FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Mengembalikan Semua Pada Tempatnya


__ADS_3

Train membuka kotak harta karunnya yang di penuhi benda benda mati yang memiliki nilai sentimentil dan juga memiliki kisah. Lewat benda benda mati yang ia kumpulkan, benda benda itu banyak bercerita. Train mengambil daun mapel yang berwarna merah dan telah mengering, Train menatap daun itu dengan sesekali menghela nafas dalam.



"Damian? Kau dimana? Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik baik saja? Apa kami menyakitimu?" gumam Train memandangi daun mapel dan jemarinya memutar tangkai daun itu dengan gerakan memilin. Train masih berada di dalam kamarnya-- Apartemen Raja --dan ia telah bersiap berangkat ke sekolah, Train menunggu Daddy dan Mommy-nya bersiap siap memulai aktifitasnya.


Kedatangan Manuella dan Diego mengabarkan pernikahannya, membuat Train mengingat Damian. Sosok laki laki yang dulu selalu ada untuknya, menjadi teman, menjadi sahabat dan Damian mengurusnya dengan baik. Mencurahkan waktu, kasih sayang dan juga perhatian. Walaupun Train tidak pernah mau menerima Damian menjadi sosok Ayah baginya ia tidak bisa memungkiri bahwa Damian menyayanginya.


"Kalau kau menjadi Daddyku, aku akan kehilangan teman sepertimu Damian. Apa kau mengerti?" gumam Train memandangi daun mapel yang di simpannya dan untuk Train itu adalah kenangannya bersama Damian.


Taman Alam Montseny



Saat Train berusia enam tahun, Sekolah Esperanza mengadakan liburan musim panas di Taman Alam Montseny. Kegiatan tahunan yang menjadi sebuah rutinitas sekolah sekolah disana. Karena Leyka menjadi guru disana, bersama Train, Damian, Manuella dan Diego mereka menghabiskan waktunya bersama.



Train masih bersekolah di Playgroup saat itu, dan liburan ini tidak di peruntukkan bagi anak yang bersekolah di tingkat Playgroup. Tapi karena Leyka bertugas mengawasi murid muridnya di tingkat dua sekolah dasar dan Train memaksa ikut dengan amukannya yang tidak ada seorangpun yang bisa mengendalikannya bahkan Damian dan juga Diego-- yang mana biasanya merekalah yang bisa mengatasi amukan Setan Cilik itu --akhirnya Damian, Manuella dan Diego memutuskan berlibur ditempat yang sama yaitu, Taman Alam Montseny.


Tempat untuk anak anak berpetualang dan mengenal alam yang jauh dari hiruk pikuknya metropolitan. Mereka menyewa sebuah villa yang berdekatan dengan Leyka dan memudahkan Train untuk bisa bersama Mommy-nya di waktu kosong saat Leyka beristirahat dari kegiatan sekolah.



Menyusuri hutan, memancing, berkemah, dan bermain di sungai yang dangkal, Manuella, Diego dan Damian memperkenalkan alam dan segala isinya kepada Train yang merindukan sosok seorang Ayah. Diego dan Damian mengisinya dengan segenap kasih sayang. Mengajarkan berpetualang, bertahan hidup dan menjadi lelaki sejati, mereka banyak memberi nilai nilai yang baik untuk Train, yang seharusnya itu menjadi tugas Valentino.


"Kau tahu, Train? Daun maple ini memiliki lima cabang yang bisa diartikan lima unsur kehidupan yang ada di dunia. Air, Udara, Tanah, tumbuhan dan makhluk hidup. Tanpa kelimanya dunia ini akan musnah. Tidak ada kehidupan" Train terngiang ngiang akan perkataan Damian. Saat itu mereka tengah memancing di sungai yang di kelilingi pohon mapel. Daun daun mapel kering berserakan disekitar mereka.



