FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Kalian Membuatnya Jatuh


__ADS_3

Locomotive Machine,


Sekolah Esperanza


Leyka berada di ruangan guru, lantai 7. Leyka sedang membuat tugas untuk murid Elementary tingkat II. Ia akan pulang lebih awal karena ia harus bertemu dua orang. Damian dan Judith dari Dinas Sosial. Tapi yang terutama adalah Judith. Wanita separuh baya yang mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan hak anak anak dan ibunya. Judith bekerja di Dinas Sosial yang sebagian belahan dunia, di bawah pengawasan PBB, khususnya UNICEF.



Dan Leyka meregangkan otot leher dan tangannya, ia selesai membuat tugas untuk muridnya dan seorang Guru akan menggantikannya. Ia tinggal menyerahkan tugasnya kepada guru pengganti yang memang bertugas menggantikan guru utama.


Di Negara maju Master Teacher atau Guru Utama, bertugas dan bertanggung jawab atas satu kelas. Master Teacher sama saja wali kelas. Dan di sekolah menyiapkan 12 guru pengganti di masing masing tingkatan kelas yang berbeda. Karena sesama Master Teacher dilarang saling membantu bila ada yang mengajukan cuti. Semua akan diserahkan kepada Guru pengganti.


Margaretha adalah Substitute Teacher atau Guru Pengganti khusus di Elementary tingkat II. Guru Pengganti yang selalu memancing emosi Leyka dan selalu saja suka bergosip. Semua dinding sekolah adalah telinganya, dan semua guru laki laki adalah incarannya karena ia 'perawan tua'.


"Ini tugasnya, ada beberapa materi untuk tugas anak anak dirumah. Aku akan menghubungimu setelah jam pulang sekolah" ujar Leyka mendorong ke samping kursi kerjanya yang kaki kursi itu memiliki roda. Meja disebelahnya, adalah meja Margaretha.


Margaretha menerimanya, dan Leyka kembali ke mejanya. Rasa ingin tahu menggelitiknya hingga ia tidak bisa menahan dirinya dan memancing Leyka, "Kau pasti akan berkencan dengan pemilik gedung ini juga kan?"


"Tidak perlu berkencan, apartemen kami bersebelahan" ujar Leyka sambil membereskan mejanya.


Sikap tenang Leyka, semakin membuat Margaretha penasaran ia mendorong kursi kerja yang ia duduki, lebih mendekati Leyka dan kembali melontarkan pertanyaan, "Kau tidak bercita cita akan kembali pada mantan kekasihmu itu? Dia lebih keren dari Damian"


"Ckk!" Leyka mendelik sesaat kearah Margaretha dan melanjutkan membereskan meja.


"Leyka, mengapa kau tidak mengatur pertemuan dengannya dan mengajakku, agar aku bisa menjadi istri kedua atau simpanannya" Leyka masih tenang dan fokus pada apa yang dikerjakannya.


Leyka sangat malas berdebat dengan rekan kerjanya ini, ia menjawab asal asalan "Kau bukan tipenya"


"Ahh aku tahu kau menginginkan keduanya. Gallardiev dan Damian-- Alasan saja!" Margaretha mencibir dan Leyka merasa terusik.


Leyka pun menghentikan aktifitasnya dan membalikkan tubuhnya ke arah Margaretha, "Margaretha! Dia sudah punya istri" Leyka mendengus.


"Kau tidak mau mencari tahu siapa Istrinya? Siapa tahu Istrinya lebih cantik dibanding dirimu" pancing Margaretha.


"Tidak penting" Leyka menjawabnya dengan singkat dan namun serasa dingin.


"Tapi dia masih mengejarmu, sepertinya dia masih menyimpan perasaan padamu. Masa matamu buta? Kau pasti sengaja memberinya harapan. Atau, dia memang ingin membuatmu menjadi Mainan. Aku dengar Bonita sering ke lantai 10. Mana mungkin mantanmu itu tidak tergoda, mereka sering makan siang bersama" Leyka menghela nafas dan Margaretha berhasil membuat hatinya terbakar. Namun ia sebisa mungkin, tidak menunjukkannya.


"Biarkan saja, aku tidak perduli!" Leyka mulai ketus.


Margaretha masih gigih, tanpa melihatnya Leyka sudah bisa membayangkan wajah Margaretha, mengangkat satu alis dengan bibir yang melengkung ala joker. Sangat menyebalkan, ditambah pertanyaannya dengan mendekatkan wajahnya, "Kau tidak cemburu?"


