
Leyka mengambil nafas dalam, saat Valentino melepaskan cengkeramannya. Valentino memeluk Leyka seeratnya sambil membelai rambutnya.
"Aku tidak akan menjadi Luka lagi untukmu dan Train. Aku akan selalu bersamamu. Mari kita jalani sisa hidup kita dan berbahagia Leyka. Kau Istriku, kau milikku. Aku berjanji-- Leyka dengan cepat menyanggahnya dan beringsut dari pelukan erat itu, Leyka meletakan jemari lembutnya di bibir Valentino dan merayapi.
Mata Valentino yang semburat kemerahan menatap hangatnya mata Leyka yang meneduhkan jiwanya. Mata indah yang menghanyutkannya, mata yang sama seperti saat dulu di Pretoria.
"Val, jangan menjanjikan apapun. Jalani saja hidup kita dan menikmatinya. Tapi aku hanya berharap kau tidak akan pernah meninggalkanku lagi, sekalipun aku memintanya" Leyka nyaris berbisik dengan tersenyum. Valentino mengecupnya sesaat seraya terus membelai rambut coklat yang harum seharum madu, semanis kisah mereka di Distrik Miel.
"Sshh.. Aku tidak akan pernah berpaling darimu, Leyka.. Mari kita saling berbicara terbuka dan selalu jujur. Jangan pernah menahan atau membelenggu perasaan kita. Aku Valentino, aku Pretoria-mu" mata Leyka berkaca kaca mendengar lembutnya suara Valentino yang menggetarkan hatinya yang kian bersorak bahagia.
Leyka pun mengembangkan senyuman memikatnya, lalu memeluk Valentino dengan membenamkan wajahnya diceruk leher pria Italy yang memiliki aroma se*xy dan selalu membuatnya terlena.
"Si-- Kau Pretoria-ku. Dan selamanya kau adalah Pretoria-ku. Kita akan menghadapi apapun bersama, Val. Segala duri atau entah kutukan dari Dewa Kesuburan atau hukuman dari Tuhan atau karena memang Takdir mempermainkan kita atau karena memang ini adalah bagian hidup yang harus kita jalani-- Kita akan selalu bersama menjalaninya, kita akan mematahkan kutuk bersama dengan Cinta"
"Ahh Leyka-- Kau Pretoriaku! Pretoria yang selalu singgah dalam angan - anganku selama jauh darimu" Valentino pun menumpukan kakinya di pinggul ramping itu. Tubuh Leyka merangsek seakan tenggelam di tubuh kekar Valentino yang kokoh menyambut pelukannya.
"Dan aku selalu menunggu Pretoriaku-- Tapi, kau kemarin selalu menjadi badut yang menggemaskan dan terkadang menyebalkan" Leyka terkekeh dengan mengusap bahu Valentino sesekali ia mencium leher Valentino yang terus mendekapnya dengan erat.
"Itu karena aku tidak bisa memilikimu dan aku menahan diriku. Kemarahanku yang terkadang sulit di kendalikan dan membutakan akal sehatku. Aku sangat ingin meluapkannya bersamamu tapi itu tidak mudah, kan?-- Aku pikir kau mencintai Damian" mendengar perkataan Valentino, Leyka mendongakan kepalanya dan Valentino kembali menatapnya.
"Aku ingin sekali mencintainya. Aku menyerah karena aku pikir kau tidak akan pernah datang-- Val-- Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Leyka mencondongkan wajahnya dan menggesekan hidungnya ke pemilik hidung pinokio itu.
"Apapun itu, Mi dulce Esposa (Istriku yang manisku; Spanyol)" Leyka mengecup bibir Valentino sesaat, kata Valentino dengan bahasa Spanyol menghangatkan hatinya.
"Il mio bel Marito, (suamiku yang tampan; Italy) bolehkah aku menemui Damian. Bolehkah aku menyelesaikan segalanya secara baik baik? Dia masih menungguku sampai perjanjian Train berakhir" ujar Leyka membuat mata Valentino membulat saat Leyka memanggilnya dalam bahasa Italy. Dan Valentino tersenyum merekah, di Pretoria mereka saling bertukar bahasa yang pada akhirnya menjadi ciri khas kisah mereka.
"Kau meminta izin dariku?" Jantung Valentino kembali berdegup kencang, tubuhnya menghangat. Rasa dihargai sebagai suami, rasa dianggap dan diakui pernikahan massal itu membuat adrenalin kebahagiaan juga keharuannya seakan meluap.
