
Setelah dengan berat hati membereskan tas, topi, sepatu dan kaos kakinya yang berserakan di lantai, Train mencuci wajahnya, kaki dan juga tangannya lalu ia mengganti baju seragamnya. Dengan gontai ia kembali berjalan ke ruang tamu dan duduk disebelah Rosemary dengan merapatkan tubuhnya dan satu tangannya menaut dilengan Rosemary untuk mencari perlindungan. Judith duduk dengan bersedekap dengan mata tajamnya menatap Train yang sesekali menggosok hidungnya.
Dua petugas kepolisian dari wilayah pusat Barcelona, dimana Distrik Miel berada terlihat memeriksa Pasporr dan Izin tinggal Valentino. Leyka mendampingi Suaminya dengan menautkan tangannya dipinggang belakang Valentino. Mereka harus menjawab pertanyaan perihal pengaduan dari Dinas Sosial dimana Dinas Sosoal mendapatkan aduan dari Train.
"Jadi kalian pasangan yang ada ditelevisi yang baru bertemu setelah delapan tahun berpisah?" kata seorang petugas.
Di dada kirinya tertulis nama petugas itu yaitu, Rodriguez. Dan disebelahnya berdiri seorang petugas yang merupakan rekannya bertugas hari itu dan di dada kirinya tertulis, Salvador. Sesekali Rodriguez menatap Valentino untuk mencocokan wajah dan foto yang tertera di Passportnya.
"Si-- Apa perlu dokumen pernikahan kami?" tanya Valentino dan Leyka menyimak pertanyaan demi pertanyaan sesekali Leyka mendelik kearah Train yang memalingkan wajahnya saat matanya bertemu dengan mata Mommynya. Valentino tersenyum mengingat rencananya saat Viscountess berhasil membuat semua orang mengenalnya sebagai Suami sang Putri Mahkota.
"Tidak perlu. Ini saja cukup. Hanya saja aku harus memastikan bahwa ini adalah pengaduan salah paham" kata Rodriguez sambil mengulurkan passport dan dokumen ijin tinggal ke arah Valentino.
"Ini memang salah paham. Putraku salah mengira-- Opsir Rodroguez dan Opsir Salvador, maafkan kepolosan Putraku dan kepanikannya" kata Valentino melirik kearah Train dengan rasa kasian, karena Putranya pasti merasa bersalah karena memanggil Judith.
"Bila seorang anak panik pasti ada sesuatu yang mendasarinya-- Rodriguez mengedarkan pandangannya --tidak ada kerusakan apapun dan tidak ada pertengkaran" imbuhnya lagi.
"Karena aku menemukan dua kancing baju Mommy" sahut Train ingin membela dirinya dan Leyka melirik kearah Train dengan tajam, Train melihatnya ia menggosok hidungnya lalu memalingkan wajahnya melihat kearah Rosemary kemudian. Rosemary tersenyum lalu meraih pundak Train agar bersandar padanya.
Rosemary pun mengusap punggung Train dan mencium puncak kepalanya sambil berbisik, "Mi Nieto (cucuku), jangan takut" Train mengangguk dan Leyka mendelik lagi kearah Putranya.
"Benarkah? Kau sangat cerdik. Siapa namamu, Boy?" tanya petugas Salvador kearah Train sambil memberi selembar kertas rangkap empat kepada Judith lalu Judith membacanya.
Kertas itu berisikan tentang laporan yang harus ditulis bahwa pengaduan itu hanya salah paham dan harus ditanda tangani oleh Judith sebagai Perwakilan dari Dinas Sosial dan juga kedua orangtua pelapor yaitu Valentino dan Leyka.
"Aku Blue Train Valentino, aku dibuat di kereta api-- Train memperkenalkan dirinya seperti biasanya tapi Leyka dengan cepat menghentikanya.
"Train" potong Leyka dengan mendelikan matanya, Valentino merangkul pundaknya dan menahan dengan ciuman dipelipisnya dengan berbisik, "Biarkan dia bangga pada dirinya sendiri, Mi Amor" Valentino tersenyum, Judith mengamati.
"No! Aku benar! Aku dibuat di kereta api route terpanjang 27 jam menuju Pretoria!" seru Train menegakan tubuhnya lalu ia kembali bersembunyi dipelukan Rosemary. Kedua petugas itu tertawa mendengar jawaban Train dengan begitu polosnya.
