
Sekolah Esperanza, akhirnya berdiri di balik megahnya gedung Locomotive Machine. Para siswa sudah mulai belajar seperti biasa. Pagi itu semua murid berkumpul di halaman gedung itu dan Kepala Sekolah memberikan pengumuman untuk pembagian kelas dibantu dewan guru.
Leyka tampak sibuk menangani murid muridnya Elementary tingkat II, yang berada di lantai satu. Yang mana lantai satu diperuntukkan hanya untuk anak anak Elementary tingkat satu dan dua, ini sangat memudahkan Leyka untuk mengawasi Train yang masih berada di Elementary tingkat I. Lantai 2 sampai 6 untuk murid yang tingkatan kelasnya lebih tinggi.
"Apa kau sudah membawa inhalermu?" tanya Leyka kepada Train.
"Si, Miss Leyka" ujar Train memanggilnya dengan panggilan yang berbeda karena di sekolah.
"Apa kau masih pusing" tanya Leyka dengan menyentuh dahi Train dengan telapak tangannya.
"Sedikit" ujar Train tidak bersemangat.
"Apa kau yakin akan bersekolah hari ini? Apa tidak sebaiknya kau pulang, Carino? Mommy juga akan izin" ujar Leyka sambil membelai pipi Train, berulang kali ia memeriksa suhu tubuh Train dengan telapak tangannya.
Selama beberapa hari sejak Valentino menghilang, Train sakit demam dan asmanya selalu saja kambuh. Dan itu membuat Leyka, Manuella dan Diego bahkan semua keluarga Fernandez cemas.
"No Mommy, aku mau sekolah" ujar Train yang kehilangan binar bola matanya, ia tampak lesu. Wajahnya sedikit memucat.
"Baiklah masuklah, Carino-- Leyka mencium kening Train dan membisikkan nama Train dengan memejamkan matanya --Blue Train.. Blue Train.. Blue Train" Lalu Leyka membelai rambut Train dengan tersenyum lalu ia bangkit berdiri menggandeng tangan Train menuju kelasnya. Namun disaat yang sama langkah langkah kaki beberapa orang, memasuki lobi dan melewati kelas demi kelas yang dirancangnya, mereka menuju lift.
"Uncleeee! Trainpun berlarian menuju lift saat melihat seseorang yang begitu dikenalnya. Mata Train berbinar, kelesuannya lenyap, adrenalinnya memuncak, ia sangat bahagia melihat orang yang membuatnya bersemangat, Valentino Gallardiev.
"Train!" panggilan Leykapun sama sekali tak di gubris olehnya, ia terus berlari kearah Valentino yang tidak juga menghentikan langkahnya. Leykapun terpaksa mengejar Train.
"Uncle, apa kau baik baik saja? Terakhir kita bertemu saat asmamu kambuh. Kau menghilang begitu saja, apa kau baik baik saja?" Train mengulang pertanyaannya dan Valentino menoleh kearah Train yang mendongakkan kepala ke arahnya dengan menggosok hidungnya.
Anak ini.. Bagaimana aku menerimanya.. Entah siapa Ayah anak ini, Diego atau laki laki asing yang dikencaninya.. Tapi anak ini anak dari Istriku.. Aku harus menceraikannya, dan kembali ke Italy.. Aku tidak sanggup lagi berada disini.. Semua menyakitkan.. Aku sangat kecewa padamu Leyka. Batin Valentino dengan tatapan tak bersahabat.
"Apa kau tidak lihat aku baik baik saja?!" Train melangkah mundur satu langkah, nada suara Valentino membuatnya takut.
"Train, kembali ke kelasmu! Jangan bicara pada orang asing!" Leyka tiba dan duduk berjongkok menyejajarkan dirinya dengan Train, bahkan Train lebih tinggi darinya saat duduk.
"Sebaiknya kau khawatirkan Ayahmu! Jangan membuang waktumu untuk orang lain!" dengan mata memerah Leyka menatap sinis kearah Valentino yang berdiri menunggu lift yang tidak kunjung tiba, beberapa orang yang bersama Valentino, Leyka mengenalnya dan salah satunya ada Bonita disana.
Mereka dari Pemerintah Kota dan pemilik Gedung Telekomunikasi yang akan mengadakan rapat, serta mengadakan kunjungan di hari pertama anak anak bersekolah, mereka akan menemui Kepala Sekolah dan memastikan Sekolah Esperanza mendapatkan fasilitas yang memadai.
