FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Semoga Harimu Menyenangkan


__ADS_3

Leyka dengan hati yang panas, menyingkap selimutnya dan bergegas bangun dari tidurnya. Tak perduli Valentino meringis dan mengusap bok*ongnya yang sakit akibat terbentur lantai, Leyka menuruni ranjang dan menyusul Train di ruang kerja Valentino.


"Bar bar sekali, dari dulu tidak berubah" gerutu Valentino lalu ia bangkit berdiri dan menyusul langkah kaki Leyka. Valentino juga tidak tahu foto apa yang di maksud Train.


"Train berikan pada Mommy! Foto siapa itu!" kata Leyka dengan kesal namun Train justru berlarian kesana kemari sambil memegangi foto yang di maksud dan menyembunyikanya di belakang pinggangnya sambil tertawa cekikikan.


Leyka dengan kesal mengejar Train yang melewati Valentino dengan memegangi pinggul belakangnya, Leyka kembali memukul perut Valentino, "Mengapa kau tidak menangkapnya!" ucap Leyka mendengus sambil berlari mengejar Train.


"Aaw Leyka!-- Pekik Valentino sambil mengusap perutnya dengan menghela nafas panjang --Hahhmm... Mengapa galak sekali? Apa dia cemburu? Foto siapa? Aku tidak menyimpan foto wanita lain kecuali--- Shittt!" gumamnya Valentino kemudian ia mengumpat saat teringat akan sesuatu.


Valentino bergegas berlari kearah Train dan Leyka. Hingga suara bel pintu Apartemen Raja berbunyi. Trainpun berlarian ke arah pintu dan membukanya.


"Ahahaha.. Ayaahh... Ibu.. Daddy sudah menyiapkan malam untuk kita!" seru Train masih menyembunyikan satu tangannya di belakang pinggangnya.


"Blue! Berikan pada Daddy!" seru Valentino dari arah belakang Leyka.


"No No No! Ahahaha !" Seru Train berlari kearah dapur.


"Train berikan pada Mommy!" seru Leyka dengan wajahnya menegang.


"Ada apa ini? Mengapa kalian saling berkejaran?" tanya Manuella sambil berjalan kearah dapur dimana mereka akan makan malam bersama seperti biasanya.


"Astaga, mengapa kalian menjadi anak kecil semua?" tanya Diego menggelengkan kepalanya dan berjalan di belakang Manuella.


"Kau akan seperti itu saat kita memiliki anak" ujar Manuella.


"Ada foto seorang wanita di buku agenda Daddy, Ibuu! Ahahaha-- Dia sangat cantik tapi sayangnya dia memakai kacamata dan kumis!" pekik Train sambil berlarian memutari meja.


"Blue! Jangan Blue! Daddy mohon jangan! Nanti Mommy akan marah!" seru Valentino dengan menegang.


"Mengapa? Beraninya kau menyimpan foto wanita lain di rumahku!" Leyka memutar langkahnya dan memukul dada Valentino dengan berulang ulang hingga Valentino menangkap kedua tangan Leyka dan memakunya di pinggangnya.


"No! Ini rumah Daddy!" seru Train dari seberang meja.


"Semua menjadi milik Mommy, Blue. Semuanya.. Bahkan seluruh nafas Daddy adalah milik Mommy" kata Valentino dengan memiringkan wajahnya dan menatap Leyka lekat lekat seakan mata biru keabuan itu menerjang hatinya. Leyka berdebar dan luluh seketika.


"Ckk, Hissh!" Leyka cemberut dengan memiringkan kepalanya menghindari tatapan itu.


"Percayalah padaku kau hanya satu satunya" bisik Valentino dengan tersenyum lalu mencium pelipis Leyka yang memiringkan wajahnya.


"Coba Ayah liat!" seru Diego mengulurkan tangannya dan Train memberikannya dengan tawanya dan sesekali ia melompat kegirangan.


"Hahahah!" Diegopun meledakan tawanya.


"Mana-- Ibu juga lihat!" Manuella pun mendekati Diego dan menyambar foto dari tangan Diego.


"Hahaha! Bersiaplah kau akan ditendang Val!" Manuella terbahak melihat foto itu.


"Dia sudah menendangku!" sahut Valentino


"Hahahha" dan mereka tertawa kecuali dua insan yang berdiri berhadapan. Lagi lagi Valentino menciumi rambut dan kening Leyka bertubi tubi. Leyka merasa nyaman seketika.