"Jadi apa yang membuatmu memanggilku? Apa belakangan ini Mommy dan Daddymu bertengkar?" tanya Judith dengan pulpen di tangannya dan menggunakan untuk memijat pangkal hidungnya. Ia mencari kebenaran dan kejujuran dari Train dan kedua orangtuanya.
"No, aku tidak melihatnya! Aku melihat Mommy tidur dipangkuan Daddy dimalam santai di Apartemen ini" kata Train mencoba mengingatnya.
"Lalu? Ada yang kau ingat lagi?" tanya Judith dan kedua petugas polisi menyimak dengan baik.
"Kami tidur bertiga dan aku tidak melihat pertengkaran kemarin kemarin" kata Train dengan menatap mata Judith.
"Val, adakah cara agar mereka semua pergi" bisik Leyka
"Sulit sekali, apalagi mereka membawa Dinas Sosial" Valentino balas berbisik sambil mencuri ciuman di pipi Leyka. Judith langsung menanda tangani kertas berangkap itu dengan tersenyum. Judith bisa langsung menyimpulkan dan memetakan apa yang terjadi.
"Jadi ceritakan untuk apa kau menghubungi Senora Judith?" kata Rodriguez yang tak mudah melepaskan masalah itu begitu saja dan mengabaikan pengaduan Train.
"Opsir, nanti aku ceritakan dijalan. Tugas kita selesai dan tidak terjadi apapun" ujar Judith merapikan berkasnya lalu mengulurkan kertas rangkap pengaduan beserta pulpen kepada Leyka.
"Kau tanda tangani saja, Leyka-- dan Valentino juga" ujar Judith dengan tersenyum dan Leyka membalasnya dengan wajah memerah. Leyka merasa Judith telah mengetahui apa yang terjadi. Ia kemudian meminjam dada Valentino sebagai alas untuk menanda tangani kertas rangkap itu. Valentino tersenyum menatap Leyka lalu mencium keningnya. Judith mengamati dan Train juga mengamatinya.
"Aku ingin mendengarnya dari Blue Train" Rodriguez masih berusaha.
"Opsir Rodriguez, Blue Train masih terlalu kecil untuk mengartikan pertengkaran" jawab Judith dengan mengerlingkan matanya. Namun kedua opsir itu belum mengerti.
"No No No Tia Judith, aku memanggil Mommy dan Daddy! Tapi mereka tidak membuka pintu! Ohh itu lama sekali. Aku lelah berdiri di depan pintu. Lalu aku melihat dicelah pintu dan aku menemukan dua kancing baju Mommy, jadi aku memanggilmu karena mereka pasti bertengkar dan pingsan!" ujar Train bersemangat. Valentino bergantian menandatangani kertas rangkap sambil menahan tawanya dan Leyka mencubit pinggul Valentino lalu Valentino merangkul Leyka masih dengan menahan tawanya.
"Mengapa kamu tidak berpikir Mommy dan Daddy sedang tidur" tanya Judith dengan menggelengkan kepalanya.
"Apa Tia Judith dan Opsir Policia bisa menjelaskan bagaimana dua kancing baju Mommy ada di luar pintu, kalau bukan bertengkar lalu apa? Uhss!" semua terdiam saling pandang dan tidak bisa menjawab pertanyaan Train.
Judith pun menghindari pertanyaan Train dan mengalihkannya dengan bertanya pada Leyka yang mengembalikan kertas rangkap pengaduan itu kearahnya, "Leyka aku mencoba menghubungi ponselmu. Dan kau Gallardiev, ponselmu bahkan tidak aktif" ujar Judith sambil memberikan kertas pada Opsir Rodriguez.
"Aku-- aku.. Sedang mandi Judith" jawab Leyka gugup.
"Dan aku sengaja me-non aktifkan ponselku karena aku tidak mau ada yang menggangguku" jawab Valentino sambil memandangi wajah Leyka lalu mencium pelipisnya. Leyka menggaruk lehernya karena ia menjadi sangat risau karena ulah Valentino yang menunjukan keromantisannya di depan umum.
"Si, aku juga menghubungi Mommy dan Daddy dari Apartemen Ratu! Uhsss! Mereka tidak menjawab!" Leyka kembali menajamkan matanya kearah Train yang bersembunyi di pelukan Rosemary. Sementara sang Grandma yang membalas tatapannya. Leyka menyerah bila Train mendapatkan dukungan dari Rosemary karena hanya akan menjadi perdebatan yang panjang.
