FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
From BARCELONA To ITALY


__ADS_3

...BARCELONA...


Tetes rintik hujan, ditemani panasnya kopi di sore itu di Barcelona. Leyka menghela nafas panjang dan dihembuskan lembut. Mendung begitu menggelapkan cakrawala. Apartemen Casa De Miele. Hati yang beku. Hampa. Kosong. Ada belati yang begitu menikam sebuah Hati, dan menusuknya teramat dalam, hingga menembus ke relung hatinya. Belati yang tidak ada seorangpun yang bisa mencabutnya bahkan sang pemilik hati itu sendiri. Leyka Paquito.



Disebuah balkon di lantai 7 yang ditumbuhi rimbunnya bunga mawar merah di sisi timur, yang menghubungkan jendela.



Dan disisi sebelahnya bunga mawar merah jambu yang menghubungkan pintu. Meja kecil dan dua kursi yang terbuat dari kayu Redwood. Leyka duduk disana. Matanya melihat lalu lintas jalanan dari ke jauhan.



Pohon Redwood, pohon tertinggi diantara pohon pohon yang lain, bisa di bilang pohon tertinggi di dunia dan Flora ini tergolong memiliki umur yang sangat panjang. Kayu Redwood terkenal kuat di daratan Eropa, tak heran kayu Redwood di gunakan untuk furniture dan bahkan untuk dinding bahkan lantai rumah. Kayu Redwood banyak digunakan untuk rumah di pegunungan karena kayu Redwood jenis kayu yang membentuk kehangatan.


Balkon itu menghadap ke arah jalanan setelah di pisahkan taman sebagai pintu masuk area apartemen yang sebagian besar di huni oleh orang Spanyol itu sendiri dan orang Mexico juga beberapa ekspatriat dari beberapa belahan dunia. Apartemen kelas menengah, tidak tergolong mewah namun tidak juga kumuh. Kawasan ini kawasan terpadu dan dinamis di Barcelona yang mana penghuni beberapa apartemen di kawasan itu merupakan para pekerja sebagian besarnya.


"Mom.. Nghh..?"


"Train? Kamu sudah bangun?" Leyka menoleh kearah suara itu. Seorang anak laki laki berumur tujuh tahunan dengan celana training panjang tanpa mengenakan baju berdiri di ambang pintu sedang mengucek matanya.


"Mom--


"Kemarilah" Leyka merentangkan satu tangannya dan anak itu mendekatinya, Leyka memangkunya dengan kakinya yang lurus menumpang pada kursi di dekatnya dan anak itu duduk menghadap ke arahnya dengan menguap.


"Blue Train.. Blue Train.. Blue Train" bisik Leyka sambil mencium pucuk kepala anak itu dengan memejamkan matanya, menghirup aroma sang Putra yang masih menguap dan masih saja mengucek matanya yang terlihat memerah. Train merebahkan kepalanya di dada Leyka dengan memiringkan wajahnya. Matanya tertuju pada segerombolan mawar yang sebagian basah karena rintik hujan.


"Kenapa tidak pakai baju? Kau seperti--


"Apa Daddyku juga sepertiku, tidak pakai baju kalau tidur?" Train buru buru memotong, tangannya mulai memainkan rambut di belakang telinga Leyka digulung gulung hingga kadang membuatnya kusut.


"Mommy lupa, Train" Leyka membelai rambut hitam dan ikal milik Train, rambut yang di belainya selalu penuh perasaan seakan membelai rambut milik Valentino. Rambut, mata juga alisnya milik Valentino. Mata abu abu kebiruan dan alis tegasnya, hidung dan bibir kemerahan serta pipinya yang selalu merona adalah milik Leyka.


"Lalu seperti apa?"


"Seperti tetangga kita dilantai 6, pak tua gendut Mouji, orang jepang itu dan Pedro orang Mexico itu"


"Mommy selalu mengintipnya" kata Train menegaskan alisnya, seperti raut kecemburuan Valentino yang membuat Leyka berbunga kala itu, Leyka mengulas senyumnya saat melihat wajah Train di dadanya.


