
Pagi itu, pagi yang sedu sedan, pagi yang selalu hangat di Barcelona dengan hiruk pikuknya jalanan kota itu. Seperti putri salju dan para kurcacinya, Leyka berjalan menyusuri trotoar bersama Train dan anak anak yang lain yang di titipkan padanya untuk berangkat sekolah bersama. Tidak seperti biasanya Leyka menggendong seorang anak perempuan berumur 3 tahun, anak tetangganya yang akan dibawa ke penitipan anak di sekolah Play Group Esperanza, karena sang ibu tidak sempat mengantarnya.
"Buenos Dias (Selamat pagi), Senora (Nyonya) Tamara!" Leyka menyapa tetangganya dengan menyusuri trotoar.
"Buenos Dias, Senora Tamara!" dan semua anak anak serempak mengikutinya.
"Buenos Dias semuanya!" sahut Nyonya Tamara.
"Good Morning, Senor (tuan) Pablo!" Leyka kembali menyapa.
"Good Morning, Senor (Tuan) Pablo!" dan anak anak mengikuti lagi dengan ceria.
"Wow, Mommy-- Celia bertepuk tangan!" kata Train saat melihat anak perempuan digendongan Leyka bertepuk tangan saat mereka semua menyapa orang orang dengan ramah.
"Itu Senora (nyonya) Marina, berikan salam pagi! Ayo-- 1,2,3,--
"Buenos Dias, Senora (Nyonya) Marina" dan mereka semua menyapa orang orang di sepanjang jalan menuju sekolah mereka, dengan ceria penuh gelak tawa, penuh semangat, penuh kebahagiaan.
"Lohaaa! Buenos Dias! Senor! Buenos Dias Senora (halo selamat pagi tuan, selamat pagi nyonya)" (Serempak)
Leyka!! Ohh shit! Apa itu putrimu? Tidak tidak.. Tidak mungkin.. Bagaimana kalau iya.. Kau bahagia sekali ternyata Leyka.. Kau bisa tertawa dan tersenyum bebas, ternyata kau lebih bahagia dariku. Inikah keseharianmu? Selalu berangkat bersama murid muridmu dan menyapa semua distrik, apakah kehidupan seperti ini yang kau inginkan? Sederhana sekali, kau meninggalkan kemewahan hanya untuk ini? Tidak, kenapa aku tidak tega melukaimu dan mengapa aku berdebar melihatmu? Aku.. Aku merindukanmu, Leyka. Bisakah kita mengulang kisah kita di Barcelona? Leyka, bisakah? Aku mengalah, aku akan muncul dihadapanmu sekarang, dengan cara yang benar. Istriku, kau Istriku.. Aku akan datang dan memelukmu erat dan tidak akan aku lepaskan..
Diseberang Sekolah Esperanza, Valentino menikmati sarapannya di sebuah restauran yang berdampingan dengan Hotel Marriot. Pagi itu Valentino sengaja bangun pagi untuk melihat jalannya proyek dan sekaligus melihat suasana pagi disekolah, mengingat Leyka adalah seorang Guru di sekolah itu, ia berspekulasi apakah bisa melihat Leyka dan ia merasa beruntung setelah melihat Leyka, wanita siluman itu menuju sekolah Esperanza bersama murid muridnya.
"Train!! Ada Roller besar datang bersama Crane!" kata temannya Paolo, saat muncul di gerbang sekolah, beberapa anak berhamburan menuju lahan kosong, samping sekolah untuk melihat mesin dan alat alat berat yang kembali memasuki lahan kosong itu. Rata rata anak laki laki berkerumun di pintu masuk lahan kosong itu, menyaksikan alat alat berat yang menjadi tontonan dari kejauhan. Tak terkecuali Train yang langsung berlari ke arah kerumunan.
"Heii anak anak! Jangan kesana itu berbahaya!" Pekik Leyka kalang kabut dibuatnya. Ia segera menyerahkan Celia kepada penjaga agar diantar kepada Guru yang mengawasi sekolah Play Group.
