FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Karena Aku Mencintaimu


__ADS_3

Train menggoyangkan kakinya saat duduk di kursi makan yang berada di Double P. Ia menyangga dagunya dengan kedua tangannya dan menumpu pada meja. Train menunggu Simon membuatkan makan siang untuknya. Di hadapannya ada Jared dan Torres yang tengah menikmati secangkir kopi serta beberapa camilan buatan dari warga Distrik Miel.


"Uhs! Mengapa Simon lama sekali! Aku ingin cepat pulang! Aku ingin tau Mommy dan Daddy sedang apa! Bagaimana kalau mereka bertengkar?" keluh Train dengan menggosok gosok hidungnya yang terasa gatal.


"Mereka tidak mungkin bertengkar. Mungkin mereka sedang saling memijat kepala.. Ehm.. Leherr.. Bahuu.. Ehmm.. Dada.. Paha dan-- Sikap lenggak lenggok Torres seperti penari strip*tis, menggoda Train dengan jenaka sambil memegangi bagian tubuh yang ia sebutkan terhenti, ketika Penelope menghampiri meja dan mengejutkannya. Train dan Jared terbahak melihat.


"Heii Marikita (banci) Torres! Jangan mengajarkan hal hal yang tidak baik pada Train atau Mommy dan Daddynya akan menghabisimu! Kau ajarkan saja pada anakmu nanti!" Setelah menepuk bahu Torres dan membuatnya terkejut, Penelope meletakan satu piring makan siang untuk Train lalu menyiapkan garpu dan pisaunya serta serbet makanan.


"Gracias, Penelove-love" ujar Train masih menyisakan tawanya karena ulah Torres.


"Hish, mengapa kau ikut ikutan memanggilku seperti itu? Ah, sudahlah.. Makanlah-- Setelah ini Pedro akan mengantarmu. Tapi tidak usah buru buru karena Mommy dan Daddymu mungkin saja sedang tidur siang! Uhss, mereka sedang sakit kepala" kata Penelope memegangi kepalanya meniru gaya Train dengan terkekeh lalu mencium rambut Train.


"Bagaimana bisa bersamaan sakit kepalanya?" tanya Train sambil menegakan tubuhnya dan menyelipkan serbet di dadanya.


"Mungkin karena kau menguncinya di Basement" sahut Jared sambil menyesap kopinya.


"Mengapa bisa pusing?" tanya Train mengerutkan alisnya sambil memotong steak dengan pisaunya di tangan kanannya.


"Karena ternyata ada tikus disana dan memasuki lobang.. Ehmm, lobang-- Torres menghentikan perkataannya sambil mengetuk - ngetuk jari telunjuknya dibibirnya, ia berpikir dan mencari kata yang tepat untuk Train. Jared terkekeh dan Penelope bingung mengartikannya.


"Ada tikus? Ehm maksudnya mereka bermain dengan tikus-- Ehm Leyka menangkap tikus di Basement?" tanya Penelope dengan mengerlingkan matanya, karena Penelope mengerti arah pembicaraan Torres.


"Tidak, mereka melihat tikus bermain memasuki itu.. Lobang.. dan.. Penjaga keamanan dan penjaga cafetaria menangkapnya" jawab Torres mengangguk dengan mengerlingkan matanya.


"Hahaha-- Pantas saja mereka pusing!" Penelope tertawa dan Train menggelengkan kepalanya sambil bermalas malasan menyantap makanannya.


"Jadi ada lobang disana. Hmm-- Aku salah mengunci Mommy dan Daddy. Pasti Mommy ketakutan. Kasian Mommy, pantas Mommy pusing!" ujar Train meneguk minuman dan meletakan garpunya.


"Tapi Mommy dan Daddymu hanya melihat dari jauh. Ehm, melihat-- Torres menggaruk kepalanya mencari kata yang tepat untuk Train.


"Si-- Lobang tikus dan itu rumahnya" sambar Penelope sambil menginjak kaki Torres karena mata binal Torres menatap ke arah area bawah perut Penelope. Jared terbahak dan Train mendorong piring steaknya menjauh darinya.


"Aaa.. aaaw! Iya benar!" seru Torres dengan meringis menahan sakit.


