FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Si Pencuri


__ADS_3

Pagi yang hangat, Leyka tidur meringkuk, dan ia seperti memeluk guling. Badan yang kekar tanpa mengenakan baju, tidur di sebelahnya dan memberikan pelukan hangat. Kaki besar itu menindihnya hingga mencapai pinggang dan tangan kekar itu terkulai di punggung Leyka.


Satu lengannya digunakan sebagai bantal oleh Leyka, hingga pipinya mendarat di kencangnya dada dengan bulu bulu kasar yang bertebaran menghiasi tubuh gagah itu. Cuaca yang begitu dingin, semua orang pasti mencari kehangatan.


Saat Leyka bergidik karena kedinginan, tangan kekar itu kembali menarik tubuh Leyka semakin masuk ke dalam dekapan hangatnya. Ia memeluk Leyka se-eratnya hingga Leyka terasa sesak dan itu justru membangunkannya. Di alam bawah sadarnya dengan mata terpejam, Leyka membelai lembut dada yang berbulu itu.


Val, ini kau.. Val.. Apakah aku bermimpi.. Aku mengenalimu dalam tidurku..


"Val?" Leyka memicingkan matanya.


"Ngg--hh" Lenguhan itu terdengar lembut. Namun itu semakin mengejutkan Leyka, ia ingat bahwa ia tidur sendirian tapi begitu bangun, ada seseorang di ranjangnya, memeluknya. Tubuh yang bertelanjang dada dan aroma maskulin dari deodoran juga parfum yang masih melekat di tubuh seseorang itu, Leyka menyadari kehadirannya bukanlah sebuah mimpi.


"Aaaaa!! Valentinoooo!" Leyka membulatkan matanya, ia dipaksa keadaaan untuk menguasai kesadaran sepenuhnya. Dengan spontan Leyka mendorong dengan tangan dan kakinya, sekuat tenaga hingga Valentino terjatuh. Pria Italy itupun terkejut dan membelalakkan matanya.


BRUUGGHH!!


"Dimana aku? Aku siapa? Kamu siapa?" Valentino menguap dengan menggaruk garuk kepalanya, ia duduk di lantai dan pura pura lupa ingatan. Ia meregangkan otot tangannya yang kebas lalu meregangkan otot lehernya secara bersamaan. Valentino mendengus kesal, saat ia melihat kearah Leyka ia terlambat menyadari, bantal itu sudah melayang diwajahnya.


BUUGHHH!!


"Tidak usah pura pura amnesia! Kauuu berani beraninya masuk apartemenku! Bisa bisanya kau tidur dikamarku, tetangga gila!! Pergi!! Keluar kauu, ba*jiingaan! Kau menyebalkan sekali, Val!!" Leykapun turun dari ranjang dan dengan guling ia memukul Valentino yang masih duduk tak berdaya, sesekali ia mengusap usap bokongnya dengan meringis.


"Ley, ayolah Ley. Ini masih terlalu pagi untuk bertengkar" ujarnya masih lemas, Leyka semakin kesal dan menghujaninya pukulan dengan bantalnya. Valentino berhasil merebut bantal dan Leyka kembali mengambil guling dan terus memakinya seiring pukulannya bertubi tubi.


"Dasar kriminal! Kau penyusup! Kau bisa di penjara karena menerobos masuk apartemenku! Kau psikopat! Kau penguntit! Kau kriminal! Pergi! Pergi atau aku lapor polisi! Dasar mesum! Dasar cabul!" Valentino menghadang dengan tangannya saat guling itu bertubi tubi menghantamnya, ia pasrah, ia berusaha mengumpulkan sepenuhnya tenaga dan nyawanya.


"Ley, dengarkan dulu penjelasanku! Aww Leyka! Aku tidak seperti itu!" tidak ada kesempatan bagi Valentino untuk melawan selain menyilangkan tangannya diatas kepalanya, melawan amukan wanita bar bar, ia menunggu Leyka lelah dan mencari celah untuk melumpuhkannya.


