
Bel pintu kembali berdering pagi itu, suaranya seakan memenuhi Apartemen Golden di lantai sembilan. Miu yang tengah menyisir rambutnya, melemparkan sisirnya begitu saja dengan membulatkan matanya. Jiwa dan hatinya seakan melonjak mendengar suara bel pintu itu, layaknya sebuah alarm yang memberinya semangat hidup yang baru. Kebahagiaan terpancar di mata biru keabuan itu, berkelip dan seperti banyak bintang di bola matanya bila di ibaratkan.
"Tio Pedro! Yeaay!" gumamnya lalu ia bersorak.
Miu pun berlarian kearah pintu dan menyerukan nama Pedro lalu sesampainya disana, Miuccia memutar kunci kemudian menarik daun pintu. Namun wajahnya yang berseri menghilang seketika, ia sangat kecewa, saat melihat siapa yang datang dan itu bukan orang yang diharapkannya. Dua laki laki yang sangat dikenalnya dan begitu dekat dengannya, berdiri di depan pintu dan berseru kepadanya dengan penuh kerinduan.
"Candy!!" seru Torres menerobos masuk dan merentangkan tangannya kearah Miu.
"Miu!" seru Jared mengikuti langkah Torres. Pallazo yang mendengar suara itu dari dapur terperanjat lalu ia berlarian setelah mematikan kompor dan bergegas pergi kearah sumber suara yang mengejutkannya pagi itu.
Melihat kedatangan Torres dan Jared tidak seperti yang diharapkannya, Miu mundur beberapa langkah dengan memasang wajah marahnya. Pagi itu Miu menanti Pedro yang akan mengantarnya ke Daycare, tempat penitipan anak yang berbasis sekolah, yang dibuka pada saat musim gugur dan musim panas.
Banyak kelas bahasa dan pendidikan kepribadian disana, biasanya hanya anak - anak yang bersekolah di Daycare. Sementara para orangtua bekerja, anak - anak akan dititipkan disana sekaligus bersekolah, mengingat biaya seorang pengasuh disana cukuplah tinggi, setara dengan pegawai perkantoran.
"No Pappa Torres! No Uncle Jared! Aku tidak mau bertemu denganmu!" ujar Miu membuat Torres dan Jared saling melempar pandang.
Torres menurunkan tangannya yang merentang tapi ia tetap mendekati Miu. Perkataan Miu tak menyurutkan niatnya untuk meluapkan kerinduannya pada putri kecilnya yang telah dianggapnya sebagai anak, lebih tepatnya anak baptis.
Anak Baptis adalah anak yang wajib dan sudah seharusnya memperoleh kasih sayang melebihi orangtua kandungnya. Perlu di ingat bahwa di negara maju, di belahan Eropa, orangtua baptis memegang peran penting dan setara dengan orangtua kandungnya. Mereka bisa menjadi wali dalam urusan apapun, yang pasti orangtua baptis selain memberikan kasih sayangnya, mereka akan memberi support dalam segi apapun termasuk materi bila memungkinkan.
Si, Torrespun adalah Ayah Baptis dari Miu. Secara Hukum Agama, di atas kertas perwalian yang di keluarkan oleh Gereja Vatican, Valentino Ayah Baptis dari pihak keluarga Rebecca Pallazo, sedangkan Torres mengambil alih bagiannya dan berada dipihak Ricardo Ferland karena tidak ada satupun dari keluarga Ricardo Ferland yang datang pada saat Miu lahir. Yang mana, Rebecca Pallazo dan Ricardo Ferland pun telah mendaftarkan pernikahan mereka delapan tahun yang lalu di Italia, setelah Rebecca mengandung Miu dan diduga Miu adalah anak dari Valentino Gallardiev.
"Candy, apa kau tidak merindukan Pappa?" tanya Torres dengan berlutut untuk menyejajarkan dirinya dan berhadapan dengan Miu yang tengah menautkan kedua jemari tangannya dengan ketat. Ia mere*mas jemarinya menahan kemarahan dan juga kerinduannya pada sosok Pappa yang lucu, menyebalkan tapi memiliki kebaikan hati yang luar biasa untuknya.
