
Senja itu di Distrik Miel. Di penuhi bunga bunga, balon, pita, lampu warna warni, musik, makanan, minuman, gelak tawa, beberapa orang berdansa dan menari. Mereka mengenakan pakaian terbaik mereka untuk menghadiri pesta ala pribumi orang orang Catalonia atau Catalan.
Sementara Leyka telah berganti gaun, ia terlihat keluar dari Apartemen Ratu dan menggandeng Putranya yang mengenakan jas berwarna hitam dengan list warna silver di kerahnya, berbeda dengan yang digunakan Train saat di Gereja, ia menggunakan jas berwarna putih sebelumnya.
Tentu saja Rosemary yang mendandani Train, celana panjang hitam dengan kemeja abu abu muda bersalur silver tanpa dasi serta sepatu hitam mengkilap membuat Train seperti layaknya pria dewasa. Urusan rambut, sudah pasti Valentino yang menatanya. Train sangat tampan dan menggemaskan, sudah pasti banyak orang yang akan mencubitinya bila ia berada di acara pesta.
"Daddy! Cepat! Daddy Daddy Daddy!" seperti biasa Train menendang pintu Apartemen Raja memanggil Valentino. Setelah memandikan Train dan menata rambutnya di Apartemen Ratu, giliran Valentino kembali ke Apartemen Raja membersihkan diri lalu mengganti pakaiannya.
Leyka terlihat cemas dengan wajah memerah, ia mere*mass rem**** gaunnya berulang kali, wajah cantiknya terbungkus rasa kesal. Leyka menggigit gigit kuku di ibu jarinya dengan gelisah. Train yang melihat itu hanya berdiri di depan pintu, mengamati sikap Leyka yang membuatnya bingung. Langkah kaki Valentino terdengar mendekati pintu dan handle pintu pun bergerak naik turun.
"Daddy bilang untuk menyimpan kunci Apartemen Raja jadi kau bisa-- Valentino membulatkan matanya dengan mulut ternganga melihat penampilan Leyka --ma suk ka pan sa ja" kata Valentino meneruskan perkataannya dengan terbata bata, mata Valentino tak berkedip melihatnya kecantikan Leyka dengan gaunnya.
Sama halnya Leyka juga terbelalak saat melihat Valentino keluar dari Apartemen Raja dan penampilan Valentino membuat Train meledakkan tawanya di susul Rosemary yang muncul begitu saja dari Apartemen Ratu. Leyka pun terbahak akhirnya.
Valentino mengenakan celana hitam namun warna baju yang Valentino kenakan berwarna pink (merah muda). Valentino mendengar percakapan Ibu mertuanya dan Leyka bahwa Leyka akan mengenakan gaun berwarna pink, akhirnya Valentino mengenakan warna serupa. Namun Valentino yang bernampilan garang itu justru mengundang tawa. Leyka yang begitu resah dan cemas karena gaunnya, kini justru rasa itu menghilang.
"Ahahaha Daddy! Ohh Noo Daddy! Daddy memakai warna pink! Ohh Noo Daddy!" Train tertawa terpingkal pingkal dengan menutup mulutnya dengan kedua jemari tangannya.
"Hahaha-- Apa kau yakin akan menggunakan warna itu hanya karena Istrimu menggunakan warna pink, Mi Yerno (menantuku;laki laki)?" tanya Rosemary dengan terbahak.
"Hahaha-- Kau seperti marikita!" sahut Leyka ikut tertawa terpingkal pingkal dengan memegang perutnya. Namun Valentino tetap menegang, ia masih terkesima dengan gaun yang Leyka kenakan. Rasanya ia ingin memeluk Leyka dan meluapkan kerinduannya. Bila tidak ada Ibu mertuanya dan Train, entah apa jadinya. Apa yang membuat Valentino mematung saat melihat Leyka? Ia tidak bergeming saat Train, Rosemary dan Leyka menertawakannya. Di tambah kehadiran Jared dan Torres dari kejauhan dan langsung meledakkan tawanya hingga memenuhi lorong Apartemen di lantai tujuh.
"Aku tidak bermimpi kan? Mataku baik baik saja kan Jared? Hahaha!" kata Torres terbahak bahak sambil berjalan kearah Valentino yang terpaku diambang pintu menatap Leyka dengan sejuta rasa bahagia dihatinya.
"Aku pikir hanya aku yang merasa berada di dalam mimpi! Hahaha!" Jared pun terbahak bahak dengan menepuk nepuk pundak Torres.