"Apa sakit Marikita Torres?" tanya Penelope dengan tatapan sinis. Torres bangkit berdiri dan mencengkeram tangan Penelope dengan kesal.



"Penelove-love berhenti memanggilku seperti itu! Kau menurunkan harga diriku! Jangan sampai aku membuktikan-- Kejantananku padamu! Shitt!" lanjut Torres dalam hatinya.


"Apa!" tantang Penelope menepis tangan Torres dan mulai berkacak pinggang dengan menggulung lengan bajunya dengan menatap tajam kearah Torres dengan sengit.



"Owh itu-- Tidak tidak! Aku akan membuktikan aku bisa mengencani wanita wanita Spanyol! Tapi bukan dirimu!" kata Torres membalas tatapan mata Penelope dengan mengendurkan dasinya lalu ia kembali duduk.


"Dasar gangster" gumam Torres dengan mendelik kesal.


"Aku tidak mau makan! Kalian membicarakan tikus saat aku makan steak daging! Dan percinta cintaan kalian membuatku kenyang!" ujar Train meletakan serbetnya dimeja.


"Itu bukan percintaan!" ujar mereka secara bersamaan lalu saling memasang wajah perang dan Jared terbahak melihatnya.


"Ohh Lo siento Carino (maafkan aku, sayang)! Ehm-- Tadi Mommymu memasak Paela untuk Daddymu. Masih ada sisanya apa kau mau? Kalau kau mau aku akan memanaskannya" tanya Penelope sambil mencubit pipi Train.



"Si! Paela! Aku mau!" ujar Train kembali bersemangat. Dan Penelope bergegas pergi ke dapur.


"Steaknya buat aku saja!" kata Torres dan Train membiarkannya saat mengambil alih piringnya.


"Torres-- Sepertinya kau diam diam menyukai Penelove-love!" dan tersedaklah Torres hingga terbatuk batuk. Ia pun menyambar air mineral di hadapannya lalu meneguknya.


"Aku tidak tertarik sama sekali! Dia memiliki banyak kekasih! Dia itu ular berbisa! Dia itu suka berganti ganti pasangan" sanggah Torres dengan penuh penekanan seiring daging yang ia potong lalu melahapnya.


"Hati hati dengan sikapmu! Anak ini pandai mengamatimu" Jared terkekeh dengan mengusap rambut Train.


"Si-- Seperti aku juga mengamatimu Uncle Jared saat matamu mengagumi Penelove-love" Semua terdiam kemudian dan saling pandang. Lalu suasana menjadi senyap dengan pikiran masing masing.


Saat Penelope datang, secara bersamaan Jared dan Torres melemparkan pandangannya kearah Penelope kemudian Jared dan Torres saling pandang lalu secara bersamaan, membuang muka. Jared menatap kopi dan menyesapnya, Torres menatap steak dan menyantapnya.


Aahaha-- Kalian menyukai wanita yang sama.. Ini akan sangat seru. Train menahan tawanya.


-


-


-


APARTEMEN RAJA


Leyka memalingkan wajahnya kearah samping saat Valentino menatap wajahnya dengan tersenyum, Valentinopun mengejar wajah itu dengan memiringkan kepalanya. Ia tahu Leyka merasa malu lalu kesempatan itu di gunakan untuk mendekatkan bibirnya ke telinga Leyka.


"Sekarang giliranku, Peach !" Leykapun membulatkan matanya dan menelan salivanya. Saat Valentino menindihnya dengan menarik kedua pahanya agar menekuk dan terbentang.


Dada Leyka kian sesak saat melihat Valentino menunduk dan mengarahkan miliknya ke ar*ea in*timnya yang ranumnya bak irisan buah peach. Jantung Leyka seakan meledak, aliran darahnya melesat cepat, saat Leyka mengangkat kepalanya dan binaran mata coklatnya melihat betapa menjulangnya jagung bakar Afrika Selatan milik Valentino yang mencapai pusar.

__ADS_1


Leyka berkeringat, Leyka memanas, kedua tangannya mencengkeram sprei dengan kuat, Leyka mengeratkan pejaman matanya, menggigit bibirnya, menengadahkan kepalanya keatas, menahan kembali gejolak hasratnya yang kian meninggi.