"Aku.. Aku.. Aku juga mer--
"Miu tidak merindukanmu! Untuk apa kalian datang?!" potong Pallazo secepat kilat setelah berlarian dari dapur dan tiba ditengah - tengah mereka. Semua menoleh kearah Pallazo termasuk Miu yang semakin mengeratkan jemari tangannya yang menaut.
"Mamma, Miu-- suara mungil itu kembali tertahan, Pallazo menyanggah perkataannya dengan cepat, Miu ingin membantah perkataan Pallazo, karena dalam hatinya pun Miu sangat merindukan Torres yang selama ini menghiasi hari - harinya di Italia tepatnya di Labaro, distrik kecil ditengah perkotaan yang masih menjadi bagian dari kota Roma.
"Diam Miu! Apa kau ingat apa yang mereka lakukan?" ujar Pallazo membuat Miu memalingkan wajahnya dan menatap Torres lekat lekat, matanya semburat memerah, airmata melapisi mata indah itu. Melihatnya Torres trenyuh seketika.
"Jangan membentak Putriku, Pall!" seru Torres pada Pallazo, ia masih berlutut menyejajarkan dirinya agar tingginya menyamai tinggi Miuccia.
"Ehm-- Pappa Torres dan Uncle Jared melakukan hal buruk! Pappa Torres berbohong! Dimana Pappa Diev? Apa Pappa Diev baik baik saja? Apa Pappa Diev sehat? Benarkah Pappa Diev terkena serangan jantung? Apa Pappa Diev sakit? Mengapa Pappa Diev tidak datang? Aku melihatnya di televisi! Siapa wanita itu? Pappaa!-- lambat laun suara Miu menjadi serak, lidahnya kelu seakan airmata mencekat tenggorokannya.
"Ohh Candy.. Miuu!" Torres tak sanggup lagi mendengar pertanyaan Miu yang bertubi - tubi kearahnya, secepatnya Torres berhamburan memeluk Miu yang telah meleleh airmatanya.
"Apa yang ada dihatimu hanya Pappa Diev? Apa hanya Pappa Diev yang Miu sayangi? Pappa sangat cemburu, ini tidak adil. Pappa cemburu, Pappa cemburu, Pappa cemburu!" ujar Torres seraya membelai pipi Miu penuh keharuan, tak bisa dipungkiri matanya pun terasa pedas.
Ia pun menyambar tubuh Miu kemudian mendekap seeratnya, lalu ia menciumi wajah Putri kecilnya yang selama ini menjadi bagian dari kisah perjalanan hidupnya. Miu membalas pelukan Torres untuk menyembunyikan isak tangisnya di ceruk leher seorang Pappa yang begitu hangat. Miu merasa terlindungi, ia meluapkan kerinduannya dan itu terlihat lewat cengkeraman tangannya yang melekat pada pundak Torres. Pallazo dan Jared sangat teriris melihat pemandangan itu, hati Pallazo tergetar dan ia tidak tega merusak momen itu.
"Aku menyayangimu Pappa. Pappa juga ada dihatiku. Uncle Jared, Mamma kalian semua ada dihatiku. Aku merindukan kalian. Aku pikir kalian melupakanku" ujar Miu begitu manisnya dan meluluhkan hati siapapun yang mendengarnya.
"Bagaimana mungkin Pappa melupakanmu? Pappa hanya sangat sibuk. Banyak hal terjadi di Barcelona. Pappa Diev memang terkena serangan jantung, saat itu Pappa Diev tidak sadarkan diri. Pappa Diev koma, Candy. Kami ingin membawanya ke Madrid tapi keajaiban terjadi. Sebelum kita membawanya, Pappa Diev terbangun dari komanya" ujar Torres meregangkan jaraknya seraya bangkit berdiri dan menggendong Miu kemudian.