Leyka bisa merasakan sentuhan Valentino yang mere*mas pinggang dan bokongnya begitu kuat, bahkan tangan Valentino yang ia gunakan sebagai bantalan kepalanya, telah menekuk dan mengungkung pundaknya.
"Si" jawab Leyka dengan dada bergemuruh, karena ia menyadari tatapan Valentino begitu liar seakan ingin menerjangnya.
"Ley, kau meminta izin?-- Dariku Ley, dariku?" Valentino memastikannya sambil mere*mas pinggul Leyka, kakinya semakin kuat menaut dan Leyka tak bisa bergerak.
"Ishh, apa salah aku meminta izin dari Suamiku dan bila perlu kau ada disisiku" menyadari sang Toro akan mengganas, Leyka mendorong perlahan dada Valentino namun sia sia.
"Ohh Leyka!" Valentino justru melu*mat kedua bibir Leyka yang menghangat, Valentino menghi*sapnya seiring helaan nafas dalam, ia menghirup dan mencuri segenap oksigen disekitarnya hingga Leyka tersengal. Akhirnya, Leyka menepuk nepuk pundak Valentino karena ia merasa kesakitan.
"Val-- Nghhhh.. Sakit ishh!" Leyka memukul lengan Valentino dengan bersungut dan meraba bibirnya yang terasa perih dan juga kebas.
"Lo siento.. Aku terlalu bahagia, Ley" kecupan dengan penuh perasaan mendalam, mendarat di kening Leyka dan mendebarkan hatinya. Leyka pun tersenyum dan menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi lalu merayapinya ke rahang kokoh Valentino yang dipenuhi bulu bulu kasar.
"Val-- Aku mencintaimu dan aku sangat bahagia. Mari kita jadikan Barcelona seperti Indahnya Pretoria" bisik Leyka dengan lembut.
"Ohh Shitt.. Leyka.. Hati hati dengan perkataanmu karena aku bisa melewati batas!" Valentino menyambar kedua tangan Leyka yang menangkup diwajahnya lalu ia mendorong tubuhnya merosot ke bawah, menikam setiap inci leher Leyka sesekali melu*mat daun telinganya dengan ganas.
"Vaall.. Ohh Shitt.. Aarrghh.. Valll!" Leyka menjerit saat Valentino mere*mas buah dadanya lalu menji*lat dan menggigitnya, memberikan tanda kemerahan. Leyka meliuk liuk menghindari serangan terjangan Valentino yang semakin perih di area dadanya.
Namun hasrat Leyka kembali bergejolak, saat milik Valentino perlahan mengeras dan menusuk nusuk pahanya, Valentino semakin menekannya dengan menggoyangkan pinggulnya. Leyka berusaha membalikan tubuhnya saat Valentino menikam ketiaknya, Leyka sangat kuwalahan melihat keberingasan Valentino.
Leyka pun berhasil memunggungi Valentino dan menyembunyikan dadanya namun Valentino tidak kehilangan cara, untuk meluapkan hasratnya. Ia justru menindih tubuh Leyka hingga tubuh bak gitar Spanyol itu tengkurap.
"Aku mencintaimu.. Aahh.. Mi Esposa (Istriku)" Valentino menyingkirkan rambut di belakang leher Leyka, lalu mencumbunya dengan berbisik ditelinga, lalu menghi*sapnya dengan kuat.
"Vaal.. Aahh.. Sakit.. Val.. Aahhh Vall" Valentino menyusuri punggung Leyka dengan mulutnya, menji*latinya lalu menggesekan dagunya sesekali dan memberi gigitan kecil. Ketika Leyka merintih kesakitan, Valentino baru akan melepaskan jeratannya. Rin*tihan Leyka semakin membuatnya buas.
"Aku mencintaimu.. Ough.. Sangat mencintaimu!" satu tangan Valentino menelusup kembali ke area dada dan satu tangannya menelusup ke area irisan buah Peach, membuka celah untuk menemukan buah mungil yang membuat Leyka mend*esah panjang.
"Aahh Vallll.. Pe..Laann.. Aaahh!" dengan mata terpejam Leyka menikmati setiap sentuhan Valentino yang melambungkan gairahnya. Leyka memiringkan tubuhnya, dari belakang Valentino semakin leluasa memainkan jemarinya dengan lincah di area miliknya yang telah memanas.
