FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Sarapan I : Chef Baru


__ADS_3

Pagi yang, kurang tidur. Leyka maupun Valentino tidak bisa tidur dengan nyenyak. Untuk pertama kalinya mereka satu atap walaupun berbeda ruangan. Leyka di kamarnya dan Valentino tidur di ruang tamu, apartemen Leyka. Valentino menjaga pintu yang ia rusak, karena pegawai proyek pembangunan tidak ada yang bisa datang memperbaiki pintu malam itu. Karena memang hari telah malam dan sudah pasti, mengganggu para penghuni Apartemen Casa De Miel, segala perbaikan di malam hari akan menuai sanksi dan juga teguran.


Mereka tidak bisa tidur dengan pikiran masing masing yang berkeliaran dan enggan berhenti untuk beristirahat tidur. Hingga pukul 02.00 dini hari mereka terlelap.


"Mommy.. Mommy bangunlah.. Train, lapar Mommy" Train mengguncang lengan Leyka yang masih tertidur pulas. Berulang kali ia menggosok hidungnya, mengucek matanya dan sesekali ia menguap.


"Uhmm.. Mommy.. Masih ngantuk, Train" Leyka justru menarik tangannya dan memeluk Train lagi.


"Ish.. Ehmm.. Mommy.. Bangunlah" dan Leyka mencium pipi Train dengan mata terpejam, susah sekali ia membuka matanya.


"10 menit lagi, uhm" Leyka kembali terlelap dan perlahan Train menepis tangan Leyka dan ia kembali, lalu menguap sambil menggaruk kepalanya.


Trainpun keluar kamar, dan melangkah pelan pelan ke ruang tamu. Ia melihat Valentino tidur terkurap tanpa mengenakan baju, hanya celana tidur membalut tubuhnya, ia sangat terlelap.


"Uncle.." panggilnya dengan suara mungilnya. Train mendekati Valentino dan mengamati wajah pria Italy itu. Train tersenyum, melihat Valentino tanpa mengenakan baju seperti dirinya. Tangan mungilnya menusuk nusuk puncak hidung Valentino dengan melebarkan senyumnya.


Valentino membuka matanya dan Train terkejut, namun ia tertawa kecil dengan menutup kedua mulutnya, Valentino tersenyum dan sama seperti Leyka meraih tangan Train lalu menariknya kedalam pelukannya. Dan Train tertawa dengan menjerit karena dengan bulu bulu kasar di wajahnya, Valentino menggesekkannya di pipi dan leher Train dengan gemas.


"Aaaaaa! Hahaha.. No Uncleee.. Nooo.. Aaaa!" dan jeritan Train membuat Leyka membulatkan matanya, ia segera bangun dan melupakan piyamanya, ia hanya menggunakan setelan baju tidur, tanktop dan celana pendek longgar dengan bahan sutra yang berkilau.


"Ayo tidur lagi Boy, ini masih terlalu pagi" ajak Valentino membuat Train dipenuhi tawa ia menggelengkan kepalanya dengan menjerit, karena Valentino masih menggesekkan hidungnya ke dada Train dan membuatnya kegelian.


"No Uncle, aku lapar!" pekik Train dengan tawanya.


"Trainnn!! Kau kenapa?!-- Leyka berjalan dengan pincang menghampiri sumber suara putranya --Huft, astaga Train kau mengejutkan Mommy!" dan sebuah mahakarya layaknya ratu Cleopatra, Valentino memandang Leyka tanpa berkedip. Wajah bangun tidur Leyka dan tubuh sexy itu, Valentino mengingatnya di Pretoria, ia menelan salivanya, hatinya berdebar debar.


Valentino masih ingat bagaimana sentuhannya pada tubuh Leyka, setiap inchinya. Bahkan ia mengingat bagaimana senyuman pagi wanita Spanyol itu mengisi hari harinya 10 hari di Pretoria, 8 tahun yang lalu. Valentino teriris hatinya mengingat itu semua.


