FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Di Rundung Keresahan


__ADS_3

Suara oven otomatis, terdengar hingga ruang makan yang menjadi satu dengan dapur, ruangan itu hanya di sekat meja kitchen set. Suaranya mengalihkan para orang dewasa yang terjebak di dalam situasi, pemikiran setan cilik.


Apakah setan cilik itu bisa dialihkan? Tentu saja tidak. Kefokusan Train mengingatkan Valentino pada sosok ayahnya yaitu Alfonso. Bila belum mendapatkan jawaban yang memuaskan, ia belum melepas mangsanya, ia akan terus mencecarnya dengan pertanyaan.



"Kentang keju sudah matang, kita bisa sarapan dan kau akan ke Daycare belajar Bahasa Inggris. Nanti Mommy akan menjemputmu. Jika Mommy sibuk, kau akan dijemput oleh Simon karena Pedro tidak masuk hari ini" Leyka berjalan kembali kearah dapur, menyelamatkan dirinya dari pertanyaan Train. Valentino mendelik kesal kearah Leyka, ia memilih menikmati kopi yang disuguhkan kepadanya, diam diam.



"Uhhs! Apa hanya kentang keju, Mommy?" Train mendengus, ia menguap kemudian. Train bangun lebih awal karena ia mendengar pot pecah di lantai bawah. Karena itulah, ia mengintip ke jendela dan melihat seseorang melompati balkon. Dan setelah itu tidurnya tidak nyenyak, ia gelisah takut pencuri, mencuri celengannya.


Celengan itu yang akan ia gunakan ke Pretoria kelak bila ia dewasa, untuk membawa Daddynya turun dari kereta api The Blue Train. Tentu saja ia meniru Leyka, ia akan berpetualang mencari Daddynya. Sebuah pemikiran anak anak yang sangat simpel dan begitu sederhana. Ia hanya mengingat cerita Leyka, bahwa Daddy Toro membangun Capetown Time Square, itu tujuan Train dan ia akan singgah ke Pretoria.


"Ada Pollo al ajillo, tapi Mommy memanggangnya dan Albondigas" ujar Leyka mengeluarkan kentang keju panggang, polo al ajillo, dan sosis daging sapi.


Pollo al ajillo sebenarnya dibuat dengan cara memasak ayam dengan saus yang terbuat dari anggur putih, kaldu, bawang putih, dan rempah lainnya.



Namun Leyka selalu memanggangnya, setelah memasaknya, karena Train lebih menyukai polo al ajillo panggang dengan taburan wijen.



Sedangkan Albondigas sendiri adalah bakso khas Spanyol. Makanan ini berbahan dasar daging sapi atau domba dengan sentuhan, bawang bombay merah, mentega, telur, dan berbagai macam bumbu lainnya. Bakso khas Spanyol ini sangat unik karena di dalamnya terdapat telur rebus yang dipotong-potong kemudian di bentuk bundar. Bakso ini akan dimasak bersama kentang dengan bumbu saosnya menggunakan jus tomat dan bumbu kering lainnya seperti oregano.



"Apa tidak ada Frittata?" Train memiringkan kepalanya, ia menyangganya dengan telapak tangannya dan siku tangannya menumpu pada meja. Ia menatap Valentino yang sedang meniup kopi panas lalu meneguknya perlahan, dan Valentino pura pura tidak melihatnya, ia meminum kopinya sambil berpikir, kira kira jawaban apa yang akan ia berikan kepada Train.


"No! Tidak ada Frittata Frittata lagi" ujar Manuella dengan menggoyangkan jari telunjuknya ke wajah Train.


"Uhhss!" Valentino mengerutkan alisnya, ketika Train meminta Fritatta, itu adalah masakan Italy kesukaannya. Ia tersenyum saat melihat Train mendengus kesal, ia mengingat Ibunya Rhosana, yang lelah memasakkan Frittata saat Valentino masih kecil.


Frittata adalah makanan Italia berbahan dasar telur yang mirip dengan omelete. Bahannya menggunakan bahan dasar telur, tomat, bawang bombai, kentang, daging, kacang polong, keju dan pasta.



"Ibu sudah memberimu 2 kali Fritata minggu ini, kau tidak boleh terlalu banyak makan Frittata" imbuh Manuella lagi, sambil meraih piring yang ada dihadapannya dan memberikan satu persatu pada penghuni meja itu, karena makanan tiba dimeja makan, dibawa oleh Leyka dari dapur.


