FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Datangnya Hadiah


__ADS_3

Train berjalan menyusuri trotoar dengan tas dipunggungnya, kedua tangannya menggenggam tali ransel yang melingkar di pundaknya. Ia menendang nendang kerikil kerikil kecil di sepanjang jalan dengan menunduk, mulutnya terkunci. Pedro terlihat berjalan dibelakangnya.


"Hei anak Toro! Kenapa wajahmu?" tanya Pedro dan Train masih dengan wajah lesunya.


"Tidak apa apa" jawabnya singkat.


"Apa kau berkelahi lagi?" tanya Pedro sudah bisa menebaknya.


"Hmm" jawabnya bermalas malasan.


"Mereka mengganggumu lagi?"


"Si (Iya)" Pedro menghela nafas panjang dan berjalan mendahului Train kemudian ia berjongkok.


"Ayo naik!"


"No Pedro"


"Ayo cepatlah! Jalanmu lama sekali, Train!" dan Trainpun naik ke punggung Pedro, ia kemudian melingkarkan tangannya di leher Pedro.


"Pedro, sejak Ayahmu tiada-- Apa kau merindukannya?" pertanyaan Train membuat Pedro tersenyum getir, ia mengingat Ayahnya telah meninggalkan dirinya beserta Ibunya dan juga kedua orang adiknya. Ibunya masih kerabat dekat dengan Dolores. Ayahnya tiada saat Pedro lulus sekolah karena itu ia tidak mengambil sekolah universitas dan memilih bekerja.


"Tentu saja aku merindukannya-- Kenapa kau bertanya?"


"Kau beruntung Pedro. Kau masih mengenal Ayahmu" kata Train membuat Pedro menghela nafas panjang, ia tidak bisa berbuat apapun untuk menolong Train bila membicarakan Daddynya.


"Kau yang beruntung, Train. Daddymu masih hidup"


"Bukankah, sama saja tiada? Aku tidak mengenalnya dan aku tidak bisa melihatnya. Kau pernah melihat Ayahmu. Kau pasti pernah di gendong seperti aku sekarang ini! Sedangkan aku tidak pernah! Bukankah lebih baik aku menganggapnya tiada saja, dia tidak akan pernah turun dari kereta itu dan mencariku" kata Train dengan satu tarikan nafasnya.


"Train--


"Bukankah sama saja seperti Ayahmu? Ayahmu tidak akan mencarimu kan?" Pedro terkekeh mendengar cara berpikir Train walaupun ada rasa kasihan pada anak itu, Pedro sedih mendengarnya.


"Ayahku sudah meninggal bagaimana mencariku, ada ada saja kau ini-- Pedro masih terkekeh, namun ia harus mengalihkan pembicaraan itu --Tadi apa kau menghajar anak yang mengganggumu?"


"Aku memukulnya, menendangnya dan menjambaknya" ujar Train dengan lesu.


"Wahh kau hebat! Mereka pantas mendapatkannya. Jangan biarkan mereka menindasmu!" kata Pedro dengan mempercepat langkahnya.


"Mereka selalu menghinaku, menghina Daddyku dan hari ini menghina Mommyku-- mereka mengatakan Mommyku pembohong. Apa menurutmu Mommyku pembohong, Pedro?" tanya Train dengan meletakkan dagunya di pundak Pedro. Mereka menyusuri jalan menuju Double P, dan melewati Distrik demi Distrik di iringi lalu lalang pejalan kaki lainnya.


"Tentu saja tidak. Kau harus percaya Mommymu" kata Pedro dengan menoleh kearah Train.


"Apa kau tahu sesuatu tentang Daddyku? Aah-- mana mungkin kau tahu?" Train bertanya namun ia buru buru menjawabnya sendiri, nada bicaranya terdengar putus asa, Train menghela nafas panjang.


"Train, jangan sakiti Mommymu dengan terus mengharapkan Daddymu dan menanyakannya. Apa kau pikir Mommy tidak terluka?"


