
Apartemen Casa De Miel
"Yeyyy.. Abuelaaa (nenek).. Abuelaa Dolores! Kau baker terbaik di seluruh dunia! Uhmm, apple pai ini sangat lezat!-- Damian! Ayo suapi aku lagi! Zuugg zzuugg.. Tuuutttt.. Zuugg.. Zuggg!" Train berlarian dengan memutari meja di Apartemen Dolores, ia menggenggam mainan replika kereta api, oleh oleh Damian dari Belanda. Train menggunakan apa saja sebagai relnya, ia berlarian dan menempelkan roda kereta itu dimanapun sambil berkicau dengan mulut penuh apple pai. Mereka berada di apartemen Dolores menunggu Leyka pulang berbelanja di mini market, kawasan Distrik Miel.
"Train! Buka mulutmu! Makanlah dengan benar, nanti kau tersedak" sementara Damian mengikuti kemana kaki Train berlari saat menyuapi apple pai buatan Dolores.
"Zugg.. Zuugg.. Tuuttt...Zugg.. Zuuggg.. Tuutt!" Train masih berlarian.
"Apa dia masih menanyakan dimana Daddynya padamu?" tanya Dolores mengecilkan suaranya saat Damian menghampirinya di meja dapur, ia meletakkan sendok pada piring apple pai dan duduk berhadapan dengan Dolores yang sedang mengupas kentang.
"Zugg.. Zuugg.. Tuuttt...Zugg.. Zuuggg.. Tuutt!"
"Selalu, Tia (bibi)-- masalahnya Leyka tidak pernah terbuka siapa Pria Italy itu padaku, Tia. Dia sangat terluka pada pria itu dan selalu menghindari pertanyaanku. Aku menghargai sikapnya itu. Manuella dan Diego juga menutup rapat mulutnya" Damianpun berkata dengan mengecilkan volume suaranya.
"Train, ayo suapan terakhirmu!" seru Damian memanggil Train yang masih saja berlarian. Dolores tersenyum dengan perhatian Damian yang mengurus Train dengan baik.
"Zugg.. Zuugg.. Tuuttt...Zugg.. Zuuggg.. Tuutt!-- Blue Trainnn dataaaang! Zuugg.. Zuugg.. Tuutt.. Blue Train datang dari Pretoriaaa dan mendarat disiniii.. Tuuutttt.. Tuuttt!" Train membuka mulutnya, kemudian menerima suapan terakhir dari Damian. Ia mendaratkan keretanya di meja kemudian terdiam dengan mengunyah apple pai di mulutnya, setelah menelannya ia masih terdiam.
"Train? Kenapa?" tanya Dolores dengan mengerutkan alisnya.
"Minumlah, Train" Damian menyodor air limun dan Train meneguknya. Ia menyeka mulutnya dan memberikan gelasnya pada Damian. Ia memandangi kereta diatas meja dengan mata abu abu kebiruan, tinggi Train hampir sama dengan meja itu.
"Train?" Damian dan Dolores saling berpandangan, kemudian Dolores meletakkan pengupas kentang dan membersihkan tangannya dengan lap yang ada di dekatnya.
Dolores tentu saja mengenal Train dari bayi, perubahan demi perubahan Train, Dolores sangatlah hafal.
"Train?" panggil Dolores dengan lembut.
"Tapi Daddy tidak mau turun. Aku mau kesana suatu hari nanti, Pretoria. Aku akan kesana!" Damian dan Dolores kembali berpandangan dan menghela nafas panjang.
"Train-- Damian duduk berjongkok dengan satu lututnya menyentuh lantai, ia mensejajarkan dirinya dengan Train yang masih menatap replika kereta api di meja makan itu.
"Aku tidak menyukai oleh oleh ini, Damian! Karena kereta ini tidak bisa membuat Daddyku turun!" Train dengan mata berkaca kaca mengambil kereta itu lalu melemparnya. Damian serba salah dibuatnya.
"Train, mi guapo nieto (cucuku yang tampan)-- tidak baik membuang pemberian orang, itu sama saja kau membuang keberuntungan" ujar Dolores sambil mengusap rambut Train.
