FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Mengapa Begini, Ley?


__ADS_3

Seperti yang di janjikan Jared, ia akan menemui Leyka di lantai 7 namun Leyka dibuat cemas karena menunggu. Semua dewan guru telah pulang dan lantai 7 tampak sepi. Leyka putus asa, akhirnya ia memilih pulang. Saat ia tiba di lantai 1, Damian menunggunya. Mereka hanya akan makan siang bersama seperti biasanya, seperti selama dua tahun menjalin hubungan.


Damian hanya ingin membuat hubungannya menjadi harmonis. Saat mencapai halaman lobby, ia dikejutkan oleh Jared, Torres, Alfonso dan Rhosana yang berjalan tergesa gesa dari lobby samping dimana Valentino memindahkan lift karyawan terpisah dengan lift sekolah.


"Ley" panggil Damian dan Leyka tidak menjawab ia menatap Jared yang memegang ponselnya dengan wajah panik. Leyka berdebar melihatnya.


"Leyka! Besok saja!" pekik Jared dari kejauhan dan Jared langsung memasuki mobil bersama yang lain.


"Ley apa yang terjadi?" tanya Damian.


"Aku tidak tahu. Pecundang itu menghilang dan aku tidak tau apa yang terjadi. Tapi kedua orangtua Valentino datang ke Barcelona-- Hmmph, ayo kita pulang. Aku tidak berselara makan" ujar Leyka membuat Damian sedikit kecewa, tapi Leyka sedikit banyak telah menceritakan apa yang terjadi. Damian mengerti dan itulah Damian.


Entah dia butakan rasa cinta atau rasa kasian atau perasaan persahabatan yang melebihi kapasitasnya sebagai sahabat, yang pasti Damian ingin selalu berada di sisi Leyka, Damian tidak menghiraukan lagi janjinya pada Train karena ia masih sangat mencintai Leyka, ditambah ia harus mendampingi Leyka, menghadapi keluarga kerajaan saat Perjamuan Makan Malam, demi sang kekasih dan putranya. Mereka memutuskan untuk membatalkan makan siang dan menuju Double P.


...*...


Bus Sekolah berwarna kuning, berjajar memenuhi halaman parkir Gedung Locomotive Machine, karena saatnya belajar di sekolah telah berakhir. Berawal dari bus sekolah di negara Paman Sam itu berwarna kuning ternyata ada di Spanyol bahkan di berbagai belahan dunia, bus itu memiliki sejarahnya.


Di tahun 1939 tepatnya di bulan April. Saat itu, Rockefeller Foundation menghibahkan dananya sekitar 5.000 Dolar Amerika. Melalui Frank Cyr, mereka melakukan tur ke sepuluh negara bagian di Amerika Serikat untuk meneliti masalah transportasi sekolah.


Apa yang dia temukan membuktikan bahwa transportasi pelajar berada dalam keadaan menyedihkan. Banyak sekali siswa yang tidak memiliki transportasi nyaman untuk ke sekolah.


Di sisi lain, pelajar juga tidak nyaman ketika naik bus umum.


Dari situ Cyr menyelenggarakan konferensi agar dapat memperbaiki sistem transportasi pelajar. Cyr juga mengamati warna bus sekolah dan berencana untuk mengubah warna bus sekolah untuk selamanya.


Sebelumnya, banyak variasi bus sekolah di setiap negara bagian pun dengan warnanya. Dalam Konferensi, mereka membahas warna, tinggi, dan lebar serta aturan keselamatan transportasi sekolah yang belum pernah ditetapkan.


Cyr pun mempresentasikan opsi baru kepada pejabat pendidikan yakni warna kuning. Keputusan Cyr juga di amini Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional, alasannya warna tersebut punya visibilitasnya yang tinggi.


Warna kuning mudah untuk dilihat pada pagi hari hingga sore ketika matahari sudah nyaris terbenam. Selain itu, terdapat tulisan tebal berwarna hitam yang menunjukkan distrik ke sekolah masing-masing.


