
Apartemen Golden
Miuccia berlarian menuju kearah pintu depan saat bel pintu terdengar nyaring berbunyi. Setelah memutar kunci dua kali, tangan mungilnya menarik daun pintu dengan matanya yang berbinar terang dan senyumnya yang merekah bak mentari pagi. Rambutnya yang berwarna keemasan masih terlihat basah, baju babydoll membalut tubuh mungilnya berwarna pink senada dengan sandal boneka dengan kepala hello kitty diatasnya.
Kilauan mata Miu laksana bintang yang gemerlapan saat melihat senyum Pedro mengulas diwajahnya dengan penampilannya yang terlihat rapi pagi itu. Senyuman Pedro adalah senyuman yang menyenangkan bila dilihat semakin lama. Miuccia melompat girang dengan tawa renyahnya saat melihat Pedro mengulurkan satu ikat bunga mawar. Bunga mawar dari Ludwig's Roses, yang ia petik dari balkon Leyka.
"Buon giorno, Tio Pedro ! (selamat pagi; Italy) Wow! Tio Pedro, apakah ini untukku?!" seru Miu dengan suara mungilnya.
Pagi - pagi buta Pedro menyempatkan ke apartemen ratu yang mana Pedro masih mengantongi kuncinya dan tentu saja memetik bunga tanpa izin. Hal itu sering kali ia lakukan dan Leyka selalu mengetahui bila ada bunganya yang hilang, Leykapun tahu ulah Pedro bila berandalan itu merasa jatuh cinta dan Leyka memaklumi segala ulah sepupunya itu.
"Buon giorno, Angelita (selamat pagi peri kecil)!-- Pedro menjawab sapaan Miu dalam bahasa Italy sebagai bentuk keakrabannya-- Si, bunga itu untukmu. Apa tidurmu nyenyak? Aku akan memasang tirai tapi aku akan membuatkanmu sarapan terlebih dahulu" ujar Pedro melebarkan senyumnya sambil membelai puncak kepala Miuccia dengan lembut lalu Pedro memasuki Apartemen itu seraya menutup pintu, kemudian ia berjalan menuju kearah dapur.
"Tio Pedro, aku tidur nyenyak dan grazie (terima kasih; Italy), ini bunga yang indah dan terlihat segar! Sepertinya kau baru saja memetiknya!" seru Miu mendekap bunga itu dan mengikuti langkah Pedro yang membawa satu kantong plastik berukuran besar dan sebuah kantong belanjaan yang berisi kebutuhan dapur dan akan ia gunakan untuk membuat sarapan. Sarapan untuk Angelita, sebuah panggilan manis untuk Miuccia.
"Si, aku mencurinya" kata Pedro sambil mengedipkan matanya dan Miu terkekeh mendengarnya sesekali ia mencium aroma bunga mawar yang sangat khas harumnya.
"Jadi kau memberi putriku bunga curian? Sikap macam apa itu? Kau mengajarkan hal - hal yang tidak baik untuk Miu!" sahut Pallazo yang saat itu juga berada di dapur, ia sedang membuat segelas susu untuk Miu dan satu teko teh untuknya.
Tatap mata mereka kembali bertemu dan terkunci sesaat. Aroma maskulin Pedro begitu menyeruak, dipadu aroma lembut yang seakan keluar dari tubuh Pallazo. Pallazo mengenakan baju kimono berbahan satin, dengan rambut di gulung dan diikat tinggi, bibir tebal berwarna natural dengan wajahnya asli tanpa sapuan make up membuat Pedro melihatnya tanpa berkedip.
Sementara Pallazo melihat Pedro menjadi sosok yang berbeda di pagi itu, tanpa celemek barista dan kaos polo berwarna putih membalut ketat tubuh atletisnya di padu jeans biru muda dengan sepatu coklat. Rambut Pedro diikat rapi, hanya terlihat anak rambutnya yang berkeriapan sehingga sesekali, Pedro menyelipkan dibelakang telinganya, terlihat rapi namun tidak meninggalkan esenssinya bahwa ia seperti Rock star dimata Miu.
Dia sangat cantik.. Hmm.. Sayang sekali, dia sudah menjadi milik oranglain. Pedro.
Baiklah.. Ku akui dia terlihat tampan pagi ini.. Dan, sexy.. Cih, apa yang ku pikirkan. Pallazo.
"Ihhss Mamma! Tio hanya bercanda!" seru Miu membuyarkan tatapan mereka yang berbuah kecanggungan, mereka saling memalingkan wajah secara bersamaan.
