
"Ya ! Aku si pria tampan yang menolong Mommymu" Valentino mengulangnya dengan penuh penekanan. Manuella dan Diego terlihat keluar dari dapur setelah mendengar suara si tetangga barunya.
Leyka masih duduk terpaku mengatur nafasnya dan menetralkan detak jantungnya, matanya memerah karena lama tak berkedip. Tubuh Valentino yang bertelanjang dada membuat hatinya berdesir, terlebih lagi dua bekas tanda gigitan kissmarknya semalam di leher Valentino membuat Leyka merutuki dirinya sendiri.
Valentino tersenyum penuh kehangatan, ia tahu Leyka melihat lehernya, lalu ia pura pura menggaruknya dengan memiringkan kepalanya, dengan senyuman dan tatapan yang mendebarkan. Leyka ingin sekali menjambaknya tapi apalah daya, hatinya justru bertolak belakang dengan keinginannya.
Ohh Shitt, ada dua bekas gigitanku.. Ini memalukan.. Dia sengaja menunjukkannya padaku.. Shitt.. Rasanya aku ingin mematahkan lehernya! Shit.. Sangat menggemaskan.. Tidak Tidak.. Ini tidak mungkin.. Mengapa aku justru gemas melihatnya.. Hihh.. Menjijikkan..
"Dia biasa saja, tidak tampan. Masih tampan Damian kan?" ujar Leyka dengan lembut kearah Train, iya nyaris berbisik tapi Valentino mendengarnya dengan jelas, ia hanya tersenyum menahan gejolak hatinya karena dibandingkan. Tapi tatapan Train mengalihkan perasaannya, entah mengapa Valentino ingin menggendong setan cilik itu.
Mungkin aku merindukan Miu, rasanya aku ingin menggendong setan cilik ini.. batin Valentino.
"No Mommy! Dia benar benar tampan, kini Damian menjadi jelek satu distrik ini, bahkan seluruh distrik-- Dia paling tampan" ujar Train dengan lantang tanpa menoleh ke arah Leyka. Valentino menahan tawanya, senyumnya yang memancarkan aura ketampanan paripurna, seakan membius Train, hingga anak itu melupakan Daddynya.
Jatuh cinta pada pandangan pertama, itulah rasa yang tidak bisa di ungkapkan. Berbicara hanya melalui pandangan mata, pandangan yang sulit dialihkan seperti itulah yang terjadi antara Valentino dan Train, mata mereka bertemu di ruang yang asing namun penuh kehangatan.
"Uhm-- Apa kau Senor Sergio? Lo siento, Perdonami (maafkan aku), aku tadi tidak sengaja, melempar sepatuku dan mengenai pintumu" Leykapun bangkit berdiri dan memegangi kedua pundak Train dengan mata yang masih membulat dan wajahnya yang memucat. Ia tidak menyangka Valentino adalah tetangga barunya. Lutut Leyka sampai bergetar dan tubuhnya seakan lemas.
Lalu siapa Sergio.. Shitt! Dia menjadi tetanggaku?! Ini mengerikan!! Fu*ck.. batin Leyka mengumpat kesal.
"Tidak apa apa, Boy-- Kau sangat nakal dan aku menyukai anak nakal. Kau mengingatkan aku, saat aku masih kecil-- Kenalkan namaku. Valentino Gallardiev! Aku arsitek yang merancang gedung di samping sekolahmu! Dan aku TETANGGA BARUMU" ujar Valentino dengan memiringkan kepalanya dan tersenyum penuh kehangatan kearah Train, Ia kemudian duduk agar menyamai Train yang masih berdiri tegap dan mengulurkan tangannya. Pemandangan itu mengiris hati Leyka.
Dia seperti Daddyku.. Arsitek.. Ohh, tidak.. Aku tidak boleh menyebut Daddy Daddy lagi, setelah Mommy memberikan hadiah foto dari Daddy itu, aku tidak mau melukai hati Mommy. batin Train. Setelah kejadian hadiah foto itu, Train memang tidak menyinggung lagi tentang Daddynya. Ia tidak ingin melukai perasaan Leyka.
Val, dia Putramu.. batin Leyka menangis.
Train melihatnya tanpa berkedip, hatinya seakan bersorak entah mengapa. Lalu ia mengulurkan tangannya, menyambut tangan Valentino yang telah terulur kepadanya.