Faktor warna dan tulisan sangat penting untuk transportasi sekolah yang melakukan perjalanan pagi dan sore hari. Warna kuning juga selalu menjadi warna penting untuk rutinitas sehari-hari.


Setelah konferensi itu dilakukan, 35 negara bagian segera membuat perubahan. Mereka membuat semua bus sekolah menjadi warna kuning. Semenjak itu Frank Cyr dijuluki sebagai "Bapak Bus Sekolah Kuning".



Bus sekolah itu menurunkan Train di sudut jalan Kedai Double P seperti biasanya. Di sambut Pedro yang bertanggung jawab mengawasi Train, sebelum Leyka pulang. Dia sangat ceria hari ini, tidak seperti beberapa hari yang lalu.


Ia melihat Matthew Ford sedang menikmati makan siangnya dan Maria melayaninya dengan wajah datar sementara Matthew terlihat gugup memandangi Maria yang meletakkan pesanan di mejanya.


Melihat itu, Train timbul niat jahilnya. Ia bernyanyi lagu dari Santana yang berjudul Maria Maria, sama seperti nama Maria itu sendiri, ia bernyanyi sambil menggoyangkan kepala dan badannya dengan penuh tawa, "Maria, Maria.. She remind me of a West Side story.. Growing up in Spanish Harlem.. She living a life just like a movie star --Ahahaha!"


[🎶Maria, Maria.. Dia mengingatkan aku pada cerita West Side. Tumbuh di Harlem Spanyol. Dia menjalani kehidupan seperti bintang film]


Siapa yang tidak mengenal lagu Maria Maria, yang diiringi Carlos Augusto Alves Santana, seorang Gitaris Legendaris Group Santana, yang berkebangsaan Mexico dan Amerika Serikat. Lagu itu sangat hits di dunia bahkan hingga kini. Maria menoleh dengan menggelengkan kepalanya dan tidak perduli sindiran Train.


Train kembali bernyanyi dibait kedua namun ia mengganti liriknya, "Maria, Maria.. She fell in love in The Catedral.. To the sounds of the guitar.. yeah, yeah-- Pedro ikut bernyanyi --Played by Carlos Santana! Ahahaha!" Train mengubah liriknya yang seharusnya East L.A menjadi The Catedral, dimana mereka bertemu kemarin.


[ 🎶Maria, Maria.. Dia jatuh cinta di East L.A.. Untuk suara gitar, ya, ya.. Dimainkan oleh Carlos Santana]


Train tertawa puas karena ia berhasil membuat Maria menjatuhkan secangkir kopi di meja dimana Matthew berada dan mengenai bajunya, Matthew sontak berdiri, dan menarik kemejanya menjauh dari dadanya agar kopi panas itu tidak melukainya.


"Maafkan aku! Aku.. Aku tidak sengaja!" ujar Maria sambil menarik beberapa lembar tisu dan diberikan pada Matthew.


"Tidak apa apa aku akan ke wastafel" ujar Matthew dengan wajah memerah. Sementara Train dan Pedro masih tertawa.


"Aku akan membantumu membersihkannya" ujar Maria mengikuti langkah kaki Matthew dan menggerutu pada Train.


"Trainnn! Kenapa kau nakal sekali!"


"Ahahaha-- Maria! Aku hanya bernyanyi! Memang apa yang salah dengan bernyanyi! Ahahaha!" jawab Train dengan tawa dan melakukan tos dengan Pedro.


"Hiisshh!" Maria mendengus kesal. Ia membuka ikatan celemeknya dan memasuki ruang toilet dimana ada westafel disana.


Maria mengambil handuk kecil di loker dan membantu Matthew membersihkan noda kopi di kemejanya. Matthew berdebar debar, Maria berdiri dihadapannnya dengan tenang, namun ia bisa melihat tangan Maria gemetar saat mengusap kemejanya dengan handuk basah, Matthew melihat mata besar Maria tersembunyi dibalik bulumatanya yang lentik, ia hanya bisa melihat kelopak mata Maria dari atas, karena Maria hanya fokus melihat noda dibajunya, bulu mata lentik itu, seakan menarik bibirnya mendekat perlahan.