"Terluka?" gumamnya dekat dengan telinga Pedro, ia merenungkan ucapan Pedro. Train anak yang peka seperti Leyka, anak yang penuh pengertian dan suka memendam segalanya sendirian. Ia mencerna perkataan Pedro. Segala sesuatu yang membuat Leyka terluka karena dirinya, akan membuat Train merasa bersalah.


"Iya, Mommymu mungkin saja terluka dengan pertanyaanmu, tapi Mommymu berusaha tersenyum dan menyembunyikan luka itu. Bisakah kau mengerti, Train?" Pedro, di sisi lain ia mengerti bagaimana Leyka menanti pria Italy itu 8 tahun yang lalu, kemudian membencinya. Namun disisi lain ia juga mengerti perasaan Train. Seorang anak yang rapuh yang selalu mencari keberadaan atau sosok yang anak lain miliki, sedangkan ia tidak. Ayah. Train mencari sosok itu setelah lingkungan mempengaruhinya. Setelah ia mengerti, setelah ia tumbuh semakin besar.


Bulian kawannya, melihat kawannya begitu dekat dengan Ayah mereka, Train selalu berangan angan dan memiliki keinginan untuk seperti mereka. Karena itulah Train selalu bertanya siapa dan dimana Daddynya.


"Si, Pedro-- Aku tidak akan pernah bertanya lagi" kata Train dengan menggosok hidungnya yang mulai berair. Sama halnya Leyka, Trainpun menekan lukanya. Bagi anak seumur Train itu adalah pencarian karena rasa keingintahuan yang menguasainya, namun Train memikirkan bagaimana Leyka terluka, Train masih meraba raba dalam benaknya.


"Train, terkadang wanita itu menyembunyikan luka, mungkin saja Daddymu di masa lalu sangat melukai Mommymu, bukankah Daddymu tidak mau turun dan mencari Mommymu?"


"Si, Pedro" Train menyeka pipinya yang basah karena airmata, kemudian ia kembali memeluk leher Pedro. Sangat erat.


"Kita sudah sampai Double P, Train. Cuci tanganmu dan makanlah lalu aku akan mengantarmu pulang, kita menunggu Mommymu di Apartemen dan main video game saja" kata Pedro seraya menurunkan Train dari gendongannya.

__ADS_1


"Si, Pedro" Trainpun berjalan menuju tempat favoritnya, di dekat kasir dan samping dinding kaca dimana ia bisa melihat lalu lalang orang yang berada di trotoar. Meja kecil dan kursi kecil disediakan Leyka khusus untuk Train bila ia ikut Leyka bekerja saat ia jenuh di Apartemen. Leyka selalu meluangkan waktunya bekerja di Double P, dijam tertentu Leyka akan berada disana setiap harinya, walaupun sebagai pemilik ia melakukan pekerjaan apapun.


Dengan gontai ia menuju toilet, mencuci tangannya dan membasuh wajahnya. Ia menatap wajahnya di cermin, matanya masih memerah, hidungnya masih basah.


Mommy, apa kau terluka bila aku menanyakan Daddy? Mommy... Lo siento (maafkan aku)..


Sayup sayup Train mendengar percakapan Pedro dengan seseorang, namun ia tidak perduli. Biasanya dia akan banyak tanya dan banyak ingin tau, tapi kali ini tidak. Ia menjadi murung dan tidak bergairah. Train masih ingin sendiri. Ia masih bercermin menatap wajahnya lekat lekat. Pikirannya mengembara, entah apa yang ada dipikirkannya saat ini.


( Percakapan Pedro )


~ Apa Nona Leyka ada disini, Pedro...


-- Dia belum pulang, Nyonya Lorena.. Apa ada yang bisa aku bantu..


~ Maaf.. Aku menitipkan ini, berikan padanya.. Ini milik Nona Leyka.. Ibuku, telah lama menyimpannya, sampaikan maafku..