"Kau pasti menggandakan kunci! Karena kau memperbaiki pintuku! Katakann pecu*ndang! Shitt!!" pekik Leyka hingga dengan nafas terengah engah.


"Tidak Leyka, aku tidak seperti itu! Aaw Ley! Aku melompat balkon, Ley! Dengar dulu! Aku masuk lewat jendela dapurmu yang tidak pernah kau kunci! Ley hentikan!" Dengan cepat Valentino menyambar pinggang Leyka hingga Leyka terjatuh diatas tubuhnya. Dengan sekuat tenaga Leyka bangun lalu menduduki perut dan kedua lututnya mengunci kedua lengan Valentino kemudian mencekik leher Valentino dengan guling, hampir setengah wajah tampan itu terbenam. Valentino hanya terkekeh, melihat kekesalan Leyka.


"Ley, ayolah Ley.. Kau jangan sadis begini. Aku memberimu kehangatan Leyka, apa itu kurang? Kau marah, karena kau mau aku melakukan lebih?" Valentino justru setengah berbisik dan memiringkan kepalanya, ia melebarkan senyumannya dan menggoda Leyka yang sangat kesal kepadanya.


"Fuu*cckkk Youuuuu!" Leyka berseru dengan mendenguskan nafasnya di hadapan wajah Valentino. Titik titik air liurnya menghujani wajah Valentino yang tertawa melihat sikap bar bar Leyka itu.


"Leyka! Kau bau sekali! Ludahi saja wajahku sekalian Leyka! Shitt!" kata Valentino dengan memincingkan matanya, titik titik air liur Leyka sebagian memasuki matanya hingga terasa pedih, ia terus tertawa dengan pasrah karena Leyka terus menekan guling di lehernya.


"Bahkan malaikat juga bau di pagi hari, bodoh!" Dan Valentino semakin terbahak, perkataan Leyka yang penuh amarah itu adalah perkataannya saat mereka di Pretoria, tanpa sadar Leyka mengingatnya.


"Itu perkataanku di Pretoria, Ley. Kau masih mengingatnya?" Valentino dengan lembut bertanya, masih dengan memiringkan kepalanya, menatap mata Leyka dengan mata kebiruan yang bersinar di pagi hari. Leyka berdebar melihatnya namun ia tidak kunjung melepaskan Valentino.


"Fuu*cckkk yoouuu!!" Leyka masih mengumpat.


"Ley, kau sangat sexy. Aku merindukanmu. Aku rela di posisi ini seumur hidupku. Karena belahan buah dadamu begitu menggodaku. Bolehkah aku menciumnya?" Valentino mendorong kepalanya maju ke depan dan Leyka membelalakkan matanya, ia melihat belahan buah dadanya yang begitu penuh dan padat seakan tumpah ke wajah Valentino. Leyka menaikkan tanktopnya dan saat itulah, Leyka lengah.


"Fuu*cck youu-- Fuu*cckk youu! Dasar Mesumm! Cabull! Aargghh!" Leyka terpancing, ia berhenti menekan leher Valentino dengan guling lalu ia kembali memukuli Valentino yang tertawa melihat wajah Leyka yang memerah.


Dengan satu gerakan Valentino mendorong tubuhnya, hingga bangun dengan kekuatannya yang telah terkumpul, Valentino memeluk lalu menggendong tubuh Leyka dipundaknya. Valentino kemudian menghempaskan tubuh Leyka ke ranjang lalu Valentino menindihnya.


Pergulatan kembali terjadi, makian Leyka terdengar seperti radio rusak dengan meronta ronta. Valentino terus tertawa dengan berusaha mengunci tubuh Leyka. Hingga Leyka bagaikan kelinci tak berdaya. Leyka membelakangi Valentino, dari belakang Valentino mengunci kedua kaki Leyka, dengan menjepit di sela sela kedua pahanya, Valentino menautkannya sangat erat. Kedua tangan Valentino mencengkeram kedua tangan Leyka yang dibekuknya ke belakang layaknya tahanan. Leyka meronta ronta dengan kesal.


