FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
FINAL SEASON : MIU AND TRAIN


__ADS_3

...PART TWO...


Pretoria... Apakah ini kebetulan? Orangtuaku dan orangtua Miu pernah ke Pretoria? Mengapa ini terdengar aneh..


"Ehm, berselingkuh itu seperti menjalin hubungan diam diam, padahal sudah memiliki kekasih, seperti Pappaku dan wanita bangsawan itu, mereka berselingkuh" ujar Miu kembali menyeka mulutnya dengan tisu.


"Aku mengerti-- lalu Pretoria? Apakah Pappa dan Mammamu pernah kesana? Rasanya tidak mungkin, itu mustahil terjadi tapi entahlah. Apa kedua orangtuamu mengikuti mengikuti festival Valentine?" tanya Train melemparkan pandangan matanya kearah ikan koi yang berkerumun di kolam, seperti mata Miupun menatap nanar ke arah yang sama.


"Si, mereka merayakan Festival Valentine bersama" ujar Miu.


"Ella.. Menurut mitos, kau boleh percaya atau tidak-- bila ada sepasang kekasih di Pretoria dan mengikuti Festival Valentine disana maka mereka tidak akan pernah terpisahkan. Daddy dan Mommyku juga kesana. Mereka bertemu di kereta api The Blue Train, mereka saling jatuh cinta. Mereka tidak pernah saling melupakan kisah indah mereka di Pretoria, sedikitpun" Miu menoleh kearah Train hingga memiringkan tubuhnya, ia sangat antusias dengan penuturan Train.


"Benarkah begitu, tapi kenyataannya Pappaku menyakiti Mammaku dan meninggalkan kami di Italy demi wanita bangsawan itu" Train menoleh kearah Miu lalu tersenyum.


"Kau harus menanyakannya pada Pappamu. Mungkin saja Pappamu punya alasan tersendiri. Kita tidak bisa menyelami pikiran orang dewasa karena terkadang mereka tidak bisa menyelami pikiran kita. Kata Pastor Gilberto, kita tidak perlu memikirkan permasalahan orang dewasa, tugas kita berbuat baik, belajar dan fokus dengan impian kita. Pastor bilang kita harus bersyukur karena banyak anak yang tidak bisa mewujudkan impiannya. Kuatkan hatimu Ella dan dengarkan alasan Pappamu. Jika masuk akal, kau harus belajar menerima kenyataan, seperti aku" ujar Train.


Train menatap mata Miu dalam - dalam, senyumnya yang hangat menenangkan Miu, ada kekuatan yang mengalir lewat pancaran mata Train dan membuat Miu terasa tersihir oleh sikap Train yang begitu dewasa menghadapi permasalahan. Train terdidik dengan baik oleh Leyka dan lingkungan di sekitarnya serta hangatnya keluarga Fernandez.


"Seperti kau?" tanya Miu masih terpaku menatap Train.


"Ella, aku tidak mengerti mengapa aku langsung menceritakan ini padamu padahal kita baru dua kali bertemu. Tapi aku melihat kau gadis yang baik dan aku menyukaimu. Sebenarnya aku dilarang keras menceritakan kehidupanku pada orang asing. Kata Mommy hidup menjadi Putri Mahkota tidaklah mudah, banyak orang jahat yang bisa saja mengincar Keluarga Kerajaan" ujar Train tersenyum manis seraya memiringkan tubuhnya dan menatap mata Miu.


"Hmm-- terima kasih telah percaya padaku" kata Miu berbalas tersenyum.


"Setelah Mommy dan Daddy bertemu dan berlibur selama sepuluh hari di Pretoria. Mommy dan Daddyku berpisah selama delapan tahun lamanya. Mereka punya alasan masing - masing mengapa mereka tidak mau bersatu setelah mereka bersama di Pretoria. Tapi, mereka tidak pernah saling melupakan walaupun terpisah sangat jauh" tutur Train membuat Miu terpaku dengan cerita manis itu.


"Lalu?" Miu meminta Train meneruskan ceritanya karena Miu lagi lagi tersihir oleh penuturan Train.