"Train, jangan mengkhawatirkan orang asing, Carino. Khawatirkan orang yang perduli padamu" kata Leyka kesal.
"Tetapi kau tetanggaku. Tetangga yang baik. Kau membelikanku ice cream. Kita sarapan bersama. Kau menjaga Mommyku. Dan aku belum berterima kasih, Uncle." ujar Train membuat Valentino melirik ke kiri dan ke kanan dengan canggung. Ia maju selangkah mendekati Train.
"Tidak perlu repot repot! Jangan mencemaskan yang bukan seharusnya! Cemaskan saja Ayahmu!" ujar Valentino membuat wajah Train memerah, ia menggigit jarinya dengan sedih.
"Tapi, Ayahku tidak sakit. Kau asma-- Apa kau membenciku, Uncle. Lo siento, Uncle. Bila aku melakukan kesalahan, Lo siento (maafkan aku)" Hati Leyka semakin teriris mendengar perkataan Train, tapi Valentinopun didalam hatinya juga terluka melihatnya.
"Astaga Carino, kau mulai demam lagi!" seru Leyka saat menyentuh tubuh Train, ia kembali menyentuh dahi, pipi dan juga leher Train yang suhunya kian meningkat perlahan.
Train.. Panas? Dia dia.. Sakit? Apa yang aku lakukan? Kenapa aku kasar sekali.. Walaupun dia putra Leyka, tapi dia hanya anak kecil.. Aku seharusnya tidak menyakitinya.. Mengapa aku sangat sulit menerima anak ini.. Train maafkan, Uncle.. Tadinya kau juga akan menjadi putra baptisku selain Miu, karena Mommymu mengatakan kau putra baptisnya.. Tapi kenyataannya kau adalah putranya..
"Mommy, apa Uncle membenciku?" Valentino menatap Train dengan mengetatkan rahangnya, lingkar matanya mulai memerah, Train mulai merasakan dadanya sesak, ia tidak berani menatap Valentino, ia menatap Leyka yang tengah melepas pengait tas di pinggangnya.
"Si (iya)! Dia sangat membencimu! Jauhi dia! Kau lihat kan, dia tidak punya hati dan berkata kasar pada anak kecil sepertimu! Dia seperti Locki Gusmo, dia sangat jahat, Carino" Saat Valentino ingin membuka mulutnya, ia mendengar lift berbunyi, sebuah tanda bahwa lift itu tiba dilantai satu.
"Gallardiev, lift sudah sampai" kata Bonita.
"Naiklah ke atas terlebih dahulu aku akan menyusul kalian semua" jawab Valentino dengan menoleh kearah sumber suara, semua orang pastinya penuh tanda tanya. Tapi kabar sudah beredar bahwa Valentino dulu adalah kekasih Leyka.
"Mommy, dadaku sesak" Leyka membelalakkan matanya, kepanikan pun menyerangnya, ia segera mencari inhaler di dalam tas Train.
Valentino maju dua langkah dengan memegangi dadanya, ia pun merasakan hal yang sama. Valentino sangat heran pada dirinya sendiri, mengapa justru airmata menuruni sudut matanya.
Mengapa aku menangis melihatmu Train.. Ini.. menyesakkan.. Mengapa aku menangis.. Mengapa aku menangisi putramu Leyka.. Anak dari laki laki lain..
"Tidak tidak tidak-- Mana Inhalermu.. Ohh Carino, mana inhalermu" Leyka terus membuka tas Train dengan panik, Valentinopun merasa bersalah.
"Leyka--
"Miss Leyka! Bukan Leyka! Menjauhlah! Jangan mendekat! Kau menyakiti hati putraku" potong Leyka dengan mata berkaca kaca, menatap bengis Valentino yang memukul mukul dadanya, Train melihatnya dengan nafas pendeknya, ia terus bernafas melalui mulutnya, rasanya udara di sekitar mulai menipis.
Train mulai mencebikkan bibirnya, bukan mengejek tapi ia ingin meraung menangis, namun ditahannya walaupun airmata meleleh begitu saja. Hidung Leyka telah memerah, ia menyeka airmata yang telah berjatuhan di pipinya.
