
...PART FOUR...
"Pedroooo!" secepat kilat Pallazo melayangkan tangannya ke wajah Pedro dan secepat kilat juga Pedro menangkap tangan Pallazo dan menarik kearahnya.
"Setidaknya aku bukanlah wanita Italy yang datang dan mengaku mencari suaminya! Kau belum menikah dan kau pembohong besar! Valentino hanya Ayah Baptis dan itu mengubah pandanganku kepadanya! Aku pikir Miu benar - benar Putrinya!" seru Pedro seraya mencondongkan wajahnya mengintimidasi Pallazo yang tingginya sedikit melebihi dirinya.
"Ohh Shitt! Kau mengatakan itu?" tanya Torres menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal dengan kesal dan itu juga membuat Valentino mengerti sikap Pedro yang begitu sinis beberapa saat yang lalu kepadanya saat mereka bertemu di Daycare pagi itu. Valentino menghela nafas lega dan ia bersyukur dalam hatinya bahwa Pedro tidak salah paham lagi kepadanya.
"Pall, jangan mengecewakanku! Kau tahu apa yang kau lakukan itu salah! Kita bukan satu atau dua hari mengenalmu! Kita telah melewatkan banyak hal! Pahit manisnya, suka duka kita menjaga dan merawat Miu! Kau bukan penghasut! Mengapa cinta bisa membutakanmu! Dimana cinta itu tidak pernah berpihak kepadamu!" seru Jared dengan menuding kearah Pallazo kemudian.
Airmata Pallazo kembali berlinang linang. Pedro tak kuasa menahan belas kasihnya setelah ia menoleh kearah Jared. Ada rasa yang tiba - tiba membakar hatinya. Si, sebuah kecemburuan yang entah dari mana datangnya kepada Jared yang selalu melindungi Pallazo lewat sikapnya. Torres mengetahui tatapan Pedro pada Jared dan pikiran usilnya begitu menggelitiknya. Namun saatnya tidak tepat untuk Torres menyalurkan keusilannya. Ia memilih diam.
"Kau sangat keterlaluan! Kau mirip Ibumu!" ujar Valentino menggelengkan kepalanya. Wajah Pallazo memerah menahan malu dan ia luapkan pada Pedro yang mencengkeram pergelangan tangannya.
"Kau-- Lepaskan aku! Kau tidak pantas menyentuhku! Kau pikir kau siapa! Kau hanya Pria kampungan dan tidak sederajat dengan ku!" seru Pallazo meronta namun Pedro tidak kunjung melepaskan genggaman tangannya namun justru mengeratkannya.
"Kau tidak tahu siapa aku dulu sebelum aku menjadi pengurus Apartemen Tio Sanchez! Dan setidaknya Ibuku bukan penjudi!" seru Pedro dengan tersenyum sinis lalu mendengus.
"Pedro!! Kauuuu--- Pallazo menghentikan perkataannya. Seraya meronta, Pallazo menoleh kearah Jared dan Torres secara bergantian, ia berharap mereka berdua akan dan mau menolongnya namun mereka justru membuang wajah mereka kearah samping seakan tidak perduli dan tidak melihat pemandangan itu.
"Bagaimana kau bisa mengajarkan kepada Angelita-ku sebuah kebohongan bahwa Valentino Gallardiev adalah Pappa kandungnya! Kau wanita kesepian yang menyedihkan, Pall! Berhenti mendoktrin Angelita bahwa seorang wanita bangsawan mengambil Papanya!!" seru Pedro dengan hatinya yang terbakar.
"Angelita-ku?" gumam Torres mendengus dengan senyuman hambarnya. Ada sembilu menyelinap dihatinya mendengar ucapan Pedro, karena bagaimanapun Torres mencintai Miu lebih dari apapun. Kecemburuan sebagai seorang Ayah terlihat menguasai hatinya.
"Ohh Shitt! Kau keterlaluan! Bahkan Miu tahu betul siapa aku! Dan tidak ada yang mengambil aku dari Miu! Aku yang kembali kepada Leyka! Kepada keluargaku setelah delapan tahun lamanya! Shiiittt!!" seru Valentino dengan rasa muaknya seraya menendang sofa untuk meluapkan kekesalannya. Torres kembali waspada dan menepuk punggung Valentino agar lebih bersabar menghadapi situasi itu.