"Ohh Ley.. Aahh.. Shh.. Ohh.. Lepaskan..Jangan mena..haanku Ley.. Sshh.. Aah-- namun Leyka menegang dan otot otot di pang*kal pa*hanya mencengkeram, menjepit dengan kuat. Merasakan sulit menembus milik Leyka Valentino mengangkat pinggulnya, mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengarahkan bibirnya lalu berbisik,


"Ooh.. Dame un camino, Mi Amor (berikan aku jalan, sayangku).. Shh.. Aahh.." bisik Valentino dengan lembut dan terdengar menghiba, Leyka perlahan mengendurkan otot ototnya dan Valentino melesakan miliknya perlahan lahan dengan wajahnya yang memerah dan desa*hannya yang merin*tih rin*tih.


"Aaa..aahh.. Leykaaa..Shhh.. Ohh"


"Aagghh.. Pel..laann.. Vaa..aall.. Aaahh" Leyka mendorong dada Valentino menjauh dan menahannya, saat melihat mata Valentino yang seakan menikamnya, Leyka memilih memejamkan matanya. Leyka hanya ingin merasakan, milik Valentino menerjangnya, memenuhi dirinya, menguasainya dan mengendalikannya.


"Aaahghh.. Vaal.. Aaaaa..aaa..aah" Leyka menahan nafasnya lalu menghembuskannya secara perlahan saat milik Valentino menjajah miliknya hingga tidak ada sekat, Leyka semakin membentangkan kaki dan Valentino menautkan kaki jenjang itu di pinggulnya.


Valentino meraih tangan Leyka yang menahan dadanya agar jaraknya semakin dekat, ia meletakan satu tangan Leyka di pipinya dan satu tangannya di pundaknya, Leyka semakin runtuh mana kala mata biru itu menelan*jangi wajahnya.


"Ahh.. Val.. Kau tampan sekali" tutur Leyka tanpa ia sadari, Valentino tersenyum lalu mengecup bibir Leyka sambil menekan miliknya kian dalam.


"Oooughh.. Kau wanita tercantiku, Ley.. Aahh.. Il mio amore.. Aaaakhh!" desah*an Valentino terdengar memanas, saat miliknya terbenam seutuhnya. Dengan mata terpejam, dengan melu*mat bibir sensual Leyka, Valentino memacu irisan buah peach secara perlahan lahan dengan menahan gairahnya yang kian menggelora.


Mengapa panas sekali.. Ohh Shitt.. Bagaimana aku bisa menahannya.. Ini berbeda dari sebelumnya. Valentino mulai gelisah.


"Ohh Peach.. Panas.. sekali.. Sshh.. Ough.." perlahan lahan Valentino mulai menggila, ia mengurai pagu*tannya, dan menyesap setiap inci leher Leyka, memainkan lidahnya di daun telinga Leyka, tanganya mulai liar mere*mas remas buah dada yang padat menggunung lalu menyingkirkan tangan Leyka hingga terangkat keatas kemudian Valentino menggigit ketiak Leyka hingga membekas. Menyembunyikan tanda miliknya karena takut Train akan mempertanyakan banyak hal.


Tak terkira rasanya, Leyka sampai menjerit lirih menahan terjangan Valentino yang kian buas menghantarkannya di puncak ketinggian. Leykapun menjadi liar, ia mendorong tubuh Valentino dan membebaskan dirinya hingga Valentino terhempas ke samping, dan dengan cepat Leyka menaiki tubuh Valentino.


"Ahhh.. Kau.. Cantik sekali.. Senora (nyonya) Gallardiev" gumam Valentino membuat hati Leyka berdebar debar bahagia.


Valentino mengerti Leyka ingin mengendalikan dirinya, Valentino tersenyum saat Leyka duduk di atas perutnya dan mencumbu leher lalu menuruni dadanya. Leyka menji*lat dan menyapu lingkar dada Valentino lalu menghisap ujung dadanya. Dengan lincah tangan Leyka menelusup ke arah jagung bakar Afrika Selatan yang semakin memanas. Leyka membelainya naik turun dengan tangan lembutnya.