"Tidak usah di intip semua orang melihatnya dari atas balkon, karena balkonnya tidak memiliki atap seperti balkon kita dan balkon penghuni lain-- bahkan mereka jogging di taman, bertelanjang dada" Leyka tersenyum getir. Train benar, anaknya seperti Valentino. Tidak pernah memakai baju saat tidur, Leyka akan bertengkar panjang bila malam menjelang Train tidur.


"Mom, apa kau pernah merindukan Daddy?" Train bangun dan kedua jemari mungilnya mencubit pipi Leyka dengan gemas


"Tentu saja tidak. Mommy lupa semuanya tentang Daddymu, Mommy punya Damian kan?" Leyka tersenyum dan mengerlingkan matanya lalu menciumi wajah putranya dengan gemas.


"Entahlah, terkadang matamu seperti berkabut Mom, bahkan saat bersama Damian"


"Berkabut?-- Leyka terkekeh dan kembali mencium pipi Train hingga berbunyi. Train tertawa kegelian-- Train,.Apa kau tidak bisa memanggilnya Papa atau Daddy suatu saat nanti?" tanya Leyka dengan lembut dan mengusap pipi Train.


"No Mommy, Daddyku hanya Toro-- apa aku tidak bisa mendapat tambahan uang jajan Mom?" Leyka terkekeh, seakan kesedihannya lenyap bila berbincang dengan Putranya. Leyka mendekap Putra dan kembali mencium kening Train. Hatinya nyeri mendengarnya. Toro, Leyka memperkenalkan nama Daddynya kepada Train dengan sebutan Toro.


"Train, kau terlalu kecil untuk menabung ke Afrika, Toro tidak akan pernah mau turun dari kereta itu. Dia tidak mungkin turun, dia bisa saja sudah kembali ke Italy. Dia tidak akan pernah mau berkorban untuk Mommy. Bahkan dia tidak tahu ada kau, Train" Train kembali merebahkan kepalanya di dada Leyka dan memainkan rambutnya.


"Mom, ulang tahunku 3 bulan lagi. Aku 8 tahun Mom. 10 tahun lagi aku bisa kesana-- Mom?" Train mendongakkan kepalanya ke atas menatap wajah Leyka.


"Hmm?"


"Apa kau masih tidak percaya Keajaiban?" Train mengangkat kepalanya dan kembali duduk tegak melihat kearah Mamanya. Jemarinya tidak lepas dari rambut Leyka yang dimainkan.


''Train, kau banyak bergaul dengan Bibi Manuella dan Nenek Dolores, mereka itu pembual" Leyka melebarkan senyumnya dan mencubit kecil hidung Train.


"Mom, Bibi Manuella adalah Ibu Baptisku, aku percaya Keajaiban. Dan aku berharap Keajaiban datang sebelum ulang tahunku" Train menggosok hidungnya berulang ulang dengan jari telunjuknya, ia masih saja menguap.


"Apa yang kau harapkan dari Keajaiban, Hmm?"


"Aku hanya ingin Daddy tau keberadaanku. Aku ingin tau punya Daddy seperti apa--


"Train, sama seperti saat kau bersama Damian" Leyka memotong perkataan Train lalu membelai lembut rambutnya.


"Mom, Damian hanya mencintaimu" Leyka menghela nafas panjang. Bukan sekali dua kali Train menanyakan sosok Valentino yang telah ia kubur dalam labirin hatinya. Sejak Train mengerti arti seorang 'Ayah', ia selalu mengajak Leyka berdebat. Train menguji hati dan emosinya yang naik turun dibuatnya.


"Train. Setelah tau keberadaanmu. Apa yang kau inginkan? Daddymu telah punya kehidupan sendiri. Dia bisa saja memisahkan kita dan memilikimu sendiri. Kau akan punya Ibu Tiri seperti temanmu Paolo"


"Mom, kita bisa berbagi. Seperti temanku Paolo, dia tinggal bersama Mamanya dan di akhir pekan dia bersama Papanya"

__ADS_1


"Train, kasus mu berbeda. Daddy tidak tau kau terlahir ke dunia ini-- Train, apa cinta Mommy tidak cukup untukmu, sehingga kau memerlukan Daddymu? Kau menyakiti perasaan Mommy, Train" Leyka memijat batang hidungnya sekaligus menyeka pelupuk matanya yang basah.