-- Baiklah nanti aku akan berikan padanya.. Dan aku turut berduka cita atas meninggalnya Nyonya Florence.. Ibumu adalah wanita yang sangat baik, Nyonya. Kami tetangga lamamu, sangat kehilangan, atas kepergian Nyonya Florence..


~ Gracias, Pedro.. Maafkan bila Ibuku dulu merepotkan.. Gracias Pedro..


-- De nada, gracias (sama sama, terima kasih)..


-


-


-


[ Hoarding disorder adalah perilaku menimbun barang-barang yang tidak terpakai karena barang-barang tersebut dianggap akan berguna di kemudian hari, bersejarah, dan memiliki nilai sentimental ].


...*...


Saling mengirim makanan, wine, mengadakan barbeque, bahkan saat Thanksgiving setiap Distrik melakukan acara masing masing di taman mereka. Apalagi saat Festival, mereka semua akan turun ke jalan dan mengenal satu sama lain. Kehidupan rakyat jelata, kehidupan yang sesungguhnya yang Leyka idam idamkan, bukan kehidupan bangsawan yang menjerat lehernya. Penuh kemunafikan dengan basa basi yang memuakkan, Leyka menyukai kehidupan biasa saja, karena itu membuatnya lebih HIDUP.


"Train membuat masalah lagi. Kepala Sekolah menegurku seusai rapat. Maaf menunggu lama" ujar Leyka begitu memasuki mobil milik Manuella, mobil yang 8 tahun lalu di gunakan untuk melarikan diri dari Palma. Diego merawat mobil itu dengan baik sehingga masih nyaman di gunakan.


"Dia pasti bertengkar lagi" ujar Manuella sambil melirik spion kiri kanan dan spion belakang lalu melajukan mobilnya perlahan.


"Dia seperti Valentino si raja setan itu! Pe*cundang! Bisa bisanya dia membalikkan perkataanku! Aku mengancam untuk memanggil orangtua murid dan Train meminta di panggilkan Daddynya saat aku menyuruhnya ke ruang konseling! Dia mengatakan-- Aku bukan Mommynya di sekolah, aku Gurunya! Ohh Shit! Anak itu mengcopy paste perkataanku dan membuat kepalaku mau pecah!" Manuella tertawa terbahak mendengar cerita Leyka yang sangat terlihat kesal dengan gesture tangannya bergerak kesana kemari, seakan ikut marah.


"Itulah mengapa aku menyayangi Train. Anak itu sangat pintar" Manuella terus terbahak dan semakin membuat Leyka kesal.


"Terima kasih pujiannya! Dan mulai sekarang, jagalah bicaramu bila ada Train. Dia melarangku berciuman di bibir katanya itu bisa membuatnya punya adik! Shit!" Manuella semakin tergelak mendengar cerita Leyka. Kedekatannya dengan Train memang melebihi persahabatannya dengan Leyka.


Ayah dan Ibu Baptis, seseorang yang menjadi Ayah atau Ibu baptis dari seorang anak, itu bukan sekedar nama yang tertoreh di selembar kertas. Di daratan Eropa bahkan Amerika Latin mereka sangat mengagungkan gelar Ayah dan Ibu Baptis bagi anak seseorang, itu sangat membanggakan. Peran Ayah dan Ibu Baptis sangatlah besar, mereka wajib mencintai anak oranglain seperti anaknya sendiri bahkan lebih. Entah kerabatnya, entah saudaranya bahkan entah sahabatnya, bila seseorang di pilih maka Ayah dan Ibu Baptis bertanggung jawab akan gelar itu.


Mereka tiba di Gereja dimana penghormatan terakhir dilakukan, namun Leyka hanya mengingat bagaimana Train di baptis kala itu. Saat salju memenuhi sekeliling gereja itu dan bagaimana air suci di percikan lalu Train menangis karena terusik tidurnya kala itu. Leyka tersenyum getir mengingatnya, berdiri menggendong Train tanpa suami hanya Manuella dan Diego serta seluruh keluarga Fernandez juga tetangganya yang begitu menyayanginya.