"Si si si! Aku tidak mengerti! Ahahaha! Si aku tidak mengerti-- Tapi daun mapel ini adalah-- Ehm.. Di tengah ini adalah aku, di sebelah kananku adalah Mommy dan juga Daddyku. Dan di sebelah kiriku ada Ibu Manuella dan Ayah Diego! Tanpa mereka duniaku akan musnah Damian! Ahahaha-- bukankah sama seperti itu maksudnya?" Saat itu Train menunjuk satu demi satu sirip daun mapel yang menonjol. Damian tertawa sumbang dan Train mengingat perkataannya. Train bisa merasakan hati Damian pasti sakit mendengarnya.


"Si, sama seperti itu. Tapi aku tidak ada tempat disitu. Kita akan mencari daun mapel yang siripnya enam" kata Damian yang duduk di bebatuan mulai mengedarkan pandangannya saat itu, mencari daun mapel yang bersirip enam.


"Damian, kau ada disini-- Kau adalah tangkainya tanpa tangkainya bagaimana daun ini menempel ke pohon? Jika setengah sirip daun mapel ini menghilang-- anggap saja Ayah Diego dan Ibu Manuella tidak ada di Barcelona --bagaimana aku dan Momny bisa tumbuh dan menempel pohon bila kau tidak ada. Kau tangkainya Damian. Tanpa tangkainya daun mapel tidak akan tumbuh" dan saat itu perkataan Train membuat Damian berkaca kaca bahkan Manuella dan Diego yang berada tidak jauh dari mereka, sangat terharu mendengarnya.


"Hahaha-- Si aku tangkainya!" kata Damian saat itu memeluk dan mencium Train dengan tawanya yang terdengar sumbang dan parau.


"Karena tangkainya yang akan memegang sirip sirip daun Mapel dan sekalipun sirip daun mapel ini ada Daddyku, kau tetap akan penting bagiku Damian" dan saat itu Train merasakan pelukan Damian semakin erat. Damian tak mampu berkata apapun lagi selain memeluk Train.


"Heii kaliannn! Ayo kita perang daun mapel" Saat itu Manuella menghampirinya dengan seonggok sampah di tangannya, Train menyimpan daun itu di saku jaketnya. Lalu Manuella melempar kearah Damian dan Train yang tertawa dengan menjerit jerit. Manuella mengalihkan percakapan mereka, selain tidak mau mendengar hal hal yang membuatnya sedih, Manuella juga tidak mau mereka merusak liburan itu.





Dan perang daun mapel terjadi kemudian. Mereka saling melempar sampah kering daun mapel yang berserakan. Di Eropa itu adalah permainan yang di tunggu tunggu saat musim panas menjelang musim gugur.


Tuhan bolehkah aku minta satu Keajaiban lagi untuk Damian? Bisakah KAU membuat Damian bahagia? Dia adalah salah satu Keajaibanku.. Bila tidak ada Damian, aku tidak akan tahu banyak hal dan Mommyku akan kuwalahan menghadapi aku yang nakal.. Si-- Blue Train yang nakal.. Tapi dengan nakal aku mendapatkan apa yang aku inginkan, seperti koleksi mainan mainanku.. Uhs, Lo siento.. Aku nakal.. Jika KAU mengabulkan, aku tidak akan meminta mainan lagi dengan cara yang nakal.. Itu janjiku.. Aku akan membeli mainan dengan cara yang baik.


Sebait doa yang manis di panjatkan Train pagi itu. Train meletakkan daun mapel itu, kedalam kotak harta karunnya, dengan merapatkan mulutnya lalu ia mengucek matanya yang terasa perih. Dan ia kembali meletakkan kotak harta karunnya di bawah kolong tempat tidurnya.


Suara Valentino yang memanggilnya membuat Train bergegas menyambar tas dan topinya. Suara itu membuat jiwa dan hatinya bersorak. Walaupun Damian penting, tapi Valentino adalah kebahagiaan Train.


"Si si si, Daddy! Blue Train, siap ke sekolah!" seru Train berlari sambil membanting pintu kamarnya dan mencari sumber suara yang membuat adrenalinnya melonjak lonjak.

__ADS_1


...***...


...MADRID...


