
*Warning! Mengandung kekerasan, mohon bijak dalam membaca dan menyikapi.
Setelah mandi bersama mereka terlihat segar, tidak ada rencana apapun selain mereka packing untuk kepulangan mereka. Valentino harus ke Capetown dan Leyka akan pulang ke Barcelona. Puluhan pesan dari Ibunya, Leyka masih saja mengabaikannya, tidak memberi satupun kabar, ia harus ke Barcelona sebelum pulang ke Palma. Ia harus mengosongkan apartemen pemberian Ayahnya sebelum ia menempatinya dan kembali ke Palma untuk mengambil semua barang barangnya.
Masih ada 27 jam perjalanan, dari Pretoria kembali ke Capetown melalui kereta api The Blue Train, itu pemikiran Valentino. Ia tidak mengetahui, Leyka diam diam mengubah jadwalnya melalui agen perjalanannya bahwa ia akan turun di Johannesburg, hanya 1 jam perjalanan dari Pretoria. 1 jam di kereta api The Blue Train, bukan 27 jam menurut harapan dan pemikiran Valentino.
"Ley, barang barangmu banyak sekali. Begini saja, kita bertukar koper. Pakai salah satu koper besarku, dan tas ranselmu bisa untuk membawa pot benih bunga mawar itu. Aku akan memakai koper merahmu itu-- kecuali kau akan meninggalkan benih bunga mawar dari Ludwig's Roses" ujar Valentino, saat melihat Leyka menggaruk keningnya dihadapan koper merahnya yang penuh pakaian. Valentino membelikan beberapa pakaian dan itu membuat kopernya menjadi penuh, bahkan ada beberapa pakaiannya dari binatu hotel yang belum ia masukkan.
"Ehm. Ide yang bagus. Kita bertukar koper. Dan aku akan membawa benih bunga mawar ini. Aku akan menanamnya di Barcelona. Apartemenku akan dipenuhi bunga mawar itu. Kalau perlu hingga menutupi semua apartemen itu" Valentino terkekeh dan memeluk Leyka dari belakang dan mencium pipi Leyka. Ia masih berdiri didepan ranjang dan melipat satu persatu pakaiannya saat Valentino memeluknya.
"Itu artinya kau akan mengenangnya. Bagaimana bisa kau melupakanku" ejek Valentino membuat Leyka mengerutkan alisnya.
"Setidaknya itu akan membuatku lupa bahwa ada seorang pria yang akan membangun rumah di tepian pantai untuk kekasihnya" sindir Leyka membuat Valentino tersentil
"Mulai lagi" dengus Valentino kembali mengeratkan pelukannya.
"Awas aku akan membongkar kopermu dan aku akan menatanya untukmu" Leyka meronta mengurai pelukan itu dan Valentino justru semakin erat memeluknya.
"Bagaimana. Jika aku membuat rumah di perkebunan bunga? Sepertinya itu tidak akan terkena tsunami. Tsunami itu akan datang diranjang kita setiap malamnya" bisik Valentino justru berhasil membuat Leyka tertawa.
"Kau sudah gila, Val" Leyka terus terkekeh dan itu membuat Valentino terpana. Leykapun membalikan tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh itu, dan kedua kakinya berpijak pada kaki Valentino.
"Tetaplah tertawa seperti ini Ley" kata Valentino, lirih. Karena kedua kaki Leyka berpijak pada kedua kakinya, Valentino pun semakin erat mendekap tubuh Leyka lalu membawa Leyka berjalan menuju sofa di dekat perapian, karena ranjangnya penuh dengan koper dan pakaian.
"Kau juga, tetaplah bahagia disana. Dan semoga kau meraih kesuksesanmu-- Seandainya saja kau bisa ke Barcelona, aku akan berjalan dengan berpijak pada kakimu setiap akhir pekan di taman" hati Valentino terasa sangat saat mendengarnya, ia hanya tersenyum menekan hatinya yang terluka mengingat sosok Diego di Barcelona.
"Barcelona. Apa yang akan aku kerjakan disana? Apa aku harus meninggalkan pekerjaanku di Italy? Kau tau posisiku sangatlah tinggi di perusahaan itu. Ditambah lagi aku menjual rancanganku yang mendapatkan banyak keuntungan, apalagi sekarang ini aku mendapatkannya di Capetown. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku Ley. Kau harus ikut denganku ke Italy, tinggallah bersamaku di Capetown selama pekerjaanku belum selesai. Ley, aku mohon. Tinggalkan Diego. Apa tidak bisa kau-- dengan cepat Leyka memotong perkataan Valentino dengan mendengus kesal.