"Kalau Bonita makan siang bersama Damian, aku akan cemburu" Leyka merasa muak mendengarnya.


"Aku sarankan untuk menyelidikinya" ujar Margaretha dengan manggut manggut, Leyka menahan dirinya, ia melihat mejanya telah bersih, hanya tersisa lakban diatas meja, jiwa bar barnya ingin meledak rasanya.


"Aku sarankan kau untuk diam atau aku akan membungkam mulutmu dengan lakban"


"Cihh, sepertinya kau cemburu" Dan Margaretha menyerah, ia kembali ke mejanya dengan mendorong kursi kerja beroda, menggunakan kakinya.


"Menyebalkan" desis Leyka dengan meletakkan lakban di laci dan ia bangkit berdiri.


"Aku menyarankan agar kau tidak di tipu. Kau cari tahu saja, kemarin aku melihatnya makan siang. Apa kau tidak ingin tahu?" Leyka semakin kesal, ia menarik kursi Margaretha dan menahan pegangan kursi itu dengan kedua tangannya, ia menunduk ke arah wajah Margaretha, memberi peringatan.


"Sepertinya kau yang ingin tahu-- Dengarkan nasehatku Margaretha, orang yang memiliki rasa ingin tahu yang berlebihan, kebanyakan akan berakhir di Rumah Sakit Jiwa" kata Leyka dengan penuh penekanan, Margaretha yang terkenal menyebalkan hanya Leyka yang ia takuti. Karena berulang kali Leyka membuatnya tidak berkutik.


Dan seorang laki laki seumuran dengannya masuk dengan membawa setumpuk map dan diletakkan di meja dan berkata kepadanya, "Leyka! Kepala Sekolah memanggilmu di lantai 10"


"Ok, Augusto. Aku akan kesana"


"Sekarang Ley" Perintah Augusto.


"Si!'' Leyka mengiyakan.


"Jangan lupa kau lihat cara duduk mantanmu dan Bonita" Margaretha masih tidak jera. Leyka menyambar tasnya dan mengambil lakban dari laci dan menguncinya.


Saat Margaretha lengah, Leyka dengan cepat mendorong kursi itu dan dengan cepat ia me-lakban tubuh Margaretha menyatu dengan kursi. Semua yang berada di ruangan itu, sudah hafal kebiasaan Margaretha dan sikap bar bar Leyka. Semua tertawa melihat Leyka menghukum Margaretha yang meronta ronta.


"Ohh Tidakk! Leyka! Leykaa!! Apa yang kau lakukan! Leykaaa! Leykaa!! Ayolah jangan begini Leykaa!! Ini kriminal!! Heii Kaliann!! Jangan tertawa!! Leyka ini kriminal! Leyka!!"


"Aahhh selesai.. Bagaimana teman teman-- Hidup ini indah bila Margaretha diam! Yeaaayy!" dan semua justru bersorak disertai riuhnya tepuk tangan mereka. Leyka sangat puas.


"Lorita, 30 menit lagi lepaskan Miss Margaretha, karena ia akan meng a jar di ke las ku-- Adios (selamat tinggal) Miss Margaretha" Leyka dengan mengeja perkataannya dan melambaikan tangan 'selamat tinggal' di depan wajah Margaretha yang masih meronta dan mendengus.


"Leyka!! Huhh! Menyebalkann!! Bar bar!! Awas kau Leykaaa!!" Leyka melenggang meninggalkan ruangan dewan guru dan disambut tos sesama kawannya.


"Aku sudah mengatakannya berkali kali kau jangan mengganggunya, tunggu 30 menit" kata Lorita dari mejanya yang tidak jauh dari meja Leyka, kemudian ia bangkit berdiri.


"Apa harus 30 menit?" Desis Margaretha, dan kawan kawannya masih tertawa.


"Aku mau ke toilet" Lorita berlalu begitu saja.

__ADS_1


"Loritaaaaaa!! Kaliaaann-- Apa kalian akan diam sajaaa?!" Semua yang melihatnya lalu kembali bekerja pura pura tidak melihat Margaretha, wanita yang menyebalkan.


-


-


-


Lantai 10


Kaki jenjang dengan higheels terdengar menapaki lantai 10. Dan seorang sekretaris mengarahkannya ke ruang meeting. Kepala Sekolah sedang rapat bersama Valentino sebagai pihak pengembang Gedung Telekomunikasi di samping sekolah Esperanza dan perwakilan dari Pemerintah kota. Semua mata menuju kearah pintu dimana Leyka masuk.