Menyadari Valentino masih saja mematung Leyka menghentikan tawanya, ia menyadari Valentino menatapnya tak berkedip dan terkesima karena gaun yang ia kenakan. Leyka kembali berdebar dan salah tingkah.
Pasalnya adalah, Leyka mengenakan gaun yang pernah Valentino berikan untuknya saat di Pretoria. Dan gaun itu adalah gaun yang Leyka kenakan di pernikahan massal. Tidak terkira rasa bahagianya, Valentino sangat gugup melihatnya.
"Ka..ka..kaauu.. Leyka.. Kau..kau memakai gaun itu?" tanya Valentino dengan gugup dan membuat semua terdiam.
"Si Mommy memakai gaun itu entah kapan Mommy membelinya! Porque Daddy? Porque? (Kenapa Daddy? Kenapa)?" tanya Train penasaran.
"Gaun ini cantik. Ada yang salah?" tanya Rosemary melihat kearah Leyka yang menatap ujung sepatunya karena ia sangat malu.
"I..Itu gaun.. Yang Leyka kenakan saat.. Per..nikahan Massal" ujar Valentino membuat wajah semua orang yang melihatnya berseri seri kecuali Leyka yang mengatupkan bibirnya rapat rapat.
"Woooww Mommy! Mommy masih menyimpannnya?!-- Ooo, Lo se! Lo se! Lo se! (aku tahu aku tahu aku tahu)! Aku melihatnya di foto pernikahan!" seru Train mengingat gaun itu, kini ia mengerti mengapa Mommynya merasa resah dan cemas saat mengenakan gaun itu.
"Apa?!" Rosemarypun mengamati Leyka dari atas sampai bawah ia memegang gaun itu dengan penasaran. Gaun itu masih terjaga warnanya, tidak usang ataupun lapuk di makan usia.
"Si Grandma! Ini gaunnya yang di foto itu! Apa Grandma lupa?" tanya Train dengan mendongakan kepalanya kearah Rosemary.
"Si, Grandma baru ingat sekarang!" jawab Rosemary sambil mencubit hidung Train.
"Mi amor, apa ini gaun yang kau bicarakan dengan Madre? Kau ingin memakainya?" tanya Valentino mengingatkan percakapan Leyka dan Ibunya karena itulah Valentino mengenakan warna senada. Maksud hati Valentino ingin membuat Leyka tertawa dan Valentino berhasil. Ia ingin mengurai kecanggungan itu.
"Jangan terlalu senang dan besar kepala! Aku memakainya karena aku pernah berjanji pada Manuella untuk memakai gaun ini saat ia menikah! Seperti janji Manuella pada Tia Dolores seperti itu juga aku berjanji akan memakai gaun yang tidak aku sukai! Gaun yang selalu aku hindari! Gaun yang aku benci karena gaun ini mengingatkanmu! Aku berjanji karena mereka tidak mau menikah! Dan aku yakin, kau tidak akan pernah datang. Mana tahu kau akan datang lagi" ujar Leyka dengan sikap dinginnya dan memperlihatkan kekesalan diwajahnya namun hatinya berdetak tak menentu.
"Kalau kau membencinya, mengapa kau merawatnya dengan baik Pachito? Madre tau, kau pasti rajin ke binatu beberapa bulan sekali" kata Rosemary membuat wajah Leyka memerah, rasa gengsi, rasa canggung, rasa tak percayanya membuat Leyka bersikap dingin.
"Ckk, Ishh Madre-- Leyka berdecak kearah Ibunya dengan mendengus, ia merasa Ibunya membongkar kebiasaannya dihadapan Valentino karena itulah Rosemary mengamati gaun itu --Vamos, Train! Mommy lapar!" Leyka memalingkan tubuhnya menghindari tatapan Valentino. Ia menyambar tangan Train untuk menggandeng tangannya dan berlalu pergi.
"Daddy aku menunggumu dibawah! Aku lapar!" ujar Train menurut begitu saja. Ia berjalan tidak seperti biasanya dengan melompat lompat, saat ini ia berjalan ala bangsawan. Diam diam Rosemary banyak mempengaruhinya.
"Bersabarlah! Putriku membutuhkan banyak waktu. Tapi percayalah, ia akan segera melupakan dan akan menghangat. Tetaplah membuat Putriku jatuh cinta padamu, karena delapan tahun adalah tahun yang tidak mudah untuknya-- Dan satu lagi. Dia sangat mencintaimu hanya dia tidak sanggup mengatakannya" tutur Rosemary sambil menepuk lengan Valentino dengan tersenyum kemudian ia berlalu menyusul langkah Putrinya.