"Lalu, mengapa Pappa Diev tidak pernah menghubungi Miu lagi? Apa Pappa marah pada Miu? Apa Miu membuat kesalahan?" tanya Miu seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Torres agar tidak terjatuh dari gendongan Torres yang masih menyerbunya dengan ciuman.
"Tidak Candy, ada urusan yang sangat penting yang harus Pappa Diev selesaikan. Apa kau ingat, bahwa anak kecil tidak boleh memikirkan permasalahan orang dewasa?-- Miu mengangguk dan mengerjapkan mata --Kita akan menemui Pappa Diev nanti. Dai (ayo)! Tunjukkan dimana kamarmu! Pappa akan mengikat rambutmu! Biarkan Mammamu dan Uncle Jared berbicara. Humm.. Pappa merindukanmu. Cantik sekali Putri Pappa" ujar Torres mengagumi Miu dengan rambut keemasan yang terlihat berkilau pagi itu.
Torres mengedarkan pandangannya, ia bisa menebak dimana seharusnya ruangan kamar berada, lalu ia melangkah meninggalkan ruang tamu. Miu menyeka airmata dan hidungnya lalu ia tersenyum. Ia mengingat kebiasaan Torres, yang selalu mengikat rambutnya sementara Valentino selalu membiarkan rambutnya tergerai. Dua Pappa yang berbeda pemikiran dan selalu bertengkar merebutkan perhatiannya. Miu semakin melebarkan senyumnya.
"No Pappa tidak bisa mengikat rambutku! Pappa selalu membuat rambutku seperti tanduk!" ujar Miu semakin menjauh dan Torres terkekeh mendengarnya.
Jared tersenyum tipis melihatnya, Pallazo pun tersenyum hangat melihat Miu kembali ceria, tanpa sadar ia membiarkan Torres melakukan bagiannya, sama seperti biasanya saat mereka berada di Italia. Pallazo sangat terbantu dengan hadirnya Torres yang sangat menyayangi Miu dan Valentino yang mencurahkan kasih sayangnya, tak luput Jared yang selalu meluangkan waktunya untuk Miu. Miu membutuhkan sosok seorang Ayah dan Miu mendapatkannya dari Torres, Valentino dan Jared. Itu lebih dari cukup! Pikir Pallazo.
"Hahaha-- karena kau peri berambut emas, Pappa tidak mau orang mengagumi dan selalu membelai rambutmu! Pappa sangat cemburu!" seru Torres semakin menjauh ia terlihat mengeratkan gendongannya dengan gemas, sesekali ia menciumi pipi Miu yang semburat kemerahan.
"Ahahaha.. Disana kamarku. Si-- buat tanduk di kepalaku Pappa!" suara tawa Miu yang merdu semakin sayup sayup terdengar dan melegakan hati siapapun yang mendengarnya.
Jared dan Pallazo terdiam memandangi Torres yang menggendong Miu menghilang di koridor kamar. Mereka kemudian saling memandang dan menghela nafas panjang. Miu kembali ceria dalam hitungan detik, ia mudah bahagia dan mudah juga dibujuk.
"Mengapa kau datang, Pall? Apa rencanamu? Aku merasa kau akan berbuat sesuatu yang melewati batas" tanya Jared seraya duduk di sofa ruang tamu.
"Bukan urusanmu!" seru Pallazo masih berdiri dengan bersedekap.
"Jika kau menonton televisi, itu artinya kau telah menyaksikan Gallardiev dan Leyka bersatu kembali. Apa kau ingin merusak kebahagiaan, Gallardiev?" tanya Jared tanpa basa basi. Jared adalah pria yang baku, simpel, segala sesuatu yang ia sampaikan langsung pada intinya. Jared tidak suka berbelit - belit.
"Ini tidak adil untuk Miu! Gallardiev telah berjanji pada Miu untuk menikahiku! Kau sangat tau pasti bahwa aku sangat mencintainya, Jared!" kata Pallazo seraya menghempaskan tubuhnya di sofa pada akhirnya dan duduk di sebelah Jared.