Kemarin Malam


Malam itu dimana acara perjamuan makan malam pemilihan Viscountess sedang berlangsung, setelah Damian mengetahui segalanya, di acara Viscountess yang di adakan di Mansion Kerajaan Spanyol, Damian pergi dari Barcelona. Lewat penerbangan terakhir, Damian mendapatkan tiket dari calon penumpang yang menunda keberangkatannya.


Saat itu Damian yang terluka menghubungi Henry, putra Uncle Helbert yang merupakan sahabat dari Pacho, Ayah Leyka. Henry sendiri adalah teman masa kecil Leyka yang jarang sekali bertemu namun mereka kembali di pertemukan di Afrikan Selatan delapan tahun yang lalu saat Leyka berlibur kesana.


Dan hubungan itu terjalin menjadi sebuah persahabatan yang manis antara Leyka, Damian dan Henry. Saat Damian ingin mencurahkan segala beban dan lukanya atas apa yang ia alami dan kenyataan status Leyka, ternyata Henry berada di Madrid.


Dengan berspekulasi Damian menuju bandara dan membeli tiket 'on the spot', tiket yang dibeli secara langsung dan mengharapkan ada kursi kosong karena penundaan calon penumpang dan Damian mendapatkannya.


Di malam itu juga. Pukul 23.45 waktu Spanyol, Damian tiba di Bandar Udara Internasional Adolfo Suárez Barajas Madrid, timur laut dari pusat Ibukota. Ia langsung menuju Hotel Westin Palace dimana Henry menginap.



Setelah memberitahu Henry bahwa ia telah tiba, Damian menunggunya diluar. Ia duduk di trotoar di pinggir jalan. Mewahnya Hotel Westin Palace membuat Damian enggan menunggu Henry di lobby karena segala material di Hotel itu mengingatkannya pada Mansion Kerajaan yang begitu melukainya.


Lelaki menangis? Ya! Damian menangis di sepanjang jalan dari Mansion Kerajaan menuju Distrik Golden, hingga sebuah pesawat membawanya terbang tinggi dan mendarat di Madrid bahkan saat Damian menghubungi Henry, tangisannya tak tertahan lagi. Manuella dan Diego yang memanggilnya dari luar Mansion Kerajaan kala itu, tak di hiraukannya. Damian terus melangkah dan berlalu pergi.


Dia telah menikah Henry.. Leyka telah menikah.. Apa yang telah aku lakukan.. Henry.. Hennry.. Aku melakukan kesalahan.. Leyka telah menikah di Afrika tanpa ia tahu.. Henry.. Haa..aatiiku.. Sa..kiitt Henry.. Train.. Aku.. Menyayanginya.. Akuu.. Akuu kehilaa..aangannya.. Semu..aa..aa hi..laa..aaang dari genggamanku..


Damian menundukkan kepalanya dan menyeka hidungnya. Ia masih teringat bagaimana ia meraung di ponsel saat menghubungi Henry. Pertanyaan yang sama, Mengapa? Kenapa, semua bisa terjadi? Membuat hati Damian semakin hancur. Matanya sembab dan hidungnya memerah, Damian sangat terluka.


"Kau disini rupanya. Kau mau menabrakkan dirimu sekalian? Mengapa tidak menungguku di lobby?" Damian menoleh kearah Henry yang berdiri tegak di pintu keluar. Rambut Henry terlihat masih basah dengan wajahnya yang segar karena Henry turun menemui Damian, setelah ia menyelesaikan acara mandinya. Damian terdiam dan menyeka pipinya.



Henry menghela nafas dan menghembuskannya kasar, ia berjalan kearah Damian dan meraih tas ransel yang berada di sebelah Damian. Wajah Damian benar benar kusut dan sangat berantakan, Henry menggelengkan kepalanya melihat keadaan Damian yang mengenaskan.


"Aku akan menitipkannya di lobby" Damian masih terdiam saat Henry meraih tas ranselnya dan membawanya berlalu. Kebisingan lalu lintas di Madrid yang masih ramai justru membuat Damian sedikit tenang.