"Apa kau yakin dengan pakaianmu ini?" tanya Jared membuyarkan lamunan Valentino.
"Aku tahu! Aku tahu apa yang membuat Leyka jatuh cinta padaku!" kata Valentino bergegas kembali memasuki Apartemen disusul Jared dan Torres dengan tergesa gesa.
"Bagaimana caranya?" tanya Torres sambil menghempaskan bokongnya di sofa saat ia mencapai ruang tengah. Ruangan yang berhadapan dengan kamar Valentino.
"Dengan mengembalikan kisah Pretoria ke Barcelona!" kata Valentino seraya menutup pintu kamar. Jared dan Torres pun menunggu dengan penasaran.
-
-
-
Suasana senja itu sangat riuh, musik bergema bertalu talu. Tawa, canda, suka, cita bahagia memenuhi Distrik Miel. Gelas demi gelas berdentingan serasa merdu diiringi jeritan anak anak yang berlarian dan berkejaran. Semua turut bahagia, tidak ada airmata kesedihan yang ada hanya bahagia.
"Akhirnya kau mengenakan gaun yang paling kau sukai" kata Manuella merangkul pundak Leyka dan masing masing memegang gelas champange, sesekali mereka meneguknya secara bersamaan setelah melakukan toast.
"Cihh, aku tidak menyukainya" kata Leyka membuat Manuella terkekeh.
__ADS_1
"Lalu kau sangat berhati hati merawatnya" sindir Manuella dengan terkekeh.
"Ckk, ganti topik saja! Aku malas mendengar ejekanmu" Manuella semakin terkekeh dengan mengeratkan pelukannya pada sahabatnya.
"Psstt.. Suamimu sangat tampan. Dia datang!" kata Manuella mengurai pelukannya dan melemparkan senyuman dan pandangannya kearah Valentino yang datang bersama Jared dan Torres.
"Cihh, pantas leherku terasa dingin! Auranya sangat menyeramkan! Tampan tapi memakai baju pink apa bagusnya dia?!" kata Leyka sambil melengos ketus, ia tidak mau membalikan tubuhnya kearah Valentino bahkan Leyka menoleh saja tidak mau. Leyka memunggungi arah, darimana Valentino datang. Leyka lebih asik mengawasi Putranya yang bermain bersama saudara sebayanya.
"Hahaha-- Tentu saja auranya sangat dingin karena dia Raja Setan! Lalu-- Apa cinta membuat seseorang buta warna?" sindir Manuella dengan tertawa terbahak bahak.
"Cinta? Buta warna? Dia tadi memakai baju warna pink dan aku tidak buta war-- Leyka menghentikan perkataannya saat menoleh kearah Valentino karena langkah kakinya terdengar mendekat.
Leyka terkesima, ia menelan salivanya melihat Valentino yang bersinar sangat tampan di sore itu. Valentino mengubah penampilannya. Leyka terkejut dengan apa yang dikenakan oleh Valentino sama seperti delapan tahun yang lalu.
Kemeja yang pernah ia jahit dengan tangannya, kemeja berwarna biru muda, dan Leyka mengganti kancingnya dengan warna merah tua. Pada zamannya, itu salah satu ciri khas rancangan Versace. Kemeja itu membalut tubuh Valentino sangat ketat hingga menonjolkan bentuk tubuhnya yang atletis, dibanding dahulu tubuhnya sekarang lebih berisi.
Sebuah dasi pemberiannya dan juga ikat pinggang dari sebuah suku di Afrika yang dibelinya di pasar seni tersemat ditubuh Valentino. Leyka diam terpaku dan menatap Valentino tanpa berkedip, hatinya berdebar debar, hawa dingin menjalari tubuhnya, ia mengeratkan genggaman gelas champange di tangannya. Sementara itu Jared dan Torres memberi selamat kepada Diego dan berbaur dengan yang lain.
"Manuella selamat ini hadiah dariku!" kata Valentino dengan senyumannya dan suara khasnya. Ia mengulurkan satu kotak yang dilapisi bahan beludru dan Manuella menerima lalu membukanya dengan mata berbinar.