"Dan kau tau Gallardiev tidak pernah bisa mencintaimu. Dan Miu, bahkan kau-- kalian harus melupakan janji itu. Karena kau, aku, Torres bahkan Gallardiev sendiri tidak tahu apa yang terjadi delapan tahun yang lalu, Pall" kata Jared masih melembut.
"Apa maksudmu?" tanya Pallazo menoleh kearah Jared dengan mengernyitkan alisnya. Matanya terlihat semburat kemerahan, suaranya tercekat menahan tangisnya yang siap meledak. Selama ini Pallazo mendapat dukungan dari Jared dan Torres walau itu hanya semata - mata demi kebahagiaan Miu, tapi penuturan Jared begitu menohoknya.
"Kau tau Gallardiev tidak bisa berpaling dari wanita Spanyol itu. Wanita yang membuat Gallardiev bertekuk lutut. Di Afrika Selatan, di Pretoria delapan tahun yang lalu, mereka melakukan kesalahan termanis dalam sejarah hidup mereka" Ujar Jared seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mencoba perlahan lahan memberi perngertian pada Pallazo yang menaruh harapan besar pada sosok Valentino.
__ADS_1
"Kesalahan termanis?" tanya Pallazo tak sekalipun melepaskan pandangannya menatap Jared lekat - lekat.
"Pall, aku telah menganggapmu sebagai adikku, karena aku tidak memiliki adik perempuan. Aku harap setelah kau mendengarnya dariku, kau bisa menarik dirimu-- Jared memiringkan tubuhnya lalu meraih tangan Pallazo dan di genggamnya dengan erat --Mereka melakukan kebodohan termanis dengan mengikuti festival Valentine. Mereka pikir, itu festival muda mudi seperti di Negara kita, tapi ternyata itu pernikahan massal. Mereka menikah massal di Afrika tanpa mereka tahu, delapan tahun yang lalu" ujar Jared masih menggenggam jemari tangan Pallazo.
"Apa! Itu tidak mungkin! Itu tidak mungkin!" tangis Pallazo pecah seketika, Jared mengurai genggamannya lalu meraih pundak Pallazo dan membiarkan wanita rapuh itu membanjiri kemeja biru tuanya dengan airmata kepiluan.
"Itulah kenyataannya Pall. Gallardiev dan Leyka sejak lama telah menikah tanpa mereka tahu. Itu semua karena mereka terlalu percaya diri tidak menggunakan penerjemah saat di Afrika, mereka hanya ingin berdua tanpa di ganggu penerjemah. Mereka menikah secara resmi dan hubungan mereka di kunci oleh hukum agama dan adat oleh ke tujuh suku terbesar di Afrika. Karena itulah mereka tidak bisa berpaling satu sama lain. Mereka adalah Takdir, Pall" Pallazo semakin tersedu mendengar penuturan Jared, ia tidak bisa berkata - kata. Hanya rasa kecewa yang menghinggapinya dan ia lebih memilih tersedu di dada Jared dengan menangkupkan kedua tangan yang menutupi wajah cantiknya.
"Oh Tidak.. Lalu bagaimana.. Bagaimana dengan janjinya? Lalu bagaimana dengan Miu? Dan serangan jantung itu, apakah itu hanya karangan kalian saja?!" kata Pallazo seraya beringsut dari pelukan Jared dan menyeka pipinya berulang ulang. Miu tidak boleh melihatnya menangis, pikirnya.
"Kita harus bicara pada Miu dan memberi pengertian. Dan satu lagi, Gallardiev terkena serangan jantung karena ia mengetahui kenyataan yang lain-- kenyataan yang sesungguhnya tersembunyi selama delapan tahun. Dan percayalah, itu sangat melukai hati Gallardiev sangat dalam, bahkan sangat sakit melebihi rasa sakit yang kau rasakan saat ini. Kami tidak bisa berbuat apapun selain mendukungnya" ujar Jared menghela nafas panjang dan siap mengungkap kebenaran.
"Kenyataan? Kenyataan apa?" tanya Pallazo masih berlinang - linang airmatanya.
