
Warning : (Yang ga kuat bab ini boleh skip)
-
-
-
Valentino meneguk perlahan, satu botol air mineral setelah seorang biarawati meletakkan tiga botol air mineral keatas meja dan setelah Pastor Gilberto mempersilahkannya. Lalu ia meletakkan sisanya, kembali diatas meja. Jared dan Torres melakukan hal yang sama, tenggorokan mereka rasanya sangat kering.
"Train mulai menulis surat itu setelah ia mengikuti acara pra-natal. Satu bulan sebelum Natal. Train dan semua anak anak yang tergabung di sekolah minggu, membagikan hadiah bersamaku dan aku menjadi Sinterklaas saat itu. Usianya hampir tujuh tahun dan dia sedang gemar gemarnya menulis. Pada bulan Desember awal itu adalah ulang tahunnya yang ke tujuh" ujar Pastor Gilberto dengan mengamati wajah Valentino yang sangat mirip dengan Train.
"Itu artinya Train beberapa bulan lagi akan berulang tahun-- Ya Tuhan.. Ke delapan" Valentino mengusap wajahnya. Ia kembali meraih surat kedua, lalu ia mengeluarkan sepucuk surat dari dalam amplop, kemudian Valentino membacanya.
Hai Tuhan yang baik, Apa kabarmu? Kabarku tidak baik baik saja.. Ini salju dihari ketiga turun di Barcelona, salju turun lebih awal. Aku sedih. Ini hari ulang tahunku, umurku tujuh tahun. Aku melihat mata Mommy, selalu saja berkabut dan tidak ada lampunya. Dia tertawa tapi tidak terlihat tertawa. Kapan mata Mommy ada lampunya? Padahal Damian di sampingnya. Aku meniup lilin tapi aku tidak memohon, aku hanya menyebut Daddy Toro dalam hatiku. Karena KAU tahu kan apa yang aku maksud? Permohonanku aku tulis saja. Bisakah saat ulang tahunku tidak ada salju? Bisakah KAU menghapus musim dingin? Karena musim dingin hanya membuat Mommy-ku sedih. Baiklah aku akan meminta sesuatu, tapi KAU harus benar benar membaca suratku, Tuhan. Satu, aku mau Mommy dan Daddyku sehat dimanapun dia berada. Dua, berikan Damian kekasih yang baik, aku tidak mungkin selamanya bersandiwara tidak menyukainya. KAU tahu, aku menyukai Damian, tapi karena sayangku padanya, aku tidak ingin membuatnya terluka. Dia melukai dirinya sendiri bisakah kau mencegahnya? Karena KAU tahu Mommyku tidak mencintainya, mata Mommy tidak ada lampunya seperti mata Ibuku Manuella dan Ayah Diego. Tuhan, itu saja.
Train.
"Terkadang Train, mengirimnya sebulan sekali atau dua bulan sekali.. Dia menulis sesuai perasaannya. Bahkan di bulan Februari dia menulis dua kali dalam satu bulan" ujar Pastor Gilberto setelah Valentino melipat surat kedua. Ia terdiam dan mengusap airmatanya. Ia tak mampu berkata kata lagi.
Leyka, aku semakin mencintaimu.. Masih adakah cinta untukku Ley. Batin Valentino seraya menelan salivanya yang terasa getir.
Valentinopun membuka surat ketiga dan lalu membacanya, sementara Jared melipat surat sebelumnya dan memasukkanya ke dalam amplop.
Tuhan, apa kabar? Apa KAU baik baik saja? Apa KAU sangat sibuk? Kata Pedro, saat aku bertanya, 'Mengapa KAU tidak menjawab suratku?', Pedro mengatakan KAU sedang sibuk karena jutaan surat yang KAU terima setiap harinya. Saat ini menjelang musim semi, dan aku mulai bersekolah di sekolah Esperanza. Aku melihat Ayah Pepito menampar Ibu Pepito.. Itu sungguh mengerikan.. Tuhan, aku tidak mau mengenal Daddy-ku dan aku tidak mau bertemu dengannya bila Daddy-kuseperti itu, tidak usah pertemukan aku, bila Daddyku seperti Ayah Pepito.. Aku sangat senang saat Mommy mengatakan, 'Daddy Train tidak seperti itu, Daddy Train bukan pemabuk dan suka memukuli wanita, Daddy Train adalah laki laki yang baik dan sangat romantis juga penuh kehangatan'. Aku melihat mata Mommy ada banyak lampunya, karena itulah aku selalu menjaga tempat Daddy, agar tidak ada yang berani di samping Mommyku, termasuk Damian.. Tuhan, apa kau bisa membuat Ayah Pepito berubah, aku tahu Pepito tidak baik padaku, tapi dia temanku.. Bisakah Ayah Pepito, seperti Daddy-ku? Dan bisakah KAU mengatakan pada Daddy, bahwa aku menyayanginya? Aku menunggu jawabanMU
Train.