"Mommy" Train memandang wajah letih Leyka dan kembali merebahkan kepalanya di dada Leyka.


"Baiklah, Mommy akan putus dengan Damian dan tidak akan pernah membagi cinta Mommy lagi. Semua cinta Mommy hanya untukmu"


"Lo siento, Mommy (maafkan aku; Spanyol). Membagi sedikit saja kepada Damian, aku merasakan cintamu telah meluap. Bagaimana kalau semuanya kau berikan padaku? Ohh No, Mommy. Aku akan sesak nafas. Aku akan mendiami sangkar emas mu-- Tetaplah bersama Damian. Tapi untuk memanggilnya Papa atau Daddy aku tidak mau-- Dan aku tidak akan membahas Daddy lagi" Leyka terkekeh dan memeluk erat tubuh Putranya dengan keharuan.


"Anak nakal, kau mengatakannya berkali kali tapi tetap saja membahasnya" Leyka mencubit hidung Train lagi dan lagi.


"Mom, apa kau mencintai Damian?"


"Mommy hanya mencintaimu, Train. Terkadang wanita butuh bersandar Train, seperti itulah Damian bagi Mommy"


"Ehmm, lalu Daddy. Apa kau mencintai Daddy Mom?"


"Train, cintaku hanya untukmu, karena dia---


"Iya Mom. Ia hanya orang asing yang sekedar lewat lalu pergi. Seperti kereta api" Train pun memotong penjelasan Leyka, seperti bahasa keseharian yang sebenarnya Train hafal jawaban Leyka.


"Berapa detik yang lalu kau bilang tidak mau membahasnya, tapi masih saja" Leyka pun mengacak acak rambut Train.


"Yuhuuu Trainnn! Apa kau mau pai apel, ini mumpung masih hangat" Seseorang memanggil dari balkon sampingnya, wanita tua yang mendiami seberang samping apartemennya yang masih berada satu lantai dengannya yaitu lantai 7. Train naik ke kursi dan Leyka memeganginya.


"Nenek Dolores? Apa Nenek punya susu juga?"


"Train itu tidak sopan" kata Leyka sambil menepuk bokong Train.


"Ayo kemarilah!" jawab Dolores dengan tawa khasnya.


"Baiklahh!-- Mom, kau harus memangkas pohon mawar Afrika kebangganmu itu, sedikit saja"


"Tidaak! Sudah sana ke Nenek Dolores"


"Byee Momm!"


"Train pakai bajumuuu!"


"Pasti, Mom!-- Mom? Kau masih berhutang cerita di Pretoria, kau belum melanjutkan apa jawabanmu ketika Daddy mengatakan 'would yo marry me'-- Mom aku menagihnya nanti!" Train pun menyambar kaosnya di sofa ruang tengah dan berlarian ke arah pintu keluar hunian di apartemennya dan mengetuk pintu seberangnya, yang di diami Dolores Fernandes, Saudara dari Ayahnya. Leyka hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Train, kenapa kau selalu menanyakannya saat aku mengingatnya.. Apa mungkin karena aku memikirkannya, jadi ada kabut di mataku? Val.. Kau sedang apa.. Apa kau mengingatku.. 8 tahun Val.. Lama sekali.. Kau pasti bahagia bersama anak dan istrimu.. Sementara aku.. Hanya bersama Train..


...ITALY...


Sementara seorang laki laki bertubuh tegap, berdiri di depan jendela kantornya. Di puncak ketinggian gedung perkantoran Torre Eurosky Tower di lantai 28.



Langit disekelilingnya telah gelap, tertutup awan hitam yang menghiasi cakrawala. Waktu yang sama di Barcelona. Dibalut jas hitamnya, Valentino Gallardiev, menyesap secangkir kopi perlahan. Matanya menatap tajam di derasnya hujan yang mengguyur kota Roma di awal musim gugur. Pikirannya terbang jauh ke Afrika Selatan, sesekali ia melempar senyumnya dan ia berkutat dengan pikirannya.


