
...ITALY...
...Satu Tahun Yang Lalu...
Flashback On
"Bisakah kita membicarakan hal ini diluar saja?" tanya Pallazo.
Valentino, Jared dan Torres saling melempar pandang. Kesedihan tampak jelas terlihat menghiasi wajah mereka dan terlihat pias, memucat bak kapas. Mereka menegang melihat Miu tergolek tak berdaya disebuah ranjang pasien. Jarum infus menancap lembut dipergelangan tangannya dan masker oksigen menutupi sebagian wajahnya.
Nafas Miu naik turun, sesekali ia tersengal, wajahnya putih bak salju dengan lingkar kecoklatan di matanya, bibirnya memerah namun begitu kering. Sesekali ia membuka matanya dan menatap kearah Valentino. Mata itu mengatakan melalui setiap kedipannya, "Pappa, Miu baik - baik saja".
Hati Valentino serasa runtuh setiap kali melihat Miu menatapnya, seperti meminta pertolongan untuk membebaskannya dari alat alat medis yang menyakitinya. Genggaman tangannya dan juga belaian Valentino rasanya enggan ia lepaskan. Ia pun menciumi tangan dan kening Miu lalu bangkit berdiri dari sisi putri kecilnya, putri yang telah ia besarkan selama ini dengan segenap hati dan kasih sayangnya. Valentinopun kemudian berjalan mengikuti Pallazo, Jared dan Torres kearah pintu keluar.
"Pappa akan kembali, Miu" kata Valentino seraya menutup pintu kamar pasien vip di sebuah rumah sakit terbesar di Roma, Italia.
"Hmmpht-- Dokter belum mengatakan apapun tentang hasil lab-nya?" tanya Valentino seraya melonggarkan dasinya.
*Lab : Laboratorium.
"Miu mengalami kelainan darah. Dugaan Dokter gejala yang dialami Miu seperti Leukimia. Jika.. Jikaa memang benar.. Miu membutuhkan donor sumsum tulang belakang tapi kita semua tahu Ricardo Ferland bukan Ayah Biologis Miu. Aku.. Aku bisa tiada.. Bila Miu.. Bila Miu--- Pallazo tidak sanggup meneruskan perkataannya. Hanya isak tangis yang terdengar dilorong rumah sakit itu dengan kedua telapak tangan menangkup di wajahnya.
Torres yang berdiri disamping Pallazo, kemudian merangkul pundaknya lalu menarik lembut ke dalam pelukannya. Pallazo terus tersedu, dan itu menambah kegundahan yang mencekam diantara mereka semua.
"Sshh.. Sudahlahh.. Kita belum tau pasti, jangan berpikir macam - macam. Kita tunggu diagnosa dari Dokter lewat hasil lab-nya" ujar Torres berusaha menenangkan hatinya.
"Aku akan mendonorkan sumsum tulang belakangku. Kau tenang saja" ujar Valentino menghela nafas panjang.
"Penuhi apapun yang Miu inginkan-- Ingat, kau berhutang nyawa--
"Aku tahu! Tidak usah kau ingatkan! Permintaan Miu hanyalah permintaan seorang anak yang menginginkan candy (permen)! Bukan suatu hal yang harus dinyatakan!" sanggah Valentino seraya memotong perkataan Pallazo secepat kilat.
"Dia ingin kita menikah, Diev!" seru Pallazo seraya beringsut dari pelukan Torres lalu menghapus airmata yang menggenangi wajah tirusnya.
"Itu tidak mungkin. Karena kau bukan siapa - siapa! Kau tidak pantas disejajarkan denganku!" sanggah Valentino seraya menuding Pallazo dengan berapi - api.
Tempramennya begitu buruk, Valentino tidak perduli dimana atau berhadapan dengan siapa, ia bisa tiba - tiba marah dan meluapkan emosinya begitu saja. Pria angkuh yang begitu dingin, sangat idealis dan juga arogan itulah Valentino Gallardiev. Ia memiliki ketegasan dimana, ada saatnya ia akan bilang tidak maka selamanya pun perkataannya adalah tidak.
