
Hanya 10 menit Leyka berlarian menuju Apartemen Waterkloof dari Life and Grand Cafe, Ia kemudian meminta kunci kepada resepsionis, matanya terus beredar melihat sekelilingnya. Ia tidak melihat siapapun.
Untuk apa aku berlarian, Valentino tidak mengejarku.. Astaga, mungkin dia hanya akan mengembalikan passportku..
Dengan langkah gontai Leyka memasuki lift yang membawanya ke lantai 3, Apartemen yang di jadikan Hotel itu, hanya ada 3 lantai. Dan Valentino berlarian menaiki tangga setelah tau Leyka menuju lantai 3. Tapi Valentino justru menuju ke lantai 2. Entah apa yang ada di benaknya.
Namun benar saja, Valentino semakin hafal kelicikan dan tipu muslihat Leyka. Setelah sampai di lantai 3, Leyka menuju arah tangga, dan menuruni satu lantai menuju lantai dua. Leyka berjaga jaga bila Valentino menguntitnya, maka Leyka membuat Valentino melihat dirinya menuju ke lantai tiga, dengan begitu Leyka berhasil mengecohnya.
Seperti trik yang digunakan Leyka saat ingin mengetahui lantai mana Rebecca menginap di hotel Maslaw waktu itu. Sampai dilantai dua ia tidak mendapati siapapun, itu artinya Valentino memang tidak mengejarnya, Leyka merasa sangat aman.
Leykapun membuka pintu kamarnya dan masuk saat berbalik ingin menutup pintu, Leyka seakan tersambar petir. Tubuh besar itu menangkap tubuh Leyka dan membanting pintu dengan sangat keras. Valentino dengan kesal membawa Leyka ke arah ranjang.
"Vaalll!! Lepaskan aku!!" dengan kasar Valentino membanting tubuh Leyka ke ranjang. Tanpa kata Valentino melepas tas ransel dari punggung Leyka dan membuangnya asal, lalu melepas kedua sepatu Leyka.
"Val!!" Valentino terdiam tanpa kata, ia melepas jaketnya, melempar tas tangannya yang terselip di ikat pinggangnya dan membuka sepatunya. Valentino menarik kaki Leyka yang masih duduk dengan kakinya ditekuk. Valentinopun melepas jaket Leyka dan dibuangnya kasar.
"Val!" Leykapun di dorong Valentino dengan kasar, jantung Leyka berdetak cepat, dadanya bergemuruh, aura dingin merayapi seluruh tubuhnya, nyalinya ciut melihat Valentino memasang tampang garang tanpa senyuman sama sekali. Valentinopun merangkak diatas tubuh Leyka dan menekan kedua lengan Leyka.
"Val?" Valentino masih terdiam dengan nafas memburu dan giginya yang gemeletuk, rahangnya begitu kuat merapat seakan menyangga wajahnya yang tidak ada kehangatan sama sekali.
"Siapa kau sehingga kau berani beraninya membuatku menunggu, hahh!!" di wajah Leyka Valentino berteriak sekerasnya, Leyka membelalakkan matanya, rasanya sulit baginya untuk berkedip. Mata Valentino seakan ingin melenyapkannya.
"Val" gumam Leyka lirih.
"Kau membuatku menunggu seharian seperti orang bodoh!!" Dan Leyka semakin terkejut dengan kenyataan itu. Ia tidak menyangka Valentino menunggunya seharian di Castello Di Monte.
"A..aku tidak memin..tamu me..nung..gu..ku"
"Lalu mengapa kau tinggalkan passport dan visamu!! Kau sengaja kan!! Kau sengaja biar aku mencarimu kannn!!" Nafas Valentino seakan menampar matanya, bukan hanya berkedip Leyka memejamkan matanya, kemarahan Valentino sangat mengerikan bahkan lebih mengerikan saat Valentino memaki Rebecca kala itu.