Dan Valentino dengan senyum khasnya, tersenyum kearahnya lalu menyapa ramah, "Buenas tardes (selamat siang), Miss Leyka. Silahkan duduk."


Leyka pun menjawab tapi di tujukan kepada semua yang hadir di ruangan itu, "Buenas tardes, semuanya."


Entah terpengaruh dengan perkataan Margaretha, tapi Leyka memperhatikan posisi duduk Valentino dan Bonita yang berada di sebelah kirinya, Valentino menawarkan duduk di sebelah kanannya dan Leyka menurut.


"Miss Leyka, kita kurang satu ruang perpustakaan dan Senor Gallardiev akan membuatnya disamping gedung. Kira kira, apa kau masih mengingat berapa jumlah buku kita" tanya kepala sekolah.


"Aku menyimpan datanya, sebentar-- Leykapun mengambil tablet di tasnya dan membuka beberapa file, Valentino melihat gerakan lincah tangan Leyka dan Leyka membacanya --total buku kita ada 67.500 buku. Dan ada foto tata letak rak perpustakaan, apa perlu?" Valentino mencondongkan tubuhnya kearah tablet Leyka namun matanya beredar, menjelajah pada sebuah kotak folder yang dinamai 'Pretoria'.


"Ada fotonya lagi yang lebih jelas?" tanya Valentino dan ia berniat melihat folder 'Pretoria'


"Ada Senor. Aku punya dari semua sudut" jawab Leyka sambil menunjukkan tabletnya. Valentino mengambilnya dari tangan Leyka dan ia menguasai tablet itu. Ia menyandarkan punggungnya di kursi dan menggeser mundur. Ia melihat foto perpustakaan satu demi satu dan salah satunya ada foto Train di Perpustakaan.


"Anak ini manis sekali, aku sudah merindukannya" Leyka menginjak kaki Valentino.


"Ohh Ehm-- Ada foto muridnya" ujarnya dengan gugup.


Valentino pun membuka kotak folder yang berlabel 'Pretoria', semua orang menunggunya sementara ia justru asik sendiri, dengan debaran indah dihatinya.


Hatinya melonjak saat ia melihat Leyka masih menyimpan dokumentasi foto ketika Leyka di Pretoria yang otomatis ada dirinya. Ia pun berkata agar semua tidak menunggunya, "Aku akan melihat lihat dulu, agar aku bisa menghitung berapa jumlah shipping countainer yang di butuhkan"



"Shipping Countainer?" semua bergumam, saling pandang dan tidak mengerti.


"Aku akan membuatnya dari shipping countainer agar anak anak betah membaca di perpustakaan dan aku akan mendesainnya senyaman mungkin" Valentino tersenyum saat menatap foto foto itu, matanya berbinar binar seakan mendapat lotre.


"Apa tidak berbahaya?" Leyka semakin curiga, ia bertanya tanya apa yang Valentino ukur dari perpustakaan yang ada di sekolah esperanza.


"Tenanglah Leyka Paquito, aku telah merancang ribuan shipping countainer dengan segala model. Karena itulah Cosmir Industri menjagaku agar aku tidak kemana mana, karena melepaskan keahlianku adalah kesalahan" ujarnya dengan tersenyum simpul menatap tablet Leyka. Hanya foto perpustakaan bisa membuat seorang Valentino, menggigit bibirnya, wajahnya berseri seri dan memerah. Semua menatap aneh.



"Cari saja websitenya Cosmir Industry dan cari divisi Konstruksi-- ini manis sekali" Leyka mengerutkan alisnya mendengar dan melihat wajah Valentino yang menatap tabletnya, semua akhirnya mencari di ponsel mereka masing masing.


Apa yang dilihatnya.. Apa dia.. Ohh Shitt!! Jangan jangan dia melihat, dokumentasiku di Pretoria.. Hisst.. Raja Setan ini!!!


"Apa kau selalu menyimpannya? Ini manis sekali Ley" komentarnya dengan berbunga bunga.


Leyka berbisik dengan penuh penekanan, Valentino membulatkan matanya saat Leyka mere*mass pahanya dengan berkata, "Miss Leyka!"


"Oh Iya Miss Leyka, ehm-- Aku pernah melihat cafe dengan konsep perpustakaan di Afrika. Ini menginspirasiku" Valentino sadar perkataannya menyebut 'Ley', terdengar sexy dan tidak seharusnya. Leykapun merampas tabletnya dari tangan Valentino dengan mendelik lalu Leyka menyimpannya.