"Train--
"Pergilah!" usir Leyka saat Valentino memanggil nama Train. Leykapun menemukan inhaler Train, dengan cepat ia menyemprotkan ke mulut Train sambil menyeka airmata putranya, hatinya sangat sakit melihatnya, kebencian kembali menguasai hatinya.
Ia tidak tahu mengapa Valentino, begitu membencinya dan berubah seketika. Beberapa hari yang lalu, justru Leyka sempat merindukannya, tapi Valentino kembali menyapunya dengan sikapnya.
"Mommy" lirih Train.
"Hiruplah Carino.. Hiruplah-- semua akan baik baik saja. Kita pulang. Kau tidak usah sekolah dulu. Hiruplah Carino" kata Leyka berulang kali menyemprotkan inhaler itu. Ia memberikan inhaler itu kepada Train agar Train menggunakannya sendiri. Ia kemudian membereskan tas Train. Ia mengendurkan tali tas Train lalu ia membawanya di punggungnya.
__ADS_1
"Train, aku tidak-- tidak.. tidak bermaksud--
"Menjauhlah! Kau berkata yang tidak pantas pada seorang anak kecil! Kau boleh membenciku tapi jangan kau limpahkan kebencianmu pada Putraku, karena kau akan menyesalinya!" Leyka kembali memotong perkataan Valentino, seraya bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya menghadap Valentino. Ia melihat mata Valentino memerah namun ia tidak perduli, ia mendorong tubuh Valentino mundur dengan penuh kekesalannya.
"Mommy, Vamos a casa (Ayo kita pulang)" kata Train saat Leyka ingin memaki kembali, ia mengurungkan niatnya dan buru buru mendekati Train lalu menggendongnya.
"Apa kau sudah lebih baik?" tanya Leyka dengan mencium kening Train dengan tersenyum.
"Si (iya) Mommy" jawab Train dengan lesu dan merebahkan tubuhnya dalam gendongan Leyka. Ia melangkah menjauh dari hadapan Valentino yang masih mengatur nafasnya, ia mengambil inhalernya dari saku jasnya lalu menghirupnya.
Leyka maafkan aku.. Train.. Aku bersalah.. Mengapa aku justru memikirkan anak itu.. Train..
"Jangan pernah mendekati orang asing. Dia bisa saja seperti Locki yang akan memisahkan kita. Dia bisa saja seperti Locki-- Locki Gusmo si jahat itu. Locki Gusmo yang jahat sejak Mommy kecil. Dia jahat kepada anak kecil, dia sangat jahat. Dia seperti Locki Gusmo" kata Leyka mengulang ulang perkataannya dengan menciumi dan mengusap punggung Train, agar ia tenang.
Suara Leyka kian menjauh dengan menggendong Train. Tangan mungilnya melingkar dileher Leyka dan ia meletakkan dagunya di pundak Leyka. Matanya tertuju pada Valentino yang berdiri tegak dan menatapnya, dengan tangan mengepal. Sesekali ia menghirup inhalernya. Suara Trainpun terdengar lesu saat menjawab semua perkataan Leyka dengan tidak berdaya dan patuh. Valentino tersayat mendengarnya.
"Si Mommy"
"Si Mommy"
Train.. Boy.. Rasanya aku ingin memelukmu.. Mengapa aku ingin memelukmu dan menciummu.. Aku ingin mendekapmu Train.. Ohh Shitt.. Aku sudah gila.. Aku.. Aku.. Harus melakukan sesuatu..
-
-
-
...Senja itu...
...Casa De Miel...
"Bagaimana keadaannya?" Leyka membuka pintu dan Manuella menerobos masuk begitu saja tanpa menghentikan langkahnya bersama Diego, sepulangnya dari kantor. Mereka pulang satu jam lebih awal dan langsung mencari Putra Baptis kesayangannya. Orangtua Baptis, mereka adalah orangtua yang mencintai anak baptisnya melebihi orangtua kandungnya.
"Dia tidak mau makan, dia sedang main game di ruang tengah bersama Pedro. Buatlah dia makan" kata Leyka sambil menutup pintunya, lalu mengikuti langkah Manuella ke ruang tengah menemui Train.
"Carinooo" Manuella berhamburan menciumi Train, namun Train dengan menggengam stick playstationnya menghalau Manuella dengan sikunya, ia tidak memalingkan matanya dari televisi. Ia sedang bertanding dengan Pedro balapan mobil F-1, sesekali ia mendongakkan kepalanya dan terkadang ia menundukkan kepalanya karena Manuella menghalangi pandangannya.