Train mulai menggosok hidungnya yang tiba tiba berair, ia menatap sinis pada kereta pemberian dari Damian. Ia menyukainya, tapi kereta itu jugalah akhirnya membuat Train sedih.
"Train, apa kau masih menabung?" tanya Damian mencoba mengalihkan pembicaraan, ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil satu lembar pecahan 500 euro (setara 8,500,000 IDR). Train diam tanpa kata dan memandangi uang itu.
"Uang ini akan menjadi milikmu bila kau, mau mengambil keberuntungan itu. Abuela (nenek) Dolores benar, hadiah dari seseorang adalah keberuntungan. Aku ingin kau selalu beruntung dan membawa Daddymu turun. Kalau kau membuang keberuntungan, maka kau tidak akan beruntung bertemu Daddymu" Trainpun berjalan dan mengambil kereta pemberian Damian dan di dekapnya.
"Maafkan aku Damian-- Aku tidak akan mengulanginya. Tapi, apa kau mau memberikan uang itu padaku?" Damian terkekeh dan menarik telapak tangan Train dan memberikan uang itu.
"Ini menjadi milikmu. Ayo kita pulang dan masukan uang itu ke celenganmu" ujar Damian dengan tersenyum.
"Yeeeeyyy!" Train pun memeluk Damian yang telah menyambar tubuhnya dalam gendongan Damian. Leyka memperhatikan dari luar pintu yang terbuka. Ia menyaksikan kejadian itu dengan mata berkaca kaca. Hatinya sangat nyeri. Melihat putranya seperti itu membuat kebenciannya pada Valentino semakin bertambah. Ia selalu menyalahkan dan memaki Valentino dalam hatinya karena Valentino tidak mau turun.
"Damian-- Ia menoleh ke arah Dolores yang mengembangkan senyum kearahnya --Gracias" Damian hanya mengangguk dengan tersenyum, menjawab ucapan terima kasih itu dan merekapun berlalu dari Apartemen Dolores.
"Mommy! Damian memberiku uang!" Sorak Train saat memdapati Leyka berada di luar pintu.
"Train, kembalikan uang itu pada Damian" pinta Leyka dengan memasang wajah tegas. Hidungnya kemerahan dan Damian tahu Leyka habis menangis.
"Ley, sudahlah" Damian merangkul pundak Leyka dan dibawanya memasuki Apartemen. Damian meremas pundak Leyka seolah memberi kode untuk tidak memperpanjang masalah itu.
"Mommy, pemberian dan hadiah adalah Keberuntungan-- Benar kan, Damian?" wajah imut itu dengan mendekap replika kereta dan menggenggam uang ditangannya, membuat Damian tertawa.
"Iya benar, kalau kau membuangnya maka kau tidak akan mendapatkan Keberuntungan" ujar Damian sambil mencium pipi Train.
"Hmm-- Train, apa kau sudah berterim--
"Damian, Graciaas.. Graciass.. Graciass!" Sebelum Leyka mengingatkan untuk berterima kasih, Train memeluk Damian dengan mengucapkan terima kasih.
"Hanya memeluk ya? Mommy akan mewakili mencium Damian untukmu" ujar Leyka sambil menaruh belanjaannya di meja makan.
"Noo Mommy!!" pekik Train hingga membuat Damian menjauhkan telinganya. Ia masih menggendong Train menuju kamar, dimana sebuah celengan porslen dengan bentuk banteng berada.
__ADS_1
"Cium Damian untuk Mommy"
"Uufft, baiklah-- Uhmmm.. Graciaass, Damian" Trainpun mencium pipi Damian. Leyka dan Damian tertawa melihatnya.
"Ciumanmu seharga 500 euro. Sangat mahal Train" Damianpun terkekeh, ia menurunkan Train kemudian.
"Masukkan ke celengan-- Aku akan membantu Mommymu, menata belanjaannya" Trainpun berlarian ke kamarnya dan Damian menghampiri Leyka yang tengah membereskan belanjaannya. Damian memeluknya dari belakang lalu mencium pipi Leyka.
"Kau lama sekali. Apa kau tersesat?" Damian mengeratkan pelukannya.