Jika KAU memang benar benar ada dan mengatur kehidupanku.. Maka buatlah aku dan Train bahagia.. batin Leyka si Atheis itu berdoa.


Acara bergulir dan Leyka tidak mengikuti acara dengan benar ia justru melamun mengingat saat saat ia memghabiskan kesendirian dalam keadaan hamil dan melahirkan tanpa suami, acara penghormatan terakhir baginya itu hanya sebuah ritual. Setelah acara selesai mereka memberi ucapan duka yang mendalam kepada keluarga yang Leyka kenal.


"Nyonya Lorena, kami turut berduka cita atas meninggalnya ibumu, Nyonya Florence" kata Leyka sambil mengulurkan tangannya dan memberi ciuman pipi kepada wanita seumuran Ibunya, dengan baju serba hitam.


"Leyka? Kau datang?" ujar Lorena dengan memeluk Leyka kemudian.


"Pasti aku datang Nyonya Lorena, aku langsung dari sekolah dan Manuella menjemputku" kata Leyka mengurai pelukannya karena Manuella bergantian memberi ciuman dan sapaan kepada Lorena.


"Maafkan kami terlambat" imbuh Manuella.


"Aku sangat bahagia kalian datang, walaupun kita berbeda Distrik tapi semua perhatian warga dari Distrik Miel akan aku ingat kebaikannya" ujar Lorena dan mengajak Leyka dan Manuella duduk.

__ADS_1


Florence dan Lorena adalah Ibu dan anak perempuannya yang pernah tinggal bertahun lamanya di Distrik Miel, tepatnya di Apartemen Casa De Miel di lantai 7 dan itu milik Pacho yang dibelinya untuk Leyka, mereka adalah Penyewa itu. Sebelum Leyka meninggalkan Palma, Manuella meminta Nyonya Florence dan Lorena untuk pindah atas permintaan Leyka, karena Leyka akan menempatinya. Dan akhirnya mereka tinggal di Distrik Queen yang rata rata penghuninya para lansia. Mereka bersahabat baik hingga saat ini.


"Leyka sebelum kesini, aku tadi mampir ke kedai kopimu" kata Florence meraih tangan Leyka dan di genggamnya.


"Ke kedai kopiku?" Leyka dan Manuella saling berpandangan dengan mengerutkan alisnya.


"Iya Leyka, aku memberikan titipan dari seseorang. 8 tahun yang lalu. Seorang laki laki yang mencarimu di Apartemenmu" Leyka membulatkan matanya dan kembali saling pandang dengan Manuella yang terlihat antusias.


"8 tahun yang lalu? Seorang laki laki?" dan demi apapun, Leyka berdebar, lututnya gemetar. Perasaannya tidak enak, Leyka seketika memucat, telapak tangannya mulai berkeringat dan dadanya perlahan sesak. Manuella yang sangat hafal bagaimana Leyka, kemudian mengusap punggungnya.


"Aku mohon maafkan Ibuku. Kau tau kan, Ibuku sangat aneh. Ia memiliki penyakit Hoarding Disorder yang cukup parah dan Alzheimer. Ibuku mengumpulkan apa saja bahkan daun maple yang tumbuh di Distrik Miel. Aku mengembalikan barang barang tetangga yang disimpan Ibuku, bahkan piring porslen Dolores. Laki laki itu datang mencarimu menitipkan hadiah, Ibuku berpikir itu hadiah dari kekasihnya, Alzheimer membuatnya lupa. Hadiah itu di simpan Ibuku sampai dia tiada" ujar Lorena dengan menangis, karena ia mengenang Ibunya, Florence.


Ibunya menderita Alzheimer dan Hoarding Disorder akut, penderita itu biasa menyimpan apapun, hingga memenuhi rumahnya. Menurut survey, hampir 10 juta orang menderita penyakit itu dan rata rata penderitanya adalah wanita.