"Sayangnya, Tio tidak bercanda, Tio mengambilnya dari balkon Apartemen Ratu" kata Pedro seraya meletakan kantong plastik besar dilantai dan membawa kantong belanjaan disamping Pallazo lalu Pedro membongkarnya. Malamnya Pallazo meminta Pedro untuk membelikan kebutuhan dapur melalui pesan singkat.
"Apartemen Ratu?" tanya Miu seraya mengikuti Pedro yang menata belanjaannya di lemari pendingin.
"Ehm, sebutan keponakanku karena sepupuku seorang Putri Mahkota dari Kerajaan Spanyol. Itu hanya istilah karena apapun yang aku ambil dia pasti mengetahuinya dan dia akan memakluminya karena dia sangat menyayangiku begitupun aku. Aku sangat menyayangi sepupuku karena dia wanita yang baik dan sederhana, tidak seperti Putri Mahkota pada umumnya" ujar Pedro sambil melemparkan senyum khasnya kearah Miu. Hati Pallazo tergetar mendengarnya, hatinya memanas entah sampai kapan ia bisa menahannya.
Leyka sudah memiliki anak? Anak siapa? Mengapa di berita itu tidak mengatakan bahwa Leyka memiliki anak.. Apa di rahasiakan? Pasti bukan anak Gallardiev.. Mau maunya kau menerima anak yang bukan darah dagingmu.. Diev, kau tega melakukan ini semua padaku dan Miu.. Miu akan terluka bila mengetahui ini semua
"Apa dia cantik?" tanya Miu dengan mata birunya yang berbinar.
"Si, dia cantik, secantik dirimu" jawab Pedro sambil membelai puncak kepala Miu dan kembali memperlihatkan senyumnya yang menghangatkan. Sesaat, Pedro melirik kearah Pallazo yang menatap tajam kearahnya dan membuat Pedro meremang.
Secantik Mamamu yang terlihat seperti singa kelaparan, Angelita. Batin Pedro dalam hatinya.
"Apa dia memakai gaun seperti cinderella?" tanya Miu terus mencari perhatian Pedro yang masih memasukan barang belanjaannya ke dalam lemari pendingin.
"Hahaha-- tentu saja tidak Angelita. Terkadang dia berpenampilan seperti diriku. Tapi bila dia sudah berdandan, semua akan tersihir oleh kecantikannya" jawab Pedro terbahak, ia mencolek hidung Miu seraya menutup pintu lemari pendingin lalu ia menguasai dapur dan siap membuat sarapan untuk Miu sesuai janjinya.
"Apa dia memakai crown (mahkota di kepala)?" tanya Miu dengan suara mungilnya yang terdengar menggemaskan.
"Dia memiliki crown tapi tentu saja dia tidak memakainya. Dia akan memakainya di acara Kerajaan" jawab Pedro mulai meracik dan membuat Pallazo menyingkir dengan membawa susu Miu dan secangkir teh ke meja makan.
"Bolehkah aku berkenalan dengannya? Aku ingin melihat istana kerajaan. Apakah indah seindah di buku dongengku? Apa dia ramah seperti mendiang Lady Diana? Apa dia mau berteman denganku?" tanya Miu bertubi - tubi. Pedro kembali terkekeh mendengarnya, kemudian Pedro mengangkat tubuh Miu dan membawanya duduk di meja racik dimana Pedro memulai aktifitas memasaknya.
Leyka mengenali Miu, aku pernah mengirimkan foto Miu dan Gallardiev.. Mereka tidak boleh bertemu atau Leyka akan memperlakukan Miu dengan buruk.. Ini tidak boleh terjadi.. Belum saatnya, aku harus bertemu Gallardiev terlebih dahulu.. Perasaan Miu harus dijaga, aku tidak ingin menghancurkan hatinya. Batin Pallazo menyimak pembicaraan mereka.
"Tentu saja, dia sangat ramah. Kami dari keluarga Fernandez yang terkenal ramah dan bar bar. Dia mau berteman dengan siapa saja tanpa memandang kedudukan seseorang, dia menerima siapa saja dengan tangan terbuka, dia sangat penyayang. Dia pandai memasak dan merawat bunga. Jika kau melihat sebuah balkon di Casa de Miel dipenuhi bunga mawar, itu adalah Apartemen Ratu" ujar Pedro membuat Miuccia terkesima tanpa berkedip membayangkan sosok Putri Mahkota bak ibu peri yang sederhana.