"Apa kau lupa kekuatanku dipagi hari, Il mio amore (cintaku)?" bisik Valentino dari belakang telinga Leyka sambil menggesekkan dagunya. Leyka menghalaunya dengan menjauhkan pundaknya.


"Fuu*cckk yoouu! Lepaskan aku, Val! Jangan macam macam!" Leyka berusaha lepas dari cengkeraman Valentino, pinggulnya maju mundur mendorong tubuh Valentino namun kaki Valentino semakin menguncinya.


"Gerakanmu justru erotis Ley, apa kau berusaha memancing, jagung bakar Afrika Selatan yang sangat kau gilai di Pretoria?" bisik Valentino semakin menggoda dan Leyka semakin kesal, karena Valentino sesekali menciumi lehernya.


"Fuu*cckk youu!!"


"Ley, sejak aku pindah di sebelah apartemen ini, aku selalu tidur setelah kau memadamkan lampu kamarmu. Aku menunggumu tidur, seperti orang gila. Aku tahu kau pasti kesepian karena itulah Train sering tidur disini. Tapi seminggu ini aku lihat Train tidur di Apartemen Ayah dan Ibunya. Dan lampu kamarmu selalu menyala hingga pagi. Aku tertidur dibalkon hanya menunggu, lampumu padam" Leyka terdiam, ia berhenti meronta. Leyka seakan tak percaya dengan penuturan Valentino dengan begitu lembut.


Tubuh Leyka yang menegang mengendur perlahan dan Valentino melepas cengkeraman tangan Leyka, namun tangannya melingkar di perut Leyka, menahan agar tubuh itu tidak kemana mana. Valentino meneruskan perkataannya.


"Hari berikutnya, aku di balkon seperti biasanya, tapi aku mendengar kau memanggil namaku dengan sangat keras. Aku bingung Ley, aku mengetuk pintumu dan kau tidak bangun. Dua kali kau berteriak memanggil namaku, kau membuatku panik. Lalu aku melompat ke balkonmu, aku mencari pintu masuk dan aku menemukan jendela dapurmu yang tidak pernah kau tutup" posisi Leyka membelakangi Valentino, perlahan paha Valentino mengendur dan memberi sentuhan dengan mengusap usap pada betis Leyka dengan jemari kakinya. Leyka membiarkannya karena ia fokus dengan cerita Valentino yang membuatnya berdebar.


"Aku masuk kamarmu, Leyka. Aku hanya memandangi wajahmu, membelai rambutmu, mencium keningmu, mengusap punggungmu, agar kau tidak bermimpi buruk. Aku tidak melakukan hal lain, selain itu. Walaupun aku setengah mati menahan hasratku. Karena aku pernah berjanji untuk tidak memaksamu. Biasanya sebelum kau bangun, aku pulang. Tapi semalam aku sangat lelah. Aku tertidur" Leyka terpesona dengan perkataan Valentino, walaupun matanya melihat kearah tirai jendela yang masih tertutup, mata Leyka kosong.

__ADS_1


Leyka tersentuh dengan perlakuan Valentino kepadanya. Laki laki yang menoreh luka sangat dalam itu, menjaganya tanpa ia sadari. Leykapun menumpukan tangannya di tangan Valentino yang berada diperutnya, Valentino tersenyum kemudian.


"Karena itulah, kau selalu pulang di siang hari"


"Iya, aku tidur siang, karena aku menjagamu, aku jadi kurang tidur" saat Valentino menciumi pundaknya, Leyka hanya diam. Ia justru menikmatinya.


Seharusnya aku membencinya, kenapa hatiku justru tersentuh.. Mengapa tubuhku hanya diam dan justru menikmatinya.. Dia pec*undang yang merendahkanku, dengan 2 juta dollarnya.. Dia pria brengsek yang memperlakukanku dengan kasar.. Mengapa hatiku menjadi lemah sekarang.. batin Leyka berkecamuk.