"Noo Nooo! Ibu Noo!" ujar Train dengan serius.
"Carinooo" Diegopun bergantian mencium Train sambil menempelkan punggung tangannya, memeriksa suhu tubuh Train, seperti yang Manuella lakukan sebelumnya.
"Nooo! Ayaahh Nooo!-- Aaaa! Aku kalah! Uhhss!" pekik Train, Pedro terbahak saat mobil F-1 Train terjungkal dan meledak keluar jalur lintasan hingga ia kalah dalam permainan itu. Ia mendengus kearah Diego namun Diego memeluknya sambil menggelitiki Train. Hingga tawa dan jeritannya memenuhi ruangan itu.
Dan tidak lama kemudian bel pintu apartemen itu berbunyi, Leyka bergegas berjalan kearah pintu lalu mengintip terlebih dahulu melalui Door Viewer atau Lubang Intip yang biasa ada di pintu hotel atau apartemen. Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya dan ia ragu ragu untuk membukanya. Namun bel pintu terus berbunyi. Valentino berdiri disana dengan wajah putus asa dan terus menekan bel pintu dengan penuh harapan.
"Mommy! Brisik Mommy! Buka pintunya!" pekik Train dari dalam dan itu mengejutkan Leyka. Ia menghela nafas panjang dan membuka pintu, namun ia tidak membuka sepenuhnya.
"Untuk apa kau datang?!" tanya Leyka dengan ketus.
"Aku- aku mencari Train. Apa Train ada?" Valentino terlihat kusut dan lesu, ia pernah melihatnya di Pretoria namun nada suaranya sangat berbeda, Valentino bersikap sangat lembut.
Ia masih mengenakan pakaian tadi pagi, dengan buket bunga ditangannya, satu kantong paperbag dan ia mendekap sebuah aquarium bulat dengan ikan nemo di dalamnya.
Uncle mencariku.. Aku pikir dia menyukai Mommy.. Tapi ternyata dia menyukaiku.. Ini bagus. Batin Train yang sesungguhnya ia mendengar suara Valentino dari dalam.
"Train baik baik saja, kau tidak perlu menemuinya. Menjauhlah darinya. Kau hanya menyakitinya. Dia masih sangat kecil, dia rapuh, aku tidak terima kau memperlakukan putraku seperti itu, kau sangat kasar! Apa kau tidak bisa menggunakan mulutmu dengan baik? Kau tidak pernah berubah, Val" ujar Leyka setengah berbisik. Valentino terdiam, ia menangkap seseorang berjalan dari dalam kearahnya. Dan dia adalah Pedro, salah satu keluarga besar Fernandez.
"Dan jika kau melukainya lagi, maka aku pastikan kami semua akan mengusirmu dari Distrik ini! Jangan coba coba mengganggu keluarga Fernandez-- Ley, aku pulang" ancam Pedro pada Valentino dan Leyka menggeser ke samping untuk memberinya jalan.
"Tidak ada yang bisa mengusirku. Karena aku tidak akan pernah menyakiti Train lagi!" kata Valentino dan Pedro tidak menggubrisnya, ia berlalu pergi begitu saja.
"Gracias Pedro" ujar Leyka
"De nada (sama-sama)" jawabnya dari kejauhan.
"Ley, aku mohon-- Aku hanya ingin minta maaf. Aku pusing seharian memikirkannya Ley. Lakukan apapun padaku dan aku akan menerimanya, asal aku bisa menemui Train" Leyka tersentuh mendengarnya, namun kata kata Valentino pada Train begitu menandas di hatinya.
"Uncle? Kau datang mencariku?" Mereka menoleh kearah Train dengan plester kompres yang berada ditubuhnya. Leyka menutup setengah pintu itu, agar Valentino tidak melihat Train namun Valentino justru memohon.
"Train! Train! Uncle, minta maaf Train! Lo siento, Train. Perdonami, Train! Uncle, mencarimu. Lihat aku membawakan sesuatu untukmu. Bawa Uncle masuk Train! Uncle bukan Locki Gusmo yang jahat itu. Percayalah jika Locki Gusmo ada di hadapanku, maka aku akan menghajarnya" Train berjalan kearah pintu dan menatap Leyka dengan mata yang berbinar binar, Leyka tak kuasa melihat binar mata itu menghilang.