"Mana lihat! Siapa wanita itu!" Leyka melepaskan diri dari pelukan Valentino dan menghampiri Manuella.


"Ley.. Jangan marah.. Ley.. Itu.. Itu ada maksudnya!" Valentino mengekor langkah Leyka dengan memegangi tali piyama yang melilit di pinggang Leyka, sambil bersiap dan waspada bila sewaktu waktu Istri bar barnya itu akan mengeluarkan taringnya.


"Ahahaha.. Daddy menyimpan foto kekasihnya dulu, Mommy! Uhss Daddy rasakan! Aahaha!" sorak Train dengan senang melihat penderitaan Daddynya.


"Blue! Awas! Itu bukan kekasih Daddy!" Train semakin terbahak dan berlarian meloncat kesana kemari. Anak hiperaktif itu meluapkan adrenalinnya yang berlebihan.


Leykapun meraih foto yang berada di tangan Manuella dan Leyka menatapnya dengan membulatkan matanya. Valentino menggaruk dahi dan kepalanya yang tak gatal dengan rasa cemas. Ia berjaga dan tetap waspada untuk menghadapi kemarahan Leyka yang belakangan ini justru cenderung naik turun.


"Apa ini! Kauu--- Ini sudah lama sekali! Ini delapan tahun yang lalu" Leyka menutup mulutnya yang menganga melihat foto ditangannya. Lebih tepatnya itu adalah foto dari sebuah majalah yang Valentino sobek delapan tahun yang lalu. Leyka bahkan tidak memiliki dokumentasi itu.



"Mommy mengenalnya?" tanya Train mendekati Leyka.


"Blue, itu bukan kekasih Daddy tapi itu adalah Istri Daddy-- Itu Mommy, Blue" kata Valentino membuat Leyka memalingkan tubuhnya kearah Valentino dengan tatapan tajam. Valentino ngeri melihatnya, ia menyambar piring besar dan menutupi wajahnya yang hanya terlihat matanya saja. Manuella dan Diego kembali terbahak.


"Ohhh Noo! Itu tidak mungkin!-- Train meraih gambar itu dan melihatnya lekat lekat --Ini Mommy?" tanyanya lagi.


"Si, Carino itu Mommy!" sahut Diego.


"Sudahlah aku akan menyiapkan makan malam" kata Manuella menghabiskan tawanya dan melangkah menuju dapur.


"Ini delapan tahun yang lalu dan kau masih menyimpannya?" Leyka menyambar piring di tangan Valentino dan meletakan di meja. Valentino melindungi dadanya dengan kedua tanganya, bersiap bila sewaktu waktu pukulan Leyka melayang kearahnya namun di luar dugaannya Leyka justru mengurai tangan Valentino dan memeluknya.


"Ini manis sekali. Aku sudah hamil Train saat itu, Mi amor. Setelah itu aku pingsan saat aku dan Manuela akan menyiapkan pelarian ke Barcelona. Aku di bawa ke rumah sakit dan saat itulah aku mengetahui bahwa aku hamil. Kau masih menyimpannya? Ini foto di majalah-- Aahhh mengapa kau manis sekali! Te quiero.. Te quiero!" Valentinopun menyambut pelukan Leyka dengan perasaan lega bahkan saat Leyka menarik tengkuknya dan menciumi wajahnya, Valentino seakan tak percaya.


"Eh.. Ehm.. Ley.. Kau tidak marah?" tanya Valentino ragu ragu.


"Aku sangat terharu, mengapa kau manis sekali. Lo Siento, Perdonami-- Apa tadi sakit?" Valentino menggelengkan kepalanya. Leyka merebahkan kepalanya didada Valentino sambil menciumi dadanya bertubi tubi. Train bersungut melihatnya apalagi melihat Daddynya mengedipkan mata kearahnya. Train kesal dibuatnya.


"Uhss! Tidak seru, Mommy tidak marah! Vamos, marah Mommy! Hukum Daddy, frente a la pared (menghadap ke dinding)" seru Train dengan menghentakan kakinya


"Ini Mommy saat di nobatkan jadi Puteri Mahkota. Berarti kau saat itu sudah ada di perut Mommy-- Ini manis dan Daddy menyimpannya!" ujar Leyka dengan menggesekan hidungnya dan mengecup bibir Valentino berulang kali.