"Train itu karena Daddy tidur dan Mommy mandi!" sanggah Leyka dan Train menunduk dengan rasa bersalah. Namun mata jelinya kembali membuat para Polisi enggan pergi dengan tangan kosong.
"Ohhh Noo! Miraar (lihat)! Ada kancing baju lagi!-- Train memungutnya dibawah kaki lalu menunjukan pada Judith --Woow ini punya Daddy! Kalian bertengkar! Mana baju kalian! Kalian berbohong kan?!" Keberanian Train pun kembali mencuat. Ia pun bangkit berdiri.
"Ehmm.. Bajunya sudah masuk mesin cuci" Valentino mencari alasan.
"Tia Judith, aku akan menyerahkan padamu. Mereka pandai berpura pura. Sudahlah, aku tidak akan berharap mereka akan bersama selamanya. Dan aku hanya memiliki waktu tiga bulan bersama mereka" Judith trenyuh melihatnya begitupun Rosemary, yang melihat Train menurunkan pandangannya lalu menggosok hidungnya dengan bola mata birunya yang telah semburat kemerahan.
"Kemarilah-- Judith meraih tangan Train lalu memeluk tubuh kecil itu --kau akan menemukan kebahagiaanmu bahkan kau telah menemukan kebahagiaan yang kau tunggu selama ini" Judith mengusap punggung Train kemudian.
__ADS_1
"Apa maksudnya? Mommy dan Daddyku tidak akan bersama" nada suara Train membuat semuanya trenyuh saat Train semakin mengeratkan pelukannya.
"Kalian jangan membuat Cucuku sedih atau aku akan membawanya ke Palma!" sela Rosemary membuat Valentino dan Leyka justru saling melemparkan pandangannya dengan tersenyum.
"Mereka akan bersama Train, Tia bisa merasakanya dan Tia bisa melihat banyak lampu di mata mereka" Judith memeluk Train tapi senyumannya dan tatapannya mengarah pada kedua pasangan yang saling mencuri ciuman dengan rasa bahagia. Mereka membenarkan perkataan Judith dengan seulas senyum di wajah mereka.
"Senor Gallardiev? Apa anda yakin tidak ada kekerasan yang berusaha kalian sembunyikan?" tanya Opsir Salvador, membuat Train beringsut dari pelukan Judith dan menoleh kearah Valentino yang masih berdiri bersandingan merangkul pundak Leyka.
"Opsir Rodriguez.. Opsir Salvador-- Tolong ikut aku sebentar, kita bicara di luar" ujar Valentino mencium kening Leyka sesaat lalu beranjak dari sisi Leyka.
"Train mau ikut! Train mau ikut Daddy!" pinta Train dengan berseru.
"Blue, duduklah temani Tia Judith!" ujar Valentino dengan tegas dan Train menurut. Valentinopun beranjak menuju pintu keluar diikuti kedua Opsir Polisi.
"Kemarilah kita masih harus bicara" kata Judith.
"Si" ujar Train dengan lesu.
"Mengenai kancing itu-- Mungkin saja Mommy dan Daddymu sangat berkeringat sehingga tidak sengaja membuka baju dengan paksa karena cuaca hari ini sangat panas" kata Judith membuat Leyka tersenyum simpul.
"Pachito selalu tidak sabaran bila sedang berkeringat" imbuh Rosemary yang telah mengerti arti senyuman Putrinya.
"Tapi ini musim gugur" ujar Train masih lesu.
"Kita bukan di Swiss bila musim gugur disana kehilangan matahari. Tapi di Barcelona matahari masih bersinar cerah dan mungkin saja Mommy Daddymu sedang melakukan pekerjaan yang membuat mereka berkeringat sangat banyak" tutur Judith dengan membelai pipi Train dengan penuh kehangatan.
"Si Mommy dan Daddy hari ini comprando mucho (membeli/berbelanja banyak)! Uhss mucho mucho mucho! Sampai mobil Daddy penuh!" sahut Leyka menghampiri Train dan membuat ketakutan Train menghilang. Ya, Train sangat mencintai Leyka dan ia sangat takut bila Leyka mendiamkannya.
"Kalian tidak mengajakku" Leyka duduk dan memangku Train lalu mengurai rambutnya. Leyka tau bagaimana mengusir kekuatiran Train.