"Ar si tek?" mata Train semakin berkilau dan Valentino terkesima saat menatap dua mata kecil itu, biru keabu abuan seperti miliknya.
Ooh Shit!! Jangan sekarang.. Asmaku akan kambuh.. Dadaku sesak sekali.. Tidak sekarang.. Jangan kambuh sekarang.. Ini akan menjadi tidak keren.. Jangan merusak moment keren ini, Asma Sialann..
"Iya, aku yang merancang gedung pencakar langit" ujar Valentino sambil mengacak rambut Train dan ia bangkit berdiri dengan menghirup nafas dalam dalam, oksigen di rongga pernafasannya seakan menipis.
"Woooow, Mommy.. Dia kerenn!" Pekik Train sambil mengguncang guncang tangan Leyka dan mendongakkan kepalanya kearah Leyka.
"Lalu siapa namamu?" Tanya Valentino menatap Train lekat lekat dengan bersandar di dinding yang membingkai pintu apartemennya.
"Namanya Train Calvo-- Dia putraku! Calvo adalah nama belakangku-- Diego Calvo" sahut Diego sambil berjalan kearah mereka bersama Manuella, ia kemudian keluar pintu lalu mengulurkan tangannya dan Valentino menyambutnya.
Diego mengaku menjadi Ayah biologis Train karena setelah kejadian di kelas Leyka kemarin yaitu pertengkarannya dengan Valentino, Leyka menceritakan segalanya kepada Manuella dan Diego melalui sambungan telepon. Karena itulah Maria melihat mata Leyka bengkak setelah pulang rapat. Leyka mendapatkan dukungan penuh dari Manuella dan Diego. Karena pertengkaran Leyka dan Valentino, sangat melukai sahabat yang mereka sayangi.
"Mommy?" tanya Train seakan memberikan kode lewat mata, bila tiba tiba Diego mengaku sebagai Ayahnya, itu tandanya ada orang yang bermaksud tidak baik kepadanya dan orang itu ada dihadapannya. Train di doktrin tentang itu dari kecil.
Mengapa seperti itu? Itu karena sejak sang Putri Mahkota Kerajaan melarikan diri, banyak Paparazi yang ingin menghancurkan reputasinya dan keluarganya. Melalui Ibunya Rosemary, Leyka selalu mendapatkan informasi tentang rencana jahat Locki dan Ella Gusmo yang masih mengincar Leyka.
Hubungan Rosemary dan Leyka justru akhirnya terjalin sangat baik dan harmonis. Walaupun lewat ponsel atau panggilan video, mereka meluapkan kerinduannya. Dan Train tidak terlalu tertarik dengan Rosemary yang masih saja bersama Locki yang di anggapnya tokoh jahat di film Avenger. Semua musuh musuh Avenger, dinamai Locki oleh Train, bahkan semua orang yang jahat kepadanya, Train menjulukinya Locki.
"Si (iya) Train" bisik Leyka. Dan Train memundurkan langkahnya hingga Diego menyambar tubuh Train dan menggendongnya. Ada rasa aneh menyerang hati Valentino, rasa iri, cemburu, dan tidak terima anak kecil itu digendong pria lain, ada rasa kecewa dan sakit hati yang sulit diterjemahkan.
"Train-- Ingatlah peraturan nomor 7" kata Diego. Doktrin itu akhirnya menjadi salah satu peraturan yang Train pahami ketika ia berusia 5 tahun.
Peraturan nomor 7? Shit! Ini pasti akal akalan wanita siluman ini.. Kau juga masih mengingat itu di Pretoria kan? Kau tidak melupakanku.. Aku yakin itu.. Ahh, Istri silumanku, ini semakin menarik dan ini semakin membuatku gila. Rencana berubah, aku harus menyingkirkan kebencianmu kepadaku..
"Si (iya) Ayah" ujar Train mengangguk pasti dengan menggosok hidungnya dan disaat yang bersamaan Valentino bertepatan menggosok hidungnya dengan punggung jari telunjuknya. Gerakannya sama persis, Leyka berdebar melihatnya dan saling memandang kearah Manuella.
"Sekarang berterima kasihlah" bisik Manuella mencium pipi Train, dan menyingkirkan tangan Train dari hidung mungilnya.
"Uncle--
"Panggil dia Senor (tuan)" potong Leyka.