Valentino memeluk Leyka dan menggoyangkan tubuh Leyka ke kiri dan ke kanan. Leyka meletakan kedua telapak kakinya diatas telapak kaki Valentino dengan senyuman manisnya, dengan kerlingan matanya dan kedua tangannya melingkar di leher Valentino.

__ADS_1


"Bawa aku ke kursi, kau ingat di Pretoria kita sering melakukannya" Valentinopun mengeratkan pelukannya dan membawa Leyka berjalan beberapa langkah kearah kursi.


"Tentu saja aku ingat-- Setelah itu kita bercinta" bisik Valentino dan Leyka terkekeh.


"Uhss! Tidak seru!" Train


"Vamos naik ke telapak kaki Ayah!" ujar Diego merentangkan tangannya dan Train melipat foto itu lalu memasukan ke saku piyamanya.


"Ini harta karun, aku akan menyimpanya!" kata Train lalu ia berlarian kearah Diego dan melakukan hal yang sama dengan Mommy dan Diego membawanya berjalan berputar putar mengelilingi meja dengan tawa Train yang tak pernah menghilang dan selalu memenuhi Apartemen itu. Seperti ada kehidupan di Apartemen Raja yang sebelumnya senyap.


"Tunggu-- mengapa kau mencoret coret wajahku?" tanya Leyka setibanya di meja makan.


Valentino menangkupkan telapak tangannya di pipi Leyka lalu ia memastikan Train tidak melihat aksinya. Valentino mem*agut perlahan bibir Leyka lalu sesaat melepasnya kemudian ia membelai wajah Leyka dengan tatapanya yang begitu lembut dan menghangatkan hati Leyka.


"Kemarilah sambil makan malam aku akan menceritakan mengapa aku mencoret wajahmu dan justru itu yang membawa keberuntunganku saat aku membangun Capetown Time Square di Afrika saat itu" ujarnya sambil mengecup kening Leyka dan menuntunnya duduk di kursi.


"Vamos Carino! Cuci tangan dulu" ujar Diego membawa Train diatas langkahnya yang menginjak kakinya, menuju wastafel.


Merekapun berbincang dan Valentino mengisahkan bagaimana foto di majalah itu, justru membawa keberuntungan baginya karena itulah Valentino menyimpannya. Leyka bahagia mendengar betapa tersiksanya Valentino dulu saat berpisah dengan wanita yang membuat emosinya tak terkendali.


"Ceritakan tentang-- Manuella melihat kearah Train dan Leyka, lalu ia menghela nafas panjang --Ahhh, tidak jadi. Lain kali saja" Manuella bangkit berdiri dan membereskan piring. Leyka menatapnya dan Leyka tau maksud Manuella yang akan menanyakan perihal Putrinya Elara Miuccia.


Aku tidak ingin mendengarnya.. Aku tidak akan membiarkan Valentino menyinggungnya. Valentino milikku dan aku tidak akan membiarkan dia kembali ke Italy dia harus menjadi warga Negara Spanyol. Aku memang Egois, tapi aku tidak mau Train terpisah dengan Daddynya.. Train tidak boleh tahu kalau ia memiliki kakak dan aku tidak akan mengakuinya. Leyka.


"Cerita apa Ibu-- Mengapa tidak jadi?" Tanya Train pada Manuella.


"Ehm, tentang Mommymu dan Daddymu saat tersesat di rumah pejabat-- Carino, menginaplah di rumah Ibu. Lama sekali kau tidak tidur dengan Ibu sejak ada Daddymu. Huhh-- Daddymu benar benar menguasaimu" Manuella mencoba mengalihkan perhatian Train.


"Daddy, boleh kah?" tanya Train sambil menyeka mulutnya.


"Boleh-- tapi bantu Daddy untuk cuci piring, Vamos!" ajak Valentino bangkit berdiri setelah mencium pelipis Leyka. Manuella, Diego dan Leyka menatap kepergian Valentino yang menggandeng Train menuju dapur.


"Aku tidak ingin gandengan tangan mereka terlepas. Jadi, aku mohon jangan menyinggung apapun. Biarkan tetap seperti ini" ujar Leyka menurunkan nada suaranya.


"Apapun yang terjadi, kau jangan menyerah, Ley" kata Diego sambil memijat lembut leher belakang Manuella.


Pukul 21.00 waktu Barcelona, mereka membubarkan diri. Diego menggendong Train yang telah tertidur dan membawanya ke Apartemennya di lantai delapan. Dan kesempatan itu membuat Valentino tak lelah bergerilya meniti malam.