"Baiklah, aku membutuhkan 10 shipping countainer, untuk perpustakaan. Ini akan menghemat biaya, pekerjaannya cepat dan akan dilakukan setelah anak anak pulang sekolah-- Rapat di tutup dan Miss Leyka ikut aku ke ruanganku-- Dan aku akan mengirim desainku ke alamat email kalian semua" Valentino bangkit berdiri sambil mengancingkan jasnya, membubarkan rapat itu.


"Diev, aku menunggu ditempat biasa" ujar Bonita melirik kearah Leyka yang masih duduk dengan menggoyangkan telapak kakinya, seperti mencari kenyamanan untuk berjalan. Karena bekas luka di ibu jari kakinya masih mengganggunya saat menggunakan sepatu higheels.


Valentino melihat wajah Leyka yang menegang dan ia berusaha mengendurkannya, "Aku akan makan siang bersama kawanku dari Italy, dan salam untuk Ramirez" katanya kemudian.


"Ahh Miss Leyka, aku punya sesuatu untukmu, tunggu sebentar" Semua orang yang telah bangkit berdiri sontak melihat kearahnya semua, ia menjadi canggung dan serba salah.


Valentino membuka almari kabinet di ruang meeting dan mengambil papperbag dengan berlogo Hermes didepannya. Semua terkesima dan Leyka membulatkan matanya, melihat Valentino duduk berjongkok dan membuka papperbagnya lalu mengeluarkan isinya.


Valentino mencengkeram kaki Leyka dan berkicau panjang kali lebar, "Aku akan membantumu membuka sepatumu, Miss Leyka. Kau ingin cepat sembuh kan? Gunakan sepatu ini, highheelsmu membuatmu sempura. Tapi itu juga akan mematahkan kakimu bila luka di ibu jari kakimu belum sembuh benar" wajah Leyka memerah seketika, saat Valentino membuka sepatu highheelsnya dan menggantinya dengan sepatu model loafer yang bertaburan batu permata sirkon dan swarovki yang berlogo brand kenamaan dari Paris 'Hermes'.


Pasalnya semua orang justru tidak beranjak pergi. Mereka semua menatap Leyka yang menahan tubuhnya di meja dengan tangannya. Leyka sampai tidak bisa berkata apa apa.



Ia melanjutkan kicauannya, "Tidak usah pamer, postur tubuhmu memang bagus dan sexy, bak gitar Spanyol. Tidak usah membuat perhatian banyak laki laki dengan memperlihatkan tubuhmu yang tinggi dan kaki jenjangmu yang mulus ini. Aku membelinya kemarin, karena aku selalu melihatmu memijat kakimu dimanapun, dan aku melihat, kau tidak nyaman dengan sepatumu. Ini sudah pasti nyaman dan ini edisi terbaru dari Hermes-- Aah, selesai. Kakimu tetap terlihat cantik, seperti coklat putih dan aku selalu ingin menggigitnya" Valentino meletakkan sepatu Leyka ke dalam kotak Hermes, lalu bangkit berdiri dan matanya membulat seketika.


Ia menyerahkan paperbagnya ke tangan Leyka dan ia tidak menyangka bahwa semua orang masih berada diruangan itu dengan menahan tawanya kecuali Leyka yang sangat malu karena ulah dan perkataan Valentino. Antara terpesona, terkesan namun juga sangat memalukan, perasaan Leyka berdebar layaknya naik rollercoaster saat berhadapan dengan sosok Raja Setan, julukannya untuk Valentino.


"Aku-- Aku hanya perhatian kepada mantan kekasih saja" Ia menggaruk apa saja yang ada diwajahnya, Valentino menjadi sangat gugup, padahal tidak ada yang bertanya.


"Jadi kaki Miss Leyka ibarat coklat putih? Padahal itu cepat lumer ketika berada dalam mulutmu! Haahahahahaha" Kepala Sekolah tertawa sendirian sambil keluar ruangan namun tawanya begitu menular ke yang lain kecuali Bonita yang menatap sinis ke arah Leyka. Semua akhirnya membubarkan diri dari drama romantis yang mereka saksikan secara langsung.


"Miss Leyka ayo ke ruanganku" Leyka belum menjawab apapun, namun Valentino sudah menyambar tangan Leyka menuju ruangannya.