"Aku bermimpi bertemu Valak" ujar Leyka dengan lidahnya yang bergetar, Leyka menahan gejolak yang sulit ia terjemahkan. Antara senang, sedih dan kekecewaannya yang masih bersarang 8 tahun lamanya.


Cabutlah belati ini, yang selalu menikam hatiku, bertahun lamanya.. Cairkan gunung es ini, Val..


"Bahkan tubuh juga hatimu mengatakan 'Val' adalah diriku. Mengapa bibirmu yang sensual itu ingin memberontak-- Mengapa bibirmu ingin berkhianat Ley?" bisik Valentino sambil meraih dagu Leyka, agar ia bisa memandanginya dari belakang. Dengan menggunakan wajahnya, ia merayapi leher hingga pundak bagian belakang Leyka, ia bisa merasakan kulit Leyka meremang.


"Val, aku memiliki Damian" suara Leyka terdengar berat.


"Bahkan, Damian membiarkanmu dan tidak sekalipun menemuimu. Ley-- Train benar. Dia melihat Damian. Dia sangat tinggi saat berada di pundakku dan matanya bisa menjangkau seperti mataku. Aku juga melihatnya" Leyka membulatkan matanya, ia mendorong wajah Valentino menjauh lalu menoleh hingga ia bisa melihat senyuman hangat dengan pandangan menikam, semua masih jelas dalam ingatannya saat di Pretoria.


"Itu tidak mungkin! Dia pasti akan menemuiku! Dia selalu ada untukku! Dia berada di Madrid karena ada fashionweek!" Leyka memberi jarak dengan menahan dada kekar itu hingga pinggangnya terlihat melintir, Valentino tidak melepaskan cengkeraman kakinya, karena bokong sintal itu adalah area yang hangat untuk menyembunyikan miliknya yang perlahan menggeliat.


Posisi yang pas bagi naga api memasuki gua yang gelap dan hangat. Valentino tinggal melepas semua penghalang di antara mereka, ia hanya perlu menakhlukkan dengan sedikit memberi sentuhan di titik yang sennsitiff maka semua akan nikmat pada waktunya, pikir Valentino dengan isi kepalanya yang berkejaran menuju gairahnya yang kian meledak ledak.


"Ley, berhitunglah. Fashion week telah berakhir" Valentino menepis tangan Leyka yang menahan dadanya dengan lembut, lalu ia mendekapnya seiring Leyka membalikkan tubuhnya dan membelakanginya. Leyka sangat nyaman karena suhu tubuh Valentino menghangat bahkan semakin memanas.


"Kau benar-- Fashion week telah berakhir! Shitt! Mengapa dia tidak menemuiku? Aku harus mencarinya. Dia pasti menghindariku! Tapi kenapa?"


"Ley, karena dia menyadari kau adalah milikku" bisik Valentino dengan lembut, bibirnya merayapi leher belakang Leyka dengan mata terpejam dan nafasnya yang kian memanas, Leyka meremang merasakan tajamnya hidung pinokio itu menjalari lehernya disertai bulu kasar disekitar mulutnya. Gairah dan kekesalannya berpadu, tubuhnya menginginkan sesuatu yang lebih namun hatinya tidak karena pikirannya bertanya tanya mengapa Damian menghindarinya.


"Berhentilah mengatakan aku milikmu, Valak! Tidak ada hubungan apapun diantara kita. Kita hanya berkenalan 11hari lewat 9 jam 30 menit dan--


"20 detik, saat kau benar benar menghilang dengan mengacungkan jari tengahmu. Kau menghitungnya seperti aku Ley?-- Valentino memotong perkataan Leyka dan mendekatkan bibirnya ke belakang telinga Leyka --ini sangat mengejutkan" Valentinopun menarik ujung telinga Leyka dengan mulutnya, Leyka menggigit bibirnya.