"Jujur, aku baru bertemu Daddyku belum lama ini, Daddy tidak pernah tahu kalau Mommy melahirkan aku. Daddyku baru saja mengetahuinya. Selama ini aku selalu bertanya dimana Daddyku dan Mommy selalu mengatakan kalau Daddy di kereta itu dan tidak mau turun. Aku menabung banyak uang untuk mencari Daddyku, aku tidak pernah jajan Ella. Aku ingin naik kereta api itu, untuk menyuruh Daddyku turun dan memberitahukan kepadanya bahwa ada aku, Putranya" ujar Train membuat Miu terkesima.


"Train, aku.. Ah, kau membuat mataku pedih.. Aku tidak percaya kau akan melakukannya. Aku sangat terharu dengan kisahmu. Kau hidup tanpa kasih sayang seorang Ayah" kata Miu semakin memiringkan tubuhnya dan menghadap kearah Train. Namun Miuccia sesekali menyembunyikan matanya yang semburat kemerahan dengan selalu menoleh kearah ikan koi, bulu matanya pun terlihat basah. Train melihat itu dan tersenyum simpul


"Tentu saja saat umurku 16 tahun lagi, rencanaku dulu aku akan mencarinya. Percaya atau tidak, mitos itu memang ada. Mereka tidak saling melupakan walaupun Mommyku memiliki kekasih. Namanya Damian. Dia tinggal juga di Apartemen Golden lantai sepuluh. Mereka akhirnya putus karena ternyata Mommy dan Daddyku telah menikah di Pretoria tanpa sepengetahuan mereka. Saat mengikuti festival Valentine, mereka kira mereka mengikuti Festival Valentine biasa, tapi ternyata mereka mengikuti pernikahan massal terbesar di Pretoria--


"Wow Train, itu sungguh luar biasa! Dan akhirnya Mommy dan Daddymu bersatu, itu sungguh sangat manis. Aku turut bahagia mendengarnya. Ihss, kau bisa membuatku ikut bersedih dan kau bisa membuatku turut bahagia kemudian. Kau pantas menjadi pendongeng" seru Miu dengan terkekeh, memotong cerita Train.


"Si sangat manis-- Setelah penantianku yang panjang hingga rasanya aku lelah dan ingin menyerah, akhirnya Tuhan mengabulkan segala doaku bahkan memberiku bonus. Tuhan akan memberiku seorang adik dan kini masih di perut Mommy. Dia masih sebesar kacang almond" ujar Train seraya mengangkat kacang almond lalu melahapnya, Miu terkekeh lalu meraih kacang almond di kotak bekalnya kemudian turut melahapnya.


"Apa kau percaya sebuah doa, Ella?" tanya Train seraya melahap kacang almondnya lagi.


"Hmmpht, sebuah doa? Tentu aku percaya, walaupun Tuhan belum mengabulkannya. Doa ku sangat rumit, karena itulah Tuhan sulit mengabulkannya. Mungkin Tuhan kesulitan mencari Pappaku-- maksudku Pappa kandungku" Train mengerutkan alisnya dan menghadap kearah Miu.


"Jadi itu doamu untuk bertemu Pappa kandungmu? Tunggu-- Bukankah kau mengatakan jika Pappamu ada di Barcelona?" tanya Train.


"Train maukah kau berjanji untuk menjadi sahabatku? Baik buruknya kisah hidupku, maukah kau menerima dan tetap mau berteman denganku?" ujar Miu membuat Train terkesiap, karena Miu telah mengulurkan jari kelingking kearahnya.


"Ella--


"Maukah Train?" Ella justru berdiri hingga ikan koi yang berkerumun terlihat berkejaran kesana kemari. Trainpun sontak turut bangkit berdiri.


"Ella-- Elara Miuccia.. Apapun yang terjadi kau akan tetap menjadi sahabatku! Aku berjanji! Nanti bila kita dewasa aku akan mengajakmu berkencan! Menonton film, membeli popcorn dan makan ice cream, aku akan mengunjungimu di Italy, kita akan merayakan festival seni bersama!" seru Train menautkan jari kelingkingnya dan berbicara dengan penuh penekanan. Adrenalinnya memuncak namun ia menahannya, Train sangat bersemangat hingga membuat Miu tertawa.