"Astaga, Lihat! Wanita itu menyerahkan anaknya begitu saja? Dia tidak takut anaknya diculik? Kenapa wanita Spanyol sangat ceroboh" ujar Valentino kepada pelayan yang mengantarkan kopi dan sarapan yang di pesannya.
Ia menggelengkan kepalanya melihat Leyka menyerahkan Celia begitu saja kepada petugas keamanan. Hatinya tersengat dan ia takut menerima kenyataan bahwa yang di gendong itu adalah putrinya. Valentino tidak mendapatkan informasi apapun tentang Leyka dan ia mencoba memancing pelayan itu.
"Ohh, itu bukan anaknya. Dan petugas itu membawanya ke kelas play group, Tuan. Celia anak tetangga saya, sepertinya Ibunya menitipkannya pada Nona Leyka" ujar pelayan itu dan Valentino merasakan lega yang luar biasa. Ia tertawa dalam hatinya jurusnya berhasil memancing pelayan itu.
"Aku pikir anaknya, sepertinya dia Guru yang galak. Lihat dia membubarkan kerumunan anak anak" dan mata Valentino tidak henti mengamati Leyka yang membubarkan kerumunan anak anak yang melihat alat alat berat dari kejauhan.
"Tapi dia sangat baik, Keluarga Fernandez adalah penduduk asli kota ini, dan mereka disegani karena sangat berjasa, Tuan bisa melihat sejarahnya di Museum Walikota" Valentino manggut manggut mendengar penjelasan pelayan yang melayaninya dengan baik, ia pun berlalu pergi mengambil pesanan yang lain.
"Masuk semua!! Masuk!! Ini berbahaya!! Ini bukan tontonan!" Pekik Leyka membuat anak anak terburai dan berlarian kembali kearah gerbang sekolahnya. Kecuali Train.
"Train ayo!!" ajak Paolo.
"Sebentar lagi Paolo! Bel sekolah belum berbunyi! Lihat Cranenya mengangkat beton! Wow kerenn!" mata Train berbinar dan ia melompat lompat kegirangan.
"Train masuk!!" perintah Leyka dengan kesal.
"No Miss Leyka! Sebentar lagi! Dan ini tidak berbahaya! Kita melihatnya dari luar dan jauh sekali! Crane itu tidak akan mengenai kita!" kata Train tak kalah ngotot menjawab Leyka yang sudah otomatis memanggilnya Miss Leyka saat tiba di sekolah.
Valentino melihat pemandangan itu, hatinya berdebar mendengar suara anak laki laki yang memanggil Leyka, dengan sebutan MISS LEYKA. Seperti panggilan murid kepada Gurunya. Karena Valentino telah membaca file Manuello yang mengatakan bahwa Leyka seorang Guru Elementary tingkat 2.
Sudah pasti Valentino berpikir itu muridnya. Mindsetnya terkunci disana. Anak laki laki itu adalah murid yang di titipkan pada Leyka untuk berangkat ke sekolah bersama. Dadanya tiba tiba sangat sesak. Ia berpikir karena asmanya, lalu Valentino menghirup inhalernya.
Anak itu pintar sekali.. Dan dia benar.. Hanya melihat apa salahnya? Anak itu tampan sekali.. Dan lucu.. Seandainya hidungnya seperti hidungku, anak itu akan sangat mirip denganku.. Matanya seperti mataku dan rambutnya agak hitam, kurang hidung pinokio maka, jadilah aku, Hahaha.. Valentino kecil yang siap melawan Guru Siluman itu.. Rasanya aku ingin menjadi anak kecil itu.. Dari semua anak, kenapa anak itu sangat berbeda.. Menyenangkan dan sangat menarik perhatianku.. Mata itu mengapa membuatku berdebar.. Leyka kau memiliki murid yang tampan..
"Ini debu! Ayo masuk! Tinggal kau dan Paolo yang belum masuk! Paolo ayo masuk! Hei kalian bertiga ayo masuk!" kata Leyka menunjuk juga kearah Pepito, Dave dan Martinus yang sengaja berjalan pelan pelan.
"Noo!" pekik Train.