"Hangat dan romantis? Apa aku seperti itu dimatamu, Ley? Blueee..." Valentino meletakkan surat itu dan menyeka airmatanya. Ia kemudian menyambar botol air minum sampai habis lalu menyambar milik Torres. Pastor Gilberto memberi tanda pada seorang biarawati untuk menyediakan kembali air minum untuknya.
"Dia memikirkan orang lain! Anak sekecil itu, Diev! Ini gila!" ujar Torres mengacak rambutnya. Valentino tidak bisa berkata apa apa selain menyemprot inhaler ke dalam mulutnya dan sesekali memijat dada kirinya yang kian nyeri.
Valentino pun membuka surat Train yang ke empat, lalu membacanya.
Tuhan apa kabar? Apa KAU sangat lelah? Aku akan memijatMU seperti kaki Abuella yang lelah naik turun lift ke lantai 7. Aku memohon KAU bisa mengabulkan doa Abuella yang ingin pindah ke lantai 1. Kasian Abuella sudah sangat tua, bila KAU tidak bisa menghitamkan rambut Abuella kembali, maka kabulkan saja permintaanya. Hari ini aku mendapat teman baik, namanya Paolo. Ayah dan Ibunya berpisah. Terkadang Paolo ke rumah Ayahnya saat akhir pekan, Ayahnya punya kekasih, Ibunya juga. Semua terlihat bahagia, tapi sebenarnya Paolo dan adiknya tidak bahagia, dia banyak menceritakan banyak hal. Tuhan, bolehkah aku meminta, satukan saja Mommy dan Daddy-ku, apakah aku terlalu berlebihan? Apakah aku egois? Kata Mister Takeshi, bila Mommy dan Daddy-ku tidak saling mencintai maka semuanya tidak bisa berjalan bersama. Bisakah kau membuat Mommy dan Daddy-ku saling mencintai walaupun entah kapan? Jika tidak bisa, ya sudah.. Aku bisa apa? Kata Penelope setiap orang punya privacy dan pilihan. Tapi bisakah aku merasakan tinggal bersama mereka walaupun sebentar?.
Train.
Valentino melempar surat itu di meja dan bangkit berdiri, ia berjalan kearah jendela dan membukanya. Ia menghirup udara yang menerobos masuk sangat dalam seiring airmatanya mengalir begitu deras.
"Tidak.. Ini.. Ini.. Semua salahku! Seandainya aku mau mengalah, seandainya aku tidak mementingkan ambisiku, seandainya-- Ya Tuhan, seandainyaaa" Tangis Valentino kembali pecah, 8 tahun begitu lama, dan ini membuat Valentino benar benar terkejut dengan kenyataan ini. Seorang Torres pun bisa menitikkan airmata, Jared kemudian menghampiri Valentino dan membawanya kembali ke kursi dimana Pastor Gilberto ada disana dengan sesekali menghela nafas panjang.
"Aku hanya meminta Train untuk percaya tanpa keraguan bahwa suatu hari kau akan datang. Banyak surat anak anak yang datang padaku, tapi surat Train begitu menyentuh hatiku, Bacalah semuanya agar kau bisa melihat sisi hati Putramu" ujar Pastor Gilberto menepuk pundak Valentino.
Valentino kembali membuka surat Train yang kelima, lalu ia membacanya sambil menyeka airmatanya.