"Oohh Shittt! Aarggh.. Ley.. Aahh.. Kau liar sekali Mi Esposa (istriku)" Valentino menge*rang saat Leyka mengangkat pinggulnya, ia mengarahkan milik Valentino ke irisan buah peach lalu Leyka menekan pinggulnya dan Valentino memberi dorongan sepenuhnya hingga milik Valentino kembali melesak seutuhnya.


Leyka mencodongkan tubuhnya ke depan dan menempelkan dahinya di dahi Valentino sambil menggoyangkan pinggulnya dan menekannya perlahan - lahan.


"Aku kembali, Val! Petroria kembali.. Aaaahhh!" bisik Leyka tersenyum di iringi des*ahannya. Leyka terus memacunya milik Valentino sesekali ia dengan memutar mutar pinggulnya dan sekuat tenaga Valentino menahan goyangan Leyka yang melemahkannya.


"Aahh... Ley... Oohh.. Shitt.. Aku tidak bisa lama lama Mia cara (sayangku)" bisik Valentino sambil membelai buah dada Leyka yang menggantung dan berguncang menari seiring gerakan pinggul Leyka. Valentino semakin terbakar dan tak kuasa melihatnya, ia kemudian mencondongkan wajahnya ke buah dada Leyka lalu menghi*sap pu*tingnya dengan lembut.


"Ooohh.. Vall.. Aahh.. Mi amor.. Sshh.. Aahhh" Leyka semakin menekan dalam, diantara miliknya yang menjepit jepit. Valentino semakin liar dan semakin beringas menji*lati ujung buah dada Leyka secara bergantian.


Hingga satu tangan Valentino menekan punggung Leyka dan tangan yang lain mencengkeram bo*kong Leyka dengan menahan pinggul Leyka karena Valentino menegang.


"Aaaarrghh.. Leykaa.. Aaarghh..!" di bawah kendali Leyka, Valentino memacu milik Leyka dari bawah dengan cepat, kaki Valentino mengejang, kedua tangan Valentino akhirnya mencengkeram bo*kong Leyka dan menahan gerakan Leyka.


Leykapun semakin tak kuasa menahan saat milik Valentino semakin mengeras, ditambah Valentino mengerang dengan melu*mat ujung buah dadanya. Leykapun menegang, lalu dengan cepat Leyka memacu milik Valentino lalu meledakan hasratnya.


"Aaaa.. aaahh.. Ley.. Aaa..aa.rrggh.. Mi.. Amorr.. Aaahhh!"


Hasrat mereka meledak bersama, luruh bersama, menggelora saling berpadu yang mengikat sebuah cinta semakin kuat, membebaskan kerinduan yang terbelenggu, seiring nafas mereka bersahutan. Untuk sesaat mereka saling berpelukan sangat erat. Leyka menelungkupkan tubuhnya di atas tubuh kekar itu, dengan kepalanya merebah di ceruk leher Valentino. Cengkeraman tangan Valentino mengendur dan berubah menjadi belaian di punggung Leyka.


Leyka menghempaskan tubuhnya ke samping kemudian dan Valentino memiringkan tubuhnya lalu menarik selimut untuk menutupi kedua tubuh telan*jang itu hingga mencapai dada mereka. Leyka memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Valentino lalu Valentino meraih pinggang Leyka agar mendekatkan tubuhnya, kemudian Leyka merebahkan kepalanya di lengan Valentino yang masih terlihat padat dan berotot.


Mereka saling menatap dalam diam seraya mengatur nafas yang berangsur angsur normal, mereka saling melemparkan senyuman tanpa berbicara. Leyka menyeka keringat di dahi Valentino dan memandangi wajah pria tampan yang selama delapan tahun membayangi hidupnya. Leyka menyusuri bulu bulu kasar yang mengelilingi bibir yang selalu tersenyum kearahnya. Sesekali bibir itu mendarat di semua wajahnya.


Kau lelakiku.. Lelaki tampanku.. Aku mencintaimu.. Mi Esposo (suamiku).. Te Quiero..


Sementara Valentino membelai rambut Leyka, menyibakannya ke belakang pundak, agar ia bisa menyapu pandangannya pada leher jenjang yang membuatnya selalu bergairah, lalu Valentino mencium kening Leyka sangat dalam dengan mata terpejam kemudian ia menatap mata Leyka dengan tersenyum.