"No Mommy, dia tidak tua!" ujar Train dengan mata sengitnya menatap Leyka, Valentino mengepalkan jemari tangannya didepan bibirnya, menutupi tawa yang ia tahan melihat Train melawan Leyka.
"Panggil dia Gallardiev, Train" ujar Leyka dengan mendelik kearah Valentino.
"No Mommy-- Itu tidak sopan!" Train kembali membangkang dan senyum Valentino yang di tutupi itu, justru terlihat mengejek Leyka dan itu berhasil membuat Leyka semakin kesal.
"Seperti kau memanggil Damian!" Leykapun berkata dengan lantang. Kata 'Damian' berhasil membuat senyum Valentino menghilang. Dan ia kembali bersedekap.
"Noo! Dia menolongmu Mommy! Damian tidak menolongmu! Dan Mommy harus menjelaskan kepadaku, mengapa Mommy membohongiku!" Dan Leyka menyerah karena Train lebih lantang darinya. Terlebih lagi Train meminta penjelasan atas kebohongan yang ia lakukan. Manuella menggelengkan kepalanya kearah Leyka untuk menyerah saja.
Aku sangat menyukai anak ini.. Setan cilik ini sangat menyenangkan Hahaha.. Mengapa aku sangat bahagia begini..
"Uncle, Gracias (terima kasih). Karena sudah menolong Mommyku" kata Train melembut.
"De nada (sama sama), Train" dan jantung Leyka berdetak cepat saat mulut Valentino menyebut nama Putranya. Antara cemas dan juga senang mendengarnya.
"Baiklah, ayo waktunya makan siang" ujar Diego sambil mengecup kening Train dan membawa Train masuk.
"Apa tidak boleh mengundang Uncle Gallardiev makan siang bersama?" tanya Train pada Diego, bukan kepada Leyka.
"No Train!" tukas Leyka dengan cepat.
"Porqué (mengapa) Mommy! Porquè (mengapa)?!" tanya Train masih dengan kesal kepada Leyka karena membohonginya.
"Karena dia hanya orang asing, Train" ujar Leyka membuat Valentino kembali menahan tawanya.
"Apa Mommy takut dengan Damian? Mommy bisa membohonginya seperti Mommy membohongiku" telak. Train berhasil menguasai perdebatan dan Manuella memberi kode kepada Leyka.
Ohh Shitt Train! Hiishh.. Dendaman.. Menyebalkan sekali anak ini, kau memang pantas dijuluki setan cilik.. batin Leyka dengan dada semakin bergemuruh.
"Train Mommy mohon!" kata Leyka semakin kesal dan Train hanya menatap Valentino dalam gendongan Diego dengan mata berkilaunya.
"Dan Senor Gallardiev, aku tidak ingat apakah kau yang menolongku, aku juga lupa! Semalam aku tidak bisa mengingat apapun, maafkan aku" ujar Leyka maju selangkah dan menghalangi pandangan Train.
"Tanyakan kepada Tia Dolores-- Ehm, dia mengizinkanku memanggilnya Tia Dolores" kata Valentino kembali membuat Train semakin bersorak.
__ADS_1
"Aku akan menanyakannya nanti, selamat siang dan semoga harimu menyenangkan" Leykapun menutup pintunya kemudian namun Train memekik.
"Nooo Mommy!" jerit Train membuat Leyka membuka kembali pintu itu.
"Woow! Ayah, itu artinya Uncle bukan orang asing kan! Abuella (nenek) ku menganggapnya bukan orang asing!-- Mommy, dia tetangga baru. Kita baik ke seluruh tetangga! Dia menolongmu, Mommy harus mengundangnya makan siang. Bila itu membuatmu putus dengan Damian, bukankah itu bagus?" ujar Train kepada Diego dan Leyka, Train masih berusaha dengan keras membujuk Leyka. Manuella menahan tawanya mendengar perkataan putra baptisnya itu.
"Ahh, Benar. Kebetulan aku baru pindah dan baru bangun tidur. Aku juga sangat lapar-- Aku punya sesuatu untuk perkenalan kita dan kau Train, kau akan bercerita tentang Damian" Valentino membuka pintunya dan berlarian masuk kedalam, ia menyambar kaos oblong, lalu mengedarkan pandangannya, apa yang akan dibawa ke tetangga barunya.
"Train, dia bisa saja berbahaya. Hati hati dengan bicaramu" ujar Leyka dengan kesal.
"Si (iya)! Aku tidak akan mengatakan apapun!"