"Ingatlah janjimu Train" kata Miu lagi.


"Dihadapan ikan koi aku berjanji, Ella. Kau tau karakter ikan koi itu selalu berkerumun dan bersahabat. Mereka saling mengalah dan berbagi. Mereka simbol cinta dan persahabatan, didalamnya ada keberuntungan, kemakmuran, kebersamaan serta kesetiaan" ujar Train membuat Miu mengembangkan senyumnya, ia semakin kuat menautkan jari kelingkingnya.


"Kau sangat hebat Train, kau sangat paham ikan koi!" seru Miu dengan ceria.


"Mister Takeshi, tetanggaku yang menceritakannya, kapan - kapan aku akan memperkenalkannya padamu" ujar Train membuat Miu terpana. Mereka mengurai tautan jari kelingking secara bersamaan kemudian mereka kembali duduk.


"Ehm, Ella-- Bolehkah aku menyentuh rambutmu?" tanya Train dengan tersipu.


"Boleh, biasanya aku tidak mengizinkan orang menyentuh rambutku, apalagi Pappaku. Tapi aku melihat kau orang yang baik dan juga tampan" ujar Miu dengan terkikik seraya menutup mulutnya. Train tersenyum melihatnya lalu ia perlahan menyentuh rambut panjang nan keemasan itu lalu memainkannya, memilin dan melilitkan di jari telunjuknya kemudian menggulungnya hingga kusut.


"Aku dilarang juga mengatakan jati diriku oleh Mammaku. Karena Mamma takut wanita bangsawan itu melukaiku, walaupun aku tidak percaya sepenuhnya. Bukankah wanita bangsawan itu baik hati seperti di dongeng? Tapi Mammaku selalu mengatakan tidak semua wanita bangsawan itu baik" tutur Miu seraya menyeka mulutnya setelah menghabiskan kacang almondnya.


"Mammamu ada benarnya" ujar Train dengan berpikir logis, dengan jemari tangannya yang masih memainkan ujung rambut Miu.


"Dari bayi aku tidak punya Pappa kandung, aku dibesarkan dua Pappa Baptis. Mereka sangat mencintaiku, mereka sangat lucu dan sering bertengkar karena aku. Mammaku mencintai salah satu diantara mereka, tapi entahlah dengan Pappa. Dia selalu bekerja tanpa henti, dia hanya berjanji dihadapanku akan menikahi Mamma setelah proyek Rusia. Tapi Pappa pergi begitu saja dan memilih menikahi wanita bangsawan" ujar Miu kembali menunjukkan wajah muramnya.


"Aku turut bersedih, Ella. Bolehkah aku memberi saran?" tanya Train seraya menepuk tangan Miu lalu kembali memainkan rambut Miu.


"Apa itu?" Miu berbalas tanya.


"Sepertinya ada yang janggal dengan kisah mereka, mengapa kau tidak menyelidikinya? Tapi kau harus sedikit berputar - putar" kata Train membuat Miu bingung.


"Berputar - putar?" Miu mengerutkan alisnya.

__ADS_1


"Orang dewasa itu sangat rumit, Ella. Kau harus bertanya pada Pappamu tapi jangan langsung. Kau harus sedikit berputar putar hingga semuanya terkuak begitu saja. Pertanyaanmu harus berputar putar agar mereka tidak menutupinya. Selama ini aku begitu dan semua terkuak dengan sendirinya" ujar Train membuat Miu manggut - manggut.


"Aku mengerti-- Hmmpht, siapa yang menceritakan indahnya Pretoria kepadamu, Train?" tanya Miu seraya menghela nafas panjang.


"Mommyku-- dari umurku lima tahun, aku meminta Mommy bercerita, berulang kali, berulang kali dan berulang kali sampai aku tidak pernah bosan. Lalu bagaimana denganmu?" tanya Train kembali.