"Aku akan mengambil bajuku" ujar Valentino bangkit berdiri.


"Biar aku-- Aku saja" Leyka berlalu secepatnya dan Valentino kembali duduk. Mata Train melihatnya dan ia ingat pertanyaannya. Sudah pasti Train akan menagih jawabannya.


"Ibu aku mau bola bola Albondigas untuk bekalku ke Daycare, aku mau sarapan dengan chicken wing (sayap ayam)" ujarnya sambil bermalas malasan melihat Manuella menuang kentang keju panggang di piringnya.


"No-- anak kecil tidak boleh makan yang berlemak" sahut Valentino.


"Uhss, kenapa?" Train menerima garpu dari Manuella dan menusukkannya ke kentang keju panggang, ia mengerutkan alisnya.


"Karena banyak lemaknya, anak anak bisa menjadi bodoh" jawab Valentino asal asalan. Leyka datang dan Valentino menerima kaos yang diulurkan kepadanya lalu ia memakainya.


Mereka saling memandang lalu saling menghindari tatapan satu sama lain. Mereka malu dengan kejadian barusan, wajah mereka selalu saja memerah bila mengingatnya, bahkan gelenyar hasrat mereka naik turun hanya dengan membayangkannya.


"Mommy, benarkah?" Tanya Train dengan melahap sarapannya.


"Si (iya) Mommy, sudah mengatakanya berkali kali. Tapi kau tidak percaya. Sepertinya kau lebih percaya pada orang asing daripada Mommy!" Leyka kemudian duduk di posisi di ujung meja, seberang kirinya Train dan seberang kanannya Valentino.


"Kenapa kau membiarkan orang asing masuk rumah, lewat balkon lalu meninggalkan kaosnya di kamarmu dan sekarang sarapan bersama kita? Uncle ini tetangga kita Mommy. Kau tidak boleh berkata seperti itu-- Benar kan Ibu?" Valentino ingin meremas paha Leyka tapi terlalu jauh.


Entahlah, ia merasa ada yang kurang bila makan satu meja dengan Leyka tanpa menyentuhnya dan ia bisa merasakan situasi Leyka bahwa pertanyaan Train membuat Leyka terbungkam seketika.


"Si (iya), itu tidak sopan" jawab Manuella dengan mencebikkan bibirnya kearah Leyka sambil membelai rambut Train. Leyka memilih diam tidak menjawab, ia mengenal putranya, berbohong hanya akan menambah keruh, karena Train akan membuatnya semakin salah tingkah.


"Kecuali-- Train meneruskan perkataannya, mereka semua menunggu --Uncle Gallardiev, datang untuk mencuri? Tapi mengapa lepas baju?" Bola mata Train, melirik keatas ia sepertinya berpikir.


"Baiklah, Uncle akan ceritakan yang sejujurnya" Valentino menyerah, Train hanya akan terus menderanya dengan sindiran dan itu akan membuat Leyka bahkan dirinya semakin canggung. 8 tahun berlalu, tidak mudah membangun kisah di Barcelona, Valentino maupun Leyka harus melewati adaptasi dengan tidak mudah.


"Yeaay!" Trainpun bersorak.


"Uncle, mendengar Mommymu berteriak dan aku mencoba menolongnya. Aku mengetuk pintu tapi tidak di buka. Lalu Mommymu kembali berteriak, tanpa pikir panjang, aku melompat balkon dan ternyata jendela dapur masih terbuka. Aku melompat melalui dapur dan ternyata Mommymu sedang bermimpi buruk, aku menemaninya semalaman-- Dan, mengapa lepas baju? Itu karena aku terbiasa tidak memakai baju dari kecil bila malam hari, sampai aku tidur tentunya" Valentino mengisahkan dengan melahap sarapan buatan Leyka, tanpa Valentino sadari masakan Leyka mengikatnya.

__ADS_1


Ternyata Tuan Puteri Mahkota ini, bisa memasak seperti Mammaku, mengapa aku jadi lupa akan rencanaku.. Anak ini, masakan ini, kehidupanmu yang biasa saja di Barcelona, membuatku berpikir dua kali untuk menceraikanmu. Batin Valentino dipenuhi kehangatan yang menggoyahkan belati dendam di dalam hatinya.