"Hahaha.. Anak itu pemberani sekali, ayo lawan Gurumu-- dia itu wanita siluman, ayo lawanlah Boy!" batin Valentino menahan tawanya di seberang sekolah itu, iya mendengar dengan jelas suara anak anak dan Leyka yang berdebat, karena mereka saling berteriak. Mata Valentino tak kalah berbinar melihatnya. Dia seperti melihat sebuah pertunjukkan teather di hadapannya.
Leykapun kesal dibuatnya, Ia pun menggulung kemejanya dan menghampiri kepala penjaga sekaligus pengawas proyek pembangunan itu.
"Hei kalian!! Apa kalian tidak bisa menutup lahan kalian dengan rapat?! Kalian harus membuat pintu yang tinggi dan beri pembatas antara lahan kalian dan sekolah kami!" pekik Leyka dengan berkacak pinggang kepada seorang pengawas proyek yang terpana melihat kecantikan Leyka.
Bahaya sekali posisinya itu.. Coba saja kalau kau berani menonjolkan dadamu dihadapanku, aku akan menghimpitmu dan mere*mas itu-- Issh pikiranku kenapa kacau begini.. Tapi, ukurannya semakin membesar beda dengan yang dulu.. Shiitt!! Ada yang salah dengan otakku.. Ini pasti karena sihirnya.. batin Valentino.
"Nona kami hanya menjalankan perintah!" kata pengawas itu dengan gugup.
"Perintah siapa! Suruh perancangnya atau pemilik proyek gedung ini, menutup pekerjaan kalian! Ini membahayakan anak anak!" pekik Leyka semakin mengundang perhatian, para penjaga sekolah menghampiri Leyka dan berjaga jaga, beberapa orang menyaksikan pertengkaran itu dari seberang jalan.
"Tapi Nona, kami hanya menjalankan tugas!" Pengawas itu masih berargumen.
"Suruh orang itu kesini atau aku akan menghentikan pekerjaan kalian!" ancam Leyka menunjuk ponsel didalam genggaman pengawas itu, dan laki laki itu terpaksa menelepon seseorang. Dan sudah pasti pengawas itu menghubungi sang arsitek, Valentino Gallardiev.
Sang perancang dan pembangun gedung pencakar langit, semua proyek itu berada dalam kendalinya karena perusahaannya pemenang tendernya. Panggilanpun di terima dan pengawas itu menyalakan pengeras suara agar Leyka mendengarnya.
Apa kau mengingat suaraku Leyka.. Valentino tersenyum licik. Matanya tak henti hentinya memandangi Leyka dari kejauhan.
__ADS_1
"Halo Bos, ada sedikit gangguan. Pihak sekolah meminta di tutup rapat atau ehm-- Nona ini akan menghentikan pekerjaan kita. Dia seorang Guru yang mengetuai aksi demo 6 bulan yang lalu" kata pengawas itu dengan mendekatkan mulutnya di loudspkear ponselnya dan terdengar gugup, wajahnya memucat melihat mata Leyka yang melotot ke arahnya.
"Biarkan dia melakukan apa yang dia suka. Tidak usah dihiraukan, berikan saja uang sebagai tutup mulut! Wanita menyukai uang, hanya wanita bodoh yang tidak menyukai uang " kata Valentino dengan tertawa mengejek. Ia sengaja memancing Leyka, ia berharap Leyka terkejut dan mengenalinya.
"Hei Pak Tua! Aku tidak suka uangmu! Dasar tidak punya perasaan! Kau menyuruhku melakukan apa yang aku suka?! Maka biarlah pengawasmu melihatnya. Apa yang akan terjadi hari ini, karena kau menantangku!!" kata Leyka mengeraskan suaranya agar orang diponsel itu mendengarnya.
Dengan cepat Leyka mengambil kayu yang berada dilahan itu dan menghancurkan sekering sekering, di induk lisrik dan berhentilah semua pekerjaan itu. Pengawas proyek itu membulatkan matanya tanpa bisa berkata apapun.
Shit! Dia tidak mengenali suaraku? Dia memanggilku Pak Tua? Shit Leyka! Apa yang dia lakukan?! Shiit.. batin Valentino mengumpat kesal, saat melihat apa yang dilakukan Leyka. Valentino membelalakan matanya, ia segera mengambil inhaler dan menghirupnya dalam dalam.