"Wow Val! Gracias! Pesta ini! Hadiah ini! Wow! Kau sangat baik! Ini untukku dan Diego?! Yeaay aku menyukainya!" Valentino mengangguk dan Manuella bersorak saat melihat sepasang arloji berlapis emas dari brand kenamaan diberikan untuknya sebagai hadiah pernikahannya.
"Istri dan Putraku yang memilihnya" jawab Valentino sambil melirik kearah Leyka yang memalingkan wajahnya sambil meneguk minuman ditangannya. Penyebutan Istri dan Putraku, membuat Leyka berdebar debar.
"Leykaaaa Paquito! Kau briliann!-- Manuella memeluk Leyka erat dan menggoyangkanya lalu melepaskannya --Aku akan mengajak Valentino berdansa! Aku meminjam suamimu!" Leyka hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang sangat bahagia hingga kebahagiaan itu terasa menular kepadanya.
Manuella memberikan hadiah itu pada Diego dan Manuella menarik tangan Valentino untuk berdansa dengannya, dan Valentino berusaha menolaknya, "Ehh.. ehmm.. Leyka.. Dia.. Manuella.. Aku mau berdansa dengan istriku.. Leyka.. Ley jangan diam saja!" Leyka justru tertawa saat Manuella memaksa Valentino berdansa. Walaupun dengan gerakan yang kaku dan mata yang tak lepas membidik Leyka, Valentino akhirnya meladeni Manuella.
,
"Mereka sangat cocok-- Aku dengar dulu kau menyukai Diego. Menurutku kau lebih cocok dengan Diego-- Lihat, hidung Manuella sangat mirip dengan hidung Valentino!" Torres perlahan mendekati Leyka sambil menyesap champange di tangannya. Seperti biasa Torres menjadi kompor ajaib yang siap memanaskan hati dengan perkataannya yang penuh keyakinan.
Leyka terdiam dan mendengus. Ia memilih diam dan menyesap champangenya lalu ia meletakan gelas kosong di meja yang tidak jauh darinya. Torres melanjutkan aksinya, "Aura Valentino sangat luar biasa, ia menjadi magnet para wanita. Aku memperhatikan dari tadi, banyak wanita di Distrik ini yang diam diam bergosip memperbincangkan ketampanan suamimu itu" Leyka justru tersenyum tipis dengan bersedekap, karena mata Valentino begitu tajam mengawasi Torres.
"Kau benar. Penelope saja berharap aku menceraikan Valentino dan dia siap menerima Valentino apa adanya" kata Leyka seketika membuat Torres bereaksi.
"Shittt! Dasar wanita ular! Siapapun dia sukai!" gerutu Torres membuat Leyka menahan tawanya.
"Valentino tampan, Ramos juga tampan, pantas saja Penelope menyukainya. Menurutku, dia mencintai Ramos" imbuhnya, dan Torres meneguk habis minumannya.
"Shittt! Penelope memang pintar menggoda siapapun!" kata Torres dengan melonggarkan dasinya.
"Aaaaw Leyka!" Torres meringis kesakitan dan mengundang mata Valentino namun pikirannya penuh tanda tanya.
"Ohh, Lo siento! Aku sengaja Torres! Ups! Maksudku aku tidak sengaja-- Tapi sebaiknya kau jauhi Penelope!" Leyka pun berlalu kearah Train yang tengah bermain. Dan itu membuat hati Valentino tak menentu. Ia bergegas menyudahi dansanya lalu mengekor langkah Leyka.
"Shittt! Siapa juga yang mendekati sepupu gilamu itu!" umpat Torres merasa gagal dan terjebak dengan perkataan Leyka.
Ia mengedarkan pandangannya dan mencari sesosok Penelope yang tengah bercengkerama dengan Ramos beserta penghuni Distrik Miel. Torres melengkungkan sudut bibirnya dengan kesal kemudian meringis menahan rasa sakit di kakinya.
"Apa yang Torres lakukan padamu?" tanya Valentino dari arah belakang dan Leyka mempercepat langkahnya.
"Ley!" Valentinopun setengah berlari menyusul Leyka dan menangkap tangan lembut itu hingga Leyka menghentikan langkahnya.
"Tidak melakukan apa apa! Aku hanya menyuruhnya menjauhi Penelope! Dia mencoba membuat hatiku panas!" Ujar Leyka menepis tangan Valentino dan melanjutkan langkahnya. Mereka tiba di sebuah pohon yang sangat teduh.