Senyummu, tawa renyahmu, tatapan matamu.. Seolah baru kemarin, Leyka.. Aku sangat merindukanmu.. batin Valentino, ia kemudian bangkit dari tidurnya dan mencari ponselnya.


Sementara Leyka menelan salivanya dan seketika membuang mukanya, saat melihat tubuh Valentino yang setengah telanjang. Ia selalu memeluk tubuh Valentino yang menghangatkannya melewati dinginnya cuaca di Pretoria. Leyka menghela nafas panjang.



"Buenos días, (selamat pagi) Mommy)!" Train meloncat dan berlarian kearah Leyka, ia kemudian mendongakkan kepalanya dan Leyka akan melakukan ritualnya, yaitu mencium kening Train dengan memejamkan matanya dan berbisik.


"Blue Train.. Blue Train.. Blue Train-- Buenos días, Carino (selamat pagi, sayang)" Leyka berjongkok dan memperlihatkan belahan dadanya yang menggunung. Kembali, mata Valentino menatap tajam dengan menggenggam ponselnya.


Shitt!! Pastinya bentuknya masih sama, tapi ada yang menonjol di balik baju tidurnya itu. Shittt!! Dulu dia tidak punya.. Hissst, pasti ada yang rajin menghi*sapnya.. Ohh Shitt!! Pikiran kotorku pergilah.. Aku harus berpikir positif. Batin Valentino gundah.


"Yeeyyy! Buenos Días Uncle!" jeritan Train membuyarkan imajinasi paginya.


"Buenos días, Boy-- Buenos días, Leyka. Ehm, pegawai sedang dalam perjalanan menuju apartemen ini untuk memperbaiki pintu, aku akan mengawasi pekerjaannya" Ia kembali memainkan jemarinya di ponselnya, dan melakukan berbagai macam instruksi.


"Hmm, Bueno días, Gallardiev" dan jawaban Leyka dengan canggung membuat Valentino menatap Leyka dengan menelanjanginya. Bagi Leyka itu membuatnya risih, ia membalikkan tubuhnya dengan berjalan cepat walaupun kakinya pincang, hingga kakinya lepas kendali dan ia kembali terjatuh.


"Aaaaaa!" pekik Leyka membuat Valentino berlari berhamburan dan menolongnya.


"Mommy, tidak ada yang mengejarmu! Kenapa harus berlari!" kata Train dengan lantang. Valentinopun meraih tubuh Leyka dan menggendongnya kemudian menurunkannya di sofa ruang tengah, tanpa kata. Ia kemudian duduk berjongkok dan memeriksa kaki Leyka dengan diam. Leyka berdebar namun rasa bencinya tak kunjung terurai. Hanya saja hatinya tidak mampu lagi mendorong Valentino menjauh. Misinya adalah membuat Valentino menerima Train.


"Mommy, apa sakit?" tanya Train ikut duduk berjongkok di kaki Leyka, pemandangan itu sangat menggetarkan hatinya.


"Mommymu, tidak enak dengan baju yang ia kenakan. Apa kamu bisa mengambil piyama Mommymu, Boy?" Valentino masih duduk di hadapan Leyka dan menatapnya lekat lekat.


"Si (iya)!" dan Train berlarian masuk ke kamar.

__ADS_1


"Apa kau seperti ini bila bersama Damian?" tanya Valentino nyaris berbisik.


"Bukan urusanmu!" jawab Leyka ketus dan memalingkan wajahnya kearah samping.


"Apa kau ingat pagi kita di Pretoria?" tanya Valentino dengan berbisik dan mengembangkan senyumnya, walaupun Leyka tidak memandangnya ia bisa melihat dari ekor matanya.


"Aku mengingat kau bisa membeliku dengan harga 2 juta dollar" Leyka memalingkan kembali wajahnya dan menatap mata Valentino. Pria Italy itu menundukkan kepalanya, Valentino termenung dengan ucapan Leyka, ia mengingat perkataanya dan perbuatannya yang menyakitkan di Pretoria.


