
Train justru memanggil beberapa tetangga termasuk Dolores, ia kembali ke halaman Apartemen disaat dua pengawal mencekal lengan Valentino dan Leyka menghadang berdiri dihadapan Valentino. Sementara Rosemary menahan Locki.
"Ibu tolong, bawa pergi Loco dan wanita ja*llang ini pergi!"
"Rose--
"Diam Mo! Aku sudah mengatakan padamu, jangan pernah menyinggung Pacho!" tunjuk Rosemary ke wajah Locki yang masih memegangi rahangnya yang serasa mau lepas, bekas lebam terlihat jelas diwajah Locki.
"Aku akan melaporkanmu agar kau di Deportasi!" ancam Locki dengan geram.
"Dan saat aku di Deportasi! Aku akan menyeretmu ke Italy dan aku akan menghabisimu di Negaraku!" dengan satu gerakan Valentino menggunakan sikutnya menghantam satu pengawal dan menendang satu pengawal yang lain.
Beberapa orang berdatangan dan menahan para pengawal yang tak berkutik kemudian. Train kembali datang dan Valentino menyongsongnya.
"Wow, Daddy keren!" Train pun berlarian kearah Valentino, dengan merentangkan tangannya.
Dan Valentino menangkapnya dan menggendongnya, untuk memberi perlindungan pada tubuh kecil itu, "Daddy bilang kau harus tetap di Apartemen Abuela!"
"No aku mau mengatakan pada Rosemary!-- Train menunjuk Neneknya kemudian menggosok hidungnya, lalu ia memandangi Neneknya, ---Rosemary, Grandma-ku yang malang. Loco menipumu! Percayalah Loco menipumu!" ujar Train bersemangat dan membuat semua terkejut, perkataannya mengundang perhatian semuanya.
Karena Leyka selalu memanggil Locki dengan sebutan Loco, Train mengikutinya. Karena sikap Leyka yang terus menolak kehadiran Locki dan perlakuannya yang tidak manusiawi, Leyka kecil memplesetkan nama Locki dan menjulukinya Loco yang berarti Gila dalam bahasa keseharian di Spanyol.
"Mi Nieto (cucuku) apa maksudmu?" tanya Rosemary dengan mata menyelidik, ia menatap Locki yang terlihat gugup seketika, Locki menerka nerka dalam hatinya apa yang di maksud Train. Sementara Ella masih terlihat santai, ia tidak bisa memprediksi perkataan Train. Ella hanya menduga Train mendapat pembicaraan dari Leyka tentang penipuan demi penipuan dari segi materi. Ella masih menunjukkan wajah yang terpesona karena ketampanan Valentino.
"Loco tidak mirip dengan Ella! Tidak ada lampu dimata mereka! Tidak seperti Ayah kepada Anaknya! Mereka hanya orang asing yang menipu Rosemary! Mengapa kau suka berada di dalam neraka yang kau cipatakan, Rosemary?" dan untuk kedua kalinya, semua terkejut.
Bahkan Locki maupun Ella seperti terhempas di ketinggian. Leyka sendiri juga terkejut, karena bila memang Ella terbukti bukan anaknya, maka itu adalah penipuan terbesar Locki terhadap Rosemary selama belasan tahun.
"Bicara apa anak ini!" hardik Locki dengan keras. Train melingkarkan tangannya di leher Valentino dengan ketat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Daddynya.
"Dia bukan anaknya, dia bukan anaknya, dia bukan anaknya! Loco penipu Loco penipu Loco penipu!" Train terus berkicau dengan suara nada rendah diceruk leher Valentino yang menyeringai kearah Locki, ia memeluk Train dengan erat dan berusaha membuat Train tenang, karena Valentino bisa merasakan jantung Train berdetak cepat.
"Mulut anak itu--
"Mo diamlah!" potong Rosemary secepat kilat, mata yang begitu tegas seorang bangsawan, terlihat tajam dan berkilau, mata itu bukan milik Leyka, karena Leyka mewarisi bola mata kecoklatan milik Pacho, tapi kilat kemarahan itu adalah milik Leyka.
"Dia bukan anaknya, dia bukan anaknya, dia bukan anaknya! Loco penipu Loco penipu Loco penipu" Train terus berkicau di ceruk leher Valentino tanpa henti dan terus mengulangnya, ia menghentakkan tangan mungilnya yang mengepal di punggung Valentino.