"Karena ini belanja kebutuhan kedai dan Apartemen kita-- Bukankah Blue Train akan bosan karena tidak bisa membeli mainan yang Train sukai di supermarket?" Train mulai memainkan rambut Leyka dan semua tersenyum lega melihatnya.
"Apa kalian makan ice cream?" tanya Train dengan memiringkan kepalanya.
"Tentu tidak. Mommy dan Daddy hanya akan makan ice cream bersamamu!" kata Leyka mencolek hidung Train dengan gemas. Lalu ia sesekali melihat kearah pintu keluar.
Leyka cemas, dan memikirkan bagaimana Valentino mengatasi kedua petugas dari kepolisian Spanyol. Karena salah sedikit saja, Valentino bisa di deportasi. Leyka berdebar debar, ia baru saja bahagia dan ia tidak ingin berpisah lagi dari Valentino. Namun belum ada sepuluh menit mereka berada diluar, mereka justru tertawa bersamaan, kemudian mereka kembali memasuki ruang tamu.
"Hahaha-- Baiklah, Senora Judith. Kita sudah tau situasinya! Aku pergi dulu!-- Putri Leyka, maaf mengganggu 'pertengkaran panas' kalian Hahaha-- Vamos Salvador, kita minum kopi di Double P!" Leyka memerah seketika wajahnya dan Valentino hanya menggaruk hidungnya menghindari tatapan Leyka yang menyelidik.
"Pertengkaran panas?" suara mungil bertanya dan menghentikan tawa kedua petugas Opsir Polisi itu.
"Penjelasannya tidak jelas! Terlalu berputar putar! Uhss! Kalian orang dewasa selalu berputar putar!" ujar Train dengan cemberut. Ada yang mengganjal di dalam hatinya bila ia tidak mendapatkan penjelasan se-jelas jelasnya.
"Blue kemarilah! Daddy butuh pelukanmu! Ahh Daddy tidak sanggup menahannya!" Train turun dari pangkuan Leyka lalu berjalan kearah Valentino yang merentangkan tangan.
"Apa Daddy sedih?" tanya Train menyambut pelukan Daddynya yang telah berlutut menyamakan tingginya.
"Blue! Daddy sangat bahagiaaa! Blue Train.. Blue Train.. Blue Train.. My Sweet Pretoriaa!" dengan penuh perasaan kebahagiaannya, Valentino mendekap dan menciumi wajah Train bertubi tubi, Leyka pun menghampiri mereka.
"Aku tidak mengerti! Uhss!" ujar Train bingung bercampur kesal.
"Mi amor apa kau mau mengatakan sesuatu?" tanya Valentino saat melihat Leyka bergabung dan duduk di lantai yang dialasi karpet.
"Si katakan!" seru Train membalikan tubuhnya.
"Carino-- Leyka meraih tangan Train lalu menciumnya --Apa kau ingat perjanjian tiga bulanmu untuk Mommy dan Daddy?" Leyka menatap mata Train dengan tersenyum penuh kehangatan layaknya ibu peri yang memberi perlindungan.
"Si Mommy" jawab Train dengan lembut namun tersirat kesedihan dan ketakutan bila impian dan harapannya sirna begitu saja. Sebuah impian yang akan mengubah tiga bulan menjadi selamanya.
"Mommy-- Ehmm Mommy telah mencabut perjanjian itu! Mommy tidak mau perjanjian itu" ujar Leyka dengan membelai pipi Train dan tersenyum dengan binar kebahagiaan. Train melirik kearah Judith dan Rosemary yang tersenyum penuh keharuan kearahnya. Mereka mengerti maksud Leyka namun Train masih belum mengerti.
"No Mommy" suara Train yang terdengar lembut nyaris menghilang karena Train masih menerka nerka arah pembicaraan Leyka.
"Mommy tidak mau perjanjian itu ada" Leyka semakin melebarkan senyumnya dan Valentino terpesona melihatnya.
"No-- Mommy no" gumam Train.
"Mommy mau kita-- Leyka mengusap dada Train dan memberi penekanan pada perkataannya --Daddy, Train dan Mommy.. Si (iya) Kita.. Kita, Carino.. Mommy mau Kita selamanya!" kata Leyka membuat Valentino memeluk Train dari belakang lalu mencium rambutnya.
"No Mommy-- Apa hanya demi aku?" mata Train berbinar, ia masih tidak mudah percaya begitu saja.