"Ti..tidak.. A..ku lu..pa.. A..ku.. per..gi be..gitu.. saja"
"Aku sampai tidak pergi kemanapun!! Karena aku takut kau kembali dan aku tidak ada!!" Ada desiran lembut saat Valentino mengatakannya, sekujur tubuh Leyka kaku dan ia memilih tidak melawan, ia terpesona semakin dalam karena sikap Valentino.
"Maafkan aku! Tapi...aku.. sudah ti..dak perduli lagi.. bila aku di de..por..tasi"
"Kauuu!! Keterlaluan!! Bagaimana bisa kau pergi dengan orang lainn!!"
"Kau..jugaa pergi dengan orang lain" Leyka menghela nafas panjang dan masih berusaha berkata lembut seakan ingin menyiram api yang tersulut di dalam hati Valentino.
"Aku kerjaaaa, Leykaaa!!" pekik Valentino membuat telinga Leyka berdengung.
"Dia hanya memberiku tumpangan!! Kami bertemu di freedom park!" dan Leykapun mulai menyangkal mencari pembenaran.
"Semudah itukahh Leyka!!"
"Bukankah kau bilang kita pada akhirnya akan berpisah?" Leyka berargumen lewat matanya, ia memiringkan wajahnya, tangan dan kakinya tak berkutik, Valentino menduduki pahanya dan lengannya dicengkeram tangan kekar pria italy itu.
"Lalu mengapa kau memintaku untuk meninggalkanmuu!! Apa dia menciummu? Apa dia mencumbumu?!"
"Apa kau menatap Bertha dan mengajaknya berkencan? Apa kau mengajak Bertha tinggal bersama selama kau berlibur?"
"Aku tidak seperti yang kau pikirkan Leyka!!"
"Aku juga Valll!!!" untuk pertama kalinya, Leyka memekik dengan sisa tenaganya setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya.
__ADS_1
Mereka terdiam dan saling tatap dengan menghembuskan nafas berat, nafas mereka memburu penuh kemarahan. Mata Valentino terlihat memerah dan sudut mata Leyka mengalir perlahan buliran bening.
"Biasanya bila aku di tuduh, aku akan menjadikannya kenyataan, aku akan sengaja melakukan tuduhan itu.. Tapi kenapa.. Aku sibuk menyangkalnya sekarang? Apa kau tau jawabannya?" Valentino masih melihat sudut mata Leyka yang tak juga mengering. Gadis bar bar itu menangis? Valentino terkesima di buatnya.
"Aku tidak suka dibentak karena itu akan mengingatkanku pada Loco, tapi mengapa aku justru melupakannya bahkan aku tidak sanggup membandingkannya denganmu" Dan Leyka memejamkan matanya, dan mengalirlah lagi dan lagi buliran bening di sudut matanya.
"Apa maumu Leyka!" nada suara itu turun namun masih penuh penekanan.
"Pulang ke Barcelona, Val" jawabnya dengan mata terpejam.
"Shiittt!!" Kemarahan Valentino kembali memuncak, hatinya meradang. Dengan kasar Valentino mencengkeram kedua pipi Leyka dan merangkumnya dengan jemarinya hingga bibir sensual itu mengerucut, saat Leyka meronta Valentino dengan cepat menyergapnya.
"Ughhhmmm" tak perduli erangan Leyka kesakitan, tak perduli tangan Leyka memukuli punggungnya, Valentino melu*mat kasar hingga bibir itu seluruh terbenam di mulut Valentino. Leyka mengerang kesakitan ketika Valentino menghi*sap mulutnya kuat kuat.
Leyka menjambak, menyakar, memukul, tapi Valentino tak bergeming, kekesalannya begitu terasa lewat ciuman sadis itu.
Leykapun pasrah dan justru membalasnya dengan lembut. Namun Valentino tidak membiarkan dirinya terjatuh lagi. Dengan terengah engah Valentino melepaskannya dan Leyka sibuk bernafas hingga tersengal.