"Ibu, anak ini berbicara sembarangan!" dan Ella bereaksi sangat berlebihan dengan wajahnya yang memucat.
"Diamlah Ella!" tukas Rosemary dengan cepat. suara Rosemary sangat lantang, bahkan Leyka tidak pernah melihat kemarahan Rosemary kepada Ella sebelumnya.
"Rosemary, mereka tidak mirip! Mereka menipumu!" Rosemary berjalan kearah Valentino dan mencari wajah Train yang bersembunyi di pelukan Valentino. Rosemary tersenyum tipis, ia membelai rambut hitam Train milik Valentino. Sentuhannya membuat Train terdiam. Train berhenti berkicau.
Grandma.. Grandma.. Grandma.. Lo siento. Batin Train dalam hatinya.
"Leyka kendalikan putramu!" seru Ella dengan lantang.
"Aku tidak akan mengendalikannya Ella! Tapi aku akan memikirkan perkataan Putraku!" sanggah Leyka dengan lantang, ia menoleh kearah dua pengawal yang ditahan oleh para tetangga dan kerabat Keluarga Fernandez.
Lalu Leyka berseru, "Pengawal! Bawa Locki dan Putri Tercintanya, pergi dari sini!-- Dan Ibu, lain kali jangan membawa mereka menemuiku!" Leyka menarik lengan Valentino agar pergi dari area itu.
Para tetangga melepaskan dua pengawal dan perintah Leyka adalah perintah Ibunya saat Rosemary hanya menggedikkan kepalanya kearah pengawal dan membawa Locki serta Ella pergi, menuju mobil Kerajaan yang terparkir di area lobby.
"Sampai kapan kau bisa akur dan menerimanya!" kata Rosemary menyusul langkah Leyka dan juga Valentino yang menggendong Train.
"Aku tidak akan pernah menerimanya!" kata Leyka tanpa menoleh.
"Pachito, jika bukan karena Locki. Mungkin kau sudah tiada. Locki pernah menyelamatkanmu saat kau tercebur di kapal pesiar. Mungkin kau lupa. Tapi jangan pernah melupakan jasa seseorang, Pachito. Karena kau adalah nafas Ibu dan Ibu akan mengorbankan segalanya untuk dirimu. Karena kau satu satunya kenangan yang Pacho tinggalkan untuk Ibu" dan skak mat, bagi Leyka. Ia menghentikan langkahnya dan mengambil nafas dalam dalam. Ia menoleh kearah Ibunya yang berjalan kearahnya.
"Jadi karena itu?" Leyka menahan airmatanya turun, namun ia tidak bisa. Ia buru buru menyekanya, kemudian memijat batang hidungnya. Ia memejamkan matanya dan mengingat sekilas kejadian waktu Leyka kecil.
Di sebuah kapal pesiar yang menjadi liburan terakhir dengan Ayahnya, dimana pertemuannya dengan Locki dan Ella dimulai dari sana. Rosemary kembali bertemu dengan kawan lamanya yaitu Locki Gusmo. Pacho telah mengidap kanker saat itu, dan itu pukulan terberat bagi Pacho ketika ia tidak bisa menjaga Putri kesayangannya dengan baik. Perlahan Pacho menyerah pada penyakitnya.
"Pachito, sudahlah. Kau tidak akan pernah mengerti-- satu lagi, satu hari sebelum acara makan malam itu, kau akan menginap di Mansion Kerajaan" ujar Rosemary dengan tenang dan berjalan kearah lobby. Senyumnya mengembang saat sejurus pandangannya ada Dolores yang merentangkan tangannya. Rosemary, masih menegakkan kepalanya.
"Nooooo! Nooo!! Tidak bolehh ! Tidak Bolehhh!" Pekik Train dengan menjerit. Leyka terdiam dengan pikirannya yang semakin buntu. Ketakutan menguasai hatinya ia menatap Valentino dan Train.
Bagaimana ini.. Damian harus tahu.. Aku akan mengumumkan pertunanganku dengannya.. Tenanglah Leyka, semua akan baik baik saja.. Train, kita akan berlari Carino. Batin Leyka memberi semangat kepada dirinya sendiri.
"Aku tidak akan mengizinkannya!" Suara Valentino begitu menggelegar, Leyka menjadi gamang. Hatinya berkecamuk bila Valentino bereaksi. Leyka menganggap Valentino bisa menggagalkan rencananya mengumumkan pertunangannya dengan Damian. Leyka benar benar buntu.