"Ayo kita bersenang senang!" seru Henry saat kembali dari lobby dan membuat Damian berdiri lalu merangkulnya.


OPIUM CLUB, MADRID


Taxi itu berhenti di sebuah club malam, yang tersohor eksistensinya, salah satu club malam terbaik di Madrid. Henry membawa Damian kesana, CLUB OPIUM. Desain club malam itu berwarna warni, modern dan eksklusif. Lantai untuk menari berdisco disana sangatlah luas, dan terbuat dari batu marmer tanpa memiliki potongan. Panggung yang di gunakan para disk jokey (DJ) terlihat mewah dan megah. Sound system terbaik, peralatan yang mutakhir serta permainan lampu laser, siap mengguncang jantung ibukota Spanyol setiap malamnya.



Sederet minuman di pesan, sederet makanan ringan sebagai makanan pendamping ditawarkan. Henry dan Damian memasuki club dengan musik yang menghentakkan jiwa mudanya. Mereka memilih menjauh dari speaker yang berdentuman layaknya meriam, mereka menikmati musik dan suasananya begitu meriah. Tawa canda, jeritan dan pekikan orang yang berjoget diatas lantai marmer itu menambah sempurnanya kehidupan malam di jantung ibukota Madrid.


Rasa pahit, getir dan rasa panasnya minuman yang Damian pesan seakan tak terasa di lidahnya. Damian terus menenggak sloki demi sloki dan Henrypun melakukan hal yang sama. Bedanya Henry meminumnya dengan tenang bukan dengan airmata seperti yang Damian lakukan.


"Bisakah kau merelakannya?" tanya Henry meletakkan gelas vodka ditangannya lalu ia menyambar kentang goreng dan melahapnya.


"Seharusnya aku mendengarkanmu, Henry! Dia.. Ley..kaa-kuu.. Aku.. Kehila..angannya.. Un..tukk sela..maanya.. Henry.. Aku.. A..kan.. Merindukan Pu..traku.. Blu..uue.. Tra..aiinn" antara mabuk dan menangis berbaur menjadi satu, Damian meluapkan segalanya lewat alkohol yang entah keberapa sloki.


Urusan minum minuman yang beralkohol jangan remehkan orang Jerman dan Rusia, mereka terkenal kuat dan tidak mudah tumbang. Bila orang pada umumnya hanya meminum dua double-shoot sudah mabuk bahkan tumbang tapi orang Jerman atau Rusia membutuhkan dua botol vodka untuk mabuk sampai tumpang.


"Dia bukan Putramu tapi bagus bila kau menganggapnya seperti itu" kata Henry sambil menepuk nepuk bahu Damian.


"Bagaimana aku bisa melu..pakan mereka.. Aku tidak bisa Henry.. Saa..kit sekali.. Sakitt Henry! Aku.. Mencintai Leyka.. Train.. Aku mencintai mere..eeka" Damian mengosong gelas vodkanya ia meneguknya sampai habis dan ia menuang lagi. Berulang kali Damian menyeka pipinya yang tak kunjung kering. Lingkar matanya terlihat seperti mata panda, menghitam dengan bola matanya memerah.


"Aku tahu itu-- kau butuh waktu dan entah sampai kapan untuk menyembuhkan luka, tapi kau harus berusaha. Karena mencintai Leyka adalah sebuah kesalahan! Dia telah bersuami, sekeras apapun kau mencobanya, dia tidak akan pernah menjadi milikmu, sekalipun Valentino tiada. Jiwa jiwa yang terikat di tanah Afrika sulit di pisahkan. Antara ikatan takdir dan kutukan cinta membaur menjadi Cinta Sejati yang sulit diuraikan. Orang Afrika mempercayai itu-- Saat Leyka bahagia, bisakah kau bahagia? Bisakah kau kembali dan menatapnya dengan bahagia?"