"Kau pasti mengingat bagaimana airmataku mengalir kan?" tanya Leyka lagi.


"Ley, aku memang bersalah" nada suara itu, Leyka tidak pernah mendengarnya bahkan saat di Pretoria. Pria Italy yang sombong, arogan dan yang telah ribuan kali merendahkannya, mengatakan berserah serta mengaku bersalah, ini di luar dugaan Leyka. Sebuah pengakuan tulus tanpa perlawanan, tanpa kesombongan dan hilangnya kearoganan laki laki ini membuat Leyka terpana.


"Ini Ini Ini, Uncle!" Leyka dan Valentino menoleh secara bersamaan kearah Train yang berlarian dari kamar dengan piyama yang ia gulung gulung dan didekap didadanya. Valentino meraih piyama itu dan memberikan pada Leyka lalu ia bangkit berdiri.


Disaat yang bersamaan ponsel Valentino berdering dan itu dari pegawai di proyek pembangunan yang tiba di lantai 7 dan akan memperbaiki pintu. Valentino berlalu dan Train yang mempunyai keingin-tahuan yang begitu besar, mengikuti Valentino dari belakang. Leyka tersenyum penuh keharuan.


Cara berjalanannya, kebiasaannya tidak mengenakan baju saat tidur, mereka berdua sangat mirip. Raja setan dan setan cilik.. Semua ada pada Train adalah Valentino, aku hanya menyumbang hidung dan kulit putihku.. Apa kau tidak menyadarinya Val.. Ramuan suku xhosa itu mengunci pikiranmu.. Kita salah mengartikannya saat itu. Batin Leyka nyeri, lidahnya kelu.


Valentino menginstruksikan kepada para pegawai itu dan Train menyimak dengan sesekali menguap. Bahkan ketika Valentino menggaruk hidungnya Trainpun mengikutinya. Karena rasa lapar yang menyerangnya, Train kembali berjalan kearah Leyka.


"Mommy aku lapar" kata Train dan Valentino mendengarnya, Leyka belum menjawab apapun Valentino sudah beraksi, ia menyambar kaosnya dan berjalan kearah Leyka serta Train dengan mengenakan kaosnya.


"Antar Uncle ke dapur-- Dan pakai bajumu Boy. Mommy tidak bisa melakukan tugasnya" ujar Valentino membuat Train bersorak dan berlarian ke kamarnya.


"Apa kau mau sarapan? Aku akan memasaknya untukmu. Kau tau, saat di Pretoria kau tidak melihat keahlianku yang satu ini" kata Valentino dan Leyka bangkit berdiri lalu melangkah begitu saja dengan kaki pincang menuju kearah dapur.


"Tentang makanan, aku hanya ingat kau menyukai Red Velvet, kau tidak bisa makan roti tanpa butter" Valentino menelan pil pahit, ia menatap Leyka yang berjalan pincang kearah dapur, Valentino menghela nafas panjang. Alih alih Valentino ingin mengukir kisah indah di Barcelona tapi Leyka justru menghempaskannya dengan membawa kisah pahit di Pretoria.


Bagaimana caranya membuatmu jatuh cinta padaku Ley.. Baiklah, aku akan bertahan dengan cara apapun.. Aku tahu aku banyak melukaimu.. Ohh Shitt.. Ternyata, setelah di Barcelona hatiku sangat bahagia, padahal tidak ada kehangatan sedikitpun darimu.. Apakah cinta Damian, begitu menguasai hatimu.. Train pasti tahu segalanya..


"Vamos, Uncle! Vamos Vamos Vamos (ayo ayo ayo)!" Train membuyarkan lamunannya saat tangan mungil itu menarik tangannya menuju dapur. Leyka terlihat meneguk segelas air mineral dan mengeluarkan isi lemari pendingin.