__ADS_1


Sesampainya disana Valentino membiarkan Leyka menceramahinya, ia langsung menuju lemari pendingin dan mengambil dua kaleng softdrink, Leyka meletakkan tas dan paperbagnya lalu menghempaskan tubuhnya di sofa dengan kesal.


"Kenapa kau selalu tidak bisa mengontrol dirimu! Kau membuatku malu! Astaga Val, kau benar benar selalu saja berbuat sesuka hatimu! Semua orang tahu bahwa Damian kekasihku. Mereka akan bergosip! Huhff!" Valentino diam dan membuka kaleng softdrink lalu menyodorkan kearah Leyka lalu meneguk miliknya.


Leyka meneguk minumannya dan kembali meneruskan kekesalannya, "Apa tidak bisa kau berbuat sesuatu yang wajar? Kenapa kau selalu saja mempermalukanku?!"


"Ley! Aku juga tidak tahu! Semua terjadi begitu saja! Aku juga malu Ley! Aku sangat malu!" Valentino meletakkan softdrinknya di meja dan ia duduk di sebelah Leyka.


Namun melihatnya Leyka justru tertawa terbahak bahak, "Hahahaha-- jadi kau malu? Hahaha Kau juga malu? Hahaha lihat wajahmu! Kau membuatku malu dan kau sendiri juga malu!" Leyka tertawa terpingkal pingkal dengan mengulang perkataannya sembari memukul lengan Valentino hingga Valentinopun ikut tertawa.


"Hahaha-- Aku pikir mereka sudah pergi! Apa yang ada dipikiran mereka? Hahaha-- Shitt! Ini sangat memalukan-- Tapi aku senang, melakukanya" Valentino pun meneguk softdrinknya.


Dan Leyka pun melakukan hal yang sama, "Hahaha-- Kau seperti Train, dia selalu kelebihan adrenalin bila terlalu senang"


"Ley-- Aku mendengar Manuella menyebut Dinas Sosial, apa kalian dalam pemantauan?" tanya Valentino membuat Leyka diam seketika.


Jadi ini yang membuatmu ingin bertemu denganku.. Tentang kedatangan Dinas Sosial siang ini.. Apa kau siap Val?


"Si (iya)" jawabnya dengan tersenyum namun ia menatap kaleng softdrink di tangannya.


Valentino penasaran lalu bertanya, "Apa keuanganmu baik baik saja?" Ia kemudian duduk menghadap kearah Leyka, ia menekuk satu kakinya di sofa dan kaki lainnya menapak di lantai dengan alas karpet.


"Baik baik saja, usahaku berkembang dengan baik, aku masih memegang uang tabungan pensiunan Ayahku dan gajiku per-tahun bisa memberikan kehidupan yang baik untuk Train. Aku masih bisa menabung dari usahaku, dan kau tahu kan? Pajak pendapatanku, sangat ringan, karena aku memiliki anak. Aku juga tidak punya hipotek, kartu kredit juga aku jarang memakainya dan jika aku memakainya, pembayaranku sangat lancar" ujar Leyka tersenyum lalu meletakkan kaleng softdrink dimeja lalu ia menyandarkan tubuhnya di sofa, ia menghela nafas panjang.


*Hipotek, kredit yang diberikan atas dasar jaminan berupa benda tidak bergerak.


Valentino meraih tangan Leyka dan di genggamnya, "Ley, kalau Dinas Sosial sering berkunjung, itu artinya ada hak seorang anak yang tidak bisa kau penuhi. Train memilikimu, memiliki Diego walaupun kalian tidak satu rumah. Kecuali Diego bukan Ayah Train, dan kau merawat Train sendirian, Dinas Sosial pasti akan ikut campur tangan" Dengan posisi miring Valentino merebahkan tubuhnya di sofa, ia menyejajarkan pandangannya karena Leyka kini merebahkan kepalanya di sandaran sofa. Leher jenjangnya bak pilar agung yang kokoh bergaya romawi kuno. Valentino menelan salivanya.


Leyka menghela nafasnya, ia kesulitan menjawab pertanyaan Valentino, karena pernyataan Valentino benar adanya. Dinas Sosial memantau Train karena ia merawat Train sendirian tanpa Ayah biologis dan Train tidak mengenal siapa Ayahnya.


Karena di Negara maju setiap anak memiliki hak untuk mengetahui siapa jati dirinya, siapa Ayahnya juga siapa Ibunya. Orangtua akan terkena sanksi dan bisa dipenjarakan, kemudian anaknya sudah pasti akan berada di bawah perlindungan Negara dan diserahkan dibawah asuhan Dinas Sosial.