"Delapan tahun yang lalu, Leyka mengandung anak dari Gallardiev. Seorang Putra, Pall! Hasil dari cinta mereka yang kandas! Si-- Gallardiev memiliki seorang Putra dari Leyka Paquito! Dia bernama Blue Train, anak yang dibuat di kereta api, route terpanjang di Afrika Selatan selama 27 jam" ujar Jared dengan tersenyum nyaris terkekeh namun ada rasa trenyuh di dalamnya, ia menirukan kebiasaan Train dalam memperkenalkan dirinya.
"Dari Capetown menuju Pretoria" desis Pallazo melengkapi perkataan Jared dan itu serasa memberi tamparan untuk Pallazo yang kedua kalinya.
Airmatanya kembali berjatuhan. Ia membulatkan matanya seiring airmatanya meleleh begitu saja tanpa bisa ia bendung lagi. Sesaat ia tercekat, atas pengakuan Jared yang kembali merobek hatinya. Selama tujuh tahun lamanya sejak kelahiran Miu, Pallazo selalu berharap pada sosok Valentino Gallardiev yang begitu ia kagumi, namun rasanya bumi berhenti berputar pagi itu.
"Saat salju pertama turun di Barcelona di bulan Desember, saat itulah Train lahir. Miu lahir di musim panas menjelang musim gugur. Jika dihitung, Miu dan Train hanya selisih tiga bulan, mereka lahir di tahun yang sama. Pall, usia mereka hampir sama. Apa kau bisa mengerti hancurnya hati Gallardiev? Apa kau pernah melihat Gallardiev menangis sebelumnya? Aku melihatnya Pall.. Aku melihatnya dengan mataku" ujar Jared membuat Pallazo semakin tersedu. Ia tidak bisa berpikir, hatinya begitu sakit mendengar kenyataan demi kenyataan yang terasa pahit.
"Ya Tuhan, Itu tidak mungkin! Itu... Itu.. Tidak.. Mungkinn.. Kau pembohong! Lalu.. Bagaimana.. Bagaimana dengan Miu dan bagaimana denganku?" Jaredpun kembali memeluk Pallazo yang tersedu - sedu.
"Kau tau benar Pall, hanya wanita Spanyol itu yang ada dipikiran Gallardiev hingga ia menutup dirinya. Hanya Leyka, kau tahu pasti dia tidak bisa mencintaimu atau wanita lain. Seberapa keras kau berusaha, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan itu artinya akan menyakiti Miu" ujar Jared seraya mengusap punggung Pallazo yang terguncang - guncang.
"Bagaimana.. Bagaimana bila Miu mendengar ini? Miu akan terluka, Jared!" isak Pallazo semakin tak terkendali, namun tangisan itu harus berakhir karena kemunculan seseorang di ambang pintu yang terbuka seraya mengetuk pintu. Pallazo secepatnya mengurai pelukan Jared dan seketika itu juga Pallazo bangkit berdiri seraya menghapus airmatanya dengan kasar.
"Pedro?" Jared terkesiap melihat Pedro namun ia tidak terkejut karena Jared telah mengetahui bahwa Pedro selalu datang dan Pallazo selalu merepotkannya. Terlebih lagi beberapa waktu yang lalu, Jared melihat kedekatan antara Miu dan Pedro di taman Golden.
"Kau! Apa kau tidak tahu sopan santun! Apa kau menguping pembicaraan kami! Apa laki laki Spanyol selalu bertingkah rendahan sepertimu!" Pedro menghela nafas dalam, ia berjalan memasuki ruang tamu dengan matanya menatap tajam kearah Jared yang bangkit berdiri kemudian.
Di tangan kanan Pedro menggenggam bunga mawar yang ia ambil dari balkon Leyka, Pallazo semakin muak melihatnya. Sementara ditangan kirinya menggenggam papper bag yang berisi kotak makanan untuk Miu.