"Sssttt! Kalian hentikan! Kita sedang berada di rumah sakit! Miu bisa mendengar pertikaian ini!-- Diev, dai (ayo)!" Jaredpun melerai dan merangkul lalu menyeret Valentino dengan paksa, namun Valentino meronta membebaskan diri dari jeratan Jared dengan kesal dan ia mengikuti Jared yang membawanya menjauh hingga di ujung koridor rumah sakit.
"Apa kau bisa mengendalikan dirimu?!" tanya Jared dengan mencengkeram lengan Valentino dan dengan cepat Valentino mengibaskannya lalu mendorong Jared agar menjauh. Valentino kemudian menyandarkan tubuhnya pada dinding, sesaat ia memejamkan matanya seraya menghela nafas dalam.
"Wanita itu selalu meminta hal yang tidak mungkin aku lakukan!" jawab Valentino membentur - benturkan kepalanya dengan pelan lalu ia membuka matanya.
"Hmmpht" Jared menghela nafas panjang.
"Aku tidak ingin menikah dengan siapapun! Aku tidak suka diatur - atur! Menikahinya sama saja melawan keluargaku! Keluargaku tidak pernah menyukai Miu dan Ibunya!" ujar Valentino dengan penuh penekanan.
"Apa kau tidak bisa memikirkan Miu saja? Hanya demi Miu? Kau sangat menyayanginya kan?" pinta Jared semakin membuat Valentino meledakan emosinya. Valentino akan sangat terusik bila sudah menyangkut tentang sebuah pernikahan yang tidak mungkin ia lakukan karena sesuatu dari dalam hatinya selalu menolak dan juga bertentangan dengan hati nuraninya.
"Jared! Aku hanya mencintai Miu! Tapi bukan wanita itu! Wanita yang selalu menggodaku dengan tubuhnya! Wanita itu sama saja dengan Ibunya yang kecanduan judi! Kau tahu pasti, aku berada di sisinya karena Miu! Aku menahan diriku karena aku menyayangi anak itu! Aku berakting manis karena Miu! Kau tahu itu!" seru Valentino mengundang beberapa pasang mata yang melihat perdebatan itu, mereka berlalu lalang di sepanjang koridor rumah sakit dengan mendelikkan matanya.
"Jika kau tidak mencintainya, lalu mengapa kau selalu saja menceritakan indahnya Pretoria bersama Ibunya--
"Karena Ibu yang aku maksud adalah Leyka Paquito, Jared! Aku tidak mungkin menceritakan keburukan Rebecca dan Ibunya! Aku tidak mungkin menyakiti hati Miu dan menceritakan betapa buruknya mereka! Aku tidak mungkin mengatakan yang sesungguhnya! Aku tidak segila itu, Jared!" ujar Valentino seraya memukul dinding dimana ia menyandarkan tubuhnya yang terlihat letih.
Jared terdiam tanpa kata, ia hanya memijat pelipisnya tanpa menyanggah perkataan Valentino, dalam hatinya ia membenarkan tindakan Valentino yang sangat menjaga hati Miu. Seperti dirinya pun selama ini melakukan hal yang sama.
"Sekalipun Miu tidak menyelamatkan hidupku, aku tetap akan mencintainya. Kau lihat bagaimana dia lahir? Apa kau lupa nasibnya begitu buruk? Saat dia diserahkan kedalam tanganku, saat aku mendekapnya dan saat itu juga, aku jatuh cinta padanya sama seperti aku jatuh cinta pada Leyka Paquito pada pandangan pertama. Lalu bagaimana aku bisa mencintai wanita yang tidak aku cintai?" Jared kembali terdiam untuk sesaat, mendengar penyataan Valentino.
"Hmmmpht, kau masih saja berputar dengan kenangan lamamu!" kata Jared bersedekap dan melemparkan pandangannya kearah Valentino yang telah menatap bengis kearahnya.
"Karena hanya Leyka yang selalu berputar putar dikepalaku! Shiittt!" umpat Valentino dengan menarik dasinya lalu ia menggulungnya dan memasukkannya ke dalam saku jasnya. Kemudian Valentino membuka dua kancing kemeja pada bagian paling atas dengan kesal.