"Val, jangan begini. Aku memiliki Damian" Leyka mere*mmas tangan Valentino, ia mendorong pundaknya naik hingga menyentuh telinganya agar Valentino melepas pagu*tann di ujung telinganya.


"Ley, tinggalkan Damian untukku, dan kembalilah padaku" Valentino mengurai tangan Leyka yang menahannya, lalu tangannya mulai nakal menjalari paha hingga boko*ngg dengan sensasi rema*ssan yang sangat menggoda hhasrat Leyka.


"Lalu bagaimana dengan dirimu, Leyka? Kau tidak mencintainya, kau hanya akan memberi banyak luka padanya, padaku bahkan pada dirimu sendiri. Hubunganmu hanya akan sia sia Leyka" Leyka terdiam sesaat.


"Dan kau pikir berhubungan denganmu, bukan luka? Kembali padamu bukankah sama saja kembali kepada luka?" Valentino membuka matanya yang terpejam, ia pun menghentikan aksinya.


"Ley, aku banyak melakukan kesalahan 8 tahun yang lalu. Aku akan memperbaikinya" Valentino menghela nafas panjang, ia menyibak rambut Leyka dan membelainya dengan lembut, matanya menatap lekat lekat wajah Leyka yang tidak mengarah kepadanya.


"Dari awal pertemuan kita, tidak ada kesan kau akan memperbaikinya. Kau memperparah keadaan, aku memegang perkataanmu yang pertama karena aku masih melihat sisi Valentino Gallardiev di Pretoria. Menyebalkan, arogan, sombong. Kau membuatku membenci Red Velvet! Karena itu adalah dirimu" dan Leyka mengetatkan rahangnya, ia menelan getir salivanya, lingkar disekitar matanya mulai memerah, Valentino bisa melihatnya dari samping.


"Lo siento mi amor, lo siento. Biasakah kau melupakan pahitnya di Pretoria dan mengingat yang manisnya saja? Bisakah kita-- tubuh Valentino setengah bangun, merengkuhh tubuh Leyka dan menggesekkan dagunya di leher Leyka dengan berbisik --mengulang manisnya Pretoria di Barcelona? Aku merindukanmu, Mi amor" dan Valentino kembali melakukan aksinya, tangannya kembali menjalari paha, bokong, dan menelusuppkan tangannya di perut Leyka, jemarinya dengan lincah memasuki wilayah yang telah membangkitkan suhu tubuh Leyka.


"Aahhh, Val. Jangaan.. Aahh.. Shhh.. Ini tidak boleh.. Ahhh.. Ini perselingkuhan, Val. Aahhh.. Vall" Leyka membenamkan wajahnya dibantal dan ia menggigit ujung bantal itu dengan menundukkan kepalanya, namun itu justru memberi kesempatan pada Valentino kian menikam lehernya.


"Sshh.. Ohh Leyka.. Aku merindukanmu.. Aku menginginkanmu, Ley.. Dan tubuhmu juga menginginkannya.. Tubuhmu merindukanku.. Aahhh.. Ley.. Hatimupun sangat merindukanku" tangan Valentino semakin menyusup kedalam underwearr Leyka, ia terus mencari irisan buah peach yang tersembunyi, terhimpit oleh paha Leyka yang kian mengetat.


"Val.. Aaaah.. Shhh.. Jangaan.. Val,.. Aahh.. Hentikan.. Ahh Vaall.. Uhmm" Leyka semakin menegang saat jemari Valentino menggapai bulu halus miliknnya, Valentinopun tak kalah menegang, miliknnya yang telah bangkit seutuhnya menempel ketat diarea bokkong Leyka yang siap menghujam dari belakang. Valentino mendorong pinggulnya dengan gerakan ero*tissnya, begitupun Leyka.


