terkira pelukan Damian begitu erat, Damian menurunkan airnatanya sementara Train menggosokkan wajahnya di pundak Damian karena mata Train terasa perih. Leyka terharu, ia cukup jelas mendengarnya, ia hanya bisa meneteskan airmata tanpa melihat kearah mereka berdua karena Valentino mengungkungnya dengan posessif.


"Vamos (ayo) Blue! Acaranya telah selesai!" kata Valentino setelah acara pengukuhan pernikahan itu dinyatakan selesai. Pengantin diarak dan barisan tamu mulai membubarkan diri mengikuti langkah kaki kedua pengantin meninggalkan altar dan menuju halaman gereja. Mereka akan menaiki mobil pengantin bersama Train ke Distrik Miel untuk merayakan pesta pernikahan.



"Damian-- Vamos (ayo) ! Kita berpesta! Aku mau ikut Ayah dan Ibu menaiki mobil pengantin! Mereka bisa meninggalkanku!" kata Train sambil mengusap pipi Damian yang basah karena airmata. Damian kembali tertawa sumbang, lalu ia menurunkan Train dari gendongannya.


"Zuughh.. Zughh.. Zugghh.. Tuuuutttt.. Blue Trainnn mau lewaaatt! Minggir! Minggir! Awas!" Trainpun berlarian menyibak arak arakan pengantin yang telah meninggalnya. Damian menyeka matanya menatap Train yang menghilang di tengah kerumunan itu.


"Damian" panggil Leyka saat berjalan hampir melewati Damian bersama Valentino yang menggamit pinggang Leyka seeratnya. Valentino dan Leyka membubarkan diri paling akhir bersama Torres, Jared dan sebagian keluarga Fernandez.


"Ehm-- Aku akan mengambil foto mereka!" kata Damian bergegas pergi menghindari kedua pasangan itu. Leyka menghela nafas panjang melihat Damian berlari dan lenyap menghilang dari pandangannya.


"Dia sangat tampan! Pasti kisah kalian berdua bersama Train sangat manis" komentar Torres tanpa berdosa. Jared menyikut pinggang Torres, sementara Leyka dan Valentino mendelikkan matanya kearah Torres dengan mendengus kesal.


"Masih tampan aku! Dan kisah mereka tidak semanis kisah kami di Pretoria dan Barcelona!" sanggah Valentino dan Leyka menggelengkan kepalanya


"Yaaa-- ku akui itu! Tapi kau boleh bertanya pada semua wanita pasti kata kataku benar. Damian tampan dan lembut tidak posesif pantas saja Leyka mau bertunangan dengannya. Dan Train bisa sedekat itu. Itu sangat manis. Dia pria yang hangat" Torres tersenyum mengejek dan ia masih saja memancing kemarahan Valentino. Tanpa persiapan Torres dikejutkan oleh Valentino yang mencengkeram kedua kerahnya.


"Apa kau mau aku mengadakan upacara kematianmu?! Mumpung kita masih di Gereja!!" kata Valentino dengan bengis menatap mata Torres dan berseru lantang, Valentino sangat emosi mendengarnya.


"Heii Diev! Aku.. Aku hanya bercanda-- Aku aku hanya bercanda!" kata Torres dengan tercekik, ia meronta dengan menggenggam kedua tangan Valentino yang begitu kuat mencengkeramnya.


"Aku akan siapkan peti matinya!" kata Jared berlalu dengan tertawa di ikuti beberapa anggota keluarga Fernandez.


"Val! Lepaskan dia! Kau salah menduga-- Kata kata Torres seperti marikita (waria), dia mengagumi laki laki dan itu Damian! Torres jatuh cinta padanya! Ckk, jangan membuat keributan disini! Ayo kita pulang karena kita harus mempersiapkan pesta! Jangan mengganggu orang yang sedang jatuh cinta. Mungkin Torres memiliki naluri marikita karena itulah Torres diam diam mengagumi Damian! Pria tampan, lembut, manis itu karena Torres menyukainya" ujar Leyka sambil menarik narik tangan Valentino sekuat tenaga.


Tanpa Leyka sadari, ia berdiri membela Valentino yang perlahan luluh dan melepaskan cengkeraman tangannya di kerah Torres.


"Kau benar! Aku mengatakan laki laki tampan hanya pada Putraku-- jika kau minta nomor teleponnya kau bisa minta Istriku" kata Valentino sambil menggandeng tangan Leyka dan berlalu pergi tersenyum mengejek kearah Torres. Saat Valentino mengatakan kata 'Istriku' Leyka merasa aneh namun ia berbunga mendengarnya.



"Heii Leykaaa!! Itu tidak benar! Shiitt!" umpat Torres sambil merapikan kerah dan dasinya. Tanpa menoleh Leyka mengacungkan jari tengahnya dan Pedro, Simon serta Penelope tertawa melihat ulah Torres yang mencoba memanasi Valentino dan justru berbalik pada dirinya sendiri.


"Aku punya kalau kau mau, marikita Torres" kata Penelope sambil mengedipkan matanya dan mencolek dagu Torres, lalu mereka semua terbahak karena Torres dianggap marikita.


"Shiitt-- Aku salah bicara!" dengus Torres sambil berlalu mengekor keluarga Fernandez menuju ke Distrik Miel. Miel yang berarti Madu. Madu yang manis, semanis kisah para penghuninya.


-


-


-


kopi ama vote boleh kok 👉🏻👈🏻 #gituAja

__ADS_1


__ADS_2