"Leyka lagi, Leyka lagi! Sampai kapan kau akan melupakannya?! Ini sudah tujuh tahun!" seru Jared seraya menggelengkan kepalanya dengan kesal. Jaredpun tak habis pikir mengapa rekan kerjanya, seorang Gallardiev masih saja berkutat dengan kenangannya di Pretoria bersama wanita asing berkebangsaan Spanyol yang tidak mau di boyong ke Italy untuk tinggal bersama, mendiami sangkar emasnya.
"Sampai aku mati!" gertakan Valentino membuat Jared terdiam. Mereka terdiam dan mengatur nafas. Namun wajah panik Torres didepan pintu kamar perawatan Miu membuat Valentino dan Jared berlarian.
"Miu memanggilmu!" seru Torres dan Valentino serta Jared menerobos masuk lalu menghampiri Miu yang nafasnya kian tersengal.
__ADS_1
"Miu!" seru Valentino seraya duduk disamping Miu lalu menggenggam tangan mungilnya.
"Pappa.. Pappa" kata Miu terdengar lirih.
"Pappa disini.. Apa.. Apaa ada yang sakit, Candy (permen)?" tanya Valentino dengan panggilan manis untuk Miu, yaitu Candy yang berarti permen, itu karena Miu menyukai lolipop dan itu menjadi julukan untuk mereka semua. Mata Valentino berkaca - kaca, bertubi - tubi Valentino menciumi kening Miu seakan tak ingin melepaskan ciuman itu sekejap saja.
"Pappa...Miu.. Mau pulang.. Miu.. Tidak mau disini" suara mungil Miu terdengar terbata - bata.
"Tidak...Tidak.. Kau harus disini agar sembuh. Biarkan Dokter merawatmu, Miu tidak boleh pulang sebelum sembuh" kata Valentino dengan belaian lembutnya. Mata Valentino memerah, menahan perihnya airmata yang ia tahan agar tidak berjatuhan.
"No Pappa... Hmmm.. Miu...Miu.. Mau pulang" suara Miu kian lirih seiring kondisi tubuhnya yang kian melemah.
"Miu, dengarkan Pappa Torres.. Bertahanlah Principessa (tuan puteri).. Bukankah kita berjanji akan melihat Kerajaan? Kita akan pergi bersama, Candy!" sahut Torres dengan panik. Mereka semua menegang melihat Miu semakin tak berdaya.
"Pappa.. Sa..kit.. Pappa.. Pulang" Pallazo semakin tersedu dan Jared menguatkannya dengan merangkulnya.
"Si-- setelah kau sembuh, Pappa akan membawamu pulang. Kau boleh makan ice cream, lolipop dan kita akan ke pantai lalu kita akan naik kapal.. Apapun yang kau inginkan, Cara Mia (sayangku).. Il mia amore (aku mencintaimu)" ujar Valentino menciumi Miu lagi dan lagi.
"Aku mau pulang, Pappa.. Pul..laang" mata Miu terpejam dengan nafasnya yang kian tersendat. Valentino mulai panik sementara Torres telah berurai airmata, berulang kali ia menyeka pipinya dengan kasar.
"Si-- kita akan pulang" bisik Valentino mengepalkan tangannya, menahan kesedihan mendalam melihat kondisi Miu.
"Menikahlah.. Uhmm.. Ngg.. Dengan Mamma, Pappa.. Ufhh.. Kasian Mamma.. Uhmm.. Bila Miu sakit.. Miu tidak bisa.. Nggh.. Bermain bersama Mamma.. Pappa.. Pappa..--Dai (ayo) Pappa.. Uhm.. Kita pulang" Miu membuka matanya dan memejamkan matanya kembali.
Dan sesuatu tak diduga terjadi, mata Miu terbeliak, tubuhnya mengejang, suhu tubuhnya kian meninggi. Semuanya menjadi panik seketika, semua bingung tidak tahu harus berbuat apa selain berteriak menyebut nama Miu.
"Miu.. Miu.. Miu--- Panggilkan Dokter cepat!" seru Valentino semakin mengeratkan genggamannya, ia bangkit berdiri dan mengusap wajahnya dengan kasar. Secepat kilat Torres menekan tombol yang berada diatas ranjang pasien, untuk memanggil Dokter dan paramedis. Bahkan Torres memukul tombol bergantian dengan meluapkan kepanikannya.