"Kau melepaskan cincin yang aku berikan untukmu!! Beraninya kau Leyka!! Aku bilang itu untukmuu!! Kau tidak mau?! Katakan kau tidak mau, maka detik ini aku akan membuangnya!! Tapi cincin ini-- Valentino merentangkan jemarinya di depan wajah Leyka, --tidak pernah aku lepaskan karena ini adalah kenangan kita! Ini hadiah terindah di hari ulang tahunku!!" Valentino bangkit berdiri dan mengambil cincin Leyka yang berbentuk bunga jacaranda dari saku celananya dan berjalan kearah jendela ia kemudian membuka jendela itu.
"Val jangaannn!!" Leykapun bangun dari ranjang dan berlari menghampiri Valentino dan memegang kuat lengan Valentino yang telah terulur keluar jendela.
"Val, aku mohon maafkan aku. Aku akan memakainya.. Aku akan memakainya dan biarkan itu ada padaku!" namun kekesalan Valentino memuncak, cincin itu dilempar begitu saja, mata Leyka membulat melihat cincin itu jatuh kesamping yang mana itu adalah taman.
"Vall!! Kauuu!!!-- dengan keras Leyka memukul dada Valentino.
"Walaupun aku menghabiskan ratusan juta di acara yang kita ikuti itu, aku tidak perduli! Kau membuatku kesal! Dan gaun gaun itu aku akan membakarnya!!" Valentinopun mencengkeram kuat pergelangan Leyka. Kemarahannya semakin menjadi jadi. Entah apa yang ada di pikiran Valentino, tapi menunggu seharian membuatnya kehilangan akal sehatnya.
"Karena koperku tidak muatt!! Shittt!!" Leykapun menghempaskan tangan Valentino dengan sekuat tenaga, ia pun berlari sambil menyambar ponselnya, tanpa alas kaki tanpa jaket, Leyka berlari ke arah keluar pintu kamarnya.
"Fu*ck you, Vaalll!"
BLLAAARRRR!!
Pintu di banting kasar dan Leyka terus berlari menuju kebun samping dimana Valentino membuang cincinnya. Ia sampai menuruni anak tangga karena tak sabar menunggu lift datang padanya, Leyka terus berlari setelah mencapai pintu samping, Leyka menyalakan lampu di ponselnya. Valentino melihat dari atas dengan mendengus kesal. Berulang kali ia menghantam tembok yang membingkai jendela kamar itu.
"Dimana cincin itu.. Dimana cincin itu" Leyka terus mencari hingga berjongkok hingga merangkak mencari kesetiap sudut rimbunnya taman itu. Tidak perduli lututnya lecet, tidak perduli angin meniupkan hawa dingin, tidak perduli berapa lama ia berada diluar, Leyka terus mencari.
"Aku tidak akan berhenti sampai cincin itu ditemukan" gumamnya dengan meneteskan airmatanya. Leyka terus mencarinya. Hawa dingin membuatnya menggigil, rasa lapar menderanya tapi Leyka si kepala batu itu terus mencarinya, matanya semakin berkabut, pandangannya seakan berputar putar.
3 jam Leyka di luar masih saja mencari. Hingga semuanya terasa gelap. Cahaya ponselnya seakan meredup telinganya seakan ada suara ribuan lebah yang mengitarinya dan semuanya GELAP!
...***...
...4 Days Left......
Aroma aneh menyeruak, aroma tajam yang sangat familiar dan aroma yang sangat dihindari semua orang. Pergelangan tangannya seakan linu, ada benda tajam menusuknya. Leyka membuka matanya perlahan. Ia mengangkat tangan kirinya yang terasa linu. Benar saja, infusion set atau IV (Intra Vena) catether, telah membelenggu pergelangan tangannya, pembuluh darah venanya telah tertusuk jarum yang mengalirkan satu kantong infus melalui sebuah selang.
