FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Aku Sangat Sedih Tia, Judith


__ADS_3

Setelah mendapatkan kabar dari Ibu Baptisnya yaitu Dolores. Pedro, Maria dan juga Matthew yang sesungguhnya ingin pulang, akhirnya mereka berlarian tunggang langgang menuju Distrik Miel. Pedro menutup Kedai Double P secepat kilat. Dan disaat yang bersamaan Jared, Torres dan juga kedua orangtua Valentino, memasuki Distrik Miel dan membawa mobil yang mereka tumpangi ke parkir basement Distrik itu.


Sementara itu, Manuella, Penelope juga Diego berlarian di lorong lantai tujuh dan mereka terkejut Leyka juga Valentino menggedor pintu kamar.


"Leyka!" seru Manuella terengah engah dengan bercucuran airmata. Semua berkeringat dan terengah - engah mengatur nafas lega karena Train ada bersama Leyka.


"Manuella, Train! Train mengetahui segalanya!" kata Leyka dengan lantang.


Sementara Valentino sudah tidak sanggup lagi menggendor pintu, ia lelah karena Train tak kunjung membuka pintunya, Valentino terus memohon dengan segala kelembutannya, "Blue, Lo siento. Perdonami. Daddy datang Blue.. Buka pintunya.. Perdonami.. Blue, Daddy merindukanmu"


"Train!" Diego.


"Carino!" Manuella.


"Noo! Noo! Kalian pembohong! Kalian jahat!" pekik Train dari dalam kamar. Ia mengenali semua orang orang yang memanggilnya, bahkan dengusan Penelope.


Train terdiam dan mengedarkan pandangannya. Ia mendekap celengannya bersama sebuah kaleng biskuit berbentuk kotak yang berisi 'harta karunnya'. Benda benda sentimentil yang menurutnya penuh kenangan yang ia kumpulkan di tempat rahasianya. Kaleng Harta Karun, Train menjulukinya.


"Maafkan aku, ini semua karena aku kelepasan berbicara!" isak Manuella dengan tersedu sedu, Diego yang berdiri disamping Manuella kembali merangkulnya.


Leykapun membulatkan matanya dan seketika emosinya memuncak, "Apa? Kau yang melakukan ini?! Manuella-- Aku percaya padamu!"


"Ley, aku tidak tahu kalau Train bersembunyi! Aku tidak tahu Train ternyata ada di kamar. Bahkan Tia juga tidak mengetahui kapan Train masuk kamar! Leyka, lo siento-- Ini semua salahku!" Manuella pun tersedu di dada Diego karena tangan kekar itu meraih pundaknya dan membawanya kedalam pelukan yang menguatkannya.


Leyka mengingat bahwa pintu Apartemen Dolores terbuka tapi tidak berpenghuni. Itu biasa Dolores lakukan bila memasak. Leyka kemudian memalingkan wajahnya kearah Valentino, yang merentangkan tangannya di pintu dengan menempelkan dahinya, ia terus memohon.


"Blue, buka pintunya-- Valentino menyeka hidung dan Train mendengarnya dari dalam --Biarkan Daddy memelukmu sebentar saja" Train menempelkan tangannya di pintu dan ia menangis.


"No Uncle" jawab Train lirih, dan membuat semua memandang kearah Valentino, sebuah pemandangan yang begitu menyesakkan.


"Blue, ini Daddy. Bukan Uncle" dan isak tangis Train terdengar dan membuat semua yang mendengarkannya dari luar pintu, seakan tersayat.


Train menjauh dari pintu dan berjalan kearah meja dimana ada pesawat telepon yang ada di kamar Leyka selain di dapur. Train meletakkan kaleng harta karunnya dan celengannya di meja, Train pun menelepon seseorang.


"Hola, Tia.. Judith.. Bisakah.. Kau.. Datang menjemputku?" Semua yang mendengarkan suara Train membulatkan matanya, Leyka pun mendorong Valentino agar bergeser ke samping karena Valentino seakan memenuhi pintu.


"Trainnnn!! Noo Trainn!! Trainn Apa yang kau lakukann!" pekik Leyka dengan menggedor gedor pintu. Tentu saja Leyka menjadi panik, karena ketakutan terbesar Leyka adalah saat Judith dari dinas sosial membawa Train.