"Mommy bolehkah, Uncle masuk? Kata Uncle, dia bukan Locki Gusmo" kata Train dengan menautkan tangannya di paha Leyka dan itu membuat Leyka tidak berdaya.
"Iya Train, bukan" nada Valentino terdengar putus asa.
"Leyka, Ayolah" kata Diego yang telah menghampirinya bersama Manuella. Leykapun membuka pintu. Dan Train terpana melihat Valentino melewati Leyka dan langsung meletakkan semua barangnya yang ia bawa, kemudian ia luruh ke lantai lalu memeluk Train.
"Lo siento, Boy" Train berdebar saat Valentino memeluknya, sementara Valentino dipenuhi rasa bersalahnya.
__ADS_1
"Nemo" gumam Train. Lalu Valentino mengurai pelukannya.
"Si, ini Nemo-- Valentino mengambil kembali aquarium bulat yang ada di lantai dan disodorkan dihadapan Train --Ini Clawnfish (ikan badut). Aku melihat boneka Nemo di kamarmu dan aku membeli ikan asli ini untukmu. Kau ingat disamping toko ice cream kemarin adalah toko ikan hias, kau memandangi Nemo kemarin, dan aku membelinya disana. Nemo belum makan, apa kau mau memberinya makan?" tanya Valentino membuat Leyka, Manuella dan Diego saling pandang, ia terkesan dengan cara Valentino menangani Train. Valentino bukan membeli mainan, atau replika Nemo, tapi ikan Nemo yang sesungguhnya dan itu membuat Train bahagia bukan kepalang.
"Si, Uncle-- Boneka Nemo itu dari Damian" kata Train sesekali menggosok gosok hidungnya.
"Bagaimana kalau kita letakkan aquarium ini di dapur. Agar saat kau makan, kau ingat memberi Nemo makan" Leyka hanya tersenyum dengan mengangguk, saat Train menatapnya, seolah olah meminta izin.
"Si, Uncle-- Uncle pintar. Vamos Uncle (ayo uncle)"
"Kamu bawa ini-- Valentino memberikan buket bunga dan paperbag kepada Train --berikan pada Mommymu bunganya, karena jika Uncle yang memberikannya, Mommymu pasti akan membuangnya, tapi bila kau yang memberikan kepadanya, Mommymu akan menerimanya, karena semua yang dari tanganmu, Mommymu pasti tidak akan menolaknya" ujar Valentino bangkit berdiri dengan mendekap aquarium yang sangat besar itu.
"Uncle, pintar!" Lalu Train memberikan bunga itu, kepada Leyka.
"Gracias, Carino. Apa kau senang?" Leykapun menerima bunga itu dari tangan Train dengan mengecup puncak kepalanya. Leyka tersenyum saat melihat mata Train berbinar, menerima hadiah dari Valentino. Ia tidak ingin membuat Train kehilangan kebahagiaan yang terpancar diwajahnya.
"Si Mommy! Aku senang!-- Vamos (ayo) Uncle, kita ke dapur!" Train berlarian, ia bersemangat hingga ia lupa dengan demamnya.
"Ku akui kau pintar. Boleh juga aksimu untuk mendapatkan perhatian Putraku. Jarang orang memberi ikan, kebanyakan orang memberi boneka atau mainan" kata Diego memuji, tapi yang dipuji hanya diam dengan senyuman dan berlalu ke arah dapur. Sikap arogannya seakan lenyap, biasanya Valentino akan mengakuinya dengan kesombongan. Leyka kembali terkejut melihatnya, itu sungguh diluar dugaannya.
Semua mengikuti Train ke dapur, Train sudah berdiri di dekat meja telepon dan menyingkirkan pernak pernik disana, memberi ruang agar aquarium barunya bisa diletakkan disana. Lalu Valentino meletakkannya.
"Buka paperbagnya" Train menuruti permintaan Valentino dan membukanya.
"Itu mesin filter, itu mesin pengecek kadar garam, itu mesin gelembung, itu makanan Nemo, dan yang kau pegang itu garam laut" ujar Valentino dengan menyebutkan isi paperbag yang Train keluarkan satu per-satu.
"Apa Nemo makan coklat?" tanya Train saat mengeluarkan satu kotak coklat dari paperbag.
"Itu makananmu-- Valentino mencolek hidung Train --apa kau sudah makan?"