"No No No!-- Leyka terkekeh sambil menirukan gaya Train --Tentu saja bukan demi Train. Tapi Mommy sangat mencintai Daddy. Mommy tidak mau berpisah dengan Daddy lagi. Mommy tidak bisa hidup tanpa Daddy!" Train menepis tangan Valentino yang melingkar ditubuhnya lalu berhamburan memeluk Leyka.
"Mommmy! Mommy Te Quieroo! Mommy! Apa aku tidak salah dengar?" kedua tangan Train yang melingkar dileher Leyka sangat erat, ia menyembunyikan wajahnya diceruk leher Leyka sesekali ia menggosokan wajahnya disana, Train memejamkan mata dan menyembunyikan air matanya, Leyka memeluk tubuh kecil itu dengan tertawa karena ia sangat hafal bagaimana Train bila bahagia.
__ADS_1
"Si, Blue! Kau tidak salah dengar, Mommy memintanya sendiri kepada Daddy! Mommy memberi cinta dan ciuman sangat banyak-- Ughh mucho mucho mucho!" Leyka tertawa saat Valentino ikut memeluknya dan Train.
"Te Quiero Mommy!" seru Train masih membenamkan wajahnya.
"Te Quiero, Blue Train Valentino! My sweet Pretoria" balas Leyka dengan menciumi rambut Train karena Train masih menyembunyikan wajahnya.
"Mommy-- Kita akan selamanya Mommy-- Uhmm.. Te.. Quiero" Train semakin menautkan tanganya dengan erat di leher Leyka, semua yang melihatnya tersenyum penuh keharuan.
"Apa tidak ada pelukan buat Daddy?" tanya Valentino sambil menciumi Train dan selalu saja mencuri ciuman di bibir Leyka. Valentino memeluk putra dan istrinya sangat erat.
"No Daddy bekerja sana!" Train menoleh sesaat dan mendorong tubuh Valentino agar menjauh, lalu Train kembali memeluk Leyka dengan erat. Leyka, Rosemary dan Judith tertawa karena Valentino terjengkang ke belakang.
"Wow Putraku sangat kuat! Wow keren!" Valentino meniru gaya Train dan Train tersenyum walaupun menyembunyikan wajahnya.
"Hahaha-- Dia akan terus seperti ini.. Sepanjang hari. Memelukku dimanapun. Dia akan meminta rambutku, memainkan telingaku dan menciumi aku. Dia putraku yang sangat romantis" dengan gemas Leyka menggoyangkan tubuh Train ke kiri dan ke kanan. Train tak kunjung melepaskannya dan Leyka tau cara Train meluapkan kebahagiaan yang sulit ia terjemahkan.
"Ohh manis sekali Te Quiero, Mi amor.. Te Quiero, Mi Blue Train" Valentino kembali menciumi Train lalu sesaat ia menatap mata Leyka dengan tersenyum kemudian ia mencium bibir Leyka.
"Ti amo, il mio amore" desis Leyka setelah Valentino mengurai ciumannya.
"Ti amo, Daddy" jawab Train membuat Valentino luruh dan kembali memeluk keduanya.
"Leyka, aku akan mencabut pemantauan khususku, aku serahkan Blue Train dalam perlindungan dan penjagaan kalian. Ahh, aku lega akhirnya berkurang tugasku" kata Judith mengeluarkan daftar anak anak dalam pemantauan khusus lalu mencoretnya dengan tinta merah.
"Benarkah Judith? Aaa!-- Leyka bersorak, Judith mengangguk dan membentangkan kertas yang berisi daftar anak atau keluarga yang berada dalam pemantauan khusus --Traaiinn, kau dengar itu, Carino? Dinas Sosial melepaskan kita!-- Val, aku sangat mencintaimuuuu!" Leyka mengeratkan pelukanya, tak terkira kebahagiaan yang dialaminya setelah delapan tahun kesedihannya.
Leyka mensyukuri kejadian hari ini. Ada baiknya kesalah pahaman Train justru membawa kebahagiaan yang lebih untuknya. Mengingat Dinas Sosial mencoret daftar anak atau keluarga dalam pemantauan khusus tidaklah mudah di negara barat.
"Gracias Tia Judith! Graciass!" seru Train dibalik pelukan Leyka dan ia kembali menyembunyikan wajahnya.