Keteduhannya mengingatkan Valentino di Pretoria saat melewatinya, Valentino kembali menangkap tangan Leyka dan meraih pinggangnya.
"Val, apa yang kau lakukan?" tanya Leyka dengan berdebar debar.
"Pohon ini-- Valentino mendorong perlahan tubuh Leyka --Mengingatkanku akan Pretoria" bisik Valentino membuat Leyka menahan nafasnya saat Valentino menghimpitnya di bawah pohon rindang itu.
Leyka menengadahkan wajahnya keatas, mengamati rindangnya pohon itu. Valentino pun menahan lengan Leyka dipohon dan satu tangannya membelai pipi hingga ke leher jenjang itu. Leyka terhenyak saat melihat tatapan Valentino serasa menikam jantungnya hingga hatinya berdesir lembut.
Saat Leyka memalingkan wajahnya Valentino menahan dagu Leyka dan mengarahkan kewajahnya lalu Valentino berbisik dengan penuh kelembutan, "Ley, apa kau ingat teduhnya pohon ini seperti teduhnya di bawah pohon bunga Jacaranda di pernikahan massal?"
"Si" desis Leyka, lidahnya mendadak kelu. Tatapan mata Valentino dipadu lirih bisikannya seakan membius Leyka.
"Dan posisi kita, bukan kah seperti berada di Palace of Justice?" tanya Valentino semakin mendekatkan wajahnya dan jemarinya mulai merayapi bibir Leyka dengan lembut. Valentino menelan salivanya, mata biru keabuan itu seakan menelanjangi wajah Leyka inci demi inci.
"Si"
"Apa kau mengingatnya dan tidak pernah melupakannya?" bisik Valentino sambil mengusap lembut hidung Leyka dengan punggung jemari tanganya.
"Si, Val" dan Valentino tersenyum mendengarnya.
"Apa kau merindukannya?" bisik Valentino dengan suaranya nyaris menghilang.
"Si" bisik Leyka dengan menahan nafasnya.
__ADS_1
"Shhh.. Ley!" hati Valentino serasa luruh seketika, detak jantungnya tak berirama, nafasnya berkejaran, aroma manisnya champange dari mulut Leyka menyeruak, menggeliatkan kerinduannya di Petroria.
"Val--- Hmmpht" Valentinopun mencengkeram tengkuk Leyka dan di temaramnya senja itu, Valentino mencium bibir Leyka. Ciuman yang sama saat berada di Pretoria, ciuman yang sama saat mereka akan berpisah dan ciuman yang sama saat mereka bertemu kembali. Ciuman yang begitu lembut, penuh perasaan. Hati dan jiwa mereka bertaut dan semakin terikat.
Tangan mereka saling menangkup di pipi, bibir mereka saling mema*gut, melu*mat, menyesap saat lidah mereka bertemu. Ciuman yang mengalun lembut hingga mereka merasakan kehangatan, meluapkan kerinduan, cinta yang tersembunyi dari ketakutan dan rasa manisnya bibir mereka, enggan rasanya mereka lepaskan.
Tak perduli orang disekitar mereka melihatnya, mata mereka terpejam dan pikiran mereka terbang ke angkasa menyambut senja yang berkilau kuning keemasan yang di kelilingi semburat saga (merah; kemerahan) di cakrawala yang menaungi Distrik Miel. Bahkan suara mungil Putra mereka dari kejauhan seakan samar samar menghilang dan itu tidak menghentikan ciuman yang begitu hangat, menentramkan dan semakin menggebu.
"Vamos Vamos! Foto mereka Uncle Damian!"
"Si Train!"
"Mereka seperti di Pretoria! Mereka seperti di foto yang kau jual pada Daddyku! Ya kan Uncle?"
"Si Train! Hanya bedanya sekarang senja jadi kau harus memegang lampu blitznya dengan benar"
"Mereka saling mencintai!"
"Si Train! Apa kau bahagia?"
"Si Uncle Damian! Aku sangat bahagia dan aku berdoa semoga kau menemukan kebahagianmu. Sebenarnya Mommy tidak cocok denganmu. Dia suka mengupil, suka kentut, dia suka menggaruk ketiaknya lalu menciumnya! Uhss! Daddy menyebut Mommyku, Nona Jorok!"
Ciuman itu terlepas karena perkataan Train, Damian tertawa terpingkal pingkal namun Valentino dan Leyka hanya tersenyum, tak sedikitpun mereka menoleh kearah mereka. Valentino kembali mencium bibir Leyka, karena rasanya tidak pernah ada kata puas dan Leyka menyambutnya.