Uncle seperti aku. Batin Train.


"Jadi semalam itu Uncle?" Train menegaskan.


"Bahkan malam malam sebelumnya, Boy" ujar Valentino menelan sisa makanan yang telah ia kunyah, lalu menyeka mulutnya dengan serbet yang selalu berdampingan dengan piring dan garpu. Orang orang di belahan Eropa, sangat jarang menggunakan sendok, hampir 80% mereka makan menggunakan garpu daripada sendok.


"Malam malam sebelumnya?" Manuella meletakkan kopinya dengan mengerutkan alisnya, ia melihat Leyka yang menggedikkan bahunya. Ia mengambil sayap ayam di piringnya dan mengambilkan potongan dada untuk Train.


"Si (iya), malam malam sebelumnya, sejak kau membawa Train tidur bersamamu-- Valentino mengambil dua sayap ayam dari piring Leyka, lalu mengembalikannya, ia menukarnya dengan daging --kau juga tidak boleh makan yang berlemak" ujar Valentino sambil mengusap bahu Leyka, ia terpana melihat perlakuan Valentino karena itu dilakukan dihadapan putranya. Manuella melirik kearah Train dan Train melihat gerakan tangan Valentino, lalu ia cekikikan dengan menutup mulutnya, ia merasa sangat seru.


"Eh, itu maksudku-- seumuran kita juga tidak boleh memakan sayap ayam karena itu berlemak. Usahakan hidup sehat" kata Valentino menyadari sikapnya.


"Aku tahu, Uncle memang pencuri. Mencuri Mommy dari Damian-- Hihihihi" Valentino sontak tersedak dan batuk batuk, Manuella juga nyaris tersedak, dan Leyka justru menginjak kaki Valentino dengan keras.


"Oohhh Noo Uncle! Aku akan mengambil air untukmu!" Train pun berlarian kearah lemari pendingin yang berada di dapur.


"Rasakan!! Mengapa kau tidak bisa menjaga sikapmu, Val!-- Dan kau Manuella, mengapa kau membawanya sepagi ini!" bisik Leyka dua arah dengan penuh penekanan, Valentino masih terbatuk batuk dengan menutup mulutnya..


"Dia tidak bisa tidur karena takut celengan saktinya hilang! Huuhh!" Manuella mendelik kearah Leyka lalu melihat Train dari kejauhan yang mengambil gelas dan sebotol air mineral.


"Shiit! Aku pikir dia mengkhawatirkan aku, ternyata celengannya" ujar Leyka dengan bersungut.


"Jadi kau menyesali Train kesini pagi pagi? Karena kalau tidak, kau tahu apa yang terjadi" bisik Valentino lalu ia tertawa tanpa bersuara, sesekali ia masih terbatuk. Leyka kembali menginjak kakinya dengan keras dan Train tiba dengan sebotol air minum dan gelas.


"Lo siento, Uncle. Minumlah. Apa aku nakal padamu?-- Mommy aku melihatmu menginjak kakinya, no me gusta, Mommy (aku tidak suka)" Train menuangkan air minum itu dan Valentino terkesan dengan sikapnya. Manuella hanya menahan tawanya, saat melihat Train memutari meja untuk kembali ke tempat duduknya dengan wajah merengut kearah Leyka.


"Gracias Boy, kamu anak yang spesial" kata Valentino mengedipkan sebelah matanya dan meneguk air mineral yang diberikan Train kepadanya.


"De nada, Uncle. Apa ada wanita siluman yang menggigitmu?" tanya Train membuat semua kembali bereaksi terutama Leyka.


"Train, kau tidak boleh mengatakan Mommy wanita siluman! Itu tidak baik!" Leyka pun meletakkan garpunya dan menyeka mulutnya dengan serbet lalu meletakkannya di pahanya.


"No Mommy! Aku tidak mengatakan Mommy wanita siluman. Aku hanya bertanya apa ada wanita siluman yang menggigitnya, mengapa Mommy merasa? Uhhs!" ia mendengus dengan menyandarkan tubuhnya di kursi dengan bersedekap, bila sudah begitu artinya Train marah. Valentinopun mengingat apakah Leyka menggigitnya setelah yakin ia menjawab.