"Tidak mungkin seorang Putri Mahkota mau menanam bunga hingga kelopaknya sangat lebar seperti itu-- Itu perlu penanganan khusus" ujar Pallazo menyahut pembicaraan mereka dengan sedikit memprovokasi pemikiran Miu. Bagaimanapun ia mengenal Miu dengan baik, tidak mudah bagi Miu berbincang akrab dengan orang asing yang baru dikenalnya. Ini sangat langka.
"Mawar itu dari Ludwig's Roses, Afrika Selatan. Bunga itu dari sang kekasih yang akhirnya menjadi suaminya. Dia merawatnya dengan segenap cintanya, dia memesan pupuk terbaik dari Pretoria melalui kerabat dekatnya" jawab Pedro melemparkan pandangannya kearah Pallazo yang menangkupkan kedua tangannya pada secangkir teh hangat dan sesekali ia meniup lalu mengecapnya.
"Wow, Putri Mahkota pernah kesana? Pappaku juga pernah kesana, Pappa selalu menceritakan indahnya Pretoria! Dan bertemu Mamma disana!" seru Miu bersemangat. Pallazo bangkit berdiri dan menghampiri Miu dengan segelas cangkir ditangannya, Pallazo merasa pembicaraan Miu mengarah pada identitas Valentino yang masih ia sembunyikan dari Pedro.
"Menurut sepupuku kotanya sangat indah, cantik dan eksotik. Jika orang sudah pernah kesana, pasti ingin kembali kesana" kata Pedro mulai memasak, hilir mudik antara meja racik, kompor dan pemanggang yang posisinya berdekatan.
"Apa ada Daycare yang bagus disini?" tanya Pallazo sambil membelai rambut Miu dan mencium pipinya. Miu menarik tangan sang Mamma yang memegang cangkir kearah mulutnya, ia terbiasa meminta teh dan Miu terbiasa meminumnya.
"Hati - hati masih panas" ujar Pallazo kemudian.
"Semua Daycare bagus disini, tapi yang terdekat di Gedung Properti, keponakanku mengambil kelas Bahasa Inggris bila musim liburan disana" ujar Pedro masih berkutat di pemanggang roti, sesekali ia melirik kearah pemandangan yang penuh kehangatan antara Pallazo dan Putrinya yang membuatnya bersemangat.
"Dan aku memerlukan seorang pengasuh wanita yang berpengalaman" pinta Pallazo dengan arogan.
"Aku akan mencarikannya untukmu, Senorita" kata Pedro dengan senyum ramahnya, hati Pallazo semakin kesal dibuatnya.
Setelah menunggu beberapa saat sarapan telah siap di hidangkan. Miuccia duduk di kursi makan bersama sang Pallazo. Dengan senyum khasnya Pedro melayani mereka, menuangkan masakan ala Spanyol di masing - masing piring lalu menuangkan sari buah apel di gelas mereka.
"Selamat makan, Angelita" ujar Pedro sambil mengusap puncak kepala Miu.
"Duduklah dan makanlah bersamaku, Tio Pedro" pinta Miu dengan menengadahkan wajahnya, barisan bulu matanya yang menyembunyikan sinar mata kebiruan membuat Pedro tidak tega, tapi tatapan mata layaknya singa kelaparan milik Pallazo membuatnya beralasan. Ia tau Pallazo tidak menginginkannya menemani Miu sarapan dan Pedro cukup tau diri untuk itu.
"Aku sudah sarapan, Angelita. Aku akan memasang semua tirai karena aku harus secepatnya kembali bekerja" kata Pedro seraya menyerahkan garpu dipiring Miu.
"Kau bekerja dimana, Tio?"
"Di Kedai milik Putri Mahkota, Double P. Makanlah yang banyak agar kau tumbuh sehat" jawab Pedro dengan melebarkan senyumnya namun menyiratkan rasa kecewanya karena larangan keras dari Pallazo lewat tatapan mata yang menghunus hatinya.
__ADS_1
"Tio-- tak diduga Miu berdiri di kursi dimana ia duduk, agar tingginya sejajar dengan Pedro. Lalu Miu tiba - tiba mencium pipi Pedro dan membuat Pallazo bahkan Pedro sendiri terkejut --Grazie, karena membuatkanku sarapan" Hati Pedro tergetar melihatnya. Keharuan dan juga rasa yang lembut menyentuh hatinya hingga ia berdebar - debar. Kemudian Pedro membalasnya memberi ciuman di pipi Miu lalu membelai rambut keemasan itu.