Train terdiam dan terisak, sudah pasti Judith panik dan menanyakan apa Train baik baik saja dan apakah terluka. Karena jawaban Train kemudian, terdengar begitu jelas mengatakan kondisinya, "Aku.. Baik baik saja.. Aku tidak terluka.. Tapi aku.. Ingin ikut denganmu saja. Semua pembohong. Aku sangat sedih Tia Judith! Bisakah kau mencarikan aku sebuah keluarga agar namaku berubah. Aku hanya Blue Train sialann-- Aku akan menunggumu, di tempat favoritku" Train meletakkan telepon yang di genggamnya, ia menyeka airmatanya berulang ulang.


Train sangat terluka, ia menyemprotkan inhaler kedalam mulutnya, dadanya terasa sesak. Setelah lega, Train mengambil kotak harta karun dan celengannya lalu mendekapnya, ia kembali berjalan kearah pintu.


"Bluuuee!! Tidakk Bluee! Daddy tidak sanggup tanpamu! Jangan katakan itu!! Bluee!"


"Nooo! Aku hanya Blue Train sialaann! Pergilah kalian semua! Kalian membohongiku! Aku Blue Train sialan! Blue Trainn sialaann!!" Dan akhirnya Train meluapkan kemarahannya, dia menjerit jerit dengan menendangi pintu.


Leyka pun justru histeris, "Aaaa! Trainnn!! Aaaa! Trainnn.. Trainnn!! Aaaa! Ini semua gara gara kau! Kau laki laki pecundang! Kau menyakiti putraku!!"


Leyka memukuli Valentino dengan mengamuk, ia menendang dengan menjerit histeris, untuk kali kedua, Leyka bisa menangis dengan bersuara. Tangisan dengan bersuara yang pertama adalah saat ia menerima sebuah foto Elara Miucia yang datang saat Leyka hamil di bulan ke-sembilan.


Pertengkarannya dengan Manuella membuat Leyka terjatuh dan melahirkan Train. Salju pertama turun saat itu. Leyka histeris dan menangis dengan menjerit jerit. Manuella mengingatnya. Dan ini sangat menyakitinya, karena Train mengetahuinya dari Manuella. Lagi lagi Manuella menyalahkan dirinya. Ia menangis pilu di pelukan Diego yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Trainnn! Itu bukan Kereta sialann! Itu kereta cinta Train! Itu bukan kereta api sialann! Aaaaa! Trainn itu kereta api yang penuh cinta! Trainn Itu kereta pertama kali Mommy jatuh cintaa! Traainnn! Aaaa! Jangan tinggalkann Mommy! Lo sientooo Traainn!" Leyka pun lelah memukuli Valentino ia luruh ke lantai dan memegangi pintu dengan menangis tersedu sedu. Kehilangan Train adalah sesuatu ketakutan terbesarnya, membayangkan Train di asuh oleh keluarga lengkap, itu membuat ulu hatinya kian nyeri.


"Blueee! Perdonami! Bluee! Aaaargh! Blue!! Kau hal terbaik Blue!! Perdonami!" Valentinopun turut luruh ke lantai di samping Leyka ia menangis memohon pada Putranya yang terdengar menyemprotkan inhaler berulang ulang dengan terisak isak.


Leyka kembali histeris, kali ini Leyka membabi buta memukul, mencakar dan menjambak Valentino, jiwa bar barnya ia kerahkan semua, hingga Penelope menahan tubuh Leyka dan menjauhkan dari Valentino yang menunduk dengan kedua tangan diwajahnya, melindungi dan mempertahankan diri dari amukan Leyka. Valentino pasrah, ia tidak akan melawan karena ia menyesal dengan apa yang di ucapkan. Dan ini adalah pelajaran terbaik baginya.


Leyka terus menjerit, dan meronta


"Kauuu!! Semua gara gara kauuu! Kau pecundangg! Kau brengsekk! Kau mengatakan kereta api sialaann!! Kauu brengseekkk!! Aaaa ! Aku membencimuuu!! Kau yang siaalaann!! Aku semakinn membencimuuuu Valentino Gallardiev!! Aku bencii.. Aaaa!! Bunuh saja akuu bila aku kehilangan Putraaku!! Tidaak! Traainnn! Aaaa!! Aaaa!!"


"Ley, tenanglah. Aku tidak akan membiarkan Judith membawa Train! Aku akan menghadapi seluruh Dinas Sosial bahkan Negara ini. Aku tidak akan membiarkannya bahkan keluarga Fernandez, akan maju merebut Train! Bullshhit dengan Hukum" ujar Penelope membuat Leyka tenang.