"Noooo! Miss Leykaaaaa!! Cranenya berhenti! Nooo!" pekik Train sekerasnya.
"Bos, Guru ini menghancurkan semua induk listrik" kata pengawas itu lemas melihat perbuatan Leyka.
"Hei Nona, apa kau tidak takut terkena masalah hukum? Aku akan menuntutmu" kata Valentino dari ponsel.
"Silahkann!! Aku akan menulis surat petisi ke UNICEF di PBB! Kau telah mengganggu anak anak belajar sekolah dan sebentar lagi pernafasan anak anak di sekolah ini akan terganggu! Aku menunggu tuntutanmu!!" Ancam Leyka bergegas menjauh dan menghampiri anak anak yang terpana karena ulahnya.
Shit! Dia mengancamku! Hei, aku suamimu! Dasar siluman! batin Valentino dengan kesal dan menghirup inhalernya kembali. Berbicara dengan Leyka membuat paru parunya seakan lenyap.
Suara itu.. Ah tidak mungkin.. Banyak orang yang memiliki suara seperti itu.. batin Leyka.
"Lihat! Ibumu bar bar seperti berandalan! Sama seperti Daddymu!" bisik Pepito pada Train dan seketika membuat Train marah.
"Daddyku bukan berandalan!" Pekik Train, dan Valentino masih mengawasi anak kecil yang melawan Leyka. Matanya tertuju pada anak itu.
Sepertinya temannya mengganggu anak itu, hajar saja Boy.. Hahaha.. Anak itu sangat berani, entah mengapa aku menyukainya.. Aku tidak pernah berdebar melihat Miu, tapi anak itu.. Ahh, ini karena asmaku belakangan kambuh.. Sejak aku mengetahui Leyka adalah Istriku, perasaanku tidak tenang dan aku sangat stres, mungkin karena itu asmaku kambuh.
"Berhenti! Pepito aku mendengarmu!" kata Leyka duduk bertungging menyejajarkan dirinya dengan Pepito. Leyka menghela nafas panjang kemudian.
"Miss Leyka! Kau bar bar! No me gustaa (aku tidak suka)!!" Train marah dan seperti biasa ia membuang tas dan topinya dan bersedekap melotot kearah Leyka. Valentino terbahak melihat itu.
Anak itu lucu sekali, aku menyukainya. Dia mengingatkanku saat aku kecil-- Bagus Boy, lawan saja Guru siluman itu.. Dia memang siluman bar bar..
"Pepito-- kata Leyka dengan lembut --bagaimana kalau kau sakit karena debu itu? Aku melarang bahkan semua murid lainnya karena aku perduli. Kalau kau sakit, Ayahmu akan marah dan akan menyalahkan Ibumu karena tidak merawatmu dengan benar. Akhirnya Ayahmu akan memukul Ibumu. Apa kau tidak kasian pada Ibumu? Aku harus menghentikan mereka seperti berandalan. Karena orang seperti mereka tidak perduli padamu. Hanya aku yang perduli padamu dan pada kalian semua" kata Leyka dengan membelai rambut Pepito, musuh bebuyutan anaknya dan Train semakin cemberut melihatnya.
Bicara apa dia...Apa dia bisa menakhlukan anak anak itu batin Valentino yang hanya melihat dari seberang jalan. Ia tidak bisa mendengar perkataan Leyka dengan lembut kearah Pepito.
"Lo siento Miss Leyka, Gracias (maafkan aku miss Leyka, terima kasih)" kata Pepito berlalu di ikuti Dave dan Martinus kearah gerbang sekolah.
"Huhh, aku tidak mau dirayu seperti Pepito! Miss Leyka mau menghukumku atau mau memanggil orangtuaku? Panggil saja Daddyku!! Ayo Panggil!!" pekik Train dan Valentino tertawa karena mendengarnya lagi.