"Wanita cantikku.. Mi Esposa (istriku).. Te Quiero (aku mencintaimu)" kata Valentino dengan lembut. Leyka membulatkan matanya lalu memeluk Valentino seeratnya, Suaminya itu seakan tau suara hatinya. Namun di sisi lain Valentino menunggu jawabannya, ia pun membalas pelukan Leyka dengan penuh kehangatan.


"Ley?"


"Hmm?"


"Mengapa tiba tiba memelukku?" tanya Valentino sambil menghirup aroma wangi rambut Leyka yang sangat khas dan tidak pernah berubah.


"Tidak.. E.. Itu.. Aku.. Ehem-- Leyka gugup dan tenggorokannya yang kering semakin tercekat.


"Kau haus?"


"Si" jawab Leyka singkat. Ada rasa kecewa menyelinap di hati Valentino karena Leyka tidak menanggapi kata cintanya.


"Baiklah, aku akan mengambil minuman dingin karena aku juga haus" kata Valentino mengurai pelukan hangat itu lalu mencium kening Leyka, kemudian ia bangun dan bangkit berdiri.


Tidak apa apa Ley.. Kau mungkin hanya melampiaskan naf*sumu saja.. Mungkin terlalu sulit bagimu untuk mencintaiku.. Kau perlu waktu.. Atau memang tidak ada cinta dihatimu.. Kau tidak perlu mengatakan apapun. Batin Valentino dengan kecewa.


Tanpa mengenakan apapun Valentino keluar kamar dan menuju dapur. Leyka tersenyum melihat bentuk tubuh Valentino yang semakin berisi dan berotot, Leyka mencuri pandangan hingga Valentino lenyap di balik pintu.


"Kau seperti di Pretoria, bahkan keseharian kita dulu seperti Tarzan dan Jane di hutan belantara" Leyka terkikik lirih dengan membenamkan wajahnya dibantal untuk menyembunyikan rasa malu. Dulu mereka terbiasa telan*jang dan saat ini Leyka belum terbiasa bahkan melihat tubuh polos Valentino membuatnya malu.


Langkah kaki Valentino mendekat dan Leyka merapikan selimut yang menutupi dadanya lalu ia duduk dengan menyandarkan kepalanya di headboard ranjang. Leyka menurunkan pandangannya melihat kukunya yang bersih dan terawat rapi karena Valentino yang telan*jang, berjalan dengan santai dan mendekatinya.


Valentino duduk dan membuka satu kaleng softdrink dingin lalu mengulurkannya kearah Leyka sambil meneguk minuman kaleng miliknya yang telah ia buka sebelumnya. Ia meletakan kaleng softdrink di nakas dan ia kembali merebahkan tubuhnya sambil memasuki selimut. Valentino menyilangkan kedua tangannya ke belakang kepalanya sebagai bantalan lalu ia memejamkan matanya. Leyka mengerti keresahan Valentino.



"Apa kau masih pusing? Aku akan memijatmu" tanya Leyka dengan lembut dan Valentino membuka matanya lalu menoleh ke arah Leyka.

__ADS_1


"Lalu apa kau juga masih pusing?" Valentino balas bertanya. Leyka menggelengkan kepalanya lalu ia meneguk minuman kaleng itu, lalu meletakan di nakas yang berada di sisi ranjangnya. Valentino kembali memaling wajahnya lalu memejamkan matanya.


Leykapun merebahkan tubuhnya di sisi Valentino lalu menarik satu tangan Valentino lalu digunakannya sebagai bantal dan menghirup aroma maskulin tubuh Valentino sesaat lalu memeluknya. Ia kemudian menumpangkan kakinya di paha Valentino.


"Val kemarilah" pinta Leyka sambil menarik pinggang Valentino agar memiringkan tubuh kearahnya. Dengan menghela nafas panjang Valentino menurut. Mereka kembali tidur berhadapan dan saling memandang.


"Val?" panggil Leyka lirih.


"Hmm?" Leyka tersenyum mendengar jawaban Valentino lalu jemari Leyka kembali merayapi pipi Valentino, mengusap alis tebal dengan ibu jarinya dengan tatapan lembut. Valentino tergetar melihatnya rasa kecewanya seakan runtuh seketika.


"Kau tau mengapa aku memelukmu tadi?"