Valentino menggendong Leyka tiba tiba ala bridal style dan mengejutkan Leyka yang melepas kepulangan Manuella dan Diego yang membawa Train, diambang pintu.


"Vaalll!" jerit Leyka saat tubuhnya melayang kearah tubuh Valentino. Leyka pun menautkan tangannya di pundak Valentino.


"Apa kau mau mandi?" bisik Valentino sambil menggesekan hidungnya dipipi Leyka dan kumis serta jenggotnya membuat Leyka meremang.


"No! Aku tadi siang sudah mandi, aku tidak kemanapun, aku hanya tidur dan aku tidak berkeringat" jawab Leyka menempelkan dahinya di dahi Valentino dan berkata dengan lembut. Valentino meragut bibir ranum milik Leyka, seakan ingin memakannya.


"Aku akan membuatmu berkeringat agar kau mau mandi" bisik Valentino diatas bibir Leyka lalu Valentino menciumnya.


"Baiklah tidak masalah, aku akan memandikanmu dengan lidahku" Leyka tersentak saat kaki Valentino menendang perlahan pintu kamar agar tertutup. Valentino pun menghempaskan perlahan tubuh Leyka keatas ranjang dan melucuti semua yang melekat di tubuhnya dan tubuh Leyka.




Malam kian panjang, Valentino menghabiskanya dengan mendengar desa*han Leyka yang merin*tih syahdu dan membuatnya selalu merindu. Suara mereka memenuhi kamar di Apartemen Raja. Valentino menggagahinya, menakhlukan setiap jengkal tubuh Leyka yang membangkitkan syah*watnya.


"Aaaaarghhh.. Ley.. Leeykaaa.. Aaaarrgggh-- des*ahan Valentino tertahan --Shitt! Apa cita citanya mencekiku dengan pahanya? Shitt! Aku tidak bisa bernafas! Hahhh.. Selalu begini bila orga*sme, aku jadi tidak bisa melihat wajah naf*sunya yang memerah itu.. Hahh!" lanjut Valentino dalam hatinya, ia pasrah dengan mulutnya terbenam di dalam irisan buah Peach, dan menikmati lidahnya merasakan getaran lembut yang membuatnya semakin menegang.


Malam membawa mereka berakit dengan layar mengembang liar, diantara desau nafas yang memanas dan deburan hasrat serta gairah yang menciptakan denyutan indah diantara keringat yang membanjiri tubuh mereka. Dan merekapun berakhir di dalam bath-up dengan air yang hangat, diantara buih buih busa yang menutupi sebagian tubuh telan*jang mereka.


Tawa, canda, senyuman, sentuhan hangat, kecupan mesra dan tatapan mata penuh makna malam itu, mengingatkan mereka akan indahnya kisah mereka di Pretoria. Mereka bahagia dan mereka berjanji akan menyingkirkan segala duri dengan Cinta, karena Cinta akan memenangkan segala rintangan yang ada.


-


-


-


...SEPEKAN KEMUDIAN...


Jared dan Torres terbahak saat melihat Valentino turun dari lantai tujuh dengan meregangkan urat lehernya ke kiri dan ke kanan sesekali Valentino memijat tengkuknya. Jared dan Torres berdiri dibelakang mobil yang terparkir di lobby Apartemen Casa De Miel. Mobil itu bagasinya terbuka karena menunnggu koper koper masuk kesana. Ya! Jared dan Torres akan mengantar keluarga Raja Setan itu ke bandara karena mereka akan terbang ke Palma de Mallorca, kota kelahiran Leyka.


"Lagi??" tanya Jared sudah hafal dengan apa yang dialami Valentino.


"Istrimu-- mencekikmu dengan pahanya lagi?" bisik Torres saat Valentino memasukan koper demi koper ke dalam bagasi.


"Selalu" jawaban Valentino yang datar membuat Jared dan Torres terbahak.


"Suruh siapa kau menyukai area--


"Area apa? Apa yang kalian tertawakan" potong Leyka dari arah lobby dengan mengernyitkan alisnya.


"Ahh-- Itu.. Area segitiga bermuda yang sanggup menenggelamkan apa saja. Jangankan roket, rudal Balistik Rusia akan tenggelam disana, Hahaha!" kata Torres membuat wajah Leyka memerah, saat Torres mengatakan segitiga, ia menyatukan kedua ibu jari dan jari telunjuknya membentuk pola segitiga.