"Ibu--
"Itu sebuah keharusan yang tidak bisa kau hindari Pachito" potong Rosemary dengan cepat saat melewati Leyka.
"Dolores" Rosemary mengembangkan senyumnya dan menyambut pelukan hangat Dolores yang menitikkan airmata kerinduan pada sosok adik iparnya. Tentu saja mereka memiliki banyak kisah yang sangat manis. Pacho dari keluarga Fernandez dari kalangan biasa dan Rosemary dari keluarga Kerajaan. Hubungan mereka dahulu tentu saja tidak mudah. Namun Rosemary dan Pacho bisa melewatinya dan lahirlah Leyka sebagai cahaya bagi cinta mereka.
"Rosemary-- Ohh Rosemary kami.. Si biru Rosemary" kata Dolores dengan membelai pipi Rosemary setelah pelukan itu terurai.
__ADS_1
Rosemary mengembangkan senyumnya, ia membalas membelai pipi Dolores dan memeluknya lagi, "Sehat selalu Dolores, jangan lupa untuk selalu bahagia" bisik Rosemary kemudian.
"Kau juga Rose, jangan lupa untuk bahagia. Datanglah kapan kapan. Kami semua merindukanmu" bisik Dolores dengan melelehkan airmata, Rosemary mengurai pelukannya dan menyeka airmata Dolores dengan tersenyum.
"Ada saatnya aku akan kembali, titip Putriku. Gracias, sudah memberikan banyak cinta untuknya" setelah mengusap punggung Dolores, Rosemary kembali berjalan dengan menegakkan kepalanya. Tidak ada airmata dan itulah Rosemary. Wanita yang sangat tegar, kuat tapi menjadi dingin sejak kepergian Pacho. Tanpa menoleh Rosemary menghilang di dalam mobil Kerajaan yang membawanya pergi. Leyka menatap ibunya hingga mobil itu pergi meninggalkan Distrik Miel.
"Aku tidak mau Mommy pergi! Tidak ada menginap! Train akan pergi seperti dulu! Mereka akan mencelakai Mommy!" suara Train membuyarkan lamunan Leyka dan Train telah merentangkan tangannya meminta pelukan Leyka.
Leyka menyambutnya dan menurunkannya,"Uhs, berat sekali Blue Train ini" Leyka berjongkok dan memeluknya dengan erat, lalu menenangkan Train, "Semua akan baik baik saja, Mommy harus disana, karena itu adalah kodrat yang harus dijalani sebagai Putri Mahkota dan kau sebagai bangsawan kecil tidak boleh menentangnya"
"Blue, serahkan pada Daddy. Jangan takut. Apa kau percaya pada Daddy?" Train beringsut dari pelukan Leyka dan menggosok hidungnya. Valentino telah duduk dibelakangnya dan mengusap rambutnya.
"Si, yo creo, Daddy (iya aku percaya, Daddy)!" Valentino menciumnya lalu bangkit berdiri menggandeng tangan Train menuju Apartemen. Leyka bangkit berdiri dan berjalan merangkul Dolores, meninggalkan halaman Distrik Miel.
-
-
-
Beberapa para pegawai proyek dari Gedung Telekomunikasi, telah membereskan kekacauan. Apartemen Ratu terlihat bersih kembali. Mereka kembali ke Proyek itu setelah mendapatkan perintah dari Valentino, si pemenang tender dari Cosmo Industry, dimana Valentino bekerja dan memimpin Divisi Konstruksi.
Sebuah manekin berada diruang tengah. Train berjalan memutari manekin itu, dengan menengadahkan kepalanya, ia berdecak kagum dengan gaun yang Rosemary kirim untuk Mommynya. Leyka biasa saja menatap gaun itu, namun Valentino mengetatkan rahangnya melihat gaun itu.
Pasalnya, gaun itu sangat glamour dan sexy. Gaun rancangan salah satu designer nomor satu di Madrid menjadi pemenang sponsor utama, acara makan malam Kerajaan yang menjamu Viscount dari Kerajaan Inggris yang berdarah Spanyol.
Yang lebih membuat Valentino, mengetatkan rahangnya adalah, belahan dada gaun itu terlalu turun, membayangkan Leyka memakai gaun itu, membuat emosi Valentino tak terkendali. Sekuat tenaga Valentino menahan dirinya.