"Miuu... Pappa akan menikahi Mamma.. Kau harus mengiringi kami, memegang keranjang bunga.. Miu.. Miuu.. Jangan begini.. Tidak Miu.. Bertahanlah! Ya Tuhann.. Miuu!" seru Valentino menahan tubuh Miu yang kian mengejang. Pallazo semakin menjerit ketakutan melihat itu semua.
"Pappa.. Pappa.. Mamma-- Hahhh.. Hmmm... Maa-- suara Miu yang melirih lalu menghilang hanya kertakan gigi Miu terdengar seiring tubuhnya menggelepar mengejang.
"Miu!" pekik Valentino.
"Miu!" Torres tak kalah memekik.
"Dokter!" Jared pun memberi ruang ketika seorang Dokter memasuki ruang perawatan dengan berlarian bersama para medis.
Flashback Off
Valentino masih mengingat dengan jelas semua kejadian itu, setelah ia bangun tidur dan membuka ponselnya. Ia duduk di tepian ranjang saat membaca sebuah pesan singkat dari Torres yang mengejutkannya pagi itu.
Putri kita dan Ibunya berada di Barcelona, aku belum menemukannya tapi aku melihatnya pergi bersama Pedro memasuki Distrik Golden, bersiaplah dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.. Dia sepertinya akan menagih janjinya melalui Miu..
Valentino menon-aktifkan ponselnya dengan tangan gemetar, lalu ia meletakkannya di saku jasnya. Ia memilih menyembunyikan dari pandangan Leyka. Suara gemericik dari kamar mandi dan seruan Leyka yang meminta tolong serasa sangat jauh. Pikirannya sangat buntu, jantungnya berdebar kencang, Valentino mulai gundah, lidahnya kelu dan hatinya semakin resah mengingat pesan singkat dari Torres.
"Val! Val! Bisakah? Aku mendengar kau sudah bangun.. Val!" suara Leyka seakan sayup - sayup terdengar, pikirannya begitu kacau. Ia duduk seraya membungkukan badannya dengan kedua siku menumpu pada lututnya, ia menatap lekat - lekat karpet bulu yang memenuhi celah buku-buku jemari kakinya, lalu ia menyeka wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan kasar.
Delapan tahun Leyka.. Tidak akan aku biarkan seseorang merebut kebahagiaan kita.. Termasuk.. Ahh tidak.. Miu, perdonami.. Miu, putri kecilku yang selama ini mengalihkan segala kekecewaanku akan perpisahan kita yang begitu menyesakkan.. Leyka, bisakah kau menerimanya..
"Val.. Apa kau tidur lagi? Dasar pemalas, tolong ambilkan hair tonic milikku yang ada di meja!" Valentino terhenyak mendengar permintaan Leyka, suara merdu yang pernah menghiasinya di Pretoria dan ia selalu saja mengisahkan kisah indahnya pada Miu tanpa memberitahu nama, siapa sesungguhnya wanita yang dicintainya.
Leyka.. Tidak akan pernah ada yang akan memisahkan kita lagi.. Sekalipun itu Takdir.. Tidak.. Kau adalah Istriku dan selamanya akan begitu..
Valentinopun bangkit berdiri, dengan wajah memerah dengan mata yang berkaca kaca secepat kilat ia melucuti balutan pakaian yang melekat pada tubuhnya, ia mengabaikan hair tonic yang Leyka minta lalu ia menerobos kamar mandi dimana Leyka berdiri dibawah kucuran air shower.
Leyka menghadap ke dinding kamar mandi yang dihiasi marmer berukir etnis, ia membelalakkan matanya dengan menoleh kearah kedatangan Valentino tanpa balutan apapun, namun mata jelinya menangkap mata Valentino yang semburat kemerahan.