Namun cara meneguk kopinya dan menelannya seakan berat ketika ia langsung mengetatkan rahangnya yang kokoh. Seakan ada yang mengganjal di tenggorokannya. Dihatinya pun ada belati yang menusuknya sangat tajam, tidak ada seorangpun yang bisa mencabutnya, bahkan Valentino sendiri.


8 Tahun berlalu begitu saja, Ley.. Apa kau mengingatku? Kau pasti melupakanku.. Dasar Rubah licik.. Sialnya aku masih saja mengingatmu bila hujan begini.. Sama seperti hujan di Pretoria.. Yang sulit aku lupakan.. 11 hari bersamamu seakan baru kemarin aku merasakan Luka itu.. Tapi.. Kisah kita sangat manis Leyka.. Aku merindukan saat saat itu.. Apa kau merindukanku, Ley.. Shit!! Pertanyaan bodoh.. Sudah pasti tidak..



"Hujan tidak kunjung berhenti" kata Valentino kembali menyesap kopinya. Ada lara dalam nada suaranya saat Valentino menghela nafasnya.


"Kau masih tidak bisa melupakannya?" kata seseorang laki laki seumurannya, bangkit berdiri dari sofa di ruangan itu, menghampiri Valentino dan menepuk pundaknya.


"Aku melupakannya? Seandainya itu kata yang mudah untuk dijalani, Jared"


"Sudahlah, Diev. Kau telah memiliki kehidupan baru sejak kelahiran Miu. Dia memilih jalannya. Dan Leyka benar. Kalian hanya orang asing" kata Jared bersedekap menatap hujan yang berderai dengan keras.


"Tapi aku tidak bisa melupakannya. Aku masih sering memimpikannya"


"Ke Barcelona hanya dua jam perjalanan. Tapi kau alergi menginjakkan kakimu kesana. Bahkan proyekmu di Barcelona kau tugaskan Marcello, dua tahun lalu-- Kau aneh"


"Cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku benci Barcelona. Walaupun tidak bertemu Leyka menginjak negara itu aku tidak sudi" Jared terkekeh mendengarnya, teman sekaligus patnernya itu, setia menjadi bahan curahan kekesalannya.


"Apa kau yakin? Perusahaan kita telah menanda tangani kontrak di Barcelona. Lagi lagi, mereka menggunakan rancanganmu. Apa kau ingin Marcello lagi yang kesana seperti dua tahun lalu" Jared kembali menggoda Valentino. Ia tau partnernya itu akan menolak mentah mentah.


"Siapa lagi? Kau pasti juga tidak mau" Valentino mendengus dan melirik ke arah Jared yang tersenyum mengejek ke arahnya.


"3 bulan di negara orang pantasnya memang Marcello yang berjiwa bebas" Jared berkilah manis. Valentino kembali menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Kau merindukannya dan kau tidak mau ke Barcelona"


"Dia pasti sudah menikah dengan Diego, cinta pertamanya"


"Kau tidak terpikir Leyka bercerai?" Valentino nyaris tersedak mendengarnya. Jared hanya terkekeh.


"Sudahlah kita toh sudah memiliki kehidupan masing masing. Aku fokus pada keinginan Kakek yang terakhir saja. Kakek Tua itu sekarat dan mengusik kenyamananku" ujar Valentino membuat Jared senang.


Pintupun di ketuk seseorang dan seorang wanita membuka pintu ruangan Valentino.


"Tuan, ada Nona Miu bersama---


"Paaaappaaaaaa!" Seorang anak perempuan berlarian kearah Valentino dan merentangkan tangannya. Wanita itu tersenyum dan menutup pintunya.


"Miuuuuu!" Valentinopun meletakkan cangkir dimejanya dan menangkap tubuh anak perempuan itu.


"Papaaa...Papaa.. Lama sekali aku menunggumu" anak perempuan bermata bulat, berambut coklat tembaga dengan pipi tembemnya itu mengerucutkan bibirnya.


"Kau tidak sabaran ya?" Valentino menciumi anak yang di panggil Miu itu dengan gemas. Bertemu dengannya terkadang membuat Valentino bersemangat. Tawa gadis kecil berkucir dua menularkan keceriaannya. Beban di dalam pekerjaan yang membuatnya penat, menghilang begitu saja.