Dan Leyka, sangat mengenal Valentino, wajah dingin itu menggambarkan dengan jelas, bagaimana menunjukkan rasa tidak suka, melihat gaun itu pada kesan pertamanya.
"Kau tahu Daddy, Rosemary menunjukkan selera dan kelasnya. Mira (lihat)! Gaun ini sangat mewah" kicau Train masih memutari manekin itu.
"Hmmm" ujar Valentino dingin. Leyka menyimaknya dari dapur, ia membuat coklat panas dan menghangatkan roti tanpa butter.
"Apa Daddy tau? Rosemary memiliki butik yang banyak! Uhs, Mucho (uhs, banyak)! Ada ochenta (delapan puluh) yang tersebar di seluruh dunia!"
"Hmmm" Valentino masih dingin, ia menggeser kursi dan mengaturnya kembali, setelah pegawai membersihkan lantai. Leyka datang membawa satu cangkir coklat, satu cangkir kopi, satu gelas susu dan satu piring roti dari dapur dengan nampan, Leyka memberikan pada Valentino satu cangkir kopi dan Valentino menerimanya, Leyka membawanya sisanya ke balkon. Cara Leyka menikmati senja di sore hari yang sangat sederhana.
"Butik Rosemary sangat berbeda, hanya ada 10 Designer ternama di dunia. Jadi para bangsawan bisa membelinya di butik Rosemary" ujar Train kemudian berjalan melewati Valentino dan mengikuti Leyka yang telah duduk di kursi yang dipenuhi bunga bunga mawar dari Ludwig Roses. Valentino mau tidak mau mengikuti putranya dan mengubur kekesalannya.
Seperti biasanya Leyka duduk dikursi dan meluruskan kakinya menumpang pada kursi yang lain, Train duduk dipahanya. Valentino menarik kursi dan duduk di sebelahnya, namun ia lebih mendekat kearah Train, dihadapannya adalah Train hingga ia bisa melihat wajah Leyka dari dekat.
"Itu roti tanpa butter, Mommy?" tanya Train saat Leyka mengulurkan satu gelas susu kearahnya.
"Si" jawab Leyka sambil mencelupkan roti ke dalam secangkir coklat lalu menyantapnya.
"Kalian Red Velvet, jadi pasti tidak mau" Valentino tersenyum tipis dan meneguk kopinya lalu menyambar roti tanpa butter yang masih hangat.
"Uhss!" Train mendengus.
"Ehm, ehh. Ini tidak ada isi apapun?" tanya Valentino, mengamati roti itu.
"No" jawab Leyka menggelengkan kepalanya.
"Ehm.. Tidak diberi olesan margarin atau butter?" Valentino mengernyitkan alisnya.
"No" Leyka kembali menggelengkan kepalanya. Lalu Valentino menggigit sedikit roti itu lalu menyesap kopinya. Leyka menahan senyumnya, ia tahu Valentino tidak menyukainya.
"Uhss Mommy!" Leyka tersenyum melihat Train menggerutu, dan akhirnya Train mengambil sepotong roti tanpa butter.
"Bukankah kemarin ada yang berlutut dan mau memakan roti tanpa butter? Bahkan roti tidak beragi. Apa kau ingat siapa, Carino?" sindir Leyka dengan melirik kearah Valentino.
"No, aku lupa Mommy" Leyka mendengus kesal mendengarnya, karena Train mencoba menggodanya, ia mencubit gemas hidung Train.
"Si, Daddy juga lupa" sahut Valentino dan Train tertawa melihat wajah mulut Leyka yang mencibir kearah Valentino.
"Ahahhaha-- Daddy! Sepertinya Mommy sedang mengujimu-- Bagaimana kalau kita serbu Mommy saja, karena roti ini hanya enak dicelupkan di coklat Mommy"
"Benarkah?" Leyka tersenyum saat Valentino memandangnya, hati Valentino mencair. Segala kesal dan kecewa seakan lenyap.
"Si, kau akan menyukainya seperti aku!" Train mulai mencelupkan rotinya ke dalam cangkir Leyka. Dan Valentino mengikutinya. Valentino manggut manggut menikmati sensasi rasanya, dan ini baru pertama kali baginya.
"Blue! Ini sangat enak Blue!" Valentino melahapnya bagian demi bagian, Leyka tersenyum menutupi keharuannya, karena ia berhasil membuat mata Valentino berbinar dengan makanan yang dulu selalu dihinanya.
Ternyata ini sangat enak, melebihi Red Velvet Ley. Valentino.