Kau tidak bisa menakhlukkan anak itu, Leyka.. Hahaha.. Anak itu berbeda.. Nakal sekali dia.. Tapi aku menyukai anak nakal itu.. Dia mengancam memanggil Daddynya, Hahaha.. Apakah Daddynya menyeramkan? Apa kau takut dengan Daddynya? Pasti Daddynya Raja setan, sehingga anak itu mengancammu, Hahaha.. Anak itu menggunakan kelemahanmu, kau pasti takut dengan Daddynya.. Ohh my Leyka.. Il mio dulce (manisku).. Ini lucu sekali.. Hahaha.. Ayo Boy lawan! Aku jadi ingin mengenal anak itu, siapa tau kita bisa menindas Guru siluman itu.. Valentino menahan tawanya dan terbahak bahak didalam hatinya. Dia sangat senang ada yang melawan Leyka dan itu seorang anak kecil, di tambah anak itu mengancam meminta di panggilkan orangtuanya. Yang notabene, Leyka dan Valentino adalah orangtua anak itu. Blue Train.
"Train, aku tidak akan merayumu karena ini disekolah. Tapi, saat Daddymu kembali, apa dia mau melihat anak pembangkang sepertimu? Daddymu akan semakin marah karena Leyka Paquito ini tidak bisa mendidik anaknya. Apalagi kalau sampai kau terluka. Kau ini ada penyakit asma, kau tidak boleh terkena debu, Train. Aku melakukan ini semua demi kebaikanmu dan anak lain yang mungkin saja menderita asma, sama seperti dirimu" kata Leyka sambil mencubit gemas dagu Train.
"Apa Daddyku punya asma?" tanyanya dengan berpikir.
Apa yang dia katakan.. Mereka semakin menjauh.. Dia merayu anak itu? batin Valentino dengan keseruannya melihat pertunjukkan itu.
"Kau kan seperti Daddy. Pasti sama saat Daddymu masih kecil, pasti Daddymu punya penyakit asma" kata Leyka dengan tersenyum. Bel tanda masukpun berdering, Leyka bangkit berdiri.
"Ayo masuk kalau begitu" ujar Train memasukan kedua tangan dalam sakunya dan hendak berberanjak pergi namun Leyka menghentikannnya.
"Kau harus membawa tas dan topimu" ujar Leyka menegaskan alisnya yang berkerut.
"Nooooo!!" Pekik Train membuat Valentino kembali tertawa di dalam hatinya.
"Ya sudah terserah. Aku juga tidak mau membawanya. Entahlah apa kata Daddymu nanti melihat anak nakal sepertimu ini!" kata Leyka membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah gerbang Sekolah.
"Aaaa, Miss Leykaa! Si si si si.. (Iya iya iya iya). Aku akan membawanya!! Tunggu aku!" Trainpun mengambil tas dan topi yang dibuangnya dengan kesal lalu mengibaskannya dan Valentino kembali tertawa melihat tingkah anak itu dari jauh.
Jadi karena topi dan tas yang di buang anak itu .. Hahaha.. Nakal sekali anak itu.. Akhirnya dia menyerah.. Apa yang Leyka katakan..
"Train, Pepito meminta maaf pada Miss Leyka. Dia anak baik. Apa kau tidak akan meminta maaf?" tanya Leyka, karena Train melakukan kesalahan yaitu membangkang. Leyka mengajarkan untuk meminta maaf bila Train melakukan kesalahan. Train merentangkan tangannya meminta pelukan dan Leyka kembali jongkok.
"Huhhft.. Lo siento (maafkan aku), Mommy.. Te quiero (aku mencintaimu)" Bisik Train dan mencium pipi Leyka. Ia pun bangkit berdiri dan menggandeng tangan Train dengan tersenyum. Ia senang sekali bisa mengalahkan putranya, Pepito dan sang Perancang itu.
Shit! Anak itu nakal sekali! Anak nakal itu seperti setan cilik! Beraninya dia mencium Istriku! Apa yang di katakan Wanita Siluman itu, sampai anak itu akhirnya menciumnya? Dasar Wanita perayu.. Pertunjukkan ini sudah tidak seruu!! Shit..
Saat mata Valentino membulat ia kembali di kejutkan dengan sebuah pemandangan yang menamparnya, hatinya terbakar saat itu juga! Seorang laki laki tampan datang dengan tersenyum dan Leyka tersenyum cerah kearahnya.