"Hai Uncle Jared" Sapa Miu dengan tawa cerianya.


"Hai Nona nakal, kamu tahu ya, Papamu sudah selesai bekerja"


"Tentu saja Uncle. Aku kan memiliki.. Uhm...Tee lee paa tii --Benar tidak Papa bahasa Miu!" Jared dan Valentino tertawa mendengar celotehannya.


"Benar Sayangku! Katakan kenapa kau kesini?" tanya Valentino dengan menciumi pipi tembem Miu.


"Papa lupa ya? Papa berjanji akan menemaniku ke acara ulang tahun Clara di akhir pekan" di gendongan Valentino, Miu memainkan dasi Valentino dengan cemberut.


"Eeits.. Dolcezza Mia (Manisku; Italy) tidak boleh cemberut"


"Papa melupakannya, makanya aku menjemputmu" Miu menebarkan keceriaannya. Dan membawa atmosfer tersendir bagi Valentino dan Jared.


"Wow, Papa di jemput putrinya. Ini sangat langka-- Katakan pada Papa, kamu menjemput papa pakai apa?"


"Taxy!"


"Hmm, sepertinya naik mobil Papa saja ya-- Katakan dimana Mama"


"Mama sedang bergosip dengan sekretaris Papa yang yang ehm yang--- Miu mengetuk jari telunjuknya di pelipisnya ---Taxy!!"


"No No Miu.. Sexy!" Jared terbahak melihat kelucuan Miucia, yang di panggil Miu.


"Ahh Iya seperti kata Uncle Jared!" Valentino tertawa dan menciumi gemas pada Miu yang masih ada disalam gendongannya.


"Elara Miucciaaa.. Kau tau kenapa Papa, memberimu nama itu? Itu, karena Elara berarti keceriaan dan kebahagiaan. Dan Miuccia adalah harapan orangtua-- Kau membuatku bahagia dan selalu ceria, ketika kau tertawa seperti ini"


"Papaaa.. Aku mencintaimu" Miu mencium pipi Valentino dan memeluknya.


"Aku juga mencintaimu, Miu" Valentino membelai lembut rambut Miu dan mengusap punggungnya. Valentino sesaat menatap hujan itu dengan rasa nyeri di harinya.


Ley.. Apa kau bahagia? Ley.. Aku tidak bahagia.. Sekalipun kini ada Miu.. Perasaanku masih mengganjal.. Mungkin karena aku selalu gagal menyingkirkanmu dari hatiku.. Ley.. Aku membencimu, Rubah Licik.. Tapi aku juga sangat mencintaimu.. Biarkan aku begini Ley.. Sendiri.. Mencintaimu sendiri..


...-...


...-...


...-...


Anak perempuanku lagi : "Maahh! Maksud mama tuh apa sih Mah! Bisa ga sih, bikin ceritanya ga aneh2 gini! Kesel ihhh!"


Eike : (Ngakak kenceng, Ibarat ada yang meninggal, bisa idup lagi. Saking kencengnya. pokoknya sejenis ketawa sholeha, macam orang ini bangunin sahuuuurrr 👇👇🤣🤣)



Anakku : "Katanya ringan kaya makan krupuk! Manaa Manaaaa!" (die ngegas emosi bae)


Eike : "lho yang berat tuh novel sherlock holmes, mama ga gt kok" (dengan wajah memelas)



Tuh novel terberat di dunia ini.. udah penyelidikan yang susah di mengerti dan begitu ending belom tentu paham 🤣🤣 endingnya kita di bikin mikir berhari hari. bikin badmood. 🤣


"Mending mikir mah, drpd nyesek berhari hari kaya Lana ama Surya! ini Train blm apa apa bikin nyesek tauuuukk!"

__ADS_1


(Yaahh dia marah! Orang kl LDR an gt kali yak.. bawaannya emosian, makanya buat anak muda yg LDRan, cari pacar yang deket tp yg jauh juga pertahanin) 🤣🤣 "Ajaran sesat 🤣🤣


__ADS_2