"Pappaku, Pappa selalu menceritakannya sebelum tidur di akhir pekan. Kadang aku melihat mata Pappaku memerah, kadang ia menceritakan dengan penuh cinta dan kadang aku melihat kesedihan dimatanya. Kau tahu orang dewasa kadang kadang sulit di terjemahkan sikapnya, Pappa selalu beralasan, matanya kemasukan debu" ujar Miu tersenyum tipis.


"Hanya akhir pekan?" Train mengernyitkan alisnya.


"Aku tidak tinggal satu rumah dengan Pappa, aku hanya tinggal bersama Mamma dan Nenekku tapi Nenekku seperti Nenek sihir. Tapi dia meninggal satu tahun yang lalu. Pappaku di Roma dan aku di Labaro, kota tersembunyi di perkotaan" tutur Miu membuat Train iba.


"Ehm, Nenek sihir?" Train menyipitkan matanya dengan menyelidik.


"Pokoknya sangat jahat. Nenek selalu menghabiskan uang untuk berjudi dan selalu marah - marah, kadang mencuri tabunganku" keluh Miu dengan raut muramnya lagi.


"Jika Pappamu menceritakan indahnya Pretoria mengapa tidak mau bersatu dengan Mammamu?" tanya Train semakin penasaran, ia menghela nafas dalam dan melemparkan pandangannya kearah kerumunan ikan koi.


"Ckk, ceritanya sangat panjang Train. Kita butuh lebih banyak waktu. Hmmpht-- Padahal di Pretoria mereka pernah mengikat janji di sebuah Barn" ujar Miu membuat Train kembali memiringkan kepalanya menatap Miu dengan mengerutkan dahinya.


"Barn?" tanya Train.


"Si, Barn kebun anggur" jawab Miu membuat Train tertarik karena Mommy dan Daddynya, juga memiliki kisah disana.


"Barn kebun anggur?" tanya Train lagi.


"Si-- Barn rumah kaca untuk berpesta" tutur Miu menengadahkan wajahnya menatap dedaunan yang tertiup angin.


"Yang berkilau seperti berlian di malam hari?" tanya Train dengan mengerutkan alisnya.


"Si seperti berlian, saat itu bulan--


"Bulan purnama penuh?" Train memotong perkataan Miu dengan pertanyaan, Train semakin mengerutkan alisnya. Kisahnya benar benar sama, pikir Train semakin tertarik dengan pembicaraan mereka.


"Si, mereka bercinta di kebun anggur--


"Dan kepala suku mengejarnya?" tanya Train memotong perkataan Miu lagi yang seolah menceritakan kisah Mommy dan Daddynya, hati Train menjadi berdebar - debar mendengar penuturan Miu.


"Hahaha-- Si, bagaimana kau tahu?" tanya Miu membuat Train melepaskan tangannya yang memainkan rambut Miu.


"Si Mammaku sedang berulang tahun!" jawaban Miu silih berganti memotong cepat pertanyaan Train. Mereka terdiam dan saling pandang. Mereka terpaku dan berpikir melihat kesamaan sebuah cerita itu, namun semua tampak buntu.


"Kapan itu terjadi, Ella?" tanya Train semakin yakin cerita itu sama.


"Sekitar delapan tahun yang lalu --jawab Miu dan Train mengikutinya dengan gerakan bibirnya karena Train yang jeli itu bisa menebak jawaban Miu, ia mencoba menyamakannya --Delapan tahun yang lalu" gumam Train menjawab sendiri pertanyaannya. Hatinya semakin berdebar - debar bahkan berdegub kencang.


Bagaimana ceritanya bisa sama? Bagaimana ini? batin Train.


Ohh No, Bagaimana Train bisa tau? Apa dia cenayang? batin Miu.


"Hei Carino! Sedang apa disini?" tanya seorang dengan suara khasnya memanggil Train. Mereka menoleh secara bersamaan kearah sumber suara.


"Ibu Manuella! Ibu mau kemana?!" seru Train, kedatangan Manuella membuyarkan debarannya yang datang menghampirinya. Manuella hendak menuju parkir mobil dan ia biasa melewati kantin Daycare yang ada tamannya dan dihiasi kolam ikan koi.