Valentino pun beranjak secepatnya dan dengan tangkas ia memeluk pinggang Leyka, dengan posisi berlutut, ia membenamkan wajahnya di perut Leyka, ia mendekapnya sangat erat seakan kedua tangannya yang menaut, terpatri disana.


Valentino memohon, "Ley.. Ampuni aku.. Ampuni aku Leyka.. Ampuni aku.. Perdonami Mi Amor.. Perdonami (maafkan aku cintaku).. Mia cara amore mio dolce vita muoio il mio respiro (sayangku cintaku manisku hidup matiku, nafasku).. Aku salah Il mio Amore (cintaku).. kereta itu adalah cinta kita.. Kereta itu saksinya.. Leyka aku menulisnya.. Mia cara (sayangku; Italy).. Lo siento.. Lakukan apapun yang kau inginkan.. Jangan membenciku.. Pukuli aku sampai kau mematahkan tanganmu! Tapi jangan membunuhku.. Aku ingin hidup dan membuat anak kita bahagia Mia Cara (sayangku)--


Ceklek!


Pintu terbuka dan Train penasaran dengan pemandangan itu. Semua terdiam dan menoleh kearah pintu. Semua membulatkan matanya dan berbinar melihat Train. Semua berhamburan ingin memeluknya tapi sebelum itu terjadi, Train justru berlari keluar kamar menuju pintu depan.


"Blueee!"


"Trainnn!


"Carinhooo (sayang)!"


"Mi Carinhoo (sayangku) !"


Semua berteriak dan berlarian mengejar Train. Semua berhamburan keluar apartemen dan disaat yang bersamaan Jared Torres dan kedua orangtua Valentino, berjalan kearah mereka.

__ADS_1


"Jared Torres! Tangkap Putraku!!" perintah Valentino dengan lantang. Namun dengan cepat Train menendang kaki Torres yang berusaha menghadangnya.


"Hei ada apa?!" Alfonso kebingungan karena melihat cucunya berlarian melewatinya. Begitu pun Rhosana. Namun akhirnya, mereka mengikuti langkah kaki Train. Mereka cukup cepat menangkap bahwa terjadi sesuatu sehingga Train berlari dan keluarganya mengejar setan cilik itu.


"Awww! Shitt!!" gerutu Torres dengan meringis saat Train menendang tulang kering kakinya dan ia mengejar Train yang telah memasuki pintu lift.


Train menekan tombol berulang ulang, agar pintu lift itu segera tertutup. Train menekan tombol basement sebagai tujuannya. Semua melihat pintu lift tertutup, melihat tujuan Train adalah Basement. Mereka memasuki lift tanpa terkecuali. Leyka menekan tombol basement dan Valentino menekan tombol angka satu.


"Putraku akan turun di lantai satu. Dia akan mengecoh kita, Putraku cepat belajar seperti aku. Dan Putraku belajar kelicikan dari Mommynya, untuk mengecoh. Kata Putraku-- Dia Mommy terbaik sejagat raya! Aarghh!" Valentino memekik dan memukul dinding lift hingga suaranya terdengar nyaring.


"Diam!!! Berteriaklah di lapangan! Atau aku akan melemparmu keluar!! Dasar Pec*undang!!" maki Leyka sambil memukul Valentino.


"Sudah sudah.. Jangan bertengkar" suara lembut Rhosana membuat semua terdiam. Hingga lift itu terbuka dan mereka berhamburan keluar, disaat yang sama mereka mendengar Pedro memanggil Train.


Valentino benar, Train mengecoh dengan menekan tombol basement. Padahal tujuan yang sesungguhnya adalah lantai satu. Dan saat Train sampai di lantai satu ia berpapasan dengan Pedro, Maria, Matthew, juga telah ada Simon dan Damian yang mendapat kabar dari kedai yang tutup belum waktunya.


"Pedro! Train lari kemana!" Leyka bertanya sambil berlarian.


"Kearah samping kiri!" jawab Pedro sambil berlari.


"Dia akan ke tempat favoritnya!" ujar Valentino membuat Pedro menghentikan langkahnya. Dan semua juga berhenti, dan semua melihat kearah Pedro.


Dengan terengah engah dan memegangi perutnya, Pedro berkata, "Tempat.. Favoritnya? Haahhh! Setan cilik itu akan mengecoh kita! Shitt! Ikuti aku! Aku tahu tempat favoritnya!" Pedro mengambil nafas dalam dan kembali berlarian ke arah yang berlawanan.