"Apa wanita Italy kurang sentuhan sehingga selalu berbicara kasar? Aku mengetuk pintu dan aku datang karena permintaanmu! Apa kau lupa-- Pal la zo?" ujar Pedro mengeja nama wanita Italy yang selalu mengganggunya. Tak kalah sengit Pedro menatap Pallazo seraya memiringkan kepalanya.
"Kurang ajar! Sejak kapan kau datang!" seru Pallazo masih dengan matanya yang terlihat basah, secepat kilat Pallazo mengangkatkan tangannya dan siap dilayangkan ke pipi Pedro yang tidak berusaha menghindar. Pedro justru melangkah ke hadapan Pallazo memasang wajah untuk menerima tamparan wanita itu.
Aku tahu sekarang siapa kau.. Apakah hatimu terluka.. Tak kusangka Valentino memiliki calon istri di Italy.. Dan Miu.. Miu adalah Putri Valentino? Tapi Torres.. Ini sangat membingungkan.. Luapkan saja emosimu Pall.. Kau membutuhkan pelampiasan. Pedro.
"Jared! Lepaskan aku! Laki laki ini sangat kurang ajar!" seru Pallazo dengan meronta.
"Jaga mulutmu demi Miu! Dia bisa saja mendengarmu dan menilaimu! Kau bisa kehilangan segalanya, Pall!" ujar Jared penuh penekanan, perkataan Jared membuat Pallazo melunak seraya menepis tangan Jared dengan kasar.
"Apa kau tuli? Sejak kapan kau mendengar pembicaraan kami?!" Pallazo belum merasa puas hingga ia mengulang pertanyaannya kepada Pedro.
"Sejak Torres akan membuat rambut Miu menjadi tanduk!" Jared dan Pallazo terdiam lalu saling melempar pandang, itu artinya Pedro mengetahui semua pembicaraan mereka, pikir Jared dan Pallazo yang hanya terkatakan melalui pandangan mata mereka. Jared memijat pangkal hidungnya kemudian.
"Pedro aku bisa jelaskan--
"Bukan urusanku, Jared!" potong Pedro secepat kilat, lalu meneruskan perkataannya--
"Aku tidak mau ikut campur dengan urusan kalian! Tapi jika kalian ingin menyakiti hati keponakanku dan Ibunya maka kalian akan berhadapan dengan semua keluarga Fernandez! Aku tidak mengerti permasalahan kalian, tapi dua orang pria berada di apartemen seorang wanita yang mengaku sudah bersuami di pagi hari-- Seperti kalian cukup dekat dan apakah kalian terbiasa seperti ini? Bebas sekali kehidupan di Italy yang aku dengar katolik ortodok sangat kental disana" sar*kas Pedro tidak suka melihat kedatangan Jared dan Torres, entah mengapa hati Pedro serasa terbakar, rasanya sangat panas hingga menyengat telinga dan wajahnya yang terlihat memerah.
"Lalu apa kabarnya denganmu? Kau juga datang sepagi ini?" sindir Jared dengan terkekeh.
"Aku? Apa kau lupa aku pengurus Apartemen yang wanita ini sewa? Apa kau lupa bahwa dia yang selalu memintaku datang? Apa kau juga tau, bahwa wanita yang mengaku bersuami ini selalu menatapku diam - diam dengan tatapan menggoda?" Jared terbahak seketika, melihat kecemburuan Pedro akan kedatangannya. Ia juga terbahak melihat reaksi Pallazo yang memerah wajahnya.
"Kauuu?! Beraninya kau!-- Pergilah! Dan jangan pernah kembali! Dan satu lagi-- jangan pernah membawa bunga ini ke hadapanku! Aku tidak suka melihatnya!" Pallazo secepatnya menyambar bunga mawar yang Pedro genggam lalu membuangnya ke lantai kemudian mendorong dada Pedro agar menjauh dari hadapannya.
"Nooooo Mamma! Noooooo!" suara Miu membuat semua terkejut. Saat menoleh seraya memutar tubuhnya kearah kedatangan Miu, kaki Pallazo tersangkut karpet dan membuatnya kehilangan keseimbangan.