"Ley, aku tidak bisa menahannya.. Ahhh"


"Aaahh Val" Leyka dengan pasrah menikmati sentuhan itu, ia melupakan Damian. Leyka lebih memilih mengikuti keinginan tubuhnya.


Saat tangan Valentino ingin melepas celananya, kegaduhan terjadi. Train datang bersama Manuella. Dan hasrat itu meluncur drastis dari ketinggian, yang menyisakan debaran dan nafas terengah engah. Mereka membulatkan matanya dengan saling pandang.


Mommy ( ting tong ting tong ting tong-- suara bel di tekan berulang ulang) Mommy! Mommy! Apa kau baik baik saja? Mommy! Apa ada pencuri!! Mommy!.. Bukaa pintunyaaaa!! (Dughh Dughh-- pintu di tendang)


"Trainnn!" pekik Valentino dengan suara tertahan.


"Setan cilik itu!!" pekik Leyka bangkit duduk sambil merapikan pakaiannya. Belum berantakan hanya celana tidurnya yang bergeser dari posisi yang seharusnya.


"Tangani dia dan aku akan ke dapur! Bilang saja kau kehabisan gula! Shitt!" kata Leyka membuat Valentino panik. Merekapun berhamburan keluar kamar, Leyka ke dapur dan Valentino ke arah pintu, ia melupakan kaosnya yang tertinggal di kamar.


Valentino selalu melepas bajunya menjelang tidur dan itu ia lakukan sebelum naik ke ranjang Leyka semalam. Train memang terkenal membuat orang orang di sekitarnya menjadi ceroboh, mulutnya selalu ditakuti karena terkadang apapun yang ia katakan, selalu saja membuat malu orang di sekitarnya dengan kepolosannya. Semua warga Distrik Miel sangat tahu, karena itulah Train di sayangi oleh banyak orang.

__ADS_1


"Buenos dias, (selamat pagi) Boy!" Valentino membuka pintu dan mengejutkan Manuella juga Train.


"Uncleee! Apa kau menangkap pencuri? Aku akan memeriksa celenganku" Train menerobos masuk dan berlarian masuk kamarnya, dan sudah pasti melewati kamar Leyka.


"Pencuri?" Valentino kebingungan.


"Si (iya), sepertinya ada pencuri semalam" jawabnya dari dalam kamar dan Manuella mendelikkan matanya dengan penuh tanya. Ia melihat wajah Valentino yang masih memerah. Manuella menyentuh dahi Valentino begitu saja tanpa basa basi lalu berkata sambil berlalu,


"Apa kau demam?"


"Shiittt!!" desis Valentino dengan menutup pintu. Manuella menuju dapur, ia melihat Train keluar kamar dengan wajah lega, kecemasan menghilang dari wajah anak itu, lalu Train mencari suara kegaduhan di dapur. Leyka menyiapkan kopi dan sarapan, dan Valentino mengikuti Manuella dari belakang.


"Putraku tidak bisa tidur dengan nyenyak, nanti siang dia harus tidur!" kata Manuella sesampainya di dapur, ia melihat Leyka sedang menabur keju diatas potongan kentang hijau, kemudian memanggangnya. Ia bersikap biasa saja dan menghindari tatapan Manuella juga Train.


"Noo Ibu! Aku tidak mau tidur siang!" kata Train melepaskan tas ranselnya dan duduk di kursi makan. Ia kembali mengamati Valentino yang duduk disebelahnya dengan menggoyangkan kakinya yang tidak menyentuh lantai, maju mundur.


Kalau sudah begini, dia sangat bahaya setan cilik ini. Batin Valentino mencoba tenang.


"Harus!" ujar Manuella dengan mendelik, ia membuka lemari kitchen set dan membuatkan susu untuk Train.


"Kenapa kau datang sepagi ini, Uncle? Apa kau juga melihat pencuri yang melompat balkon? Aku rasa dia melompati balkon demi balkon" ujar Train membuat Valentino melihat kearah Leyka dan ternyata Leyka telah menatapnya. Pandangan itu bertemu dan mendebarkan, sebenarnya berdebar karena pertanyaan Train.