"Kau milikku.. Selamanya.. Ouggh.. Aku.. Shhh.. Merindukanmu.. Peach" sementara tangan yang lain mere*mas padatnya buah dada Leyka. Valentino terus berbisik dari belakang telinga Leyka dan menatap wajah Leyka yang meri*ntih rin*tih. Valentino semakin menegang.
"Vaal.. Aaa... Aaahhh!" Leyka pun menahan tangan Valentino, yang berada di area miliknya, melihat wajah Leyka dari samping kian memanas, Valentino melepas semua jeratannya.
Kemudian Valentino bangun dan berdiri dengan kedua lututnya yang menekuk. Kemudian Valentino meraih pinggang Leyka hingga posisi tubuh Leyka merangkak. Leyka tau Valentino menginginkan posisi dog*gie st*yle. Posisi gaya favorit oleh kebanyakan para pria.
Nafas Valentino tersengal melihat lekuk tubuh Leyka bak gitar Spanyol itu meliuk liuk, dengan liar Valentino mencumbu bok*ong Leyka dan memberinya gigitan manis untuk sesaat.
"Oohh.. Val.. Sshh.. Aaa...aa..hhh.. Mi amor.. Aahh" jerit lirih Leyka semakin membakar Valentino yang menjadi tidak sabaran.
"Aahh.. Ley.. Sshhh... Oougggghh" Valentino pun menggigit bibirnya saat mencengkeram miliknya dan mengarahkannya pada irisan buah peach yang telah basah. Area in*tim yang telah licin memudahkan miliknya melesak perlahan lahan.
"Aahhh... Va...aaa..aall!" pekik lirih Leyka yang mengeratkan pejamannya dengan bibirnya setengah terbuka. Leyka menoleh kesamping saat milik Valentino terbenam seutuhnya, Valentinopun menyibakan rambut lalu mencengkeram pundak Leyka dan perlahan Valentino memacu miliknya.
"Cantik.. Ahh.. Cantik sekali.. Aaahhh!" desis Valentino, jemarinya liar merayapi punggung mulus itu dengan menggoreskan kukunya perlahan, memberikan sentuhan yang sangat Leyka rindukan.
__ADS_1
Delapan tahun yang menyiksa, yang menyesakan seakan terangkat perlahan, mereka saling mencabut belati yang menancap di hati mereka, saling membalut luka melalui kisah yang manis di Barcelona.
Tubuh Leyka meliuk liuk, pinggulnya menari merejam keperka*saan kuatnya jagung bakar Afrika Selatan yang melesak bertubi tubi. Tangan Valentino sesekali menelusup dan bermain lincah menyusuri indahnya irisan buah Peach yang ketat menjepitnya. Rin*tihan Leyka yang mende*sah de*sah, membuat Valentino kian menegang, ia pun mendekap perut Leyka dan mendorongnya luruh ke ranjang hingga merebah ke posisi miring.
"Il mio amore.. Sshh.. Il mio amore.." bisikan Valentino seraya mere*mas dadanya dan membelai lembut buah mungil di irisan buah Peach membuat Leyka menegang. Desa*han Valentino yang menghiba melesatkan segala hasrat yang Leyka pendam penuh kerinduan.
"Vall... Aaahhh.. Mi.. Amoor.. Nghh.. Aa..aa..aah!" Leyka pun meraih jemari Valentino yang mendarat di dadanya lalu menggigit ibu jarinya dan menghi*sapnya dengan mengerang. Merasakan denyutan indah memijat lembut miliknya, Valentino pun tak kuasa lagi menahan dirinya. Dengan cepat Valentino memacunya.
"Aaa.. aaargh.. Leykaa.. Shhh.. Aahh Mi amor!" dengan menghi*sap tengkuk Leyka, Valentino mengerang dan meledakan benih benihnya. Valentino mendekap erat tubuh Leyka dan menggigit leher belakang Leyka dengan memejamkan matanya, wajahnya memerah, nafasnya tersengal.
Segala ketegangan otot otot mereka pun meregang dan perlahan lahan melemas, mereka terdiam untuk sesaat dengan mengatur nafas mereka disela sela keringat yang bercucuran.
"Te quiero.. Te quiero (aku mencintaimu)" bisik Valentino sambil mencium pipi dan pundak Leyka dari belakang. Leykapun membalikan tubuhnya lalu membenamkan wajahnya ke dalam dada Valentino dan memeluknya dengan erat.