SHIT!! SIAPA LAKI LAKI ITU.. ITU BUKAN DIEGO! APAKAH KEKASIHNYA? SHIT!! FU*CK!! MEREKA BERPELUKAN! KAU MENYEBALKAN SEKALI LEYKA, AKU AKAN MEMBUANG KEKASIHMU DAN SETELAH ITU AKU AKAN MENCERAIKANMU! BERANINYA KAU LAKUKAN INI!
"Damian?" Leyka melemparkan senyumnya, pandangan itu penuh cinta setidaknya itulah yang Valentino lihat di seberang sana.
Kau pernah memandangku seperti itu! Shit.. Valentino mengumpat dalam hatinya.
__ADS_1
"Train, masuklah ke kelasmu" pinta Leyka seraya melepaskan tangan Train yang digandenganya.
"Baiklah. Byee Damian" Trainpun berlarian menuju kelasnya karena bel sudah berbunyi.
"Selamat belajar Train!" kata Damian melihat Train berlari dengan tersenyum.
"Si (iya)!" jawabnya sambil berlari.
"Aku kesiangan, aku menyusul kalian karena aku harus ke Madrid selama dua minggu, ada bazar fashion week di Madrid, susul aku saat akhir pekan, aku akan menyiapkan tiketnya" Damian langsung memeluk Leyka dan mencium pundaknya, menghirup aroma khas parfum Leyka yang akan Damian rindukan saat berada di Madrid.
Shit! Leyka apa yang kau lakukan.. Kalian tidak sopan! Beraninya mesum di tempat umum! Aarrgh! Shit.. Kenapa hatiku panas sekali! Ayolah Gallardiev!! Kau tidak cemburu kan?! Laki laki itu? Aku cemburu? Dia tidak lebih baik dariku! Dia lebih pendek! Tidak tampan seperti diriku! Fu*ck! umpat Valentino hingga ia tak sengaja menyenggol cangkir kopi yang ada di meja, sehingga menimbulkan bunyi yang sangat keras. Valentino sangat marah dan ia sangat menegang, emosinya melesat hingga dadanya rasanya ingin meledak.
Pelayan berhamburan kearah Valentino yang sontak berdiri dari tempat duduknya namun membelakangi arah jalan, ia tidak ingin Leyka melihatnya. Pelayan mulai membersihkan area di sekitar Valentino.
"Hmm-- aku akan menyusulmu bersama Train" Dan Leyka membalas pelukan itu. Namun saat berada di pelukan Damian, Leyka melihat sosok tinggi menjulang itu, pecahan cangkir itu membuatnya ingin melihat kearah seberang sana. Walaupun dari belakang, punggung itu berhasil membuatnya berdebar debar namun ciuman Damian di puncak kepalanya menetralisir segala perasaannya.
Itu.. Itu.. Siapa? Apakah Valentino.. Apakah itu dia? Tidak tidak.. Itu tidak mungkin..
"Aku juga mengajak Manuella dan Diego-- Aku akan merindukanmu" Damian mengurai pelukan dan tatapan Damian berhasil membuat Leyka mengalihkan pandangannya, Damian mencondongkan wajahnya dan memiringkan kepalanya, hembusan nafas mereka begitu dekat namun Leyka mencium pipi Damian dan kembali memeluknya erat.
Kenapa kau menghindari ciuman pria itu? Apa kau tidak mencintai kekasihmu? Hubungan macam apa itu.. Valentino kembali duduk dan menyantap sarapannya dengan cepat lalu meminta tagihannya pada pelayan.
"Train sudah tidak ada" bisik Damian dengan tertawa kecil, senyumnya sangat manis pagi itu.
"Hishh! Aku telah berjanji padanya-- Sudah sana berangkat! Aku harus segera masuk kelasku" kata Leyka sambil mencubit perut Damian, mengurai pelukannya, Damian hanya tertawa dengan pesonanya. Leykapun berjalan kearah gerbang. Sesaat Leyka melemparkan pandangannya kembali kearah Damian dan dibelakang Damian adalah Restauran dimana Valentino berada.