"Mommy akan menolaknya secara halus"
"Uhhs Mommy!" dengus Train kesal.
"Senorita (nona)! Kemarilah kau mau memilih yang mana?" Leyka menghampiri Valentino yang berada di ambang pintu dengan mendengus kesal. Valentino telah mengenakan pakaian santai saat keluar lagi, Valentino membawa dua botol wine ditangannya dan sebagai tetangga itu hal wajib disana. Membawa hantaran untuk tetangga baru bisa berubah kue atau masakannya bahkan sebotol wine.
"Kalau kau tidak mengundangku masuk maka aku akan katakan yang terjadi semalam pada Putra Baptismu dan gigitanmu ini akan menjadi saksinya" ancam Valentino dengan berbisik.
"Kau mengancamku? Kalau kau mencoba mengungkap siapa dirimu, aku akan membunuhmu!" bisik Leyka. Train hanya memperhatikan Leyka mengambil satu botol dari tangan Valentino.
"Iya kau benar. Ini memang anggur terbaik dari Perancis. Matamu sangat jeli, Leyka. Boleh aku memanggilmu Leyka saja?" tanya Valentino dengan tersenyum dan Leyka mendelik kearah Valentino, lagi lagi Leyka mendengus kesal.
"Si si si (iya) itu lebih akrab Uncle!" sahut Train dari pintunya. Valentino menutup pintunya lalu menguncinya lalu berjalan ke Apartemen Leyka. Ia masuk begitu saja, melenggang tanpa permisi.
"Aku belum menyuruhmu masuk! Aku belum mengiyakan apakah aku mengizinkanmu ikut makan siang bersama kita!" Leyka mengekor langkah panjang Valentino yang masuk ke Apartemennya, Leyka semakin kesal di buatnya.
"Terima kasih untuk undangan!" Valentino hanya menoleh sekilas dan kembali berjalan memasuki ruang tamu.
"Aku tidak mengundangmu!" ujar Leyka dengan berseru dan Valentino tidak perduli ia terus masuk dan justru melewati Train yang digendong Diego.
"Hahaha-- Dia keren Ayah!" Train tertawa senang, Diego dan Manuella tidak tega melihat tawa itu menghilang. Ini pertama kalinya, Train tertawa dengan matanya yang kian berbinar.
"Iya pokoknya Terima kasih atas undangannya-- Dimana ruang makannya" Mata Valentino tertuju pada hadiah yang pernah diberikannya 8 tahun yang lalu, ia berdebar melihatnya. Ia menghentikan langkahnya dan berdesis.
"Unstopable (tak terhentikan)" Valentino kembali tersenyum melihatnya.
"Turunkan aku.. Turunkan aku.. Turunkan aku!" Pekik Train dengan meronta dan Diego menurunkannya, Trainpun berlarian kearah Valentino yang sedang berdiri dihadapan sebuah hadiah yang ia berikan pada Leyka 8 tahun yang lalu. Leyka tampak gelisah, Manuella pun memucat namun Diego tampak tenang.
"Itu aku yang menempelkannya bersama Damian, Uncle. Itu agar aku melihat foto itu saat aku datang dan saat aku akan pergi" Valentino berdebar mendengar Train mengatakannya dan ia menoleh kearah Train yang sedang mendongakkan kepalanya keatas, Train berdiri disampingnya.
"Senor Gallardiev, kau tidak sopan. Aku belum mengundangmu, aku belum mempersilahkanmu masuk dan aku belum memutuskan akan makan siang bersamamu atau tidak! Keluarlah!" Leyka mengusir secara langsung, karena sudah memuncak kekesalannya, namun itu tidak dihiraukan, Train semakin berulah.
Aku tidak perlu meminta izin ke rumah Istriku.. Valentino.
"Uncle-- Ayo ikut aku. Kau tadi menanyakan dimana ruang makannya" Trainpun menyambar tangan Valentino, ia hanya menggedikkan pundaknya kearah Leyka saat Train menyeret tangannya, Valentinopun mengikuti langkah Train menuju ruang makan.
"Ley, hanya makan siang. Biarkan saja. Apa kau tidak melihat wajah Train? Aku tidak pernah melihatnya sebahagia itu. Leyka, ada aku tenanglah. Aku tidak tega keceriaannya menghilang karena itulah aku diam saja" ujar Diego dan menyusul Valentino serta Train menuju ruang makan.