"Ibu akan bekerja diluar kantor, Ibu mau meninjau gedung yang akan disewakan-- sepertinya kau memiliki teman baru" kata Manuella seraya membelai pipi Train setelah tiba dibelakang kursi taman yang menghadap kearah kolam ikan koi.


Mata Manuella tertuju pada gadis kecil dengan rambut keemasan yang tergerai indah hingga mencapai pinggangnya, mata abu abu kebiruan itu berbinar dengan lengkungan kelopaknya yang melebar hingga mata itu terlihat bulat. Gadis kecil yang tersenyum kearahnya itu, melengkung sempurna memperlihatkan bibirnya yang memerah natural dan kedua pipi yang bersemu pink tampak menggemaskan.


Manuella mengerutkan alisnya, karena ia merasa tidak asing dengan wajah itu. Si, Manuella pernah melihat foto Miu yang dikirim dari Italy saat Valentino berada di Barcelona. Leyka pernah di kirim seseorang yaitu sebuah foto kebersamaan Miu dan Valentino. Berbeda dengan foto yang Leyka terima delapan tahun yang lalu saat Miu masih bayi namun foto itu foto Miu yang usianya seumuran dengan Train. Leyka sempat menolak cinta Valentino untuk kembali bersama, saat itu karena kehadiran Miu. Namun Train membuat perjanjian selama tiga bulan yang membuatnya melupakan foto yang berada ditangannya dan tersimpan dengan rapi.


"Ibu kenalkan sahabat baruku namanya Elara Miuccia-- aku memanggilnya Ella dan Ella kenalkan ini Ibu Baptisku, Ibu Manuella! Dia sahabat Mommyku saat di Senior high school hingga Perguruan Tinggi di Palma" seru Train membuat Ella bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya.


Matanya biru keabuan, terpancar penuh kepolosan, Miu terlihat manis dan menggemaskan. Manuella terpaku dan membelalakkan matanya, jantungnya berdebar debar melihat wajah cantik dan mungil itu berdiri di sisi Train.


"Ciao (halo) Ibu Baptis Train. Kenalkan, namaku Elara Miuccia, semua memanggilku Miu-- ehm, kecuali Train. Aku dari Italy, aku baru saja tiba di Barcelona, aku tinggal di Distrik Golden, senang bisa berkenalan denganmu" ujar Miu seraya terkekeh.


"Dia Angelita yang sering diceritakan Pedro, Ibu!" lanjut Train.


Senyum diwajahnya terulas mengembang sangat manis. Namun dada Manuella bergemuruh, aliran darahnya mengalir dengan cepat, Manuella sangat dikejutkan oleh kehadiran Miu yang sangat dikenalnya walaupun melalui sebuah foto.


Ohhh Shittt! Diaa.. Diaa.. Dia yang ada di foto itu.. Dia putri Rebecca Pallazo.. Tidak.. Tidak.. Ini tidak mungkin.. Apa yang dilakukan di Barcelona dan mengapa Train mengenalnya.. Sahabat baru? Dimana Train mengenalnya.. Ohh Shitt.. Leyka harus tahu akan hal ini.. Aku akan menghubunginya segera..


"Ibuuuu! Uhsss! Tangan Ibu mana!" seru Train mengguncang tangan Manuella yang melamun agar menyambut tangan Miu. Manuella menyambutnya lalu mengurainya dengan cepat.


"Ahh.. Iya.. Iyaa.. Panggil aku Tia Manuella.. Ehmm.. Ehh.. Se..senang bertemu denganmu.. Mi..Miu. Aku.. Aku pergi dulu. Train, jangan lupa Ayah Diego akan mengantarmu ke sekolah Esperanza kau ada kelas drama siang ini" ujar Manuella dengan lidahnya serasa gemetar, hingga Train menangkap sesuatu yang sangat janggal.


Di saat yang bersamaan bel tanda masuk pun kembali berbunyi, mereka membereskan bekalnya dan bersiap mengikuti pelajaran di sesi kedua. Namun rasa penasaran menghinggapi benak Train, perasaannya mulai tidak nyaman ketika melihat kegugupan Manuella.