"Ti amo.. Ti amo.. (aku mencintaimu)" balas Leyka berbisik dengan bahasa Italy. Dengan kakinya Valentino meraih selimut setelah mencapai pahanya ia menarik selimut dengan tangannya hingga menutupi tubuhmereka.
"Kau lelah? Tidurlah" Leyka mengangguk dan memejamkan matanya dengan tersenyum. Valentino menciumi seluruh bagian wajah Leyka bertubi tubi lalu memandangi wajah Leyka yang nyaman dipelukannya. Lalu ia memejamkan matanya.
Moommyy! Dadddy! Mommy Peach! Moommy Peach.. Dadddy Toro.. Daddy Daddyku.. Mommy Mommy Peach..
Valentino dan Leyka membulatkan matanya secara bersamaan mendengar suara Setan Cilik yang berseru lantang. Suara itu layaknya sirine yang membuyarkan kehangatan mereka.
Mungkin Mommy dan Daddymu tidur.. Kita ke Apartemen Ratu saja..
No Pedro.. Noo.. Mereka bertengkar Pedro.. Mommy Daddy.. Aku tahu kalian di dalam.. Apa kalian baik baik saja..
Jangan sok tau.. Darimana kau tau mereka bertengkar... Mereka sedang tidur Train.. Ayolah ke Apartemen Ratu.. Aku harus membantu Penelope dia akan kuwalahan menjaga Kedai..
Mereka bertengkar.. Miraar Mirar (lihat lihat).. Ada kancing baju Mommy.. Ohh.. No.. Kita panggilkan Policia (polisi) ataukah Tia Judith Pedro.. Mooommy.. Daddy! Bukaa.. Bukaa.. Bukaaa..
Train pun semakin menjerit dengan menendang pintu. Seketika mereka panik dan terberai. Valentino buru buru berlarian kearah almari dan Leyka mengikutinya.
"Handuk Val! Aku mau mandi-- Bereskan kekacauan jangan sampai terlewatkan! Jangan dijawab dulu biarkan Setan Cilik itu berkicau! Karena kalau kau jawab sekarang, kau tidak punya kesempatan untuk membereskan baju baju kita dan Setan Cilik itu akan berpikir kita benar benar bertengkar! Belum lagi ia akan terus bertanya mengapa baju baju kita robek" Leyka menyambar handuk yang Valentino berikan lalu ia membuka almari sebelahnya, ia mencari kaos oblong milik Valentino karena ia belum juga memindahkan baju bajunya ke Apartemen Raja. Leyka hanya memindahkan baju baju Train dikamar barunya.
Mommy Daddy! Mommy Daddy! Jawab aku! Pedroo.. Sepertinya mereka pingsan.. Bagaimana Ini.. Pedroo-- Mommy! Daddy! Mommy! Daddy!
Sudahlah Vamos (ayo) kita ke Apartemen ratu.
"Si.. Aku akan membereskannya" ujar Valentino seraya mengenakan underwear lalu celana pendek berwarna biru donker yang memiliki saku kiri dan kanannya.
"Ckk-- Aku lupa! Tenang, jangan panik. Cepatlah mandi. Aku akan membereskan pakaian kita!" Valentino kembali membuka almari dan menyambar kaos dengan warna senada lalu mengenakannya.
"Suara Train menghilang, sepertinya dia ke Apartemen Ratu-- Ehm, Baby.. Jangan ada yang terlewatkan!" bisik Leyka berjalan kearah kamar mandi dan Valentino menarik lengan Leyka lalu mendekapnya. Valentino sedikit lega karena suara Train menghilang.
"Si, Baby.. Baby, Mi amor" Valentino tersenyum dan mencium bibir Leyka di ambang pintu kamar mandi. Leyka menyambut ciuman itu dengan belaian lembut di pipi Valentino kemudian dengan cepat Valentino berlarian keluar kamar untuk membereskan kekacauan tanpa terlewatkan.
Dengan cepat Valentino memunguti satu persatu pakaian mereka dengan mengendap ngendap, sebisa mungkin ia tidak menimbulkan suara. Dan Leyka buru buru membersihkan tubuhnya. Hanya butuh waktu sepuluh menit, tubuh Leyka kembali segar.