Hai Tuhan kabarku sangat baik. Aku harap KAU juga baik. Hari ini Mommy melarangku ke Gereja tapi aku tidak perduli. Aku nakal. Ya, aku nakal. Aku hanya akan memberikan suratku, pada sahabatMU Pastor Gilberto. Hari ini ulang tahun Daddy-ku. Katakan padanya seperti ini, 'Hai, Daddy selamat ulang tahun. Semoga kau mengingat kisahmu di Pretoria saat ulang tahun. Semoga kau tidak melupakannya. Sehatlah Daddy, kata Mommy kau laki laki yang kuat. Aku harap kau tidak bahagia karena kebahagiaanmu hanya saat bersama Mommyku dan aku. Tuhan suratku saat ini sangat nakal. Daddy, selamat ulang tahun. Aku menyayangimu lewat cerita Mommyku, kau akan jatuh cinta padaku saat melihatku. Daddy, aku merindukanmu. Aku ingin merasakan hangat pelukmu. Kata Mommy pelukanmu sangat hangat dan membuat gerah. Peluk Cium untukmu, Daddy.' Tuhan, lindungilah Daddyku dimanapun. Katakan semuanya padanya, ceritakan padanya bahwa ada Blue Train di Barcelona.
Train.
"Aaaarrggghh! Blueeee!" Valentino kembali meledakkan tangisnya, berulang kali ia memukuli dadanya. Semua juga bingung harus berbuat apa. Pastor Gilberto terlihat tenang walaupun wajahnya kemerahan, sementara Jared dan Torres sudah pasti menitikkan airmatanya.
"Jika kau tidak kuat, kau boleh membawa surat itu. Kau bisa membacanya saat hatimu sudah tenang" kata Pastor Gilberto dengan lemah lembut, kebijaksanaannya terpancar dari wajahnya yang telah menua.
__ADS_1
"Diev, kau bisa terkena serangan jantung, tenangkan hatimu, kita pulang saja. Hari semakin sore" ujar Jared menepuk pundak Valentino agar berhenti berguncang.
"Ini gila! Ini sangat gila!!! Tidak! Aku Daddy yang kuat aku harus membaca semua surat Putraku!" Dengan cepat Valentino menyeka pipi dan hidungnya lalu membuka surat ke enam dari Train untuk Tuhan. Valentino membacanya.
*Hai Tuhan, aku datang lagi dengan cepat. Itu karena Mommyku berulang tahun. Mommy selalu menangis saat meniup lilin. Apa kau bisa memberitahu, mengapa Mommyku menangis? Dugaanku Mommy mengingat Daddy tapi Mommy tidak mau mengaku. Mengapa aku menduga begitu, karena setelah memberi kue pertamanya kepadaku Mommy selalu menciumku dan berbisik 'Blue Train.. Blue Train.. Blue Train.. My Sweet Pretoria'. Aku hanya meminta satu saja, kabulkan keinginan Mommyku, semoga Mommy selalu sehat dan kuat, semoga Mommy tidak memotong rambutnya. Aku rela tidak memperoleh hadiah Natal dariMU setiap tahunnya. Ya, hadiah kereta api berwarna biru, yang diberikan Pastor Gilberto dan katanya itu dariMU. Satu lagi, bisakah kau mengatakan pada Mommyku untuk berhenti mengolok Daddyku dengan kata Pecu*ndang. No me gusta! No me gusta! No me gusta! No me gusta! No me gusta! No me gusta! No me gusta (aku tidak suka)! Siempre cada vez! Siempre cada vez! Siempre cada vez (selalu, setiap saat)! Mommy selalu mengatakan Daddyku seperti itu! Aku marah! Aku akan nakal! Buat Daddyku datang! Tuhan buat Daddyku datang*!
Train >,<
"Blueee.. Jared Torres.. Lihatlah.. Lihaatlaah.. Simbol kemarahannya.. Bluuee! Daddy datang, Bluee!" dengan airmata berlinang linang, Valentimo menunjuk simbol yang di tulis Train sebagai bentuk kemarahan diakhir tulisan di samping nama 'Train'. Mereka tersenyum tipis, sambil menyeka sudut mata mereka sebelum airmata membasahi pipi mereka.
"Dia..Sangat lucu dan pintar.. Dia memang Putramu, Diev!" Torres mengakui sambil meraih surat ke tujuh Train. Torres menjadi tidak sabar ingin tahu apa yang Train tulis selanjutnya. Setelah mengeluarkan surat Train dari amplopnya, ia memberikannya pada Valentino. Kemudian Valentino, Jared dan Torres ikut membacanya.