"Kau anak yang baik, Angelita. Semoga harimu menyenangkan. Makanlah" ujar Pedro menurunkan Miu agar kembali duduk. Ia pun berlalu seraya menyambar kantong plastik besar yang ternyata berisi tirai untuk memasangnya karena Pallazo tidak menginginkan tirai yang sebelumnya dianggapnya lusuh.
Manis sekali pagi ini.. Semoga kita semua mendapatkan keberuntungan. Pedro.
-
-
-
Apartemen Raja
"Leykaaaaa! Leykaaaaa! Mi amorrr!" seru Valentino memenuhi Apartemen Raja pagi itu setelah Valentino menginjakan kakinya di ruang kerjanya. Ia bersiap akan pergi ke kantor, namun melihat sebuah foto di meja kerjanya membuat hatinya melonjak bahagia. Train dan Leyka berlarian kearah suara yang menggemparkan pagi itu, keduanya terlihat pias saat tiba dihadapan Valentino.
"Ada apa, Daddy!" seru Train dengan nafas terengah - engah.
"Apa terjadi sesuatu?! Apa kau baik - baik saja?!" seru Leyka tak kalah panik.
Namun Valentino justru berjongkok dan berhamburan memeluk Train lalu menciuminya bertubi - tubi seraya menggenggam satu bingkai foto yang Leyka letakkan semalam.
"Kau sangat lucu, Blue! Mirar (lihat)! Kau sangat menggemaskan! Kau seperti Daddy waktu kecil! Delapan tahun dan Daddy melewatkan banyak hal tentang dirimu" seru Valentino mengurai pelukannya dan menunjukkan bingkai foto kearah Train yang terlihat merengut, Leyka melengos namun tampak lega bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi pada suaminya.
"Uhss Daddy mengejutkan saja! Aku bisa terkena serangan jantung, Daddy! Itu hanya foto dan Daddy berteriak seperti ada kebakaran saja! Uhss! Mengagetkan!" ujar Train membuat Valentino terkekeh dan kembali menciumi Train.
"Dasar Loco (gila)! Hanya sebuah foto kau membuat kami ketakutan! Aku pikir kau kenapa! Jangan seperti itu lagi! Jangan membuatku cemas!" kata Leyka sambil memukul perlahan punggung Valentino dan Valentino bangkit berdiri lalu memeluk Leyka seeratnya hingga Leyka merasa sesak.
"Leyka.. Gracias, Mi amor! Ini hadiah terindah di pagi hari!" ujar Valentino dengan rasa bahagia, ia memeluk dan menciumi wajah Leyka yang terlihat bersinar di pagi itu.
"Ughh.. Lepaskan aku, Vall! Aku tidak bisa bernafas!" ujar Leyka setengah meronta, rasanya Valentino seakan mematahkan tulang punggungnya.
"Blue, pergilah ke Apartemen Ibumu, mintalah Ibumu untuk membuatkan bekal makan siangmu" Leyka membulatkan matanya seketika saat Valentino mengurai pelukannya namun justru menyuruh Train pergi ke Apartemen Manuella, dimana tugas membuat bekal menjadi tugas keseharian Valentino.
"Yeaayy! Gracias Daddy! Aku merindukan masakan Ibuku!-- Trainpun berlari menuju pintu keluar namun ia menghentikan langkahnya --Oh iya, di almari kaca, diruang tengah, di Apartemen Ratu, Mommy menyimpan album foto dan kaset video dari aku bayi di laci bawah, Daddy-- ahahaha! Aku menunggu di Apartemen Ibu! Bye!" serunya kemudian, lalu Train kembali berlarian.
Pintu terdengar menutup dengan kerasnya, Leyka menggelengkan kepalanya dan melangkah pergi. Namun, baru satu langkah Valentino menarik tangannya setelah ia meletakan bingkai foto itu dimeja.
"Eh.. Ehm.. Kau mau apa.. Ehm-- Leyka terpaku dan tak bisa berkata apapun saat tangan kokoh itu menarik pinggangnya dengan kasar kearah tubuh perkasa nan tegap hingga menyingkirkan jarak diantara mereka, Valentino menatapnya dengan pandangan lembut namun cukup membuat jantung Leyka berdebar - debar.
"Kau mencemaskanku, Ley? Ini pagi yang teramat manis-- injak kedua kakiku. Apa kau ingat saat di Pretoria, kita sering melakukannya. Dan aku berkata, kakiku akan membawamu kemanapun, bahkan ke Italy dan mendiami sangkar emasku tapi sekarang, kakiku siap mengantarmu kemanapun, Tuan Putriku" Leyka tersenyum mendengar bisikan bak dawai yang merdu ditelinganya disertai hangatnya nafas Valentino yang membuatnya melemah seketika.