"Aku mampir ke Double P-- Disana kehabisan susu dan creamer. Aku terpaksa membeli kebutuhan Double P terlebih dahulu. Apa Train membuat ulah?" tanya Leyka masih mengeluarkan belanjaannya.
"Aku menyukai ulahnya. Begitulah anak anak. Kita harus memakluminya" Damian kembali mencium pipi Leyka dari belakang.
"Mommmy!! Dadaku-- sesakk!" Train memegang dadanya dengan wajah memucat. Entah mengapa tiba tiba dadanya terasa sesak. Leyka dan Damian kalang kabut, mereka berhamburan dan menghampiri Train.
"Damian! Asma Train kambuh!" tanpa menunggu lama Damian berlarian ke arah kamar Train dan mencari reliever inhaler. Damian tau alat itu selalu di laci kamar Train, setelah menemukan inhaler itu, Damian kembali berlarian dan menyemprotkan ke mulut Train dan Train menghirupnya. Leyka lemas seketika. Begitupun Damian.
Seperti ada sebuah hubungan batin yang tak terlihat, begitupun yang terjadi di belahan negara nun jauh disana. ITALY.
Valentino masih memegangi dadanya yang sakit. Ia mengalami serangan panik. Setelah Jared memberi inhaler yang tersedia di klinik perusahaan, Valentino terlihat bernafas dengan lega. Tawa Jared dan Torres tak lagi terdengar. Namun Valentino masih diam terpaku memandangi salinan data dirinya di lembaga yang mencatat data penduduk di negaranya.
Identitasnya berubah dengan status menikah, salinan data pribadinya mengatakan Valentino menikah dengan wanita berkewarganegaraan Spanyol, Leyka Paquito Fernandez pada tanggal 15 Februari. Valentino mengingat ingat tanggal itu dan apa yang terjadi 8 tahun yang lalu. Ia ingat itu hari ulang tahunnya. Ia menghadiri sebuah festival valentine di Pretoria yang mana sebelumnya ia mengunjungi sebuah tenda untuk mencari ramuan yang mencegah kehamilan. Dan justru Leyka di berikan ramuan kesuburan untuk menguatkan kandungan. *Episode Dewa Kesuburan.
["Val, lihat! Sepertinya mereka sedang berpesta"
"Apa kau mau kesana?"
"Aku mau Val"
"Hanya ingin menari saja seperti masuk ke konser-- Kita harus membeli tiket"
"Apa kau bosan mengantri? Kita bisa pergi ke tempat lain"
"Kau saja yang pergi aku mau menari di dalam, itu makanannya sepertinya lezat, Val"
"Lihat mau masuk saja kita di asapi dan dikalungi bunga"
"Wah aku mulai tertarik, aku akan menulis namamu dan biar tidak ada laki - laki yang mengganggumu"
"Aku juga mau menuliskan nama mu, agar jal*angmu itu tidak mengganggumu!"
"Dendam sekali kamu Leyka"
"Val, apa itu artinya?"
MasversaTroverue Inver Divere Valentynsmaand
"Itu bukan bahasa Afrika Ley, itu seperti bahasa sebuah suku di Afrika"
"Itu ada tulisannya Valentine, kita berada di acara Valentine Val"
"Iya kau benar-- Apa sebaiknya kita bertanya"
"Isshh.. Jangan menunjukkan kebodohanmu atau kau akan ditipu Val. Kita ikuti saja pasangan di depan kita, tunjukkan kita ini pintar"
"Cck, Bar - bar"
"Ley, ramai sekali"
"Sepertinya ini puncak acara festival, aku menyukainya Val. Ini seperti acara kuno dari sebuah suku, Dewa Kesuburan" ]
"Aku tidak pernah tahu kau memiliki riwayat asma, Diev! Shit! Kau membuatku hampir mati berdiri! Aku pikir kau terkena serangan jantung! Ternyata hanya asma! Shit! Kau membuat kita takut!" ujar Jared mengusap wajahnya yang berkeringat. Ia merebahkan tubuhnya di sofa sementara Torres memunguti file file kertas yang berserakan.