"Leyka, kau harus bersabar" ujar Manuella merangkul pundak Leyka.
Diego membuka jendela lebar lebar agar angin membawa kesejukan kedalam Apartemen itu.
Train mengambil posisi di sudut meja dengan kursi miliknya sendiri, kursi makan untuk anak kecil dengan kaki kaki yang tinggi hingga ia sejajar dengan orang dewasa, di kirinya Manuella yang duduk berdampingan dengan Diego dan seberang kanannya adalah Valentino yang duduk berdampingan dengan Leyka. Mau tidak mau Leyka duduk di sebelah Valentino karena kursi tersisa hanyalah itu.
"Boy, aku tertarik dengan foto quote yang dibingkai sangat keren tadi-- Apa itu hadiah atau Mommymu membelinya" Leyka menginjak kaki Valentino dan yang diinjak hanya tersenyum menahan sakit. Manuella mulai melayani mereka semua, mengambilkan makanan satu demi satu dan mereka mulai menyantapnya.
"Ohh, Itu--
"Train?" ujar Leyka dengan mendelikkan matanya kearah Train, seakan memberi kode kepada Train untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Itu hadiah dari, ehm.. Itu kekasih Mommy yang mengirimnya" ujar Train sambil menyuap makanannya.
"Benarkah? Apakah Damian?" tanya Valentino berbalas menyuap makanan dengan lahap.
"No No No-- Kekasihnya yang lain. Yang dulu sekali" Leyka terbatuk dan ia segera meneguk minuman yang ada di meja.
"Ibu, Mommy alergi merica. Jangan memberikannya" kicau Train membuat Valentino tersadar bahwa ia baru saja mengetahui apa yang Leyka tidak sukai. Ada terbersit sesal, ia tidak memperhatikan Leyka dulunya, bahkan Leyka mengetahui ia tidak menyukai asparagus, hanya dengan menyingkirkannya, tanpa bertanya. Leyka memperhatikannya dulu saat di Pretoria, sementara Valentino tidak.
Setelah menyuap makanan, tangan kirinya mere*mas paha Leyka. Ia menyembunyikan aksinya dari Train. Itu adalah kebiasaannya dulu di Pretoria, Valentino sengaja mengingatkannya. Leyka menepiskannya namun Valentino kembali mendaratkan tangannya di paha Leyka. Hingga Leyka lelah dan membiarkannya.
"Apa yang tidak kau sukai Uncle?"
"Aspar-- Baru akan menjawab, Leyka menyambar asparagus panggang yang ada di piringnya. Dan Leyka menyadarinya saat Manuela dan Diego membelalakkan matanya, Valentino apalagi.
Ohh Shit!! Aku mengambil Asparagusnya! pekik Leyka dalam hati.
Matilah kau wanita siluman, Train melihatmu. Aku menunggu penjelasanmu.. Manis sekali, kau selalu menyingkirkan asparagus, dan kau tidak sadar melakukannya, kau masih mengingatku. Dan Valentino bersorak bahagia dalam hatinya.
"Bagaimana Mommy tahu Uncle tidak suka Asparagus? Mommy kau tidak sopan! No me Gusta (aku tidak suka)! Mommy mengambil makanan dari piring orang lain!" ujar Train membuat Leyka kelabakan.
Apa alasanmu, Wanita Siluman? Valentino terbahak dalam hatinya.
"Mommy tidak tau, Carino (sayang)-- Lo siento (Maafkan aku) Senor Gallardiev, aku melihat asparagus ini karena sedikit hangus jadi aku akan menukarnya dengan yang lebih baik" ujar Leyka mengambilkan asparagus dari piring oval, dan memberikanya pada Valentino. Alasan itu Train dapat menerimanya dan ia tidak mempermasalahkannya.
Shitt!! Pintar!. Valentino.
"Tidak usah, kebetulan aku tidak menyukainya" Dan Leyka meletakkannya kembali. Manuella, Diego dan juga Leyka terlihat lega melihat Train kembali lahap menyantap makanannya.
"Ngomong ngomong kekasih Mommymu yang dulu, apa kau mengenalnya?" tanya Valentino tidak perduli ketika Leyka menginjak kakinya, ia hanya tersenyum dan kembali mere*mas paha Leyka.
"No! Tapi aku ingin bertemu dengannya"
"Mengapa begitu?" dan Train melihat Leyka dan kedua orangtua baptisnya yang memandangnya penuh intimidasi dan Train mengerti.