"Val! Aku akan melanjutkan packing ku. Dan aku lelah membicarakan ini-- Leykapun mendorong tubuh Valentino dan berjalan kembali ke arah koper dan baju baju yang masih berserakan diranjang --Aku bukan siapa siapa. Kau juga bukan siapa siapa. Hubungan kita tidak akan pernah berhasil. Kau hanya nyaman bersamaku. Ketika kenyamanan itu menghilang, maka kau akan mudah menendangku!" Valentino mengepalkan tangannya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia kembali tidak bisa menahan dirinya.
"Aku akan membuatmu bahagia Leyka! Rumah yang luas, mobil, barang barang mewah, bukan di Apartemen yang sempit, untuk bernafas saja sesak! Bukankah semua wanita menginginkan itu saja? Ayolah Leyka, kau akan mendapatkan semuanya tanpa harus bekerja bersusah payah di Barcelona! Kau akan mendapatkannya dariku! Semua uangku untukmu! Tidak ada harapan bagiku untuk sukses di Barcelona!" Leyka terdiam saat Valentino mendekatinya, dia terus melipat dan melipat dengan gerakan kasar. Leyka menahan sesak di dadanya hingga matanya kemerahan ingin meledakkan tangisnya namun amarahnya begitu menguasainya. Leyka terus terdiam dan menganggap Valentino tidak ada.
__ADS_1
"Leyka! Aku menyukaimu! Aku mohon! Kita memang orang asing tapi Leyka, kita berbeda! Tapi bila kau ingin aku tinggal di Barcelona, aku sangat meminta maaf. Aku belum siap untuk kehidupan yang belum jelas, aku akan menjadi pengangguran disana, lama lama uang yang aku miliki akan habis hanya untuk hidup disana! Aku tidak mungkin bisa makan roti dan butter saja! Ley, mengapa kau tidak mengerti juga? Barcelona hanya impianmu. Tapi bisakah kau bangun dari impianmu dan tinggal bersama denganku di Italy?" Leyka semakin terdiam, namun airmatanya mulai berjatuhan. Ia memunggungi Valentino dan gerakan melipat kasarnya menutupi guncangan punggungnya akibat menangis.
"Ley, segalanya harus realistis. Orang harus memilih kehidupan yang lebih baik, cinta tanpa uang tanpa penghasilan tidak akan pernah berhasil. Kau bisa meninggalkan gelar bangsawan, tapi bila aku di posisimu maka aku tidak akan pernah melakukannya. Itu sebuah kebodohan, Leyka! Kau harus tau bahwa kedudukan di mata masyarakat itu penting dan orang dinilai, dihormati karena kedudukannya! Bila ada roti dengan butter dan sepotong cake red velvet, orang akan memilih cake red velvet! Ini contoh yang simpel, Leyka. Wanita hanya perlu memilih red velvet, jadi pergilah bersamaku kau akan mendapatkan red velvet bukan roti dengan butter saja! Bila aku di Barcelona mau berapa lama kita akan makan red velvet?! Satu tahun? Dua tahun? Tiga tahun? Kau pikir aku bisa meninggalkan pekerjaanku demi impian Barcelonamu? Tinggalkan mimpimu yang tidak berarti itu! Aku bisa memberimu segalanya! Leyka aku sangat cocok dan nyaman denganmu!" Leyka masih melipat dan melipat menekan sakit hatinya sangat menyakitkan akan lebih baik tubuhnya terluka dan berdarah.
"Kau bisa melakukan banyak hal bila bersamaku. Aku akan membuatkan rumah ditengah taman bunga seperti di Springbok Park. Leyka, aku mohon, pergilah bersamaku. Mari kita bersama di Italy, aku akan mengurus segalanya, aku akan pulang bersamamu ke Palma dan aku akan menemanimu mengambil semua barang barangmu. Leyka, kita akan punya masa depan bila kita di Italy, bila di Barcelona kita hanya akan mendapatkan masa depan yang buruk. Negaramu sangat jauh dibandingkan di negaraku. Aku akan membuatmu bahagia dan kita tidak akan kekurangan. Kau tidak perlu kuatir akan hari esok!" bertubi tubi Leyka seakan ditampar, airmata yang bercucuran ia terus melipat dengan geram.
"Aku atheis, aku tidak percaya akan adanya Tuhan. Apa kau tau, orang atheis tidak pernah takut akan hari esok bahkan masa depannya. Dia hanya berjalan seperti matahari terbit hingga terbenam. Dan kau percaya akan Tuhan kan?" Leyka menghentikan gerakan melipatnya, ia menyeka kedua pipinya, satu tangannya mere*mas handle koper dan satu tangannya lagi mere*mas beberapa baju yang terhampar diranjang.