"Surat ke tujuh Train adalah kemarahannya. Setelah ulang tahun kalian, suratnya tidak pernah muncul lagi. Setiap aku menanyakannya dia menjawab 'Tuhan tidak membaca suratnya, Tuhan sibuk dan tidak mengingatnya'. Aku dan Dolores berusaha meyakinkannya" ujar Pastor Gilberto sambil melihat ketiga laki laki yang begitu antusias membaca surat Train.
Aku tidak ingin menyapaMU! Aku tidak perduli KAU baik baik saja atau tidak! Ini sudah lama sekali! KAU tidak membaca suratku! KAU mengabaikanku! Tidak satupun kau membalas suratku! Bila Daddyku datang, itu artinya kau sudah membalas suratku! Bila Abuella pindah ke lantai 1, itu artinya kau membalas suratku! Bisakah Tuhan mengabulkan permintaan Abuella Dolores saja? Tidak usah perdulikan aku! Tidak usah mengabulkan doaku! Aku tahu aku terlalu banyak meminta! Kabulkan doa Abuella saja! Entiendo! Entiendo! Entiendo! Entiendo! Entiendo (aku mengerti)! Tuhan terlalu banyak memikir manusia seluruh dunia! Tidak usah melihatku! Lihatlah Abuella saja! Aku tidak akan menulis surat lagi setelah ini! Adios (selamat tinggal)!
TRAIN
Jared dan Torres saling memandang, ia terkesima dengan kemarahan Train dalam suratnya yang ke tujuh. Hati Valentino selaksa di tikam belati beribu ribu kali. Hatinya hancur tak berbentuk.
"Setelah sekian lama, Train akhirmya mengirim surat lagi. Aku baru selesai membacanya dan kau datang berteriak memanggil nama Train. Firasatku mengatakan kau melihat Train dan kau tidak sanggup menemuinya. Dan dari wajahmu, aku bisa melihat kau adalah Ayah yang di tunggunya selama ini. Dia hampir kehilangan keyakinannya, dia marah kepada Tuhan karena Train merasa Tuhan tidak menjawab suratnya. Dia hampir putus asa-- Bacalah surat terakhir darinya, mungkin dia sudah tidak akan menulis surat lagi. Karena disini Train mengatakan, ini surat terakhirnya" ujar Pastor Gileberto sambil menyodorkan amplop berisi surat Train. Valentino menerimanya lalu membuka kemudian membacanya.
Tuhan, Apa kau merindukanku? Tentu saja tidak karena kau sangat sibuk. Tapi aku sangat merindukanMU. Aku sangat bahagia saat ini. Tuhan, abaikan suratku yang ke tujuh. Mau kah KAU memaafkanku? Aku marah dan kecewa padaMU. Lo siento, Tuhan. Ternyata akhirnya kau membalas suratku. Abuella Dolores pindah ke lantai 1, itu artinya Ibu Manuella dan Ayah Diego akan segera menikah. Aku sangat bahagia untuk mereka. KAU tahu? Apartemen Abuella di isi oleh tetangga baru. Dia sangat baik, dan dia sangat menyenangkan. Dia mengatakan jatuh cinta padaku, tapi aku sangat sedih. Apakah Daddyku akan jatuh cinta padaku bila bertemu denganku? Uncle Gallardiev namanya. Dia selalu membuat Mommyku gugup dan Mommy selalu membuat Uncle Gallardiev gugup. Mata mereka berkelip kelip banyak lampunya, pipi mereka seperti ada pelangi berwarna warni.
Sampai kapan KAU akan membuat Daddyku datang? Karena jangan salahkan aku bila aku menjodohkan mereka. Tuhan, Uncle Gallardiev membeli sebuah aquarium dengan ikan nemo. Nemo kecil itu aku dan dia juga memesan ikan Nemo besar dan itu Marlin, Ayah Nemo. Dia sangat lucu, dia sangat memperhatikanku. Mommy menjulukinya Raja Setan, dan Uncle menjuluki Mommy wanita siluman.