"Apa kau mau, ehmm-- Valentino membuka isi lemari pendingin dan melihat isinya lalu melihat kearah meja racik yang terdapat keranjang anyaman dengan berbagai macam roti ---roti dengan butter dan omlete?" tanya Valentino mengacak rambut Train dan kembali tersenyum kepada Leyka tapi sudah pasti Leyka menatapnya dengan kesal, Leyka mengatupkan bibirnya rapat rapat.


Train menarik kursi kecil dan menaikinya lalu ia duduk di meja racik menemani Valentino yang sedang memasak. Ia menggoyangkan kakinya maju mundur secara bergantian, sesekali ia menguap. Hiper-aktifnya dimulai saat ia menggerakkan kakinya. Leyka biasanya marah tapi Valentino membiarkannya.


"Si (iya)-- harus pakai butter yang banyak" kata Train membuat Valentino melebarkan senyumnya dengan mendengus. Mata Valentino berbicara kepada Leyka bahwa ia mengingat Roti tanpa butter dan Red Velvet.


"Apa kau suka roti tanpa butter ?" Valentino menyindir.


"Nooo Uncle! Karena itu tidak enak!" kata Train bersemangat, namun ia berpikir keras untuk itu. Sesekali ia melihat kearah Leyka, Train mengingat, Leyka pernah bercerita bahwa Daddynya tidak menyukai roti tanpa butter dan lebih menyukai Red Velvet.


"Apa Uncle menyukai roti tanpa butter?" tanya Train, membuat Valentino dan Leyka saling berpandangan.


"Tadinya tidak. Tapi karena Istriku, aku menyukai Roti tanpa butter" Valentino tersenyum untuk Leyka, karena yang di maksud Istri adalah dirinya. Namun itu membuat Leyka memanas.


"Apa Uncle menyukai Red Velvet?" dan Leyka menahan nafasnya, ia menegang saat Train menanyakannya.


"No, Boy. Rasanya membosankan-- dan kau apa kau menyukai Red Velvet" Valentino bertanya namun matanya menatap Leyka yang auranya memperlihatkan kebencian.


"Si (iya)! Aku suka Red Velvet dan aku si Red Velvet dari Italy!" entah apa yang terjadi. Valentino seakan tersengat ia menatap Leyka yang terkejut sama seperti dirinya. Dadanya seakan sesak, Valentino berpikir itu pasti karena asmanya, ia menatap Train lekat lekat.


Apa ini.. Kenapa aku merasa aneh.. Red Velvet dari Italy? Apa kau menceritakannya pada Train.. Leyka, aku membenci Red Velvet sejak saat itu.. Apa kisah kita di Pretoria begitu menyakitimu? Hingga seluruh keluarga Fernandez tidak ramah kepadaku..


Valentino menghela nafas panjang, agar dadanya tidak terasa sesak, ia kemudian beraktifitas, memecahkan telor, mengiris paprika, bawang bombay merah, memberi irisan daging, memarut keju mozzarela, menaburkan oregano dan sejumput garam. Lalu dengan minyak zaitun, Valetino menggoreng bahan omlete itu. Train memperhatikan dengan baik begitupun Leyka. Ia kemudian memotong beberapa iris roti dan mengoles butter lalu memanggangnya.

__ADS_1


"Boy, mengapa kau menyebut dirimu Red Velvet dari Italy?" Leyka menegang hingga ia menegakkan sandaran duduknya.


"Karena--


"Train!" potong Leyka. Dan Train menoleh seketika kearah Leyka, Valentino melihatnya.


"Karena aku dari Italy" dan seperti di sebuah istilah yang sangat populer 'save by the bell', seorang petinju di selamatkan oleh sebuah bell di menit terakhir dan di ronde terakhir, Leyka bernafas lega saat Diego datang bersama Manuella.