Melihat itu Jared terkesiap untuk menangkap Pallazo namun Pedro terlalu cepat bertindak menangkap tubuh ramping itu terlebih dulu, hingga Pallazo terhuyung hingga membentur dada Pedro. Mata mereka yang penuh kekesalan kembali beradu dan secara bersamaan mereka saling mengurai kasar. Jared kembali terkekeh dengan suara lirih.
"Tiooo Pedro! Tioo! Tioo! Tangkap aku! Tangkap aku!" seperti melihat peri kecil, mata Pedro berbinar saat Miu berlarian kearahnya dengan merentangkan tangannya dan tawanya yang membuat hati Pedro kembali tergetar.
Anak ini.. Mengapa membuat hatiku bahagia..
Pedropun menangkap tubuh Miu dan membawanya melayang kedalam gendongannya. Tanpa permisi lagi ia mencium manis pipi Miu yang berseri seri. Torres mendengus kesal melihat pemandangan itu, sementara Pallazo masih berdiri terpaku seraya mengepalkan tangannya.
Rambut mereka.. Rambut ikal Miu.. Walaupun warna rambut mereka berbeda tapi, itu sangat mirip.. Dan senyum mereka.. Mengapa.. Mengapa terlihat mirip.. Rebecca Pallazo, jangan katakan kalau kau pernah bertemu Pedro delapan tahun yang lalu saat kau depresi.. Tidak, itu tidak mungkin.. Dugaanku pasti salah.. Kau pergi bersama Ricardo ke Mexico saat itu atau jangan - jangan kalian ke Barcelona? Semoga aku salah.. Torres.
"Apa kau sudah siap ke Daycare?" tanya Pedro seraya tersenyum hangat.
"Si-- Apa aku cantik?" Miu balik bertanya.
__ADS_1
"Sangat cantik. Tapi, bisakah kau melepaskan rambut tandukmu. Kau sangat cantik bila rambutmu digerai, kau seperti Rapunzel dengan rambut emasmu-- Kau mengingatkanku pada seorang turis wanita yang membuatku jatuh cinta" kata Pedro seraya menurunkan Miu. Torres membulatkan matanya, jantungnya berdegub kencang.
Shitttt! Jangan jangan Pedro-- Shittt! Bagaimana aku memastikannya.. Torres.
"Ugh, Pappa Torres selalu mengatakan hanya dia yang boleh menyentuh dan melihat rambutku!" ujar Miu seraya bersungut.
"Dia ingin membuatmu terlihat jelek" ujar Pedro menatap tajam kearah Torres yang diam terpaku dalam khayalannya. Ia mengingat kisah Rebbeca yang hancur saat Valentino memutuskan pertunangannya begitu saja tanpa kata dan memilih pergi bersama Ricardo.
"Hei, kau Putriku jadi terserah Pappa!" ujar Torres mendadak emosi dan melangkah maju namun Jared menahan dadanya seraya menggelengkan kepalanya.
"Ah, bunga mawar ini. Apakah ini dari balkon Apartemen Ratu lagi?" tanya Miu seraya meraih mawar yang dibuang ke lantai oleh Pallazo. Jared dan Torres saling pandang mendengarnya, ada kecemasan terbersit di mata mereka.
"Lagi?" desis Torres kearah Jared yang menggedikan bahunya kemudian.
"Tentu saja. Hanya mawar di Apartemen Ratu yang terbaik" kata Pedro seraya melirik kearah Pallazo, Jared dan Torres yang masih terdiam.
"Baiklah, aku akan melepas rambut tandukku dan kita berangkat" kata Miu seraya menarik dua ikatan rambutnya kiri dan kanan hasil karya Torres yang selalu di rusak. Saat di Italy Valentino selalu merusaknya sementara kini di Barcelona, Pedro yang memprovokasi Miu.
"Miu, Pappa akan mengantar--
"Tio Pedro akan mengantarku" potong Miu seraya menoleh kearah Torres yang mencemaskan sikap Miu.