"Iya aku percaya. Semua yang terjadi dalam hidup kita, sudah dirancangkan olehNya. Bahkan pertemuan kita bagian dari TakdirNya" Leyka bangkit berdiri setelah mendengarnya lalu membalikkan tubuhnya, Valentino tersentak saat kedua tangan Leyka mendorong dadanya hingga ia melangkah mundur. Namun, bukan itu yang membuat Valentino terkejut. Mata Leyka yang memerah, airmata yang terurai membuat Valentino tidak menyadari bahwa Leyka menangis tanpa bersuara, bukankah itu sangat menyesakkan? Valentino terpana melihatnya.
"Ley" Valentino seketika melembut, ia sangat terkejut melihat wajah Leyka.
Shit! Apa aku melukainya? Lagi? Ohhh.. Shit..
"Kau! Pergilah ke Vatikan dan belajarlah! Apa kau tidak tahu isi Alkitabmu? Bahwa burung saja di pelihara apalagi manusia! Lalu mengapa kau takut akan hari esok! Kau percaya Tuhan kan?! Kau percaya segalanya dirancangkan olehNya! Lalu mengapa kau takut kau hanya akan makan roti atau red velvet sialan itu! Aku atheis! Aku tidak perduli apa yang aku makan! Asal itu bisa membuatku kenyang dan aku akan bertahan hidup!" lagi dan lagi Leyka mendorong dada Valentino hingga ia melangkah mundur.
"Ley--
"Valentino Gallardiev! Aku tahu kau pekerja keras! Aku tahu kau sangat ambisius mengejar kesuksesan dan itu sah sah saja! Kau bukan Tuhan yang bisa tahu masa depanku, baik atau buruknya di Barcelona nanti! Aku tidak menilai baik atau buruknya, aku akan menjalani dengan bahagia, sekalipun aku harus makan roti saja tanpa butter, aku akan menjalani hidupku dengan bahagia! Tolong jangan menghina negaraku karena negaramu juga belum tentu sebaik di Barcelona! Pajak di Italy begitu tinggi dan itu mencekik kalian para pekerja yang menyedihkan!" perkataan Leyka tak kalah pedas, hingga Valentino menyambar lengan Leyka dan mendekatkan wajahnya dengan mendengus penuh amarah.
"Terserah!! Pemikiranmu itu justru, kau seakan akan tidak punya Tuhan! Bahkan aku yang atheis saja, aku tidak takut apa yang akan aku makan esok hari! Satu hal yang aku yakini, aku akan bahagia, sekalipun aku hanya makan roti bahkan roti tidak beragi! Kau meraih kesuksesanmu dengan uang sebagai kepuasanmu! Tapi kebahagiaan adalah kesuksesanku! Bila di Barcelona hanya ada kebahagiaan disana, maka aku tidak akan pernah bangun dari mimpiku! Kau Valentino Gallardiev! Jangan pernah bermimpi, tetaplah bangun kejarlah kesuksesanmu! Suatu hari nanti kau akan mengerti bahwa kebahagiaan adalah segalanya! Kau akan membuang uangmu, kesuksesanmu demi kebahagiaan!" Leykapun menyeka airmata di pipi dan hidungnya dengan kasar. Rasa sakitnya meluap bebas begitu saja.
"Kita memang tidak sepaham! Kita tidak sejalan! Kita tidak cocok untuk masalah ini!"
"Kau benar, kita memang tidak cocok! Karena itulah aku akan menikah dengan Diego! Cinta pertamaku, dan hanya dia yang mau bersamaku di apartemen yang sempit yang menyesakkan dan mau makan bersamaku, makan roti walaupun tidak ada butter! Tapi kami memiliki jiwa bebas, apa adanya tanpa ambisi. Kita hanya meraih kebahagiaan!" Seperti ditampar Valentino meradang. Saling menyakiti saling melukai, Leyka membalas sakit hatinya bertubi tubi, belati yang menancap semakin melesat hingga ke dasar menembus sekat demi sekat hatinya.
"Bagus sekali kau menolakku! Demi kehidupan bebasmu seperti bar bar! Kau bangsawan yang lari dari takdirmu! Kita tidak cocok! Kita memang hanya cocok ditempat tidur! Anggap saja aku membelimu selama di Afrika Selatan!!" dengan cepat Valentino menerjang tubuh Leyka dan dihempaskan di ranjang disisi koper, Valentino melu*mat bibir Leyka tidak perduli Leyka meronta. Namun Leyka sesaat bisa mendorong dada Valentino hingga ia membuat jarak.
"Fu*ck you, Val!!" pekik Leyka tak mengurungkan satu jengkalpun niatnya, Leyka merasa terhina. Ia merasa kembali tersakiti, Valentino menancapkan belati di dan membenamkan seluruhnya. Ya, belati itu sama sama menusuk dalam dan tidak ada seorangpun yang bisa mencabutnya kecuali mereka sendiri.