Pria itu sudah pergi.. Hmm.. Itu hanya perasaanku saja, itu hanya karena barusan Train menyebut Daddnya.. Ayolah, Pachito.. Berpikirlah dengan waras.. Pe*cundang itu tidak mungkin kembali dan tidak akan pernah kembali...
"Leyka! Aku mencintaimu! Aku tunggu di Madrid akhir pekan ini!" pekik Damian dan Valentino mendengarnya.
"Aku juga!! Aku akan datang!" kata Leyka melambaikan tangannya dan berjalan kearah halaman sekolah. Damianpun berlalu namun entah mengapa Leyka ingin sekali menoleh kearah restauran itu.
KAU TIDAK AKAN KEMANAPUN, LEYKA PAQUITO.. Aku akan membuatmu tidak kemanapun, aku harus mencari akal.. Eh, bukankah seharusnya kau menjawab 'AKU JUGA MENCINTAIMU? Mengapa kau menjawab ''AKU JUGA' Ini berbeda dengan apa yang kau lakukan padaku dulu.. Aku semakin penasaran dengan hubunganmu..
Dan benar saja, laki laki itu berjalan ke arah hotel Marriot. Leyka kembali berdebar.
Itu bukan Valentino kan? Tidak.. Wajahnya tertutup setengah, kerah mantelnya tinggi sekali, seandainya aku melihat hidungnya aku bisa mengenalinya.. Tapi tubuh itu.. Ahh Tidak.. Aku tidak mau gila memikirkannya.. Itu bukan dia..
-
-
-
ANOTHER - SCENE
[ Disebuah panggilan telepon ]
"Paman Sergio, aku meminta bantuanmu. Aku ingin membeli Apartemen di Casa de Miel 1 lantai 7 atas nama Nyonya Dolores. Dan gunakan nama Paman sebagai pembelinya"
"Diev, perusahaan tidak ada budget untuk itu. Tinggallah di Mansion"
"Aku akan membelinya dengan uangku sendiri, Paman"
"Baiklah kalau begitu"
"Lakukan secepat mungkin karena aku harus segera pindah dalam waktu 3 hari"
-
-
-
CANDAAN GARING
Dibilang jauh dari ekspektasi kalian 🤣 ini tuh ga bakal spt yg kalian mau🤣 Kadang ada laki2 yang ga ngenalin anaknya kan, secara ga tau kl punya anak di masalalu 🤣 jarang kan kl ktm anak yg mirip trs teriak "oohhh anakku!" coba aja pasti disambit emak bapaknya 🤣🤣 Kan Valak ga tau Leyka punya anak. 🤣
Dan ini tuh bukan novel si ihh oohh.. ahahha CEO maksudnya. Di dunia nyata orang itu nyari informasi melibatkan polisi atau detektif swasta kalo di dunia barat. kalo novel Ceo cukup sekretaris pribadinya yg nyari datanya pontang panting tau2 dapet aja informasinya.
Di negara barat itu data di lindungi dan ga gampang. Mau ceo kek juga ga mudah. Apalagi di korea utara, rusia, amerika, itu kudu ngelibatin lembaga negara sekelas FBI untuk cari informasi, harus melibatkan pejabat, ceo mah ga ada apa2nya.
yang top itu sudah pasti indonesia, gampang bgt nyari data informasi.. Tinggal ngasih gocap (50rb) ke tukang ojek terus bilang gini "Ehh, lu lewat ke rumahnya janda itu, liatin motor laki gw ada disana gak!" wkakaakakak lgs cepet dpt informasinya kaya ceo2 di novel gt deh 🤣🤣🤣
Aku ga akan malak minta kopi karena kalian sudah sadar dengan sendirinya, i believe that! 🤣🤣🤣🤭 Wkwkwkwk ngakak.
Kalian ga nanya knp aku minta kopi? Itu Karena 20 besar di ranking umum nanti aku akan kasih hadiah kaya di novel ohh diana.. cek IG ku @authorgendeng Kalau hadiah udah pada sampe ke tangan pemenang, aku akan share kesana.
Besok aku kasih spoiler, skrg mah s*pong-ampe-ngiler ehhh paan sih 🤣🤣🤣🤭
-
__ADS_1
-
-