"Val?! Kau mengejut-- Leyka tercekat seketika karena tanpa banyak kata Valentino berlutut mendekap pinggulnya dan menyergap bo*kong sintal yang kian padat berisi. Valentino tak menghiraukan Leyka terkejut dengan sikapnya yang kasar, yang menciumi, mengigit, meragut bo*kong mulus bak pualam tanpa perduli Leyka menjadi trauma akan caranya seperti yang pernah ia lakukan di Pretoria. Leyka menyebut Valentino 'melebihi Mr. Grey' kala itu.
"Val! Aargh! Shittt! Kau ini kenapa?! Aargh Vall!" Dibawah kucuran air shower, Leyka pernah menjerit lirih di Castello de Monte dan kini ia harus menekan suaranya karena Valentino mengulangnya di Barcelona. Tentu saja agar Train tidak mendengarnya.
Kau milikku.. Aku milikmu selamanya Leyka.. Train.. Calon buah cinta kita.. Mereka adalah milikku, Leyka.. Tidak akan pernah aku lepaskan.
Ketakutan itu membuat Valentino menjadi brutal, seiring derasnya air dari shower mengalir begitupun airmata yang perlahan hangat menuruni wajah tegasnya. Valentino terus melum*mat dan menghisap bo*kong Leyka, serta memberi gigitan yang menyakiti tanpa sadar Valentino membuat Leyka meringis menahan serangan yang sudah tidak aneh lagi untuknya.
"Val! Arghh! Sakit Val! Ada apa denganmu!" rintih Leyka menekan suara agar tak lepas begitu saja.
Valentino terus mencengkeram pinggul yang meliuk bak gitar Spanyol, ia mere*masnya dengan terus memenuhinya dengan tanda kepemilikannya. Leyka bertanya - tanya dan berpikir apa kesalahannya hingga Valentino meluapkan kemarahannya seperti dulu.
__ADS_1
Delapan tahun.. Aku pun tidak tahu sesungguhnya aku telah menikah.. Seandainya aku tahu dari awal, aku tidak akan memberikan janjiku pada Miu.. Tidak.. Leyka.. Bila kau tahu akan hal ini, kau pasti akan sangat marah.. Tapi bagaimana mengatakan yang sesungguhnya padamu, Ley.. Ley bagaimana.. Apa kau bisa memahami situasiku..
"Aarghh! Shitt, Val! Kau mengapa tiba - tiba begini! Aaaahhh Val!" Leyka pun kembali tak berdaya saat Valentino membalikan tubuhnya dan menyergap miliknya tanpa ampun. Valentino menyesap dan melum*mat irisan buah Peach yang begitu ranum dengan mata terpejam. Bulu bulu kasar yang mengelilingi mulutnya yang kian melebat seakan tenggelam disana. Lidahnya menyusup kedalam rongga milik Leyka yang terasa memanas.
"Aahhhh Val... Aahhh.. Val, pel... Aaahh.... Pell..aaann Val.. Aarghh!" bisik Leyka lirih namun penuh penekanan disela sela tangannya menahan kepala Valentino. Semakin kuat Valentino menghi*ssapnya semakin kuat juga Leyka menjambak rambut Valentino untuk menahan kepalanya.
Bagaimana aku mengatakannnya padamu? Bagaimana aku menceritakannya, sementara kau sedang mengandung anakku.. Bagaimana ini.. Kau tidak boleh banyak berpikir agar masalah ini tidak mempengaruhi calon bayi kita, Leyka.. Shitt.. Bagaimana kita menghadapinya, sementara aku juga tidak mungkin menghancurkan hati Putriku, hati Train dan hatimu, Leyka..
"Valll.. Aahh.. Apa aku.. Ahhh.. Melakukan kesalahan?" tanya Leyka disela des*ahannya dengan nafasnya yang kian memburu.
Valentino semakin menggila, ia menarik satu paha Leyka dan meletakkan dipundaknya. Seakan tak bernafas Valentino terus menji*lat bagian demi bagian dan menyesapnya tanpa ampun. Usaha Leyka seakan sia - sia menahan kepala Valentino yang terus menggerogoti hasratnya yang kian menipis. Remasan tangannya di rambut Valentino serasa tak berarti Valentino terus menghantarkannya ke puncak ketinggian.