"Aku dimana saat itu?" Leyka bertanya dengan mere*mas jemarinya untuk memperkuat pertahanannya, rasanya Leyka lemas seketika. Karena perasaannya menguat. Valentino pasti DATANG. Karena hanya dia yang mengetahui Apartemen Casa de Miel selain Manuella dan Diego.


"Saat itu kau masih berada di Palma, kami justru belum mengenalmu. Saat kami pindah dan kau datang, sudah pasti Ibuku lupa dan aku pikir Ibuku sudah memberikannya padamu, jadi aku melupakan begitu saja. Kau tau kan, tidak ada yang boleh menyentuh barang barangnya. Penyakit Hoarding Disorder Ibuku sangat parah, Leyka. Ibuku selalu mengatakan bila ada Pria Italy yang mencarinya dan memberi hadiah. Aku pikir itu kegilaan Ibuku saja. Dan aku baru menyadarinya saat kami membersihkan barang barang Ibuku tiga hari yang lalu. Banyak barang yang dia simpan, rumah kami seperti sampah dan aku menemukan hadiahmu itu" mata Leyka berkaca kaca dan Lorena masih terus saja menangisi Ibunya, Manuella meraih satu kotak tisu yang berada tidak jauh darinya dan Lorena yang pertama mengambilnya.


"Bagaimana kau tahu itu untukku, Nyonya?" tanya Leyka seraya mengambil tisu namun ia hanya meremasnya.


"Disana tertulis teruntuk Leyka Paquito dan pengirimnya hanya menyebutkan dua huruf yaitu V.G-- Aku menyadarinya bahwa itu milikmu, karena itulah aku mengantarkan langsung kepadamu sebelum ke Gereja. Ternyata kau tidak ada. Aku menitipkannya pada Pedro" mata Leyka membulat, terbingkai kemerahan dan mata itu mengucurkan buliran bening nan hangat, akhirnya tisu itu bekerja sesuai fungsinya.


"Itu.. Itu artinya ada Train disana" kata Leyka menoleh kearah Manuella dan ia seperti memberi kode untuk bergegas pergi dari acara itu.


"Leyka--


"Aku baik baik saja Nyonya Lorena, aku permisi dulu. Aku memaafkan Ibumu dan terima kasih atas informasinya" kata Leyka kembali memeluk Lorena dan bangkit berdiri. Setengah berlari ia meninggalkan Gereja itu menuju parkir mobil. Manuellapun berpamitan dan mengejar Leyka yang begitu cepat menghilang.


Manuella menemukan Leyka duduk bersimpuh di samping pintu mobilnya, ia menangis dan bobot tubuhnya tidak mampu menopangnya, lututnya gemetar dengan dadanya bergemuruh, kepalanya kian berat rasanya. Ia tidak percaya bahwa Valentino datang menemuinya di Barcelona. Walaupun ia menantinya saat salju pertama turun di Barcelona, tapi Valentino datang untuknya. Luka itu kembali menganga. Belati itu telah berkarat disana dan semakin terbenam kian dalam. Rasanya sangat sakit, kebencian layaknya infeksi yang kian menyebar dan memperparah suasana hatinya.


Leyka menyandarkan tubuhnya di pintu mobil yang masih tertutup, kepalanya menunduk dan wajahnya terbenam di lututnya yang menekuk hingga mencapai dadanya, pundaknya berguncang guncang karena tangisannya. Tangisan dengan penuh kebisuan, ia ingin menjerit tapi Leyka selalu tidak bisa.


"Leyka" Manuella duduk dihadapan Leyka dan menyentuh pundaknya.


"Dia datang! Dia datang Manuella! Dia mencariku! Dia datang! Untuk apa dia datang! Seandainya aku di Barcelona, seandainya aku tidak di deportasi, seandainya Ibuku tidak mengurungku di Palma, aku bisa bertemu dengannya!-- Pe*cundang itu! Dia datang!" Leyka histeris seketika, menumpahkan segalanya.