"Bellisima, dolcezza mia (cantiknya, manisku; Italy)" puja Valentino seraya mencondongkan wajahnya lalu memiringkan bibirnya kemudian Leyka menyambutnya dengan mata terpejam.
"Uhmm.. Val" lenguh Leyka ketika mengecap manisnya lidah Valentino yang liar memenuhi rongga mulutnya dan menghi*sap lidah kecilnya. Perlahan langkah kaki Valentino terus membawa tubuh Leyka dan menghempaskannya perlahan di dinding lalu menghimpitnya. Valentino terus melu*mat bibir Leyka, menekan tengkuknya serta mere*mas pinggang ramping dan sesekali tangan Valentino liar menjalari bo*kong Leyka yang terjaga kepadatannya.
"Te quiero, Ley" desis Valentino diatas bibir Leyka tanpa mengurai jaraknya bahkan Valentino semakin menghimpitnya dengan mengangkat satu kaki Leyka lalu menautkan di pinggangnya.
"Hmm.. Ti amo, Mi Esposo (aku mencintaimu, suamiku)" saling bertukar bahasa, mereka selalu mengenang hal kecil saat di Pretoria. Valentino kembali melu*mat bibir Leyka, ia menekan pinggulnya agar Leyka merasakan miliknya yang telah menegang.
Tangan Valentino secara acak membelai bagian demi bagian wajah Leyka, mengge*rayangi lekuk demi lekuk tubuh Leyka yang kian padat berisi dan menyusup kedalam celah demi celah sackdress longgar yang berbahan lembut.
Jemari tangannya yang lincah membuka kancing demi kancing sackdress Leyka lalu memberi rem*asan sen*sual pada buah dada yang menyembul dan menggiurkannya. Valentino terus menikmati setiap jengkal leher jenjang Leyka lalu menuruni puncak buah dada yang menggairahkannya, kemudian melu*mat dan menghi*sapnya dengan lembut.
Rintihan serta lenguhan Leyka membuat Valentino tenggelam dalam pesona Pretoria yang selalu diingatnya dan terus menyeret Leyka dalam arus gai*rah yang memanas di sejuknya pagi itu. Valentino mengurai sesaat pag*utan liarnya, dan menatap redupnya mata Leyka yang selalu mengunci pikirannya selama delapan tahun lamanya. Mata sayu yang mendambanya dan sulit dilupakan, hingga sepenuhnya mengisi sekat demi sekat seluruh jiwa dan raganya.
"Uhhmm.. Val.. Apa kau tidak bisa menundanya? Kau akan berangkat bekerja.. Aahhh.. Val" tutur Leyka dengan lembut, nyaris berbisik. Valentino tersenyum sesaat lalu melirik kearah arlojinya.
"Masih ada waktu 30 menit--- dan tanpa menunggu Valentino menyelesaikan kalimatnya Leyka menarik dasi Valentino kearahnya lalu melu*mat bibir Valentino. Terpancing akan hal itu Valentino membuka ikat pinggangnya lalu menurunkan resletingnya dengan nafasnya yang kian terasa habis. Sementara Leyka terus mere*mas rambut Valentino, dan memberi goresan demi goresan yang manis di punggung Valentino yang kokoh melingkupinya.
Berpikir minimnya waktu, Leyka melucuti underwearnya dan Valentino menyambutnya dengan kembali mengangkat satu kaki Leyka agar menaut dipinggangnya. Valentino memberi jarak pada pinggulnya lalu mencengkeram miliknya yang kokoh menjulang bak jagung bakar Afrika Selatan yang fenomenal dinegaranya.
"Ughhmm.. Val.. Aaahhhh.. Sshhh--- perlahan, seiring des*sahan Leyka, Valentino mengarahkan miliknya dan membenamkan perlahan - lahan ke dalam lembutnya milik Leyka yang memanas ----aaaahhh Vall!" pekik Leyka lirih namun tertahan karena Leyka buru - buru menggigit bibirnya, menahan gejolak gelenyar hasratnya yang telah berada di titik puncaknya.
Hormon kehamilannya membuat Leyka cepat bernaf*su dan cepat mencapai puncak kli*maksnya, Leyka harus pandai menahannya agar tidak terlihat bodoh dimata Valentino. Namun justru bagi laki - laki terkadang itu justru letak kepuasannya, melihat lawan mainnya tidak kuasa lagi menahan orga*smenya dan Valentino cukup peka akan hal itu.