"Ehm-- Dia yang pantas untuk Mommyku" jawab Train membuat Valentino tersenyum.
__ADS_1
"Lalu? Bagaimana dengan kekasih kekasih Mommymu dulu?"
"Kekasih kekasiih? No! Mommy tidak punya kekasih selain Damian" Valentino kembali mere*mas paha Leyka.
"Train?" Leyka memberi peringatan.
"Qué (Apa)!! Mommy belum minta maaf padaku karena berbohong! Uncle Gallardiev, tidak jelek, tidak tua dan aku bahkan bisa mencium wanginya dari sini!" Leyka semakin jengkel dibuatnya, saat Manuella, Diego dan Valentino justru seakan kompak menahan tawanya.
"Astaga Leyka, pantas dia begitu kesal bila berkata kepadamu" kata Manuella.
"Itulah Putraku, jangan menentang opininya" ujar Diego sambil menggedikkan bahunya.
"Tapi sepertinya kau tidak menyukai Damian" pancing Valentino lagi. Train meneguk minumannya dengan nafas tersengal.
"Pelan pelan Boy, kau tidak boleh minum terburu buru, kalau kau memiliki riwayat asma nanti asmamu bisa kambuh, kau tidak boleh terlalu bersemangat, saat mau tidur kamu harus minum susu berkalsium tinggi, agar adrenalinmu mereda hingga tidak memicu asmamu saat tidur" ujar Valentino sambil mengusap punggung Train. Leyka, Manuella dan Diego saling berpandangan. Diam diam Leyka mengagumi Valentino dan ia mulai menikmati obrolan mereka.
Valentino bisa menebak, Train asma karena pernah melihat Leyka membeli inhaler di apotik saat pertama kali melihatnya.
"Si si si (iya)! Aku akan minum susu saat mau tidur! Mommy dan Ibuku selalu membuatkannya tapi aku tidak mau! Tapi aku akan minum mulai sekarang, aku menyukai susu di pagi dan sore hari, tapi tidak dimalam hari" ujar Train sangat bersemangat. Ia menyeka mulutnya dengan tisu yang terulur kearahnya, Manuella yang mengambilkan karena ia hafal, saat Train selesai makan ia akan mencari tisu.
Anak ini sangat mirip denganku saat aku kecil. Tidak menyukai susu di malam hari. Valentino tersenyum sambil menyantap makanannya.
"Hisst! Bisa bisanya menurut pada orang asing" desis Leyka mendelik.
"Lanjutkan tentang Damian" pinta Valentino.
"Damian itu, hanya menyukai Mommyku-- Ohh Ibu, terima kasih makanannya enak sekali" ujar Train berbicara dua arah. Valentino, mengerutkan alisnya, ia sangat tertarik dengan kehidupan Leyka dan ia sangat menikmatinya.
"Train, itu tidak benar. Damian sangat menyayangimu" sanggah Leyka.
"Bagaimana kau bisa berpikir, Damian hanya menyukai Mommymu, Carino (sayang)?" tanya Diego mulai ikut penasaran.
"Damian sangat menyayangimu dan memberimu banyak perhatian Train!" ujar Leyka dengan mendengus.
"No Mommy! Itu semua karena Damian hanya mencintaimu. Semua diberikan kepadamu dulu baru kepadaku, dari choco oat, ice cream, pokoknya banyak, pokoknya semuanya. Damian selalu memberikannya kepadamu dulu baru kepadaku" ujar Train mengulangnya, semua meletakkan sendoknya tanpa terkecuali dan mulai serius mendengarkan Train. Silih berganti mereka mulai meneguk air minum.
Diego bangkit berdiri dan membuka wine pemberian Valentino dan menuangkan wine ke dalam empat cawan kaca sambil mendengarkan Train berkicau.
"Apa Mommy tau, Nyonya Nancy Ibunya Paolo? Nyonya Nancy memiliki kekasih, dan kekasihnya itu selalu memberikan apapun kepada Paolo dulu, aku melihatnya sendiri. Kekasihnya itu bila berkunjung, selalu mencari Paolo bukan Ibunya. Berbeda dengan Damian, semua hal Mommy dulu baru aku, karena itu Damian cocok menjadi temanku saja" Valentino bahkan semuanya termasuk Leyka terkesima dengan cara berpikir Train yang sesederhana itu menilai Damian.