Matanya berbinar dan senyumannya merekah saat melihat jari manisnya melingkar cincin berlian dengan motif bunga jacaranda. Dan matanya memerah melihat satu sosok yang tengah duduk dengan menelungkup dan wajahnya terbenam di tepian ranjangnya. Rambut ikal, hitam legam kini berada di samping dadanya, pria Italy itu tertidur pulas. Leykapun membelai rambut pria Italy itu dengan lembut.
"Leyka!"
"Val" suara lirih itu terdengar sumbang. Valentinopun bangun dan berhamburan memeluk Leyka.
"Aku dimana Val"
__ADS_1
"Dasar wanita bodoh! Keras kepala! Kau membuatku khawatir! Kau membuat jantung mau copot Leyka!--
"Val.. Dimana ini" ulangnya.
"Klinik Ley, kau pingsan, kau demam. Kau pingsan di taman, bodoh!" Valentino menatap wajah Leyka sesaat lalu kembali memeluk tubuh Leyka. Valentino sampai naik ketempat tidur, dengan hati hati ia merangsekkan kepala Leyka ke dalam ceruk lehernya, hingga Leyka memiringkan tubuhnya memberi ruang pada Valentino agar bisa merebah bersama di ranjang pasien itu.
"Cincinku ketemu Val"
"Bodoh! Kenapa kau mencarinya! Biarkan saja hilang!" walaupun kesal Valentino menciumi pucuk kepala Leyka berulang kali, meluapkan kekuatirannya dengan perasaan lega yang luar biasa melihat Leyka bangun.
"Karena itu cincin pertama yang diberikan padaku dari seorang laki laki"
"Lalu mengapa kau melepasnya? Mengapa kau berikan padaku? Mengapa kau kembalikan, hahh?" Valentino mengurai pelukannya dan menatap sendu ke dalam mata Leyka yang masih terlihat sayu, wajahnya masih pucat, tubuhnya dingin karena efek obat penurun demamnya.
"Karena aku pikir, ini terlalu berharga bagi wanita asing seperti diriku. Aku hanya wanita asing, Val. Seharusnya cincin ini dipakai seorang wanita yang sangat istimewa untukmu" Valentino menatap nanar mata Leyka, yang begitu lembut menatapnya, rasanya Valentino ingin meledak meluapkan semua perasaannya namun ia memilih menahannya karena kondisi Leyka masih sangat lemah.
Diraihnya perlahan dagu Leyka agar semakin menengadah keatas, lalu Valentino memiringkan wajahnya dan mengecup lembut bibir Leyka.
"Kau sangat Istimewa bagiku. Kau menyerahkan sesuatu yang berharga untukku dan itu sangat istimewa,.Leyka"
"Val, itu hanya organ tubuh kewanitaan, kau hanya terkena virgin's effect. Ketika liburan ini berakhir kau akan memakai logikamu, virgin's effect akan menghilang perlahan" Valentino mere*mas dagu Leyka dan melu*mat bibir wanita spanyol itu, jemarinya menjalari dan menyusup ke dalam rambut Leyka dan menahan kepalanya agar bisa menciumnya dengan leluasa.
"Leyka, maafkan aku. Karena aku kau jadi sakit begini. Seharusnya aku tidak membuangnya. Padahal kau telah mengatakan jangan" tautan bibir mereka terlepas dan Valentino membelai rambut Leyka, menyingkirkan anak rambutnya dan menyelipkan di belakang daun telinganya, Valentino mengamati wajah bening itu, seperti lapisan kaca melapisi wajah wanita Spanyol yang memiliki garis lembut namun juga bisa mematahkan.