"Aku asma saat kecil, dan sudah sembuh. Asmaku tidak pernah kambuh. Kabar ini membuatku kambuh, entahlah" ujar Valentino masih memegangi reliever inhaler dan sesekali menghirupnya. Sulit di lukis bagaimana perasaan Valentino, antara bingung dan tidak percaya.
"Diev, bagaimana bisa kau menikah di Afrika dan kau tidak tahu sama sekali" tanya Torres sambil melempar file di meja dan menghempaskan tubuhnya di sofa, semuapun juga kebingungan.
__ADS_1
"Aku juga bingung, tanggal 15 Februari seingatku, aku mengikuti acara festival Valentine. Disana sedang memperingati kelahiran Dewa Kesuburan" Torres menegakan tubuhnya dengan sangat antusias.
"Shit! Coba ceritakan! Apa saja yang kau lakukan di Festival itu, semoga dugaanku salah!" ujar Torres membuat Jared pun menegakkan tubuhnya dan mulai serius membicarkan masalah ini.
"Kami berbelanja, kami berjalan jalan dan mengikuti pesta pasang pasangan yang tiket masuknya sangat mahal" ujar Valentino mencoba mengingat kejadian 8 tahun yang lalu.
"Tiket masuk?" Torres dan Jared berpandangan.
"Diev! Kakekku dari Afrika. Tidak ada festival dengan tiket masuk yang mahal" bantah Torres dan Jared menyimak, Valentino kembali mengingatnya, ia pun mengambil ponselnya dan ia menunjukkan sebuah foto. Foto Leyka yang masih di simpannya.
"Ini, di tempat ini. Kami mengikuti ritual bodoh di acara festival Dewa Kesuburan. Tapi anehnya mereka meminta kedua passport dan visa kami untuk di fotocopy, lalu kami mengikuti acara yang mahal itu!" ujar Valentino dengan dadanya yang masih sesak. Berulang kali ia menyemprotkan inhaler ke dalam mulutnya. Ia tidak percaya dengan apa yang dialaminya.
"Shitt!! Fu*ck!!!" Torres membulatkan matanya saat melihat foto Leyka berdiri diambang pintu acara festival Dewa Kesuburan, Valentino mengambil foto Leyka saat sedang mengantri saat itu, Valentino masih menyimpan banyak foto Leyka diam diam.
"Torres ada apa!" Jaredpun penasaran dibuatnya.
"Dugaanku benar! Kau mengikuti PERNIKAHAN MASSAL, DIEV!" kata Torres membuat mata Valentino terbelalak ia semakin cepat menyemprotkan inhaler di mulutnya berulang ulang. Sementara Jared justru meledakan tawanya.
"Jared! Ayolah berhenti tertawa! Kau jangan mengolok kebodohannya!" Torres langsung membungkam mulutnya, ia merasa keceplosan dan Jared semakin meledakkan tawanya. Di sisi yang lain ia menyuruh Jared diam namun di detik yang sama ia menjatuhkan Valentino dengan telak.
"Ohh Shit! Ini tidak masuk akal! Hahaha.. Ohh Tuhann, buatlah aku berhenti tertawa! Diev, apa yang ada di pikiranmu saat itu, ini sangat konyol!" ujar Jared menepuk kedua pipinya sendiri dengan tertawa.
"Apa kau ingin aku membantumu menghentikan tawamu, Jared! Dan kau Torres! Tertawalah sepuasmu!" Valentino mengepalkan tangannya dan meledaklah tawa Torres dan juga Jared secara bersamaan lagi.
"Aku memang bodoh! Tulisan itu seharusnya memakai bahasa Inggris atau setidaknya bahasa Afrika. Itu bahasa Suku! Shit!! Aku ingin bertanya saat itu tapi Leyka bilang jangan menunjukkan kebodohan kita, maka kita akan di tipu, kita akhirnya mengikuti pasangan di depan kita! Dan akhirnya sekarang kita justru menunjukkan kebodohan kita di masa kini! Shit! Wanita Siluman itu! Semua gara gara dia!" gerutu Valentino dengan kesal karena di tertawakan oleh rekan rekannya.