"Iya aku membelimu, Leyka Paquito!!" Dan tamparan keras mendarat di pipi Valentino. Rasa pedas, perih dan kebas serasa menyengat wajahnya, Valentino memegangi pipinya dengan menyeringai.
__ADS_1
"Apa kau akan memaksaku? Apa kau akan memperkosaku lagi? Bukan kah kau berjanji tidak akan memaksaku lagi? Apakah pria Italy bisa memegang janjinya?!" luruh sudah hati Valentino, matanya berkaca kaca. Leykapun terkesima menatap mata abu abu kebiruan itu, mengucurkan buliran bening. Valentinopun memeluk tubuh Leyka. Memeluknya sangat erat hingga Leyka hanya bisa menangis dengan memejamkan matanya.
Kelelahan dalam pertengkaran itu merambat dalam benak mereka dan mereka justru tertidur hingga menjelang petang. Mereka membuka matanya dalam diam, Valentino sempat mencium kening Leyka dan bangkit berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi. Hanya terdengar gemericik air shower. Leykapun melanjutkan packingnya, menata semua baju miliknya di koper Valentino dan menata baju Valentino di koper merahnya.
Selang beberapa lama, Leyka menyelesaikan semuanya, Valentino terlihat telah mengganti bajunya, mereka terdiam dengan hati yang kian mengganjal hingga tenggorokan mereka.
"Aku ingin mencari udara segar, apa kau mau ikut?" ujar Valentino memecahkan keheningan mereka. Dan Leyka hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku membawa kunci cadangan, tidak usah menungguku makan malam" Leyka hanya diam dan melirik sekilas kearah Valentino.
Valentinopun dengan kesal menuju kearah pintu dan membanting pintu dengan kasar. Hingga Leyka terguncang, airmatanya kembali turun. Ia memutuskan ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya dengan air shower. Tangisannya tidak terdengar namun airmata berjatuhan diseiring air shower terlihat sangat jelas. Leyka ingin berteriak tapi tidak bisa, suaranya seakan lenyap.
Valentino terlihat duduk dipinggir kolam dengan dua botol bir, suasana begitu tenang dan ia merenungkan pertengkarannya tadi. Ia menyulut sebatang rokok ditangannya dengan perasaan kalut.
Pukul 20.00 waktu Afrika, berlalu begitu cepat, hingga bergulir pukul 22.00, Valentino tidak kembali. Leyka tersenyum getir saat terakhirnya di Pretoria, ia justru makan malam sendirian. Pukul 23.00 berlalu dan Leyka memutuskan pergi dari Castello De Monte. Dengan menarik satu koper besar dan tas ransel berisi bunga mawar, Leyka meninggalkan Hotel itu. Mengubur kenangannya.
Leyka menatap bangunan yang dianggapnya kastil vampir, sebelum memasuki taxi yang telah menunggunya. Ia tersenyum dengan meneteskan airmatanya lalu memasuki taxi itu.
Selamat Tinggal, Castello de Monte.. Selamat Tinggal, Val..
-
-
-
roti pake butter aja tuh kaya roti kering bagelan kali ya.. kaya gt makanan orang susah jaman dulu.. eeett.. itu mewah Val.. terus tau roti cane kan.. itu tidak beragi atau kl di indonesia bakwan kali ya 🤣🤣🤣
Tapi kl kalian ke paris di pesisir kotanya banyak yg jual roti yg maksud.. 3 uero dpt roti itu gede dan tueebeel bgt, bisa buat makan 6 orang, rasanya tawar dan seret bgt di tenggorokan, biasanya itu dikasih isian daging ama sayuran trs di panggang baru empuk.. makanya perlu di olesi butter, kalo ga pny butter makan roti aja di celupin susu.. nah itu tuh susah buat di eropa.. 🤣
bagaimana disini? beuh mereka ga tau, jaman dl orang makan nasi jagung, nasi thiwul (dr gaplek/ singkong di keringkan), bahkan jaman jepang makannya bekatul makanya jaman perang penyakit beri beri adalah penyakit yg ngetrend saat itu. Atau nasi aking, nasi kemarin yg di keringin trs di jadiin nasi lagi. ga ada istilah nasi sudah jadi bubur kl org kita mah 🤣 org nasi dijemur bs dimasak lagi.
__ADS_1
Jaman sekarang, nasi jagung ama nasi thiwul malah jadi kuliner yg paling di cari. Sama sayur lombok ijo dan ikan asin.. aahh laperr 🤤🤤🤤🤤
jangan lupa tinggalin likenya disini 🤤🤤