"Ayaaahhh! Ibu!" Train menuruni meja dengan menginjak kursi dan melompat kemudian, ia berlarian kearah Diego dan Manuella. Ada perasaan teriris saat Valentino melihatnya.


Diego menggendong dan menciumi Train, lalu menurunkannya di kursi makan dan tak ketinggalan Manuella menciumi Train dengan penuh kehangatan. Valentino memperhatikan diam diam.


Mengapa, Train justru mirip dengan Leyka.. Dan lebih cocok Leyka yang menjadi Ibunya..


batin Valentino dalam hati.


"Apa kau tidur dengan nyenyak bersama Mommy baptismu?" tanya Manuella membuat Train memandangi Manuella, Leyka dan Valentino. Manuella sekilas melirik kearah Valentino dengan gugup, Valentino menangkap sesuatu yang janggal.


"Si (iya)-- aku menendang Mommy lalu paha Mommy yang besar itu menimpaku agar aku tidak bergerak" Diego tertawa mendengarnya dan Valentino menahan tawanya yang nyaris meledak.


"Sepertinya kita punya chef baru" kata Diego mencoba akrab.


"Noo! Dia tetangga kita yang menjebol pintu, seperti perampok!" Train tertawa renyah dan Diego juga Manuella ikut tertawa. Valentino tersenyum kearah Leyka yang mendelik kearahnya.


"Dia memang brutal dan kau harus menjaga jarak darinya" ujar Leyka mendengus.


"Hei, Boy. Apa kau tidak pernah melihat film film FBI? Tidak ada polisi yang membuka pintu dengan jepit rambut. Yang membuka dengan cara seperti itu biasanya pencuri" ujar Valentino membela diri.


"Kata Mommy seperti itu" ujar Train.


"Mommymu mengajarkan hal yang salah, nanti kapan kapan kita nonton film FBI yang sesungguhnya!" kata Valentino membawa hasil masakannya ke meja, Train berbinar melihatnya.


"Dia tidak boleh menonton film seperti itu" kata Leyka masih mendelik kearah Valentino.


"No Mommy! Aku mauu!" suara Train begitu lantang menyanggah Leyka.


"Noo! Kecuali kamu mau frente a la pared (hukuman menghadap ke dinding)!" kata Leyka dengan mengintimidasi mata Train dan anak itu menyerah bila sudah begitu.


"Uhss!" Train mendengus dengan bersedekap, ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dan Valentino tersenyum. Train kali ini duduk di apit Leyka dan Valentino, ia berada di tengah tengah.


"Ayo sarapan, ini terlihat sangat enak" ujar Manuella mengambil piring untuk mereka dan mengisinya dengan hasil masakan Valentino. Beberapa potong roti panggang dengan butter dan omlete keju mozzarella yang sangat menggoda lidah mereka kecuali Train.


"Aku akan menggantimu membuat kopi, Diev-- dan membuat susu untukmu, Carino" ujar Diego bangkit berdiri, mereka saling melemparkan senyuman tipis. Ketenangan Diego terkadang membuat Valentino penuh curiga, ia membandingkan Train mencari sebuah kemiripan pada mereka berdua.


"Makanlah, Carino" kata Leyka, Train masih bersedekap dengan cemberut.


"No" ujar Train lirih.


"Ck, jadi kamu marah sama Mommy, hanya karena dilarang nonton film FBI, itu mengandung kekerasan dan anak kecil tidak boleh menontonnya. Kau harus menunggu umurmu 15 tahun" Train diam dan Leyka meletakkan sendoknya, ia mendelik kearah Valentino dan sudah pasti Valentino merasa bersalah. Valentino yang duduk di samping Train kemudian bangkit berdiri dan menggeser kursinya lalu ia duduk berjongkok.


Bagaimana membujuk anak ini.. Huhh.. Valentino.


-


-

__ADS_1


-


Update diperkirakan 3 - 4 jam kemudian. Boleh dong kita ngopi 🤣🤭 *malak alus


__ADS_2