"Lo siento, Carino. Mommy sangat kacau karena mimpi buruk. Tidurlah bersama Mommy malam ini, Ok?" Leyka cukup mengatakan suasana hatinya dengan memberi sentuhan pada pipi Train dan anak itu luluh seketika. Anggukannya, senyumnya dengan mata berbinar, adalah tanda kemarahan Train lenyap seketika, ia kembali menegakkan duduknya kemudian melahap sarapannya.


Dia akan bilang apa setelah ini.. Anak ini tidak bisa ditebak.. Dan aku sangat menyukainya. Batin Valentino.


"Tapi dipunggungmu ada cakaran" kata Train dengan santai. Mau tidak mau Valentino menyerah, ia seakan mengibar bendera putih untuk saat ini.


"Aku belum melanjutkan ceritaku-- Setiap malam aku menunggu Mommy sampai aku tidak tidur. Lalu saat pagi menjelang, aku akan kembali sebelum Mommymu bangun. Tapi pagi ini aku sial! Aku ketiduran di kursi, karena beberapa hari ini aku mengurus kepindahan sekolahmu, kau tau itu kan? Aku sangat lelah, hingga aku tidak menyadari Mommymu bangun dan memukuliku dengan guling, mungkin tidak sengaja kukunya yang runcing itu mengenaiku" Train mendengar cerita itu tanpa berkedip, ia terkesima bahwa tetangga barunya begitu perhatian. Entah apa yang ia pikirkan.


"Karena kau memang pantas mendapatkannya! Jika Train tidak datang, aku sudah melemparmu dari balkon! Nyawamu benar benar tertolong karena putraku!" kata Leyka dengan kesal.


"Hei-- Senorita (Nona)! Kau seharusnya berterima kasih kepadaku karena aku menunggumu tidur! Aku mengorbankan waktu tidurku hanya karena kau selalu berteriak malam malam! Kau menyeramkan dan pantas di panggil wanita siluman!" Train justru senang melihat perdebatan itu, ia terkekeh dengan menutup mulutnya dan menepuk nepuk paha Manuella.


"Kau juga Raja Setan! Untuk apa kau perduli! Kau bisa menutup telingamu! Kenapa kau mengkhawatirkan ku?! Kenapa tidak kau khawatirkan istrimu saja!" Leyka terpancing kekesalannya, Manuella menyimak perdebatan itu dengan menggelengkan kepalanya. Train semakin seru melihatnya.


"Karena aku tetangga yang perduli! Dan tidak usah membawa bawa istriku karena dia wanita pengkhianat! Dia suka berpetualang dan bila saatnya tiba nanti, aku akan menceraikanmu!!-- Salah! Aku akan menceraikannya karena kau dan dia sama saja seperti wanita siluman!" Valentino terpancing dan nyaris mengungkap siapa istri yang sesungguhnya, ia buru buru meralatnya tanpa membuat kecurigaan.


Oohh Shitt! Hampir saja. ! Batin Valentino.


"Kau membandingkan aku dengan istrimu? Istrimu pergi mungkin karena kau seperti Raja Setan yang menyebalkan. Belajarlah dari Damian! Dia seperti malaikat!" ujar Leyka semakin kesal.


"Kau membandingkan aku?!"


"Satu sama! Kau yang memulai!" Leyka melempar serbet ke paha Valentino lalu bangkit berdiri dengan membawa piring kotor ditangannya, ia memilih menyingkir ke dapur. Train menyadari perdebatan itu justru menjadi semakin serius. Ia mencoba menguraikannya.


"Mommy pasti bermimpi Valak-- Selama bertahun tahun Mommy selalu memanggil nama Valak dengan menjerit" kemarahan Valentino lenyap seketika, ia menjadi sangat antusias dengan cerita Train. Leyka mencuci piring dengan sesekali menatap tajam kearah Valentino yang telah melunak hatinya, ia menyambut tatapan Leyka dengan kehangatan.


"Bertahun lamanya?" Valentino memandang Train lalu melihat ke arah Leyka yang sibuk membereskan dapurnya.


"Dari Train bayi. Dan jeritannya terkadang membangunkan putraku" Manuella menambahkannya.


"Kata Mommy begini 'Val, aku membencimu! Val, kau pecu*ndang'-- Aaa hahaha, kata Mommy itu karena Mommy menonton film Valak di bioskop dengan kacamata tiga dimensi, jadi Valak seakan menjadi nyata. Jadi Mommy selalu memimpikannya!" Valentino terkesima, sesekali ia melihat Leyka dari kejauhan. Train terus berkicau dengan penuh semangat.