__ADS_1


"Ella, kau duluan saja. Aku ingin bicara dengan Ibuku" kata Train membuat Manuella menghela nafas panjang.


"Baiklah Train. Sebenarnya masih ada yang belum aku ceritakan semua. Tapi nanti saja bila kita bertemu lagi. Aku di Daycare hingga sore hari. Kau akan pergi ke kelas drama? ehm-- aku pikir kita akan makan siang bersama. Tio Pedro akan membawakan makan siang untukku" ujar Miu seraya menarik resleting tasnya hingga menutup setelah ia memasukkan kotak bekalnya dan mengambil dua buah permen lolipop.


"Besok kita akan bertemu lagi, aku akan menemuimu atau kita bertemu disini setiap jam istirahat" ujar Train seraya mengenakan tas dipunggungnya.


"Train ini untukmu dan satu lagi untuk Tia Manuella. Kata Pappa, jika ada orang baik yang aku temui maka aku harus membalasnya dengan kebaikan dan memberikan lolipop ini. Lolipop ini simbol persahabatan dan kebaikan-- Ehm, Baiklah. Adios Tia Manuella! Adios Train! Ihss, Train kau membuat rambutku kusut!" ujar Miu saat mengibaskan rambutnya kearah belakang.


"Gracias. Senang bertemu denganmu, Adios Miu" ujar Manuella masih menatap Miu lekat lekat dan menerima permen lolipop yang terulur kearahnya. Manuella terkesan hingga ia terkesima atas sikap manis dari Miu.


Bertemu? Bukankah seharusnya 'senang berkenalan denganmu' bila pertama kali bertemu.. Bahasa Ibu bukankah untuk orang yang pernah bertemu sebelumnya. Batin Train


"Ahahaha-- Perdonami (maafkan aku) dan Grazie (terima kasih) untuk lolipop ini. Aku akan memasukkan kedalam kotak harta karunku" ujar Train dalam bahasa Italy lalu ia menerima permen lolipop pemberian Miu.


"Jika Train membuat rambutmu kusut, itu artinya dia sangat menyukaimu karena Train hanya akan memainkan rambut orang orang yang dekat dengannya-- kalian sangat akrab, dimana kalian berkenalan?" tanya Manuella mengurungkan niatnya untuk pergi, ia penasaran mengapa Miu sangat akrab dengan Putra baptisnya.


"Ella pergilah-- Uhss! Ibu tidak boleh banyak bertanya! No, tidak boleh!" seru Train berbicara dua arah, ia merentangkan kedua tangannya dan bermaksud untuk menghalangi Manuella, padahal Manuella tidak beranjak untuk menghampiri Miu dan itu membuat Miu terkekeh melihat sikap Train.


"Anak nakal, Ibu hanya bertanya hal yang biasa!" ujar Manuella seraya mencubit manis hidung Train. Ada rasa bahagia dihati Miu, melihat kedekatan Train dengan Manuella.


"No No No Ibu! Jangan membuatku malu!" seru Train seraya menarik tangan Manuella agar pergi.


"Ahahaha-- Kita bertemu di bandara beberapa minggu yang lalu" kata Miu menjawab pertanyaan Manuella. Tawa Miu membuat Manuella tersenyum, Miu serasa menularkan keceriaan bila melihatnya.


"Di bandara?" Manuella melihat kearah Train yang bersungut kearahnya, Miu semakin terkekeh melihat Train. Wajahnya menjadi lucu dan Miu senang melihatnya.


"Si, waktu itu aku dan Mammaku baru tiba di Barcelona dan Train dengan ramah menyapaku, Baiklah, aku masuk kelas dulu! Adioooss!" jawab Miu sembari melambaikan tangan dan berlarian. Train membalas lambaian tangan Miu, matanya mengerjap melihat rambut Miu yang tergerai meriap - riap dan berkilau keemasan. Mata Train tak berkedip melihatnya. Sementara Manuella pun menatap kepergian Miu yang berlarian menjauh.


"Beberapa minggu yang lalu itu artinya kau akan pergi ke--


"Palma de Mallorca!" potong Train dengan cepat menjawab Manuella yang belum menyelesaikan perkataannya.