Tuhan, Terima kasih.. Mommy dan Daddyku bersatu lagi dan akan selalu bersamaku.. Aku tidak bisa banyak bicara padaMu.. Karena aku bisa menangis dan itu memalukan.. Pokoknya terima kasih..
"Mommy akan membuatkanmu jus, setelah itu kau harus frente a la pared ( menghadap ke dinding) karena mengunci Mommy dan Daddy di Basement. Apa kau tahu itu tindakan berbahaya?" kata Leyka pada Train yang tak kunjung melepas pelukannya.
"Si Mommy, Lo siento (maafkan aku)" ujar Train mengeratkan pelukannya.
Uhhss.. Mommy sangat konsisten.. Uhhs Menyebalkan..
-
-
-
...BEHIND THE STORY...
..."Castigo Frente A La Pared"...
Kisah di balik hukuman menghadap ke dinding
Train duduk bersila menghadap ke dinding, ia mengamati dinding putih itu dengan sesekali menguap. Di dekatnya adalah televisi yang tidak ada volume suaranya karena Leyka mematikan volume suaranya. Train duduk dengan bersungut namun matanya melirik ke arah televisi bila Leyka tidak ada di sekitarnya.
"Berapa lama lagi Putraku dihukum?" tanya Valentino keluar kamar dengan rambutnya yang masih terlihat basah.
"Saat dia sadar kalau yang dilakukan itu salah dan berbahaya" kata Leyka mematikan televisi dan Train mendengus lalu ia kembali menghadap dinding berwallpaper putih. Leyka menyodorkan secangkir kopi dan Valentino menerimanya sambil mencium bibir Leyka.
"Uhss.. Dinding ini putih semua.. Hoaammss.. Mengunci di Basement.. Uhs.. Apa yang berbahaya?" Train berpikir.
"Si, aku salah.. Hoaamms.. Jika aku yang di kunci.. Uhm, pasti takut.. Si, basement pengap, lembab, kotor, berdebu.. Ohh No.. Asma ku bisa kambuh.. Hoaammss.. Si, aku salah" Train menempelkan dahinya ke dinding. Leyka dan Valentino mengintip Train dari ruang tamu, mereka diam dan mendengarkan kicauan Train sambil menahan senyumnya.
"Hoaammss.. Si aku salah.. Aku tidak boleh nakal.. Basement berbahaya buat Mommy dan Daddy.. Karena.. Ohh noo.. Daddy asma.. Bagaimana bila kambuh? Bagaimana bila tidak membawa inhaler.. Oh no Daddy.. Saat terkunci Mommy tidak bisa menolong! Mommy tidak kuat mendobrak pintu! No.. No.. Train tidak boleh nakal.. Oh No aku baru mengerti.. Oh No.. Tidak mau.. Aku tidak mau mengulanginya.. Hoaammss.. Mommy benar.. Itu berbahaya" kian lama Train memejamkan matanya dengan dahi menempel ke dinding ia pun memiringkan kepalanya dengan menguap dan terus berkicau.
"Uhss.. Aku tidak mau.. Lo siento Daddy.. Si aku nakal.. Itu berbahaya.. Aku janji tidak akan nakal lagi.. Hoaammss.. Mommy benar.. Ohh sampai kapan ini.. Hoaammss.. Train ngantuk.. Ngghh.. mengapa dinding tidak ada yg empuk.. Hoaammss.. Si Train salah.. Ngg.. nakal.. Si.. nakal.. Si.. Lo siento dinding.. Dinding keras.. Nghh.. Aku mau dinding yang empuk.. Ngh.. Hoaammss.. Hoaammss..
Perlahan suara Train menghilang. Valentino tidak tega melihat Train tertidur, "Oohh kasian sekali.. Mio bel figlio (putraku yang tampan)" Lalu ia menggendong Train dan dibawanya ke kamar sambil menciuminya.
"Hati hati dengan aktingnya, biasanya setelah di pindahkan ke kamar dia akan bangun dan bermain di tenda Indiannya karena dia susah sekali tidur siang" kata Leyka mengekor langkah Valentino ke kamar Train dengan senyuman karena ia tahu akting Train.
Uhsss Mommy Uhsss.. No aku mau tidur saja. Batin Train, mau tidak mau dia harus melupakan acara bermainnya dan tidur siang.
-
-
-
__ADS_1
Aku dan Pembaca👆 yang ga komen mungkin lagi meriang 🤣🤣 gpp sih tapi tetep kopiin aku 🤣