"Dimana Pedro!" tanya Penelope sambil berlarian.


"Taman yang ada ayunannya! Tempat para tetangga bergosip!" jawab Pedro mempercepat langkah kakinya.


"Shiittt! Pantas setan cilik itu mengerti banyak hal!" ujar Penelope berlarian mendahului Pedro. Jika bertanding lari, Penelope selalu juara di antara keluarga Fernandez, dan kegiatan itu kadang mereka lakukan untuk menunjukkan siapa yang terkuat diantara keluarga Fernandez.


-


-


-


Dan benar saja saat mereka sampai di tempat favorit Train, disana telah ada Judith yang mengunggu dengan cemas. Ia berjalan mondar mandir di dekat ayunan yang terikat di pohon besar, ada beberapa tempat untuk bermain anak anak, posisinya di dalam Distrik Miel. Ada kolam renang yang dibuka setiap hari hingga malam.


Kebanyakan penghuni Distrik Miel menghabiskan sore hari disini bersama anak anak mereka. Berbeda dengan keluarga Fernandez yang menghabiskan waktunya di taman dengan air mancur sebelum memasuki lobby utama yang berada di luar, karena disana pepohonan lebih rimbun.


"Judith! Dimana Train! Aku mohon jangan membawanya! Aku bisa tiada! Judith aku akan ke kantormu, bersama laki laki pecunndang itu! Tapi semua terlanjur terbongkar!" Leyka menceracau dengan kepanikannya, Leyka mencengkeram kedua lengan Judith dan mengguncangkannya.


Judith menghela nafas dan menjawab, "Aku sudah mengatakan padamu untuk berhati hati, aku menantimu dan Valentino juga Train. Tapi kau tidak kunjung datang, Leyka"


"Si!! Rencanaku membawamu ke Dinas Sosial bersama Train, karena hanya Judith yang bisa menyampaikan kebenarannya, Judith bisa melakukan pendekatan kepada anak anak, tapi kau menghilang berhari hari lamanya, setelah kau mengetahui kebenarannya!" ujar Leyka dengan ketus.


"Leyka, Lo siento-- Aku bersalah. Aku seharusnya--


"Carinooo!" pekik Manuella memotong perkataan Valentino, Manuella menyongsong Train dan bahkan Leyka juga Valentino berlarian kearah Train yang terkejut karena semua orang telah sampai terlebih dahulu. Dolores pun telah tiba disana, karena tetangganya yang mengatakannya. Kabar cepat menyebar, itu karena semua dinding distrik itu memiliki telinga.


"Blueee!" Valentino memanggil dengan berteriak.


"Mi Carino (sayangku)!" pekik Leyka. Mereka berlarian kearah putranya.


"Noooooo!! Nooo! Jangan mendekatiku! Noo!" Train menjerit hingga melengking, semua menghentikan langkahnya kecuali Valentino.


Train justru menghentikan langkahnya dan menjerit, "Nooooo!! Menjauhlah dariku!" Seketika Valentino menghentikan langkahnya.


"Blue" kata Valentino begitu lirih, kata yang mengandung penyesalan terdalamnya. Penuh rasa bersalah.


"Traainn" dan Leykapun melembut. Ia bercucuran airmata melihat Train begitu terluka, hatinya sangat hancur melihat Train.


"Noo!" Train kembali berlari kearah Judith, namun beberapa langkah Train terjatuh dan celengan yang di dekapnya pecah seketika, isinya terburai kemana kemana.


Semua memanggil namanya secara bersamaan dan ketika Valentino ingin menolongnya, namun Train dengan cepat bangkit berdiri dan mengusap lututnya.


"No! Tidak usah menolongkuu! Siapapun tidak usah menolongku" Valentino kembali berhenti. Alfonso yang melihat itu, teringat pada Valentino kecil yang tidak mau ditolong dalam hal apapun, bahkan sampai detik ini, Valentino tidak mau ditolong oleh Keluarganya, Valentino memilih mengerjakan sesuatu dengan caranya sendiri. Alfonso berkaca kaca melihat Valentino yang duduk berlutut memandangi Train dengan berurai airmata. Rhosana menangis melihatnya. Bahkan semuanya.


Train memunguti satu demi satu uang yang berserakan, ia mengambil terlebih dahulu uang kertas. Tetangganya Mister Takeshi yang kebetulan dari mini market, melihat itu dengan perasaan miris, ia melihat tangan Train penuh uang kertas dan Train seperti kebingungan menempatkan uang itu, lalu Mister Takeshi menghampirinya.