"Ini tidak benar, kau harus memperbaikinya sebelum semua terlambat. Aku tahu ketakutanmu, tapi semua akan baik baik saja. Percayalah Pall" ujar Jared yang mengerti apa sesungguhnya yang menjadi kegundahan hatinya.
Tidak ada seorangpun yang mau kembali pada sebuah jurang kesengsaraan. Dimana ada kekerasan, penindasan bahkan pelecehan seksu*al sementara ada Miu di sisinya. Benar bahwa mereka bertigalah-- Valentino, Torres dan Jared --yang mengeluarkan Pallazo dari jurang itu bersama Miu dan itu yang menjadi ketakutan terbesarnya. Secara psikologi apapun akan ia lakukan agar ia tidak akan kembali kesana yang merupakan neraka tapi ada di dunia.
"Lepaskan aku Pedro! Kau tidak tahu apa - apa! Apa laki - laki Spanyol selalu datang dengan tidak sopan?! Kau tidak tahu etika dan sopan santun? Apa orangtuamu tidak mendidikmu?! Lepaskan aku!!!" pekik Pallazo membuat telinga Pedro panas rasanya dan lagi lagi ia menahannya agar tidak melewati batas.
"Kau tidak bertanya sejak kapan aku datang? Dan bagaimana aku masuk dengan pintu terbuka lebar? Tentu saja aku berjalan kaki dan tidak menembus pintu. Aku datang saat Valentino menendang pintu. Aku memastikan pintu Apartemen ini baik baik saja dan kebetulan aku suka bergosip" ujar Pedro dengan senyuman menawannya lalu melepaskan pergelangan tangan Pallazo dari genggamannya.
"Pedrooooo!!" seru Pallazo dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Aku hanya memasang sparepart tidak lebih dari sepuluh menit dan aku akan kembali secepatnya" ujar Pedro seraya berlalu begitu saja dengan masih memperlihatkan senyuman khasnya seraya menggelengkan kepalanya. Pallazo menatap Pedro dengan mendengus kesal seraya memijat pergelangan tangannya yang memerah.
Angelita, apa ini yang akan kau katakan saat makan siang nanti? Kau benar benar anak baik. Pedro tersenyum hangat seraya berlalu kearah pintu dapur.
Suasana yang menegang itu, seketika mencair manakala ponsel Valentio berdering. Jared dan Torres kembali duduk untuk mengurai ketegangan demi ketegangan yang terjadi di antara mereka. Pallazo mengurungkan niatnya mengikuti Pedro dan memutuskan ikut duduk. Keingintahuannya sangat besar dan ia sulit membendungnya.
"Madre menelponku?" tanya Valentino kepada dirinya sendiri, saat nama Rosemary muncul di layar ponselnya.
Val? Aku berada di butik bersama Madre, aku lupa membawa ponselku. Diego ada rapat mendadak dan tidak bisa mengantar Train ke Sekolah Esperanza untuk latihan drama musikal Bisakah kau menjemputku, Mi amor.. Lalu kita bisa menjemput Train ke Daycare..
"Kau ke butik? Untuk apa? Kau tidak berpamitan kepadaku?" tanya Valentino mengerutkan alisnya dan Pallazo menyimak sikap Valentino yang semakin asing kepadanya.
Ckk, Aku lupa membawa ponselku.. Dan tentu saja aku memilih gaun untuk makan malam nanti.. Gaun - gaunku tidak ada yang muat, ada yang muat tapi ketat dan terlihat lekuk tubuhku. Kau tahu kan, lingkar perutku sudah berubah dan perutku tidak rata lagi jadi aku meminta gaun yang longgar di Butik Madre, agar aku tampil sempurna nanti malam..
"Memangnya kenapa kalau gaunmu ketat?" tanya Valentino masih berdiri menjulang di dekat Torres yang memainkan ponselnya hingga ia menoleh kearah Valentino dengan penuh tanda tanya.
Perutku ehmm payu*daraku, isshh.. Ahh, semua terlihat membesar pokoknya aku terlihat seperti badut. Aku tidak percaya diri dengan gaun yang ketat karena itulah aku mencari gaun yang longgar agar aku bisa sedikit menutupinya
"Kau seperti badut? Perutmu payu*daramu membesar lalu apa masalahnya? Kau malu kalau kau sedang mengandung anakku sehingga kau harus menutupinya? Begitukah?!" ujar Valentino mendengus kesal.