"Tunggu dulu-- Apa Leyka mengetahuinya? Atau Leyka menyadari itu Nikah Massal?" tanya Jared menghentikan tawanya begitupun Torres.
"Tentu saja tidak, dia tidak mengusai bahasa Afrika" ujar Valentino dengan mendengus.
"Diev!! Itu artinya-- Leyka juga tidak mengetahui kalau kau Suaminya!" mereka bertiga membelalakkan matanya dan Valentino menghirup inhaler lagi. Oksigen disekitarnya rasanya menghilang dan membuat dadanya kian sesak.
"Shit!! Mengapa aku tidak terpikir sama sekali!-- Tunggu, berarti Leyka menerima surat pernikahan juga?" Valentino semakin berdebar menghadapi kenyataan yang mengejutkan ini.
"Diev, apa kau membeli koin ini?" Torres membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto koin emas dengan berbagai ukuran. Dan mata Valentino kembali membulat seketika.
"Aku membelinya dan memilihnya yang paling besar! Dan cincin yang aku pakai ini, adalah--
"Itu cincin pernikahanmu, Diev!" ujar Torres menyambar perkataan Valentino dengan cepat. Valentino semakin gemetar, ia kembali menghirup inhaler ditangannya. Matanya mulai berkaca kaca, Torres dan Jared sudah tidak bisa tertawa melihat keadaan Valentino.
"Kemarin keponakanku akan menikahi gadis asal Afrika dan ia meminta saranku untuk memilihkan koin. Ia meminta sumbangan karena itulah ia mengirim foto koin koin ini. Diev, ini adalah Mahar dari perkawinanmu. Dan ini, seharusnya Leyka menerimanya. Setauku, surat pernikahan massal di negeri orang, semua dokumen akan diambil di Kedubes yang mengadakan Pernikahan Massal. Seharusnya kau mengambilnya di Kedubes Afrika" jelas Torres.
"Aku tidak tahu itu Pernikahan Massal! Shit!" Valentinpun menghirup dalam inhalernya lagi, rasanya oksigen menolak untuk memasuki paru parunya, debaran jantungnya masih saja tidak beraturan.
"Biasanya orang menikah satu negara dan menikah di negeri orang adalah sebuah Trend. Kasusmu berbeda dan langka. Kalian berbeda negara dan menikah di negeri orang, dokumen pasti di kirim ke kedutaan besar Italy dan Spanyol! Satu untukmu dan satu untuk Leyka! Ini gila, Diev!" ujar Torres membuat mata Valentino memerah, apakah ia harus senang ataukah ia harus bahagia, itu membuatnya bingung. Jutaan tanya hinggap di benaknya.
"Ada beberapa kasus di dunia yang sepertimu Diev, bahkan sampai 15 tahun mereka tidak mengetahui kalau sebenarnya mereka sudah menikah. Seperti kasus di Gujarat India. Seorang laki laki dan perempuan memutari api suci tanpa sengaja dan mereka resmi menikah, Gila!" ujar Jared menambahkan.
"Tapi Leyka sudah menikah, bagaimana dia bisa menikah lagi? Bukankah seharusnya dia menceraikanku terlebih dahulu? Bukankah itu artinya Leyka sudah mengetahuinya?" Valentino semakin kebingungan dibuatnya. Mereka menebak dan terus mereka-reka apa yang terjadi pada Leyka. Masalah ini menjadi semakin serius untuk di bicarakan.
"Diev, setauku di Afrika sebagian agamanya di kuasai Katolik Ortodok, aku rasa mereka melihat passport kalian dan kau diarahkan ke ritual 5 suku terbesar disana. Karena bila Muslim, kau akan diarahkan ke tempat lain" ujar Torres membuat Valentino mengingat kembali.
"Kami di arahkan ke jalur yang banyak turisnya dan seperti orang lokal. Aku melihat beberapa turis Turki, India bahkan Arab diarahkan ke Tenda lain" Valentino masih mengenang adegan demi adegan yang ia ikuti 8 tahun lalu.