Hahaha-- Apa kau pikir aku tidak tahu? Aku juga tau itu Hahaha-- Dengarkan aku, mau jorok atau tidak, dia tetap akan menjadi milik Daddymu bahkan saat aku mengambil foto mereka di Pretoria, Mommymu telah menjadi milik Daddymu
Si si si.. Mereka telah menikah saat kau bertemu di rumah Uncle Henry.. Dimana dia.. Lama sekali dia tidak datang datang..
Mandinya seperti perempuan, sangat lama.. Vamos.. Pegang tongkat blitznya dengan benar..
Dan kamera Damian bekerja membidik sasaran dan Train memegangi tongkat yang ujungnya sebuah lampu blitz, sebuah perangkat tambahan untuk fotografer disaat kameranya kekurangan pencahayaan.
Dan cahaya blitz seakan mengelilingi mereka, Valentino mengurai ciumannya dan membelai pipi hingga daun telinga Leyka yang memerah. Valentino tersenyum dan menatap mata Leyka, "Nona jorok, aku masih mengingatnya saat kau mengupil di kereta"
"Hahaha-- kau marah saat aku melemparkannya padamu"
"Kau diam diam mencium ketiakku"
"Hahaha-- Kau tahu? Isshh, menyebalkan!"
"Tapi aku juga suka memerahi ketiakmu" bisik Valentino.
"Hahaha-- Kau gila, Val!"
Mereka terus tertawa mengingat kelucuan tingkah mereka saat di Pretoria. Panggilan Train tak dihiraukannya, kecanggungan perlahan terurai. Gunung es yang berada diantara mereka perlahan mencair, benteng itu pun runtuh.
"Uhsss! Sepertinya kita hanya seperti irisan buah peach, di kue tart! Kita hanyalah hiasan buat mereka, Uncle! No me gusta! Uhhss, mereka melupakanku!" ujar Train kesal karena dia di abaikan.
"Tapi Daddy sangat menyukai irisan buah Peach! Benar kan, Peach?" Valentino menautkan jemarinya dan membawa Leyka berjalan kearah Train dan Damian.
"Eh..Ehmm-- sangat suka sampai Daddy, sering memanggil Mommy, dengan nama Peach, Train" kata Leyka dengan gugup, ia mere*mas jemari Valentino yang terkekeh melihat kegugupannya.
"Aku menyukai wajahmu saat gugup" bisik Valentino.
"Isshh!" Leyka kembali mere*mas jemari Valentino.
"Uhss! Baiklah Peach, aku mau makan! Aku lapar Peach!" seru Train dengan mendengus dan bersedekap karena ia masih kesal karena diabaikan, namun Train membulatkan matanya saat Valentino melepas tangan Leyka dan jemari Valentino bergerak seperti gurita yang siap menggelitiki Train.
"Heiii Setan Cilikku! Kau tidak boleh memanggilnya Peach! Itu hanya untuk Daddy!" Train telah berlari sebelum Valentino menyelesaikan perkataannya dan Valentino mengejarnya kemudian.
"Noooo! Peaachh Peaach Peaachh Peachh! Nooo Daddy! Aaaaa Grandmaaa.. Ayúdame Ayúdame Ayúdame (tolong aku).. Aaaahahaha.. Nooo!" dan jeritan disertai tawa Train membuat Damian tersenyum hangat, ada rasa bahagia menyelinap dihatinya melihat pemandangan itu, saat Valentino menangkap tubuh Train lalu menciumi serta menggelitikinya, kemudian Valentino melambungkan tubuh Train seakan menyentuh cakrawala. Damian membidiknya dengan kameranya kemudian.
"Damian, apa kabarmu?" selangkah Leyka mendekati Damian lalu Damian menoleh kearah Leyka.
"Ahh-- Kabarku baik baik saja! Aku akan mengirimkan semua file foto ke Manuella" Leyka menghela nafas panjang saat Damian berlalu dari hadapannya untuk menghindarinya.
Ahh.. Baiklah.. Kau memang membutuhkan waktu.. Sama sepertiku. Leyka.
-
-
-
nungguin pembaca komen "Ehh itu kayanya yang garuk terus dicium othor deh" 🤣🤣🤣🤣
Ehh iyakk ga cm ketiak.. semua yg aku garuk aku tiumm diem2.. ehhh🤣🤣
-
-
__ADS_1
-