"Tidak" Leyka kembali tersenyum dan jemarinya menuruni bibir Valentino, mengusapnya dengan ibu jarinya dan mengecup bibir Valentino sesaat.


"Itu karena aku.. Telah lebih dulu mengatakan yang kau katakan di dalam hatiku" Valentino berdebar mendengarnya, ia mengingat apa yang telah ia katakan sebelum Leyka memeluknya.



"Ley-- Valentino menatap Leyka lekat lekat, jemarinya pun liar merayapi bibir Leyka dengan nafasnya yang kian tersengal perlahan lahan.


"Val, aku mau--


"Kau mau lagi? Kau mau lagi il mio amore?" tanya Valentino dengan menahan tengkuk Leyka lalu melu*mat bibir Leyka dengan nafas memburu.


"Isshh bukan itu, Val" Leyka mengurai ciuman itu dengan menahan dada Valentino yang kian kuat menghimpitnya.


"Lalu?"


"Val-- Aku mau.. Mencabut tiga bulan perjanjian Train. Aku mau selamanya denganmu. Bukan karena Train.. Tapi karena AKU MENCINTAIMU, Val" tutur Leyka dengan menelan salivanya. Valentino membulatkan matanya seiring deburan di dadanya bak ombak di tepian pantai. Begitu bergemuruh seakan membinasakan apa saja yang ada di dekatnya.


"Oohh Leyka-- Benarkah? Ley-- Kau.. Kau.." Valentino seakan tak percaya, ia tidak sanggup meneruskan perkataannya, matanya memerah dan mencairkan buliran bening di sudut matanya, jantungnya berdegub kencang. Tangannya semakin kuat mencengkeram tengkuk Leyka dan tanpa sadar Valentino menyakitinya.


"Val-- Eh. Ehm, sakit Val. Tapi aku bisa menahannya" kata Leyka menahan cengkeraman Valentino.


"Ley-- Apa.. apa.. Apa aku tidak salah dengar?" ujar Valentino dengan terbata bata.


"Aku mencintaimu, Val. Sekalipun kau adalah Luka tapi aku tidak bisa hidup dengan Luka ini-- Leyka membelai pipi Valentino, 'luka ini' merujuk pada Valentino itu sendiri namun Leyka mengatakannya dengan lembut dan tersenyum penuh kehangatan-- Aku ingin selalu menyentuhnya, aku ingin selalu mengganggunya, aku ingin selalu mendekap Luka yang di dalamnya ada Cinta yang tidak pernah aku temukan dari diri siapapun"


"Leykaaaa.." meledaklah hati Valentino seketika, rasanya Valentino ingin menangis namun ia melampiaskan pada hal lain yaitu melu*mat bibir Leyka sekuat tenaga, menghi*sap mulut Leyka secara bersama, dan menangkap lidah Leyka dan menghi*sapnya dengan nafas yang tidak bisa Valentino kendalikan.


"Nggghhh!" Leyka mengerang, meronta dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Valentino di tengkuk dan pinggangnya. Valentino tiba tiba berubah ganas, sekuat apapun Leyka meronta semakin kuat Valentino menghimpitnya.


Sepertinya aku salah bicara.. Shitt.. Ini sakit sekali.. Raja Setan ini bisa mematahkan tulang rusuku.. Shitt.. Aku menyesal mengatakannya.. Vaaaalllll. Jerit Leyka dalam hatinya.


-


-


-


Author duduk di kursi dan menyangga kepala dengan telapak tangannya, sikunya menumpu pada Meja Kosong.


"Train sini!" author memanggil


"Si Thorman!" Train menghampiri dan duduk disebelahnya.


"Kita liat pembaca bentar lagi Maljum"


"Apa itu Maljum?"


"Malem jumat"


"Terus?"


"Mereka akan mentidur tiduri"


"Uhhhs! Itu artinya mereka harus setor kopi dulu, ke meja, benarkan thorman (author preman)?"


"km emang pinter Train!"


wkwkwkwk ngajarin Train malak 🤣🤣


"Happy basah day, Bosqyue!!" Teriak Othor


"Basah? Mengapa basah?" tanya Train.


"Ckk.. Hishh.. Kesiram susu"


🤣🤣🤣🤣


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2