Jared dan Torres saling memandang sementara Pallazo menatap Valentino yang sedang menggenggam ponsel dan meletakkan ditelinganya, dengan jutaan rasa sakit di hatinya yang ia tahan. Mereka tidak mendengar perkataan Leyka tapi mereka bisa mengerti pembicaraan di telepon itu.
Bukan malu mengandung anakmu, tapi--
"Tapi apa?!" seru Valentino menarik urat kemarahannya dan memotong secepatnya perkataan Leyka. Semua terpana melihat sikap Valentino yang tiba tiba menuduh Leyka dengan hal yang tidak masuk akal.
__ADS_1
Hey Mi amor! Ada apa denganmu? Mengapa kau marah - marah? Apa semua baik baik saja?
"Semua tidak baik baik saja kalau kau malu sedang mengandung anakku, Leyka!" seru Valentino semakin meluapkan emosinya, kepelikan yang baru saja ia hadapi membuat Leyka terkena imbasnya.
Hei aku hanya ingin terlihat sempurna di matamu itu saja
"Diev, Leyka hanya ingin terlihat sempurna di matamu! Aneh sekali kau ini!" seru Jared menggelengkan kepalanya.
"Apa kau cenayang Jared? Istriku baru saja mengatakannya!" kata Valentino menoleh kearah Jared dengan mendengus kesal. Jared dan Torres melengos sementara Pallazo terpana dengan sikap Valentino yang begitu possesif pada Leyka. Hatinya kembali tertikam rasanya, melihat itu semua. Matanya kembali berkaca - kaca.
"Kau sangat sempurna dimataku! Pakailah gaun yang memperlihatkan lekuk perutmu! Tunjukkan kepada dunia kalau kau sedang mengandung anakku Mi Amor! Kau tidak boleh menutupinya dengan gaun yang longgar! Aku akan segara menjemputmu Mi amor! Jangan kemana mana dan tunggu aku! Kalau perlu biarkan aku yang memilih gaunnya!" seru Valentino membuat Jared menggelengkan kepalanya dan Torres mendengus.
Leyka menyerahkan ponsel kepada Rosemary tanpa menon-aktifkannya. Sehingga terdengar percakapan singkat antara Leyka dan Rosemary.
Gracias ponselnya Madre..
Pakailah jika kau masih ingin bicara pada Suamimu..
No Madre.. Suamiku manusia aneh! Mengapa marah - marah hanya karena gaun? Dasar Raja Setan! Kemarahannya membuatku mual! Munequita tidak menyukainya dan rasanya aku ingin muntah!
Hahaha.. Pachito , dia hanya ingin menunjukkan keperkasaannya kepada semua orang.. Dan semua laki laki seperti itu.. Ahh, dia kadang mengingatkanku pada Pacho..
"Heyy-- Valentino melihat ponselnya dan ternyata Rosemary telah memutuskan panggil singkat itu --Dia mual dan ingin muntah karena aku marah? Apa dia sejijik itu kepadaku? Istriku mengatakan aku aneh? Aku hanya tidak mau dia menyembunyikan perutnya! Aneh darimana?!" tanya Valentino pada ponselnya yang masih digenggamnya dengan kesal kemudian ia memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
"Kau memang aneh Diev! Leyka hanya ingin selalu terlihat cantik di matamu saat dia hamil. Itu hormon kehamilannya yang membuat semua wanita kehilangan kepercayaan dirinya. Benar benar aneh. Kau tahu wanita hamil itu justru menggemaskan saat hamil. Hati - hati dengan pilihan gaunmu untuknya" ujar Torres mengerlingkan matanya. Jared menahan tawanya melihat Torres sengaja membuat rancu pemikiran Valentino.
"Shittt! Hanya aku yang boleh melihat lekuk tubuh Istriku!" seru Valentino dengan kesal.
Kau.. Kauu.. Sangat posessif Diev.. Inikah dirimu yang sesungguhnya? Diev.. Aku kehilanganmu.. Aku kehilanganmu.. Miu kehilanganmu.. Miu, Putriku tersayang.. Kita tidak akan pernah bersama dan bersatu seperti keinginanmu.