"Kau benar. Jadi begitu pertemuan kalian" kata Manuella masih menatap langkah kecil Miu yang berlarian.


"Ibu?-- Dia sangat cantik kan?" tanya Train menoleh kearah Manuella yang berdiri disampingnya dengan tatapan nanar, masih melihat kearah Miu yang nyaris menghilang dari pandangannya.


"Si, dan sangat menggemaskan, dia sangat lembut dan sepertinya dia anak yang baik" ujar Manuella dengan kegetiran dan mengakuinya.


"Dia dari Italy dan matanya juga sangat indah, rambutnya sangat menawan sampai aku ingin menggulungnya terus terus dan terus! Uhss!" kata Train dengan gemas, Manuella tak kunjung menoleh kearahnya dan Train semakin bertanya - tanya dalam benaknya.


"Si, dia memiliki bola mata yang indah dan warna itu.. Warna mata itu seperti--


"Milikku!" seru Trian sengaja membuyarkan lamunan Manuella, entah apa yang ada di pikiran Ibu Baptisnya itu, pikir Train.


"Si-- seperti milikmu" ujar Manuella seperti menahan sesuatu yang mencekat tenggorokannya.


"Aku bertemu dengannya di toilet bandara, dia duduk dan menangis saat itu. Aku pikir dia tersesat, ternyata Mammanya ada didalam toilet, sayang sekali aku tidak bertemu dengannya. Dia hanya sedih karena Pappanya meninggalkannya. Ella sedang mencari Pappanya karena seorang wanita bangsawan mengambil Pappanya. Ehm, Pappanya berselingkuh. Coba aku tebak, sepertinya Ibu sudah mengenalnya. Benar kan?" Manuella tersentak oleh perkataan Train yang langsung menembaknya dengan pertanyaan yang menjurus kearah jati diri Miu. Manuella serasa terjebak dengan basa basi Train yang berputar - putar. Dan itu caranya untuk menilai orang dewasa untuk mengetahui jalan pikirannya.


"Ehh. Ehm.. Itu.. Ehmm.. Train, masuklah ke kelasmu. Ibu harus bekerja. Temui Ayah Diego di tempat biasa. Adios Carino!" kata Manuella seraya mencium kening Train lalu membelai rambutnya. Tuduhan Train dengan pertanyaan dan pernyataan yang akhirnya menjebaknya, membuat Manuella gugup.


"Adios (sampai jumpa) Ibu! Take care ( hati hati)!" ujar Train dengan bahasa Inggris, Manuella menoleh sesaat dan hanya tersenyum, itu bukan Manuella seperti biasanya, pikir Train.


Ibu kau menyembunyikan sesuatu.. Aku tahu, aku tahu.. Aku sudah merasa kisah Miu dan cerita orangtuanya sangat janggal.. Ini aneh.. Apakah aku harus bertanya pada Mommy.. Atau.. Ini pasti ada hubungannya dengan Daddy dan.. Kemarahannya belakangan ini.. Daddy, ada apa denganmu? Apa kau mengenal Ella?. Train


Val apa yang kau lakukan? Mengapa Putrimu berada di Barcelona? Dan dia mencarimu.. Aku mohon, jangan pernah kau hancurkan hati Leyka untuk kedua kalinya. Manuella


-


-


-


Sebuah pesan singkat.


Leyka, kau ada dimana? Mengapa kau tidak mengangkat ponselmu? Aku meneleponmu entah ke berapa kalinya. Ley, Elara Miuccia ada di Barcelona bersama Ibunya. Ley, aku ingin bicara denganmu. Aku bertemu dengannya di Daycare hari ini. Hubungi aku segera, setelah kau membaca pesanku.


Dan secara diam - diam, seseorang menghapus pesan penting itu!


-


-


-


Yukk angkat tangan keatas terus kita............... ngopi Bosqyu.. ya kali ajeb2 di bulan puasa.. hanya orang yang tidak beriman yang ga ngopiin aku #malak dakwah di bulan Ramadhan 🤣🤣


*yang penting berimin Thor.. Ada aja yg jawab gitu pasti 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2