"Tapi, kau tidak boleh berbicara--
"Aku percaya padanya. Tio Pedro bukan orang asing. Dia selalu ada waktu untukku disaat Pappa Torres dan Uncle Jared tidak pernah menemuiku" sanggah Miu lagi dengan cepat.
Perkataan Miu serasa menampar Torres dan Jared, ia merasa didikannya selama ini sia - sia saat berada di sisi Pedro. Sebuah didikan yang umum di negara barat yaitu 'Dont talk to stranger' yang berarti anak kecil dilarang berbicara dengan orang asing.
"Miu--
"Dia akan baik - baik saja. Vamos (ayo) Angelita, kita berangkat. Tio membuatkanmu bekal untuk sarapan. Nanti siang, Tio akan mengantarkan makan siang kepadamu sekalian Tio berbelanja untuk kebutuhan kedai-- Putri Mahkota" kata Pedro dengan penuh penekanan di akhir kalimat. Entah apa maksudnya namun Jared, Torres dan Pallazo seperti diberi peringatan atau ancaman agar mengingat siapa Leyka di Barcelona.
Jadi Angelita yang selalu Pedro sebut di Kedai adalah Miu. Jared.
"Yeaaaay! Aku berangkat! Ci vediamo (sampai jumpa; Italy) Mamma, Pappa, Uncle!" seru Miu berpamitan seraya menarik tangan Pedro begitu saja. Pedro melemparkan senyumnya lalu menggedikkan bahunya kearah Jared dan Torres tanda bahwa ia memenangkan hati Miu.
"Kau tahu Tio-- Kau seperti Pappaku" kata Miu seraya menarik tali tasnya agar tidak merosot dari pundaknya.
"Pappamu?" tanya Pedro tersenyum kearah Miu, ia menarik tangan Miu dan digandengnya menuju pintu keluar meninggalkan ketiga orang yang masih berdiri terpaku memandangi kepergiannya bersama Miu.
"Si-- Pappa Diev!" seru Miu seraya terkekeh.
"Pappa Diev?"
"Si-- Pappa Valentino Gallardiev! Dia Pappaku! Pappa terbaik di seluruh dunia" seru Miu membuat hati Pedro berdebar - debar.
"Lalu Pappa Torres?"
"Oh, dia Pappa baptisku! Pappa Diev-- Ehm, Pappa kandungku!" jawab Miu seraya menutup pintu setelah mencapai pintu keluar. Semua masih terpaku menyaksikan Pedro dan Miu menghilang hingga akhirnya mereka duduk termenung untuk sesaat.
Shittt! Kau berhutang satu penjelasan ini Val.. Apa Leyka mengetahuinya.. Jangan katakan, bahwa kau menyembunyikan hal ini darinya. Pedro.
Dimanapun aku berada aku harus mengatakan bahwa Pappa Diev adalah Pappa kandungku, kata Mamma agar tidak ada yang mengambil Pappa Diev dari aku. Tapi, aku akan mengatakannya pada Tio Pedro nanti disekolah saja.. Aku percaya padanya.. Aku menyukainya.. Aku yakin Mamma mendengarku tadi.. Perdonami Mamma.. Miu melanggar janji Miu..
Gadis Pintar itu, terus tersenyum dan sesekali melirik kearah Pedro yang selalu mengembangkan senyum khasnya. Miu mengagumi Pedro diam diam, entah mengapa ia merasa Pedro tidak asing baginya.
-
-
-
Bentar ya belum bisa rajin up.. Salam dari Mandalika dari pelukan Marques #motogp #ngarep 🤣🤣
Boleh divote boleh dikopiin, kl ga ya awas aja #malak ngancem 🤣
Aku dibooking meliput acara di Mandalika oleh sebuah tabloid jadi entahlah semua nya serasa buyar. Boleh ditungguin boleh enggak, tapi jangan lupa mainkan jempol kalian yahh Bosqyu.. Mamacih kopinya.. Big love Big hug 😘😘💛
Eh Siapa yang nebak Miu anak Pedro? Coba angkat nga*nunya keatas, ehhhh! 🤣🤣
-
-
-
__ADS_1