"Hissh! Loco (gila)!" dengus Leyka sambil memasuki mobil saat Valentino membuka pintu untuknya.


"Jangan hiraukan orang selalu memakai bodylotion di kamar mandi. Nanti dia akan tahu rasanya dicekik dengan paha itu sebuah sensasi yang menyenangkan dan membuat kecanduan" jawab Valentino seraya memasuki mobil dengan mengerlingkan matanya kearah Leyka.


"Issh!" dengus Leyka dengan wajah bersemu memerah sambil memukul perlahan paha Valentino.

__ADS_1


Valentino terkekeh, ia merentangkan tangannya hingga mencapai pundak Leyka, lalu merengkuhnya. Leyka menyandarkan kepalanya di dada Valentino dan memejamkan matanya.


"Mengapa kau suka sekali tidur, hmm" gumam Valentino sambil mengecup kening Leyka berulang ulang, namun Leyka terdiam dalam kenyamanannya di dada kekar yang hangat merengkuhnya.


Torres melajukan mobil setelah Jared masuk ke mobil dan duduk disampingnya lalu memasang seat belt. Mereka menuju bandara, dimana Train dan Rosemary telah berangkat terlebih dahulu diantar oleh pengawalnya. Sepanjang jalan, Valentino banyak mengarahkan pekerjaan pekerjaan yang dialihkan kepada rekannya selama Valentino berada di Palma de Mallorca.


Sementara Train dan Rosemary menunggu di sebuah Butik miliknya yang berada di dalam area bandara. Karena itulah Rosemary berangkat terlebih dahulu mengajak cucu kesayangannya, untuk meihat lihat keadaan gerai Butiknya yang lama tidak ia kunjungi.


"Grandma, Train mau ke toilet" seru Train meletakan susu kotak di meja.


"Biar Vicente yang mengantarmu-- Vicente!!" seru Rosemary pada pengawalnya yang berdiri di depan pintu bersama Demitri dan Vicente bergegas membuka pintu saat Train berjalan kearahnya.


"Uhss! Aku bisa sendiri Grandma!" ujar Train bersikap sok dewasa.


"Tidak boleh Mi Nieto (cucuku)! Biar Vicente mengantarmu" sahut Rosemary dari kejauhan dan ia melanjutkan obrolannya pada Manager di Butiknya.


"Vamos, Tuan Muda" ujar Vicente.


"Apa aku merepotkanmu? Kau tahu aku sangat pemberani. Sedikit menjauhlah, Vicente. Aku malu karena aku bukan anak kecil yang harus diantar" ujar Train sambil berjalan dan Vicente menahan senyumnya.


"Sama sekali tidak merepotkan-- Perkataan Grandmamu adalah perintah yang tidak boleh dibantah" ujar Vicente dengan datar.


"Termasuk membeli tomat di pasar dengan menggunakan jas? Ahahahaa-- Aku melihatmu!" Train tertawa kegelian dengan menutup mulutnya, Vicente kehilangan senyum yang ditahannya seketika.


"Bahkan membeli paprika dan membuang sampah di Apartemenmu, Tuan Muda"


"Panggil saja namaku, Train. Apa itu tuan muda tuan muda? Itu bukan sebutan yang bagus! Dan ini perintah!" kata Train membuat Vicente hampir meledakan tawanya tapi ia menahannya.


"Baiklah- Train! Aku terima Perintah darimu" kata Vicente mengangkat satu sudut bibirnya kemudian. Mereka pun tiba di restroom dan Vicente mengantarnya masuk kedalam.


Beberapa saat kemudian, Train keluar dari toilet di iringi Vicente yang berjalan di belakangnya. Namun langkah kakinya terhenti saat melihat seorang anak perempuan seusianya, berambut panjang dan berwarna pirang duduk di koper dengan mendekap boneka teddy bear. Anak perempuan itu duduk tidak jauh dari ruang restroom. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang, sesekali ia menyeka matanya.


"Hola-- Apa kau tersesat?" tanya Train pada anak perempuan itu.


"Tidak. Aku sedang menunggu Mamma" kata anak perempuan itu.


"Tapi kau menangis" tanya Train lagi.


"Aku hanya merindukan Pappaku. Aku baru datang di Barcelona" kata anak perempuan itu.