Kau pandai sekali membohongi Train, Leyka.. Aku tau, itu adalah aku, karena itulah yang aku dengar malam itu.. Sebegitunya kah, kau membenciku.. Tapi itu tandanya kau mengingatku.. Selama 8 tahun ini.. Leyka, ternyata Pretoria sangat melukai kita.. Itu.. Itu.. Apakah kau mencintaiku? Batin Valentino, kembali berkecamuk.


"Kau tahu kan, Uncle? Layar bioskop itu sangat besar! Aku tahu itu saat aku dibawa ke bioskop anak anak di taman hiburan, untuk menonton film lama yaitu Finding Nemo dengan kacamata tiga dimensi. Nemo yang kecil itu menjadi besar dan aku seperti hidup di air berenang bersama Nemo! Yeeay aku sangat suka! Lucunya adalah Mommy dan Ibu menangis menonton Finding Nemo!-- Itu hanya kartun, Aaa hahaha-- kata Abuela wanita dewasa memang sulit di mengerti, Aa hahaha" Manuella dan Valentino ikut tertawa, namun terdengar sumbang dan juga dipaksakan.

__ADS_1



Bagaimana tidak menangis, kau berkata 'Seandainya Daddy Toro seperti Marlin ayah Nemo, yang mencari anaknya'.. Bagaimana kami tidak menangis mendengarnya. Batin Manuella teriris mengingatnya.


"Tapi terkadang Mommy mengigau dan menjerit 'Vall Vall aku menunggumu'-- Aaaa hahaha, kata Mommy, dalam mimpinya itu, Mommy menunggu di taman dengan pedang dan saat Valak datang, Mommy akan menebas kepalanya! Wusshh! Wusshh! Wusshh!" Train mengibaskan tangannya seakan memegang pedang dengan gerakan menebas, Manuella tertawa melihat tingkah Train dan Valentino justru terkesima dengan matanya yang pedih, ia tersenyum getir.


"Jadi kalian sering ke taman hiburan?" tanya Valentino, sambil menyesap kopinya yang telah menghangat. Ia selesai dengan sarapannya dan Manuella meraih piring Train dan Valentino yang telah kosong, lalu ia beranjak ke dapur.


"Si si si (iya)! Aku, Mommy, Damian, Ayah dan Ibu! Kami ke taman hiburan sebulan sekali, karena tiketnya sangat mahal mereka harus menghemat untuk sekolahku nanti di London! Yeaayy!" hati Valentino rasanya di aduk aduk, sulit sekali ia menerjemahkan perasaannya. Antara terharu dan juga cemburu saat Train menyebut nama Damian.


"Aku bisa mengajakmu seminggu sekali bahkan setiap hari, karena uangku sangat banyak. Jika anakku 12, aku bisa menyekolahkan mereka semua ke London tanpa harus berhemat" Valentino menatap Leyka dengan senyuman mengejek, kesombongannya membuat Train justru bersorak, mengingat mereka adalah pecinta cake Red Velvet istilah untuk sebuah kemewahan.


"Woooww uangmu banyak sekali! Kau sangat keren Uncle, aku mau menjadi seperti dirimu. Tapi, diantara anak kecil aku yang paling kaya, aku punya celengan Toro (banteng). Damian membelinya untukku, karena dulu celenganku dari kaleng bekas potato chips ! Mommy bisa saja mengambilnya bila tidak punya uang pecahan kecil" Valentino bisa tertawa saat itu juga, dia merasa sangat nyaman berlama lama berada di dekat Train.


"Benarkah?"


"Si si si!-- Train turun dari kursinya dan menghampiri Valentino dengan bersemangat --Vamos Vamos (ayo ayo)! Ikut aku ke kamarku, aku akan menunjukkan celenganku! Vamos Uncle Vamos!" Trainpun menarik narik tangan Valentino dengan paksa


"Si si si-- Hahaha" Valentino menirukan gaya Train dan bangkit berdiri mengikuti langkah Train. Leyka membiarkannya karena ia menghangatkan makanan untuk bekal Train sementara Manuella menyiapkan kotak bekalnya.