"Salahku. Semua salahku karena aku membuatmu menunggu, karena aku memintamu meninggalkanku. Aku pikir kita hanya orang asing. Tapi jawabanmu, kita akan saling meninggalkan pada akhirnya itu membuatku marah Val. Karena itulah aku pergi. Maafkan aku. Mungkin aku yang mulai berharap lebih pada hubungan yang tidak mungkin"
"Leyka-- Valentino memeluk kembali tubuh Leyka, mendekapnya seerat mungkin --ikutlah aku ke Italy, Please"
"I give you, my apologies to you, from the bottom of my heart (aku memberi kepadamu, permintaan maafku padamu, dari lubuk hatiku), Val" Valentino memejamkan matanya dan semakin mengeratkan pelukannya, penolakan itu di nilai sangat sopan, penolakan ala bangsawan Inggris, bukan American style.
Di Amerika kata sorry lebih dari cukup tapi di negara yang menganut sistem kerajaan kalimat Leyka menunjukkan penolakan secara tegas dan lugas yang tidak bisa dibantah atau di ganggu gugat. Diantara pejaman matanya, Valentino berpikir keras, mempertanyakan pada dirinya. Wanita Asing ini apakah dia orangnya yang sanggup membuatnya jatuh hati. Atau??
Apa aku harus meninggalkan Italy demi Nona Asing ini? Siapa dia sehingga aku harus melakukannya? Aku menyukainya.. Tapi apakah aku cinta? Apakah aku mencintai Nona Asing yang aku peluk ini? Apa aku telah jatuh cinta? Kenapa aku harus marah saat dia meninggalkanku? Apakah wanita ini yang akan menjadi bagian dari hidupku kelak? Menua bersama seperti pasangan normal pada umumnya.. Yang terjerat cinta sejati.. Mengapa aku begitu perduli padamu Leyka, sementara aku juga tidak mungkin meninggalkan Italy demi dirimu. Hidup seperti apa yang akan kau tawarkan kepadaku.. Barcelona.. Haruskah aku menetap disana?? Haruskah Leyka..
"Val"
"Hmm?"
"Jangan tinggalkan negaramu demi aku. Demi hubungan sesaat ini. Ini bukan cinta Val. Percayalah, ada sesuatu yang indah menantimu disana" Seperti tersengat jutaan kilo volt, rasanya Valentino ingin meremukkan tulang tulang Leyka yang seakan bisa membaca pikirannya.
Shit!! Mengapa kau bisa membaca pikiranku Leyka? Tidak ada yang bisa membaca pikiranku selama ini! Mengapa kita begitu terikat bahkan pikiran kita..
Kau akan punya anak, Val.. Maka nikmatilah itu.. Aku tidak mau menjadi orang jahat dan egois.. Aku bisa menghilangkan sebuah kehidupan.. Dan aku tidak mau itu.. Aku akan mencintaimu dengan bebas.. Sebebas udara yang aku hirup, tidak masalah aku tidak bisa memilikimu..
"Leyka, apa kau lapar, il mio amore (cintaku; italy)?" suara itu terdengar parau dan menggetarkan, Valentino harus menekan perasaannya yang kian berat. Valentino memilih mengabaikan perkataan Leyka. Perlahan belati itu menusuknya perlahan, Leyka hanya perlu mendorongnya lebih keras agar Valentino melupakannya, pelukan Valentino terasa aneh baginya. Ada benih cinta yang mengalir tanpa Valentino sadari, dan Leyka bisa merasakannya.
"Val, aku sangat lapar. Keluarkan aku dari sini" Leykapun mengurai pelukan itu dan berkata penuh semangat. Hari beranjak senja. Entah berapa lama Leyka tidur. Tapi hari ke 8 liburannya di Afrika Selatan dan hari ke 6 di Pretoria, ia habiskan di sebuah klinik di daerah Waterkloof. Selisih dua hari setelah kedatangan Leyka di Capetown dan perjalanan panjangnya selama 27 jam menuju Pretoria, mereka semakin menghitung mundur dimana liburan itu akan berakhir di hari ke 10.
...-...
...-...
...-...
Vote Hadiah ke Ooh Diana aja.. udah gitu aja 🥺
__ADS_1