"Aku tidak bisa menolongmu, tapi kau bisa meletakkan uangmu disini" Takeshi mengeluarkan roti yang dikemas di dalam plastik dan sebotol arak lalu menyerahkan kantong belanjaan yang terbuat dari kertas.


Train menyeka hidungnya dan menerima kantong kertas berwarna coklat berukuran sedang. Lalu ia memasukkan uangnya sambil berterima kasih, "Gracias, Mister Takeshi. Kau sangat baik"


"Si aku orang baik dan selalu berkata jujur, saat aku mengatakan tetanggamu pria tampan bukan laki laki tua bernama Sergio, semua tidak mempercayaiku" Takeshi pun duduk di kursi taman di dekat Train, dan membuka rotinya.


"Aku tidak bisa berbagi roti denganmu, Train" ujar Takeshi.


"Aku tidak suka roti tanpa butter, itu sangat menyakitkan bila ditelan. Aku menyukai Red Velvet. Karena aku Red Velvet dari Italy" ujar Train berurai airmata, ia terus memunguti koin demi koin uang itu. Valentino hancur melihatnya apalagi Leyka.


Leyka pun ikut memunguti uang koin satu demi satu dengan terisak. Train melihatnya dan bangkit berdiri, "Noo Mommy! Kau tidak boleh memunguti koin. Kau wanita. Wanita tidak boleh melakukannya. Hanya laki laki yang boleh. Biar aku saja!" seru Train menumpahkan airmatanya, Leyka bangkit berdiri dan memasukkan uang ke dalam kantong itu. Leyka terisak dan Manuella memeluknya.

__ADS_1


"Aku laki laki dan boleh memungutinya!" ujar Pedro. Dan Train diam.


"Ya aku pun laki laki. Walaupun aku mudah menangis aku adalah laki laki!" kata Simon, Train meliriknya sesaat dan terus memunguti uang koin itu.


"Walaupun aku tampan aku tidak masalah memungut uang koin!" ujar Torres dan Train menyeka airmatanya.


"Aku orang yang pandai berhitung. Uang koin ini sangat bernilai, karena itu aku harus memungutnya" ujar Jared. Train masih diam.


"Aku juga laki laki sejati, uang koin mengingatkanku pada velg Mustank-ku yang berkilau" ujar Matthew ikut memungut koin yang berhamburan, Train melirik Matthew sesaat.


"Kau pernah memintaku menjauhi Mommy-mu saat Daddy-mu datang. Tapi aku akan tetap mendekatimu, karena aku adalah temanmu" ujar Damian sambil membelai rambut Train. Ia masih diam dan menyeka matanya.


"Uang koin ini terlalu banyak, ini butuh bantuan Ayah. Karena kau dulu selalu membantu Ayah memperbaiki mobil tua kita" ujar Diego.


"Rhosana, apa kau ingat Valentino kecil? Dia sangat mirip dengan cucuku-- Alfonso turut memunguti koin koin itu ---Dia tidak pernah mau dibantu siapapun. Dia mengatasi masalahnya dengan caranya sendiri. Dia sangat mandiri. Sampai sekarang 'berandalan' itu tidak mau dibantu siapapun" kata Alfonso. Train mengangkat wajahnya dan memandangi Alfonso lalu melirik Valentino yang duduk terpaku dengan kepala tertunduk. Ia tidak sanggup melihat Putranya memunguti koin dengan berlinangan airmata.


Aku tidak akan membiarkan Judith membawa Putraku. Apapun yang terjadi. Valentino.


Semua laki laki membantu Train yang terdiam memunguti koin koin itu dan Valentino yang masih terduduk mencoba berbicara, "Apa Daddy boleh memungutnya?"


"No! Kau tidak pantas Uncle. Aku hanya Blue Train siallan. Kau tidak perlu menolongku!" ujar Train tanpa menoleh.


"Kau berkata seperti itu? Ya Tuhan, Diev! Mengapa kau tidak bisa menjaga mulutmu?" Rhosana menutup mulutnya yang menganga seakan tak percaya. Valentino bangkit berdiri dan menghela nafas dalam lalu membuangnya dengan berteriak sangat keras, "Aaaaarghhh!!" ia mengatur nafasnya, menyeka pipinya yang selalu saja basah.


Valentino menghampiri Leyka dan mencengkeram lengannya, "Apa yang kau lakukan pada Putraku Leyka! Leykaaa!"