"Leyka--


"Mengapa dia datang, Manuella?!-- Leyka justru mencengkeram kedua lengan Manuella dan mengguncang guncangkannya dengan berteriak lantang --Untuk apa dia datang! Mengapa dia datang disaat yang tidak tepat! Kau salah Manuella! Dia datang! Kau salaahhh!" Manuella memeluk Leyka dan mendekap sahabatnya itu, ia memejamkan matanya dan ia turut menangis. Manuella mengingat perkataannya 8 tahun lalu. Perkataan yang selalu membuatnya merasa bersalah, karena perkataannya Leyka terjatuh dan melahirkan Train di hari pertama salju turun menjelang Winter (musim dingin).


Lupakan laki laki itu Leyka! Dia tidak akan pernah datang! Hiduplah dengan baik bersama anak ini, dan bersamaku juga Diego! Lupakan baji*ngan itu! Kau tidak pernah berarti baginya karena kau bukan siapa siapa.. Kau hanya orang asing baginya! Lupakan laki laki itu untuk selamanya! Aku benci melihatmu seperti ini! Dia tidak pernah menganggapmu ada.. Maka jangan pernah menganggap BAJI*NGAN ITU ADA DI DUNIA INI.. Berhentilah, menantinya.. Kau membuatku Gila..


"Aku salah dan kau benar, Leyka. Tapi apa gunanya sekarang? Kau telah memilih meninggalkan masalalumu. Itu hanya sebuah hadiah dan tidak berarti apapun. Ayo bangunlah, jangan seperti ini. Bagaimana bila Train tahu kau seperti ini. Kau akan sangat melukainya. Dan bila pe*cundang itu tau, dia akan bersorak karena kau lagi lagi menangisinya" kata Manuella membuat Leyka menghentikan tangisnya, Manuella benar, ia telah mengubur masa lalunya di kedalaman tubir lautan hatinya. Namun berita ini membuat hatinya mendadak kacau balau hingga ia melupakan isi dari sebuah hadiah yang diberikan Valentino. Leyka tersentak kemudian saat Manuella menyebutkan kata hadiah.


Apa isinya.. Hadiah apa yang diberikan Valentino untukku.. Bagaimana bila.. Shit.. Bagaimana bila Train melihatnya..


"Hadiah?-- Leyka mengurai pelukan itu dan membulatkan matanya --Manuella, apa hadiah itu?! Pedro... Train.. Ohh Shit! Bagaimana bila hadiah itu di buka Train! Bagaimana bila ada foto Valentino di dalamnya!" Leyka mencengkeram lengan Manuella dengan kuat tanpa ia sadari.


"Leyka! Shiitt!! Ini bisa mengacaukan pikiran Train! Ayo kita pulaang!!" Manuellapun membantu Leyka berdiri dan mereka secepat kilat memasuki mobil dan meninggalkan halaman Gereja itu.


Ternyata kau datang saat itu, Val.. Dan KAU yang bernama Tuhan.. Aku baru saja berdoa agar aku bahagia.. Tapi KAU memang benar benar TIDAK ADA.. Hampir saja aku MEMPERCAYAIMU.. Leyka si Atheis itu, menyeka airmatanya dengan kasar. Datangnya hadiah 8 tahun yang lalu itu, benar benar membuatnya panik dan menggila sehingga membuat Manuella kalang kabut membawa mobilnya menuju Double P. Tempat dimana hadiah itu berada.


-


-


-


walaupun seujung kuku, kebencian Leyka kudu diurai dulu gaes.. dengan sebuah kenyataan bahwa, si jagung bakar Afsel mau nyelup, berendem di irisan buah Peach tp wonge langka🤭


Spoiler : minggu ini Valentino datang ke Barcelona. Siapin kopi dong, harganya cuma 199poin kok 1 cangkir, kalian kan sultininya NT MT masa kopi aja ga sanggup *malak alus 🤣🤣🤭

__ADS_1


__ADS_2