Pallazo terus menatap nanar kearah Valentino, tanpa ia sadari airmata kembali mengalir dari pelupuk matanya dan ia menyekanya. Jared mengusap punggung rapuh itu karena ia tahu apa yang dirasakan oleh Pallazo. Valentino menyambar mantelnya, ia pura pura tidak melihat pemandangan itu, ia merasa sudah muak dengan kejadian pelik hari ini.
"Apakah ada Hari Wanita Menyebalkan se-dunia? Mengapa semua wanita hari ini sangat menyebalkan?" ujar Valentino seraya mengenakan mantelnya.
"Aku pergi!" ujar Valentino melangkah pergi dengan menunjukkan wajah kesalnya.
"Diev-- Pallazo bangkit berdiri dan mengekor langkah Valentino menuju pintu keluar --Jadi kau sangat mencintai Leyka melebihi Miu?" seketika pertanyaan Pallazo membuat Valentino kembali naik darah.
"Jangan mulaiii lagi!!---
PRAAANNKKKKK!!!! Valentino menyambar guci yang terbuat dari kristal saat ia melewati almari pajangan, Valentino melemparnya ke dinding, sehingga membuat Jared, Torres dan Pedro berlarian kearah mereka.
---Aku mencintai mereka melebihi hidupku! Aku selesai berbicara denganmu! Menjauhlah sejauh kau bisa!" seru Valentino meneruskan langkahnya tak perduli Pallazo menangis tersedu dengan menutup kedua telinganya saat guci melayang membentur dinding.
"Shiiittt!!" umpat Jarred dan Torres secara bersamaan melihat Pallazo
"Apa kau terluka?" tanya Pedro seraya menyentuh lengan Pallazo yang menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan isak tangisannya.
"Bukan urusanmu!!" Pekik Pallazo menepis tangan Pedro dengan kasar lalu mendorong tubuh Pedro. Kemudian, ia menghempaskan tubuhnya kedalam pelukan Jared. Pedro teriris melihatnya, sementara Jared menjadi serba salah dan akhirnya Jared mendekap Pallazo yang memeluknya erat dengan meledakkan tangisnya.
"Jika butuh teman bicara kau bisa menghubungiku karena Apartemen sudah tidak ada lagi yang perlu aku perbaiki. Aku akan membereskan kekacauan ini, dan mengirim Miu bekal makan siang" ujar Pedro memungut satu demi satu pecahan guci itu.
Sementara Jared dan Torres saling pandang, ia sangat takjub dengan sikap Pedro yang begitu perduli dengan keadaan itu terlebih lagi pada Miu. Torrespun memutuskan membantu Pedro membereskan kekacauan setelah Jared membawa Pallazo kembali memasuki ruang tengah.
"Aku dan Miu kehilangannya Jared" isakan tangis Pallazo terdengar sayup sayup dan Pedro menghela nafas panjang.
"Kau tidak kehilangan Gallardiev, aku atau Torres. Hanya posisinya sekarang berubah. Gallardiev telah menikah dan memiliki keluarga.. Tenanglah.. Masih ada kami.. Miu tidak kehilangan Gallardiev atau kita semua" jawab Jared membuat Pedro tersenyum tipis, ia masih memunguti pecahan guci bersama Torres.
"Ehmm, Jared menganggap Pallazo seperti adiknya sendiri. Bahkan aku dan Valentino juga" kata Torres dengan tiba - tiba, yang bermaksud mengklarifikasi hubungan diantara mereka kepada Pedro.
"Aku tidak bertanya" ujar Pedro seraya bangkit berdiri mencari peralatan untuk membersihkan lantai.
__ADS_1
"Cihhh-- Tenang sekali anak itu. Padahal aku baru saja akan memancing reaksinya" gumam Torres seraya melirik kepergian Pedro.
Torres menoleh ke belakang lalu menggelengkan kepalanya mendengar pintu Apartemen itu menutup dengan sangat keras. Valentino membanting pintu dengan cukup keras sehingga mengundang penghuni lainnya untuk menghardiknya.
"Heiii! Apa kau tidak tau peraturan di Apartemen ini!" seru salah satu penghuni dari di lantai yang sama.
"Heii!! Dilarang membanting pintu!" seru salah satunya lagi.