"Si! Kau akan menyukainya Daddy! Vamos (ayo), kita serbu cangkir Mommy sampe habis! Yeaay!"
__ADS_1
"Vamoss Blue! Kita serbu Mommy. Ehmm.. Maksudnya coklatnya" Valentino meletakkan cangkir kopinya dan Train meletakkan gelas susunya, suasana menjadi sangat seru ketika Leyka mencoba menghindari mereka.
"Heii No.. Noo Vall! Noo Trainnn!" pekik Leyka sambil menjauhkan cangkir yang digenggamnya dan Valentino menahan tangan Leyka yang memegang cangkir. Train tertawa senang, Leyka terdiam dengan wajah memerah saat Valentino menahan tangannya dengan mengunci tatapan matanya.
Keusilan Train muncul, dan Train mendorong punggung Valentino hingga bibir itu bertemu. Walaupun sekilas, rasanya seperti manisnya kisah di Pretoria. Bibir itu menaut sesaat dan buru buru mereka mengurainya dan menoleh kearah Train. Namun rasanya, masih tertinggal disana, menyejukkan dan menggetar hati mereka. Valentino benar, ia mengukir kisah indah di Barcelona, bahkan lebih indah.
"Blue!"
"Train!"
"Yeaayyy!" Train justru bersorak saat mata kedua orangtuanya mendelik kearahnya, tawa Train sangat menyenangkan ketika mereka melihatnya dan mengubah rasa canggung itu menjadi tawa. Senja terus merangkak menjauh dan perlahan menghilang, menghangatkan hati mereka dengan secuil harapan dan doa dari buah hati mereka.
"Ley, kebahagiaan seperti ini melebihi ambisiku.. Melebihi pencapaianku-- Ya, kau dulu benar. Kau lebih bahagia dariku" Valentino tersenyum, sambil menyeka sisa coklat di sudut bibir Leyka, lalu Valentino mengusap pipi Leyka dengan punggung jemari tangannya. Leyka menatap mata keabuan dengan tersenyum.
Kita bisa selamanya seperti ini, aku yakin. Kata Pastor Gilberto, aku hanya perlu yakin dan tidak boleh menyerah menyatukan mereka. Aku percaya padamu, Tuhan. Doa Train dalam hatinya.
-
-
-
...VISCOUNTESS...
...PART I...
Dan beberapa hari kemudian, hari dimana waktu yang telah di tentukan pun tiba. Pihak Kerajaan melakukan penjemputan. Dengan segala pengertian dan keyakinan serta rencana demi rencana, akhirnya Train mau melepaskan Leyka satu hari sebelum acara dimulai.
Siang hari, Leyka tiba di Mansion Kerajaan yang bercokol di Barcelona. Istana Kerajaan Spanyol sendiri berada di Madrid dan beberapa kota besar.
Tidak banyak yang Leyka lakukan disana, Leyka banyak diam seperti sebelumnya. Semua bangsawan yang diberi gelar Putra Putri Mahkota dari tahun ke tahun berada disana. Biasanya mereka mengikuti berbagai macam acara ritual yang membosankan dan semua berada dalam protokoler Kerajaan.
Seperti ; perjamuan makan siang, ritual kecantikan dengan segudang perawatannya, perjamuan teh dan lain sebagainya yang membuat Leyka merindukan Distrik Miel dimana Train dan Valentino berada disana. Padahal jarak dari Mansion Kerajaan ke Distrik Miel hanya 30 menit, tapi rasanya seperti bermil mil jauhnya.
Dan entah mengapa ponsel Leyka, tidak ada jaringan. Tidak seperti biasanya. Leyka semakin gundah dan hatinya semakin gelisah. Usut punya usut, Kerajaan memasang pelumpuh signal. Hati Leyka semakin tidak tenang. Ia tidak bisa menghubungi siapapun. Ia banyak melamun dan rasa cemasnya benar benar menguasai hatinya.
Setelah melakuan ritual perawatan tubuh, Leyka tidak mengikuti acara makan malam, ia memilih ke kamar yang telah disiapkan oleh pihak Kerajaan untuknya. Ia memilih menyendiri dikamar dan ia harus waspada pada niat jahat Locki kepadanya.