"Aku akan membantumu membuat Damian dan Mommymu putus, bagaimana? Deal?" Valentino mengulurkan tangannya dan Train menyambutnya dengan bersorak. Mereka melakukan tos. Leyka mengumpat kesal dalam hati nya.
"Yeeeyyy!! Deal!" sorak Train.
Shit! Memang itu yang kau inginkan, Val.. Dan itu yang diinginkan Train.. Raja setan dan setan cilik ini bersatu.. Tidak tidak.. Ini mengerikan.. Semakin dekat, Train akan semakin terluka.. Ini tidak boleh terjadi.. batin Leyka berkecamuk dan Manuella serta Diego bisa membaca dari sikap Leyka.
Leykaaaa! Baby!
Semua membelalakan matanya, kecuali Train! Mereka saling melemparkan pandangannya. Seperti seorang yang selingkuh tertangkap basah, Leyka dan bahkan semuanya sangat terkejut saat sayup sayup terdengar suara Damian mengetuk pintu, dan memanggil namanya. Leyka reflek mere*mas paha Valentino dan itu membuat Valentino terbelalak.
Pasalnya Leyka tidak menyadari jemari tangan lembut wanita Spanyol itu, sebagian menyentuh miliknya, walaupun terbalut underwear dan celana training, Valentino bisa merasakannya. Disaat semua orang menegang, Valentino merasakan ketegangannya sendiri, dan setengah mati ia harus menekannya, agar jagung bakar Afrika Selatannya tidak menggeliat disaat yang tidak tepat.
Shit, Damian! Leyka.
Shit!! Manuella, Diego
Leykaaa! Baby! Buka pintunya..
"Mirar (Lihat) ! Dia selalu memanggilmu, Mommy! Dia selalu mencarimu, tidak seperti kekasih Nyonya Nancy yang dicari adalah Paolo-- Aku yang akan membuka pintunya" Train menggerutu sambil menuruni kursinya dan Valentino memeganginya kemudian Train berlalu menuju pintu depan.
"Mengapa Damian pulang, bukankah seharusnya masih satu minggu lagi?" tanya Manuella merasakan ketegangan Leyka.
"Aku tidak tahu-- Oh Shit! Aku tidak memeriksa ponselku sejak kemarin!"
Kau tahu Damian, ada tetangga baru yang menolong Mommy karena mabuk, dia laki laki tampan, dia sedang makan bersama kami dan aku melihat-- Ehm, di lehernya itu, Damian. Aku lihat ada bekas gigitan seperti leher Penelope dulu, setelah kencan dengan Ramos si pemilik Bar itu. Apa kau ingat? Sepertinya Mommyku menggigitnya..
Hahaha.. Benarkah?
Si si si (iya) kau lihat saja nanti.. Untung saja kau datang hari ini, Damian..
Mereka membelalakkan matanya mendengar perkataan Train dari kejauhan. Dan mereka semakin menegang.
Shitt!! Setan cilik itu! Aku mengancam Leyka dengan gigitan ini! Dia-- Shitt!! Dia menggunakan langsung untuk menelanjangiku dan Leyka.. Ohh Shitt!! Dia mengadu domba.. Dia memperhatikan segalanya.. Dia sangat pintar dan licik.. Di pihak siapa sebenarnya setan cilik itu.. Batin Valentino menegang.
Leyka menoleh kearah Valentino secara bersamaan, dan ia tersadar tangannya membuat milik Valentino menggeliat dan spontan Leyka memukul sambil menarik tangannya dengan kesal.
"Bisa bisa nya kau disaat seperti ini!" ujar Leyka mengecilkan suaranya.
"Bisa bisa kau mere*masnya disaat seperti ini!" balas Valentino ikut mengecilkan suaranya.
Manuella dan Diego spontan melihat leher Valentino. Train berhasil menghempaskan mereka semua dalam hitungan menit.
"Baby?" panggil Damian dan semua menoleh kearah Damian dengan tegang.
"No Baby Baby! Leyka! Namanya Leyka Paquito!" pekik Train semakin menambah ketegangan siang itu.
-
-
-
kata Valentino : remess abang dong dek.. ketengah dikit.. dikitt lagi.. naik lagi.. nahh iyaa.. disitu.. (adegan mijit mksdnya) 🤣🤣🤣
Rasanya pengen diguyur kopi seember (kode malak) 🤣
-
__ADS_1
-
-