"Mengapa kau tidak bertanya pada Manuela? Karena bila aku menjawab, kau hanya akan marah dan melontarkan perkataan yang sangat menyakitkan, kebencianku padamu seperti ombak saat air pasang, ketika belum juga surut, kau justru menambahkan kebencian yang baru"


"Jadi benar kau tidur dengan laki laki asing lagi? Dan hamil?"


"Hahahaha-- Dan pertanyaanmu itu membuatku selalu ingin bertanya 'Bagaimana bila laki laki asing itu adalah dirimu' dan kau pasti akan marah, mulutmu akan berkata kasar dan membuat kebencianku itu muncul lalu kau akan meminta maaf beberapa hari kemudian dan aku--


"Kau pasti akan memaafkan aku" potong Valentino sambil meraih leher Leyka agar mendekat padanya, tatapannya begitu menusuk dan Leyka sulit menghindarinya.



Leyka pun gugup seketika, Valentino berhasil membuatnya dadanya kian sesak, dan pesonanya sangat sulit dihindari, walaupun bentengnya selalu saja nyaris runtuh. Buktinya tenggorokan Leyka tercekat dan suaranya melemah dan nyaris hilang "Ehmm-- Kau terlalu percaya diri."


Valentino tidak berkomentar, karena Leyka telah menyambut bibir Valentino yang terbenam dimulutnya. Mereka saling mem*aggut, mel*umatt dan menghi*ssap setiap inchinya. Valentinopun mendorong tubuh Leyka lalu menindihnya.


"Val... Aahh.. Ini.. Tidak.. Boleh.. Aaah" desa*han itu terdengar lembut, tangan Leyka menahan dada Valentino sekuat tenaga namun Valentino semakin memburu leher jenjangnya.


"Tidak boleh? Tapi kau mengaitkan kaki jenjangmu Mi amor. Aku bisa merasakan hangatnya, irisan buah Peachku dibawah sana" bisik Valentino dengan mata terpejam.


"Aaahh Val"


Diev!! Seseorang memanggilnya di luar pintu.


Valentino dan Leyka membelalakkan matanya, dan saat Valentino merapikan kemeja Leyka, pintu dibuka begitu saja.


"Spaaadaa! Kejutan!" kata seorang pria.


"Diev, Bagaimana? Kau sudah mencekik wanita siluman itu dengan pahamu? Apa kau sudah membuatnya jatuh ke dalam pelukanmu dan meninggalkannya?-- Shitt! Hahaha sepertinya rencanamu berhasil. Kau sedang menindih siapa?" Leyka mendidih seketika dan Valentino geram dengan mengerat pejamannya, menahan kemarahannya.


"Sepertinya rencananya berlancar--


"Shittt!! Jared!! Torress!!" potong Valentino dengan memekik keras.


"Jadi kau ingin mencekikku dengan pahamu? Setelah aku jatuh, kau akan meninggalkanku?!-- Fu*ccck youu, Val!!" Dan satu tendangan melayang kearah senjata keramatnya, lalu Leyka mendorongnya sekuat tenaga. Hingga Valentino terhempas dengan mendekap senjata miliknya, ia meringis kesakitan dengan wajahnya yang memerah. Jared dan Torres terkesima melihat wanita yang berbaring di sofa adalah Leyka Paquito.


"Kalian berduaa!! Tamaat!! Shittt!! Aarghh Leyka, tunggu!!" Leyka menyeringai kearah Valentino yang memukuli sofa karena menahan sakit.


"Gracias, untuk sepatu murah ini!" ujar Leyka dengan mendengus, ia bangkit berdiri dan menyambar tas juga paperbagnya.


"Leyka itu maha..all. Shitt! Kau nyaris menghancurkan senjata yang kau gilai! Arrgh! Shittt!!"


"Highheels Louis Vuitton yang kau lepas dengan kedua tanganmu tadi seharga 5.000 dollar!-- Senjata yang aku gilai adalah milik Damian! Dan kalian berdua, pasti budak dari Raja Setan ini! Gracias, karena kalian membuatnya jatuh! BUKAN AKU!" Leykapun menghentakkan kakinya dan berlalu pergi.


"Shiittt!" Mereka mengumpat hampir bersamaan.


-


-


-

__ADS_1


Happy Reading, Bosqyuu 😘☕


__ADS_2