"Aaaa... aaaaahh.. Ley.. Oughh.. Shhh.. Aaaargh!" Valentino membenamkan wajahnya diceruk leher Leyka hingga punggungnya melengkung memeluk Leyka seeratnya dengan nafasnya yang tersengal, miliknya terbenam seutuhnya dan menaut kedalam irisan buah peach julukan milik Leyka yang justru semakin menyempit dengan otot ototnya yang mencengkeram kuat miliknya.
Perlahan Valentino menggesekan bulu - bulu disekitar mulutnya disertai gigitan manis dileher Leyka. Kumisnya, jenggotnya dan jambangnya yang kian menebal membuat Leyka merintih - rintih dibuatnya. Di saat yang bersamaan Valentino menggoyangkan pinggulnya membuat gerakan ero*tis keluar masuk dengan menekan miliknya kian dalam. Pesona Valentino, sentuhannya, serta des*ahannya membuat Leyka tak kuasa lagi menahan dirinya saat kilatan mata biru itu begitu teduh menghiba kearahnya.
"Vall-- Aaaaahh.. Aahhh!" Leyka mendorong tubuh kekar yang menghimpitnya lalu mencengkeram dada Valentino. Namun Valentino meraih kedua tangan Leyka lalu merentangkannya di dinding dan menguncinya. Leyka semakin tak berdaya lagi menahan hasrat yang kian menyiksanya, Valentino tersenyum melihatnya dan terus memacu hasrat kelelakiannya yang sulit dibendung lagi.
"Aahh.. Leyka.. Bellissima (cantiknya)" bisiknya dengan tatapan yang memukau.
"Aaaa...Aaa.. Aahh Val.. Ohhh.. Shhh Aahh! Aku tidak bisa lama - lama" bisik Leyka dengan menggeliat saat Valentino terus memacu miliknya dengan perlahan.
"Jangan menahannya, Mi amor" bisik Valentino terus menatap wajah sen*sual Leyka yang membuatnya mabuk kepayang. Bibir yang basah sesekali terbuka dengan hembusan nafasnya yang begitu hangat, mata yang membeliak sesekali terpejam saat Valentino menekan miliknya. Des*ahan Leyka, dengan buah dadanya yang menggantung indah membuat Valentino pun tak mampu menahan hasratnya.
"Aaahhh! Val!!" pekik Leyka begitu lirih saat ia membebaskan dirinya dari jeratan hasrat yang kian memuncak. Leyka pun meronta, membebaskan kedua tangannya yang dikungkung Valentino dan memeluk Valentino kemudian dengan menggigit dada kekar itu.
"Oughh.. Ley.. Aarrghhh!-- gigitan Leyka serta denyutan lembut yang serasa memijat lembut miliknya yang kian menegang dan siap meledakan hasratnya, Valentinopun memeluk Leyka seeratnya dan mengerang dipuncak kepala Leyka ---Aaarggh... Shh.. Aaaahhh.. Ley!" de*sah Valentino dengan suaranya yang kian berat saat ia menumpahkan segala gairahnya di titik puncak kli*maksnya.
Mereka mengerang saling mende*sah bersahutan, pelukan erat menjadi pelukan manis ketika otot - otot tubuh mereka mulai meregang. Untuk beberapa saat mereka terdiam mengatur nafas mereka serta menikmati getaran gairah yang saling menaut dan berpadu lewat penyatuan hasrat di pagi itu.
__ADS_1
Valentino mengurai jaraknya dan masih merentangkan kedua tangannya di dinding mengungkung tubuh Leyka. Mata mereka bertemu dengan buliran keringat membasahi wajah mereka. Valentinopun menyeka dahi Leyka, begitupun sebaliknya Leyka, mereka pun saling melemparkan senyum lalu mereka kembali berciuman.
Dan gairah itu harus berakhir seketika karena bel pintu berbunyi sangat nyaring. Dengan cepat Valentino menyambar beberapa helai tisu lalu ia duduk berjongkok membersihkan area milik Leyka.
Semua perlakuan Valentino mengingatkan pada kisah manisnya di Pretoria yang dahulu sering Valentino lakukan. Leyka tersenyum dengan wajahnya yang memerah saat Valentino memakaikan underwearnya seraya bangkit berdiri. Valentino pun merapikan dirinya dan membuang helaian tisu ke tempat sampah. Leyka menggigit bibirnya lalu menarik dasi Valentino secara mengejutkan lalu mengecup bibir Valentino dengan hangat.