__ADS_1


Damian semakin tersedu, dadanya serasa sesak. Apa yang dikatakan Henry membuat hatinya bergejolak, ia semakin pasrah pada luka hatinya, dan Damian menyerah, "Henry.. Aku tidak bisa kembali.. Disana..sangat.. Menyakitkan.. Aku ingin kembali ke Jerman"


"Kau tau, kau bisa kembali ke Paris bersamaku tapi setelah pernikahan Manuella dan Diego. Mereka mengabariku dan setelah pekerjaanku di Madrid selesai, aku akan mengambil cuti dan langsung terbang ke Barcelona dari Madrid"


"Tapi.. Aku..Tidak bis..saa" Damian menoleh kearah Henry dan menyusutkan airmatanya.


"Kau yang akan menjadi fotografer di acara itu. Manuella kesulitan menghubungimu setelah acara Viscountess tadi, mereka sangat mencemaskanmu" kata Henry sambil meneguk minumannya.


"Ba..gaimana.. Aku akan sang..at sulit me..lepaskan mereka jika aku.. kembali" Damian menghabiskan sisa minumannya lalu ia meletakkan kepalanya di atas meja dengan menumpuk kedua tangannya menjadi bantalan. Ia memejamkan matanya, menikmati musik yang berdentuman bertalu talu.


"Damian, kau sahabatku. Aku pernah mengatakan padamu.. Jika kau tersesat dengan perasaanmu, maka pulanglah dan kembalilah tapi sebagai sahabat. Kau tidak perlu meminta maaf karena kau tidak bersalah, kecerobohanmu hanya mengkhianati persahabatan kita-- Kau hanya perlu mengembalikan semua pada tempatnya. Aku yakin Valentino bisa mengerti dan Leyka sudah pasti tidak akan pernah memilihmu. Karena dari awal dia tidak pernah memilihmu. Matanya tidak ada lampunya, mata Leyka selalu redup" kata Henry kembali menepuk nepuk pundak Damian agar tenang.


Mata ada dan tidak ada lampunya, bahasa itu membuat Damian tersenyum karena bahasa itu mengingatkannya pada Train. Damian kini mengetahui bahwa bahasa Train adalah didikan dari Henry dalam menilai seseorang. Damian mengingatnya, Henry telah menggunakan bahasa itu sejak lama bahkan sebelum mengenal Train. Tiba tiba ia merindukan Train dan ia ingin kembali.


Diantara ruang kesadaran, ruang kesedihan, ruang keegoisan, ruang ilusi karena alkoholnya, Damian memikirkan perkataan Henry. Hati Damian hancur berkeping keping. Airmata kembali menetes membasahi pipinya. Damian menelan pahit salivanya namun rasanya sulit, hanya alkohol yang mampu mendorongnya seteguk demi seteguk hingga ia tidak merasakan apapun.


Persahabatan yang gila, Damian yang terluka, Damian yang patah hati, Damian yang berlari pada alkohol, akhirnya Henry justru yang tumbang layaknya laki laki yang patah hati. Damian justru masih bisa berjalan walaupun sempoyongan. Henry harus di papah petugas Hotel untuk membawanya ke kamar, sementara Damian harus berjalan dengan terseok seok mengikuti Henry yang tidak sadarkan diri.


Saat mereka keluar lift, Damian melihat seorang wanita yang menangis dengan menggenggam ponsel dan menempel di telinganya. Wanita itu menceracau, memaki seseorang di seberang serambi teleponnya, jalannya sempoyongan sambil mencari sesuatu didalam tasnya sesekali ia menjatuhkan key card yaitu kunci kamar yang besar dan bentuknya seukuran dengan kartu nama. Berulang kali wanita itu terjatuh, hingga merangkak memunguti isi tasnya yang berjatuhan.


"Kau pembohong! Kau penipu! Untuk apa aku ke Madrid! Untuk apa aku ke kota siallan ini! Kau penipu! Kau pembohong!" wanita itu berurai airmata dan berusaha bangkit berdiri. Wanita itu mabuk sama seperti dirinya, pikir Damian.


Saat Damian tiba di dekat wanita itu, Damian menangkap tubuh wanita itu yang kembali terjatuh dan terhempas kearahnya. Wanita bergaun merah itu, terlihat berantakan, rambutnya bahkan dandanannya tak berbentuk. Mascara, eye liner dan lipstiknya sudah tidak berada pada tempat yang seharusnya.