Tuhan, mungkin ini surat terakhirku, aku tidak akan menulis surat lagi padaMU. Aku akan mengatakannya dalam hatiku, aku akan berdoa seperti Maria. Aku memiliki janji, jika Daddyku datang, aku akan memberikan semua celenganku padaMU! Aku akan menitipkannya pada Pastor Gilberto. Aku akan berulang tahun, dan aku bertaruh dengan Mommy, bahwa keajaiban itu ada. Karena KAU menciptakan keajaiban. Daddyku akan datang, saat aku ulang tahun nanti, aku bertaruh dengan Mommy. DitanganMU aku serahkan siapa yang menang. Bila Mommy yang menang aku tidak akan pernah percaya pada Keajaiban. Dan saat ulang tahunku nanti Daddy tidak datang, mungkin aku harus merelakan Daddyku. Biarkan dia selalu disana tidak pernah turun dan jangan membuatnya tahu bahwa ada aku, anaknya. Kau tahu Tuhan? Aku menangis saat menulis surat terakhir untukMU, Tuhan. Mirar (lihat)! Aku menulisnya sampai dua lembar. Tuhan aku akan selalu mencintaiMU sekalipun KAU tidak mencintaiku! Seperti aku mencintai Daddyku, sekalipun aku tidak pernah melihatnya, sekalipun dia tidak mencintaiku karena entah dia senang atau tidak dengan keberadaanku. Adios Tuhan. Gracias telah meluangkan waktuMU untuk membaca suratku. Te Quiero!
Blue Train Valentino.
"Torres obatnya!!" pekik Jared saat Valentino menyandarkan tubuhnya di kursi, Valentino tidak bisa menahan bobot tubuhnya sendiri, perlahan tubuhnya semakin condong kesamping.
"Diev! Bertahanlah!" Torrespun mengambil obat jantung yang dibelinya dan berada di saku jasnya, lalu menyerahkannya pada Jared.
"Diev! Kau harus mengatakannya langsung pada Train! Bertahanlah Diev!" pekik Jared dengan membuka blister obat dan Tores berusaha membuka mulut Valentino yang terkatup rapat, agar obat jantung itu bisa menolongnya.
Valentino tidak ingat apapun, suara rekan rekannya semakin menjauh dalam keheningan. Ia hanya merasakan seseorang meletakkan obat dibawah lidahnya, ada sesuatu yang mengganjal dan larut begitu cepat. Hingga 5 menit kemudian ambulance yang berada di Gereja Katedral itu membawanya.
Blue.. Blue.. Aku harus bertahan.. Tuhan aku tidak mau mati saat ini.. Izinkanku, membuat Putraku tertawa dan bahagia.. Blue.. Daddy akan datang..
Daddy tangkap aku.. Daddy.. Daddy.. Daddy.. Tangkap aku.. Dadddyy.. Daadd.. Daaaddd..
Hanya suara Train yang memenuhi kepalanya, hingga suara itu begitu lirih dan akhirnya benar benar lenyap di dalam kegelapan.
-
-
-
Rooftop Apartemen Casa De Miel
Train mencari Leyka, dimanapun Train tidak menemukan Mommynya, bila sudah begitu Train akan menuju ke tempat paling atas Apartemen Casa De Miel, dan benar sana Train menemukan Leyka bersama Damian sedang duduk berdampingan menatap senja yang tak juga beranjak pergi.
__ADS_1
"Moommyy! Uhss! Mommy disini! Aku mencarimu di kedai, di Apartemen kita, di Apartemen Abuella, dan Apartemen Ibu Manuella, semua tidak ada! Mommy disini berpacaran! Uhhsss!" Leyka dan Damian menoleh secara bersamaan kearah Train yang menggandeng tangan Maria dan seorang laki laki yang samar samar Leyka mengingatnya.
"Train?" Leyka menatap laki laki itu dengan mengerutkan alisnya.
"Leyka Paquito? Isivivani Freedom Park! Membebaskan hati di tempat pembebasan budak!" kata Matthew Ford yang sudah pasti di paksa Train untuk ikut dengannya. Matthew mengulurkan tangannya namun dengan membulatkan matanya, Leyka menepis tangan Matthew dan berteriak berhamburan memeluk Matthew.
"Maaathhew Ford?? Aaaaa! Apa kabarmu? Ini-- Ini kejutann! Kau ada di Barcelona?! Matt! Kita bertemu lagi!" seru Leyka dengan wajahnya berseri seri seketika. Train bersedekap dan berjalan kearah Damian yang diam terpaku melihat tingkah kekasihnya.