"Dia tidak mau makan apapun dari pagi. Dia hanya makan biskuit" ujar Manuella mendekat bersama Diego. Leyka berdiri di dapur memperhatikan.
"Apa kau mau makan Frittata?"
"Si si si si si!"
"Aku akan memasak untukmu. Anak sakit boleh makan Frittata-- Dan mintalah Ayahmu memasang filter aquarium itu" Valentino mencium kening Train yang ada plester kompres disana lalu bangkit berdiri, ia melepas jas dan dasinya lalu ia menggulung kemejanya menuju dapur.
"Ayahh!" Train menyodorkan filter aquarium dan Diego menerimanya.
"Baiklah. Ayo, kita pasang!" Diego duduk dan Manuella memangku Train.
"Leyka, apa kau bisa membantuku?" Tanpa jawaban Leyka mengeluarkan dua celemek dari laci. Valentino tersenyum tipis. Leyka mengeluarkan bahan bahannya lalu ia mengambil vas bunga.
Ia memasukkan buket bunga itu ke dalam vas kaca lalu menuang air dicampur soda, untuk menjaga kesegaran buket bunga yang Valentino bawa. Kemudian ia meletakkannya di meja makan.
Dan teleponpun berdering, Manuella mengangkat gagang telepon itu dari kotak pesawatnya, lalu Manuella menjawabnya.
"Leyka, dari Ibumu" kata Manuella membuat Leyka menegang ia bergegas menuju meja telepon lalu meraih gagang telepon itu dari tangan Manuella
"Ibu?"
Leyka.. Acara makan malam itu, sengaja dibuat seorang Viscount, hanya untukmu.. Kau tahu kan, Alfredo? Seorang bangsawan Inggris, berdarah Berenguer dari Felipe V, Locki dulu akan menjodohkannya padamu, tapi sekarang Dia Mengincarmu..
"Ohh Tidak!!" pekik Leyka bangkit berdiri dan mengundang reaksi semuanya.
"Mommy! Ada apa?! Apa Rosemary nakal? Apa Locki menyakitimu! Ingat Mommy, sekalipun tidak ada Daddy, Uncle Gallardiev bisa menghajarnya" Valentino tersengat mendengarnya. Kata kata Daddy yang terucap dari mulut Train merujuk pada dirinya karena Train pernah mengatakan bahwa ia hanya memberi ruang pada kekasih lama Mommynya. Train tidak tahu bahwa itu adalah Valentino.
Leyka, apa kau tidak pernah mengatakan siapa Ayah Train? Atau memang Diegolah Ayahnya, karena itulah Train memberi tempat untukku, menjadi suamimu dan menjadi Daddynya.. Train memiliki rencana besar.. Apa itu?..
"Panggil dia Grandma (Nenek)" pinta Leyka dengan tatapan nanar ke arah Train. Kabar ini sangat mengejutkannya.
"No Mommy! Dia masih bersama si jahat, Locki"
Apa cucuku masih membenciku? Pachito, katakan padanya aku sangat menyayanginya.. Leyka.. Ibu tutup dulu, sepertinya Gusmo datang.. Jika tidak ada jalan, maka jika dia memilihmu, maka mau tidak mau kau harus menerimanya, karena Raja dan Ratu di kabarkan akan datang..
"Aku tidak akan pernah membiarkan dia menang dan memilihku Ibu! Aku tidak mau menjadi VISCOUNTESS, aku tidak akan meninggalkan negaraku!" Rosemary sudah tidak sempat menjawab lagi, dia telah mengakhiri percakapan singkat itu di pesawat teleponnya namun semua tegang dan membulatkan mata mendengar perkataan Leyka.
"Jadi penasehat kerajaan itu datang untuk menjadikanmu Viscountess, Mommy?-- Noo Mommy No! No Mommy! Aaaaa!!" Dan Trainpun menangis menjerit seketika. Valentino pun dilanda kepanikan bahkan semuanya. Kecuali Leyka yang terdiam dengan airmata yang berlinang linang dan membiarkan Train memukuli pahanya.
-
-
-
Mendekati ketauan ya Gaes... Alur nanjak dulu.. 🤣 ibarat nganu yang muncrat dan menyebar semua akan menuju ke satu titik yaitu sel telur.. ehh 🤣🤭
-
-
__ADS_1
-