"Ahh, salahkan angin musim gugur. Dia meniup pintu melalui semua jendela Apartemen itu yang terbuka! Lo siento (maafkan aku)!" ujar Valentino dengan tersenyum ramah, dan itu hal yang tidak biasa. Valentino berkicau seraya berjalan menyahut perkataan para penghuni yang berdiri di ambang pintu mereka masing - masing.
"Harusnya kau menahannya!" seru salah satu penghuni.
"Aku sedang terburu - buru dan lupa tidak menahan pintu.. Kalian tau Istriku sedang mengandung anakku! Dia membutuhkan keperkasaanku-- ahh maksudku bantuanku! Hahaha! Ucapkan selamat kepadaku!" serunya sambil berjalan dan membuat kedua penghuni itu menggelengkan kepalanya.
"Locoo (gila)!" dengus salah satu diantara mereka.
"Hahaha-- wanita hamil sangat merepotkan dan bisa membuat para lelaki gila!" sahutnya dengan berjalan mundur lalu ia memutar tubuhnya dan melangkah pergi menuju lift.
Huft.. Aku bisa di deportasi karena pintu.. Dan itu tidak lucu. Valentino.
-
-
-
Apartemen Ratu
"Dimana Leyka? Mengapa dia tidak menjawab ponselku?" Manuella memasuki Apartemen Ratu dimana ada Adda yang sedang meniup - niup kukunya agar cat kuku yang menempel dipermukaan kukunya, cepat mengering.
"Ke butik bersama Tia Rosemary" ujar Adda melanjutkan mengecat kukunya dengan hati - hati.
"Aku sampai menelepon ke Apartemen Ratu dan Apartemen Raja. Mengapa kau tidak menjawab telepon Apartemen ini? Kalau kau menjawabnya, aku tidak perlu kesini mencari Leyka!" ujar Manuella mendengus kesal dan menggelengkan kepalanya melihat sikap Adda.
"Mungkin aku sedang mandi" jawab Adda seraya menggedikkan bahunya.
"Sepertinya kau sengaja melakukannya. Berkali kali aku menelepon ponsel Leyka dan apartemen ini! Sulit dipercaya kau mengabaikan semua telepon di Apartemen ini. Bagaimana jika itu saudaramu dan mengabarkan Ibumu tiada misalnya" ujar Manuella masih berdiri dan enggan duduk rasanya, ia memilih bersedekap dan memiringkan kepalanya menatap tajam kearah Manuella yang selalu acuh kepadanya.
"Hei Jaga bicaramu, Manuella" kata Guaddalupe menoleh kearah Manuella dengan tatapan sinis.
"Misalnya. Aku mengatakan misalnya. Kau pasti akan menyesal seumur hidupmu!" ujar Manuella seraya melangkah pergi namun baru dua langkah Manuella berhenti karena ia melihat ponsel Leyka yang terletak diantara peralatan pembersih kuku dan cat kuku yang bertebaran di meja ruang tengah.
"Mengapa ponsel Leyka ada bersamamu?" tanya Manuella mengernyitkan alisnya.
"Bersamaku? Ehmm.. Ehh.. Dia meletakkannya disana sebelum dia pergi. Dia lupa membawanya" jawab Adda dengan gugup.
"Mengapa kau gugup? Kau tidak melakukan kejahatan kan?" tanya Manuella penuh selidik.
"Cihh, aku gugup? Aku biasa saja-- Pergilah sana! Aku ada interview hari ini! Aku tidak mau terlambat karena kedatanganmu!" ujar Adda ketus.
"Aku tidak bertanya dengan apa yang kau lakukan! Aku memang mau pergi. Karena melihatmu rasanya aku dan bayiku ingin merobek mulutmu" kata Manuella bergegas pergi.
"Shittt! Apa Leyka bar bar karena bergaul dengan sahabatnya itu? Cihh!" gumam Adda dan ia kembali melanjutkan mengecat kukunya.
-
-
-
Bab Ini berakhir ya hari ini.. Huahh rasanya sangat menyiksa..
__ADS_1
yang sujojon ama Val yg ngapus pesan di ponsel Leyka, ayo denda 20 cangkir kopi🤣🤣 biar dapat pahala gt di bulan Ramadhan 👉🏻👈🏻 #malakIslami 🤣