Aku ingin mencium matanya itu. Batin Matthew.


Kelopak mata itu sesekali terbuka menatapnya, Dan hembusan nafas Matthew begitu hangat, menerpa kening Maria. Sementara Maria merasakan tubuhnya turut menghangat, sehangat nafas Matthew yang liar memenuhi wajahnya.


"Ehm. Maria" panggil Matthew nyaris berbisik.


"Uhm. Si (iya)?" dan Maria justru berbisik, entah mengapa suaranya menghilang hanya debar jantung mereka yang saling berkejaran. Telapak tangan Maria berkeringat, sementara tangan Matthew mencengkeram bibir wastafel sangat kuat.


"Ber.. Berken..cann..lah.. de..dengan..ku" kata Matthew dengan gugup namun penuh penekanan. Ia menyambar pinggang Maria dan menghilangkan jarak di antara mereka. Handuk ditangan Maria terjatuh lalu ia menahan dada Matthew yang telah memiringkan kepalanya.

__ADS_1



"Aku.. Dan.. Kau.. Ber..beda.. Aku bukan siapa siapa Matt" jawab Maria dengan gugup.


"Aku.. Tidak.. Perduli.. Aku jatuh cinta padamu, Maria. Kau pikir untuk apa aku.. Aku setiap hari kesini? Aku tidak bisa tidur. Matamu ini sangat menggangguku" bisik Matthew semakin mendekatkan wajahnya dengan sorot mata yang menikam dan seakan membelah hati Maria. Membuka kisi kisi pintu yang selama tertutup rapat.


"Akuu.. Akuu.. Tapi-- suara Maria menghilang.


"Aku.. Aku melihatmu di gereja kemarin seperti melihat malaikat yang menutup dirinya dan tidak memperlihatkan wujudaya. Kau.. Kau sebenarnya sangat lembut" ujar Matthew semakin membuat Maria salah tingkah.



"Matt.. Aku..tidak pantas untuk laki laki se- level dirimu.. Aku-- Maria terdiam, ia membulatkan matanya karena bibir Matthew telah menempel di bibirnya.


Namun saat Maria ingin membuka bibirnya, mereka di kejutkan Train yang menerobos masuk, "Katakan Iyaa.. Katakan iyaa Maria.. Ayolah katakan Iyaa! Cepat! Laki laki bisa berubah pikiran bila wanita tidak cepat menjawab! Uhss!" Mereka saling menjauh seketika.


"Train. Hiihh, anak ini! Siapa yang mengatakan omong kosong itu kepadamu" kata Maria seraya mengambil handuk yang ia jatuhkan.


"Tentu saja Pedro! Dia selalu berubah pikiran karena wanita yang akan di kencaninya terlalu lama menjawabnya! Uhss! Cepat katakan!" desak Train dengan berteriak lantang.


"Maria?" dan Matthew menunggu jawaban Maria.


"Si" jawabnya dengan singkat membuat mata Matthew berbinar. Hatinya berbunga mendengarnya. Matthew langsung menutup mata Train dengan tangannya lalu mencium Maria kembali. Matthew mema*gutnya perlahan namun ciuman itu terlepas karena Train meronta.


"Noooo! Uhss! Aku mau lihat apa yang kalian lakukan!" Maria tersenyum dengan pipi kemerahan. Sementara Matthew melemparkan senyumannya dengan tatapan penuh arti.


"Kau mengganggu saja, Tuan Bangsawan!" Mathew dan Maria tertawa dengan saling berpandangan penuh artinya.


"Sepertinya noda kopi tidak hilang, lepaskan saja, aku akan mencucinya. Kau bisa memakai kemejaku. Ehm, sebenarnya, milik Ayahku" kata Maria memalingkan wajahnya dan mengambil kemeja Ayahnya yang berada di lokernya. Train senang melihat pasangan ini, ia tersenyum dengan menggigit jemarinya.


Jika aku bisa membuat mereka berkencan. Aku pasti bisa membuat Daddy-ku dan Mommy berkencan, suatu saat nanti. Batin Train, penuh keyakinan.