"Kau penipu! Kau pembohong! Dimana dimana key card ku! Kau pembohong!" Wanita itu mendorong Damian dengan menceracau namun wanita itu kembali terhempas kearahnya. Damian melihat ponsel wanita itu sebenarnya tidak aktif tapi wanita itu ternyata menelepon pada benda mati. Damian tersenyum melihatnya.


"Dimana kamarmu aku akan mengantarmu.. Ahh iya.. Aku tidak pernah menipu.. Aku tidak pernah berbohong" Damian mencolek hidung wanita itu


"Ini.. Ini.. Key card ku. Ini.. Ini kamar putrinya.. Aku dimana" Wanita itu menyerahkan dua key card dan membuangnya lalu Damian mengambilnya. Damian melihat sekilas nomor kamar yang tertulis di keycard lalu memapah wanita itu kearah berlawanan dari kamar Henry.


"Kau punya seorang Putri?" tanya Damian dengan berjalan merangkul wanita itu. Seperti orang buta menuntun orang buta, sama halnya orang mabuk menuntun orang mabuk. Mereka berjalan kesana kemari membentuk pola zig-zag karena mereka mencari kamar demi kamar yang sesuai dengan nomor yang tertera di keycard.


"No No.. Itu putrinya.. Aku pengasuhnya.. Aku dianggap pengasuhnya.. Laki laki semua brengsekkk.. Semua penipu.. Semua pembohong" Wanita itu memukuli dada Damian.


"Tapi kau telah menikah, Baby.. Kau menikah" kata Damian dengan pandangan kabur. Di dalam benaknya hanyalah Leyka dan Train sehingga ia melihat wanita itu adalah Leyka.


"No No.. Aku tidak menikah.. Kau pembohong Kau penipu" mata Wanita itu terpejam dan menarik narik telinga Damian.


Mereka terus berjalan, sesekali mereka berpencar dan menabrak pintu demi pintu untuk menempelkan keycard, lalu mereka kembali berjalan dengan saling merangkul satu sama lain.


"Kau punya Putra, Baby.. Kau punya, Train" ujar Damian dengan mencolek hidung wanita itu. Damian masih merasa bahwa wanita itu adalah Leyka.


"No No.. Itu kucing" kata wanita itu menghapus sisa airmatanya, hingga kecantikan yang tersembunyi itu tercetak di wajahnya.


"Hahaha.. Jadi yang.. Kau maksud putrimu adalah kucing? Kau.. Wanita kaya sampai kau boleh.. Membawa kucing di Hotel" Damian tertawa.


"Ya itu kucing! Tapi kau pembohong! Kau tidak ada di Madrid!" kata wanita itu dengan mendorong Damian lalu menempelkan keycard-nya pada pintu. Suara mesin key card pada pintu menyala dan itu artinya mereka tiba di kamar yang benar.


"Aku ada disini.. Baby, aku ada di sini" bisik Damian menghimpit tubuh wanita itu, yang ia pikir adalan Leyka namun wanita itu justru melingkarkan tangannya di leher Damian.


"Benar.. Benar.. Kau ada disini" dan pintu terbuka, hingga tubuh keduanya terdorong memasuki kamar.


"Baby, aku merindukanmu"


"Aku juga merindukanmu, Mi amor" Pintu terdengar tertutup, seiring suara keduanya yang menghilang ditelan sang malam.


Belom direvisi, ngantuk bgt.. karena itulah aku butuh kopi biar melek 🤣 revisi besok ya.. kl ada kata yg typo maafkeun.. Tolong jempolnya jangan pelit yang baca jutaan masa yg like ga ada 10%nya.. Kalian hidup kan.? Peliissss lah, komen "aahh" gt aja jg gpp, tak denda 10 cangkir kopi loh kl like aja perhitungan, hahahah 🤣🤣 hoaammmzzz 🥱🥱😴😴

__ADS_1


__ADS_2