Train menengadahkan wajahnya kearah Damian dan mengumbar senyuman yang penuh kelicikan dengan jutaan maksud yang tak terduga. Ia hendak menembak satu target dan mengenai semuanya. Damian mengenalnya, apalagi Maria yang melihat senyum Train dengan mendelik kesal.
"Dia Matthew Ford, keturunan Henry Ford! Aku tadi naik Mustang Shelby El Eleonor! Dia ini teman Mommy saat di Pretoria, Damian! Mereka bertemu disana dan membebaskan hati mereka seperti ini! Miraaa (lihat)!" Trainpun naik keatas kursi lalu menaiki meja dan semua tentu saja diam tertegun melihat Train. Matthew bahkan belum menjawab pertanyaan Leyka dan justru tersihir oleh atraksi Train.
"Mereka menaiki tembok di Isi vi va ni, Freedom Park-- Train mengejanya --itu sangat tinggi kata Mommy, lalu mereka membebaskan hati! Dengan berteriak!--
"Trainn!" Leyka memotong aksi Train dengan mendelikkan matanya dan itu membuat Damian penasaran.
"No Mommy! Aku mau menirukan gaya kalian! Miraa (lihat), Damian! Mommy berteriak, 'Tooorrooo! Aku mencintaaaimuuuuu! Ahahahaha!" Train berbicara dua arah dan menjerit lantang. Tawanya menggema di Rooftop sore itu.
"Jadi seperti itu?" Maria menahan tawanya melihat Damian memerah wajahnya seketika, sudah pasti Damian terbakar mendengarnya.
"Si! Dan Uncle Matthew berteriak--
"Turunlah Train!" pinta Leyka dan Matthew justru terkekeh melihatnya "Leyka, biarkan saja!" kata Matthew semakin tertawa.
"Noo! Mommy!-- Uno más (satu lagi)! Uncle Matt Berteriak-- Uhm, Maria kau jangan cemburu!-- Maria membulatkan matanya dan Matthew berhenti tertawa seketika --Madelineee! Aku mencintaimuuuu! Ahahahaha!"
"Aku cemburu?" Maria menggedikkan bahunya, tidak mengerti lalu mereka semua saling pandang.
"Itu dulu Maria, sekarang Uncle Matt bisa berteriak begini disini, 'Maariaaa! Aku jatuh cinta padamuuuuu! Ahahahaa! Aku jatuh cintaa padamuuu Mariaa!" Matthew seketika memerah wajahnya, bahkan Maria melotot kearah Train yang tertawa cekikikan. Damian berbalas menahan tawanya melihat kearah Maria.
"Mattt?" Leyka bertanya melalui matanya meminta penjelasan.
"Eh.. Ehh.. Anakmu itu.. Benar.. Benar.. Isshh.. Leykaa-- Matthew gugup bukan kepalang, dan ia mendekatkan wajahnya kearah telinga Leyka --Putramu membuatku malu saja!" Leyka menahan tawanya. Ia sangat percaya Train dalam hal menilai.
"Setan cilikmu aku serahkan padamu! Cck! Benar benar anak itu!" Maria mendengus dan berlalu namun baru beberapa langkah, kicauan Train menghentikannya.
"Ahahaha-- Maria! Apa kau akan membawa tidur bunga dari Uncle Matt? Kau membawanya kemanapun,Ahahaha! Mariaa ayoo berteriak bersamaku, 'Mattt aku juga jatuuuhhh cinta padamuu! Ahahaha!" Maria sontak melempar bunga lily putih ke meja terdekat dengan muka memerah, ia memang membawa bunga Matt sejak dari gereja. Damian terbahak begitupun Leyka.
"Shiittt!" desis Maria dan Matthew semakin salah tingkah.
-
-
Di perkirakan up hari jumat, Karena ada ijab qobul antara tanteku yg Jendes dan menikah dengan Dudut, duda dangdut 🤣 soalnya dari ringtone HPnya dan penampilannya dangdut abis. napasnya aja ada cengkoknya 🤣. Ck, udah tua ngapain sih nikah.. mending kawin aja.. Eh kebalik.. Maaf ini kurang minum kopi.. 🤭🤭🤣🤣
Tapi kl aku di nikahin itu nyantai ga bantu2 ya aku usahain nulis dari henpun jd malemnya kali aja bisa up. Sumangaat.. syusyu mamah hangat.. caiyooo.. 🤣🤭💋💋
-
__ADS_1
-
-