Namun, baru 10 menit dikamar, lampu padam seketika. Leykapun panik bukan kepalang. Ia menyalakan lampu di ponsel yang selalu berada di tangannya. Ia melangkah kearah balkon, dan ternyata lampu satu mansion padam semua. Leyka berdebar debar, ia kembali berjalan kearah ranjang. Dan ia duduk dengan menegang, Leyka mengguncangkan kakinya dengan ritme yang sangat cepat dan menggigit kukunya, rasanya ia ingin menangis di situasi seperti ini.
Darahnya seakan lenyap dari tubuhnya, saat pintu di ketuk dengan sangat keras. "Leyka! Buka pintunya! Aku membawa makanan yang kau pesan! Ley! Bukalah!" seorang mengetuk pintunya dengan menyalakan lampu dari ponselnya, suara itu Leyka sangat mengenalnya.
"Matthew?" Leykapun buru buru berlarian kearah pintu dan membukanya.
"Aku tidak memesan makanan Matt!" Namun Matthew langsung pergi berlalu begitu saja. Leyka membelalakkan matanya, saat seorang pelayan mendorong paksa dan masuk ke dalam kamarnya dengan trolley makanan dengan kain penutup yang menjuntai menyentuh lantai mengelilingi trolley itu.
Leyka berdebar saat orang itu menutup pintu dan menguncinya, "Si-siapa kau?!" tanya Leyka dengan tergetar, ia melangkah mundur perlahan. Namun orang itu justru melepas topi, dasi dan rompi yang melekat di tubuhnya. Pria itu masih memunggunginya, namun parfum dan siluet wajah pria itu dari samping membuat hatinya berdesir lembu.
"Val?!" Leyka seakan tak percaya, di dalam kegelapan Leyka dengan mudah mengenali Valentino yang tersenyum kearahnya.
"Ley" bisik Valentino membuat Leyka berhamburan memeluk Valentino, ketakutannya lenyap. Hatinya sangat lega. Valentino membalas pelukan itu seeratnya. Dan bukan hanya itu, tangan Valentino meraih tengkuk Leyka dengan memiringkan kepalanya, Valentino melu*mmat bibir lembut itu, menyesap dengan lidahnya, lalu menautkannya. Sesekali Valentino menghis*sapp lidah yang begitu lincah membalasnya.
Entah mengapa Leyka membalas pagu*ttann itu, bahkan Leyka justru menelusupkan jemari tangannya di rambut Valentino dan merem*massnya. Valentino menekan punggung Leyka seakan jarak itu tak kan pernah terurai. Kerinduan itu memang gila. Waktu juga jarak yang begitu dekat seakan membentangkan kerinduan hingga terasa sangat jauh jaraknya, hingga kerinduan itu menciptakan gairah yang menghanyutkan kesadaran mereka.
"Daddy, Uhhs! Apa aku sudah bisa keluar? Train di gigit nyamuk! Uhss! Mengapa di Kerajaan ada nyamuk! Uhss!" Leyka mengurai pagu*ttan Valentino, ia membelalakkan matanya, hatinya bersorak mendengar suara mungil itu dari dalam trolley makanan dengan penutupnya. Disaat yang bersamaan lampu menyala. Train membuka tirai trolley, dimana ia bersembunyi.
"Trainnn?!" Leyka berhamburan memeluk putranya dengan mata berkaca kaca. Baru 8 jam mereka tidak bertemu tapi pelukan itu seakan kerinduan 8 tahun lamanya.
"Val, Gracias" hanya itu yang bisa Leyka katakan, karena lidahnya begitu kelu. Ia sangat bahagia dan untuk kesekian kalinya, Leyka terpesona oleh sikap Valentino, yang membawa Train ke dalam pelukannya.
-
-
-
Asteganggg eh Astagaa.. Punya pacar 5 langkah aja, kalau kangen rasanya kaya doi berada di kutub utara gaess.. ya ga sih.. pdhal ke warung aja pura2 beli ciki gitu.. Liat pager rumah aja juga udh seneng.. apa lagi liat sendalnya di depan rumah, udh meleleh.. ohh berarti dia dirumah.. pdahal die pergi pk sepatu oii wkwkkwk.. 🤣 potek adek bang.. 🤣
Ini ngomong apa sih, kayanya aku kurang kopi ama Vote deh.. (siaaahhhhh elahh malak thor) 🤣
Eh, Bosqyu. Klik profil aku dong. Like, kaporitin dong eh favoritin 👇 Lomba nih, PACARKU BUKAN MANUSIA.. 🤣 ga horor kok ini.. siram kopi jg gpp 😄🤭
-
-
__ADS_1
-