"Aku tidak melakukan apapun! Kau.. Mengapa kau datang dan menghancurkan segalanya! Mengapa kau datang dan mengambil kebahagiaanku! Hanya karena aku mengubah jadwalku? Hanya karena aku tidak mau ikut denganmu ke Italy?!" Leyka menepis tangan Valentino dan menyeka airmatanya.


"Leyka.. Jika kau ikut maka Train tidak begini" tuding Valentino kearah Train yang telah bangkit berdiri dan melihat pemandangan itu dengan tertegun. Ia menggigit jarinya dengan airmata yang mengalir.


"Dan jika kau melepaskan ambisimu, Train akan mengenalmu! Kau akan menemaniku saat aku hamil, melahirkan, membesarkannya. Kau akan mengajarinya berjalan, bersepada, kau bisa menenangkannya saat dia selalu histeris tiba tiba! Aku wanita!! Bila kau mencintaiku, mengapa kau tidak menunjukkan rasa cintamu dan berkorban untukku! Kau ingin aku mengejarmu? Aku bukan perempuan murahan! Karena itulah aku menolak dua juta dollarmu! Aku hanya ingin kehidupan normal, Val! Di sebuah pernikahan yang hangat! Di tengah masyarakat yang saling perduli satu sama lainnya! Mengapa kau tidak mengerti! Mengapa kau tidak mau turunn, Val!" Leyka memukuli dada Valentino berulang ulang sambil menangis tersedu sedu, dan begitu lelahnya menangis Leyka menyandarkan dahinya di dada Valentino.


Leyka melupakan Damian yang berkaca kaca dengan hati teriris sembilu. Damian terus memunguti uang koin, ia tidak mau melihat kearah Leyka dan Valentino.


Valentino mencengkeram kepala Leyka agar semakin mendekat kearahnya, ia berkata penuh penekanan, "Aku turunn Leykaaa!! Aku turunnnn! Lalu mengapa kau tidak menoleh sedikitpunn! Sedikit saja Leyka!!"


Dan sahut sahutan sambil menarik urat leher kembali terjadi diantara mereka, Train terdiam saat Pedro mengambil kantong kertas yang telah terisi uangnya dari genggamannya, ia terkesima dengan pertengakaran kedua orangtuanya.


"Aku naikk, Val! Aku kembali!--


"Aku turun untukmu Leyka-- potong Valentino.


"Aku menerobos masuk ke ruang boarding, Val--


"Aku membuat kekacauan Leyka--


"Aku melihat kereta berjalan-- potong Leyka dengan menangis.


"Aku membuat petugas terluka--


"Aku ditangkap Val!--


"Aku ditangkap, Ley!--


"Aku diperiksa!--


"Aku di deportasi, Leykaa!!-- potong Valentino.


"Aku di deportasi!-- Leyka membulatkan matanya, lalu melanjutkan perkataannya dengan melembut --ke Palma" lirihnya.


"Ke Italy" lanjut Valentino dengan mendekap Leyka kemudian.


"6 jam kemudian" ujar Valentino.


"Si, 6 jam kemudian" kata Leyka dengan menghapus airmata Valentino.


"Karena itulah aku di Palma saat kau datang ke Barcelona" imbuh Leyka lagi.


"Aku dipenjara setelah itu" Valentino menyeka airmata Leyka yang melupakan kebenciannya untuk sesaat, karena tatapan Valentino membuatnya seakan berada di Pretoria.


"Val-- aku lari dari Palma, karena Locki ingin menggugurkan kandunganku. Diego bukan kekasihku. Diego dan Manuella sudah menjadi sepasang kekasih saat aku tiba di Palma" penuturan Leyka membuat Valentino naik pitam, ia melepaskan cengkeramannya dan berteriak penuh amarah. Leyka pernah melihat itu di Pretoria.


"Menggugurkan kandunganmu?! Shiiittt!! Aarrghh! Aku akan membunuh laki laki itu! Aku akan membunuhnya! Beraninya diaaa!!"


Train berdiri terpaku melihat Valentino yang menendang meja taman, tak puas ia menendang tempat sampah dan mengamuk.


"Val Hentikan! Kau dan aku bisa dideportasi ke Italy! Ini bukan negaramu!" Valentino terdiam seketika saat Jared menghardiknya. Kesadarannya menghilang sesaat lalu kembali lagi.


"Dia sangat kereenn.. Woow!" Gumam Train.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2