"Tepat sekali! Diev-- Satu, Leyka tidak bisa menikah gereja. Dua, bila Leyka ingin menikah gereja maka ia harus mengajukan ke Vatikan untuk bercerai. Tiga, bila dia hanya ingin menikah Sah secara Hukum Negaranya, maka Leyka akan melayangkan gugatan surat perceraian, yang akan di kirim melalui Kedutaan Italy! Diev, apa kau mengingat di ritual terakhir?" tanya Torres yang notabene mengenal rumitnya pernikahan di Afrika, karena Torres berdarah campuran Afrika sehingga Torres tau betul seluk beluk kebudayaan negara Afrika.
"Mereka membawa kitab kuno dan membaca mantra lalu kita di minta membaca secarik kertas berbahasa suku Afrika lalu aku berlutut memasang cincin lalu berciuman. Kita hanya mengikuti ritual konyol seperti pasangan pasangan yang ada di barisan depan kita saat itu. Bahkan kami bercanda disana! Pantas saja kami di suruh diam, banyak orang orang yang melotot kepada kami berdua saat itu!" ujar Valentino dengan tatapan nanar, pikirannya terbang kemasa festival Dewa Kesuburuan. Valentino tersenyum hangat. Perlahan hatinya mencair, lautan es itu seakan retak dan menimbulkan gelombang besar di dalam hatinya.
"Astaga Gallardiev!! Itu ucapan janji Pernikahan! Kau mempermainkan ritual sakral itu! Gallardiev, aku rasa Dewa Kesuburan mengutuk kalian! Gallardiev, sesi terakhir itu adalah pernikahan agama Katolik dan itu berbahasa Suku Zulu! Gallardiev, aku rasa Leyka tidak menikah dengan siapapun! Kecuali dia mengirim gugatan ke Kedutaan Italy! Namun sampai maut memisahkan dia akan tetap menjadi istrimu! Tidak ada sejarahnya Vatikan mau menceraikan pasangan suami istri! Pernikahanmu tercatat disana karena Vatikan mempunyai banyak perwakilannya di seluruh kolong langit! Gallardiev, dugaanku Leyka tidak menikah sampai detik ini! SAMA SEPERTI DIRIMU!!" perkataan Torres membuat Valentino semakin sesak nafas, jantungnya berdegup kencang, tubuhnya begitu dingin hingga wajahnya memucat. Ini sebuah argumen yang membuatnya penuh tanda tanya dan ini membuatnya sangat bingung.
"Kalau begitu, Ayo kesana! Ke Kedubes Italy untuk memastikannya!" Valentinopun bangkit berdiri dengan menghirup inhaler kemudian menyambar jasnya dan meninggalkan ruangannya, ia melupakan janjinya kepada putri kecilnya, Elara Miuccia untuk makan siang. Valentino tidak pernah mengingkarinya, kecuali hari ini. Pikirannya berkecamuk dan Leyka si Wanita Siluman itu memenuhi pikirannya.
-
-
-
__ADS_1
Kata Mama Dedeh, orang mah sabar bu ibuuukk 🤣🤣 Selama aku ga nulis. VALENTINO AKHIRNYA MENIKAH SAAT ITU. ya berarti ga nikah. KALAU Valentino Nikah, dia udah tau dr dulu, kl dia itu udah nikah ama Leyka, kan kudu cerai dulu.. disana tuh kaga ada siri ga bs nikah dua kali eett 🤣🤭 Heloo ini barat gaess.. 🤣Orang cuma lihat foto nikah kan bukan berarti Valentino nikah.. cuma lihat lho cuma lihat.. sama kaya liat laki orang yg ganteng lewat depan rumah, terus senyum ke kita. kan bukan berarti dia milik kita.. 🤭 kecuali kita kedip2in bibir di monyong2in, terus dia ngajak mlipir.. (lahh yaakk ngajak itu mah).. ngakak 🤣🤣
terus Miu matanya sama kaya Valentino, lahh mataku sama kaya mata suami kalian loh, ada itemnya ga putih semua. Berarti aku anakmuu dong.. 🤣🤣 Ibuuuuukkkkkkkkk.. pangkuuuuu 🤣🤣 *dan Thorgen ngejer2 Ibu pembaca. END