Matthew melepaskan kemejanya dan menyerahkannya pada Maria, lalu menerima kemeja motif kotak kotak dengan bahan katun lalu mengenakannya. Agak sedikit kedodoran namun Matthew senang memakainya. Seperti sebuah tanda kasih, yang menyatakan kepemilikan dan pengukuhan sebuah hubungan, Maria langsung menyimpan kemeja Matthew di lokernya.


"Maria, terima kasih karena mau berkencan denganku. Aku ingin menjalin hubungan serius dengan mu" ujar Matthew dengan lembut.


"Si" jawab Marai dengan tersipu malu. Matthew menggandengnya dengan mata saling bertatapan.


"Yeaayyy! Aku akan memanggilmu Tia!" Train bersorak namun ia tidak kunjung pergi, Maria tau Train selalu berperan sebagai pengawas. Matthewpun melepaskan tangan Maria dan menyambar Train lalu dibawanya keluar toilet.


"Ayo temani aku makan, Tuan Bangsawan!"


"Boy, aku berterima kasih padamu" kata Matthew mengacak rambut Train.


"Si, kau harus berterima kasih padaku, Uncle! Karena bila aku tidak menggoda Maria, kau tidak akan terkena tumpahan kopi!" Matthew tertawa mendengar Train berkata dengan penuh percaya diri ala Leyka dan sedikit kesombongan ala Valentino. Maria tertawa kecil, ia kembali menggunakan celemeknya dan membuat kopi untuk Matthew serta makan siang untuk Train.


"Aku berhutang ini padamu, ini tidak ternilai. Doakan aku, agar aku dan Maria tidak pernah berpisah" ujar Matthew.


Train bersedekap diatas meja dan bertanya, "Apa kau mencintai Tia Maria? Apa kau masih mencintai kekasihmu yang sudah tiada?" Matthew memandangi Maria dari kejauhan dan bertepatan Maria juga menoleh kearahnya, Matthew tersenyum dan menjawab pertanyaan Train.


"Cintaku pada Madeline adalah kebebasan. Bebas mencintai dengan cara mengikhlaskan kepergiannya. Tapi Cintaku pada Maria adalah cinta yang layak diperjuangkan. Tatapan matanya membuka hatiku untuk kembali bisa menerima kekosongan hatiku. Bukankah Maria sangat cantik?" pipi Maria bersemu kemerahan saat mata Matthew tak sedikitpun melepaskan pandangannya, pertanyaan Train seperti mewakili perasaannya dan Matthew menjawab keraguannya.


"No! Masih cantik Mommyku!" ujar Train ketus dan membuat Maria, Matthew, Pedro, Penelope juga Simon tertawa.


"Di matamu, Mommymu paling cantik tapi bagiku Maria paling cantik" ujar Matthew.


"Noo!! Mommy paling cantik dimata siapapun!" semuanya dan Maria kembali tertawa, lalu Maria menggelengkan kepalanya memberi isyarat untuk mengiyakan saja perkataan Train.


"Baiklah, aku setuju denganmu" kata Matthew sambil mengacak rambut Train.


"Itu baru benar!" Matthew melengos lalu tersenyum lebar. Kopinya pun datang, lalu Maria duduk berseberangan dengan Matthew.


"Makananmu akan diantar Simon" kata Maria. Dan Train mengangguk, ia menggosok hidungnya lalu ia kembali bertanya pada Matthew.


"Uncle apa kau sangat berkuasa saat pesta nanti?" tanya Train membuat Matthew mengerutkan alisnnya.


"Mengapa kau bertanya seperti itu?" Matthew balik bertanya seraya menyesap kopinya.


"Apa kau tau, acara itu memilih Mommyku menjadi Viscountess. Mommy sangat takut, tapi ia menutupinya dengan senyum dan tawanya" Maria membelai Train dengan terharu, Matthew senang melihat kelembutan dari sikap Maria di balik dandanan tomboy-nya.


"Jadi itu? Mommymu sudah bercerita kemarin. Bila Mommymu membutuhkan bantuanku, aku akan membantunya" setidaknya Train merasa lega mendengarnya.