"Gracias, Senor Pedoroso ( tuan perkasa)" bisik Leyka tak perduli suara bel terus berbunyi bersahutan.
"Pedoroso?" Valentino mengernyitkan alisnya.
"Fooor..tee (perkasa; Italy)" bisik Leyka dalam bahasa Italy seraya kembali menarik dasi Valentino dan berjinjit membisikan kata itu dengan lembut. Valentino terkekeh saat Leyka berlari kecil dengan wajahnya yang memerah, meninggalkan ruang kerja.
"Heii! Hati - hati dengan langkahmu! Kau membawa Mi Munequita (bonekaku) bersamamu!" seru Valentino dengan terkekeh, hatinya berbunga dan bergegas menyusul Leyka dengan langkar lebarnya.
-
-
-
Setibanya di ruang tamu Leyka menyambar kunci apartemen ratu, karena ia bisa menebak bahwa yang datang adalah Rosemary yang datang ke Barcelona satu hari yang lalu, namun Rosemary terlebih dahulu menginap di Mansion Kerajaan sebelum mengunjungi Putrinya pagi itu.
"Madreeee (Ibu)!" seru Leyka sambil berhamburan memeluk Rosemary setelah membuka pintu.
"Ohh Putriku! Madre sudah merindukanmu! Dimana cucuku?" balas Rosemary dengan menyambut pelukan hangat itu. Leyka mengedarkan pandangannya hingga lupa menjawab pertanyaan Ibunya. Ada Alfredo serta sepupunya Guaddalupe yang tersenyum kearahnya dan Vicente sang pengawal kerajaan yang berdiri dibelakang Ibunya dengan beberapa koper disampingnya.
"Madre? Syukurlah Madre datang sepagi ini. Karena aku tidak tega meninggalkan Leyka sendirian" ujar Valentino muncul diambang pintu dan mengurai pelukan kerinduan itu. Kemudian Rosemary bergantian menyambut pelukan Valentino dengan hangat.
"Madre telah berjanji akan bersama Leyka dimasa kehamilannya, Madre merindukan kalian. Dimana cucuku?" tanya Rosemary lagi seraya mengurai pelukannya.
"Dia bersama Ibunya di lantai delapan, sebentar lagi kami akan berangkat" kata Valentino dengan senyum khasnya yang mempesona. Ada debaran indah saat melihatnya dan debaran itu milik Guaddalupe.
"Leyka" Guaddalupe pun merentangkan tanganya lalu memeluk Leyka, namun matanya tajam menatap Valentino dengan senyumnya yang menggoda. Valentino tersenyum dengan mendengus melihatnya, seorang laki laki yang peka akan sinyal tidak baik, Valentinopun meningkatkan kewaspadaannya.
"Guaddalupe" gumam Leyka dengan tersenyum tipis karena Leyka tidak menduga Guaddalupe akan turut datang bersama Ibunya dari Palma.
"Ahh Valentino Gallardiev-- Adda mengurai pelukannya lalu melangkah maju mendekati Valentino --sepertinya sepupuku tidak bisa membuat suaminya rapi. Lihat dasimu--- sebelum Guaddalupe menyelesaikan kalimatnya dengan kedua tangan merentang kearah dasi Valentino yang terlihat longgar, Valentino menepis tangan Guaddalupe dan tak diduga Leyka menangkapnya dengan cepat.
"Jangan pernah menyentuh seujung kukupun tubuh suamiku, Adda! Atau aku akan mematahkan tanganmu!" seru Leyka membuat semuanya panik saat Leyka menghempaskan tangan Guaddalupe dengan kasar.
"Ley aku tidak bermaksud--
"Jangan pernah mencobanya! Pikirkan ribuan kali sebelum kau mencobanya!" potong Leyka dengan cepat seraya mengangkat jari telunjuknya kearah Guaddalupe. Valentino merengkuhnya dengan terkesima, ia tak percaya Leyka berubah menjadi tempramen seperti dirinya. Namun hatinya berbunga karena bisa dipastikan Valentino menurunkan sifatnya pada anak keduanya.
Woow.. Aku seperti menghadapi diriku sendiri, sampai anak ini lahir dan tumbuh besar.. Sepertinya gen tempramen menurun pada anak keduaku.. Hahaha.. Sepertinya hidupku akan sangat seru ke depannya. Batin Valentino, tergelak dalam hatinya.
"Wow Mommy sangat keren!" Seru Train dari ujung lorong. Ia baru saja keluar dari lift dan Manuella bersamanya. Kehadiran Train, mengurai ketegangan itu.