Shiitt!! Itu aku.. Jangan jangan, setan cilik ini mendengar aku menjatuhkan pot bunga..


"Dia kehabisan kopi" sahut Leyka secara bersamaan dengan jawaban Valentino.


"Aku kehabisan gula" jawaban itu tidak sinkron, Leyka sendiri lupa ia menyuruh mengatakan alasannya yaitu kehabisan gula. Valentino salah tingkah. Manuella menahan tawanya ia menyodorkan susu dan duduk disamping Train lalu menciumi rambutnya.


Ohh Shitt!! Aku salah menjawab.. batin Leyka dengan memalingkan wajahnya dengan mata yang membulat. Ia buru buru menuang kopi yang telah mendidih.


Katamu gula, Leyka.. Mengapa menjadi kopi.. Haahh. Batin Valentino kesal.


"Ah iya gula, Mommy mencium kopi jadi di pikiran Momny hanyalah kopi-- Leyka buru buru meralat dengan tenang kemudian ia bertanya untuk mengalihkan ---Kenapa kau tidak bisa tidur, Carino?" tanya Leyka sambil membawa dua cangkir kopi kearah meja dan diserahkan kepada kepada Manuella dan Valentino.


"Uhhs, seseorang memecahkan potmu, Mommy! Dia melompat dari balkon Uncle menuju balkon Mommy, setelah itu entahlah dia kemana. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas" ujar Train


"Apaaa!! Potku pecah!! Kau memecahkan potku?!" Leyka justru tanpa sadar membongkar sendiri kebohongannya. Dan 5 detik kemudian dia baru menyadarinya, ia hanya meringis dengan menggigit bibirnya saat Valentino mendelik kearahnya.


Susah sekali kucing kucingan melawan Train.. Hisshh.. Leyka.


Shitt Leyka, kau menegaskan bahwa aku melompat dan aku pencuri. Valentino.


"Sebaiknya jujurlah Uncle, apa kau si pencuri itu?Bila kau jujur, aku tidak akan bertanya mengapa kaosmu tertinggal di kamar Mommy-- Tapi aku tidak menjamin, bahwa aku tidak akan mengatakannya kepada Damian" Setan Cilik kemudian meneguk susunya. Sementara itu, Manuella mendelikkan matanya secara bergantian kearah Valentino dan Leyka.


Shiiittt!! umpat mereka berdua dalam hati secara bersamaan.


-


-


-


TAMAN BACAAN ALSIB SI AUTHOR GENDENG SABTU MINGGU -- TUTUP.


1. JANGAN DITENGOKIN JANGAN DICARI.


2. JANGAN BERHARAP KHILAF KARENA AUTHOR GENDENG AKAN TERBANG KE JAKARTA, NGUKUR DALEMNYA KALI CILIWUNG, MAU BERENDAM (AMIT2 CABANG OLAHRAGA BEIBEH)


3. DUDUKI RANKING UMUM 10 BESAR KARENA GIVEAWAY AKAN DI MULAI SELAMA DUA MINGGU SAJA DARI SENIN TANGGAL 23 AGUSTUS (PUKUL 00.00) - MINGGU 04 SEPTEMBER, (PUKUL 22.59), ADA TAS TAS IMPORT BERTEBARAN. NANTI BISA DI CEK DI IG @authorgendeng.


TETAP DUKUNG HINGGA AKHIR DENGAN VOTE, HADIAH POIN, LIKE, KOMEN, RATE KARENA ADA KEJUTAN HADIAH BESAR BESARAN DI ENDING SEASON NANTI. DAN SEMUA HASIL DARI NOVEL INI, AKAN DI SUMBANGKAN KE PANTI ASUHAN SESUAI REFERENSI PARA PEMBACA, PENGUMUMAN MENYUSUL NANTI YA..


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2