Simon datang dan membawa makan siang Train lalu Simon berkata, "Habiskan makan siangmu Toro cilik!"


"Gracias Simon!" Trainpun melahap makanannya setelah Maria memberinya garpu. Simon berlalu sambil mengacak rambut Train. Mereka berbincang hangat hingga makanan di piring Train habis tak tersisa.


"Train Carino? Kau masih disini?" Leyka datang seorang diri, lalu berjalan menghampiri Train yang tengah meneguk minumannya.

__ADS_1


"Mommyi!" sapanya dengan lantang, ia menoleh sesaat lalu melanjutkan meminum minumannya. Leyka mencium puncak kepala Train lalu mengamati kemeja yang dikenakan Matthew karena Leyka mengenalnya.


"Matt?--


"Mommy itu baju Tia Maria dan mereka sudah berkencan. Maria menumpahkan kopi di baju Uncle Mathhew" Wajah Maria kembali memerah. Ia kemudian bangkit berdiri, lalu membereskan meja yang dipenuhi piring dan gelas kosong. Maria mencari aman daripada terkena bulian Train yang membuatnya berdebar dan selalu saja salah tingkah.


Leyka membulatkan matanya seakan tak percaya, ia memberondong Matthew dengan pertanyaan, "Benarkah? Matt-- Apa kau yakin? Kau yakin mau memasuki keluarga Fernandez? Kau tahu jika kau menyakiti hati Maria, dua orang tukang pukul itu siap meremukkan semua mobil Ford di Barcelona"


"Ha..Ha..Ha.. Leyka aku jatuh cinta padanya. Aku sangat serius" jawab Matthew singkat.


"Mommy, Uncle memohon di toilet-- Ahahaha, Train mengintipnya Mommy! Dan Uncle menutup mataku lalu mereka berciuman" Train tertawa dengan menutup mulutnya, disambut gelak tawa Pedro, Simon dan Penelope. Wajah Maria dan Matthew, memerah seketika.


"Di toilet? Hahaha-- Aku tidak tahu ini romantis apa tidak" Leyka tertawa terbahak diikuti Train dan yang lainnya.


"Jadi kau mengintip?" Matthew menepuk jidatnya.


"Ohh Tidak, kau seharusnya memang tidak usah ke Double P lagi. Pergaulanmu tidak baik disini" ujar Leyka menggelengkan kepalanya kemudian.


"Maafkan aku.. Tapi aku tidak akan mengulangi di depan Train" kata Matthew membuat alis Train mengkerut seketika..


"Uhs! Jadi di belakangku?"


"Ya Tuhan Leyka kau benar, anak kecil tidak boleh disini" Leyka terkekeh melihat Matthew salah tingkah dibuatnya. Train memang paling pandai menyelidik hingga lawan bicaranya kadang kewalahan.


"Si! Aku juga tidak mau disini! Aku mau ke Apartemen Abuella! Mommy, Train somnoliento (mengantuk)" ujar Train bangkit berdiri dan meraih tasnya.


"Tumben" sahut Penelope dari kejauhan. Train biasanya susah tidur siang namun kali ini ia ingin tidur karena beberapa hari ini ia memang tidak bisa tidur nyenyak di malam hari.


"Si Penelope! Aku tidak bisa tidur!" ujar Train dengan menguap. Ia kemudian menggandeng Tangan Train.


"Matt, aku akan kembali-- Matthew mengacungkan jempolnya karena ia tengah menyesap kopi, saat Leyka berpamitan.


Lalu Leyka berjalan bersama Train, sambil berpesan pada putra semata wayangnya, "Sebaiknya Mommy antar kamu ke Apartemen Abuella, Mommy mau pulang ganti baju lalu Mommy bekerja menggantikan Maria dan Penelope. Jangan nakal ya, kamu nanti akan dijemput Ayah Diego dan Ibu Manuella"


"Si, Mommy!"


"Mommy dimana Damian?"