Irisan buah Peach itu bergetar hebat, Valentino membuka matanya dan memperlambat lidahnya yang berputar - putar didalamnya. Dengan nafas yang terengah - engah, Valentino melepaskan cengkeramannya. Valentino membiarkan Leyka mencakar pundaknya, menjambak rambutnya saat menegang dan melepaskan gelenyar indah yang menghantarkan dititik puncak kli*maksnya. Valentino hanya menciuminya dengan lembut dengan hidung pinokionya yang menusuk nusuk.
"Aaaahhhh" Lenguhan panjang Leyka terdengar dan Valentino bangkit berdiri lalu menghimpit tubuh Leyka tanpa jarak. Kedua tangannya mencengkeram kepala Leyka lalu menekannya ke dinding.
Tatapannya begitu tajam menghunus dan menggetarkan hati Leyka. Tatapan garang, tatapan yang sama delapan tahun yang lalu, yang sulit Leyka lupakan, tatapan kemarahan milik Train ada disana. Leyka tidak bisa berpikir semuanya mendadak buntu, segalanya serasa gamang karena ia tidak mengerti sikap Valentino yang mendadak tidak seperti biasanya.
"Te amo,Te amo, Te amo (aku mencintaimu).. Kau milikku.. Dan selamanya kau milikku.. Kau, milik siapa? Katakan kau milik siapa, Leyka?!" bisik Valentino penuh penekanan, suaranya terdengar berat dan tercekat, Leyka berdebar - debar mendengarnya. Antara takut, bingung dan terpesona oleh sikap Valentino yang tidak biasa.
"Aku milikmu.. Hanya milikmu-- Valentino mengangkat satu paha Leyka masih dengan menatapnya penuh gejolak ketakutan akan sebuah bentuk rasa 'kehilangan', tanpa melihat Valentino menggenggam miliknya, mengarahkan dengan nalurinya lalu menekannya dengan sekuat tenaga, Leyka bereaksi dengan menahan perut Valentino agar tak melukainya --Aarrgh! Val!" pekik Leyka kemudian.
"Katakan!" seru Valentino dengan berbisik seraya menggigit telinga Leyka.
"Aku.. Ahhh.. Milikmuu Val.. Selamanya milikmu.. Aaaahhhh!" Leyka menggigit bibirnya, menahan kekarnya milik Valentino yang tajam menghimpitnya, ia meringis menahan perihnya.
"Jangan pernah meninggalkanku, Ley! Katakan kau tidak akan pernah meninggalkanku!" kata Valentino seraya memukul dinding dengan telapak tangannya. Valentino terus menekan pinggulnya hingga miliknya terbenam seluruhnya.
"Aaargghh! Shiittt! Katakan Leyka!" pekik lirih Valentino seakan memecahkan gendang telinga Leyka, karena Valentino tidak kunjung melepaskan pagu*tannya pada telinga Leyka yang telah kemerahan.
"Aahhh Vall!" pekik Leyka seraya memejamkan matanya saat milik Valentino melesak seutuhnya dan menghujam miliknya bertubi - tubi.
"Katakan Le--
"Diam! Kau bisa menyakiti munequita-- potong Leyka seraya berbalas mencengkeram dagu Valentino dengan kedua tangannya, gerakan pinggul Valentino pun melambat --Ada apa denganmu? Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu? Jika ada hal yang membuatku memintamu untuk pergi, maka jangan pernah beranjak dari sisiku! Sekalipun kau memintaku pergi, aku akan tetap datang padamu.. Apa kau ingat kata - katamu beberapa bulan yang lalu? Saat kau bersimpuh di hadapanku dan seluruh Distrik Miel?" tanya Leyka membalas tatapan Valentino yang berkilat meruntuhkan hatinya.
"Si, Mi amor.. Aku akan selalu datang padamu dan berdiri dihadapanmu.. Leyka, Perdonami (maafkan aku)" Valentinopun bersikap lembut, ia mencium kening Leyka dan menyeka pipi Leyka dengan lembut. Mata Valentino memerah dan berjuta tanya bergelayut di benak Leyka.
"Apa semua baik - baik saja?" tanya Leyka setelah mencium sesaat bibir Valentino dan meluluhkan kebrutalan Valentino.