"Mi amor! Disembunyikan dimana pakaian kita yang robek ini? Bolehkah aku masuk" ujar Valentino di depan pintu kamar mandi. Leykapun membuka pintu lalu ia kembali ke depan wastafel yang terdapat cermin bulat bercat putih namun bergaya klasik, Leyka sedang mengeringkan rambutnya.
"Di keranjang saja" pinta Leyka dengan menurunkan volume suaranya. Setelah meletakan di keranjang pakaian kotor Valentino berdiri dibelakang Leyka, melingkarkan tangannya di perut Leyka lalu menciumi pundak yang terbalut kaos miliknya yang terlihat longgar di tubuh Leyka, sesekali Valentino menciumi leher belakang Leyka yang mempesona.
"Harum sekali. Uhhmm-- Se*xy" bisik Valentino, dengan satu jemari tangannya merayapi paha hingga bok*ong Leyka, Valentino menatap Leyka dari cermin dan tersenyum manis.
"Ahh, Val hentikan, Train sudah pulang"
"Kau tidak mengenakan underwear, kau se*xy Mi Esposa. Menggairahkann sekali dengan kaosku yang kau pakai-- Aahh, kita seperti di Castello de Munte" bisik Valentino dengan tangannya semakin liar menjalari tempat tempat sensi*tifnya.
Sambil mengeringkan rambutnya Leyka menahan nafasnya saat Valentino membelai tubuhnya, sesekali Valentino mere*mas dua gundukan yang menyembul di dadanya dan tangan yang lain liar membelai area perut hingga ke pahanya.
"Ahh, Val jangan memancingku-- Ahh, aku akan mengambil underwear di Apartemen Ratu. Train pasti ingin berganti pakaian. Semua pakaiannya ada disini" ujar Leyka sambil menggeliat menghindari liarnya tangan Valentino.
Mommy... Mommy.. Daddy.. Daddy..
Pachitoooo... Pachitooo.. Apa kalian baik baik saja.. Pachitoo buka pintunya..
"Train!" bisik Leyka
"Madre (Ibu)!" bisik Valentino.
Mereka berdua saling pandang dengan mata membulat, entah apa yang dilakukan putranya sampai Rosemary berpikir telah terjadi sesuatu pada mereka.
__ADS_1
Mommy Peachhh.. Daddy.. Aaaaa... Mommy.. Daddy..
"Tunggu Train!" sahut Leyka.
"Ohh shitt.. Pakai underwearku dan ada celana pendek di almari" bisik Valentino sambil mencium bibir Leyka dan berlalu, untuk membuka pintu.
Valentinopun membuka pintu dan Train masuk bersama Rosemary dengan penuh curiga. Train bersungut dengan sikap marahnya. Seperti kebiasaannya, ia membuang tas dan topinya ke lantai lalu ia melepas sepatu dan kaos kakinya begitu saja kemudian ia bersedekap.
"Dimana Mommy! Apa Mommy menangis! Apa Daddy menyakiti Mommy?" Valentino terkekeh melihat sikap Train, sikap yang dilihatnya pertama kali bertemu Putranya dan itu sikap yang tidak pernah Valentino lupakan.
"Blue-- Train mundur beberapa langkah dan menghindari Valentino namun Valentino memburu Train dan menyambar tubuhnya.
"Noo No No! Daddy bertengkar! Saran Torres benar benar tidak berhasil! Kalian jangan berpura pura berbaikan di depanku demi perjanjian tiga bulan! Lalu dibelakangku kalian bertengkar!" kata Train meronta dan Valentino mendekapnya.
"Val, apa yang terjadi?! Dimana Leyka!" tanya Rosemary menegang.
"Tidak terjadi apapun Madre! Kami tidak bertengkar!" sanggah Valentino sambil mengendalikan Train yang meronta ronta.
"No Daddy No! Daddy bohong!" jerit Train dengan kemarahan.
"Blue! Lihat mata Daddy! Bukankah ada banyak lampunya?" Valentino mencium kening Train dengan tersenyum dan Train terdiam, ia menggigit jemarinya lalu menatap mata Daddynya.
"Si (iya).. Banyak lampu.. Mucho.. Mucho.. Mucho (banyak)" ujar Train nyaris bergumam.
"Train! Jangan nakal!" Leyka akhirnya keluar kamar, Rosemary dan Train menoleh secara bersamaan. Lalu Train beringsut dari gendongan Valentino dan menghampiri Leyka dengan berlarian.
"Mommy! Apa Mommy baik baik saja?" Tanya Train dengan memutari Leyka, seperti sedang mengamati.