-


-


-


Sesampainya di kamar, Valentino mengedarkan pandangannya. Sebuah kamar yang di desain cukup elegan.


"Kamar ini aku yang mengatur letaknya" ujar Train sambil membuka kotak seperti peti harta karun yang ia sembunyikan di dalam sebuah tenda suku Indian, yang berada di dalam kamarnya. Kemudian ia mengambil celengannya.



"Kau berbakat menjadi Arsitek" gumam Valentino.


"Ini dia!" seru Train menunjukkan celengannya. Sebuah celengan berbentuk banteng yang bisa di temui di toko souvenir di seluruh Spanyol, karena itu celengan banteng yang menjadi icon dari negara itu.



"Wow! Besar sekali dan sepertinya sangat berat" Valentino menghampirinya dan duduk, ia meraih celengan itu dan menggoncangkannya hingga berbunyi.


"Si, aku menabung saat aku berumur 4 tahun!"


"Sepertinya kau punya rencana besar, Boy?" Valentino menyerahkan kembali celengannya, dan mengacak rambut Train dengan senyum hangatnya.


"Si, tapi aku tidak boleh mengatakannya kepada sembarang orang karena bila tercium paparazi, maka rencana besarku akan gagal" Train kembali kedalam tenda Indian-nya lalu memasukkan kembali ke dalam peti harta karunnya, Valentino bangkit berdiri. Sebuah barisan foto di meja belajar Train, menarik perhatiannya. Ia memutar sepenuhnya posisi tubuhnya menghadap meja belajar Train dan mengamatinya dengan baik.


Sebuah figura duduk yang terbuat dari kayu oak merah, yang berisi sederet foto, membuat jantungnya seakan melompat, detak jantungnya melaju cepat, hingga dadanya kian sesak. Valentino sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.



Leyka! Itu Kau! Iya itu kau! Jadi kau pernah hamil! Kau memiliki anak! Kau pernah mengatakannya dengan laki laki asing! Laki laki yang mana lagi! Lalu dimana anak itu! Atau mungkin Train? Shitt!! Jadi kau dan Diego pernah tidur bersama dan memiliki anak! Kau kejam Leyka! Kau membohongiku! Hubungan kalian bertiga-- Pasti kalian pernah melewati masa sulit dalam hubungan kalian.. Bagaimana aku bisa menerimanya.. Bagaimana bisa aku menerima Train.. Tidak.. Ini sangat kacau.. Istriku memiliki anak dengan laki laki lain! Sebaiknya aku meneruskan saja rencanaku.. Menceraikanmu! Dan membuatmu hancur..


"Uncle? Apa asmamu kambuh?"


"Aku harus pulang, katakan pada Mommymu, Gracias sarapannya" Valentino berlalu dengan memegangi dadanya, setengah berlari ia mencapai pintu, tanpa sadar airmata menuruni rahangnya yang begitu kokoh. Hatinya sangat sakit melihat kenyataan itu.


Haripun berganti, Valentino menghindari Leyka, ia tidak pernah muncul dimanapun, yang pasti itu memberi jutaan tanya dan membuat Leyka dirundung keresahan. Bahkan kerinduan.


-


-


-


Sama kaya di Korea atau Jepang, kalau di kedai mie, mereka cuma nyediain sumpit, jarang bgt ada garpu apalagi sendok, karena kuahnya lgs di kokop atau di uyup langsung dari mangkoknya. 🤣 ga kaya di indonesia, semangkok mie ayam dikasih tatakan, ada sendok, garpu, sumpit, minumnya sedotan dua kalau jaman dulu 🤣🤣 sodaraku pernah ke indonesia bingung naroh dimana, krn mereka ga biasa naroh sendok garpu dimeja. Akhirnya sendok garpu dikantongin, pas bayar lupalahh ya, sendok garpu malah dibawa pulang 🤣 dtg2 ke indonesia cm maling sendok ama garpu, ga keren bgt lu, dia marah kl aku buli 🤣 maap ya Takeshi 🤣


Mister Takeshi di sini, aku pinjem nama dari sodaraku, nanti dia akan memberi pengertian pada Train, saat dia mau kabur, krn semua orang membohonginya, kalo di film tuh dia cuma figuran ehh keceplosan spoiler 🤭 kalian ga bercita cita keceplosan ngasih kopi sebaskom gt? (malak licinn ala sarung suteraaaah) 🤣


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2