"Damian kembali ke kantor, Mommy tidak jadi makan siang bersamanya, karena Mommy malas!"


"Eso es bueno (itu bagus)!" seru Train, berjalan sambil melompat lompat sesekali. Mereka menuju Apartemen Casa De Miel.


"Hisst!" dengus Leyka.


-


-


-


Apartemen Dolores terlihat terbuka pintunya, namun entah penghuninya kemana. Setelah Leyka mencium dan memastikan Train memasuki Apartemen Dolores, ia melangkahkan kakinya kearah lift. Leyka akan pulang ke Apartemennya dan mengganti pakaiannya.


Sesampainya di lantai 7, ia berjalan sambil mencari kunci Apartemennya. Setelah menemukannya, ia melihat lurus ke depan. Namun jantungnya seakan lepas. Ia melihat Valentino berdiri menjulang di depan pintunya, sesekali Valentino mengusap hidungnya. Leyka berjalan perlahan dengan menyentuh tembok di sepanjang lorong itu, seakan mencari pegangan, karena lututnya seakan lemas.



Ini adalah pertemuan, dimana Valentino telah mengetahui segalanya tentang Train. Laki laki yang berdiri didepan pintunya, tidak terlihat sehabis melakukan perjalanan bisnis. Laki laki yang dianggapnya menghilang, kini menunjukkan batang hidungnya dengan wajahnya yang memucat.


Valentino menyadari kedatangan Leyka dari langkah kakinya lalu ia menoleh. Tatapan tajamnya tak lagi terlihat menikam, tatapannya begitu berkabut, airmata Valentino berjatuhan. Dan Leyka semakin terkesima melihatnya, matanya mulai berkaca kaca. Ada perasaan lega karena akhirnya Valentino kembali, tapi ada rasa benci mengapa Valentino justru menghilang.


"Le..e..y" suara Valentino begitu lirih terdengar. Valentino menyongsong Leyka yang memperlambat jalannya. Seperti kerinduan 8 tahun sejak perpisahannya di Pretoria, Valentino menyambar tubuh Leyka seketika, setelah jaraknya hanya tinggal beberapa langkah kemudian.


"Val?" satu kata keluar dari mulut Leyka yang mewakili jutaan tanya di benaknya. Valentino mendekapnya dengan erat, seperti anak kecil yang merengek-- Manuella pernah mengibaratkan --dan kini Leyka melihat Valentino menyembunyikan tangisnya di puncak kepalanya. Valentino menangis tersengguk sengguk.


Keluarga Valentino mengatakan besok Valentino akan datang, tapi Valentino tidak sabaran. Ia melepaskan selang infusnya dan ia pergi untuk menemui Train. Valentino menghubungi Jared agar membayar tagihan rumah sakit, karena itulah Jared berlarian bersama Torres, Rhosana dan juga Alfonso, saat berpapasan dengan Leyka di Gedung Locomotive Machine. Valentino memang kabur tapi dari rumah sakit.


"Leyka! Mengapa.. Mengapa.. Mengapa begini Ley? Mengapa kau tidak mau mengatakan padaku! Mengapa kau menghasut semua orang untuk menyembunyikan ini dariku! Ley.. Leey.. Shh.. Ley.. Train adalah.. Putraku" Valentino terus menangis. Namun Leyka justru mengepalkan tangannya. Valentino seharusnya meminta maaf, tapi justru menyalahkannya.


Leyka beringsut dengan sedikit mendorong Valentino, lalu berlalu tanpa kata. Leyka membuka pintu yang terkunci dan Leyka masuk, Valentino pun mengikutinya.


-


-


-


Bersiap lagi ke tanjakan ya minggu ini.. Alurnya memang Train harus tahu dulu, baru acara Viscountess.. Karena dia yang akan menyelesaikan semuanya, dengan kecerdikannya. Mungkin akan sangat sakit minggu ini.. kalau ga kuat boleh lambaikan tangan beserta nganunya 🤣🤣

__ADS_1


Tapi sebelumnya tinggalkan kopi dan vote di mejaku.. Happy reading, Bosqyu 😘😘


__ADS_2