"Oh, jadi Pappamu di Barcelona. Selamat datang di Barcelona! Kota yang tak terlupakan! Semoga kau segera bertemu dengan Papamu! Kenalkan-- Train mengulurkan tangannya dan anak perempuan itu bangkit berdiri --Namaku Blue Train Valentino, aku dibuat di kereta api. Kereta terpanjang dengan route 27 jam menuju Pretoria. Panggil saja aku Train" kata Train saat anak perempuan itu menyambut tangannya dengan terkekeh atas perkenalan itu.


"Kau sangat lucu Train. Nama panjangku-- Elara Miuccia Palazo Felland. Kau bisa memanggilku Miu" kata anak perempuan berambut pirang itu telah memperlihatkan senyumnya dengan mengguncangkan tangannya. Guratan kesedihannya menghilang saat melihat senyum Train yang nama belakangnya sama dengan nama depan Papanya.


"Karena rambutmu bagus seperti cinderella, aku akan memanggilmu, Ela. Baiklah aku harus kembali. Aku takut Grandma mencariku" kata Train dengan mengurai genggaman tangannya.


"Si (iya ; Spanyol; Italy), Semoga harimu menyenangkan" kata Miu kembali tersenyum ramah.


"Denada (sama sama). Semoga harimu menyenangkan. Jangan bersedih agar banyak lampu di matamu, Ela. Sampai jumpa!" kata Train sambil berlalu dengan mengembangkan senyumnya.


Jared atas perintah Valentino,--saat acara Viscountess itu,-- memintanya untuk tidak mengunggah wajah Train dengan jelas. Jared memerintahkan editor dari media televisi yang menyiarkan acara memburamkan wajah Train. Valentino tidak ingin mengeksploitasi anak karena ia tidak mau Train menjadi situs pencarian berbagai pihak. Bahkan nama Train di sembunyikan rapat rapat.


"Kau bicara dengan siapa, Miu?" sang Mama keluar dari restroom dan menghampiri putrinya.


"Hanya anak laki laki, seusia denganku atau entahlah. Sepertinya dia anak yang baik, dia berpikir aku tersesat, Mama. Dia sangat lucu dan namanya seperti nama depan Pappa. Valentino. Orang Spanyol sangat ramah" kata Miu meraih sweater berwarna tosca lalu ia mengenakannya.


"Ada jutaan orang bernama seperti Papamu. Si, orang Spanyol memang ramah-- Dai (ayo; Italy) kita pergi menemui orang yang menyewakan Apartemennya" ujar sang Mama meraih gagang koper diikuti Miu yang menarik gagang koper miliknya yang berwarna pink.


"Dimana itu" tanya Miu sambil menyelipkan teddy bearnya di sela sela gagang kopernya.


"Hmm-- namanya Distrik Golden" kata sang Mama sambil menggandeng tangan Miu menuju pintu kedatangan.


Leyka Paquito, aku datang... Aku akan membawa Papa Miu pulang.. Val, kau harus memenuhi janjimu.. Kau tidak boleh ingkar pada Putrimu yang telah menyelamatkan hidupmu.


-


-


-


Deg2an ga sih.. Biar ga deg2an gimana kl kita ngopi 🤣🤣🤣 #malakMahh Teteep 🤣



Kalian membuatku merinding, Bosqyu.. Thanks a lot atas semua kopi, bunga, koin dan Vote yg setiap saat meluncur ke Mejaku. Kalian is the best! Tanpa kalian aku hanyalah Serpihan Ketombe 🤣🤣 Kalian sangat berarti. Tanpa kalian Seorang Penulis itu hanyalah tong kosong dan karatan. Jika ada Othor yang tidak menghargai Pembacanya dan Songong, klepak aja palanya dan bilang gini "Maap ada nyamuk" 🤣 Dan kl ditanya siapa yang ngajarin nyanyi aja "Nenek moyangku, seorang pelaut" 🎶 Catet ini rahasia diantara kita 🤣🤣


Entahlah aku org yg ga trima kl ada pembaca yg tidak dihargai, tanpa sadar kalianlah yang membawa seorang penulis menuju kesuksesan. Biglove, untuk kalian 😘💛 Serimbun hutan amazon, senikmat jagung bakar Afrika Selatan dan segede Rudial 🤣😘💛


Aku sudah cukup puas atas pencapaian ini. ga berharap dan ga ngoyo bakal terus di atas.


kata Train di bab sebelumnya,


"POKOKNYA TERIMA KASIH"


Saaa'aangeee.. ehh Saraangeeee.. 😘💛😘💛


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2