"Pachito apa semua baik baik saja? Train menemukan dua kancing bajumu. Train berpikir kalian bertengkar. Mi Nieto (cucuku) menduga kalian terluka dan pingsan karena kalian tidak membuka pintu" ujar Rosemary sambil duduk dan memijat pelipisnya.
"Madre (Ibu) itu-- Ckk, Madre.. Itu bukan bertengkaran seperti yang Blue Train pikirkan. Itu-- Ahh, Madre. Kami justru berbaikan Madre" sahut Valentino penuh kode, kerlingan matanya dan Rosemary mengerti arti kode itu.
"Astagaaa" Rosemary menghela nafas panjang dan mendelik kearah Leyka yang wajahnya memerah seketika.
"Vamos (ayo)! Jawab Train, Mommy! Uhss!" ujar Train dengan gemas dan tak sabaran.
"Tentu saja Mommy baik baik saja. Mommy sedang mandi dan Daddy tidur-- Vamos, ambil tas, topi, sepatu dan kaos kakimu! Letakan di tempatnya! Cuci kaki dan tanganmu lalu ganti baju seragammu! Setelah itu kau harus frente a la pared (hukuman menghadap ke dinding)" ujar Leyka dengan berkacak pinggang dan melotot kearah Train.
"Aku melihat banyak lampu di mata Mommy. Uhss! Bagus sekali! Jadi kalian tidak bertengkar! Dan Mommy tidak canggung lagi! Ahahah-- Ini hebat! Ide Torres hebat!" Train pun tertawa dan berlarian berputar putar mengelilingi Leyka.
"Vamos bereskan pakaianmu! Mommy akan membereskan belanjaan yang dibawa Pedro! Dan Mommy akan membuatkanmu jus sebelum kau frente a la pared (hukuman menghadap e dinding)" kata Leyka berjalan kearah dapur melewati Valentino dan Valentino menangkap tangannya.
"Ley, Apa kau butuh bantuanku?" kata Valentino dengan lembut.
"Si-- Belanjaan kita di Apartemen Ratu, pasti Pedro meletakannya disana, Baby" jawab Leyka dengan tersenyum dan menggoyangkan tangan Valentino.
"Wow! Mommy dan Daddy tidak bertengkar! Kalian akrab! Tapi Mommy.. Daddy-- Train menghentikan perkataannya, wajahnya berubah pias, ia menjadi lesu dengan menggigit jari telunjuknya lalu ia menundukan kepalanya sesekali ia melirik kearah Valentino dan Leyka.
"Ada apa Blue?" tanya Valentino
"Train?" tanya Leyka.
"Lo siento.. Perdonami.. Tapi aku terlanjur.. Terlanjur.. Ehm-- Train mempertemukan kedua jari telunjuknya dan mengetuk ngetuk di depan dadanya, ia kemudian melirik kearah Rosemary yang telah menggelengkan kepalanya --Aku.. Aku terlanjur menelepon Tia Judith dan Tia Judith membawa Policia (polisi) ke Apartemen ini, untuk mendamaikan kalian. Karena takut ada kekerasan jadi Tia Judith membawa Policia. Lo siento.. Perdonami (maafkan aku; Spanyol; Italy)" Tutur Train membuat Valentino dan Leyka membulatkan matanya.
"Apaaa?!" seru Valentino dan Leyka serentak secara bersamaan, seiring suara sirine yang melengking memasuki Distrik Miel.
Shittt!! umpat Leyka dalam hati sambil berlarian kearah balkon, untuk melhat kedatangan mobil Polisi dan Dinas Sosial, dan Valentino juga Train mengikutinya.
Shiiitt! Train! Mommy dan Daddy hanya bercin*ta! Arghh Setan Cilik ini.. Ada saja ulahnya. Batin Valentino sambil memandangi Leyka yang mendengus kearah Train.
-
-
-
Alurnya panas dulu gpp ya.. soalnya lg musim ujan plus musim vote dan butuh bercangkir2 kopi (tetepmalak) 🤣
ga usah pada mikirin Miu, biarin aku aja yang mikirin Miu (sambil garuk2 nganu.. berat berat) 🤣 Nanti Train yang bakal ngatasin dan Leyka telah bersedia memeluk Luka yang akan menghadapinya dengan cara yang dewasa.
Klontaaaang! cangkir kosong nih 🤣
-
__ADS_1
-
-