"Aku.. Aku.. Bermimpi buruk.. Aku.. Aku takut, perpisahan kita di Pretoria akan terulang di Barcelona!" Leyka berdebar mendengar perkataan Valentino dengan bergetar. Ia tidak pernah melihat Valentino setakut ini, ia melihat pemandangan yang begitu menyayat hatinya. Seorang Valentino Gallardiev menyimpan ketakutan akan mimpi buruk, hati Leyka semakin berdegub kencang.
"Val?-- Leykapun luluh lantah seketika, ia kemudian memeluk tubuh Valentino dengan kehangatan dan juga kelembutannya. Dibawah kucuran air shower, Valentino membenamkan wajahnya di ceruk leher Leyka, airmatanya luruh seiring air hangat yang menghujaninya dari atas. Leyka semakin hangat memeluk Valentino dengan segenap hatinya, ia pun semakin mengeratkan pelukannya --jangan pernah menyembunyikan apapun dariku, Val. Kau hanya milikku dan aku hanya milikmu, Mi amor-- Selamanya.. Si.. Selamanya" imbuhnya dengan berbisik sendu.
"Ley.. Mi amor.. Te quiero (cintaku, aku mencintaimu)" bisik Valentino seraya tersenyum dan menyingkirkan rambut Leyka dengan lembut lalu menciuminya bertubi - tubi.
"Te quiero, Val. My sweet Pretoria" bisik Leyka ditelinga Valentino seraya mengu*lumnya. Valentinopun memacu milik Leyka dan mengayun perlahan.
Valentino kembali menggerakan pinggulnya dengan gerakan er*otis, ia kembali memulai apa yang ia mulai dan ia harus mengakhirinya. Mengu*lum puncak buah dada Leyka yang kian membesar, menyesap leher jenjang seraya mengg*erayangi tubuh mulus yang dialiri air shower, sesekali ia mere*mas bokong Leyka yang semakin padat.
Kehangatan dan keintim*an menciptakan desiran yang kian melonjak, sentuhan dan belaian kian memacu hasrat, hisa*pan lembut dan ciuman demi ciuman menghantarkan gelenyar yang kian berkejaran meniti di puncak gairah yang kian menggelora. Saat tubuh mereka bergetar, mengejang bak ombak yang berdebur, saat itu juga rinti*han lirih, lenguhan mereka yang panjang dan begitu dalam, bersahutan memecahkan gemericiknya air shower pagi itu.
"Aaa.. Aaaa...Ahhh, Val" des*ah Leyka.
"Aarrgh! Shh....Aaargh, Leyka.. Il Mia amore (cintaku)!" balas Valentino seraya memeluk Leyka dan menopang tubuh Leyka yang bergetar. Mereka pun saling memandang lalu saling memainkan puncak hidung mereka kemudian sesekali mereka saling mencumbu rayu.
Namun, semuanya terselip keresahan Valentino yang tak kunjung menghilang. Kenikmatan berci*nta kadang - kadang hanya se-saat, lalu ketakutan itu kembali hadir, begitu mencekam dan merejam hatinya.
Sisi laki - laki yang terkadang ingin membuat pasangannya bahagia, ia tidak ingin wanitanya terlalu banyak berpikir. Agar semua berjalan mulus laki laki lebih memilih dengan cara menyembunyikan permasalahan dan itu justru menjadi bomerang. Pun terkadang itu membuat wanita beranggapan, bahwa ia telah dibohongi oleh situasi dan permasalahan yang dihadapi oleh laki laki.
Ponsel Valentino tidak ada di meja, mengapa ia tidak mengaktikan ponselnya dan menyembunyikannya di saku jasnya.. Hmm, apakah perkataan Train mempengaruhinya? Apakah wanita itu--- Apakah dia? Shitttt.. Apa yang ingin kau tutupi Val..
Leyka masih berdiri di ruang ganti, saat ia meraih bathrope yang menggantung di samping jas Valentino dan tanpa sengaja ia menyentuh kantong jas yang terasa berat, Leyka mengambilnya dan mengeluarkan isinya. Dan ternyata itu adalah ponsel Valentino
-
-
__ADS_1
-