"Train? Mi nieto (cucuku)!" seru Rosemary merentangkan tangannya dan Train berlarian kearahnya.
"Grandma... Grandma.. Grandma!" Rosemary berhamburan memeluk dan menciumi Train, cucu pintar kesayangannya dengan penuh kerinduan.
"Ehm, Leyka-- Jika kau menginginkan seseorang menghilang dari Spanyol, katakan padaku. Anggap saja ini bantuan seorang Ayah pada Putrinya" ujar Alfredo melirik kearah Guaddalupe yang membulatkan matanya mendengar penuturan itu. Adda mengepalkan tangannya, menahan dirinya agar terlihat biasa saja.
"Senor (Tuan)! Jangan pernah berpikir kau akan bisa menggantikan Ayahku! Padre tidak akan pernah bisa tergantikan! Dan gracias atas segalanya!" ujar Leyka dengan nada ketus. Leyka meraih kasar telapak tangan Vicente dan memberikan kunci Apartemen Ratu kemudian Leyka memilih berlalu memasuki Apartemen Raja.
Semua menjadi canggung, Rosemary dan Train mengurai pelukannya lalu saling melemparkan pandangannya kearah Alfredo.
"Jika Putriku tidak bisa menerimamu maka segala usahamu sia - sia-- Menyerahlah Alfredo, kebahagiaan Putriku menjadi yang terpenting"
"Rose, aku mencintaimu-- Aku tidak akan pernah berhenti mengambil hati Putrimu sampai dia menerimaku! Dan juga hubungan bilateral antara Spanyol dan Inggris tidak mungkin selesai begitu saja, kami bahkan baru saja memulainya" ujar Alfredo dengan tersenyum dan melangkah pergi namun Train menghentikan langkahnya.
"Abuello! Lo siento (Kakek, maafkan aku). Tapi Mommy tidak membencimu, Mommy menyukaimu karena aku bisa melihat lampu dimatanya. Dia hanya marah karena coqueta (wanita genit) itu" kata Train sambil menggoyangkan tasnya dan menggosok hidungnya seraya melirik kearah Adda yang masih memucat wajahnya.
"Tenanglah, semua akan baik - baik saja" ujar Alfredo sambil mengacak rambut Train.
"Jadi hanya karena hubungan bilateral?" tanya Rosemary namun Alfredo hanya tersenyum dan segera berlalu dari hadapan mereka semua. Rosemary menghela nafas panjang, lalu memalingkan wajahnya kearah Guaddalupe.
"Kau tau betul kisahku dan Ibumu, Adda. Tempatkan posisimu di tempat yang seharusnya. Jangan mencoba melewati pagar yang seharusnya tidak kau lewati"
"Tia Lo siento-- Aku tidak bermaksud" ujar Adda dengan dadanya bergemuruh saat Rosemary hanya berlalu dan memasuki Apartemen Ratu di ikuti Train dan Manuella.
"Perhatikan sikapmu, Adda! Aku memandangmu karena Ibu mertuaku, jika bukan karena dia, aku tidak segan - segan memukul wanita. Kau bisa bertanya pada Leyka bagaimana aku memperlakukan mantan kekasihku di depan matanya saat kami di Pretoria!" Valentinopun berlalu menyusul Leyka memasuki Apartemen Raja, ia harus menenangkan istrinya yang bergejolak secara tiba - tiba.
Leyka... Kau sangat menyinggungku hari ini.. Dan aku tidak mungkin diam saja. Guaddalupe.
-
-
-
Setahun sudah ya perjalanan FORGOTTEN LOVE ON THE TRAIN, Cinta Yang Terlupakan Di Kereta Api.. Tahun lalu saat Valentine day kisah ini mengudara dan aku tidak sanggup menamatkannya di Valentine Day tahun ini.
HAPPY VALENTINE DAY buat kalian Bosqyu.. Semoga bahagia selalu bersama orang2 terkasih, tersayang dan tercinta.
Salam penuh cinta dariku dan kirimin kopi juga vote Buat FLOTT yang berulang tahun #malak Kado 🤣 Ehh haruss yaaaa #maksa 🤣🤣
gaya cicaknya sedikit ya bosqyu selebihnya pada mende*saah manja aja ke suami (jgn suami tetangga, kecuali dpt ijin eehhh 🤣) sambil teriak lirih "Sandarin adek ke tembok dong bangggg!" wkwkwkwk yg ada dilempar bantal trs ditinggal mancing 🤣🤣
__ADS_1